LOGINDia menepuk bahu suaminya pelan sebelum berbalik pergi. "Jangan lupa cuci piringnya sampai bersih ya, Mas. Aku mau ke kamar dulu."
Reno mematung di meja makan dengan wajah merah padam ditelan rasa kesal dan tak berdaya, terpaksa menatap tumpukan piring kotor di hadapannya.Pria itu tidak bisa berkutik sama sekali. Lidahnya terasa kelu untuk membalas ancaman telak istrinya.‘Sialan! Kenapa jadi begini, sih?’ keluhnya dalam hati.Selesai makan, pria yFara memegangi kepalanya yang mendadak pening. Ia menatap Reno dengan pandangan memohon.Namun pria itu justru membuang muka dan pura-pura sibuk membilas piringnya kembali."Kamu bener-bener gila, Mbak!" keluh Fara frustrasi seraya menyambar kain pel manual itu dengan kasar. "Awas kamu, ya!"Fara berbalik dan menghentakkan kakinya keras-keras menuju ruang tengah dengan wajah merah padam. Clove tersenyum sangat puas dalam hati. Menikmati pemandangan suami dan selingkuhannya yang sedang tersiksa oleh aturan barunya.Siang harinya, suasana di penthouse mewah bernuansa gelap itu terasa hening. Clove baru saja menyelesaikan masakan untuk hidangan makan siang.Kini, giliran wanita itu yang harus mempersiapkan mentalnya. Ia tahu betul sebentar lagi harus berhadapan kembali dengan bosnya yang bermulut lantam dan penuh intimidasi itu.Pintu ruang kerja penthouse terbuka perlahan. Dewa melangkah dengan kemeja hitam
Dia menepuk bahu suaminya pelan sebelum berbalik pergi. "Jangan lupa cuci piringnya sampai bersih ya, Mas. Aku mau ke kamar dulu."Reno mematung di meja makan dengan wajah merah padam ditelan rasa kesal dan tak berdaya, terpaksa menatap tumpukan piring kotor di hadapannya.Pria itu tidak bisa berkutik sama sekali. Lidahnya terasa kelu untuk membalas ancaman telak istrinya.‘Sialan! Kenapa jadi begini, sih?’ keluhnya dalam hati.Selesai makan, pria yang biasa dilayani itu hanya bisa memandangi tumpukan piring kotor dengan wajah masam. Mau tidak mau, dengan perasaan berantakan dan gengsi yang hancur, Reno melangkah lunglai ke arah wastafel dan mulai mencuci piring satu per satu.Sementara itu, Clove berjalan santai menuju kamar tamu. Ia sudah menyiapkan kejutan manis untuk selingkuhan suaminya yang masih bersembunyi di dalam kamar.Dia mengetuk pintu kamar tamu itu dengan ketukan yang ritmis tetapi tegas. Ti
Melihat reaksi suaminya yang gelisah menatap pintu kamar Fara, Clove menyunggingkan senyum sinis. Ia memiringkan kepalanya sedikit."Kalau kamu mau menyusul dia, susul saja, Mas," sindirnya dengan nada santai. "Kasihan tuh, BA kesayanganmu nangis di kamar."Reno seketika salah tingkah luar biasa. Pria itu menggelengkan kepalanya cepat seraya duduk kembali di kursinya."N-nggak kok, Sayang! Siapa yang mau nyusul dia?" tolak pria itu cepat. "Aku di sini mau sarapan sama kamu."Tentu saja dia menolak untuk pergi. Ia belum menyantap hidangan lezat buatan istrinya yang sudah lama tidak ia nikmati.Akhirnya mereka pun makan bersama dalam keheningan sejenak. Clove menikmati sup iga buatannya, lalu membuka obrolan dengan nada santai."Oh iya, Mas. Aku mau kasih tau sesuatu," ucap wanita itu seraya meletakkan sendoknya.Dahi Reno berkerut halus. "Ngasih tau apa, Sayang?""Aku lagi nyiapin bisnis baru sama
Reno terbelalak kaget melihat tangisan Fara. Saat pria itu baru saja membuka mulutnya untuk bicara, Clove dengan cepat menyelaknya."Tidak usah sok teraniaya!" ucap wanita itu tajam. Matanya menatap Fara tanpa ampun."Aku masak pagi ini cuma buat suamiku!" tegas Clove seraya menunjuk Reno. "Bukan buat orang asing yang gak punya malu kayak kamu!"Fara mematung dengan bibir gemetar. Air mata buayanya mengalir kian deras."Harusnya kamu itu tau diri!" sembur Clove lagi. "Udah diberi tumpangan tinggal gratis di rumah orang, sekarang mau makan gratis juga?!"Clove menyilangkan tangan di depan dada. Pendar matanya sangat mengintimidasi."Kamu pikir masak itu gak capek?" cibirnya pedas. "Kalau kamu mau makan, masak saja sendiri sana! Oh iya, bahan-bahannya juga beli pakai uangmu sendiri, jangan pernah sentuh barang-barang yang aku beli!"Fara memegang lengan Reno. Ia menangis terisak, berharap mendapat
Selesai mandi dan berganti pakaian, wanita itu melangkah menuju dapur. Ia mulai menyiapkan bahan-bahan segar untuk memasak menu favorit suaminya.Reno yang sedang duduk di ruang tamu seketika mengendus aroma lezat tersebut. Semangatnya membuncah karena sudah beberapa hari perutnya merindukan masakan sang istri.‘Duh! Akhirnya bisa makan enak lagi. Bahaya banget, sih. Kalau udah biasa makan masakan dia, rasanya masakan orang lain gak ada yang enak,’ batin pria itu.Ia beranjak dari sofa dan berjalan setengah berlari ke dapur. Wajahnya berbinar-binar mendapati istrinya yang sedang sibuk di depan kompor."Wah, aromanya harum banget, Sayang!" puji Reno berapi-api seraya melangkah mendekati Clove.Pria itu merangkul pinggang istrinya dari belakang secara mendadak. Reno menyandarkan dagunya di bahu sang istri, bertingkah bagai suami yang sangat mencintai pasangannya."Aku kangen momen-momen kayak gini," bisik Reno mesra ser
Clove merasa gugup setengah mati. Ia takut dering ponselnya mengganggu kenyamanan Dewa yang sedang menikmati sarapan.Dengan cepat, ia menekan tombol merah untuk menolak panggilan tersebut. Namun, ponsel itu kembali bergetar tanpa henti.Reno terus-menerus menghubunginya tanpa kenal lelah. Clove menolak panggilan itu untuk kedua kalinya dengan wajah panik.Dewa yang merasa terganggu meletakkan sendoknya perlahan. Rahangnya mengeras menatap wanita itu."Jawab saja," titahpria itu dingin. "Berisik sekali."Sebenarnya, Dewa penasaran setengah mati. Ia ingin tahu apa yang hendak dikatakan oleh pria tidak tahu diri itu kepada Clove pagi ini.Dengan ragu, wanita itu beranjak berdiri dari kursinya. "Maaf, Pak Dewa. Saya izin angkat sebentar."Clove melangkah cepat mencari tempat yang agak jauh. Ia bersembunyi di balik pilar besar dekat area ruang tamu agar suaranya tidak terdengar jelas.Dewa memicingka







