Partager

Bab 58

Auteur: NamNamjoo
last update Date de publication: 2026-08-03 00:07:22

Matahari pagi menyinari halaman samping rumah yang dipenuhi pohon jambu. Sugiono memegang gunting tanaman, sibuk merapikan dahan liar. Siti berjalan mendekat membawa mug keramik berisi kopi hangat.

"Nyonya sangat suka mengoleksi pohon jambu, jadinya ya begitulah, Pakde. Kalau lelah, istirahat saja," kata Siti sambil menyerahkan kopi. "Ngomong-ngomong, Pakde asalnya dari kampung mana? Sepertinya bukan orang asli Jakarta."

"Saya merantau dari desa Wakanda, desa terpencil di Jawa Tengah," jawab Su
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Dernier chapitre

  • Dukun Pijat Penarik Janda Desa    Bab 59

    "Ada apa? Kamu memanggilku, Dita? Aku kan sudah berapa kali bilang, kalau aku hanya pulang sekali dalam setahun! Aku sedang banyak pekerjaan, kamu ini pikirannya selalu kemana-mana!" bentak Bayu dengan nada tinggi, melemparkan ponselnya ke atas meja tamu.Dita mengerjap, menatap suaminya dengan dada bergemuruh. "Kamu selalu bertanya kapan aku pulang, aku dengan siapa... Tentu saja aku bersama sekretarisku! Itupun hanya membahas pekerjaan...!"Bayu mendengus kesal karena terus dicecar pertanyaan, sementara ponsel di sakunya kembali berdering nyaring beberapa kali dalam sehari."Mas, apa kamu tidak mulai memikirkan untuk rumah tangga kita?" suara Dita melemah, matanya berkaca-kaca menatap pria di depannya. "Kita sudah cukup banyak uang untuk memperoleh kehidupan kita, kalau memang kita mencukupinya. Lagian aku sudah lebih dari cukup dengan uang yang kamu berikan selama ini."Bayu mendecak pinggang, menatap tajam istrinya. "Dita, ini bukan hanya perkara uang! Ini masalah tanggung jawab.

  • Dukun Pijat Penarik Janda Desa    Bab 58

    Matahari pagi menyinari halaman samping rumah yang dipenuhi pohon jambu. Sugiono memegang gunting tanaman, sibuk merapikan dahan liar. Siti berjalan mendekat membawa mug keramik berisi kopi hangat."Nyonya sangat suka mengoleksi pohon jambu, jadinya ya begitulah, Pakde. Kalau lelah, istirahat saja," kata Siti sambil menyerahkan kopi. "Ngomong-ngomong, Pakde asalnya dari kampung mana? Sepertinya bukan orang asli Jakarta.""Saya merantau dari desa Wakanda, desa terpencil di Jawa Tengah," jawab Sugiono singkat.Siti tersenyum malu-malu, matanya melirik memperhatikan postur tubuh Sugiono yang padat dan berisi di balik celana kainnya. "Walah, pantas saja. Kalau cari rezeki memang harus siap kerja apa saja."Bipp... Bipp...!Suara klakson mobil meraung keras dari arah gerbang depan."Dari tadi saya klakson, kenapa pagarnya tidak dibuka? Kamu ini sudah lama bekerja di sini, Ujang!" bentak suara seorang pria dari dalam mobil.Ujang berlari tergopoh-gopoh membuka pagar. "Maaf, Tuan... Saya tad

  • Dukun Pijat Penarik Janda Desa    Bab 57

    "Yono, apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Dita cemas. Tatapannya tertumbuk pada tas ransel kosong dan kerangkeng besi di tangan Sugiono.Sugiono menunduk, merapikan tali ransel di bahu. "Aku sudah dipecat dari proyek pembangunan, Bu Dita."Ibu Dita yang berdiri di samping putrinya langsung mendelik kaget, sebelah tangan menutup mulut. "Astaga! Siapa yang berani memecatmu...?""Ceritanya panjang, Bu. Kalau begitu, karena sudah tidak ada barang yang mau diangkat, saya pamit permisi dulu mau cari jalan," jawab Sugiono datar, berniat segera melangkah pergi menghindari kerumitan."Eh, jangan pergi dulu!" cegah Ibu Dita cepat, menahan lengan putrinya. "Dita, kamu ajak Pakde ini untuk ikut bersama kita di rumah saja. Kasihan, loh, sudah jam segini tapi dia malah mau pergi entah ke mana."Dita mengangguk cepat, mendukung penuh usul sang ibu. "Betul kata Mama, Yono. Sebaiknya kamu ikut kami masuk ke mobil belakang, ambil alih juga kerangkeng besi mu itu. Kucing belang, kucingmu kan?""Iya,

  • Dukun Pijat Penarik Janda Desa    Bab 56

    Wanita berambut kecoklatan itu menghentikan usaha sejenak. Ia menegakkan punggung yang terasa pegal, lalu merosotkan sedikit kacamata minus yang bertengger di hidung pesek. Mengamati penampilan Sugiono dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan tatapan menyelidik. Perut wanita itu tampak sedikit buncit di balik balutan blus kerja, sementara bibir yang merona merah.Wanita itu melihat perawakan Sugiono yang kurus kering, pakaian kerja yang sudah kusut berdebu semen, serta kerangkeng besi berisi kucing yang diletakkan tidak jauh dari sana."Loh, memangnya Pakde bisa? Saya ragu kalau Pakde mau mengangkat koper ini. Berat sekali isi koper, penuh dengan buku laporan dan dokumen kantor," kata wanita itu dengan nada sangsi. "Tapi memang kebetulan, saya sedang mencari orang buat ngangkat barang karena troli di stasiun tadi penuh semua.""Tentu saja bisa, Bu. Saya masih kuat mengangkat koper. Jangan lihat dari luar saja. Otot saya masih sanggup membawa beban berat seperti ini," ujar Sugiono

  • Dukun Pijat Penarik Janda Desa    Bab 55

    Perampok bertato yang memegang celurit itu melangkah menyusuri lorong bus, merampas dompet dari tangan para penumpang secara paksa. Begitu tiba di deretan kursi Sugiono, ia melihat buruh paruh baya itu duduk dengan tenang tanpa menyerahkan apa pun."Heh, kakek tua! Tuli ya? Dompet dan tasmu, serahkan cepat sebelum kusebelah lehermu!" bentak sang perampok sambil mengarahkan ujung celuritnya ke depan wajah Sugiono.Sugiono mendengus pelan sambil mengusap hidungnya dengan sebelah tangan, sementara tangan satunya tetap memegang kerangkeng besi Dita."Majulah," tantang Sugiono datar.Melihat perawakan Sugiono yang terlihat tua dan ringkih, perampok itu tertawa meremehkan. Ia menganggap ucapan buruh itu sebagai bentuk keputusasaan."Wah, cari mati rupanya si kakek tua ini!" geram sang perampok. Ia melayangkan tendangan keras mengarah ke dada Sugiono.Namun, sebelum sepatu bot perampok itu menyentuh sasaran, kaki Sugiono bergerak cepat. Dengan tenaga dari cincin di jarinya, kaki Sugiono meng

  • Dukun Pijat Penarik Janda Desa    Bab 54

    "Hei, jangan hanya menyuap kepala lele itu ke mulutmu! Daging bagian punggung yang empuk untukku, ingat perjanjian kita," protes Dita dari dalam kerangkeng besi dengan suara berbisik tajam.Sugiono mendengus pelan, memisahkan bagian daging lele yang bersih lalu menyarungkannya ke sela-sela jeruji besi menggunakan lidi sate. "Makan saja yang banyak biar tenagamu pulih. Jangan banyak protes kalau tidak mau kutinggal di pinggir jalan."Dita menyambar potongan ikan itu dengan gerigi taringnya yang menyamar, menggerutu pelan sambil mengunyah makanan. "Awas saja kalau kita sudah sampai di tempat tujuan. Akan kuubah wujudmu jadi kodok sawah karena sudah memperlakukan siluman sepertiku begini!"Abang penjual pecel lele yang kembali datang membawakan es teh manis melirik sekilas ke arah kerangkeng, lalu tersenyum maklum melihat Sugiono seolah sedang menanggapi gerutuan kucingnya sendiri."Silakan diminum es tehnya, Pakde. Maklum ya, kucingnya aktif banget dari tadi malam," ujar si abang penjua

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status