LOGIN“Kau salah lihat, Tili.” Bantahan adalah yang pertama keluar dari bibir Theo.
“Di mana kau melihat aku memeluk Sera? Apa ada yang melapor padamu? Aku akan menghukum siapa pun yang—”
“Maka kau harus menghukumku,” potong Tili cepat. “Karena aku yang melihatnya sendiri—dan mendengarmu membisikkan rindu padanya.”
Tili membuka mata selebar mungkin, menunggu. Ia ingin melihat keterkejutan, kepanikan, atau sekadar kikuk. Namun wajah Theo justru tenang.
“Tili, itu absurd.” Theo menggeleng pelan. “Kalau kau sampai merasa melihat aku memeluk Sera, berarti kondisi tubuhmu saat itu tidak baik. Kau terluka parah. Sangat mungkin kau berhalusinasi.”
“Berhalusinasi?” Tili tertawa pendek, getir. “Jadi sekarang kau menyebutku gila?”
“Aku tidak mengatakan begitu.” Theo menghela napas dan meraih tangan Tili, kali ini lebih cepat, Tili tidak sempat menepis.
“Memang tidak, tapi kau menyiratkannya.” Suara Tili bergetar, emosi kini mengalir bersama ingatan.
“Tiga tahun, Theo! Tiga tahun aku membantumu mengurus Greybone.” Tili menepuk dadanya.
“Aku menghadiri pertemuan bangsawan yang bahkan tidak menginginkanku di sana. Menghafal silsilah, kebiasaan, dan kepentingan mereka—demi apa? Agar nama Greybone tetap bersih. Aku yang berusaha agar namamu tidak menjadi buruk! Tapi kau tetap memilih Sera!”
Tili menganggapnya sebagai kewajiban, bahkan tujuan hidup, karena itu adalah tugasnya sebagai Duchess Greybone. Tidak sekalipun ia merasa keberatan, karena tahu betapa pentingnya menjaga nama rumah tempatnya tinggal agar tetap baik.
Theo menghela napas. “Apa hubungannya dengan Sera? Aku tidak…”
“Oh, sangat berhubungan.” Tili menatapnya tajam. “Karena aku melakukannya juga agar diterima sebagai istri, bukan hanya Duchess! Kau tidak menghargai semua usahaku itu.”
Tili tertawa, masih sumbang. “Aku berharap—mengira semua usahaku itu tidak akan sia-sia. Mengira kau menerima saat… Salah! Karena bahkan setelah semua itu, hatimu masih tertinggal padanya!”
Theo mendengus. “Tili, kau tidak berharap aku memutus hubungan sama sekali dengan Sera. Dia adalah temanku sejak kecil. Kami tumbuh bersama. Itu tidak berarti—”
“Itu berarti segalanya,” potong Tili. “Aku istri yang patuh tapi bukan berarti bodoh, Theo! Tidak ada teman yang memeluk teman wanitanya sambil membisikkan kata rindu yang lembut!”
“Sudah aku katakan tadi—kau itu bermimpi! Itu ilusi yang dibuat otakmu sendiri karena kau terlalu cemburu!” Theo berdiri, nadanya ikut meninggi.
“Aku…”
“Aku tidak akan berdebat denganmu hanya karena hal konyol hasil dari cemburu berlebihan!” Theo mengibaskan tangan. “Tidak ada apa pun antara aku dan Sera. Itu kenyataannya.”
Lidah Tili seolah tertelan, karena heran oleh betapa yakinnya Theo saat mengatakan itu.
Beberapa detik—sesaat yang terlintas, Tili meragukan ingatannya. Theo melepaskannya, tapi memang setelahnya Tili tidak mendengarnya menyebut Sera.
“Dan lupakan soal perceraian itu,” lanjut Theo. “Itu tidak akan mudah. Aku tidak setuju. Dan tanpa persetujuan bersama, raja tidak akan pernah mengabulkannya.”
Tili mendecak. Ia melupakan fakta itu.
Pernikahan mereka didukung, dan telah diberkati raja. Sudah menjadi pengetahuan umum, raja tidak akan mengabulkan keinginan berpisah dari pasangan bangsawan kalau keinginan itu tidak mutual.
Alasannya, karena raja tidak ingin memberi contoh buruk kepada masyarakat; keluarga bangsawan harus terlihat bahagia dan baik-baik saja.
Theo berbalik. “Aku akan memanggil dokter. Kau butuh diperiksa lagi. Luka berat sering menimbulkan delusi.”
Pintu tertutup. Tili menatap pintu itu, lalu berbaring menatap langit-langit kamar. Kata-kata Theo terus berputar di kepalanya—berhalusinasi, delusi, tidak sehat.
Bagaimana jika… ia memang sakit? Stress karena lelah setelah menyiapkan pesta—lalu gempa.
Bagaimana jika yang ia lihat di balkon itu hanyalah wujud dari ketakutannya sendiri akibat ilusi yang buruk itu?
Tili menggenggam selimut, jemarinya gemetar. Untuk pertama kalinya sejak mengambil keputusan itu, keraguan kembali merayap masuk—perlahan, tapi lebih masuk akal.
Bukankah Theo memang sudah jauh lebih baik? Suaminya itu tidak lagi dingin dan berjarak, lebih sering tersenyum saat bersamanya, mendengar saat Tili menceritakan harinya.
Atau… justru itulah yang paling menakutkan: bahwa dirinya tidak lagi bisa membedakan kebenaran dan kebohongan.
Tidak bisa membedakan kenyataan dan ilusi.
***
“Aku meminta kamar kita dipindahkan ke bawah untuk sementara, karena kau tidak mungkin naik ke lantai dua.”
Theo mendorong kursi roda Tili, mendekati tangga yang hampir terlihat bersih dari reruntuhan. Sayap barat kastil Greybone—tempat pesta diadakan—nyaris hancur, tapi sayap timur kastil yang selama ini menjadi tempat kamar dan dapur malah masih berdiri.
Ada beberapa bagian tembok yang hancur, tapi tempat itu masih sangat bisa dihuni. Atap masih utuh, tembok-tembok kamar masih cukup untuk menangkap hawa dingin.
“Aku memilih yang itu. Atau kau mungkin kamar lain?” Theo menunjuk kamar yang menjadi pilihannya.
Kamar itu biasanya dipakai untuk fasilitas tamu dengan jabatan tertinggi, karena memang paling luas dan menghadap taman—bahkan ada pantai di bawanya. Pilihan tepat untuk kamar utama yang baru tentu.
“Kalau kau memilih yang lain, aku akan meminta pelayan memindahkan barang lagi.”
Tili melirik tangan Theo yang menyentuh bahunya. Tidak ada setitik pun kekasaran, bahkan lembut, tapi Tili malah merasakan tusukan mual di ulu hatinya.
Tili menelan ludah, ingin menghilangkan rasa nyaman itu. Mencoba meyakinkan diri kalau semua keadaan baik-baik saja.
Theo tidak berubah setelah konfrontasi itu. Ia masih seperti Theo sebelum gempa, sibuk dan hampir tidak tidur karena harus menangani jutaan masalah yang muncul pasca gempa.
Tapi Theo tetap datang ke rumah sakit hampir setiap hari untuk menjenguknya, meski hanya lima menit, tapi ia memperlihatkan kepedulian.
Tili tidak bisa mengeluh setelahnya. Satu-satunya yang Tili keluhkan adalah keputusan Theo menceritakan tentang kemungkinan halusinasi itu.
Keluhan itu membuat Tili mendapat nasihat agar banyak beristirahat—dan tidak perlu memikirkan segala keributan di sekitarnya.
Tili juga yakin kalau dokter menambahkan obat penenang dalam campuran ramuan yang diminumnya setiap hari. Tili selalu tertidur tanpa mimpi setelahnya. Dan tentu tidak ada mimpi yang aneh itu lagi.
Tapi Tili tidak bisa sepenuhnya menilai kalau keputusan itu buruk. Apapun yang dilakukan Theo lebih masuk akal. Masih bentuk kepedulian.
Tili masih memakai gelang dari Lori, tapi mulai percaya kalau tebakannya dulu adalah konyol.
“Tili, aku tahu kau lelah, tapi bisakah kau menemaniku menyambut tamu dari Lunaris? Mereka datang untuk memberi bantuan.” Theo membungkuk, meminta dengan lembut pula.
Tili mengangguk. “Ya.” Singkat saja.
“Terima kasih.” Theo tersenyum dan mengusap pipi Tili.
Tili kembali menahan napas saat kulit mereka bersentuhan. Rasa mual itu datang lagi. Tili memutuskan untuk mengambil jalan waras, tapi rasa tidak nyaman saat mereka bersentuhan masih tidak bisa dicegah.
Setiap kali Theo menyentuhnya, ingatan kalau tangan itu memeluk Sera selalu menyela. Padahal ingatan itu belum tentu asli.
“Sebentar lagi akan datang,” kata Theo sambil mendorong kursi roda Tili ke arah timur.
Rombongan tamu biasanya akan masuk melalui gerbang utama yang menjadi bagian sayap barat, tapi karena gerbang itu hancur juga, mereka akan lewat pintu samping.
“Siapa yang datang?” tanya Tili. Mencoba bertanya dengan normal setelah mualnya agak reda.
“Pangeran Caelan. Beliau ditunjuk raja untuk memeriksa seluruh wilayah Lunaris yang terdampak.”
Tili mengangguk saja. Ia belum pernah bertemu pangeran yang itu, karena memang Caelan hampir tidak pernah ikut campur dalam urusan politik. Pangeran ketiga yang tidak akan pernah menjadi Putra Mahkota karena hanya anak angkat dari ratu.
Bahkan tidak cukup untuk menjadi Duke atau Marquess. Saat pangeran lain—selain putra mahkota—ada yang mendapat gelar Duke, bersama wilayah, Caelan tetap ada di istana, nyaris tidak terlihat.
“Akhirnya. Aku tidak perlu menunggu lama.” Theo berseru lega saat melihat rombongan melintasi gerbang.
Kereta kuda, bersama rombongan pengawal yang sebagian besar memakai kuda gagah berwarna hitam.
“Oh? Aku pikir… ada di dalam kereta.” Theo bergumam heran. Ia mengira Pangeran Caelan akan turun dari dalam kereta kuda, tapi pria yang menunggang kuda paling depan, ternyata adalah pangeran. Terlihat dari emblem yang terbordir di bagian dada jubahnya.
Dalam lompatan ringan, pria itu turun dari kuda dan melangkah mendekati tuan rumah sambil menurukan tudung jubah yang menutupi kepalanya.
Saat itu juga Tili langsung tahu kalau Caelan bukan anak dari ratu—karena sangat berbeda dari pangeran yang lain. Caelan berambut sangat gelap, pangeran yang lain berambut kemerahan.
Dan lebih tampan. Diantara ketiga Pangeran yang selama ini pernah dilihat Tili, ia bisa menyebut dengan tegas kalau mata cokelat terang dan rambut gelap itu adalah perpaduan sempurna.
Tili mendecak, karena harus menormalkan pikiran. Sudah lama Tili tidak memuji pria lain tampan, dan jelas tidak boleh karena ia sudah menikah.
Tili memasang wajah datar saat pangeran itu mendekatinya.
“Terima kasih atas sambutannya, Duke Greybone. Dan saya ikut prihatin atas keadaan Anda, Duchess.” Caelan membungkuk sekilas di hadapan Tili, dan menampilkan pandangan simpatik saat menatap kaki Tili sekilas.“Terima kasih, Pangeran. Selamat datang di Greybone.” Tili menyilangkan satu tangan di dada dan membungkuk untuk balasannya. Sikap pangeran yang sempurna, jelas sangat terdidik.“Saya sudah mendengar kalau keadaan Greybone sangat buruk, dan saya sudah melihat sebagian saat perjalanan tadi.” Ia menjabat tangan Theo, dengan wajah prihatin yang sama.“Memang, karena itu saya sangat bersyukur Lunaris mengirim bantuan.” Theo pun bersikap sempurna. Setahu Tili, Theo dekat dengan beberapa pangeran, tapi sepertinya Caelan tidak termasuk. Sikap di antara mereka berdua sangat resmi.“Ini sudah kewajiban kami untuk membantu daerah yang kesulitan. Lunaris tidak akan membiarkan Greybone sendirian.”Tili sampai melirik, karena kalimat Caelan sangat manis. Pangeran itu tampak seperti pria ding
“Kau salah lihat, Tili.” Bantahan adalah yang pertama keluar dari bibir Theo. “Di mana kau melihat aku memeluk Sera? Apa ada yang melapor padamu? Aku akan menghukum siapa pun yang—”“Maka kau harus menghukumku,” potong Tili cepat. “Karena aku yang melihatnya sendiri—dan mendengarmu membisikkan rindu padanya.”Tili membuka mata selebar mungkin, menunggu. Ia ingin melihat keterkejutan, kepanikan, atau sekadar kikuk. Namun wajah Theo justru tenang. “Tili, itu absurd.” Theo menggeleng pelan. “Kalau kau sampai merasa melihat aku memeluk Sera, berarti kondisi tubuhmu saat itu tidak baik. Kau terluka parah. Sangat mungkin kau berhalusinasi.”“Berhalusinasi?” Tili tertawa pendek, getir. “Jadi sekarang kau menyebutku gila?”“Aku tidak mengatakan begitu.” Theo menghela napas dan meraih tangan Tili, kali ini lebih cepat, Tili tidak sempat menepis.“Memang tidak, tapi kau menyiratkannya.” Suara Tili bergetar, emosi kini mengalir bersama ingatan.“Tiga tahun, Theo! Tiga tahun aku membantumu meng
“Duke Greybone mengatur tenda sementara untuk mengungsi, juga memeriksa kerusakan yang terjadi di kota. Beliau memastikan juga ketersediaan air bersih untuk korban terdampak.”Laporan normal, tapi bukan itu yang diinginkan Tili. “Maksudku… siapa saja yang ditemuinya.”“Pengungsi dan beberapa bangsawan.” Ragnar menjawab, dan agak bingung karena bisa melihat Tili kesal.Tili penyabar, tapi kali ini langsung ingin marah. Tapi bukan salah Ragnar, perintahnya hanya untuk mengikuti, bukan mencari tahu apakah Theo menemui Sera.“Selain pengungsi, Duke Greybone kemana saja?” Tili menyabarkan hati, dan bertanya lagi.“Mengunjungi danau, lalu mengunjungi Count Ravenshire dan Count Lorne untuk mengatur penyaluran gandum darurat.”Tili mencengkram selimut yang menutupi pinggangnya—akhirnya! Count Lorne adalah ayah Sera. Nama lengkap Sera adalah Seraphina Lorne. Tili belum pernah bertemu dengannya secara langsung tapi cukup tahu dari gosip.“Apa yang dilakukan Duke Greybone di sana? Di rumah Count
“Aku sudah mengatakannya tadi, Tili. Aku harus mengurus pengungsi dan kerusakan yang terjadi di kota. Gempa kali ini cukup besar.” Theo menunduk mengecup kening Tili, lalu berbalik keluar.Tili menyipitkan mata, dan perlahan tangannya terangkat, mengusap kening—tidak rela bekas ciuman Theo menetap di sana.“Duchess? Maaf.”Tili membuka mata, pintu kamarnya terbuka. Pria yang masuk asing untuk Tili—karena tidak tahu namanya, tapi Tili mengenali wajahnya.“Kau… pengawal itu.”Sejenak himpitan di dada Tili mengendur. Melihat pria yang sempat dilihatnya tertimbun reruntuhan—dan tenggelam dalam genangan darahnya sendiri—saat ini sedang berdiri tegak, membuatnya lega.Tili mengusap perutnya yang kosong. Ia tidak bisa menyelamatkan semuanya, tapi tidak semuanya hilang. Pengawal yang dengan sepenuh hati berusaha menjalankan tugas sampai mengorbankan nyawa—Tili tidak akan pernah menyesal menyelamatkannya.“Siapa namamu?” tanya Tili sambil tersenyum, dan menatap beberapa balutan perban di tang
“Tili?’“Syukurlah.” Tili membisikkan rasa lega luar biasa, saat mendapati mata biru Lio yang pertama terpandang olehnya. “Semua itu mimpi… syukurlah…” Tili teramat lega. Kalau Lio yang bersamanya, berarti semua itu tidak nyata, seperti sebelumnya.“Oh… Tili…” Lio memeluknya, dan terisak.Saat itu Tili menyadari perbedaan. Mereka tidak lagi berada di ruang pesta—dan tidak sedang berdiri.Tili berbaring di ranjang sempit tertutup selimut putih tipis, bukan ranjang lebar di dalam kamarnya dengan selimut tebal. Itu ranjang rumah sakit. Tili mengenali pohon Magnolia ungu yang tumbuh menjulang di jendela.Tili selalu melewati deretan pohon itu setiap kali mengunjungi rumah sakit yang ada tidak jauh dari Kastil Greybone.“Kenapa aku di sini?” Tili menepuk punggung Lio, dan ingin bangkit.Tapi Lio semakin mempererat pelukan, dan masih meneruskan isakan, bahkan menjadi lebih keras.“Lio… aku baik-baik saja. Tidak ada yang terjadi…” Tili meyakinkan, tapi suaranya sendiri sudah bergetar.Tili
“Anakku?’ Tili menangkup perutnya, dan langsung dihujani kelegaan karena masih merasakan gundukan hangat di sana.“Apa perutmu sakit? Apa kau mual lagi?” Lio mulai menebak sambil membawa Tili ke tepi. “Apa…” Tili menarik napas panjang, mengusap keningnya yang berkeringat. Lio semerta-merta membuka kipas berenda sewarna gaun yang sedang dipakainya, mengipasi wajah Tili yang memang pucat dan berkeringat.“Bagaimana kalau kau masuk saja? Istirahat,” usul Lio. Di matanya, Tili terlihat amat lemas.Tili menggeleng. “Tidak… aku hanya bermimpi buruk. Aku masih harus menyambut tamu,” gumam Tili.“Aku dan Theo baik-baik saja.” Tili menyimpulkan dalam hati. Lidah Tili saat ini rasanya masih kasap—seolah bisa merasakan debu yang ikut terhirup bersama napas terengah. Kakinya juga agak lemas, karena bayangan kedua kakinya tidak lagi berbentuk masih sangat nyata di matanya.Tapi semua bayangan aneh itu tidak mungkin nyata. Yang benar adalah Theo mencintainya, dan tidak mungkin meninggalkannya sa







