MasukHelena akhirnya tersadar dari kebingungan yang sempat menguasai dirinya.
Dengan cepat ia mengangkat kedua tangannya lalu mendorong dada Rion hingga pria itu mundur satu langkah. Jarak yang tercipta membuatnya bisa bernapas lebih lega.
Dadanya naik turun menahan emosi yang sejak tadi berusaha ia tekan. Entah sejak kapan percakapan sederhana itu berubah menjadi sesuatu yang membuatnya merasa terpojok.
"Saya kakak ipar Anda," ucapnya tegas. Dagunya terangkat, berusaha mengembalikan martabat yang nyaris terguncang oleh kedekatan mereka barusan. "Jadi tolong hormati saya."
Rion tidak langsung menjawab. Ia hanya berdiri di tempatnya, menatap Helena dengan ketenangan yang mulai membuat wanita itu kesal.
Seolah apa pun yang dilakukan Helena tidak cukup untuk menggoyahkan kendalinya. Beberapa saat kemudian, sudut bibir pria itu bergerak tipis.
"Aku hanya mengatakan yang sebenarnya."
Helena mengernyit. "Maksud Anda?"
"Apa yang bisa kau dapatkan dari kakakku?"
Pertanyaan itu membuat Helena terdiam sesaat. Ia tidak menyukai nada bicara Rion ketika menyebut suaminya sendiri. Ada sesuatu yang terdengar dingin di sana, sesuatu yang membuat hubungan kakak dan adik itu terasa jauh dari normal.
"Bagaimanapun, Tuan Marquess adalah kakak Anda," balas Helena akhirnya. "Anda seharusnya menghormati beliau."
Alih-alih menjawab, Rion kembali melangkah maju.
Gerakannya lambat dan tenang, tetapi cukup untuk membuat Helena tanpa sadar mundur hingga akhirnya punggungnya kembali menyentuh dinding batu yang dingin. Jantungnya berdetak lebih cepat ketika pria itu berhenti tepat di hadapannya.
"Kakakku tidak akan bisa melindungimu."
Kali ini Helena benar-benar membeku.
Tidak ada nada menggoda dalam suara itu. Tidak ada senyum main-main seperti sebelumnya.
Rion mengatakannya dengan sangat serius hingga kata-kata tersebut terasa seperti peringatan. Helena menatapnya, berusaha mencari tanda bahwa pria itu sedang bercanda, tetapi yang ia temukan hanya sorot mata merah gelap yang tenang dan sulit dibaca.
"Apa maksud Anda?" tanyanya pelan.
Rion tidak menjawab. Tatapannya tetap tertuju padanya, membuat Helena semakin tidak nyaman. Ada terlalu banyak rahasia di kastel ini. Terlalu banyak hal yang tidak masuk akal.
Suaminya yang tak pernah terlihat, malam pertama yang berlangsung dalam kegelapan, lalu Rion yang terus berbicara seolah dirinya mengetahui sesuatu yang tidak diketahui orang lain.
Helena memalingkan wajah terlebih dahulu.
"Rion, saya harus kembali ke kamar saya."
Untuk sesaat pria itu hanya menatapnya. Kemudian senyum tipis kembali muncul di wajah tampannya.
"Jadi kau lebih memilih kembali ke kamar dan menunggu kakakku?" tanyanya santai.
Tatapannya turun sesaat ke wajah Helena sebelum kembali bertemu dengan mata wanita itu.
"Daripada menghabiskan sedikit waktu denganku?"
Kalimat itu menjadi batas kesabaran Helena.
Plak!
Tamparan keras mendarat di pipi Rion sebelum ia sempat berpikir ulang. Suara itu menggema di sepanjang lorong yang sunyi.
Helena sendiri sempat terkejut oleh tindakannya. Namun ia tidak menarik kembali ucapannya maupun penyesalannya.
Ia menatap Rion dengan napas yang masih memburu, berusaha menunjukkan bahwa dirinya tidak akan membiarkan siapa pun memperlakukannya semena-mena.
"Saya bukan wanita yang bisa Anda perlakukan seperti ini."
Perlahan Rion menoleh kembali. Bekas kemerahan telapak tangan Helena tampak jelas di kulit putih pipinya.
Ini membuat Helena bingung, karena pria itu sama sekali tidak terlihat marah. Tidak ada amarah di matanya. Tidak ada ancaman. Tidak ada rasa tersinggung.
Ia hanya menatap Helena dalam diam selama beberapa saat, lalu menarik tangannya dari dinding dan berdiri tegak kembali. Sikapnya kembali rapi dan terkendali, seolah tamparan itu tidak berarti apa-apa.
"Baik."
Hanya satu kata. Rion melangkah ke samping, memberi jalan baginya lewat.
"Kembalilah."
Helena menatap Rion tanpa bergerak. Kebingungan memenuhi wajahnya, bercampur dengan ketidakpercayaan yang semakin sulit ia sembunyikan.
Rion berbicara terlalu berani untuk seorang adik kepada kakak iparnya sendiri. Terkadang ia terdengar seperti sedang menggoda, terkadang seperti sedang memperingatkan, dan di saat lain justru seolah mengetahui hal-hal yang tidak seharusnya ia ketahui.
Helena masih berdiri di tempatnya ketika Rion menatapnya untuk terakhir kali. Mata merah gelap itu bertemu dengan matanya, menyimpan sesuatu yang tidak berhasil ia pahami.
Kemudian pria itu berkata dengan nada datar yang membuat bulu kuduk Helena meremang.
"Kembalilah ke kamarmu." ucap Rion pelan.
"Saya memang akan kembali."
"Semoga malam ini kau dipenuhi gairah lagi, kakak ipar!"
Helena menundukkan pandangannya. Jemarinya saling menggenggam di atas pangkuan, sementara senyum tipis yang muncul di bibirnya sama sekali tidak mengandung kebahagiaan."Saya bahkan tidak melakukan apa-apa."Suaranya pelan, hampir seperti sedang berbicara kepada dirinya sendiri."Saya hanya mengatakan bahwa Lady Rose adalah orang luar dan seharusnya tidak ikut campur dalam urusan keluarga Laurent."Ia terdiam sejenak sebelum kembali melanjutkan."Tetapi hanya karena kalimat itu... saya dikurung di ruang hukuman selama berjam-jam."Helena mengangkat wajahnya perlahan. Tatapannya bertemu dengan mata Rion, tetapi kali ini tidak ada kemarahan di sana.Hanya rasa lelah."Kalau begitu..." Ia tersenyum tipis. "Sepertinya saya mulai mengerti."Rion masih diam.Helena menarik napas panjang sebelum melanjutkan kalimatnya."Lady Rose benar-benar seseorang yang tidak boleh dibuat tersinggung."Keheningan memenuhi ruangan. Beberapa saat kemudian, Helena kembali berkata dengan suara yang jauh lebih
Menjelang sore, kesunyian yang sejak tadi menyelimuti ruang hukuman akhirnya terusik.Dari balik pintu besi terdengar derap langkah yang terburu-buru menyusuri lorong batu. Suaranya semakin lama semakin dekat, diiringi gema sepatu yang memantul di dinding-dinding dingin bawah tanah.Helena yang sejak tadi hanya terduduk bersandar di dinding perlahan mengangkat kepalanya.Ia sudah terlalu lama berada di ruangan itu hingga tubuhnya mulai terasa kaku. Cahaya matahari yang semula masuk melalui jendela kecil kini berubah menjadi semburat jingga, menandakan berjam-jam telah berlalu sejak dirinya dibawa ke tempat itu.Belum sempat ia menebak siapa yang datang, sebuah suara keras menggema di sepanjang lorong."Apa maksud semua ini?" Suara itu begitu tegas hingga membuat seluruh lorong mendadak sunyi.Helena langsung mengenalinya.Rion.Beberapa penjaga yang berjaga di depan ruang hukuman tampak gugup. Salah seorang di antaranya buru-buru membungkukkan badan."Tu-Tuan Rion...""Aku bertanya."
Helena melipat kembali surat itu dengan sangat hati-hati, lalu menyimpannya di dalam laci nakas, berdampingan dengan barang-barang yang paling ia jaga. Malam itu, untuk pertama kalinya sejak menjadi Marchioness Laurent, ia menutup matanya dengan hati yang sedikit lebih ringan.Karena kini ia tidak lagi merasa berjalan sendirian. Di balik segala rahasia yang masih menyelimuti pernikahan mereka, suaminya telah memberikan sebuah jawaban.Jawaban yang sederhana.Namun cukup untuk membuat Helena percaya bahwa suatu hari nanti, mereka benar-benar akan bertemu tanpa lagi dipisahkan oleh kegelapan ataupun selembar surat.Malam itu, seperti malam-malam sebelumnya, Rezef kembali datang ke kamar Helena.Ruangan kembali tenggelam dalam kegelapan, hanya menyisakan keheningan yang perlahan berubah menjadi kehangatan. Tidak ada banyak kata yang terucap di antara mereka. Hubungan mereka masih dipenuhi misteri, tetapi untuk pertama kalinya Helena merasakan sesuatu yang berbeda.Malam itu, Rezef memper
Helena menghela napas pelan sebelum akhirnya mengangguk.“Baiklah,” ucapnya lirih. “Saya mengerti.”Ia tidak ingin lagi memperpanjang pembicaraan mengenai Rose. Wanita itu sudah pergi, dan Helena merasa tidak ada gunanya membiarkan suasana malam menjadi semakin buruk karena pertengkaran yang tidak akan menghasilkan apa-apa.Beberapa saat mereka hanya berdiri dalam diam. Cahaya lampu gantung memantulkan bayangan lembut di lantai marmer aula, sementara suara angin malam terdengar samar dari luar jendela.Namun satu pertanyaan masih terus mengganggu pikiran Helena sejak pagi tadi. Ia menatap Rion yang tampak hendak pergi, lalu memanggilnya pelan.“Tuan Rion.”Pria itu menghentikan langkah dan menoleh.“Ya?”Helena menggenggam ujung lengan gaunnya sebelum akhirnya bertanya dengan hati-hati.“Apakah Anda benar-benar akan pergi berperang?”Rion terdiam sejenak. Tatapannya beralih ke arah halaman kastel yang gelap sebelum kembali kepada Helena.“Untuk saat ini aku hanya diperintahkan mengawa
Kalimat itu diucapkan Helena dengan tenang. Justru karena itulah, ucapannya terasa semakin tajam. Senyum di wajah Rose perlahan menghilang, dan untuk pertama kalinya malam itu ekspresinya benar-benar berubah. Di sekitar aula, para pelayan hanya menundukkan kepala tanpa berani ikut campur.Rion berdiri diam sambil memandang Helena dan Rose bergantian. Untuk pertama kalinya ia merasa Helena benar-benar telah berubah. Wanita itu tidak lagi hanya bertahan, tetapi mulai memahami posisinya sebagai Marchioness Laurent dan tahu bagaimana mempertahankannya tanpa kehilangan harga dirinya.Rose menatap Helena cukup lama. Wajahnya masih dihiasi senyum, tetapi senyum itu kini terlihat dipaksakan. Tatapannya perlahan berubah tajam, seolah sedang menahan amarah yang mulai sulit disembunyikan."Marchioness," ucapnya pelan, "apakah sekarang kau mulai meremehkanku?"Helena tidak menunjukkan sedikit pun perubahan ekspresi. Ia membalas tatapan Rose dengan tenang, sama sekali tidak terlihat terintimidasi.
Ia mengepalkan jemarinya di atas pangkuan."Aku pernah melihat bagaimana kota berubah menjadi lautan api."Suara Helena tetap tenang. Justru terlalu tenang. Seolah semua itu telah ia pendam begitu lama hingga tidak lagi mampu diungkapkan dengan emosi."Aku pernah melihat orang-orang berlari tanpa tahu ke mana harus menyelamatkan diri." Ia berhenti sejenak. "Lalu keesokan harinya... banyak di antara mereka tidak pernah bangun lagi."Dorote membeku di tempatnya. Ia tidak pernah mendengar Helena membicarakan masa lalunya seperti ini. Helena menundukkan pandangannya."Karena itu..." Ia menghela napas panjang. "Aku tidak akan pernah bisa tenang setiap kali mendengar kata perang."Ruangan kembali hening.Dorote akhirnya memahami. Yang membuat Helena gelisah bukan semata-mata karena Rion mungkin akan berangkat ke medan perang. Melainkan karena perang sendiri telah meninggalkan luka yang tidak terlihat di dalam hati wanita itu. Dorote perlahan meletakkan tangannya di atas meja, tidak berani m
Helena mengerjap pelan. Untuk beberapa saat ia hanya menatap Rion, merasa seolah baru saja salah mendengar apa yang dikatakan pria itu."Aku sudah menikah."Sulit dipercaya.Sejak tiba di Kastel Laurent, ia belum pernah sekalipun mendengar keberadaan seorang istri Rion. Tidak ada potret seorang wan
Helena membeku dan entah mengapa, jawaban sederhana itu membuat kamar yang luas tersebut terasa jauh lebih sunyi.Kata-kata Dorote masih menggantung di udara ketika Helena menatap wanita itu dengan sedikit kebingungan."Tidak akan datang?" ulangnya pelan."Ya, Nyonya."Helena tidak langsung menjawa
Helena tertegun setelah mendengar perkenalan pria itu.Sesaat, ia benar-benar mengira bahwa lelaki yang baru saja memasuki aula adalah Rezef Laurent, suaminya. Entah karena posturnya yang tinggi, suaranya yang rendah, atau aura dingin yang mengelilinginya, ada sesuatu dalam diri pria itu yang membu
"Ah...""Ah. Ah... Hah.."Napas Helena keluar dalam hembusan pendek dan berat, dadanya naik turun tak beraturan di bawah bobot tubuh Marquess Laurent.Rambutnya kusut, menempel di leher dan dahinya yang memerah. Seluruh tubuhnya terasa seperti terbakar panas yang mengalir dari titik pertemuan merek







