로그인Helena menurunkan pandangannya sesaat. Jemarinya bergerak pelan di atas tepi dokumen yang masih terbuka di hadapannya.
“Tidak seperti itu maksud saya.”
Tom menunggu dengan sabar, memberi ruang baginya untuk melanjutkan tanpa menyela.
Helena menarik napas pendek.
“Saya tidak pernah melihat wajahnya.” Tambah Helena. “Malam itu terlalu gelap. Bahkan sampai sekarang saya tidak tahu seperti apa rupa suami saya.”
Tom tampak benar-benar memahami apa yang ingin ia katakan. Pria itu menganggukkan kepala kecil.
“Saya mengerti, Nyonya.”
Hanya keheningan yang menggantung di antara mereka.
Helena menunggu beberapa saat, berharap Tom akan melanjutkan ucapannya. Namun kepala pelayan itu tetap duduk dengan tenang di kursinya, seolah apa yang baru saja dikatakannya sudah cukup menjawab semuanya.
Dan itulah yang mulai membuat Helena frustrasi.
Semua orang di kastel ini memiliki kebiasaan yang sama. Mereka menjawab pertanyaan, tetapi tidak pernah benar-benar memberikan jawaban.
“Kondisi Tuan Marquess belum membaik,” kata Tom akhirnya. “Beliau masih membutuhkan banyak istirahat.”
Helena mengangkat wajahnya perlahan, dan sekali lagi tatapannya bertemu dengan pria itu.
“Itu bukan jawaban atas pertanyaan saya.”
Tom terdiam.
Bukan karena tersinggung, juga bukan karena terkejut.
Helena justru merasa pria itu sedang menimbang sesuatu. Seolah ada batas yang tidak boleh ia lewati, dan sekarang ia sedang memutuskan apakah pertanyaan Helena layak diberi jawaban yang lebih jujur.
Sayangnya, jeda itu hanya membuat rasa penasaran Helena semakin besar.
“Saya hanya ingin bertemu dengan suami saya,” ucapnya. Nada suaranya tetap lembut, tetapi kali ini lebih tegas. “Bukankah itu permintaan yang wajar?”
“Tentu saja wajar, Nyonya.”
“Kalau begitu mengapa semua orang bertingkah seolah saya meminta sesuatu yang mustahil?”
Keheningan kembali jatuh.
Di luar jendela, cahaya siang menerpa lantai batu yang mengilap. Sementara di dalam ruangan, suasana perlahan berubah menjadi lebih berat.
Tom menyandarkan punggungnya sedikit ke kursi.
“Tak seorang pun berpikir seperti itu.”
“Benarkah?”
Helena tidak melepaskan pandangannya.
“Saya tiba di kastel ini kemarin. Saya menikah dengan seorang pria yang bahkan tidak pernah saya lihat wajahnya. Pagi ini saya diberi tahu bahwa kondisinya memburuk. Setelah itu saya mengetahui bahwa hampir seluruh urusan keluarga dijalankan oleh adiknya.”
Ia berhenti sejenak.
“Dan sekarang, saat saya bertanya kapan saya bisa menemui suami saya sendiri, tidak ada seorang pun yang memberi jawaban yang jelas.”
Tom terdiam lebih lama.
Helena mengenali keheningan seperti itu. Ia dibesarkan di lingkungan bangsawan, di mana banyak hal lebih sering disembunyikan daripada diucapkan secara langsung.
Seseorang yang tidak tahu apa-apa biasanya akan segera menjawab dan seseorang yang tahu terlalu banyak justru akan berhati-hati memilih kata.
Saat ini Tom terlihat seperti orang yang termasuk kategori kedua.
Akhirnya pria itu mengembuskan napas pelan. Pandangan matanya turun sesaat sebelum kembali menatap Helena.
“Tuan Marquess...” ia berhenti sejenak, seolah sedang memilih kalimat yang paling aman. “Bukan orang yang mudah ditemui.”
Helena mengernyit pelan. Ada sesuatu dalam jawaban Tom yang membuat dadanya terasa tidak nyaman.
"Bukan orang yang mudah ditemui?" ulangnya. "Apa maksud Anda?"
Ia mencondongkan tubuh sedikit ke depan.
"Bukankah beliau adalah suami saya? Saya memiliki hak untuk bertemu dengannya."
Keheningan singkat menyelimuti ruangan.
Tom tidak langsung menjawab. Pria itu tampak tetap tenang seperti sebelumnya, seolah pertanyaan Helena tidak mengandung sesuatu yang aneh.
"Sejak awal, perjanjian pernikahan ini memang seperti itu, Nyonya."
Helena membeku.
Perjanjian?
Ia tentu mengingat isi kontrak pernikahan yang ditandatangani keluarganya. Dalam keadaan hancur seperti itu, tidak banyak ruang untuk menolak syarat apa pun.
Tom melanjutkan dengan nada yang sama tenangnya.
"Bukankah Anda menyetujui pernikahan ini dengan keadaan tersebut?"
Helena meneguk ludah, ia tidak menemukan jawaban. Karena secara teknis, Tom benar sebab ia memang menyetujuinya.
Atau lebih tepatnya, ia menerima kenyataan bahwa dirinya harus menikah demi menyelamatkan keluarganya.
Namun menerima sebuah perjanjian di atas kertas dan menjalaninya secara nyata adalah dua hal yang sangat berbeda.
"Saya..." Helena berhenti sejenak. "Saya hanya—"
"Hanya ingin tahu?" Tom menyelesaikan kalimatnya.
Helena terdiam.
Kepala pelayan itu menatapnya dengan sopan, tetapi entah mengapa Helena merasa seolah sedang dihakimi tanpa benar-benar dihakimi.
"Akan lebih baik jika Anda tidak melewati batas, Nyonya."
Helena perlahan menegakkan punggungnya, ia tidak lagi setenang sebelumnya.
"Apa itu ancaman?"
"Tidak." Tom menjawab tanpa ragu. "Itu nasihat."
Ia melipat kedua tangannya di atas meja.
"Anda sekarang adalah Nyonya Laurent. Semua kebutuhan Anda dipenuhi. Anda memiliki kedudukan yang terhormat, kekayaan, pelayan pribadi, dan perlindungan keluarga Laurent."
Helena tidak menyukai arah pembicaraan ini. Karena ia merasa seperti sedang dibicarakan bukan sebagai seorang istri, melainkan sebagai seseorang yang ditempatkan di posisi tertentu untuk menjalankan fungsi tertentu.
"Cukup nikmati kehidupan pernikahan Anda seperti sekarang." Tom berbicara dengan nada yang begitu tenang hingga hampir terdengar biasa. "Lalu lahirkan seorang pewaris."
Helena membeku, ia merasa diremehkan.
"Itu sudah cukup untuk membuat posisi Anda aman di dalam keluarga Laurent."
Helena akhirnya tersadar dari kebingungan yang sempat menguasai dirinya.Dengan cepat ia mengangkat kedua tangannya lalu mendorong dada Rion hingga pria itu mundur satu langkah. Jarak yang tercipta membuatnya bisa bernapas lebih lega.Dadanya naik turun menahan emosi yang sejak tadi berusaha ia tekan. Entah sejak kapan percakapan sederhana itu berubah menjadi sesuatu yang membuatnya merasa terpojok."Saya kakak ipar Anda," ucapnya tegas. Dagunya terangkat, berusaha mengembalikan martabat yang nyaris terguncang oleh kedekatan mereka barusan. "Jadi tolong hormati saya."Rion tidak langsung menjawab. Ia hanya berdiri di tempatnya, menatap Helena dengan ketenangan yang mulai membuat wanita itu kesal.Seolah apa pun yang dilakukan Helena tidak cukup untuk menggoyahkan kendalinya. Beberapa saat kemudian, sudut bibir pria itu bergerak tipis."Aku hanya mengatakan yang sebenarnya."Helena mengernyit. "Maksud Anda?""Apa yang bisa kau dapatkan dari kakakku?"Pertanyaan itu membuat Helena terdi
Helena keluar dari ruangan kerja Tom dengan langkah tenang. Dokumen yang baru saja diberikan kepadanya masih berada di tangannya, tetapi pikirannya sama sekali tidak tertuju pada lembaran-lembaran kertas itu.Ucapan Tom terus terngiang di kepalanya.Pria itu tidak pernah berbicara kasar. Bahkan selama percakapan mereka berlangsung, nada suaranya selalu sopan dan penuh hormat. Namun Helena cukup cerdas untuk memahami makna yang tersembunyi di balik kata-kata yang dipilih dengan hati-hati itu.Ia tidak perlu menuntut lebih dan tidak perlu mempertanyakan terlalu banyak hal. Tugasnya hanya menjadi istri Marquess Laurent dan melahirkan seorang pewaris.Itu saja.Helena menundukkan pandangan ke arah dokumen yang digenggamnya erat.Dunia bangsawan memang kejam.Sejak kecil ia sudah mengetahui kenyataan itu. Pernikahan bukan tentang cinta. Bukan pula tentang kebahagiaan. Yang terpenting adalah keluarga, kekuasaan, dan keturunan. Semua orang yang lahir sebagai bangsawan memahami aturan tersebu
Helena menurunkan pandangannya sesaat. Jemarinya bergerak pelan di atas tepi dokumen yang masih terbuka di hadapannya.“Tidak seperti itu maksud saya.”Tom menunggu dengan sabar, memberi ruang baginya untuk melanjutkan tanpa menyela.Helena menarik napas pendek.“Saya tidak pernah melihat wajahnya.” Tambah Helena. “Malam itu terlalu gelap. Bahkan sampai sekarang saya tidak tahu seperti apa rupa suami saya.”Tom tampak benar-benar memahami apa yang ingin ia katakan. Pria itu menganggukkan kepala kecil.“Saya mengerti, Nyonya.”Hanya keheningan yang menggantung di antara mereka.Helena menunggu beberapa saat, berharap Tom akan melanjutkan ucapannya. Namun kepala pelayan itu tetap duduk dengan tenang di kursinya, seolah apa yang baru saja dikatakannya sudah cukup menjawab semuanya.Dan itulah yang mulai membuat Helena frustrasi.Semua orang di kastel ini memiliki kebiasaan yang sama. Mereka menjawab pertanyaan, tetapi tidak pernah benar-benar memberikan jawaban.“Kondisi Tuan Marquess b
Helena duduk tegak di kursinya sambil menatap dokumen yang terbuka di hadapannya.Sejak beberapa menit terakhir, pandangannya terus bergerak dari satu halaman ke halaman lain, tetapi pikirannya tidak benar-benar fokus membaca.Ruangan kerja kepala pelayan itu terasa jauh lebih resmi dibanding tempat-tempat lain yang telah ia lihat di kastel. Rak-rak tinggi dipenuhi buku catatan dan arsip, sementara meja besar dari kayu gelap di tengah ruangan dipenuhi dokumen yang tersusun rapi.Pria yang duduk di seberangnya juga jauh berbeda dari bayangannya.Sebelum datang, Helena membayangkan kepala pelayan kastel Laurent adalah seorang pria tua berusia lanjut yang telah mengabdi selama puluhan tahun.Namun Tom sama sekali tidak sesuai dengan gambaran itu. Usianya memang terlihat lebih dewasa dibanding Rion, tetapi tidak terlalu jauh.Wajahnya tampan dengan kesan matang dan tenang, rambutnya tersisir rapi ke belakang tanpa satu helai pun yang keluar dari tempatnya, sementara seragam kepala pelayan
Tidak ada perubahan sedikit pun pada wajah Rion setelah mendengar pertanyaan itu.Pria itu hanya menatap Helena dalam diam selama beberapa detik. Wajah tampannya tetap tenang, nyaris tanpa ekspresi, sementara sorot mata merah gelapnya sulit ditebak seperti biasa.Tidak terlihat terkejut. Tidak terlihat gugup. Seolah pertanyaan yang baru saja diajukan Helena bukanlah sesuatu yang perlu dipikirkan terlalu lama.Kemudian Rion sedikit membungkukkan tubuhnya. Gerakan itu sederhana, tetapi cukup untuk membuat jarak di antara mereka menyempit.Helena refleks menahan napas.“Sepertinya kakak saya tidak ingin melewatkan malam pertamanya bersama sang istri,” ucap Rion akhirnya. Suaranya rendah dan tenang, mengalir begitu saja tanpa keraguan sedikit pun. “Jadi semalam beliau memutuskan untuk datang ke kamar Anda.”Helena terdiam karena jawaban itu terdengar sangat masuk akal.Bukankah memang itu yang seharusnya terjadi? Rezef Laurent adalah suaminya. Tidak peduli seburuk apa pun kondisi kesehata
Helena tertegun setelah mendengar perkenalan pria itu.Sesaat, ia benar-benar mengira bahwa lelaki yang baru saja memasuki aula adalah Rezef Laurent, suaminya. Entah karena posturnya yang tinggi, suaranya yang rendah, atau aura dingin yang mengelilinginya, ada sesuatu dalam diri pria itu yang membuat jantung Helena sempat berdebar tidak wajar.Tapi kenyataan bahwa ia adalah Rion Laurent, adik dari suaminya, membuat Helena segera menertawakan dirinya sendiri dalam hati.Ia menelan ludah pelan. Perasaan aneh yang sejak tadi mengganggunya belum juga hilang. Semuanya terasa terlalu familiar.Cara pria itu menatapnya, nada suaranya, bahkan kehadirannya yang begitu mendominasi ruangan. Untuk sesaat, pikiran yang tidak masuk akal melintas di kepalanya, bahwa lelaki inilah yang semalam berada di dalam kegelapan bersamanya.Helena segera membuang pikiran itu jauh-jauh.Mustahil.Rion adalah adik Rezef. Tidak mungkin ia mencurigai hal semacam itu hanya karena beberapa kesamaan yang mungkin tida







