登入Helena keluar dari ruangan kerja Tom dengan langkah tenang. Dokumen yang baru saja diberikan kepadanya masih berada di tangannya, tetapi pikirannya sama sekali tidak tertuju pada lembaran-lembaran kertas itu.
Ucapan Tom terus terngiang di kepalanya.
Pria itu tidak pernah berbicara kasar. Bahkan selama percakapan mereka berlangsung, nada suaranya selalu sopan dan penuh hormat. Namun Helena cukup cerdas untuk memahami makna yang tersembunyi di balik kata-kata yang dipilih dengan hati-hati itu.
Ia tidak perlu menuntut lebih dan tidak perlu mempertanyakan terlalu banyak hal. Tugasnya hanya menjadi istri Marquess Laurent dan melahirkan seorang pewaris.
Itu saja.
Helena menundukkan pandangan ke arah dokumen yang digenggamnya erat.
Dunia bangsawan memang kejam.
Sejak kecil ia sudah mengetahui kenyataan itu. Pernikahan bukan tentang cinta. Bukan pula tentang kebahagiaan. Yang terpenting adalah keluarga, kekuasaan, dan keturunan. Semua orang yang lahir sebagai bangsawan memahami aturan tersebut, termasuk dirinya.
Karena itulah ia tidak pernah memberontak ketika ayahnya memutuskan menerima lamaran keluarga Laurent.
Helena menghela napas panjang.
Pada akhirnya, dunia bangsawan dibangun di atas aturan-aturan yang tidak tertulis. Siapa pun yang gagal mematuhinya akan dihancurkan tanpa belas kasihan.
Sering kali bahkan lebih buruk daripada kematian. Pikirannya masih dipenuhi berbagai hal ketika ia berbelok di sebuah lorong panjang.
Bruk.
Tubuhnya menabrak seseorang. Dokumen yang berada dalam pelukannya langsung terlepas dan berhamburan ke lantai.
Helena kehilangan keseimbangan. Refleks ia memejamkan mata, bersiap merasakan tubuhnya menghantam lantai marmer yang dingin.
Namun sebuah tangan lebih dulu menangkapnya. Seolah menjaganya agar tidak jatuh adalah hal yang paling mudah di dunia.
Helena membuka mata dan mendongak. Jantungnya seolah berhenti berdetak selama sesaat.
Rion.
Ia berdiri sangat dekat hingga Helena bisa melihat pantulan dirinya sendiri di iris merah gelap miliknya. Helena segera menjauh satu langkah dan membungkukkan tubuh.
"Maafkan saya," ucapnya cepat. "Saya tidak sengaja."
Rion menatapnya beberapa saat sebelum menggeleng pelan.
"Kakak Ipar tidak perlu membesar-besarkan hal itu." Nada suaranya rendah dan tenang seperti biasa. "Tenang saja."
Helena mengangguk kecil. Rasa canggung yang tidak bisa dijelaskan kembali muncul saat berada di dekat Rion.
Mungkin karena wajahnya atau mungkin karena suara itu.
Entah mengapa, semakin sering mendengarnya, semakin sulit bagi Helena untuk mengabaikan perasaan aneh yang terus muncul setiap kali Rion berbicara.
Sementara Helena masih berusaha mengatur pikirannya, Rion sudah membungkuk mengambil dokumen-dokumen yang berserakan di lantai.
Helena ikut berjongkok, tetapi pria itu lebih cepat. Dalam hitungan detik seluruh dokumen sudah berada di tangannya.
Rion menyerahkan dokumen tersebut kepadanya.
"Anda berjalan sendirian."
Helena menerima berkas itu.
"Saya baru saja bertemu Sir Tom."
Rion mengangguk pelan.
"Begitu."
"Saya hanya berjalan sebentar," lanjut Helena. "Lagipula saya masih berada di dalam kastel."
"Benar."
Helena memperhatikannya.
Rion memang tidak banyak bicara, bukan karena tidak tertarik, Rion justru memberikan kesan seolah ia mendengarkan setiap kata yang diucapkan lawan bicaranya.
Tatapan pria itu turun ke arah dokumen yang berada di pelukan Helena. Lalu kembali naik ke wajahnya.
"Jika Anda tidak nyaman dengan Tom," katanya tenang, "Anda bisa mendiskusikan apapun dengan saya."
Helena terdiam sebab itu langsung mengingatkannya pada apa yang baru saja dikatakan Tom beberapa menit lalu.
"Maaf," ucap Helena akhirnya. "Saya tidak ingin menambah pekerjaan Anda."
Rion menatapnya tanpa berkedip.
"Itu bukan tambahan pekerjaan."
Pria itu melangkah mendekat sehingga membuat jarak di antara mereka menyempit.
"Tidak masalah."
Helena meneguk ludah.
Sekarang ia harus sedikit mendongak untuk melihat wajah pria itu. Dari jarak sedekat ini, wajah Rion benar-benar sulit diabaikan.
"Saya bisa memberikan semua yang Anda inginkan, Kakak Ipar."
Helena mengerjap pelan, ia tidak yakin telah mendengar dengan benar.
"Apa maksud Anda?"
Alih-alih menjawab, Rion justru melangkah maju. Refleks Helena mundur satu langkah hingga akhirnya punggungnya menyentuh dinding batu di belakangnya.
Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat..
Rion berhenti ketika jarak mereka tinggal beberapa langkah saja. Mata merah gelapnya menatap lurus ke arah Helena, tenang dan tidak tergesa-gesa, kemudian ia mengangkat satu tangan.
Bukan untuk menyentuhnya. Tangannya hanya bertumpu di dinding, tepat di samping kepala Helena. Gerakan sederhana itu cukup untuk membuat napas Helena tertahan.
"Karena kakak saya tidak bisa," ucap Rion pelan, "maka saya yang akan melakukannya untuk Anda."
Tatapan Helena langsung bertemu dengan tatapannya.
"Apa pun itu."
Helena tidak mampu berkata apa-apa.
Ia bisa melihat dengan jelas garis rahang pria itu dan ketenangan yang tidak pernah benar-benar hilang dari wajahnya. Seolah tidak ada hal di dunia ini yang mampu membuatnya kehilangan kendali.
Berbeda dengan dirinya saat ini.
"Adik ipar..."
Suara Helena terdengar lebih pelan dari yang ia harapkan. Ia menelan ludah sebelum melanjutkan.
"Tidak... Rion."
Helena memaksakan dirinya untuk tetap tenang. Lalu ia mengangkat dagunya sedikit.
"Apa sekarang Anda sedang mencoba menggoda saya?"
Rion menatapnaya dan seolah hanya memandangnya beberapa saat seolah sedang menikmati pertanyaan tersebut dengan sudut bibirnya terangkat tipis.
"Jika benar begitu..." Rion sedikit memiringkan kepalanya. "Lalu apa masalahnya?"
Helena akhirnya tersadar dari kebingungan yang sempat menguasai dirinya.Dengan cepat ia mengangkat kedua tangannya lalu mendorong dada Rion hingga pria itu mundur satu langkah. Jarak yang tercipta membuatnya bisa bernapas lebih lega.Dadanya naik turun menahan emosi yang sejak tadi berusaha ia tekan. Entah sejak kapan percakapan sederhana itu berubah menjadi sesuatu yang membuatnya merasa terpojok."Saya kakak ipar Anda," ucapnya tegas. Dagunya terangkat, berusaha mengembalikan martabat yang nyaris terguncang oleh kedekatan mereka barusan. "Jadi tolong hormati saya."Rion tidak langsung menjawab. Ia hanya berdiri di tempatnya, menatap Helena dengan ketenangan yang mulai membuat wanita itu kesal.Seolah apa pun yang dilakukan Helena tidak cukup untuk menggoyahkan kendalinya. Beberapa saat kemudian, sudut bibir pria itu bergerak tipis."Aku hanya mengatakan yang sebenarnya."Helena mengernyit. "Maksud Anda?""Apa yang bisa kau dapatkan dari kakakku?"Pertanyaan itu membuat Helena terdi
Helena keluar dari ruangan kerja Tom dengan langkah tenang. Dokumen yang baru saja diberikan kepadanya masih berada di tangannya, tetapi pikirannya sama sekali tidak tertuju pada lembaran-lembaran kertas itu.Ucapan Tom terus terngiang di kepalanya.Pria itu tidak pernah berbicara kasar. Bahkan selama percakapan mereka berlangsung, nada suaranya selalu sopan dan penuh hormat. Namun Helena cukup cerdas untuk memahami makna yang tersembunyi di balik kata-kata yang dipilih dengan hati-hati itu.Ia tidak perlu menuntut lebih dan tidak perlu mempertanyakan terlalu banyak hal. Tugasnya hanya menjadi istri Marquess Laurent dan melahirkan seorang pewaris.Itu saja.Helena menundukkan pandangan ke arah dokumen yang digenggamnya erat.Dunia bangsawan memang kejam.Sejak kecil ia sudah mengetahui kenyataan itu. Pernikahan bukan tentang cinta. Bukan pula tentang kebahagiaan. Yang terpenting adalah keluarga, kekuasaan, dan keturunan. Semua orang yang lahir sebagai bangsawan memahami aturan tersebu
Helena menurunkan pandangannya sesaat. Jemarinya bergerak pelan di atas tepi dokumen yang masih terbuka di hadapannya.“Tidak seperti itu maksud saya.”Tom menunggu dengan sabar, memberi ruang baginya untuk melanjutkan tanpa menyela.Helena menarik napas pendek.“Saya tidak pernah melihat wajahnya.” Tambah Helena. “Malam itu terlalu gelap. Bahkan sampai sekarang saya tidak tahu seperti apa rupa suami saya.”Tom tampak benar-benar memahami apa yang ingin ia katakan. Pria itu menganggukkan kepala kecil.“Saya mengerti, Nyonya.”Hanya keheningan yang menggantung di antara mereka.Helena menunggu beberapa saat, berharap Tom akan melanjutkan ucapannya. Namun kepala pelayan itu tetap duduk dengan tenang di kursinya, seolah apa yang baru saja dikatakannya sudah cukup menjawab semuanya.Dan itulah yang mulai membuat Helena frustrasi.Semua orang di kastel ini memiliki kebiasaan yang sama. Mereka menjawab pertanyaan, tetapi tidak pernah benar-benar memberikan jawaban.“Kondisi Tuan Marquess b
Helena duduk tegak di kursinya sambil menatap dokumen yang terbuka di hadapannya.Sejak beberapa menit terakhir, pandangannya terus bergerak dari satu halaman ke halaman lain, tetapi pikirannya tidak benar-benar fokus membaca.Ruangan kerja kepala pelayan itu terasa jauh lebih resmi dibanding tempat-tempat lain yang telah ia lihat di kastel. Rak-rak tinggi dipenuhi buku catatan dan arsip, sementara meja besar dari kayu gelap di tengah ruangan dipenuhi dokumen yang tersusun rapi.Pria yang duduk di seberangnya juga jauh berbeda dari bayangannya.Sebelum datang, Helena membayangkan kepala pelayan kastel Laurent adalah seorang pria tua berusia lanjut yang telah mengabdi selama puluhan tahun.Namun Tom sama sekali tidak sesuai dengan gambaran itu. Usianya memang terlihat lebih dewasa dibanding Rion, tetapi tidak terlalu jauh.Wajahnya tampan dengan kesan matang dan tenang, rambutnya tersisir rapi ke belakang tanpa satu helai pun yang keluar dari tempatnya, sementara seragam kepala pelayan
Tidak ada perubahan sedikit pun pada wajah Rion setelah mendengar pertanyaan itu.Pria itu hanya menatap Helena dalam diam selama beberapa detik. Wajah tampannya tetap tenang, nyaris tanpa ekspresi, sementara sorot mata merah gelapnya sulit ditebak seperti biasa.Tidak terlihat terkejut. Tidak terlihat gugup. Seolah pertanyaan yang baru saja diajukan Helena bukanlah sesuatu yang perlu dipikirkan terlalu lama.Kemudian Rion sedikit membungkukkan tubuhnya. Gerakan itu sederhana, tetapi cukup untuk membuat jarak di antara mereka menyempit.Helena refleks menahan napas.“Sepertinya kakak saya tidak ingin melewatkan malam pertamanya bersama sang istri,” ucap Rion akhirnya. Suaranya rendah dan tenang, mengalir begitu saja tanpa keraguan sedikit pun. “Jadi semalam beliau memutuskan untuk datang ke kamar Anda.”Helena terdiam karena jawaban itu terdengar sangat masuk akal.Bukankah memang itu yang seharusnya terjadi? Rezef Laurent adalah suaminya. Tidak peduli seburuk apa pun kondisi kesehata
Helena tertegun setelah mendengar perkenalan pria itu.Sesaat, ia benar-benar mengira bahwa lelaki yang baru saja memasuki aula adalah Rezef Laurent, suaminya. Entah karena posturnya yang tinggi, suaranya yang rendah, atau aura dingin yang mengelilinginya, ada sesuatu dalam diri pria itu yang membuat jantung Helena sempat berdebar tidak wajar.Tapi kenyataan bahwa ia adalah Rion Laurent, adik dari suaminya, membuat Helena segera menertawakan dirinya sendiri dalam hati.Ia menelan ludah pelan. Perasaan aneh yang sejak tadi mengganggunya belum juga hilang. Semuanya terasa terlalu familiar.Cara pria itu menatapnya, nada suaranya, bahkan kehadirannya yang begitu mendominasi ruangan. Untuk sesaat, pikiran yang tidak masuk akal melintas di kepalanya, bahwa lelaki inilah yang semalam berada di dalam kegelapan bersamanya.Helena segera membuang pikiran itu jauh-jauh.Mustahil.Rion adalah adik Rezef. Tidak mungkin ia mencurigai hal semacam itu hanya karena beberapa kesamaan yang mungkin tida







