Se connecterSugiono menatap Gendis yang masih duduk dengan wajah memerah. "Tidak perlu malu, Nduk. Pakde sudah biasa mengobati wanita penderita penyakit bagian dadanya. Jalur darah tersumbat memang selalu bikin nyeri dan ngilu."
Gendis menggigit bibir bawahnya. "Tapi.... Bagian tengah dadaku biasanya memang suka nyeri kalau sedang datang bulan, Pakde. Kadang bengkak kemerahan terus terasa sakit."
Sugiono kembali duduk mendekat. "Sekarang buka bajumu. Pakde mau memijatnya sekalian biar peredaran darah lancar."
Ia membuka tutup botol minyak zaitun di samping kakinya, mulai mengusap cairan licin ke kedua telapak tangannya sendiri. Bunyi gesekan telapak tangan terdengar jelas memecah kesunyian gubuk bambu.
"Tapi, Pakde... apa tidak bisa hanya memakai baju saja? Aku masih malu," keluh Gendis ragu-ragu. Tangannya memegangi ujung bawah kaos putihnya erat-erat.
"Pakde tidak ada waktu buat berpikiran mesum," balas Sugiono tegas. "Kain menghalangi transfer hawa murni dari tenaga pengobatan Pakde. Kalau mau sembuh total, jangan setengah-setengah."
Mendengar nada tegas iparnya, Gendis menelan ludah. Ia membayangkan senyum puas Mas Ranto besok pagi. Dengan perlahan dan tangan sedikit gemetar, Gendis pun menarik kaos putihnya ke atas melewati kepala.
Kulit putihnya langsung terpapar udara malam. Bagian dadanya terlihat agak kemerahan akibat bengkak. Aset kembar Gendis tampak penuh, tegang, dan menunjukkan rasa perih jika tersentuh sembarangan. Gendis buru-buru menyilangkan kedua lengannya menutupi wajah karena menahan malu.
Sugiono menatap lurus ke depan. Ia mengambil segelas air putih dari kendi tanah liat di atas meja kecil, merapal mantra dengan suara bergumam sangat cepat. Bibirnya bergerak-gerak membaca rapalan kuno. Setelah mantranya selesai, ia mengambil seteguk air penuh.
Pyorrr!
Sugiono menyemburkan air dari mulutnya langsung mengenai dada Gendis.
"Ahhh!" rintih Gendis kaget. Sensasi dingin air berbenturan kasar dengan kulitnya yang memanas bengkak. Tetesan air mengalir perlahan melewati sela-sela belahan dadanya.
Sugiono mencondongkan badannya ke depan. Tangannya sudah berlumur minyak zaitun licin mengkilap. "Pakde mulai, ya."
Perlahan jari-jari besar Sugiono mulai memijat pinggiran sisi dadanya. Ia menekan secara ritmis memutar dari arah luar ke dalam garis urat. "Tahan ya, Nduk. Aliran darahmu kurang lancar di sini, makanya terjadi sumbatan tebal."
"Ahh... iya... euhmm... ahhh..." Tubuh Gendis menegang hebat membusungkan dada. Setiap kali tekanan keras dari tangan Sugiono datang, suara rintihan meluncur lepas dari bibir mungilnya.
Jari Sugiono bergerak makin ke bagian tengah, menyusuri area paling sensitif sarang saraf. "Ahhh... iya tepat di sana, Pakde... sakit... uhhh..."
Gendis berusaha menggigit bibir bawahnya kuat-kuat menahan lengkingan. Namun perlahan sensasi asing aneh menggantikan rasa sakit. Rasa nyeri berubah drastis menjadi sensasi kenikmatan yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Napas Gendis semakin memburu kencang tak beraturan. Kepalanya mendongak jauh ke belakang.
Tangan Sugiono terus bergerak memijat konstan tanpa jeda. Melihat ritme napas Gendis makin tidak terkontrol, Sugiono segera meraih gelas kendi tanah liat lagi. Ia mengambil seteguk besar air murni.
Pyorrr!
Sugiono menyemburkan kembali semburan air mengenai tepat ke dada Gendis. "Uhhh..." Gendis meringis merasakan sensasi air mengenai kulitnya yang memerah.
Sugiono kembali memasukkan beberapa lembar daun sirih ke dalam mulutnya lalu mengunyah sambil membaca mantra kuno. Gendis tersentak kaget membelalakkan mata. Hawa sedingin es langsung menabrak dan menetralkan hawa panas membakar dari cincin akik. Sensasi rileks seketika menjalar menyelimuti seluruh persendian tubuh Gendis.
Sugiono perlahan menarik kedua tangannya mundur. "Sudah selesai, Nduk. Ini hari pertama kamu dipijat," ucapnya santai. "Bilang sama Masmu untuk tidak main dulu malam ini. Biarkan proses pengobatannya meresap pulih sepenuhnya. Paling cepat besok malam baru boleh disentuh Ranto."
Gendis buru-buru meraih kaos putihnya dan memakainya kembali. Wajah cantiknya masih bersemu merah menahan malu. "Baik... Baik, Pakde," jawabnya terbata-bata.
Ia menyodorkan dua bungkus rokok Sampoerna. "Ini, Pakde. Mas Ranto sendiri yang menyuruh."
Sugiono tersenyum lebar. "Ya sudah. Hati-hati langkahmu di jalan gelap. Ingat pesanku tadi."
Gendis mengangguk pamit. Senter kuning menerangi jalan setapak gelap. Malam harinya, Gendis tidur lebih nyenyak daripada biasanya.
Keesokan paginya, ia bangun dengan tubuh yang terasa jauh lebih ringan. Gendis sudah sibuk di dapur, menggoreng tempe, menyapu lantai—gerakannya lincah seperti tidak pernah sakit. Ranto yang sedang ngopi di meja makan cuma bisa geleng-geleng kepala.
"Semalam baru dipijat, pagi ini kamu udah pecicilan lagi," puji Ranto.
"Makanya, Mas. Nanti kalau lewat warung, belikan Pakde Yono rokok," balas Gendis sambil meletakkan sepiring tempe panas.
Setengah jam kemudian, Ranto sudah nongkrong di warung kopi. "Asli, Kang Maman. Istriku sembuh total," ujarnya sambil menepuk paha tetangganya. "Padahal berbulan-bulan uratnya kejepit. Kemarin dibawa ke gubuk Pakde Yono, dipijat bentar, langsung lentur badannya."
Tanpa disadari Ranto, Bu Tejo—janda pemilik toko sembako, mendengar obrolan dari balik rak. Dadanya seketika berdegup kencang. Sudah tiga bulan ia sesak napas setiap malam Jumat, dan dokter bilang paru-parunya bersih.
"To, beneran omonganmu barusan?" tanya Bu Tejo penuh harap. "Kakak iparmu bisa ngobatin penyakit urat?"
"Beneran, Bu. Coba aja datang ke gubuknya. Orang bilang sih Pakde Yono punya tenaga dalam."
Bu Tejo tidak banyak mikir lagi. "Kang Parman! Ojek!" panggilnya melengking. "Ke gubuk pinggir hutan, Kang. Tempat Pakde Yono. Buruan, ulu hatiku sesak banget!"
Mendengar kata 'dada sesak' dari mulut janda paling semlohay sejagat desa, jakun Kang Parman kontan naik turun. Motor ojek segera melaju membelah jalanan desa menuju gubuk bambu pinggir hutan.
Ranto dan Gendis sampai di batas desa saat matahari hampir tenggelam. Pakaian mereka kotor penuh tanah dan luka gores. Warga desa berkumpul di depan balai desa, menatap mereka dengan wajah cemas."Gendis? Ranto? Ke mana Sugiono?" tanya Pak Kades sambil mendekat.Ranto menghela napas panjang. Ia menatap tanah. "Sugiono sudah tiada, Pak. Gua di kaki gunung runtuh saat kami terjebak di dalam. Dia mendorong kami keluar sebelum batu-batu besar menimpa tubuhnya."Warga desa berbisik-bisik. "Jadi dia benar-benar mati?""Saya melihat sendiri tubuhnya tertimbun reruntuhan," jawab Ranto datar.Gendis hanya diam. Tangannya gemetar saat memegang ujung baju Ranto. Ia menolak menatap mata orang-orang desa.Di sisi lain desa, Bu Tejo duduk di depan cermin. Ia memperhatikan wajahnya yang mulai keriput kembali. Kulitnya tidak lagi kencang seperti saat ritual. Ia menyentuh area dadanya. Bagian puting susunya terasa berdenyut nyeri, seolah ada aliran listrik yang enggan pergi sepenuhnya dari sana."Kena
Sugiono berhenti di depan mulut gua yang tertutup semak duri. Udara dingin keluar dari lubang gelap, membuat napas mereka berembun. Gendis dan Bu Tejo gemetar di belakang, menatap kegelapan."Sampai," ucap Sugiono. Cincin di jarinya bercahaya redup."Tempat apa?" tanya Bu Tejo."Asal kekuatanku. Masuk," perintah Sugiono.Gendis melangkah lebih dulu. Pintu gua tertutup dengan suara keras. Mereka terjebak dalam kegelapan. Ukiran dinding menyala saat Sugiono mendekat."Siapa berani membawa manusia ke sini?" suara berat menggema.Sosok tinggi bersisik muncul dari balik batu besar. Baunya busuk. Sugiono maju menantang sosok tersebut."Aku membawa mereka. Cincin ini butuh tumbal untuk membuka segel terakhir," jawab Sugiono.Sosok itu tertawa. "Tumbal? Kamu sanggup memberi apa yang diinginkan cincin? Dia haus jiwa, bukan daging.""Ambil kalau bisa," tantang Sugiono.Mbah Karto muncul dari balik semak di luar gua. Ia memegang tongkat kayu melengkung. "Bagus. Biarkan makhluk menghabisimu, lal
Matahari terbit, namun udara hutan terasa lembap dan dingin. Ranto meludah ke tanah memastikan gubukny kosong. Ia meremas parangnya hingga buku jarinya memutih. Di belakangnya.Pak Kades berdiri dengan wajah pucat, menyeka keringat dingin di dahinya."Kosong. Semuanya hilang, Ranto," gumam Pak Kades dengan suara bergetar.Ranto mendekat ke bekas lincak bambu yang sudah hancur. Ia menemukan secarik kain daster milik Gendis yang terselip di celah papan. "Istriku diculik, Pak Kades. Sugiono membawa mereka ke hutan. Kita harus mengejar sekarang sebelum mereka jauh.""Jangan gila, Ranto! Lihat bekas-bekas aneh di lantai tanah ini. Ini bukan pekerjaan manusia biasa. Aku tidak mau mati konyol," balas Pak Kades sambil menunjuk jejak kaki yang berhenti tiba-tiba di tengah ruangan."Terserah Bapak. Saya akan cari istri saya sendiri!" Ranto melangkah keluar gubuk tanpa menoleh. Ia masuk ke semak-semak hutan, mengikuti jejak ranting yang patah.Sementara itu, di kedalaman hutan jati, Sugiono ber
Warga desa berdiri diam di dalam gubuk yang kosong. Ranto menyisir setiap sudut ruangan, namun hanya mendapati lantai tanah yang rata. Tidak ada jejak kaki, tidak ada bekas darah ayam, dan tidak ada peralatan pijat.Pak Kades mengarahkan obor ke sudut ruangan. "Ranto, apa kamu yakin mendengar jeritan dari sini?""Sangat yakin, Pak Kades. Bu Tejo masuk ke sini membawa ayam hitam. Saya melihatnya sendiri," jawab Ranto dengan nada frustrasi. Ia mengayunkan parang ke dinding bambu, tapi hanya mengenai udara kosong.Suasana menjadi sunyi. Tidak ada suara serangga malam atau gesekan daun jati di luar gubuk. Warga yang berdiri di depan pintu mundur perlahan. Mereka merasakan hawa dingin menusuk kulit.Dari arah belakang, terdengar suara tawa pelan. Suara itu terdengar dari segala arah. Ranto berbalik, menatap tajam ke arah kegelapan hutan."Keluar kamu, Pakde! Jangan jadi pengecut!" teriak Ranto.Warga desa melihat bayangan hitam bergerak di antara pohon jati. Bayangan itu menyerupai sosok m
Bu Tejo berlari kecil menyusuri jalan setapak menuju pasar desa tetangga. Di tangan kanannya, ia memegang erat keranjang bambu berisi seekor ayam cemani hitam legam. Bulu, paruh, hingga matanya berwarna hitam pekat. Ia menghabiskan banyak uang mendapatkan ayam ini, namun pikirannya hanya tertuju pada janji Sugiono. Ia ingin tubuhnya kembali kencang seperti Lisa dan Gendis.Sementara itu, Ranto berdiri di depan rumah Pak Kades. Wajahnya tegang. Ia melihat Bu Tejo melintas dengan keranjang mencurigakan ke arah gubuk Sugiono."Pak Kades, lihat sendiri. Bu Tejo saja sudah terjebak ilmu sesat Pakde. Kalau dibiarkan, gubuk itu akan menghancurkan desa kita," ujar Ranto dengan napas memburu.Pak Kades Suryo mengangguk setuju. Ia sudah gerah dengan kabar miring mengenai gubuk di pinggir hutan tersebut. "Kumpulkan warga sekarang. Kita gerebek gubuk itu malam ini juga. Pastikan semua membawa obor dan senjata untuk jaga-jaga."Di dalam gubuk, Sugiono sibuk mempersiapkan ruangan. Ia menyalakan du
Sugiono menekan titik saraf di punggung Lisa. Lisa mengerang panjang. Napasnya terengah. Setiap sentuhan tangan Sugiono terasa panas membakar kulitnya. Lisa merasa aliran darahnya berdenyut cepat mengikuti ritme tangan Sugiono."Ah, Pakde... lebih keras lagi. Rasanya... nikmat sekali," rintih Lisa.Sugiono tetap fokus. Ia menyalurkan energi dari cincin hitam ke jemarinya. Ia menekan titik di bahu hingga pinggang Lisa. Lisa semakin mendesah keras. Tubuhnya melengkung, merespons setiap tekanan dengan gairah yang tidak tertahankan. Keringat membasahi tubuh Lisa. Tidak ada lagi rasa pegal di otot-ototnya.Sesi pijat berakhir setelah tiga puluh menit. Lisa bangkit perlahan. Ia menyentuh kulit lengannya sendiri. Teksturnya terasa kencang dan halus. Kerutan di sudut matanya menghilang. Ia merasa napasnya lebih ringan. Langkah kakinya terasa jauh lebih enteng daripada saat ia datang tadi. Lisa merasa tubuhnya berubah menjadi jauh lebih muda."Pakde, ini luar biasa," ucap Lisa sambil menatap c







