分享

Bab 7

作者: Lalapoo
last update publish date: 2026-06-08 16:45:53

Helena akhirnya tersadar dari kebingungan yang sempat menguasai dirinya.

Dengan cepat ia mengangkat kedua tangannya lalu mendorong dada Rion hingga pria itu mundur satu langkah. Jarak yang tercipta membuatnya bisa bernapas lebih lega.

Dadanya naik turun menahan emosi yang sejak tadi berusaha ia tekan. Entah sejak kapan percakapan sederhana itu berubah menjadi sesuatu yang membuatnya merasa terpojok.

"Saya kakak ipar Anda," ucapnya tegas. Dagunya terangkat, berusaha mengembalikan martabat yang nyaris terguncang oleh kedekatan mereka barusan. "Jadi tolong hormati saya."

Rion tidak langsung menjawab. Ia hanya berdiri di tempatnya, menatap Helena dengan ketenangan yang mulai membuat wanita itu kesal.

Seolah apa pun yang dilakukan Helena tidak cukup untuk menggoyahkan kendalinya. Beberapa saat kemudian, sudut bibir pria itu bergerak tipis.

"Aku hanya mengatakan yang sebenarnya."

Helena mengernyit. "Maksud Anda?"

"Apa yang bisa kau dapatkan dari kakakku?"

Pertanyaan itu membuat Helena terdiam sesaat. Ia tidak menyukai nada bicara Rion ketika menyebut suaminya sendiri. Ada sesuatu yang terdengar dingin di sana, sesuatu yang membuat hubungan kakak dan adik itu terasa jauh dari normal.

"Bagaimanapun, Tuan Marquess adalah kakak Anda," balas Helena akhirnya. "Anda seharusnya menghormati beliau."

Alih-alih menjawab, Rion kembali melangkah maju.

Gerakannya lambat dan tenang, tetapi cukup untuk membuat Helena tanpa sadar mundur hingga akhirnya punggungnya kembali menyentuh dinding batu yang dingin. Jantungnya berdetak lebih cepat ketika pria itu berhenti tepat di hadapannya.

"Kakakku tidak akan bisa melindungimu."

Kali ini Helena benar-benar membeku.

Tidak ada nada menggoda dalam suara itu. Tidak ada senyum main-main seperti sebelumnya.

Rion mengatakannya dengan sangat serius hingga kata-kata tersebut terasa seperti peringatan. Helena menatapnya, berusaha mencari tanda bahwa pria itu sedang bercanda, tetapi yang ia temukan hanya sorot mata merah gelap yang tenang dan sulit dibaca.

"Apa maksud Anda?" tanyanya pelan.

Rion tidak menjawab. Tatapannya tetap tertuju padanya, membuat Helena semakin tidak nyaman. Ada terlalu banyak rahasia di kastel ini. Terlalu banyak hal yang tidak masuk akal.

Suaminya yang tak pernah terlihat, malam pertama yang berlangsung dalam kegelapan, lalu Rion yang terus berbicara seolah dirinya mengetahui sesuatu yang tidak diketahui orang lain.

Helena memalingkan wajah terlebih dahulu.

"Rion, saya harus kembali ke kamar saya."

Untuk sesaat pria itu hanya menatapnya. Kemudian senyum tipis kembali muncul di wajah tampannya.

"Jadi kau lebih memilih kembali ke kamar dan menunggu kakakku?" tanyanya santai.

Tatapannya turun sesaat ke wajah Helena sebelum kembali bertemu dengan mata wanita itu.

"Daripada menghabiskan sedikit waktu denganku?"

Kalimat itu menjadi batas kesabaran Helena.

Plak!

Tamparan keras mendarat di pipi Rion sebelum ia sempat berpikir ulang. Suara itu menggema di sepanjang lorong yang sunyi.

Helena sendiri sempat terkejut oleh tindakannya. Namun ia tidak menarik kembali ucapannya maupun penyesalannya.

Ia menatap Rion dengan napas yang masih memburu, berusaha menunjukkan bahwa dirinya tidak akan membiarkan siapa pun memperlakukannya semena-mena.

"Saya bukan wanita yang bisa Anda perlakukan seperti ini."

Perlahan Rion menoleh kembali. Bekas kemerahan telapak tangan Helena tampak jelas di kulit putih pipinya. 

Ini membuat Helena bingung, karena pria itu sama sekali tidak terlihat marah. Tidak ada amarah di matanya. Tidak ada ancaman. Tidak ada rasa tersinggung.

Ia hanya menatap Helena dalam diam selama beberapa saat, lalu menarik tangannya dari dinding dan berdiri tegak kembali. Sikapnya kembali rapi dan terkendali, seolah tamparan itu tidak berarti apa-apa.

"Baik."

Hanya satu kata. Rion melangkah ke samping, memberi jalan baginya lewat.

"Kembalilah."

Helena menatap Rion tanpa bergerak. Kebingungan memenuhi wajahnya, bercampur dengan ketidakpercayaan yang semakin sulit ia sembunyikan.

Rion berbicara terlalu berani untuk seorang adik kepada kakak iparnya sendiri. Terkadang ia terdengar seperti sedang menggoda, terkadang seperti sedang memperingatkan, dan di saat lain justru seolah mengetahui hal-hal yang tidak seharusnya ia ketahui.

Helena masih berdiri di tempatnya ketika Rion menatapnya untuk terakhir kali. Mata merah gelap itu bertemu dengan matanya, menyimpan sesuatu yang tidak berhasil ia pahami.

Kemudian pria itu berkata dengan nada datar yang membuat bulu kuduk Helena meremang.

"Kembalilah ke kamarmu." ucap Rion pelan.

"Saya memang akan kembali."

"Semoga malam ini kau dipenuhi gairah lagi, kakak ipar!"

在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP

最新章節

  • Duke Laurent, Kau Kah Di Ranjangku?   Bab 7

    Helena akhirnya tersadar dari kebingungan yang sempat menguasai dirinya.Dengan cepat ia mengangkat kedua tangannya lalu mendorong dada Rion hingga pria itu mundur satu langkah. Jarak yang tercipta membuatnya bisa bernapas lebih lega.Dadanya naik turun menahan emosi yang sejak tadi berusaha ia tekan. Entah sejak kapan percakapan sederhana itu berubah menjadi sesuatu yang membuatnya merasa terpojok."Saya kakak ipar Anda," ucapnya tegas. Dagunya terangkat, berusaha mengembalikan martabat yang nyaris terguncang oleh kedekatan mereka barusan. "Jadi tolong hormati saya."Rion tidak langsung menjawab. Ia hanya berdiri di tempatnya, menatap Helena dengan ketenangan yang mulai membuat wanita itu kesal.Seolah apa pun yang dilakukan Helena tidak cukup untuk menggoyahkan kendalinya. Beberapa saat kemudian, sudut bibir pria itu bergerak tipis."Aku hanya mengatakan yang sebenarnya."Helena mengernyit. "Maksud Anda?""Apa yang bisa kau dapatkan dari kakakku?"Pertanyaan itu membuat Helena terdi

  • Duke Laurent, Kau Kah Di Ranjangku?   Bab 6

    Helena keluar dari ruangan kerja Tom dengan langkah tenang. Dokumen yang baru saja diberikan kepadanya masih berada di tangannya, tetapi pikirannya sama sekali tidak tertuju pada lembaran-lembaran kertas itu.Ucapan Tom terus terngiang di kepalanya.Pria itu tidak pernah berbicara kasar. Bahkan selama percakapan mereka berlangsung, nada suaranya selalu sopan dan penuh hormat. Namun Helena cukup cerdas untuk memahami makna yang tersembunyi di balik kata-kata yang dipilih dengan hati-hati itu.Ia tidak perlu menuntut lebih dan tidak perlu mempertanyakan terlalu banyak hal. Tugasnya hanya menjadi istri Marquess Laurent dan melahirkan seorang pewaris.Itu saja.Helena menundukkan pandangan ke arah dokumen yang digenggamnya erat.Dunia bangsawan memang kejam.Sejak kecil ia sudah mengetahui kenyataan itu. Pernikahan bukan tentang cinta. Bukan pula tentang kebahagiaan. Yang terpenting adalah keluarga, kekuasaan, dan keturunan. Semua orang yang lahir sebagai bangsawan memahami aturan tersebu

  • Duke Laurent, Kau Kah Di Ranjangku?   Bab 5

    Helena menurunkan pandangannya sesaat. Jemarinya bergerak pelan di atas tepi dokumen yang masih terbuka di hadapannya.“Tidak seperti itu maksud saya.”Tom menunggu dengan sabar, memberi ruang baginya untuk melanjutkan tanpa menyela.Helena menarik napas pendek.“Saya tidak pernah melihat wajahnya.” Tambah Helena. “Malam itu terlalu gelap. Bahkan sampai sekarang saya tidak tahu seperti apa rupa suami saya.”Tom tampak benar-benar memahami apa yang ingin ia katakan. Pria itu menganggukkan kepala kecil.“Saya mengerti, Nyonya.”Hanya keheningan yang menggantung di antara mereka.Helena menunggu beberapa saat, berharap Tom akan melanjutkan ucapannya. Namun kepala pelayan itu tetap duduk dengan tenang di kursinya, seolah apa yang baru saja dikatakannya sudah cukup menjawab semuanya.Dan itulah yang mulai membuat Helena frustrasi.Semua orang di kastel ini memiliki kebiasaan yang sama. Mereka menjawab pertanyaan, tetapi tidak pernah benar-benar memberikan jawaban.“Kondisi Tuan Marquess b

  • Duke Laurent, Kau Kah Di Ranjangku?   Bab 4

    Helena duduk tegak di kursinya sambil menatap dokumen yang terbuka di hadapannya.Sejak beberapa menit terakhir, pandangannya terus bergerak dari satu halaman ke halaman lain, tetapi pikirannya tidak benar-benar fokus membaca.Ruangan kerja kepala pelayan itu terasa jauh lebih resmi dibanding tempat-tempat lain yang telah ia lihat di kastel. Rak-rak tinggi dipenuhi buku catatan dan arsip, sementara meja besar dari kayu gelap di tengah ruangan dipenuhi dokumen yang tersusun rapi.Pria yang duduk di seberangnya juga jauh berbeda dari bayangannya.Sebelum datang, Helena membayangkan kepala pelayan kastel Laurent adalah seorang pria tua berusia lanjut yang telah mengabdi selama puluhan tahun.Namun Tom sama sekali tidak sesuai dengan gambaran itu. Usianya memang terlihat lebih dewasa dibanding Rion, tetapi tidak terlalu jauh.Wajahnya tampan dengan kesan matang dan tenang, rambutnya tersisir rapi ke belakang tanpa satu helai pun yang keluar dari tempatnya, sementara seragam kepala pelayan

  • Duke Laurent, Kau Kah Di Ranjangku?   Bab 3

    Tidak ada perubahan sedikit pun pada wajah Rion setelah mendengar pertanyaan itu.Pria itu hanya menatap Helena dalam diam selama beberapa detik. Wajah tampannya tetap tenang, nyaris tanpa ekspresi, sementara sorot mata merah gelapnya sulit ditebak seperti biasa.Tidak terlihat terkejut. Tidak terlihat gugup. Seolah pertanyaan yang baru saja diajukan Helena bukanlah sesuatu yang perlu dipikirkan terlalu lama.Kemudian Rion sedikit membungkukkan tubuhnya. Gerakan itu sederhana, tetapi cukup untuk membuat jarak di antara mereka menyempit.Helena refleks menahan napas.“Sepertinya kakak saya tidak ingin melewatkan malam pertamanya bersama sang istri,” ucap Rion akhirnya. Suaranya rendah dan tenang, mengalir begitu saja tanpa keraguan sedikit pun. “Jadi semalam beliau memutuskan untuk datang ke kamar Anda.”Helena terdiam karena jawaban itu terdengar sangat masuk akal.Bukankah memang itu yang seharusnya terjadi? Rezef Laurent adalah suaminya. Tidak peduli seburuk apa pun kondisi kesehata

  • Duke Laurent, Kau Kah Di Ranjangku?   Bab 2

    Helena tertegun setelah mendengar perkenalan pria itu.Sesaat, ia benar-benar mengira bahwa lelaki yang baru saja memasuki aula adalah Rezef Laurent, suaminya. Entah karena posturnya yang tinggi, suaranya yang rendah, atau aura dingin yang mengelilinginya, ada sesuatu dalam diri pria itu yang membuat jantung Helena sempat berdebar tidak wajar.Tapi kenyataan bahwa ia adalah Rion Laurent, adik dari suaminya, membuat Helena segera menertawakan dirinya sendiri dalam hati.Ia menelan ludah pelan. Perasaan aneh yang sejak tadi mengganggunya belum juga hilang. Semuanya terasa terlalu familiar.Cara pria itu menatapnya, nada suaranya, bahkan kehadirannya yang begitu mendominasi ruangan. Untuk sesaat, pikiran yang tidak masuk akal melintas di kepalanya, bahwa lelaki inilah yang semalam berada di dalam kegelapan bersamanya.Helena segera membuang pikiran itu jauh-jauh.Mustahil.Rion adalah adik Rezef. Tidak mungkin ia mencurigai hal semacam itu hanya karena beberapa kesamaan yang mungkin tida

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status