공유

Bab 3

작가: NamNamjoo
last update 게시일: 2026-06-10 10:59:31

Siang bolong matahari lumayan terik. Sugiono kebetulan sedang duduk santai di lincak depan gubuknya. Dia asyik merokok sambil mengipasi badannya menggunakan pelepah pisang. Mendengar suara motor berhenti, Sugiono menoleh.

Bu Tejo turun dari motor. Napasnya terdengar agak ngos-ngosan. Dasternya basah keringat di bagian punggung dan leher.

"Siang-siang begini tumben mampir ke gubuk saya, Bu Tejo. Ada perlu apa?" sapa Sugiono santai.

"Pakde, tolong urut dada saya," ucap Bu Tejo blak-blakan. Dia membuka ritsleting tas selempangnya, memperlihatkan beberapa lembar uang merah. "Dada saya sesak minta ampun, Pakde. Udah ke dokter tapi dibilang nggak ada penyakit. Tolong sembuhkan saya."

Sugiono melirik uang di dalam tas sekilas, lalu pandangannya turun ke arah dada Bu Tejo yang naik-turun dengan cepat. Tiba-tiba, cincin akik hitam di jari telunjuk Sugiono terasa hangat. Ada denyutan energi asing merespons dari arah tubuh Bu Tejo.

Insting Sugiono langsung menangkap ada yang tidak beres. Ini bukan penyakit medis.

"Simpan uangmu dulu, Bu Tejo," kata Sugiono pelan. Nada suaranya tenang, tidak menunjukkan ketertarikan pada uang bayaran. "Dari tarikan napasmu, ini bukan asma. Ada yang sengaja ngirim hawa kotor buat nutup jalan napasmu."

Wajah Bu Tejo seketika berubah kaku. "Maksud Pakde... santet? Apa mungkin ada yang mengirim sesuatu ke saya, Pakde?"

"Bisa jadi," sahut Sugiono pendek. "Masuk dulu ke dalam. Rebahan di tikar."

Bu Tejo langsung menurut. Dia masuk ke dalam gubuk yang pencahayaannya agak remang, lalu merebahkan diri di atas tikar. Sugiono menyusul masuk, menutup pintu, lalu mengambil botol minyak zaitun dari mejanya.

"Tapi begini aturannya, Bu Tejo," Sugiono memulai, suaranya terdengar serius. "Penyakit kiriman begini sarangnya menempel di ulu hati sama dada. Tenaga dalam Pakde harus masuk langsung lewat pori-pori untuk menghancurkan hawa kotornya."

"Iya, Pakde. Lakukan saja," jawab Bu Tejo cepat.

"Masalahnya, kalau terhalang kain pakaian, energinya bisa mentok. Hawa panas dari tenaga dalamku bisa memantul dan malah balik nyerang jantungmu," lanjut Sugiono. Dia menatap Bu Tejo lekat-lekat. "Maksudnya, Pakde harus memijat kulit dadamu secara langsung tanpa penghalang. Kalau kamu risi atau malu, mending urung saja. Pakde tidak mau ambil risiko...."

Sugiono meletakkan kembali botol minyak zaitunnya ke meja, seolah benar-benar tidak peduli jika Bu Tejo menolak.

Bu Tejo terdiam di atas tikar. Matanya menatap atap anyaman bambu. Dia membayangkan rasa sesak selalu menyiksanya tiap malam, rasa takut mendadak mati tersedak saat tidur berhari-hari belakangan. Dibandingkan harus mati pelan-pelan karena teluh saingan bisnisnya, menahan rasa malu di depan dukun seperti Sugiono rasanya bukan masalah besar.

Bu Tejo perlahan duduk. Tangannya meraih ujung bawah dasternya.

Wajah Sugiono berubah pucat. "Tidak mungkin..."

"Apa yang tidak mungkin, Pakde?"

"Hawa kotor dalam tubuhmu sama persis dengan yang ada pada Gendis."

****

Daster batik ditarik melewati kepala, menyisakan pakaian dalam berenda warna hitam menyangga dada subur sang janda. Wajah Bu Tejo memerah padam. Tangannya refleks menyilang menutupi belahan dadanya sendiri.

Jantungnya berdebar sangat kencang. Belum pernah ada laki-laki lain menyentuh area pribadinya semenjak mendiang suaminya meninggal dunia lima tahun lalu. Apalagi sekarang dia harus pasrah di depan dukun tua. Namun, rasa sakit menyiksa ulu hati mengalahkan segala rasa malu.

Sugiono tetap tenang. Wajahnya datar tanpa ekspresi mesum sama sekali, membuat Bu Tejo sedikit rileks. Dukun itu mulai menuangkan minyak zaitun membasahi telapak tangannya, menggosoknya pelan berulang kali sampai terasa hangat.

Jari-jari Sugiono bergerak mantap menyusuri titik-titik saraf di sekitar dada Bu Tejo. Hawa panas dari cincin akiknya perlahan melawan energi dingin yang bersarang di dalam tubuh sang janda.

Bu Tejo menggigit bibir menahan rasa nyeri yang datang bergelombang. Namun perlahan sesaknya berkurang. Napasnya yang semula berat mulai terasa lebih lega.

Sugiono lalu mengerahkan tenaga dalam lebih besar. Sesaat kemudian, gumpalan energi hitam yang bersembunyi di dalam tubuh Bu Tejo mulai terusik.

"Tahan sebentar. Energi santet sainganmu membandel bersarang rapat di paru-paru," gumam Sugiono. Matanya terpejam fokus memusatkan dorongan tenaga dalam dari dasar perut menuju telapak tangan.

Jari-jari besar sang dukun menekan batas bawah dada Bu Tejo. Hawa panas dari cincin berbenturan langsung melawan hawa dingin dari teluh gaib. Bu Tejo mengerang keras. Tubuhnya melengkung menahan benturan dua energi berlawanan bertarung saling menghancurkan di dalam dadanya.

"Pakde... sakit... dada saya seperti mau meledak..." rintih Bu Tejo meringis menahan siksaan.

"Tahan! Jangan bergerak apalagi berteriak memanggil nama sembarangan! Teluh kiriman sengaja berniat mematikan jantungmu malam ini juga!" bentak Sugiono memberi peringatan keras.

Jari-jarinya kini merambat makin ke atas, memijat pangkal dada Bu Tejo. Sang janda subur menggeliat gelisah di atas tikar pandan. Keringat sebesar biji jagung menetes deras dari dahi dan lehernya. Rasa sesak perlahan mulai memudar sedikit demi sedikit, tergantikan desiran hangat menyebar mengaliri seluruh aliran darah.

"Pakde... kok rasanya beda..." Bu Tejo mendesah pelan, tangannya meremas pinggiran tikar sekuat tenaga. Napasnya mulai memburu kencang, bukan karena sesak penyakit tersumbat, melainkan gairah memuncak tersulut hawa pusaka murni.

"Jangan banyak bicara dulu. Fokus bernapas panjang. Pakde sedang menarik paksa teluh hitamnya keluar," potong Sugiono tegas. Tangannya bergerak makin gesit, memijat seluruh area dada memutar dengan tekanan bertenaga ekstra.

Tenaga dalam penghancur karang mulai mengikis habis akar energi kotor sang saingan bisnis. Hawa murni menyebar sangat cepat, melenturkan saraf tegang sekaligus memancing titik saraf paling sensitif janda kaya di depannya.

 Gairah Bu Tejo tersulut hebat tak terkendali. Kedua kakinya menggesek lantai bambu menahan desiran ganjil merasuk hingga ke ubun-ubun.

Bukannya menahan rasa, jemari lentik Bu Tejo mendadak mencengkeram pergelangan tangan Sugiono. Sang janda menarik tangan Sugiono di hadapannya makin dalam menekan belahan dadanya.

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Dukun Pijat Penarik Janda Desa    Bab 49

    Sugiono berjalan mendekati Samsul yang masih berdiri di dekat tumpukan besi beton, membawa sisa-sisa aroma kemenangan kecil dari ruang arsip tadi."Lama sekali urusanmu di dalam, Yono. Seperti sedang mengurus proyek miliaran saja," celetuk Samsul sambil menyeruput kopi hitamnya yang mulai mendingin."Namanya juga buruh serabutan, disuruh bos apa saja harus sigap biar dapat tambahan," jawab Sugiono santai, menyambar sebatang rokok Djarum dari bungkus milik Samsul lalu menyalakannya.Samsul tertawa kecil, menepuk bahu Sugiono pelan. "Ada-ada saja kamu. Sudah, cepat ambil sarung tangan besi di sudut gudang. Mandor galak itu sudah mondar-mandir dari tadi pagi mengawasi kita."Sugiono mengangguk, melangkah pergi menuju gudang penyimpanan alat sambil menyelipkan rencana baru di kepalanya. Di dalam saku celananya, cincin gaib yang melingkar di jari manisnya berdenyut pelan, memancarkan kehangatan magis yang semakin memperkuat rasa percaya dirinya.Menjelang sore hari, aktivitas di area proye

  • Dukun Pijat Penarik Janda Desa    Bab 48

    Sugiono menggoyangkan pinggulnya semakin cepat, menciptakan suara gesekan yang memecah kesunyian ruang arsip yang pengap dan berdebu.Plokk... plokk... plokk...Suara itu bergema pelan di antara tumpukan lemari arsip tua dan sak semen yang tersusun di sudut ruangan. Bu Dita mengejang hebat saat merasakan sensasi luar biasa dari pusaka Sugiono yang bekerja tanpa kenal lelah di dalam tubuhnya. Napas wanita itu menderu liar, terengah-engah menahan gelombang kenikmatan yang belum pernah ia rasakan selama bertahun-tahun pernikahannya."Ah... Yono... pelan-pelan, aku sudah mau sampai..." desah Bu Dita tersengal-sengal, matanya terpejam erat sementara kedua tangannya meremas kuat terpal plastik di bawah tubuhnya.Dengan cepat, Sugiono mempercepat ritme gerakannya, menyalurkan seluruh sisa tenaga serta energi panas dari cincin gaib di jari manisnya. Tidak lama kemudian, pusaka Sugiono berdenyut keras, perlahan mengeluarkan air pusakanya dengan cepat dan menyemburkannya tepat ke atas perut Bu

  • Dukun Pijat Penarik Janda Desa    Bab 47

    Tangan kanan Sugiono perlahan naik dari pinggang menyusut bagian belakang kepala Bu Dita, menahan tengkuk wanita itu agar tidak menghindari saat bibir mereka berciuman. Suasana ruang arsip yang sempit dan berdebu mendapatinya hanyut dalam keheningan total, terisolasi dari suara bising alat-alat berat di luar bangunan proyek.Bu Dita mendesah berat saat merasakan jemari tangan Sugiono perlahan maju ke depan. Kedua tangan Sugiono mencengkeram dan meremas erat dua bukit kembar Bu Dita di balik balutan kemeja formal yang sudah mulai kusut. Sentuhan tangan kasar kuli bangunan itu langsung memberikan sengatan panas yang melumpuhkan akal sehat sang nyonya besar."Yono," ucap Bu Dita mendesah panjang, suaranya terdengar pasrah dan memohon di sela-sela ciuman mereka yang semakin dalam.Sugiono lalu mengangkat tubuh Bu Dita dengan sisa tenaga yang dimilikinya. Meskipun tubuhnya tak sekekar para kuli bangunan lainnya yang terbiasa mengangkat sak semen berat sepanjang hari, pesona dan pengaruh en

  • Dukun Pijat Penarik Janda Desa    Bab 46

    Sugiono menatap wajah Bu Dita yang tampak kacau dan kelelahan. Ruang arsip yang berbau debu dan kertas lama itu terasa pengap, jauh dari kebisingan para tukang di luar."Jangan terlalu dipikirin sampai stres begini, Bu," kata Sugiono dengan nada bicara biasa.Pria paruh baya itu mengulurkan tangan, menyentuh pelan pipi Bu Dita. Kulit wanita itu terasa dingin. Bu Dita tidak menepis tangan Sugiono, melainkan membiarkannya begitu saja sambil memejamkan mata sesaat."Capek, Yono..." keluh Bu Dita dengan suara bergetar. "Setiap hari di rumah sendirian terus, suamiku malah sibuk urusan kerjaan di luar kota."Sugiono mendekatkan posisinya, berdiri semakin dekat dengan Bu Dita. "Kalau suami majikan tidak pernah peduli, kenapa masih diurusin terus? Buat apa tinggal di rumah besar tapi batin tersiksa?"Bu Dita membuka matanya, menatap ragu ke arah kuli bangunan di hadapannya. "Maksud kamu apa, Yono? Kamu nyuruh aku kabur?""Bukan kabur, cuma cari orang yang benar-benar bisa nemenin majikan kala

  • Dukun Pijat Penarik Janda Desa    Bab 45

    "Wujud aslimu seperti apa memangnya?" tanya Sugiono penasaran sambil menatap lekat-lekat kucing belang di dadanya. "Jangan-jangan wujud aslimu malah menyeramkan seperti dedemit penunggu pohon angker di dekat proyek."Dita mendengus kecil lewat gelombang pikiran. "Asal tahu saja, wujud asliku jauh lebih menggoda daripada sekadar nyonya besar perkebunan yang sedang stres itu. Kulitku putih mulus tanpa cacat, dan aku tahu persis cara memuaskan dahaga seorang pria sepertimu."Sugiono menelan ludah mendengar ucapan bernada menggoda tersebut. Bayangan tentang wanita-wanita cantik melintas sejenak di kepalanya, bersaing dengan ambisi kekayaan yang ditawarkan cincin retak di jari manisnya. "Tapi tujuan utamaku tetap Bu Dita. Kalau aku bisa mendapatkan hartanya sekaligus wanita itu, hidupku di ibu kota bakal aman tanpa harus capek mengaduk semen setiap hari.""Pilihan yang cerdas," balas Dita sambil melompat turun dari dada Sugiono, mendarat dengan mulus di atas lantai papan yang dingin. "Maka

  • Dukun Pijat Penarik Janda Desa    BAB 44

    Keesokan paginya, azan Subuh berkumandang dari musala kecil di ujung jalan perkampungan buruh. Samsul sudah lebih dulu keluar kamar, melangkah gontai menuju warung kelontong terdekat. Rokok merek Sampurna miliknya sudah habis sejak semalam, membuat tenggorokannya terasa gatal. Ia lebih menyukai rokok merek tersebut dibanding rokok Djarum milik Yono yang rasanya terlalu berat di dada. Mulutnya terasa hambar dan lepeh jika tidak menghirup asap tembakau di pagi hari, apalagi dinikmati bersama segelas kopi hitam pahit.Sementara di dalam kamar sempit, kucing belang penjelmaan makhluk gaib bernama Dita masih tertidur pulas di balik selimut tipis Yono. Posisi tidurnya meringkuk tepat di area selangkangan Yono, mencari sumber panas tubuh pria paruh baya tersebut. Meskipun sudah memiliki bulu yang lebat, hewan kecil itu merasa sangat kedinginan akibat sisa hawa lembap hujan semalam."Dita, bangunlah, Dita," bisik Yono sambil menepuk-nepuk pelan punggung kucing tersebut.Dita menggeliat malas,

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status