ANMELDENSetiap kali ibu jari Sugiono menekan saraf dada bagian samping, tubuh Bu Tejo menegang melengkung ke atas. Keringat bercucuran membasahi wajah dan lehernya. Puncak dadanya menegang jelas di balik balutan kain tipis penutup tersisa. Sugiono menyalurkan tenaga dalam jauh lebih besar, berniat menghancurkan gumpalan hitam gaib di ulu hati sampai tuntas lebur tak bersisa sedetik pun.
Tiba-tiba, Bu Tejo menjerit tertahan melengking nyaring. Mulutnya terbuka lebar mencari pasokan oksigen. Sejumput asap hitam pekat berbau anyir busuk keluar melesat dari rongga mulutnya, melayang ke udara sesaat lalu lenyap tertiup angin malam memasuki celah dinding bambu gubuk.
"Uhhh... Pakdehh..." Bu Tejo lemas tak berdaya. Tubuhnya ambruk sepenuhnya rata mencium anyaman tikar. Tarikan napasnya seketika terasa sangat ringan.
Sugiono menarik tangannya santai, menyeka keringat di dahi menggunakan secarik kain lap usang. "Sudah bersih total. Santet penutup jalan napasmu sudah hancur lebur kembali ke pengirim aslinya."
Bu Tejo membuka mata perlahan-lahan. Dia mencoba menarik napas dalam-dalam berulang kali tanpa henti. Udara segar masuk memenuhi paru-parunya bebas hambatan. Air mata haru menggenang menetes di pelupuk matanya.
"Ya Gusti, Pakde... Saya bisa napas lega lagi. Sakitnya beneran hilang lenyap!"
Sang janda saking senangnya refleks terbangun, menubruk memeluk lengan Sugiono erat-erat. Dadanya menempel menekan langsung di lengan sang dukun. Aroma parfum menusuk hidung Sugiono. Perasaan empuk menempel pasrah merapat di lengannya. Namun sang dukun sadar harus menjaga wibawa sakti mandraguna.
"Eh, sudah sembuh jangan pecicilan dulu," tegur Sugiono berdehem pelan, melepaskan pelukan Bu Tejo secara halus menjaga batas profesional. "Pakai bajumu lagi, Bu. Pengobatannya sudah selesai seratus persen."
Wajah Bu Tejo makin memerah tomat menyadari kelakuan spontannya memeluk tubuh pria asing. Dia buru-buru menyambar daster batiknya memakainya kembali menutupi aurat. Tangannya lalu merogoh ke dalam tas selempang kulit miliknya, mengeluarkan segepok uang seratus ribuan tebal sebanyak lima juta, menyodorkannya langsung ke pangkuan Sugiono tanpa keraguan.
"Ini buat Pakde. Jangan ditolak sedikit pun. Kalau kurang, besok saya bawakan beras sembako satu mobil pikap penuhi halaman depan!" ucap Bu Tejo penuh rasa syukur bercampur kagum luar biasa.
"Satu mobil pikap? Pakde cuma butuh beras buat makan sehari-hari, Bu Tejo. Nanti gubuk reyot Pakde rubuh tertimpa tumpukan beras karungan," balas Sugiono terkekeh pelan.
Bu Tejo tertawa renyah, suara tawanya terdengar sangat terlepas lega tak terbebani ancaman kematian mendadak lagi. Sugiono tersenyum tipis menerima lembaran rupiah merah menggiurkan.
"Terima kasih banyak. Kalau ada kenalan janda lain punya keluhan urat pegal atau masalah gaib menahun, suruh saja mampir berobat ke mari," promo sang dukun.
"Pasti, Pakde! Besok saya suruh ibu-ibu arisan pada berobat ke mari semua tanpa terkecuali! Saya berani jamin Pakde Yono dukun paling sakti sejagat desa!" janji Bu Tejo bersemangat sebelum pamit pulang berjalan lincah keluar gubuk membawa kelegaan tiada tara.
Saking senangnya, Bu Tejo kembali memeluk pria paruh baya di depannya erat-erat. Dadanya kembali menekan menempel rapat pada dada bidang Sugiono.
"Ya Gusti, cobaan apa ini...?" Sugiono menahan salivanya susah payah, agar tidak melewati batas.
Tangan Sugiono tertahan di udara, bimbang antara harus mendorong tubuh sintal sang janda, atau... membalas pelukannya.
Bu Tejo akhirnya melepaskan pelukannya. Ia sedikit tersipu malu, buru-buru pulang mengambil tasnya. "Makasih ya, Pakde... kalau begitu aku pamit dulu, pasti bakalan promosikan ke grup tetangga pijatan Pakde sangat nikmat."
"Inggih, matur nuwun, Bu Tejo," balas Sugiono.
Hari beranjak gelap gulita. Lampu teplok minyak tanah menyala redup menerangi meja kayu kusam.
Bayaran fantastis memuaskan untuk pengobatan kurang dari setengah jam. Belum genap sehari memegang cincin sakti, nasib malangnya langsung berubah drastis berbalik seratus delapan puluh derajat.
Sugiono menghitung lembaran uang bayaran sambil tersenyum puas. Belum genap sehari memegang cincin sakti itu, nasibnya terasa berbalik seratus delapan puluh derajat.
Namun, di tengah keasyikannya menghitung uang, udara di dalam gubuk mendadak berubah.
Hawa malam yang semula sejuk turun drastis menjadi sedingin es. Asap putih tipis mengepul dari mulut Mbah Sugiono setiap kali ia mengembuskan napas.
Angin di luar mendadak berhenti.
Tidak ada suara jangkrik.
Tidak ada suara dedaunan.
Tidak ada suara burung malam.
Hanya kesunyian yang terasa ganjil.
Mbah Sugiono perlahan menurunkan uang di tangannya.
Krak!
Kaca lampu teplok retak dengan sendirinya. Pria tua itu langsung menoleh.
Instingnya memberi peringatan keras.
Jari manisnya mendadak terasa panas menyengat.
Cincin akik hitam di jarinya memanas hebat. Untuk pertama kalinya sejak ditemukan di tepi sungai, benda itu terasa seperti sedang memperingatkan sesuatu.
Wajah Mbah Sugiono perlahan berubah serius.
Srrrttt...
Terdengar suara gesekan panjang dari luar gubuk. Seolah ada sesuatu yang sangat besar sedang menyeret tubuhnya di atas tanah.
Langkah kaki Sugiono terasa begitu berat namun pasti saat ia menaiki anak tangga besi menuju lantai dua rumah utama. Hasutan dari siluman kucing serta gejolak rasa penasarannya beradu baur di dalam dada. Mengabaikan akal sehat yang terus memperingatkan bahaya, ia kini berdiri tepat di depan pintu kamar pribadi Bu Rita.Di dalam ruangan berukuran luas itu, Bu Rita tengah duduk gelisah di kursi kerjanya. Wanita paruh baya tersebut sama sekali tidak fokus menatap layar komputer di hadapannya. Pikirannya masih kacau balau, terus-menerus terngiang dengan apa yang ia lakukan tadi siang di balkon—saat jemarinya menyentuh area pribadi sambil membayangkan sosok sang tukang kebun. Rasa malu dan gejolak nafsu yang belum sepenuhnya padam membuat dadanya bergemuruh hebat.Tok... tok... tok...Suara ketukan pintu yang pelan namun tegas membuat Rita terperanjat kaget dari lamunannya. Ia menoleh cepat ke arah pintu, lalu berdehem untuk menormalkan suaranya yang sedikit bergetar."Masuk, Yono! Kamu ke
Sugiono menarik napas panjang, mencoba menepis bayangan-bayangan liar yang sempat mengusik konsentrasinya selepas percakapan singkat dengan Asep di pos jaga. Ia kembali membungkukkan badan, melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda membersihkan hamparan daun bunga jambu yang berguguran di atas tanah basah akibat sisa hujan kemarin sore.Di tengah kesibukannya mengumpulkan dedaunan kering ke dalam sebuah keranjang bambu, langkah kaki seseorang terdengar mendekat dari arah pintu dapur belakang."Walah, Pakde... minum kopi dulu atuh, biar tidak terlalu lelah kerjanya," sapa suara ramah Siti sambil membawa sebuah cangkir keramik berisi kopi hitam mengepul.Sugiono mendongak, tersenyum kikuk seraya mengusap pelipisnya yang basah oleh keringat. "Eh, Mbak Siti... terlalu baik sekali. Saya bisa ambil sendiri ke belakang nanti kalau lagi pengen, malah merepotkan Mbak."Siti terkekeh kecil, menyodorkan cangkir tersebut ke tangan Sugiono. "Hehe, iya tidak apa-apa, Pakde. Biar badan tidak mas
Dita dalam wujud kucing siluman melompat ringan dari pagar pembatas balkon, mendarat tanpa suara di lantai atas. Ekornya bergoyang-goyang geli saat matanya menangkap siluet Bu Rita yang masih berdiri merem melek sambil mencengkeram daster tipisnya dengan napas tersengal."Bagus... sepertinya daya pemikat dari cincin gaib Sugiono mulai bekerja dengan sangat sempurna," cibir siluman kucing itu dalam hati, menyeringai licik lewat telepati. "Dengan begini, energiku akan segera pulih, dan aku bisa lebih mudah berubah wujud menjadi manusia seutuhnya!"Di balkon, Rita tiba-tiba tersentak hebat. Ia buru-buru melepaskan jari tangannya dari area lembah kewanitaannya, menarik napas panjang dengan mata terbelalak lebar."Ah... apa yang sudah aku lakukan?!" jerit Rita dalam hati, wajahnya langsung merona merah padam karena rasa malu yang luar biasa. "Mengapa aku bisa mendesah keenakan sambil menyebut-nyebut nama tukang kebun itu? Ya Tuhan... Rita, sadar dirimu! Kamu nyonya di rumah ini!"Dengan la
Sugiono menarik napas dalam-dalam, berusaha keras mengendalikan akal sehatnya yang hampir runtuh di atas lantai kamar mandi yang basah. Dengan gerakan cepat namun kaku, ia melepaskan cengkeramannya dari pergelangan tangan sang nyonya rumah. Ia segera memalingkan wajahnya ke sisi lain, menunduk untuk mengambil handuk putih Rita yang tergeletak di dekat genangan air."Bu Rita... ini handuknya. Saya keluar dulu," ucap Sugiono terbata-bata, menyodorkan handuk tersebut tanpa sedikit pun berani mengangkat kepalanya menatap tubuh setengah telanjang wanita di depannya.Rita terperanjat pelan, buru-buru menyambar handuk tersebut dari tangan Sugiono dan melilitkannya kembali dengan cepat ke dada untuk menutupi bagian tubuhnya yang terekspos."Yono... kamu..." panggil Rita dengan suara berbisik parau. Wanita itu reflek menahan pergelangan tangan Sugiono sebelum pria paruh baya itu sempat melangkah pergi.Saat kulit tangan mereka bersentuhan langsung, sebuah keanehan mendadak terjadi. Cincin gai
"Bu, jangan katakan itu, Bu. Nanti orang di luar bisa salah paham," ucap Sugiono setengah berbisik, mencoba meredam suara desahan dan obrolan mereka agar tidak terdengar sampai ke koridor luar kamar.Bu Rita hanya menyeringai lebar, menampakkan guratan usia di sudut matanya yang justru menambah daya tarik tersendiri. "Habisnya, pijatan tanganmu itu sangat enak sekali, Yono. Kenapa aku baru tahu ya, kalau ternyata kamu pandai memijat? Apakah sebelumnya di desamu kamu itu tukang urut?" tanya Bu Rita penasaran, memiringkan kepalanya sedikit untuk menatap wajah sang buruh kebun lebih dekat."Ya begitulah, Bu. Hanya mengurut biasa-biasa saja. Kalau ada warga yang kakinya terkilir, ya saya urut. Kalau tidak, ya saya cari makan, nyangkul sawah, sembarang saya kerja, Bu, serabutan apa saja," jawab Sugiono di sela-sela pijatannya yang kembali teratur menekan otot-otot bahu wanita di depannya.Mendengar kejujuran sederhana dari pria paruh baya itu, Bu Rita perlahan membalikkan posisi duduknya m
"Ah, Yono! Kebetulan sekali kamu ada di sini. Begini, saya mau luluran sekalian minta dipijat," kata Mama Dita, atau yang akrab disapa nyonya rumah oleh para pekerja, sambil tersenyum manis ke arah pria paruh baya di depannya.Wanita matang itu duduk merapatkan belahan dadanya di atas kursi empuk. Handuk putih yang membalut tubuhnya agak sedikit melorot ke bawah, memperlihatkan tonjolan kecil serta seluk-beluk bukit kembarnya yang masih tampak padat. Sugiono mengangguk kecil, menelan ludah dengan susah payah meredakan tenggorokan yang mendadak kering.Di dalam benaknya, sebuah pikiran liar melintas cepat. Apa Dita juga memberitahukan perihal siang panas saat kami saling berbagi lendir di atas tumpukan semen? Tapi tidak mungkin... mana ada orang waras yang mau mengakui hal gila semacam itu, batin Sugiono berperang dengan kecemasannya sendiri.Mama Dita melangkah maju, melambaikan tangannya tepat di depan mata Yono. Jari-jemari lentik wanita itu bergoyang-goyang lincah di hadapan wajah







