登入Malam semakin larut merayap, membawa keheningan pekat ke dalam kamar pribadi Bu Rita di lantai dua. Wanita paruh baya itu duduk bersila di atas selembar tikar bambu halus yang beralaskan karpet lembut. Ia hanya mengenakan sehelai piyama tipis berbahan katun lembut berbalut renda transparan di bagian tepinya.Kain tipis itu menjiplak jelas bentuk tubuhnya, membuat dua bukit kembar di dadanya tampak menonjol naik ke depan dengan bentuk yang masih padat berisi. Meskipun usianya sudah tidak lagi muda, keindahan aset tubuhnya terbukti masih mampu bersaing dengan gadis-gadis usia belia.Rita memegang sebuah cermin rias berukuran kecil di tangan kanannya. Ia memandangi pantulan wajahnya yang sengaja dipoles makeup tipis agar terlihat segar. Pikirannya melayang jauh, merenungkan gejolak aneh yang baru saja ia rasakan."Akan aku buktikan malam ini... apakah sentuhan tangan kasar Yono memang benar-benar sihir yang membuatku bergairah, ataukah itu sekadar keinginan sesaat akibat kesepian?" batin
Langkah kaki Sugiono terasa begitu berat namun pasti saat ia menaiki anak tangga besi menuju lantai dua rumah utama. Hasutan dari siluman kucing serta gejolak rasa penasarannya beradu baur di dalam dada. Mengabaikan akal sehat yang terus memperingatkan bahaya, ia kini berdiri tepat di depan pintu kamar pribadi Bu Rita.Di dalam ruangan berukuran luas itu, Bu Rita tengah duduk gelisah di kursi kerjanya. Wanita paruh baya tersebut sama sekali tidak fokus menatap layar komputer di hadapannya. Pikirannya masih kacau balau, terus-menerus terngiang dengan apa yang ia lakukan tadi siang di balkon—saat jemarinya menyentuh area pribadi sambil membayangkan sosok sang tukang kebun. Rasa malu dan gejolak nafsu yang belum sepenuhnya padam membuat dadanya bergemuruh hebat.Tok... tok... tok...Suara ketukan pintu yang pelan namun tegas membuat Rita terperanjat kaget dari lamunannya. Ia menoleh cepat ke arah pintu, lalu berdehem untuk menormalkan suaranya yang sedikit bergetar."Masuk, Yono! Kamu ke
Sugiono menarik napas panjang, mencoba menepis bayangan-bayangan liar yang sempat mengusik konsentrasinya selepas percakapan singkat dengan Asep di pos jaga. Ia kembali membungkukkan badan, melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda membersihkan hamparan daun bunga jambu yang berguguran di atas tanah basah akibat sisa hujan kemarin sore.Di tengah kesibukannya mengumpulkan dedaunan kering ke dalam sebuah keranjang bambu, langkah kaki seseorang terdengar mendekat dari arah pintu dapur belakang."Walah, Pakde... minum kopi dulu atuh, biar tidak terlalu lelah kerjanya," sapa suara ramah Siti sambil membawa sebuah cangkir keramik berisi kopi hitam mengepul.Sugiono mendongak, tersenyum kikuk seraya mengusap pelipisnya yang basah oleh keringat. "Eh, Mbak Siti... terlalu baik sekali. Saya bisa ambil sendiri ke belakang nanti kalau lagi pengen, malah merepotkan Mbak."Siti terkekeh kecil, menyodorkan cangkir tersebut ke tangan Sugiono. "Hehe, iya tidak apa-apa, Pakde. Biar badan tidak mas
Dita dalam wujud kucing siluman melompat ringan dari pagar pembatas balkon, mendarat tanpa suara di lantai atas. Ekornya bergoyang-goyang geli saat matanya menangkap siluet Bu Rita yang masih berdiri merem melek sambil mencengkeram daster tipisnya dengan napas tersengal."Bagus... sepertinya daya pemikat dari cincin gaib Sugiono mulai bekerja dengan sangat sempurna," cibir siluman kucing itu dalam hati, menyeringai licik lewat telepati. "Dengan begini, energiku akan segera pulih, dan aku bisa lebih mudah berubah wujud menjadi manusia seutuhnya!"Di balkon, Rita tiba-tiba tersentak hebat. Ia buru-buru melepaskan jari tangannya dari area lembah kewanitaannya, menarik napas panjang dengan mata terbelalak lebar."Ah... apa yang sudah aku lakukan?!" jerit Rita dalam hati, wajahnya langsung merona merah padam karena rasa malu yang luar biasa. "Mengapa aku bisa mendesah keenakan sambil menyebut-nyebut nama tukang kebun itu? Ya Tuhan... Rita, sadar dirimu! Kamu nyonya di rumah ini!"Dengan la
Sugiono menarik napas dalam-dalam, berusaha keras mengendalikan akal sehatnya yang hampir runtuh di atas lantai kamar mandi yang basah. Dengan gerakan cepat namun kaku, ia melepaskan cengkeramannya dari pergelangan tangan sang nyonya rumah. Ia segera memalingkan wajahnya ke sisi lain, menunduk untuk mengambil handuk putih Rita yang tergeletak di dekat genangan air."Bu Rita... ini handuknya. Saya keluar dulu," ucap Sugiono terbata-bata, menyodorkan handuk tersebut tanpa sedikit pun berani mengangkat kepalanya menatap tubuh setengah telanjang wanita di depannya.Rita terperanjat pelan, buru-buru menyambar handuk tersebut dari tangan Sugiono dan melilitkannya kembali dengan cepat ke dada untuk menutupi bagian tubuhnya yang terekspos."Yono... kamu..." panggil Rita dengan suara berbisik parau. Wanita itu reflek menahan pergelangan tangan Sugiono sebelum pria paruh baya itu sempat melangkah pergi.Saat kulit tangan mereka bersentuhan langsung, sebuah keanehan mendadak terjadi. Cincin gai
"Bu, jangan katakan itu, Bu. Nanti orang di luar bisa salah paham," ucap Sugiono setengah berbisik, mencoba meredam suara desahan dan obrolan mereka agar tidak terdengar sampai ke koridor luar kamar.Bu Rita hanya menyeringai lebar, menampakkan guratan usia di sudut matanya yang justru menambah daya tarik tersendiri. "Habisnya, pijatan tanganmu itu sangat enak sekali, Yono. Kenapa aku baru tahu ya, kalau ternyata kamu pandai memijat? Apakah sebelumnya di desamu kamu itu tukang urut?" tanya Bu Rita penasaran, memiringkan kepalanya sedikit untuk menatap wajah sang buruh kebun lebih dekat."Ya begitulah, Bu. Hanya mengurut biasa-biasa saja. Kalau ada warga yang kakinya terkilir, ya saya urut. Kalau tidak, ya saya cari makan, nyangkul sawah, sembarang saya kerja, Bu, serabutan apa saja," jawab Sugiono di sela-sela pijatannya yang kembali teratur menekan otot-otot bahu wanita di depannya.Mendengar kejujuran sederhana dari pria paruh baya itu, Bu Rita perlahan membalikkan posisi duduknya m







