Share

#006 Cemburu Atau Gila?

Author: aisakurachan
last update Last Updated: 2026-01-28 08:24:26

“Kau salah lihat, Tili.” Bantahan adalah yang pertama keluar dari bibir Theo. 

“Di mana kau melihat aku memeluk Sera? Apa ada yang melapor padamu? Aku akan menghukum siapa pun yang—”

“Maka kau harus menghukumku,” potong Tili cepat. “Karena aku yang melihatnya sendiri—dan mendengarmu membisikkan rindu padanya.”

Tili membuka mata selebar mungkin, menunggu. Ia ingin melihat keterkejutan, kepanikan, atau sekadar kikuk. Namun wajah Theo justru tenang. 

“Tili, itu absurd.” Theo menggeleng pelan. “Kalau kau sampai merasa melihat aku memeluk Sera, berarti kondisi tubuhmu saat itu tidak baik. Kau terluka parah. Sangat mungkin kau berhalusinasi.”

“Berhalusinasi?” Tili tertawa pendek, getir. “Jadi sekarang kau menyebutku gila?”

“Aku tidak mengatakan begitu.” Theo menghela napas dan meraih tangan Tili, kali ini lebih cepat, Tili tidak sempat menepis.

“Memang tidak, tapi kau menyiratkannya.” Suara Tili bergetar, emosi kini mengalir bersama ingatan.

“Tiga tahun, Theo! Tiga tahun aku membantumu mengurus Greybone.” Tili menepuk dadanya.

“Aku menghadiri pertemuan bangsawan yang bahkan tidak menginginkanku di sana. Menghafal silsilah, kebiasaan, dan kepentingan mereka—demi apa? Agar nama Greybone tetap bersih. Aku yang berusaha agar namamu tidak menjadi buruk! Tapi kau tetap memilih Sera!”

Tili menganggapnya sebagai kewajiban, bahkan tujuan hidup, karena itu adalah tugasnya sebagai Duchess Greybone. Tidak sekalipun ia merasa keberatan, karena tahu betapa pentingnya menjaga nama rumah tempatnya tinggal agar tetap baik.

Theo menghela napas. “Apa hubungannya dengan Sera? Aku tidak…”

“Oh, sangat berhubungan.” Tili menatapnya tajam. “Karena aku melakukannya juga agar diterima sebagai istri, bukan hanya Duchess! Kau tidak menghargai semua usahaku itu.”

Tili tertawa, masih sumbang. “Aku berharap—mengira semua usahaku itu tidak akan sia-sia. Mengira kau menerima saat… Salah! Karena bahkan setelah semua itu, hatimu masih tertinggal padanya!”

Theo mendengus. “Tili, kau tidak berharap aku memutus hubungan sama sekali dengan Sera. Dia adalah temanku sejak kecil. Kami tumbuh bersama. Itu tidak berarti—”

“Itu berarti segalanya,” potong Tili. “Aku istri yang patuh tapi bukan berarti bodoh, Theo! Tidak ada teman yang memeluk teman wanitanya sambil membisikkan kata rindu yang lembut!”

“Sudah aku katakan tadi—kau itu bermimpi! Itu ilusi yang dibuat otakmu sendiri karena kau terlalu cemburu!” Theo berdiri, nadanya ikut meninggi.

“Aku…”

“Aku tidak akan berdebat denganmu hanya karena hal konyol hasil dari cemburu berlebihan!” Theo mengibaskan tangan. “Tidak ada apa pun antara aku dan Sera. Itu kenyataannya.”

Lidah Tili seolah tertelan, karena heran oleh betapa yakinnya Theo saat mengatakan itu.

Beberapa detik—sesaat yang terlintas, Tili meragukan ingatannya. Theo melepaskannya, tapi memang setelahnya Tili tidak mendengarnya menyebut Sera.

“Dan lupakan soal perceraian itu,” lanjut Theo. “Itu tidak akan mudah. Aku tidak setuju. Dan tanpa persetujuan bersama, raja tidak akan pernah mengabulkannya.”

Tili mendecak. Ia melupakan fakta itu. 

Pernikahan mereka didukung, dan telah diberkati raja. Sudah menjadi pengetahuan umum, raja tidak akan mengabulkan keinginan berpisah dari pasangan bangsawan kalau keinginan itu tidak mutual. 

Alasannya, karena raja tidak ingin memberi contoh buruk kepada masyarakat; keluarga bangsawan harus terlihat bahagia dan baik-baik saja.

Theo berbalik. “Aku akan memanggil dokter. Kau butuh diperiksa lagi. Luka berat sering menimbulkan delusi.”

Pintu tertutup. Tili menatap pintu itu, lalu berbaring menatap langit-langit kamar. Kata-kata Theo terus berputar di kepalanya—berhalusinasi, delusi, tidak sehat.

Bagaimana jika… ia memang sakit? Stress karena lelah setelah menyiapkan pesta—lalu gempa.

Bagaimana jika yang ia lihat di balkon itu hanyalah wujud dari ketakutannya sendiri akibat ilusi yang buruk itu?

Tili menggenggam selimut, jemarinya gemetar. Untuk pertama kalinya sejak mengambil keputusan itu, keraguan kembali merayap masuk—perlahan, tapi lebih masuk akal.

Bukankah Theo memang sudah jauh lebih baik? Suaminya itu tidak lagi dingin dan berjarak, lebih sering tersenyum saat bersamanya, mendengar saat Tili menceritakan harinya.

Atau… justru itulah yang paling menakutkan: bahwa dirinya tidak lagi bisa membedakan kebenaran dan kebohongan.

Tidak bisa membedakan kenyataan dan ilusi.

***

“Aku meminta kamar kita dipindahkan ke bawah untuk sementara, karena kau tidak mungkin naik ke lantai dua.”

Theo mendorong kursi roda Tili, mendekati tangga yang hampir terlihat bersih dari reruntuhan. Sayap barat kastil Greybone—tempat pesta diadakan—nyaris hancur, tapi sayap timur kastil yang selama ini menjadi tempat kamar dan dapur malah masih berdiri.

Ada beberapa bagian tembok yang hancur, tapi tempat itu masih sangat bisa dihuni. Atap masih utuh, tembok-tembok kamar masih cukup untuk menangkap hawa dingin. 

“Aku memilih yang itu. Atau kau mungkin kamar lain?” Theo menunjuk kamar yang menjadi pilihannya. 

Kamar itu biasanya dipakai untuk fasilitas tamu dengan jabatan tertinggi, karena memang paling luas dan menghadap taman—bahkan ada pantai di bawanya. Pilihan tepat untuk kamar utama yang baru tentu.

“Kalau kau memilih yang lain, aku akan meminta pelayan memindahkan barang lagi.”

Tili melirik tangan Theo yang menyentuh bahunya. Tidak ada setitik pun kekasaran, bahkan lembut, tapi Tili malah merasakan tusukan mual di ulu hatinya.

Tili menelan ludah, ingin menghilangkan rasa nyaman itu. Mencoba meyakinkan diri kalau semua keadaan baik-baik saja.

Theo tidak berubah setelah konfrontasi itu. Ia masih seperti Theo sebelum gempa, sibuk dan hampir tidak tidur karena harus menangani jutaan masalah yang muncul pasca gempa.

Tapi Theo tetap datang ke rumah sakit hampir setiap hari untuk menjenguknya, meski hanya lima menit, tapi ia memperlihatkan kepedulian.

Tili tidak bisa mengeluh setelahnya. Satu-satunya yang Tili keluhkan adalah keputusan Theo menceritakan tentang kemungkinan halusinasi itu.

Keluhan itu membuat Tili mendapat nasihat agar banyak beristirahat—dan tidak perlu memikirkan segala keributan di sekitarnya.

Tili juga yakin kalau dokter menambahkan obat penenang dalam campuran ramuan yang diminumnya setiap hari. Tili selalu tertidur tanpa mimpi setelahnya. Dan tentu tidak ada mimpi yang aneh itu lagi. 

Tapi Tili tidak bisa sepenuhnya menilai kalau keputusan itu buruk. Apapun yang dilakukan Theo lebih masuk akal. Masih bentuk kepedulian.

Tili masih memakai gelang dari Lori, tapi mulai percaya kalau tebakannya dulu adalah konyol.

“Tili, aku tahu kau lelah, tapi bisakah kau menemaniku menyambut tamu dari Lunaris? Mereka datang untuk memberi bantuan.” Theo membungkuk, meminta dengan lembut pula.

Tili mengangguk. “Ya.” Singkat saja.

“Terima kasih.” Theo tersenyum dan mengusap pipi Tili.

Tili kembali menahan napas saat kulit mereka bersentuhan. Rasa mual itu datang lagi. Tili memutuskan untuk mengambil jalan waras, tapi rasa tidak nyaman saat mereka bersentuhan masih tidak bisa dicegah.

Setiap kali Theo menyentuhnya, ingatan kalau tangan itu memeluk Sera selalu menyela. Padahal ingatan itu belum tentu asli.

“Sebentar lagi akan datang,” kata Theo sambil mendorong kursi roda Tili ke arah timur.

Rombongan tamu biasanya akan masuk melalui gerbang utama yang menjadi bagian sayap barat, tapi karena gerbang itu hancur juga, mereka akan lewat pintu samping.

“Siapa yang datang?” tanya Tili. Mencoba bertanya dengan normal setelah mualnya agak reda.

“Pangeran Caelan. Beliau ditunjuk raja untuk memeriksa seluruh wilayah Lunaris yang terdampak.”

Tili mengangguk saja. Ia belum pernah bertemu pangeran yang itu, karena memang Caelan hampir tidak pernah ikut campur dalam urusan politik. Pangeran ketiga yang tidak akan pernah menjadi Putra Mahkota karena hanya anak angkat dari ratu.

Bahkan tidak cukup untuk menjadi Duke atau Marquess. Saat pangeran lain—selain putra mahkota—ada yang mendapat gelar Duke, bersama wilayah, Caelan tetap ada di istana, nyaris tidak terlihat.

“Akhirnya. Aku tidak perlu menunggu lama.” Theo berseru lega saat melihat rombongan melintasi gerbang.

Kereta kuda, bersama rombongan pengawal yang sebagian besar memakai kuda gagah berwarna hitam.

“Oh? Aku pikir… ada di dalam kereta.” Theo bergumam heran. Ia mengira Pangeran Caelan akan turun dari dalam kereta kuda, tapi pria yang menunggang kuda paling depan, ternyata adalah pangeran. Terlihat dari emblem yang terbordir di bagian dada jubahnya.

Dalam lompatan ringan, pria itu turun dari kuda dan melangkah mendekati tuan rumah sambil menurukan tudung jubah yang menutupi kepalanya.

Saat itu juga Tili langsung tahu kalau Caelan bukan anak dari ratu—karena sangat berbeda dari pangeran yang lain. Caelan berambut sangat gelap, pangeran yang lain berambut kemerahan.

Dan lebih tampan. Diantara ketiga Pangeran yang selama ini pernah dilihat Tili, ia bisa menyebut dengan tegas kalau mata cokelat terang dan rambut gelap itu adalah perpaduan sempurna.

Tili mendecak, karena harus menormalkan pikiran. Sudah lama Tili tidak memuji pria lain tampan, dan jelas tidak boleh karena ia sudah menikah.

Tili memasang wajah datar saat pangeran itu mendekatinya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Duke, Mengapa Kau Baru Memohon Saat Aku Pergi?   #105 Obat Atau Racun?

    Setelah memastikan Theo tidak bisa melihat—pintu kamar mandi tertutup, Tili segera mengambil botol kecil dari laci mejanya. Obat itu didapatnya dari dokter. Alasan yang dipakainya sederhana—sulit tidur karena terlalu lelah, dokter itu memberi dengan senang hati setelahnya. Ia hanya memberi peringatan agar tidak terlalu sering dipakai karena bisa menimbulkan adiksi.Agak berbahaya, tapi harus. Selain jijik, Tili punya alasan lain menolak Theo saat ini.Tili menenangkan diri, ia baru memakainya sekali ini—jadi tidak akan berbahaya. Karena memang terlalu sibuk, Theo tidak bisa terlalu sering meminta tinggal di kamarnya. Beberapa waktu lalu, Tili masih memakai alasan sakit kepala, dan Theo percaya.Tili menuangkan cairan itu ke dalam sisa tehnya dan meminumnya hingga tandas. Rasanya hanya menjadi sedikit lebih pahit. Tidak masalah, Tili memilih kehilangan kesadaran daripada harus melayani sentuhan Theo. Tili punya nafsu, tapi lebih memilih tangan untuk memuaskannya—daripada Theo.Tili

  • Duke, Mengapa Kau Baru Memohon Saat Aku Pergi?   #104 Keinginan Atau Rencana?

    “Lepaskan! Kau ingin orang-orang melihat?!” desis Theo memprotes tapi tidak berani membentak keras.Pun tidak amat berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Sera, meski matanya sudah panik menatap sekitar. Khawatir ada yang melihat.Sera menariknya dari lorong saat Theo keluar dari ruang kerjanya tadi. Kini menyeretnya—setengah berlari menuju sudut lorong kastil yang remang."Sera, berhentilah. Pulang saja, ini sudah sangat malam. Pelayan akan mengantarmu dengan kereta," ucap Theo dengan nada lelah. Theo mengikutinya hanya karena tidak ingin ada keributan, tapi sebenarnya agak malas mendengar keluhannya.Sera berbalik dengan sentakan keras, matanya yang memerah menatap Theo. "Pulang? Bagaimana bisa kau menyuruhku pulang dengan tenang setelah melihatmu memamerkan kemesraan dengannya di depan King Gareth?"Theo memijat pangkal hidungnya. Sesuai dengan dugaan, Sera membawanya untuk mengeluh. Otaknya yang sudah penat malas mencerna masalah, rasanya semakin tidak ingin bergerak.“Kau in

  • Duke, Mengapa Kau Baru Memohon Saat Aku Pergi?   #103 Niat Atau Perasaan?

    “Tidak semua wanita seperti itu!” desis Cal, menahan keinginan mengumpat, karena jelas ayahnya sama sekali tidak tahu bagaimana sifat Tili. “Tili tidak akan pernah menerimaku sebelum bercerai dengan suaminya.” Cal menyebut dengan sangat yakin. Cal bahkan berani mempertaruhkan lehernya. Tili tidak akan pernah menerima pria lain selama ia masih terikat pernikahan dengan Theo. Harga diri Tili terlalu tinggi, dan tidak akan menjatuhkannya hanya untuk bersenang-senang dengan pria.“Kau terdengar sangat mengenalnya.” Mata Gareth menipis.“Memang. Bukankah harus?” Cal kembali emosi. “Kau tidak dengar aku mengatakan apa sejak tadi? Dia bukan wanita mudah! Aku tidak akan bisa mendapatkannya hanya dengan melambaikan tangan.”“Ck! Aku meragukannya.” Gareth bangkit lalu menarik dagu Cal, menyuruhnya mendongak untuk memeriksa wajahnya.“Dengan wajah seperti ini? Kau tidak seharusnya ditolak. Kulit gelap tidak mengurangi pesonamu.” Gareth tidak percaya Cal bisa ditolak.“Apa kau sedang memuji d

  • Duke, Mengapa Kau Baru Memohon Saat Aku Pergi?   #102 Hijau Atau Darjeeling?

    Cal sampai di halaman kastil tepat saat kereta King Gareth telah sampai. Ia mendengus pelan saat melewati Tili yang masih menggelayut manja di lengan Theo.Tili mendengar meski samar, sesaat berpaling untuk bertanya apa sebenarnya yang diinginkannya. Tapi Cal terus maju, dan wajahnya segera berubah menjadi topeng keramahan saat ayahnya turun dari kereta. Tili sampai mengerutkan kening, tidak nyaman melihat senyum itu karena terlihat sangat palsu. Tili sudah lama tidak melihat Cal tersenyum sepalsu itu. Tapi ayahnya tidak jauh berbeda—senyumnya terang saat menapak tanah.King Gareth memiliki wajah yang mirip dengan Cal—semua orang bisa melihatnya dalam sekali pandang. Hanya karena usia, rambut King Gareth kini kelabu, tidak lagi hitam pekat.Namun, Tili menyayangkan warna matanya. Wajah itu hanya cocok dengan mata Darjeeling. Sementara King Gareth memiliki mata hijau terang.“Kau terlihat sangat sehat.” Gareth menyapa Cal dengan hangat.“Ayah,” Cal membungkuk hormat. Tapi bungkukan

  • Duke, Mengapa Kau Baru Memohon Saat Aku Pergi?   #101 Nasehat Atau Hasutan?

    Tili mengusap kalung di lehernya—sangat serasi saat dipadukan dengan gaun emerald yang menjadi pilihannya kemarin. Itu kalung hadiah pernikahan dari ayahnya.Kalung itu sudah dijual oleh Lio, tapi ditebus lagi oleh ayahnya. Lalu dititipkan pada Ragnar yang kembali membawa pesan melegakan beberapa hari lalu.Untuk masalah Valwood, Tili bisa menyingkirkannya dari pikiran.“Sudah siap?” Theo menghampiri. Ia pun sudah siap dengan seragam hijau dan mantel berbulu.“Sudah.” Dengan manis, Tili melingkarkan tangan ke lengan Theo.Mereka berjalan beriringan menuju pintu besar kastil. Rombongan yang membawa bendera Lunaris sudah terlihat beberapa waktu lalu. Sebentar lagi, tamu agung akan datang.Tapi perhatian pelayan di istana yang juga sudah berbaris untuk penyambutan sedikit teralihkan saat Tili dan Theo lewat.Mereka berbisik dengan bersemangat saat melihat kedekatan itu. Mereka tidak buta, tentu beberapa hari ke belakang melihat bagaimana Theo dan Tili menjadi dekat.Tili menyadari suasan

  • Duke, Mengapa Kau Baru Memohon Saat Aku Pergi?   #100 Sibuk Atau Dingin?

    “Warna biru atau ungu mungkin cocok untukmu.” Tili melanjutkan sambil memeriksa beberapa warna lain, mendekatkannya pada warna kain yang akan dipakainya.“Pastikan warnanya tidak terlalu mencolok atau menyerupai emerald dan navy yang akan kami pakai. Saya tidak ingin para utusan Lunaris nanti merasa rancu antara siapa Duchess di kastil ini dan siapa tamunya.”Tili semakin tajam memperingatkan. Sera tidak boleh terlihat mencolok di samping Theo.Sera mengangguk, tapi belum berani mendongak untuk menunjukkan wajah. Hanya tangannya yang terulur untuk menyentuh kain—gemetar.“Lady Lorne? Apa Anda mendengar saya?” Tili tentu membutuhkan tanggapan dan akan memaksa.“Tentu saja, Your Grace. Saya akan memilih warna yang… pantas,” jawab Sera dengan suara yang bergetar.Theo, yang tidak menyadari perang dingin itu, masih sibuk mengatur jubahnya dan mengukur apakah bagian belakangnya terlalu panjang.Tili kembali mengalihkan perhatian pada Theo, ikut mengukur dan memastikan pakaiannya tepat di b

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status