LOGINBus antarkota akhirnya berhenti di tepi jalan utama. Sugiono turun membawa ransel berat berisi uang tunai, melangkah menyusuri jalan setapak hingga tiba di depan pos kamling pertigaan Desa Wakanda."Sepi sekali, tidak biasanya," gumam Sugiono. Suasana desanya mendadak terasa senyap, bahkan lebih mirip desa mati tanpa kehidupan.Sugiono memutuskan berjalan kaki melewati pematang sawah untuk mengambil jalan pintas menuju kampung. Di dekat sebuah warung kelontong kecil, seorang wanita paruh baya bernama Bu Tejo sedang duduk bersama pemilik warung. Begitu melihat sosok yang melintas, mata Bu Tejo membelalak lebar."Pa... Pakde!!!" teriak Bu Tejo terkejut setengah mati.Wanita paruh baya itu langsung berdiri dari kursinya. "Pakde! Ini beneran kamu masih hidup?!" tanyanya tak percaya.Mbak Ningsih, pemilik warung campuran di sebelahnya, ikut keluar menimpali sambil mengamati lekat-lekat. "Iya, sepertinya ini Pakde Yono... tapi yo kok beda, yo? Kayak... apa, ya..."Sugiono berhenti melangkah
Suasana di kamar VVIP perlahan kembali tenang setelah malam panjang yang melelahkan. Sugiono merapikan pakaiannya, sementara ketiga wanita cantik itu tersenyum puas di atas sofa.Tidak lama kemudian, pintu kamar terbuka. Danu melangkah masuk membawa sebuah amplop putih berisi selembar kertas berharga. Pemuda itu langsung menghampiri sang dukun sakti dengan raut wajah penuh rasa hormat."Pak Sugiono, saya tidak tahu harus berterima kasih dengan jumlah nominal berapa. Bapak sudah banyak menyelamatkan keluarga kami, terimalah cek ini," ucap Danu sambil menyerahkan amplop tersebut.Sugiono menerima amplop itu, lalu membuka lipatan kertas di dalamnya. Ia terkejut bukan main saat melihat angka tertera, namun ia berusaha tetap memasang ekspresi netral di wajahnya. "Tapi... ini rasanya terlalu banyak, Danu," kata Sugiono pelan."Ambillah, Pak. Bawa ke bank dan cairkan ceknya sekarang juga," ujar Danu mantap. "Nyawa saya dan calon anak saya jauh lebih berharga daripada nominal uang di kertas i
"Selamat malam, Tuan," sapa gadis berambut panjang, suaranya mendayu merdu. Ia langsung mempersilahkan Sugiono duduk di sofa berbentuk huruf L di tengah ruangan VVIP yang mewah.Sugiono mengerjap kaget, sedikit canggung berdiri di hadapan tiga wanita bergaun seksi. "Panggil Pakde saja, Nduk, tidak enak, hehe," ucap Sugiono. Matanya tak berkedip melihat ketiga gadis cantik di hadapannya dengan pakaian terbuka."Hmm, iya, Pakde..." jawab gadis berambut pendek sambil tersenyum genit. Tanpa menunggu lama, ia mulai naik ke atas paha Sugiono, lalu meraba dada bidang sang dukun sakti secara agresif.Sugiono tersenyum lebar melihat dua melon indah menggantung di hadapannya dari balik balutan gaun tipis. Tangannya reflek merangkul pinggang ramping gadis itu."Nduk, punyamu sangat bulat sempurna," puji Sugiono tanpa disaring.Gadis berambut pendek terkikik manja, sengaja mendesakkan tubuhnya semakin rapat. Sementara itu, wanita bergaun hijau lumut bergerak cepat di samping kursi, perlahan melep
Malam Minggu tiba. Gedung Klub Royale langsung disesaki ratusan pengunjung yang datang berdesakan demi menikmati akhir pekan. Lampu laser warna-warni berpendar liar di udara, berpadu dengan dentuman musik dugem yang menghentak kencang hingga membuat lantai ikut bergetar.Di ruang kontrol utama, Danu berdiri gelisah sambil terus memandangi layar monitor CCTV. Keringat dingin membasahi pelipisnya meski ruangan ber-AC terasa dingin menusuk tulang."Pak Sugiono, jam sepuluh lewat pas. Biasanya paman saya mulai melancarkan aksinya di jam-jam rawan seperti ini," ucap Danu dengan suara cemas.Sugiono duduk tenang di sofa sudut ruangan. Ia menyesap kopi hitam pekat tanpa gula dari cangkir keramik, lalu menaruhnya perlahan di atas meja kaca."Tenang saja, Danu. Biarkan mereka beraksi sepuasnya," jawab Sugiono datar.Yono, dukun tua bau tanah di seberang sana sudah mulai membakar kemenyan hitam. Hantaman energi negatifnya mulai merayap naik ke dinding luar klub! bisik suara Dita memperingatkan
Sugiono menerima nampan berisi empat gelas air garam dari tangan Anton. Matanya menatap tajam ke setiap sudut ruangan bar yang mulai temaram karena cahaya sore meredup dari balik jendela kaca besar."Anton, ikuti saya bawa dua gelas ke bagian belakang dekat ruang karaoke. Danu, kamu tunggu di sini pegang sisa dua gelas," perintah Sugiono tenang."Baik, Pak," jawab Anton sigap melangkah mendahului.Mereka menyusuri lorong panjang berkarpet tebal. Suasana di dalam gedung terasa senyap setelah kepergian Bagas tadi. Sugiono berjalan pelan, membaca mantra penutup di setiap langkah kaki.Yono, pasang gelas ketiga di dekat jalur ventilasi udara utama. Lewat situ kotoran gaib biasa masuk menyebar ke seluruh ruangan, bisik Dita memberikan arahan akurat dari alam tak kasat mata.Sugiono mengangguk kecil. Ia berbelok ke arah lorong ventilasi, lalu meletakkan gelas berisi air garam tepat di bawah jeruji besi dinding. Air di dalam gelas seketika berubah warna menjadi keruh kehitaman, bereaksi lang
Pojok ruangan kafe bernuansa remang tampak sepi pengunjung. Sugiono duduk menyilang kaki, menyesap kopi hitam tanpa gula di cangkir keramik.Tidak lama berselang, Danu bersama Maya melangkah masuk tergesa-gesa. Wajah kedua remaja menyiratkan kepanikan mendalam, terutama Maya memegang erat tas selempang. Mereka langsung menarik kursi, duduk berhadapan dengan Sugiono."Bapak panggil kami kemari malam-malam begini, ada apa sebenarnya?" tanya Danu langsung pada inti persoalan, napas pemuda terdengar tersengal.Sugiono meletakkan cangkir kopi secara perlahan. Pandangan mata menatap tajam ke arah Danu serta Maya secara bergantian."Dukun bayaran kemarin mengirim kutukan maut ke tubuh Maya sudah kuberikan pelajaran setimpal," ucap Sugiono datar.Maya terperanjat kaget, sebelah tangan spontan memegang perut rata. "Jadi... benar-benar ada orang berniat mencelakai kandungan saya?""Benar," jawab Sugiono tegas. "Kalau dukun di depanmu tidak sigap mematahkan mantra, nyawa kalian berdua mungkin me






