Share

Bab 6

Penulis: Lalapoo
last update Tanggal publikasi: 2026-06-08 16:33:25

Helena keluar dari ruangan kerja Tom dengan langkah tenang. Dokumen yang baru saja diberikan kepadanya masih berada di tangannya, tetapi pikirannya sama sekali tidak tertuju pada lembaran-lembaran kertas itu.

Ucapan Tom terus terngiang di kepalanya.

Pria itu tidak pernah berbicara kasar. Bahkan selama percakapan mereka berlangsung, nada suaranya selalu sopan dan penuh hormat. Namun Helena cukup cerdas untuk memahami makna yang tersembunyi di balik kata-kata yang dipilih dengan hati-hati itu.

Ia tidak perlu menuntut lebih dan tidak perlu mempertanyakan terlalu banyak hal. Tugasnya hanya menjadi istri Marquess Laurent dan melahirkan seorang pewaris.

Itu saja.

Helena menundukkan pandangan ke arah dokumen yang digenggamnya erat.

Dunia bangsawan memang kejam.

Sejak kecil ia sudah mengetahui kenyataan itu. Pernikahan bukan tentang cinta. Bukan pula tentang kebahagiaan. Yang terpenting adalah keluarga, kekuasaan, dan keturunan. Semua orang yang lahir sebagai bangsawan memahami aturan tersebut, termasuk dirinya.

Karena itulah ia tidak pernah memberontak ketika ayahnya memutuskan menerima lamaran keluarga Laurent.

Helena menghela napas panjang.

Pada akhirnya, dunia bangsawan dibangun di atas aturan-aturan yang tidak tertulis. Siapa pun yang gagal mematuhinya akan dihancurkan tanpa belas kasihan.

Sering kali bahkan lebih buruk daripada kematian. Pikirannya masih dipenuhi berbagai hal ketika ia berbelok di sebuah lorong panjang.

Bruk.

Tubuhnya menabrak seseorang. Dokumen yang berada dalam pelukannya langsung terlepas dan berhamburan ke lantai.

Helena kehilangan keseimbangan. Refleks ia memejamkan mata, bersiap merasakan tubuhnya menghantam lantai marmer yang dingin.

Namun sebuah tangan lebih dulu menangkapnya. Seolah menjaganya agar tidak jatuh adalah hal yang paling mudah di dunia.

Helena membuka mata dan mendongak. Jantungnya seolah berhenti berdetak selama sesaat.

Rion.

Ia berdiri sangat dekat hingga Helena bisa melihat pantulan dirinya sendiri di iris merah gelap miliknya. Helena segera menjauh satu langkah dan membungkukkan tubuh.

"Maafkan saya," ucapnya cepat. "Saya tidak sengaja."

Rion menatapnya beberapa saat sebelum menggeleng pelan.

"Kakak Ipar tidak perlu membesar-besarkan hal itu." Nada suaranya rendah dan tenang seperti biasa. "Tenang saja."

Helena mengangguk kecil. Rasa canggung yang tidak bisa dijelaskan kembali muncul saat berada di dekat Rion.

Mungkin karena wajahnya atau mungkin karena suara itu.

Entah mengapa, semakin sering mendengarnya, semakin sulit bagi Helena untuk mengabaikan perasaan aneh yang terus muncul setiap kali Rion berbicara.

Sementara Helena masih berusaha mengatur pikirannya, Rion sudah membungkuk mengambil dokumen-dokumen yang berserakan di lantai.

Helena ikut berjongkok, tetapi pria itu lebih cepat. Dalam hitungan detik seluruh dokumen sudah berada di tangannya.

Rion menyerahkan dokumen tersebut kepadanya.

"Anda berjalan sendirian."

Helena menerima berkas itu.

"Saya baru saja bertemu Sir Tom."

Rion mengangguk pelan.

"Begitu."

"Saya hanya berjalan sebentar," lanjut Helena. "Lagipula saya masih berada di dalam kastel."

"Benar."

Helena memperhatikannya.

Rion memang tidak banyak bicara, bukan karena tidak tertarik, Rion justru memberikan kesan seolah ia mendengarkan setiap kata yang diucapkan lawan bicaranya.

Tatapan pria itu turun ke arah dokumen yang berada di pelukan Helena. Lalu kembali naik ke wajahnya.

"Jika Anda tidak nyaman dengan Tom," katanya tenang, "Anda bisa mendiskusikan apapun dengan saya."

Helena terdiam sebab itu langsung mengingatkannya pada apa yang baru saja dikatakan Tom beberapa menit lalu.

"Maaf," ucap Helena akhirnya. "Saya tidak ingin menambah pekerjaan Anda."

Rion menatapnya tanpa berkedip.

"Itu bukan tambahan pekerjaan."

Pria itu melangkah mendekat sehingga membuat jarak di antara mereka menyempit.

"Tidak masalah."

Helena meneguk ludah.

Sekarang ia harus sedikit mendongak untuk melihat wajah pria itu. Dari jarak sedekat ini, wajah Rion benar-benar sulit diabaikan.

"Saya bisa memberikan semua yang Anda inginkan, Kakak Ipar."

Helena mengerjap pelan, ia tidak yakin telah mendengar dengan benar.

"Apa maksud Anda?"

Alih-alih menjawab, Rion justru melangkah maju. Refleks Helena mundur satu langkah hingga akhirnya punggungnya menyentuh dinding batu di belakangnya.

Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat..

Rion berhenti ketika jarak mereka tinggal beberapa langkah saja. Mata merah gelapnya menatap lurus ke arah Helena, tenang dan tidak tergesa-gesa, kemudian ia mengangkat satu tangan.

Bukan untuk menyentuhnya. Tangannya hanya bertumpu di dinding, tepat di samping kepala Helena. Gerakan sederhana itu cukup untuk membuat napas Helena tertahan.

"Karena kakak saya tidak bisa," ucap Rion pelan, "maka saya yang akan melakukannya untuk Anda."

Tatapan Helena langsung bertemu dengan tatapannya.

"Apa pun itu."

Helena tidak mampu berkata apa-apa.

Ia bisa melihat dengan jelas garis rahang pria itu dan ketenangan yang tidak pernah benar-benar hilang dari wajahnya. Seolah tidak ada hal di dunia ini yang mampu membuatnya kehilangan kendali.

Berbeda dengan dirinya saat ini.

"Adik ipar..."

Suara Helena terdengar lebih pelan dari yang ia harapkan. Ia menelan ludah sebelum melanjutkan.

"Tidak... Rion."

Helena memaksakan dirinya untuk tetap tenang. Lalu ia mengangkat dagunya sedikit.

"Apa sekarang Anda sedang mencoba menggoda saya?"

Rion menatapnaya dan seolah hanya memandangnya beberapa saat seolah sedang menikmati pertanyaan tersebut dengan sudut bibirnya terangkat tipis.

"Jika benar begitu..." Rion sedikit memiringkan kepalanya. "Lalu apa masalahnya?"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Duke Laurent, Kau Kah Di Ranjangku?   Bab 63

    Helena menundukkan pandangannya. Jemarinya saling menggenggam di atas pangkuan, sementara senyum tipis yang muncul di bibirnya sama sekali tidak mengandung kebahagiaan."Saya bahkan tidak melakukan apa-apa."Suaranya pelan, hampir seperti sedang berbicara kepada dirinya sendiri."Saya hanya mengatakan bahwa Lady Rose adalah orang luar dan seharusnya tidak ikut campur dalam urusan keluarga Laurent."Ia terdiam sejenak sebelum kembali melanjutkan."Tetapi hanya karena kalimat itu... saya dikurung di ruang hukuman selama berjam-jam."Helena mengangkat wajahnya perlahan. Tatapannya bertemu dengan mata Rion, tetapi kali ini tidak ada kemarahan di sana.Hanya rasa lelah."Kalau begitu..." Ia tersenyum tipis. "Sepertinya saya mulai mengerti."Rion masih diam.Helena menarik napas panjang sebelum melanjutkan kalimatnya."Lady Rose benar-benar seseorang yang tidak boleh dibuat tersinggung."Keheningan memenuhi ruangan. Beberapa saat kemudian, Helena kembali berkata dengan suara yang jauh lebih

  • Duke Laurent, Kau Kah Di Ranjangku?   Bab 62

    Menjelang sore, kesunyian yang sejak tadi menyelimuti ruang hukuman akhirnya terusik.Dari balik pintu besi terdengar derap langkah yang terburu-buru menyusuri lorong batu. Suaranya semakin lama semakin dekat, diiringi gema sepatu yang memantul di dinding-dinding dingin bawah tanah.Helena yang sejak tadi hanya terduduk bersandar di dinding perlahan mengangkat kepalanya.Ia sudah terlalu lama berada di ruangan itu hingga tubuhnya mulai terasa kaku. Cahaya matahari yang semula masuk melalui jendela kecil kini berubah menjadi semburat jingga, menandakan berjam-jam telah berlalu sejak dirinya dibawa ke tempat itu.Belum sempat ia menebak siapa yang datang, sebuah suara keras menggema di sepanjang lorong."Apa maksud semua ini?" Suara itu begitu tegas hingga membuat seluruh lorong mendadak sunyi.Helena langsung mengenalinya.Rion.Beberapa penjaga yang berjaga di depan ruang hukuman tampak gugup. Salah seorang di antaranya buru-buru membungkukkan badan."Tu-Tuan Rion...""Aku bertanya."

  • Duke Laurent, Kau Kah Di Ranjangku?   Bab 61

    Helena melipat kembali surat itu dengan sangat hati-hati, lalu menyimpannya di dalam laci nakas, berdampingan dengan barang-barang yang paling ia jaga. Malam itu, untuk pertama kalinya sejak menjadi Marchioness Laurent, ia menutup matanya dengan hati yang sedikit lebih ringan.Karena kini ia tidak lagi merasa berjalan sendirian. Di balik segala rahasia yang masih menyelimuti pernikahan mereka, suaminya telah memberikan sebuah jawaban.Jawaban yang sederhana.Namun cukup untuk membuat Helena percaya bahwa suatu hari nanti, mereka benar-benar akan bertemu tanpa lagi dipisahkan oleh kegelapan ataupun selembar surat.Malam itu, seperti malam-malam sebelumnya, Rezef kembali datang ke kamar Helena.Ruangan kembali tenggelam dalam kegelapan, hanya menyisakan keheningan yang perlahan berubah menjadi kehangatan. Tidak ada banyak kata yang terucap di antara mereka. Hubungan mereka masih dipenuhi misteri, tetapi untuk pertama kalinya Helena merasakan sesuatu yang berbeda.Malam itu, Rezef memper

  • Duke Laurent, Kau Kah Di Ranjangku?   Bab 60

    Helena menghela napas pelan sebelum akhirnya mengangguk.“Baiklah,” ucapnya lirih. “Saya mengerti.”Ia tidak ingin lagi memperpanjang pembicaraan mengenai Rose. Wanita itu sudah pergi, dan Helena merasa tidak ada gunanya membiarkan suasana malam menjadi semakin buruk karena pertengkaran yang tidak akan menghasilkan apa-apa.Beberapa saat mereka hanya berdiri dalam diam. Cahaya lampu gantung memantulkan bayangan lembut di lantai marmer aula, sementara suara angin malam terdengar samar dari luar jendela.Namun satu pertanyaan masih terus mengganggu pikiran Helena sejak pagi tadi. Ia menatap Rion yang tampak hendak pergi, lalu memanggilnya pelan.“Tuan Rion.”Pria itu menghentikan langkah dan menoleh.“Ya?”Helena menggenggam ujung lengan gaunnya sebelum akhirnya bertanya dengan hati-hati.“Apakah Anda benar-benar akan pergi berperang?”Rion terdiam sejenak. Tatapannya beralih ke arah halaman kastel yang gelap sebelum kembali kepada Helena.“Untuk saat ini aku hanya diperintahkan mengawa

  • Duke Laurent, Kau Kah Di Ranjangku?   Bab 59

    Kalimat itu diucapkan Helena dengan tenang. Justru karena itulah, ucapannya terasa semakin tajam. Senyum di wajah Rose perlahan menghilang, dan untuk pertama kalinya malam itu ekspresinya benar-benar berubah. Di sekitar aula, para pelayan hanya menundukkan kepala tanpa berani ikut campur.Rion berdiri diam sambil memandang Helena dan Rose bergantian. Untuk pertama kalinya ia merasa Helena benar-benar telah berubah. Wanita itu tidak lagi hanya bertahan, tetapi mulai memahami posisinya sebagai Marchioness Laurent dan tahu bagaimana mempertahankannya tanpa kehilangan harga dirinya.Rose menatap Helena cukup lama. Wajahnya masih dihiasi senyum, tetapi senyum itu kini terlihat dipaksakan. Tatapannya perlahan berubah tajam, seolah sedang menahan amarah yang mulai sulit disembunyikan."Marchioness," ucapnya pelan, "apakah sekarang kau mulai meremehkanku?"Helena tidak menunjukkan sedikit pun perubahan ekspresi. Ia membalas tatapan Rose dengan tenang, sama sekali tidak terlihat terintimidasi.

  • Duke Laurent, Kau Kah Di Ranjangku?   Bab 58

    Ia mengepalkan jemarinya di atas pangkuan."Aku pernah melihat bagaimana kota berubah menjadi lautan api."Suara Helena tetap tenang. Justru terlalu tenang. Seolah semua itu telah ia pendam begitu lama hingga tidak lagi mampu diungkapkan dengan emosi."Aku pernah melihat orang-orang berlari tanpa tahu ke mana harus menyelamatkan diri." Ia berhenti sejenak. "Lalu keesokan harinya... banyak di antara mereka tidak pernah bangun lagi."Dorote membeku di tempatnya. Ia tidak pernah mendengar Helena membicarakan masa lalunya seperti ini. Helena menundukkan pandangannya."Karena itu..." Ia menghela napas panjang. "Aku tidak akan pernah bisa tenang setiap kali mendengar kata perang."Ruangan kembali hening.Dorote akhirnya memahami. Yang membuat Helena gelisah bukan semata-mata karena Rion mungkin akan berangkat ke medan perang. Melainkan karena perang sendiri telah meninggalkan luka yang tidak terlihat di dalam hati wanita itu. Dorote perlahan meletakkan tangannya di atas meja, tidak berani m

  • Duke Laurent, Kau Kah Di Ranjangku?   Bab 4

    Helena duduk tegak di kursinya sambil menatap dokumen yang terbuka di hadapannya.Sejak beberapa menit terakhir, pandangannya terus bergerak dari satu halaman ke halaman lain, tetapi pikirannya tidak benar-benar fokus membaca.Ruangan kerja kepala pelayan itu terasa jauh lebih resmi dibanding tempa

  • Duke Laurent, Kau Kah Di Ranjangku?   Bab 3

    Tidak ada perubahan sedikit pun pada wajah Rion setelah mendengar pertanyaan itu.Pria itu hanya menatap Helena dalam diam selama beberapa detik. Wajah tampannya tetap tenang, nyaris tanpa ekspresi, sementara sorot mata merah gelapnya sulit ditebak seperti biasa.Tidak terlihat terkejut. Tidak terl

  • Duke Laurent, Kau Kah Di Ranjangku?   Bab 2

    Helena tertegun setelah mendengar perkenalan pria itu.Sesaat, ia benar-benar mengira bahwa lelaki yang baru saja memasuki aula adalah Rezef Laurent, suaminya. Entah karena posturnya yang tinggi, suaranya yang rendah, atau aura dingin yang mengelilinginya, ada sesuatu dalam diri pria itu yang membu

  • Duke Laurent, Kau Kah Di Ranjangku?   Bab 1

    "Ah...""Ah. Ah... Hah.."Napas Helena keluar dalam hembusan pendek dan berat, dadanya naik turun tak beraturan di bawah bobot tubuh Marquess Laurent.Rambutnya kusut, menempel di leher dan dahinya yang memerah. Seluruh tubuhnya terasa seperti terbakar panas yang mengalir dari titik pertemuan merek

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status