Share

Bab 5

Author: Lalapoo
last update publish date: 2026-06-08 16:12:29

Helena menurunkan pandangannya sesaat. Jemarinya bergerak pelan di atas tepi dokumen yang masih terbuka di hadapannya.

“Tidak seperti itu maksud saya.”

Tom menunggu dengan sabar, memberi ruang baginya untuk melanjutkan tanpa menyela.

Helena menarik napas pendek.

“Saya tidak pernah melihat wajahnya.” Tambah Helena.  “Malam itu terlalu gelap. Bahkan sampai sekarang saya tidak tahu seperti apa rupa suami saya.”

Tom tampak benar-benar memahami apa yang ingin ia katakan. Pria itu menganggukkan kepala kecil.

“Saya mengerti, Nyonya.”

Hanya keheningan yang menggantung di antara mereka.

Helena menunggu beberapa saat, berharap Tom akan melanjutkan ucapannya. Namun kepala pelayan itu tetap duduk dengan tenang di kursinya, seolah apa yang baru saja dikatakannya sudah cukup menjawab semuanya.

Dan itulah yang mulai membuat Helena frustrasi.

Semua orang di kastel ini memiliki kebiasaan yang sama. Mereka menjawab pertanyaan, tetapi tidak pernah benar-benar memberikan jawaban.

“Kondisi Tuan Marquess belum membaik,” kata Tom akhirnya. “Beliau masih membutuhkan banyak istirahat.”

Helena mengangkat wajahnya perlahan, dan sekali lagi tatapannya bertemu dengan pria itu.

“Itu bukan jawaban atas pertanyaan saya.”

Tom terdiam.

Bukan karena tersinggung, juga bukan karena terkejut.

Helena justru merasa pria itu sedang menimbang sesuatu. Seolah ada batas yang tidak boleh ia lewati, dan sekarang ia sedang memutuskan apakah pertanyaan Helena layak diberi jawaban yang lebih jujur.

Sayangnya, jeda itu hanya membuat rasa penasaran Helena semakin besar.

“Saya hanya ingin bertemu dengan suami saya,” ucapnya. Nada suaranya tetap lembut, tetapi kali ini lebih tegas. “Bukankah itu permintaan yang wajar?”

“Tentu saja wajar, Nyonya.”

“Kalau begitu mengapa semua orang bertingkah seolah saya meminta sesuatu yang mustahil?”

Keheningan kembali jatuh.

Di luar jendela, cahaya siang menerpa lantai batu yang mengilap. Sementara di dalam ruangan, suasana perlahan berubah menjadi lebih berat.

Tom menyandarkan punggungnya sedikit ke kursi.

“Tak seorang pun berpikir seperti itu.”

“Benarkah?”

Helena tidak melepaskan pandangannya.

“Saya tiba di kastel ini kemarin. Saya menikah dengan seorang pria yang bahkan tidak pernah saya lihat wajahnya. Pagi ini saya diberi tahu bahwa kondisinya memburuk. Setelah itu saya mengetahui bahwa hampir seluruh urusan keluarga dijalankan oleh adiknya.”

Ia berhenti sejenak.

“Dan sekarang, saat saya bertanya kapan saya bisa menemui suami saya sendiri, tidak ada seorang pun yang memberi jawaban yang jelas.”

Tom terdiam lebih lama.

Helena mengenali keheningan seperti itu. Ia dibesarkan di lingkungan bangsawan, di mana banyak hal lebih sering disembunyikan daripada diucapkan secara langsung.

Seseorang yang tidak tahu apa-apa biasanya akan segera menjawab dan seseorang yang tahu terlalu banyak justru akan berhati-hati memilih kata.

Saat ini Tom terlihat seperti orang yang termasuk kategori kedua.

Akhirnya pria itu mengembuskan napas pelan. Pandangan matanya turun sesaat sebelum kembali menatap Helena.

“Tuan Marquess...” ia berhenti sejenak, seolah sedang memilih kalimat yang paling aman. “Bukan orang yang mudah ditemui.”

Helena mengernyit pelan. Ada sesuatu dalam jawaban Tom yang membuat dadanya terasa tidak nyaman.

"Bukan orang yang mudah ditemui?" ulangnya. "Apa maksud Anda?"

Ia mencondongkan tubuh sedikit ke depan.

"Bukankah beliau adalah suami saya? Saya memiliki hak untuk bertemu dengannya."

Keheningan singkat menyelimuti ruangan.

Tom tidak langsung menjawab. Pria itu tampak tetap tenang seperti sebelumnya, seolah pertanyaan Helena tidak mengandung sesuatu yang aneh.

"Sejak awal, perjanjian pernikahan ini memang seperti itu, Nyonya."

Helena membeku.

Perjanjian?

Ia tentu mengingat isi kontrak pernikahan yang ditandatangani keluarganya. Dalam keadaan hancur seperti itu, tidak banyak ruang untuk menolak syarat apa pun.

Tom melanjutkan dengan nada yang sama tenangnya.

"Bukankah Anda menyetujui pernikahan ini dengan keadaan tersebut?"

Helena meneguk ludah, ia tidak menemukan jawaban. Karena secara teknis, Tom benar sebab ia memang menyetujuinya.

Atau lebih tepatnya, ia menerima kenyataan bahwa dirinya harus menikah demi menyelamatkan keluarganya.

Namun menerima sebuah perjanjian di atas kertas dan menjalaninya secara nyata adalah dua hal yang sangat berbeda.

"Saya..." Helena berhenti sejenak. "Saya hanya—"

"Hanya ingin tahu?" Tom menyelesaikan kalimatnya.

Helena terdiam.

Kepala pelayan itu menatapnya dengan sopan, tetapi entah mengapa Helena merasa seolah sedang dihakimi tanpa benar-benar dihakimi.

"Akan lebih baik jika Anda tidak melewati batas, Nyonya."

Helena perlahan menegakkan punggungnya, ia tidak lagi setenang sebelumnya.

"Apa itu ancaman?"

"Tidak." Tom menjawab tanpa ragu. "Itu nasihat."

Ia melipat kedua tangannya di atas meja.

"Anda sekarang adalah Nyonya Laurent. Semua kebutuhan Anda dipenuhi. Anda memiliki kedudukan yang terhormat, kekayaan, pelayan pribadi, dan perlindungan keluarga Laurent."

Helena tidak menyukai arah pembicaraan ini. Karena ia merasa seperti sedang dibicarakan bukan sebagai seorang istri, melainkan sebagai seseorang yang ditempatkan di posisi tertentu untuk menjalankan fungsi tertentu.

"Cukup nikmati kehidupan pernikahan Anda seperti sekarang." Tom berbicara dengan nada yang begitu tenang hingga hampir terdengar biasa. "Lalu lahirkan seorang pewaris."

Helena membeku, ia merasa diremehkan.

"Itu sudah cukup untuk membuat posisi Anda aman di dalam keluarga Laurent."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Duke Laurent, Kau Kah Di Ranjangku?   Bab 97

    Helena tetap berdiri di tempatnya setelah Rose pergi. Baru ketika pintu balkon benar-benar tertutup dan langkah kaki wanita itu tak lagi terdengar, ia membiarkan bahunya sedikit mengendur.Ia mengembuskan napas panjang.Akhirnya. Setidaknya untuk beberapa saat, ia bisa bernapas tanpa harus memikirkan kata-kata yang sengaja dilemparkan kepadanya.Helena mengangkat wajah, membiarkan angin malam menyentuh pipinya. Udara di balkon terasa jauh lebih dingin dibandingkan suasana di dalam aula, tetapi justru itulah yang ia butuhkan.Pesta ini ternyata jauh lebih melelahkan daripada yang ia bayangkan. Ia datang hanya untuk menghadiri sebuah acara. Namun sepanjang malam, ia harus menghadapi tatapan orang-orang, bisikan mengenai Rezef, sindiran Rose, bahkan rumor tentang dirinya dan Rion.Helena menundukkan pandangan. Ia masih teringat perkataan Rose. Helena tidak ingin memikirkannya.Pernikahannya dengan Rezef memang berbeda dari kebanyakan pernikahan bangsawan lainnya. Tidak ada kemesraan yang

  • Duke Laurent, Kau Kah Di Ranjangku?   Bab 96

    Rion kembali menatap Helena."Kalau kita berhenti sekarang hanya karena mereka berbicara, bukankah itu justru membuat mereka semakin yakin bahwa ada sesuatu?"Helena terdiam. Ia membenci kenyataan bahwa perkataan Rion masuk akal."Jadi kita terus saja?""Ya."Rion kembali menggerakkan langkahnya."Biarkan mereka melihat sesuatu yang memang tidak salah."Helena tidak menjawab.Ia hanya mengikuti gerakannya. Musik terus mengalun, dan mereka kembali berputar di tengah lantai dansa.Dari luar, mereka memang terlihat seperti pasangan yang serasi. Rion memimpin dengan tenang, sementara Helena mengikuti langkahnya dengan anggun. Tidak ada yang mengetahui bahwa wanita itu justru sedang berusaha keras menjaga jarak di dalam pikirannya.Tidak ada yang mengetahui bahwa setiap kali tangan Rion menyentuhnya, Helena teringat pada malam yang seharusnya tidak pernah terjadi.Dan mungkin itulah yang paling membuatnya gelisah. Bukan tatapan para bangsawan. Bukan pula bisikan Rose. Melainkan kenyataan b

  • Duke Laurent, Kau Kah Di Ranjangku?   Bab 95

    Helena menarik napas perlahan. Ia mulai memahami apa yang dilakukan Rose. Wanita itu tidak pernah secara langsung mengatakan bahwa Helena menyukai Rion atau bahwa pernikahannya dengan Rezef sedang bermasalah. Rose hanya melemparkan kalimat-kalimat samar, lalu membiarkan orang lain membuat kesimpulan sendiri.Helena tidak perlu mendengar bisikan mereka untuk mengetahui apa yang sedang dibicarakan. Tatapan beberapa bangsawan yang sesekali beralih dari dirinya kepada Rion sudah cukup menjelaskan semuanya.Ia menegakkan tubuh dan memilih untuk tidak menanggapi.Jika ia membantah setiap perkataan, justru akan terlihat seolah-olah dirinya sedang berusaha menyembunyikan sesuatu. Lebih baik membiarkan mereka berbicara sampai bosan sendiri.Namun ketika Helena tanpa sengaja menoleh kepada Rion, pria itu sedang memandangnya. Tatapan mereka bertemu selama beberapa detik. Tidak ada senyum. Tidak ada kata-kata. Tetapi tatapan itu membuat Helena kembali teringat pada satu hal yang selama ini berusah

  • Duke Laurent, Kau Kah Di Ranjangku?   Bab 94

    Begitu memasuki aula, Helena segera menyadari bahwa suasananya jauh lebih ramai daripada yang ia bayangkan. Para bangsawan telah memenuhi ruangan, sebagian berdiri dalam kelompok-kelompok kecil sambil berbincang, sementara yang lain duduk di sekitar meja panjang yang dipenuhi hidangan dan minuman. Kilauan lampu kristal memenuhi langit-langit, memantulkan cahaya ke lantai marmer dan gaun-gaun mewah yang dikenakan para wanita.Namun sebelum Helena sempat memperhatikan lebih jauh, Rion sudah membimbingnya menuju bagian tengah aula."Yang Mulia ada di sana."Helena mengikuti arah pandangnya. Kaisar berdiri bersama beberapa pejabat dan bangsawan tinggi. Begitu melihat mereka mendekat, percakapan di sekitar kelompok itu perlahan mereda.Helena menarik napas kecil. Ia kemudian berdiri sedikit lebih tegak. Rion berhenti beberapa langkah di hadapan Kaisar, lalu menundukkan kepala dengan hormat. Helena segera melakukan hal yang sama."Salam hormat, Yang Mulia."Kaisar memandang mereka berdua se

  • Duke Laurent, Kau Kah Di Ranjangku?   Bab 93

    Rion terdiam mendengar jawaban Helena. Tatapannya sempat beralih pada cadar tipis yang menutupi sebagian wajah wanita itu, kemudian kembali pada matanya. Beberapa detik berlalu sebelum sudut bibirnya terangkat sedikit."Jadi Anda takut orang-orang mengira saya pasangan Anda?"Helena langsung mengerutkan kening. "Jangan mengatakan sesuatu seperti itu."Nada suaranya terdengar lebih tegas daripada yang ia maksudkan. Namun Rion justru terkekeh pelan, sama sekali tidak terlihat tersinggung."Saya hanya bertanya.""Anda tahu apa yang saya maksud.""Saya tahu."Jawaban Rion begitu singkat. Setelah itu ia tidak lagi menggoda Helena. Ia hanya berbalik menuju kereta yang telah menunggu di depan mereka, lalu membuka pintunya dengan tenang."Silakan."Helena hanya menatap Rion sebentar sebelum masuk ke dalam kereta. Rion menyusul setelah memastikan Helena duduk dengan nyaman, lalu mengambil tempat di seberangnya.Kereta mulai berjalan meninggalkan Kastel Laurent. Helena memandang keluar jendela,

  • Duke Laurent, Kau Kah Di Ranjangku?   Bab 92

    Malam itu, setelah kembali ke kamar, Helena masih memikirkan perkataan Rion sebelum mereka berpisah. Helena duduk di depan meja rias dengan rambut terurai. Ia sudah berganti pakaian, tetapi kalung dengan batu permata merah dari Rezef masih terpasang di lehernya. Ia menyentuhnya perlahan.Entah mengapa, Helena merasa heran. Bukankah seharusnya Rion lebih mengingat bros pemberiannya sendiri? Bros berlambang keluarga Laurent itu masih tersemat di gaunnya.Namun saat mereka berpisah, justru kalung pemberian Rezef yang Rion ingatkan untuk dijaga.Helena mengerutkan kening."Aneh..."Helena memiringkan kepala, mencoba memahami maksud Rion. Mungkin Rion hanya ingin mengingatkannya. Kalung itu bukan perhiasan biasa. Itu hadiah dari Rezef, suaminya, yang diberikan tepat pada hari pesta teh pertamanya dan disaksikan banyak orang.Mungkin Rion hanya mengingatkan bahwa kalung itu penting.Tidak lebih.Helena mengangguk kecil, merasa sudah menemukan alasan yang masuk akal."Ya. Mungkin hanya itu."

  • Duke Laurent, Kau Kah Di Ranjangku?   Bab 7

    Helena akhirnya tersadar dari kebingungan yang sempat menguasai dirinya.Dengan cepat ia mengangkat kedua tangannya lalu mendorong dada Rion hingga pria itu mundur satu langkah. Jarak yang tercipta membuatnya bisa bernapas lebih lega.Dadanya naik turun menahan emosi yang sejak tadi berusaha ia tek

  • Duke Laurent, Kau Kah Di Ranjangku?   Bab 6

    Helena keluar dari ruangan kerja Tom dengan langkah tenang. Dokumen yang baru saja diberikan kepadanya masih berada di tangannya, tetapi pikirannya sama sekali tidak tertuju pada lembaran-lembaran kertas itu.Ucapan Tom terus terngiang di kepalanya.Pria itu tidak pernah berbicara kasar. Bahkan sel

  • Duke Laurent, Kau Kah Di Ranjangku?   Bab 2

    Helena tertegun setelah mendengar perkenalan pria itu.Sesaat, ia benar-benar mengira bahwa lelaki yang baru saja memasuki aula adalah Rezef Laurent, suaminya. Entah karena posturnya yang tinggi, suaranya yang rendah, atau aura dingin yang mengelilinginya, ada sesuatu dalam diri pria itu yang membu

  • Duke Laurent, Kau Kah Di Ranjangku?   Bab 1

    "Ah...""Ah. Ah... Hah.."Napas Helena keluar dalam hembusan pendek dan berat, dadanya naik turun tak beraturan di bawah bobot tubuh Marquess Laurent.Rambutnya kusut, menempel di leher dan dahinya yang memerah. Seluruh tubuhnya terasa seperti terbakar panas yang mengalir dari titik pertemuan merek

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status