LOGIN“Terima kasih atas sambutannya, Duke Greybone. Dan saya ikut prihatin atas keadaan Anda, Duchess.” Caelan membungkuk sekilas di hadapan Tili, dan menampilkan pandangan simpatik saat menatap kaki Tili sekilas.
“Terima kasih, Pangeran. Selamat datang di Greybone.” Tili menyilangkan satu tangan di dada dan membungkuk untuk balasannya. Sikap pangeran yang sempurna, jelas sangat terdidik.
“Saya sudah mendengar kalau keadaan Greybone sangat buruk, dan saya sudah melihat sebagian saat perjalanan tadi.” Ia menjabat tangan Theo, dengan wajah prihatin yang sama.
“Memang, karena itu saya sangat bersyukur Lunaris mengirim bantuan.” Theo pun bersikap sempurna.
Setahu Tili, Theo dekat dengan beberapa pangeran, tapi sepertinya Caelan tidak termasuk. Sikap di antara mereka berdua sangat resmi.
“Ini sudah kewajiban kami untuk membantu daerah yang kesulitan. Lunaris tidak akan membiarkan Greybone sendirian.”
Tili sampai melirik, karena kalimat Caelan sangat manis. Pangeran itu tampak seperti pria dingin, didukung oleh suara berat, tapi sejak tadi ia menunjukkan kepedulian dalam kadar nyaris manis.
“Silakan Anda beristirahat. Kami sudah menyiapkan tempat. Tapi mungkin fasilitasnya akan agak kurang, maafkan kami.” Setelah berbasa-basi, Theo mempersilakan tamunya masuk.
“Justru ini sangat berlebihan, Your Grace. Saya sudah cukup gembira kastil Greybone berdiri. Anda tidak perlu menyiapkan fasilitas berlebihan.” Caelan tersenyum lagi.
“Darian, kau boleh istirahat juga.” Caelan melambai pada salah satu anak buahnya, dan langsung turun dari kuda—memimpin pasukan pengawal menuju ke area samping.
Caelan lalu melangkah masuk, perlahan, mengikuti langkah pelan Theo karena harus mendorong kursi roda Tili.
“Apakah luka Anda berat?” tanya Caelan, pada Tili, dengan ramah.
“Tidak terlalu.” Theo menjawab sebelum Tili sempat bicara. “Kata dokter sebentar lagi akan sembuh.”
“Syukurlah.” Caelan tampak tersenyum lega. “Saya harap proses kesembuhan Anda lancar.” Caelan mengulurkan tangannya yang masih terbungkus sarung tangan kulit untuk berkuda.
“Terima kasih atas doanya, Pangeran.” Tili menerima dan mengangguk saat Caelan mengecup tangannya.
Sikap normal untuk menunjukkan penghormatan di kalangan bangsawan, dan ini bukan pertama kalinya Tili mendapat sentuhan dan kecupan tangan dari bangsawan pria lain.
Tapi ini pertama kalinya Tili malah merinding saat melihat senyum pangeran itu dari dekat. Caelan masih sempurna, senyum itu menambah ketampanannya menjadi berkali lipat, tapi Tili merasa seperti baru saja menyentuh karakal.
Makhluk sejenis kucing besar itu amat menakjubkan, berbulu lembut dan terlihat tidak akan menyakiti siapapun. Tapi siapa saja tahu kalau hanya butuh satu sabetan cakar karakal untuk menyayat kulit tangan siapa saja yang mencoba mendekat.
Baru beberapa tahun ini Tili terlibat dengan politik secara langsung, tapi Tili sudah belajar kalau banyak tersenyum bukanlah sikap yang menandakan kebaikan. Hampir bisa dipastikan kalau sebagian besar senyum itu palsu—dan pantas dicurigai.
Tili kini mencurigai itu. Caelan sempurna—senyum dan sikapnya terlalu sempurna,tapi Tili malah merasa Caelan sangat bisa mengeluarkan cakar, dan menyayat tangannya dengan mudah.
“Kau melamun? Tili?” Theo mengguncang pelan bahu Tili, yang tangannya masih terulur meski Caelan sudah kembali menegakkan punggung.
Tangan Tili mengambang sendirian dengan aneh selama beberapa detik, sementara pandanganya terpaku pada wajah Caelan yang kini tampak bingung.
“Oh? Maaf… saya melamun.” Tili segera menarik tangan dan menguburnya di antara lipatan gaun. Sudah mengutuk diri sendiri di dalam hati tentu. Pikirannya terlalu jauh mengembara.
Caelan bersikap sempurna, dan sudah. Ia tidak perlu memikirkan apapun lagi.
“Kapan Lio datang?” Theo bertanya, karena memang sudah tahu Lio akan datang menjenguk Tili hari ini.
“Sebentar lagi. Aku akan menunggu di kamar.” Tili melambai memanggil pelayan. “Terima kasih atas bantuan Anda, Pangeran. Tapi maaf, saya harus beristirahat.”
Tili memundurkan kursi rodanya secepat mungkin, sementara pelayan yang dipanggilnya membantu mendorong sampai ke kamar.
“Ck! Jangan memikirkan hal aneh, Tili. Kau cukup istirahat.” Tili mengulangi kalimat Theo saat sampai di kamar.
Tili mulai merasa kalau beban pikirannya memang terlalu berat sampai harus berprasangka buruk pada Caelan yang khusus datang ke Greybone untuk memberi bantuan.
Ia harus segera bisa menyingkirkan keraguannya pada Theo, agar tidak terus berprasangka buruk secara random.
***
“Tilia! Aku merindukanmu!”
Lio menghambur memeluk Tili begitu pintu kamar dibuka oleh pelayan.
“Aku juga.” Tili membalas pelukan itu sepenuh hati.
“Eh? Ada apa? Apa kau sedih?” Akibat pelukan itu, Lio langsung terdengar khawatir.
Ini karena pelukan Tili terasa lebih erat—bahkan lebih lama dari biasanya.
“Apa kakimu masih sangat sakit?” Lio melepaskan pelukan dan mengusap paha Tili. Kecemasan yang nyata.
Tili tersenyum dan menjangkau pipi Lio untuk mengusap.”Tidak, Lio. Tapi terima kasih.”
Wanita bangsawan di Lunaris selalu dididik untuk bersikap anggun, tidak boleh terlihat antusias, atau tertawa terlalu keras.
Lio adalah kebalikan dari semua itu. Lio akan tertawa saat ada yang lucu, akan marah saat ada yang menyinggung dan tidak ragu berteriak saat bersemangat. Karenanya, Lio lebih sering dijauhi oleh wanita bangsawan lain.
Tapi justru alasan itu yang membuat Tili betah bersama Lio.
Tili tidak pernah merasa lelah saat bersama Lio karena tidak harus menebak apa maksud dari kata-kata atau sikapnya. Lio akan selalu jujur mengungkap perasaan, dan kepentingan tanpa ada yang ditutupi.
“Syukurlah kalau kau baik-baik saja. Bagaimana kata dokter? Apa kakimu akan baik-baik saja?” Lio tanpa canggung bertanya apapun yang ingin diketahuinya.
“Duke Greybone hebat sekali bisa menemukan benda ini. Pasti sangat sulit.” Setelah mendengar kemajuan cedera Tili dengan lengkap, Lio mengusap kursi roda Tili dengan takjub.
“Memang, katanya langka.” Tili tidak menampik, karena bukan Lio saja yang memuji seperti itu. Smenejak memakainya di rumah sakit, hampir semua perawat dan dokter menyebut hal yang sama.
“Aku iri. Kapan aku punya suami semanis itu?” keluh Lio, sambil membaringkan diri di ranjang Tili.
“Ada Pangeran Caelan datang. Setahuku dia belum menikah,” usul Tili.
Lio langsung duduk tegak saat mendengar kata ‘belum menikah’, karena berarti calon suami yang ideal.
“Cukup tampan dan sepertinya baik.” Tili menekan prasangkanya tadi.
Mata Lio semakin cerah, tapi perlahan keningnya berkerut. “Pangeran? Jabatan itu terlalu hebat untukku yang hanya putri dari count, Tili.”
Lio menggeleng, sudah menyerah. Meski sama-sama bangsawan, gelar pa ngeran dan count memang memiliki strata yang jauh berbeda.
“Aku rasa tidak—”
“Eh! Aku ingat!” Lio tiba-tiba bangun dan menyambar tangan Tili, erat. “Aku baru ingat saat kau menyebut hebat. Ini karena kau juga hebat, Tili.”
“Hah?” Tili menyukai Lio, tapi masih sering bingung dengan cepatnya pikiran Lio beralih. “Apa…”
“Kau hebat karena bisa tahu kalau aku akan jatuh.” Lio berpaling, mengangkat rambutnya yang separuh terurai.
“Aku mengabaikan nasehatmu, dan jatuh di dekat bak mandi saat di rumah. Benjol.” Lio mengangkat rambut untuk menunjukkan benjol di belakang kepalanya.
“Bagaimana kau bisa tahu? Aku sampai merinding saat jatuh.” Lio menekan bagian kepalanya yang memar, sementara Tili sudah diam membeku.
Bukankah semua itu mimpi?
Bukankah semua itu ilusi yang tidak masuk akal akibat luka dan gempa? Kenapa ilusi itu nyata?
Kalau apa yang dilihatnya pada Lio adalah nyata, itu berarti Theo telah menipunya!
Suaminya itu memang masih berharap pada Sera.
Setelah memastikan Theo tidak bisa melihat—pintu kamar mandi tertutup, Tili segera mengambil botol kecil dari laci mejanya. Obat itu didapatnya dari dokter. Alasan yang dipakainya sederhana—sulit tidur karena terlalu lelah, dokter itu memberi dengan senang hati setelahnya. Ia hanya memberi peringatan agar tidak terlalu sering dipakai karena bisa menimbulkan adiksi.Agak berbahaya, tapi harus. Selain jijik, Tili punya alasan lain menolak Theo saat ini.Tili menenangkan diri, ia baru memakainya sekali ini—jadi tidak akan berbahaya. Karena memang terlalu sibuk, Theo tidak bisa terlalu sering meminta tinggal di kamarnya. Beberapa waktu lalu, Tili masih memakai alasan sakit kepala, dan Theo percaya.Tili menuangkan cairan itu ke dalam sisa tehnya dan meminumnya hingga tandas. Rasanya hanya menjadi sedikit lebih pahit. Tidak masalah, Tili memilih kehilangan kesadaran daripada harus melayani sentuhan Theo. Tili punya nafsu, tapi lebih memilih tangan untuk memuaskannya—daripada Theo.Tili
“Lepaskan! Kau ingin orang-orang melihat?!” desis Theo memprotes tapi tidak berani membentak keras.Pun tidak amat berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Sera, meski matanya sudah panik menatap sekitar. Khawatir ada yang melihat.Sera menariknya dari lorong saat Theo keluar dari ruang kerjanya tadi. Kini menyeretnya—setengah berlari menuju sudut lorong kastil yang remang."Sera, berhentilah. Pulang saja, ini sudah sangat malam. Pelayan akan mengantarmu dengan kereta," ucap Theo dengan nada lelah. Theo mengikutinya hanya karena tidak ingin ada keributan, tapi sebenarnya agak malas mendengar keluhannya.Sera berbalik dengan sentakan keras, matanya yang memerah menatap Theo. "Pulang? Bagaimana bisa kau menyuruhku pulang dengan tenang setelah melihatmu memamerkan kemesraan dengannya di depan King Gareth?"Theo memijat pangkal hidungnya. Sesuai dengan dugaan, Sera membawanya untuk mengeluh. Otaknya yang sudah penat malas mencerna masalah, rasanya semakin tidak ingin bergerak.“Kau in
“Tidak semua wanita seperti itu!” desis Cal, menahan keinginan mengumpat, karena jelas ayahnya sama sekali tidak tahu bagaimana sifat Tili. “Tili tidak akan pernah menerimaku sebelum bercerai dengan suaminya.” Cal menyebut dengan sangat yakin. Cal bahkan berani mempertaruhkan lehernya. Tili tidak akan pernah menerima pria lain selama ia masih terikat pernikahan dengan Theo. Harga diri Tili terlalu tinggi, dan tidak akan menjatuhkannya hanya untuk bersenang-senang dengan pria.“Kau terdengar sangat mengenalnya.” Mata Gareth menipis.“Memang. Bukankah harus?” Cal kembali emosi. “Kau tidak dengar aku mengatakan apa sejak tadi? Dia bukan wanita mudah! Aku tidak akan bisa mendapatkannya hanya dengan melambaikan tangan.”“Ck! Aku meragukannya.” Gareth bangkit lalu menarik dagu Cal, menyuruhnya mendongak untuk memeriksa wajahnya.“Dengan wajah seperti ini? Kau tidak seharusnya ditolak. Kulit gelap tidak mengurangi pesonamu.” Gareth tidak percaya Cal bisa ditolak.“Apa kau sedang memuji d
Cal sampai di halaman kastil tepat saat kereta King Gareth telah sampai. Ia mendengus pelan saat melewati Tili yang masih menggelayut manja di lengan Theo.Tili mendengar meski samar, sesaat berpaling untuk bertanya apa sebenarnya yang diinginkannya. Tapi Cal terus maju, dan wajahnya segera berubah menjadi topeng keramahan saat ayahnya turun dari kereta. Tili sampai mengerutkan kening, tidak nyaman melihat senyum itu karena terlihat sangat palsu. Tili sudah lama tidak melihat Cal tersenyum sepalsu itu. Tapi ayahnya tidak jauh berbeda—senyumnya terang saat menapak tanah.King Gareth memiliki wajah yang mirip dengan Cal—semua orang bisa melihatnya dalam sekali pandang. Hanya karena usia, rambut King Gareth kini kelabu, tidak lagi hitam pekat.Namun, Tili menyayangkan warna matanya. Wajah itu hanya cocok dengan mata Darjeeling. Sementara King Gareth memiliki mata hijau terang.“Kau terlihat sangat sehat.” Gareth menyapa Cal dengan hangat.“Ayah,” Cal membungkuk hormat. Tapi bungkukan
Tili mengusap kalung di lehernya—sangat serasi saat dipadukan dengan gaun emerald yang menjadi pilihannya kemarin. Itu kalung hadiah pernikahan dari ayahnya.Kalung itu sudah dijual oleh Lio, tapi ditebus lagi oleh ayahnya. Lalu dititipkan pada Ragnar yang kembali membawa pesan melegakan beberapa hari lalu.Untuk masalah Valwood, Tili bisa menyingkirkannya dari pikiran.“Sudah siap?” Theo menghampiri. Ia pun sudah siap dengan seragam hijau dan mantel berbulu.“Sudah.” Dengan manis, Tili melingkarkan tangan ke lengan Theo.Mereka berjalan beriringan menuju pintu besar kastil. Rombongan yang membawa bendera Lunaris sudah terlihat beberapa waktu lalu. Sebentar lagi, tamu agung akan datang.Tapi perhatian pelayan di istana yang juga sudah berbaris untuk penyambutan sedikit teralihkan saat Tili dan Theo lewat.Mereka berbisik dengan bersemangat saat melihat kedekatan itu. Mereka tidak buta, tentu beberapa hari ke belakang melihat bagaimana Theo dan Tili menjadi dekat.Tili menyadari suasan
“Warna biru atau ungu mungkin cocok untukmu.” Tili melanjutkan sambil memeriksa beberapa warna lain, mendekatkannya pada warna kain yang akan dipakainya.“Pastikan warnanya tidak terlalu mencolok atau menyerupai emerald dan navy yang akan kami pakai. Saya tidak ingin para utusan Lunaris nanti merasa rancu antara siapa Duchess di kastil ini dan siapa tamunya.”Tili semakin tajam memperingatkan. Sera tidak boleh terlihat mencolok di samping Theo.Sera mengangguk, tapi belum berani mendongak untuk menunjukkan wajah. Hanya tangannya yang terulur untuk menyentuh kain—gemetar.“Lady Lorne? Apa Anda mendengar saya?” Tili tentu membutuhkan tanggapan dan akan memaksa.“Tentu saja, Your Grace. Saya akan memilih warna yang… pantas,” jawab Sera dengan suara yang bergetar.Theo, yang tidak menyadari perang dingin itu, masih sibuk mengatur jubahnya dan mengukur apakah bagian belakangnya terlalu panjang.Tili kembali mengalihkan perhatian pada Theo, ikut mengukur dan memastikan pakaiannya tepat di b







