LOGINSiang bolong matahari lumayan terik. Sugiono kebetulan sedang duduk santai di lincak depan gubuknya. Dia asyik merokok sambil mengipasi badannya menggunakan pelepah pisang. Mendengar suara motor berhenti, Sugiono menoleh.
Bu Tejo turun dari motor. Napasnya terdengar agak ngos-ngosan. Dasternya basah keringat di bagian punggung dan leher.
"Siang-siang begini tumben mampir ke gubuk saya, Bu Tejo. Ada perlu apa?" sapa Sugiono santai.
"Pakde, tolong urut dada saya," ucap Bu Tejo blak-blakan. Dia membuka ritsleting tas selempangnya, memperlihatkan beberapa lembar uang merah. "Dada saya sesak minta ampun, Pakde. Udah ke dokter tapi dibilang nggak ada penyakit. Tolong sembuhkan saya."
Sugiono melirik uang di dalam tas sekilas, lalu pandangannya turun ke arah dada Bu Tejo yang naik-turun dengan cepat. Tiba-tiba, cincin akik hitam di jari telunjuk Sugiono terasa hangat. Ada denyutan energi asing merespons dari arah tubuh Bu Tejo.
Insting Sugiono langsung menangkap ada yang tidak beres. Ini bukan penyakit medis.
"Simpan uangmu dulu, Bu Tejo," kata Sugiono pelan. Nada suaranya tenang, tidak menunjukkan ketertarikan pada uang bayaran. "Dari tarikan napasmu, ini bukan asma. Ada yang sengaja ngirim hawa kotor buat nutup jalan napasmu."
Wajah Bu Tejo seketika berubah kaku. "Maksud Pakde... santet? Apa mungkin ada yang mengirim sesuatu ke saya, Pakde?"
"Bisa jadi," sahut Sugiono pendek. "Masuk dulu ke dalam. Rebahan di tikar."
Bu Tejo langsung menurut. Dia masuk ke dalam gubuk yang pencahayaannya agak remang, lalu merebahkan diri di atas tikar. Sugiono menyusul masuk, menutup pintu, lalu mengambil botol minyak zaitun dari mejanya.
"Tapi begini aturannya, Bu Tejo," Sugiono memulai, suaranya terdengar serius. "Penyakit kiriman begini sarangnya menempel di ulu hati sama dada. Tenaga dalam Pakde harus masuk langsung lewat pori-pori untuk menghancurkan hawa kotornya."
"Iya, Pakde. Lakukan saja," jawab Bu Tejo cepat.
"Masalahnya, kalau terhalang kain pakaian, energinya bisa mentok. Hawa panas dari tenaga dalamku bisa memantul dan malah balik nyerang jantungmu," lanjut Sugiono. Dia menatap Bu Tejo lekat-lekat. "Maksudnya, Pakde harus memijat kulit dadamu secara langsung tanpa penghalang. Kalau kamu risi atau malu, mending urung saja. Pakde tidak mau ambil risiko...."
Sugiono meletakkan kembali botol minyak zaitunnya ke meja, seolah benar-benar tidak peduli jika Bu Tejo menolak.
Bu Tejo terdiam di atas tikar. Matanya menatap atap anyaman bambu. Dia membayangkan rasa sesak selalu menyiksanya tiap malam, rasa takut mendadak mati tersedak saat tidur berhari-hari belakangan. Dibandingkan harus mati pelan-pelan karena teluh saingan bisnisnya, menahan rasa malu di depan dukun seperti Sugiono rasanya bukan masalah besar.
Bu Tejo perlahan duduk. Tangannya meraih ujung bawah dasternya.
Wajah Sugiono berubah pucat. "Tidak mungkin..."
"Apa yang tidak mungkin, Pakde?"
"Hawa kotor dalam tubuhmu sama persis dengan yang ada pada Gendis."
****
Daster batik ditarik melewati kepala, menyisakan pakaian dalam berenda warna hitam menyangga dada subur sang janda. Wajah Bu Tejo memerah padam. Tangannya refleks menyilang menutupi belahan dadanya sendiri.
Jantungnya berdebar sangat kencang. Belum pernah ada laki-laki lain menyentuh area pribadinya semenjak mendiang suaminya meninggal dunia lima tahun lalu. Apalagi sekarang dia harus pasrah di depan dukun tua. Namun, rasa sakit menyiksa ulu hati mengalahkan segala rasa malu.
Sugiono tetap tenang. Wajahnya datar tanpa ekspresi mesum sama sekali, membuat Bu Tejo sedikit rileks. Dukun itu mulai menuangkan minyak zaitun membasahi telapak tangannya, menggosoknya pelan berulang kali sampai terasa hangat.
Jari-jari Sugiono bergerak mantap menyusuri titik-titik saraf di sekitar dada Bu Tejo. Hawa panas dari cincin akiknya perlahan melawan energi dingin yang bersarang di dalam tubuh sang janda.
Bu Tejo menggigit bibir menahan rasa nyeri yang datang bergelombang. Namun perlahan sesaknya berkurang. Napasnya yang semula berat mulai terasa lebih lega.
Sugiono lalu mengerahkan tenaga dalam lebih besar. Sesaat kemudian, gumpalan energi hitam yang bersembunyi di dalam tubuh Bu Tejo mulai terusik.
"Tahan sebentar. Energi santet sainganmu membandel bersarang rapat di paru-paru," gumam Sugiono. Matanya terpejam fokus memusatkan dorongan tenaga dalam dari dasar perut menuju telapak tangan.
Jari-jari besar sang dukun menekan batas bawah dada Bu Tejo. Hawa panas dari cincin berbenturan langsung melawan hawa dingin dari teluh gaib. Bu Tejo mengerang keras. Tubuhnya melengkung menahan benturan dua energi berlawanan bertarung saling menghancurkan di dalam dadanya.
"Pakde... sakit... dada saya seperti mau meledak..." rintih Bu Tejo meringis menahan siksaan.
"Tahan! Jangan bergerak apalagi berteriak memanggil nama sembarangan! Teluh kiriman sengaja berniat mematikan jantungmu malam ini juga!" bentak Sugiono memberi peringatan keras.
Jari-jarinya kini merambat makin ke atas, memijat pangkal dada Bu Tejo. Sang janda subur menggeliat gelisah di atas tikar pandan. Keringat sebesar biji jagung menetes deras dari dahi dan lehernya. Rasa sesak perlahan mulai memudar sedikit demi sedikit, tergantikan desiran hangat menyebar mengaliri seluruh aliran darah.
"Pakde... kok rasanya beda..." Bu Tejo mendesah pelan, tangannya meremas pinggiran tikar sekuat tenaga. Napasnya mulai memburu kencang, bukan karena sesak penyakit tersumbat, melainkan gairah memuncak tersulut hawa pusaka murni.
"Jangan banyak bicara dulu. Fokus bernapas panjang. Pakde sedang menarik paksa teluh hitamnya keluar," potong Sugiono tegas. Tangannya bergerak makin gesit, memijat seluruh area dada memutar dengan tekanan bertenaga ekstra.
Tenaga dalam penghancur karang mulai mengikis habis akar energi kotor sang saingan bisnis. Hawa murni menyebar sangat cepat, melenturkan saraf tegang sekaligus memancing titik saraf paling sensitif janda kaya di depannya.
Gairah Bu Tejo tersulut hebat tak terkendali. Kedua kakinya menggesek lantai bambu menahan desiran ganjil merasuk hingga ke ubun-ubun.
Bukannya menahan rasa, jemari lentik Bu Tejo mendadak mencengkeram pergelangan tangan Sugiono. Sang janda menarik tangan Sugiono di hadapannya makin dalam menekan belahan dadanya.
Sugiono merogoh saku jaket kulitnya, lalu mengeluarkan beberapa lembar uang berwarna merah. Ia menaruh lima lembar uang seratus ribuan itu di atas meja kayu kecil."Buatmu, Nduk," kata Sugiono pelan sambil mendorong uang itu mendekat ke arah Gendis.Mata Gendis membelalak kaget. Ia spontan menggeleng sambil melambaikan kedua tangannya. "Loh, Pakde... tidak usah, Pakde! Simpan saja buat keperluan Pakde sendiri."Sugiono menatap iparnya dengan sorot mata teduh. "Ambil saja, Nduk. Tidak enak menolak rezeki. Lagian kamu sama Sobir kan baru saja kena musibah kemarin," ujarnya tegas tapi lembut.Gendis menunduk, merasakan tenggorokannya tercekat. Hatinya diselimuti rasa terharu yang amat sangat. Di tengah himpitan hidup yang menghimpitnya dan sang suami, hanya kakak ipar tua ini yang datang menengok dan memberi perhatian nyata. Gendis tahu persis watak Sobir suaminya dan Sugiono memang sangat berbeda jauh, meskipun keduanya mengalir darah yang sama. Sobir sering kali egois dan pemarah, seme
Mobil.. Udin perlahan meninggalkan halaman gubuk. Asap knalpotnya mengepul tebal sebelum hilang di tikungan jalan desa.Samsul langsung merogoh ponsel dari saku celananya dengan gerakan kilat. Jari-jarinya menari cepat di atas layar, membuka aplikasi m-banking. Begitu logo loading selesai berputar, mata Samsul melotot nyaris keluar. Rahangnya jatuh."Buset... Yon!" teriak Samsul histeris. Ia melompat dari kursi bambu, berlari menghampiri Sugiono sambil menyodorkan layar ponselnya. "Lihat nih! Kamu lihat ini, Yon!"Sugiono yang sedang merapikan asbak dan sisa puntung rokok, menoleh pelan. "Ada apa sih, Sul? Teriak-teriak kayak orang kesurupan.""Matamu itu yang kesurupan! Baca ini nolnya ada berapa, Mbah!" Samsul menggebrak meja saking girangnya. "Seratus juta, Yon! Seratus juta rupiah! Si Udin ini pejabat atau bandar korupsi sih?! Cuma modal mijet jelly lembek tiga menit, bayarannya seratus juta!"Sugiono melirik layar ponsel itu sebentar. Tidak ada raut kaget yang berlebihan di wajah
Samsul keluar dari dapur dengan langkah cepat. Di tangannya terdapat sebuah gelas kaca besar berisi cairan kental berwarna kuning kecokelatan."Ini dia, Pak Udin. Ramuan khusus VIP Platinum! Tiga butir kuning telur bebek asli, lada hitam tumbuk kasar, sama madu klanceng pilihan," seru Samsul sambil meletakkan gelas itu dengan bangga di atas meja.Bau amis seketika menguar di udara, bercampur dengan aroma tajam lada.Sugiono mengambil sebuah sarung kotak-kotak yang terlipat di atas dipan, lalu melemparkannya ke pangkuan Udin."Silakan, Pak. Diminum dulu ramuannya sampai habis," perintah Sugiono dengan nada datar. "Habis itu Bapak ganti celananya pakai sarung ini."Udin menatap gelas besar itu dengan ragu. "Baunya amis banget ya, Pakde.""Amis di mulut cuma sebentar, Pak. Manisnya di rumah nanti malam kerasa sampai subuh," timpal Samsul sambil mengedipkan mata, menyemangati layaknya pelatih tinju. "Ayo, tarik napas, langsung sikat habis!"Udin memencet hidungnya sendiri, memejamkan mata
Samsul menarik sebuah kursi bambu di teras gubuk dan mempersilakan tamunya duduk. Pria bernama Udin itu mendaratkan pantatnya dengan hati-hati.Samsul langsung menyodorkan segelas kopi hitam panas yang baru diseduhnya. "Silahkan diminum dulu, Pak, kopinya. Sambil ngerokok juga santai aja di sini."Udin mengangguk kaku, senyumnya tampak canggung. "Hehe, iya. Terimakasih, Mas."Sore itu Udin tampil sangat rapi. Ia mengenakan kemeja batik cokelat lengan panjang, setelan khas pejabat pemerintah dari kota, sangat kontras dengan pemandangan sekitar gubuk Sugiono yang dikelilingi sawah dan pepohonan pisang.Sugiono melangkah keluar dari dalam gubuk, mengenakan sarung pudar dan kaus oblong. Ia duduk di kursi kayu berhadapan dengan Udin. Tangan tuanya mengangkat gelas seng berisi kopi, lalu menyesapnya perlahan."Bapak tahu dari mana tempat pemijatan saya?" tanya Sugiono dengan nada datar sambil menatap tajam tamunya.Udin merapikan letak kacamatanya yang sedikit merosot. "Saya lihat di iklan
Malam semakin larut. Suara jangkrik bersahutan di luar gubuk. Di ruang tamu, Samsul sudah mendengkur keras di atas tikar. Di dalam kamar yang pintunya tertutup rapat, Sugiono sedang duduk bersila di atas dipan bambu. Matanya terpejam, mengatur napas menstabilkan energi gaib di tubuhnya setelah seharian memakai kekuatan cincin hitam.Tiba-tiba, seekor kucing hitam melompat ke atas kasur. Kucing itu mengeong pelan, lalu seketika diselimuti kabut ungu tipis. Perlahan, wujudnya membesar dan berubah.Dalam hitungan detik, kucing hitam itu lenyap, berganti menjadi sosok wanita dewasa yang luar biasa cantik. Rambutnya hitam panjang tergerai sebahu, kulitnya putih mulus, dan lekuk tubuhnya yang padat hanya dibalut oleh kain sutra ungu tipis yang tembus pandang.Dita merangkak pelan mendekati Sugiono. Aroma wangi melati bercampur mawar langsung memenuhi kamar yang sempit itu."Yono..." bisik Dita dengan suara serak yang sangat menggoda. Jari lentiknya menyusuri bahu Sugiono perlahan. "Seharia
Kabar tentang hancurnya Ki Suro dan dukun pesisir itu tidak banyak diketahui warga. Namun, ada satu kabar lain yang justru menyebar luar biasa cepat dari mulut ke mulut di warung kopi: sembuhnya "burung perkutut" Pak Kades yang tadinya mati total.Malam itu, saat Sugiono dan Samsul sedang duduk santai ngopi di beranda gubuk, sebuah mobil Pajero hitam mengkilap berhenti agak jauh dari halaman. Seseorang turun mengendap-endap. Pria buncit itu memakai jaket tebal, topi ditarik rendah, dan masker penutup wajah.Tok! Tok! Tok!"Permisi... Mbah Yono ada?" bisik pria itu sambil menengok ke kanan-kiri.Samsul membukakan pintu. "Ada. Cari siapa, Pak? Kok malam-malam pakai masker rapat begini?"Pria itu buru-buru masuk, lalu melepas topi dan maskernya. Samsul langsung melongo."Loh? Bos Husen? Juragan beras dari kecamatan sebelah kan?" tebak Samsul kaget.Bos Husen yang biasanya tampil gagah, mendadak berlutut di lantai gubuk. Wajahnya memelas nyaris menangis."Yono, tolong saya, Yon! Cuma kamu







