Share

#007 Pengingkaran Atau Kebenaran?

Penulis: aisakurachan
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-28 08:38:24

“Terima kasih atas sambutannya, Duke Greybone. Dan saya ikut prihatin atas keadaan Anda, Duchess.” Caelan membungkuk sekilas di hadapan Tili, dan menampilkan pandangan simpatik saat menatap kaki Tili sekilas.

“Terima kasih, Pangeran. Selamat datang di Greybone.” Tili menyilangkan satu tangan di dada dan membungkuk untuk balasannya. Sikap pangeran yang sempurna, jelas sangat terdidik.

“Saya sudah mendengar kalau keadaan Greybone sangat buruk, dan saya sudah melihat sebagian saat perjalanan tadi.” Ia menjabat tangan Theo, dengan wajah prihatin yang sama.

“Memang, karena itu saya sangat bersyukur Lunaris mengirim bantuan.” Theo pun bersikap sempurna. 

Setahu Tili, Theo dekat dengan beberapa pangeran, tapi sepertinya Caelan tidak termasuk. Sikap di antara mereka berdua sangat resmi.

“Ini sudah kewajiban kami untuk membantu daerah yang kesulitan. Lunaris tidak akan membiarkan Greybone sendirian.”

Tili sampai melirik, karena kalimat Caelan sangat manis. Pangeran itu tampak seperti pria dingin, didukung oleh suara berat, tapi sejak tadi ia menunjukkan kepedulian dalam kadar nyaris manis.

“Silakan Anda beristirahat. Kami sudah menyiapkan tempat. Tapi mungkin fasilitasnya akan agak kurang, maafkan kami.” Setelah berbasa-basi, Theo mempersilakan tamunya masuk.

“Justru ini sangat berlebihan, Your Grace. Saya sudah cukup gembira kastil Greybone berdiri. Anda tidak perlu menyiapkan fasilitas berlebihan.” Caelan tersenyum lagi.

“Darian, kau boleh istirahat juga.” Caelan melambai pada salah satu anak buahnya, dan langsung turun dari kuda—memimpin pasukan pengawal menuju ke area samping.

Caelan lalu melangkah masuk, perlahan, mengikuti langkah pelan Theo karena harus mendorong kursi roda Tili.

“Apakah luka Anda berat?” tanya Caelan, pada Tili, dengan ramah.

“Tidak terlalu.” Theo menjawab sebelum Tili sempat bicara. “Kata dokter sebentar lagi akan sembuh.”

“Syukurlah.” Caelan tampak tersenyum lega. “Saya harap proses kesembuhan Anda lancar.”  Caelan mengulurkan tangannya yang masih terbungkus sarung tangan kulit untuk berkuda.

“Terima kasih atas doanya, Pangeran.” Tili menerima dan mengangguk saat Caelan mengecup tangannya.

Sikap normal untuk menunjukkan penghormatan di kalangan bangsawan, dan ini bukan pertama kalinya Tili mendapat sentuhan dan kecupan tangan dari bangsawan pria lain.

Tapi ini pertama kalinya Tili malah merinding saat melihat senyum pangeran itu dari dekat. Caelan masih sempurna, senyum itu menambah ketampanannya menjadi berkali lipat, tapi Tili merasa seperti baru saja menyentuh karakal.

Makhluk sejenis kucing besar itu amat menakjubkan, berbulu lembut dan terlihat tidak akan menyakiti siapapun. Tapi siapa saja tahu kalau hanya butuh satu sabetan cakar karakal untuk menyayat kulit tangan siapa saja yang mencoba mendekat.

Baru beberapa tahun ini Tili terlibat dengan politik secara langsung, tapi Tili sudah belajar kalau banyak tersenyum bukanlah sikap yang menandakan kebaikan. Hampir bisa dipastikan kalau sebagian besar senyum itu palsu—dan pantas dicurigai.

Tili kini mencurigai itu. Caelan sempurna—senyum dan sikapnya terlalu sempurna,tapi Tili malah merasa Caelan sangat bisa mengeluarkan cakar, dan menyayat tangannya dengan mudah.

“Kau melamun? Tili?” Theo mengguncang pelan bahu Tili, yang tangannya masih terulur meski Caelan sudah kembali menegakkan punggung.

Tangan Tili mengambang sendirian dengan aneh selama beberapa detik, sementara pandanganya terpaku pada wajah Caelan yang kini tampak bingung.

“Oh? Maaf… saya melamun.” Tili segera menarik tangan dan menguburnya di antara lipatan gaun. Sudah mengutuk diri sendiri di dalam hati tentu. Pikirannya terlalu jauh mengembara.

Caelan bersikap sempurna, dan sudah. Ia tidak perlu memikirkan apapun lagi.

“Kapan Lio datang?” Theo bertanya, karena memang sudah tahu Lio akan datang menjenguk Tili hari ini.

“Sebentar lagi. Aku akan menunggu di kamar.” Tili melambai memanggil pelayan. “Terima kasih atas bantuan Anda, Pangeran. Tapi maaf, saya harus beristirahat.”

Tili memundurkan kursi rodanya secepat mungkin, sementara pelayan yang dipanggilnya membantu mendorong sampai ke kamar.

“Ck! Jangan memikirkan hal aneh, Tili. Kau cukup istirahat.” Tili mengulangi kalimat Theo saat sampai di kamar.

Tili mulai merasa kalau beban pikirannya memang terlalu berat sampai harus berprasangka buruk pada Caelan yang khusus datang ke Greybone untuk memberi bantuan. 

Ia harus segera bisa menyingkirkan keraguannya pada Theo, agar tidak terus berprasangka buruk secara random.

***

“Tilia! Aku merindukanmu!”

Lio menghambur memeluk Tili begitu pintu kamar dibuka oleh pelayan. 

“Aku juga.” Tili membalas pelukan itu sepenuh hati.

“Eh? Ada apa? Apa kau sedih?” Akibat pelukan itu, Lio langsung terdengar khawatir.

Ini karena pelukan Tili terasa lebih erat—bahkan lebih lama dari biasanya. 

“Apa kakimu masih sangat sakit?” Lio melepaskan pelukan dan mengusap paha Tili. Kecemasan yang nyata.

Tili tersenyum dan menjangkau pipi Lio untuk mengusap.”Tidak, Lio. Tapi terima kasih.”

Wanita bangsawan di Lunaris selalu dididik untuk bersikap anggun, tidak boleh terlihat antusias, atau tertawa terlalu keras.

Lio adalah kebalikan dari semua itu. Lio akan tertawa saat ada yang lucu, akan marah saat ada yang menyinggung dan tidak ragu berteriak saat bersemangat. Karenanya, Lio lebih sering dijauhi oleh wanita bangsawan lain. 

Tapi justru alasan itu yang membuat Tili betah bersama Lio.

Tili tidak pernah merasa lelah saat bersama Lio karena tidak harus menebak apa maksud dari kata-kata atau sikapnya. Lio akan selalu jujur mengungkap perasaan, dan kepentingan tanpa ada yang ditutupi.

“Syukurlah kalau kau baik-baik saja. Bagaimana kata dokter? Apa kakimu akan baik-baik saja?” Lio tanpa canggung bertanya apapun yang ingin diketahuinya.

“Duke Greybone hebat sekali bisa menemukan benda ini. Pasti sangat sulit.” Setelah mendengar kemajuan cedera Tili dengan lengkap, Lio mengusap kursi roda Tili dengan takjub.

“Memang, katanya langka.” Tili tidak menampik, karena bukan Lio saja yang memuji seperti itu. Smenejak memakainya di rumah sakit, hampir semua perawat dan dokter menyebut hal yang sama.

“Aku iri. Kapan aku punya suami semanis itu?” keluh Lio, sambil membaringkan diri di ranjang Tili.

“Ada Pangeran Caelan datang. Setahuku dia belum menikah,” usul Tili.

Lio langsung duduk tegak saat mendengar kata ‘belum menikah’, karena berarti calon suami yang ideal.

“Cukup tampan dan sepertinya baik.” Tili menekan prasangkanya tadi.

Mata Lio semakin cerah, tapi perlahan keningnya berkerut. “Pangeran? Jabatan itu terlalu hebat untukku yang hanya putri dari count, Tili.”

Lio menggeleng, sudah menyerah. Meski sama-sama bangsawan, gelar pa ngeran dan count memang memiliki strata yang jauh berbeda.

“Aku rasa tidak—”

“Eh! Aku ingat!” Lio tiba-tiba bangun dan menyambar tangan Tili, erat. “Aku baru ingat saat kau menyebut hebat. Ini karena kau juga hebat, Tili.”

“Hah?” Tili menyukai Lio, tapi masih sering bingung dengan cepatnya pikiran Lio beralih. “Apa…”

“Kau hebat karena bisa tahu kalau aku akan jatuh.” Lio berpaling, mengangkat rambutnya yang separuh terurai.

“Aku mengabaikan nasehatmu, dan jatuh di dekat bak mandi saat di rumah. Benjol.” Lio mengangkat rambut untuk menunjukkan benjol di belakang kepalanya.

“Bagaimana kau bisa tahu? Aku sampai merinding saat jatuh.” Lio menekan bagian kepalanya yang memar, sementara Tili sudah diam membeku.

Bukankah semua itu mimpi? 

Bukankah semua itu ilusi yang tidak masuk akal akibat luka dan gempa? Kenapa ilusi itu nyata?

Kalau apa yang dilihatnya pada Lio adalah nyata, itu berarti Theo telah menipunya! 

Suaminya itu memang masih berharap pada Sera.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Duke, Mengapa Kau Baru Memohon Saat Aku Pergi?   #007 Pengingkaran Atau Kebenaran?

    “Terima kasih atas sambutannya, Duke Greybone. Dan saya ikut prihatin atas keadaan Anda, Duchess.” Caelan membungkuk sekilas di hadapan Tili, dan menampilkan pandangan simpatik saat menatap kaki Tili sekilas.“Terima kasih, Pangeran. Selamat datang di Greybone.” Tili menyilangkan satu tangan di dada dan membungkuk untuk balasannya. Sikap pangeran yang sempurna, jelas sangat terdidik.“Saya sudah mendengar kalau keadaan Greybone sangat buruk, dan saya sudah melihat sebagian saat perjalanan tadi.” Ia menjabat tangan Theo, dengan wajah prihatin yang sama.“Memang, karena itu saya sangat bersyukur Lunaris mengirim bantuan.” Theo pun bersikap sempurna. Setahu Tili, Theo dekat dengan beberapa pangeran, tapi sepertinya Caelan tidak termasuk. Sikap di antara mereka berdua sangat resmi.“Ini sudah kewajiban kami untuk membantu daerah yang kesulitan. Lunaris tidak akan membiarkan Greybone sendirian.”Tili sampai melirik, karena kalimat Caelan sangat manis. Pangeran itu tampak seperti pria ding

  • Duke, Mengapa Kau Baru Memohon Saat Aku Pergi?   #006 Cemburu Atau Gila?

    “Kau salah lihat, Tili.” Bantahan adalah yang pertama keluar dari bibir Theo. “Di mana kau melihat aku memeluk Sera? Apa ada yang melapor padamu? Aku akan menghukum siapa pun yang—”“Maka kau harus menghukumku,” potong Tili cepat. “Karena aku yang melihatnya sendiri—dan mendengarmu membisikkan rindu padanya.”Tili membuka mata selebar mungkin, menunggu. Ia ingin melihat keterkejutan, kepanikan, atau sekadar kikuk. Namun wajah Theo justru tenang. “Tili, itu absurd.” Theo menggeleng pelan. “Kalau kau sampai merasa melihat aku memeluk Sera, berarti kondisi tubuhmu saat itu tidak baik. Kau terluka parah. Sangat mungkin kau berhalusinasi.”“Berhalusinasi?” Tili tertawa pendek, getir. “Jadi sekarang kau menyebutku gila?”“Aku tidak mengatakan begitu.” Theo menghela napas dan meraih tangan Tili, kali ini lebih cepat, Tili tidak sempat menepis.“Memang tidak, tapi kau menyiratkannya.” Suara Tili bergetar, emosi kini mengalir bersama ingatan.“Tiga tahun, Theo! Tiga tahun aku membantumu meng

  • Duke, Mengapa Kau Baru Memohon Saat Aku Pergi?   #005 Benar Atau Salah?

    “Duke Greybone mengatur tenda sementara untuk mengungsi, juga memeriksa kerusakan yang terjadi di kota. Beliau memastikan juga ketersediaan air bersih untuk korban terdampak.”Laporan normal, tapi bukan itu yang diinginkan Tili. “Maksudku… siapa saja yang ditemuinya.”“Pengungsi dan beberapa bangsawan.” Ragnar menjawab, dan agak bingung karena bisa melihat Tili kesal.Tili penyabar, tapi kali ini langsung ingin marah. Tapi bukan salah Ragnar, perintahnya hanya untuk mengikuti, bukan mencari tahu apakah Theo menemui Sera.“Selain pengungsi, Duke Greybone kemana saja?” Tili menyabarkan hati, dan bertanya lagi.“Mengunjungi danau, lalu mengunjungi Count Ravenshire dan Count Lorne untuk mengatur penyaluran gandum darurat.”Tili mencengkram selimut yang menutupi pinggangnya—akhirnya! Count Lorne adalah ayah Sera. Nama lengkap Sera adalah Seraphina Lorne. Tili belum pernah bertemu dengannya secara langsung tapi cukup tahu dari gosip.“Apa yang dilakukan Duke Greybone di sana? Di rumah Count

  • Duke, Mengapa Kau Baru Memohon Saat Aku Pergi?   #004 Kebohongan Atau Kejujuran?

    “Aku sudah mengatakannya tadi, Tili. Aku harus mengurus pengungsi dan kerusakan yang terjadi di kota. Gempa kali ini cukup besar.” Theo menunduk mengecup kening Tili, lalu berbalik keluar.Tili menyipitkan mata, dan perlahan tangannya terangkat, mengusap kening—tidak rela bekas ciuman Theo menetap di sana.“Duchess? Maaf.”Tili membuka mata, pintu kamarnya terbuka. Pria yang masuk asing untuk Tili—karena tidak tahu namanya, tapi Tili mengenali wajahnya.“Kau… pengawal itu.”Sejenak himpitan di dada Tili mengendur. Melihat pria yang sempat dilihatnya tertimbun reruntuhan—dan tenggelam dalam genangan darahnya sendiri—saat ini sedang berdiri tegak, membuatnya lega.Tili mengusap perutnya yang kosong. Ia tidak bisa menyelamatkan semuanya, tapi tidak semuanya hilang. Pengawal yang dengan sepenuh hati berusaha menjalankan tugas sampai mengorbankan nyawa—Tili tidak akan pernah menyesal menyelamatkannya.“Siapa namamu?” tanya Tili sambil tersenyum, dan menatap beberapa balutan perban di tang

  • Duke, Mengapa Kau Baru Memohon Saat Aku Pergi?   #003 Maya Atau Nyata?

    “Tili?’“Syukurlah.” Tili membisikkan rasa lega luar biasa, saat mendapati mata biru Lio yang pertama terpandang olehnya. “Semua itu mimpi… syukurlah…” Tili teramat lega. Kalau Lio yang bersamanya, berarti semua itu tidak nyata, seperti sebelumnya.“Oh… Tili…” Lio memeluknya, dan terisak.Saat itu Tili menyadari perbedaan. Mereka tidak lagi berada di ruang pesta—dan tidak sedang berdiri.Tili berbaring di ranjang sempit tertutup selimut putih tipis, bukan ranjang lebar di dalam kamarnya dengan selimut tebal. Itu ranjang rumah sakit. Tili mengenali pohon Magnolia ungu yang tumbuh menjulang di jendela.Tili selalu melewati deretan pohon itu setiap kali mengunjungi rumah sakit yang ada tidak jauh dari Kastil Greybone.“Kenapa aku di sini?” Tili menepuk punggung Lio, dan ingin bangkit.Tapi Lio semakin mempererat pelukan, dan masih meneruskan isakan, bahkan menjadi lebih keras.“Lio… aku baik-baik saja. Tidak ada yang terjadi…” Tili meyakinkan, tapi suaranya sendiri sudah bergetar.Tili

  • Duke, Mengapa Kau Baru Memohon Saat Aku Pergi?   #002 Pengulangan Atau Perwujudan?

    “Anakku?’ Tili menangkup perutnya, dan langsung dihujani kelegaan karena masih merasakan gundukan hangat di sana.“Apa perutmu sakit? Apa kau mual lagi?” Lio mulai menebak sambil membawa Tili ke tepi. “Apa…” Tili menarik napas panjang, mengusap keningnya yang berkeringat. Lio semerta-merta membuka kipas berenda sewarna gaun yang sedang dipakainya, mengipasi wajah Tili yang memang pucat dan berkeringat.“Bagaimana kalau kau masuk saja? Istirahat,” usul Lio. Di matanya, Tili terlihat amat lemas.Tili menggeleng. “Tidak… aku hanya bermimpi buruk. Aku masih harus menyambut tamu,” gumam Tili.“Aku dan Theo baik-baik saja.” Tili menyimpulkan dalam hati. Lidah Tili saat ini rasanya masih kasap—seolah bisa merasakan debu yang ikut terhirup bersama napas terengah. Kakinya juga agak lemas, karena bayangan kedua kakinya tidak lagi berbentuk masih sangat nyata di matanya.Tapi semua bayangan aneh itu tidak mungkin nyata. Yang benar adalah Theo mencintainya, dan tidak mungkin meninggalkannya sa

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status