Partager

Bab 40

Auteur: Just Mommy
last update Date de publication: 2026-10-18 15:21:00

Selesai mandi dan berganti pakaian, wanita itu melangkah menuju dapur. Ia mulai menyiapkan bahan-bahan segar untuk memasak menu favorit suaminya.

Reno yang sedang duduk di ruang tamu seketika mengendus aroma lezat tersebut. Semangatnya membuncah karena sudah beberapa hari perutnya merindukan masakan sang istri.

‘Duh! Akhirnya bisa makan enak lagi. Bahaya banget, sih. Kalau udah biasa makan masakan dia, rasanya masakan orang lain gak ada yang enak,’ batin pria itu.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Dernier chapitre

  • Dulu Ditendang Mantan, Kini jadi Istri Jutawan   Bab 76

    Raut wajah Dewa seketika berubah pekat bagaikan langit yang tertutup awan hitam. Rahangnya mengeras kaku. Urat-urat di leher serta tangannya menegang saat menyaksikan tawa renyah Clove di layar monitor CCTV.Matanya menyipit tajam, memperhatikan jemari Bima yang sempat menyentuh dan mengacak rambut Clove dengan santai. Nyala api cemburu membakar seluruh kesadaran dan rasionalitas sang Presdir hingga berada di titik didih.“Sialan!”Dewa menghempaskan pena mahal di tangannya ke lantai hingga terbelah dua.Pria itu menekan tombol intercom dengan ketukan keras. "Liam! Masuk ke ruangan saya sekarang juga!" perintahnya dengan suara bariton yang bergema penuh amarah membunuh.Di luar ruangan, Liam yang sedang mengetik laporan seketika meloncat dari kursinya. Mendengar nada suara sang bos yang sudah berada di puncak murka, ia buru-buru berlari dan memutar knop pintu ruangan tersebut.

  • Dulu Ditendang Mantan, Kini jadi Istri Jutawan   Bab 75

    Clove menghentikan dorongan trolinya sejenak. Ia menoleh dan menatap kedua staf itu dengan wajah yang santai dan tenang. Sama sekali tidak terpancing emosi.Dia menyunggingkan senyum tipis yang terkesan meremehkan. "Kalau Mbak-Mbak penasaran kenapa Pak Dewa butuh makanan lagi jam segini, kenapa tidak tanyakan langsung saja pada beliau di lantai atas?"Kedua staf wanita itu seketika bungkam, wajah mereka berubah agak canggung.Clove menaikkan satu alisnya, melanjutkan dengan nada dingin. "Kebetulan ini pesanan langsung dari Pak Dewa. Kalau Mbak merasa keberatan atau menganggap ini cuma ajang cari muka, silakan naik ke ruang Presdir dan protes langsung pada beliau. Permisi!"Tanpa menunggu balasan dari mereka, Clove melangkah masuk ke dalam kabin lift khusus yang pintunya baru saja terbuka, lalu menekan tombol lantai teratas.Pintu lift tertutup rapat, meninggalkan kedua staf kantin yang berdiri mematung di luar dengan wajah merah padam ditelan kekesalan."Ih! Sombong banget!" maki st

  • Dulu Ditendang Mantan, Kini jadi Istri Jutawan   Bab 74

    Ancaman itu membuat Clove makin panik. Jika Dewa sampai turun tangan langsung menemui Reno, ia yakin situasi akan berubah menjadi kekacauan besar."Jangan! Tidak perlu!" tolak wanita itu cepat seraya menggeleng tegas. "Masih ada beberapa hal yang harus saya selesaikan sendiri dengan Reno. Saya sudah punya rencana!"Dewa merengut kesal, menyilangkan tangannya di depan dada dengan ketidaksabaran yang meluap. "Rencana apa lagi?! Kamu tidak perlu memikirkan harta gono-gini atau sisa peninggalan yang tidak seberapa itu! Semua kerugianmu bisa saya ganti sepuluh kali lipat detik ini juga!"Kekesalan Clove yang menumpuk akhirnya meledak. Ia jengkel setengah mati dengan kebiasaan Dewa yang selalu mengukur segala hal menggunakan lembaran uang."Tidak semua hal di dunia ini bisa dibeli dengan uang Anda!" sergah Clove berani, menatap tajam ke mata Dewa. "Ada salah satu buku resep rahasia peninggalan mendiang Papa ya

  • Dulu Ditendang Mantan, Kini jadi Istri Jutawan   Bab 73

    "Menunjukkan apa, Pak?" tanya Clove sambil menautkan alisnya."Nanti," sahut Dewa pendek dengan senyum tipis yang sukar diartikan. "Selesaikan makanmu dulu!"Clove mendengkus pelan seraya cemberut. "Kalau belum mau memberi tahu, tidak usah memancing penasaran, Pak.""Makan saja, Love. Jangan banyak protes!" balas Dewa tenang.Dewa mengusap bibirnya menggunakan serbet kain untuk terakhir kalinya. Ia langsung berdiri dari kursi. Tanpa mengucap sepatah kata pun, pria itu melangkah menuju meja kerjanya. Clove yang masih menahan rasa penasaran itu menatapnya.Dewa meraih sebuah stopmap tebal bernuansa merah tua dari atas meja. Ia pun kembali dan menyerahkannya pada wanita itu.Clove mengerutkan dahinya bingung. "Ini surat apa, Pak?"Dewa menyandarkan pinggulnya di tepi meja seraya melipat kedua tangannya di depan dada. Senyum yang tipis terukir di bibirnya."Selamat," ujar pria itu dengan nada suara berat nan tenang. "Sekarang kamu sudah resmi menjadi janda."Clove seketika membelalakkan

  • Dulu Ditendang Mantan, Kini jadi Istri Jutawan   Bab 72

    Monica berdiri mematung di depan lift dengan wajah memerah padam. Dia mengepalkan jemarinya erat sebelum akhirnya berbalik dan melangkah pergi dengan hentakan kaki penuh rasa malu yang membakar. "Gila, Bu Monica dibentak habis-habisan di depan umum!" bisik seorang staf keuangan seraya membelalakkan mata tak percaya. "Iya! Padahal Bu Monica itu direksi yang paling ditakuti di gedung ini," timpal karyawan lainnya dengan nada takjub bercampur puas. Namun, fokus perbincangan itu dengan cepat mengarah pada sosok Clove. Spekulasi liar yang semula hanya berembus samar di antara koki kantin kini menyebar luas ke seluruh penjuru kantor. "Tapi chef pribadi itu beneran bukan orang sembarangan, deh," cibir seorang wanita bersetelan kerja ketat di salah satu meja. "Mana ada chef yang troli makanannya didorongin langsung sama Bos besar?!" "Iya, jangankan dorong troli, Pak Dewa nyapa staf biasa aja hampir gak pernah! Ada yang gak beres, nih. Gak mungkin hubungan mereka cuma sebatas

  • Dulu Ditendang Mantan, Kini jadi Istri Jutawan   Bab 71

    Pintu lift khusus terbuka perlahan saat tiba di lantai tiga. Namun, pemandangan pertama yang menyapa indra penglihatan Dewa bukannya aroma makanan hangat atau suasana tenang, melainkan suara perdebatan yang bising.Pria itu melangkah keluar dan mendapati Clove sedang berdiri menahan dorongan trolinya, dihambat oleh Monica yang bersedekap angkuh di depan pintu.Aura di sekitar Dewa seketika turun hingga ke titik beku. Matanya menyipit tajam, memperlihatkan kekesalan yang luar biasa."Ada apa ini?" suara bariton pria itu menggelegar rendah. Namun sanggup membekukan lorong tersebut.Monica yang mendengar suara dingin itu seketika berbalik. Wajahnya yang semula galak mendadak berubah menjadi penuh senyuman ramah dan rasa bangga.Ia mengira baru saja melakukan tindakan yang sangat berjasa bagi pimpinannya."Ah, Pak Dewa!" ucap Monica manis, melangkah mendekati Dewa. "Baguslah Bapak turun. Saya sedang menertibkan wanita ini."Dewa menatap Monica dengan pendar mata yang sangat dingin. "Men

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status