MasukKeesokan paginya, azan Subuh berkumandang dari musala kecil di ujung jalan perkampungan buruh. Samsul sudah lebih dulu keluar kamar, melangkah gontai menuju warung kelontong terdekat. Rokok merek Sampurna miliknya sudah habis sejak semalam, membuat tenggorokannya terasa gatal. Ia lebih menyukai rokok merek tersebut dibanding rokok Djarum milik Yono yang rasanya terlalu berat di dada. Mulutnya terasa hambar dan lepeh jika tidak menghirup asap tembakau di pagi hari, apalagi dinikmati bersama segelas kopi hitam pahit.Sementara di dalam kamar sempit, kucing belang penjelmaan makhluk gaib bernama Dita masih tertidur pulas di balik selimut tipis Yono. Posisi tidurnya meringkuk tepat di area selangkangan Yono, mencari sumber panas tubuh pria paruh baya tersebut. Meskipun sudah memiliki bulu yang lebat, hewan kecil itu merasa sangat kedinginan akibat sisa hawa lembap hujan semalam."Dita, bangunlah, Dita," bisik Yono sambil menepuk-nepuk pelan punggung kucing tersebut.Dita menggeliat malas,
Samsul membawa dua piring berisi mi goreng hangat berbalut telur goreng mata sapi di atasnya. Ia melangkah dari dapur kecil menuju ruang tamu, lalu meletakkan piring-piring tersebut di atas meja kayu yang beralaskan taplak kusam."Yono, ayo makan!" teriak Samsul dengan nada agak tinggi, memecah kesunyian malam di dalam rumah kontrakan. "Dari tadi kamu di dalam kamar terus, berbicara sendiri seperti orang kesurupan. Kamu sudah kehilangan akal sampai sebegitunya ya gara-gara urusan proyek?"Samsul menggelengkan kepala pelan sambil menarik kursi plastik untuk duduk."bawa juga kucing belangmu itu ke sini. Sepertinya dia sangat kelaparan setelah basah-basahan di jalan tadi. Kasihan juga tadi hampir tertabrak mobil."Di dalam kamar, Sugiono mendengar dengan jelas panggilan dari rekan serumahnya. Ia menoleh ke arah sudut kasur tempat kucing berbulu belang itu berbaring tenang. Siluman berwujud hewan tersebut mengedipkan mata, memberikan isyarat agar Sugiono menuruti permintaan Samsul demi me
Sugiono membawa kucing belang itu melangkah masuk ke dalam kamar tidurnya yang sempit. Ia mendudukkan diri di tepi kasur busa tipis, lalu mengusap bulu halus kucing tersebut dengan penuh kelembutan."Kamu sepertinya bukan kucing jalanan biasa. Bulumu sangat terawat dan bersih," gumam Sugiono pelan sambil memperhatikan corak unik di tubuh hewan kecil itu.Kucing belang tersebut perlahan membuka kelopak matanya, menatap lurus ke arah Sugiono, lalu mengedipkan matanya dua kali."Terima kasih, manusia baik," sebuah suara lembut langsung bergema jelas di dalam kepala Sugiono tanpa ada gerakan bibir dari sang hewan.Astaga! Sugiono terlonjak kaget dari duduknya. Ia melompat mundur hingga hampir menabrak dinding kamar.Di ruang tengah, Samsul sedang sibuk merebus dua bungkus mie instan dan menggoreng telur di atas kompor portabel. Suara benturan tubuh Sugiono ke dinding membuat Samsul menoleh dengan wajah heran."Kamu sedang apa di dalam kamar sampai bikin kaget saja, Yono? Jangan bikin aku
"Bu, kalau begitu saya permisi dulu mau beli mie di warung. Tidak enak kalau Samsul menunggu lama di kontrakan," pamit Sugiono sambil menarik pelan tangannya dari genggaman Bu Dita.Bu Dita langsung menarik napas dengan berat, memperlihatkan raut wajah kecewa yang jelas. "Oh... ya sudah, Yono. Hati-hati di jalan ya."Wanita muda itu merasa obrolan mereka baru berjalan beberapa menit saja, tetapi separuh jiwanya seolah sudah menyatu dengan pria paruh baya tersebut. Sugiono begitu mengerti setiap keluh kesah yang selama ini tertahan di dadanya.Sugiono melangkah keluar dari ruang kerja darurat, membelah gerimis tipis yang tersisa di halaman proyek. Sesampainya di warung kelontong kecil dekat gerbang, ia mengusap-ngusap pelan jari tangannya yang tadi bersentuhan dengan kulit mulus Bu Dita. Senyum tipis tersungging di bibirnya. Pesona gaib dari cincin yang ia miliki sudah mulai merasuki batin wanita itu, sehingga tinggal menunggu waktu yang tepat sampai Bu Dita datang sendiri menyerahkan
Udara dingin sisa gerimis masih menempel di dinding kayu ruang kerja darurat. Lampu gantung kuning berkedip pelan, memantulkan bayangan remang di wajah Bu Dita yang kelelahan. Wanita muda itu memeluk cangkir kertas berisi air mineral hangat, menatap lurus ke arah Sugiono yang duduk tenang di kursi plastik."Bagaimana anak sama istrimu ngasih izin merantau ke kota, Yono? Apa istrimu tidak kesepian di kampung?" tanya Bu Dita pelan, memecah keheningan di antara mereka.Sugiono tersenyum tipis, menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi kayu yang keras. "Sudah lama pisah sama istri. Anak dibawa mantan istri ikut keluarganya."Bu Dita mengangguk kecil, menunduk menatap permukaan air di dalam cangkir kertas. Ada garis-garis kelelahan yang nyata di sekitar mata indahnya. "Nasib kita mirip, Yono. Bedanya kamu di bawah, aku di atas harta doang."Wanita itu menarik napas panjang, membiarkan dadanya naik turun dengan sesak. Emosi yang selama ini dipendam rapat-rapat akhirnya tumpah begitu saja
Marten terus mengocok pusakanya yang ngaceng di balik tiang besi proyek. Napasnya memburu tidak beraturan, keringat bercampur air hujan membasahi keningnya."Ughh yamataehhh ughh sedap..." Lidahnya sampai keluar saat merasakan lava kental putihnya sebentar lagi berada di ujung puncak kenikmatan. "Ahhh, sikit lagi..."Jono menginjak bungkus rokok kosong hingga pipih di lantai yang tergenang air. "Hujan ini tidak akan reda, sebaiknya kita pulang saja. Dilanjutkan juga adukan semennya tidak bagus hasilnya. Malah ngulang kerjaan dari awal kalau kena air terus."Jono melirik ke arah tiang besi tempat rekan kerjanya bersembunyi. "Marten... kalau sudah ngocok, cepat pakai celana sana, lalu pulang.""Ughh ahhhh..." Suara desahan tertahan masih terdengar dari balik tiang.Samsul menggelengkan kepala sambil merapikan jas hujannya. "Ada gila-gilanya si Marten di dalam tuh. Cuaca dingin begini malah sempat-sempatnya mengeluarkan cairan.""Dasar memang kelakuan dia tidak ada beresnya," jawab Jono.







