LOGIN¿Hasta dónde puede llegar alguien con dinero? Mi esposo tenía tanto que, en Bruma, le decían Medio Bruma, ya que casi la mitad de la ciudad es suya. Llevábamos cinco años casados; cada vez que se iba a acompañar a su amor de toda la vida, me traspasaba una casa. Cuando a mi nombre ya había noventa y nueve, él notó que yo había cambiado. Ya no lloré ni supliqué, simplemente me limité a escoger la mejor mansión de la ciudad, preparé la escritura y esperé a que él la firmara. Cuando lo hizo, su voz se le ablandó al prometer: —Cuando regrese, te llevaré a ver los fuegos artificiales. Guardé los papeles y asentí. Lo único que no le conté fue que: lo que acababa de firmar esa vez no era una casa más, sino… nuestro acuerdo de divorcio.
View More"Ahhh Tuan Javen, hentikan, uhh," Sasa mengeluarkan desahan pasrah yang bergetar dari bibirnya, sementara remasan tangan Javendra di dadanya justru semakin kuat.
Javendra tidak lagi hanya diam menunggu. Saat Sasa bergerak naik dan turun dengan kaku, Javendra justru menarik pinggang Sasa agar tubuh gadis itu menempel lebih erat tanpa celah. Gerakan Sasa yang malu-malu dan ragu justru menjadi pemicu yang membakar kendali diri Javendra. "Lebih cepat, Sasa," perintah Javendra dengan napas yang memburu di telinga gadis itu. Sasa tersentak, ia mencoba mempercepat gerakannya meski tangisnya semakin pecah. Dada polosnya bergesekan lebih kasar dengan kulit Javendra, menciptakan sensasi panas yang membuat kepalanya pening. Javendra mengerang keras, kepalanya mendongak ke belakang saat merasakan kelembutan Sasa yang benar-benar membuatnya gila. Pria itu kehilangan sedikit kendalinya. Tangannya tidak lagi hanya diam di pinggang, tapi mulai menjalar ke punggung Sasa, menekan tubuh gadis itu seolah ingin menyatukan kulit mereka sepenuhnya. Javendra benar-benar terpancing oleh bagaimana Sasa mencoba patuh meski tubuhnya gemetar hebat. "Sial, kamu benar-benar membuat aku gila," gumam Javendra serak. Beberapa hari sebelum kejadian itu, saat hari dimana Sasa diterima sebagai pelayan pribadi di rumah itu. Sasmaya berdiri di depan pintu rumah besar itu dengan jantung berdegup kencang. Tangan kirinya memegang tali tas, tangan kanannya menggenggam map lamaran yang sudah agak lembab karena keringat. "Ini kesempatan bagus," katanya berulang dalam hati. "Gajinya lumayan, bisa kirim ke ibu tiap bulan, dan aku nggak perlu lagi bantu-bantu warung tetangga." Tapi harapan itu bercampur takut. Kalau ditolak lagi, dia benar-benar tidak tahu harus bagaimana. Ruang tamu terasa terlalu luas dan dingin. Dua kandidat lain sudah duduk. Sasa memilih kursi paling ujung, duduk dengan punggung tegak tapi lututnya gemetar sedikit. Ia berusaha mengatur napas. Tenang, Sasa. Jawab saja pertanyaan dengan baik. Jangan banyak bicara. Tak lama kemudian, Javendra Prakasa masuk. Pria itu berjalan dengan langkah mantap, wajahnya datar dan dingin. Rumor yang beredar pria itu sangat arogan, tidak suka dibantah, pemilik kepribadian dingin yang mencekam. Pria 34 tahun yang masih lajang, meskipun begitu, pesonanya membuat setiap orang yang melihat menahan napas. Javendra duduk di kursi utama. Tatapannya menyapu ketiga orang di depannya. Saat mata itu mampir ke arah Sasa, gadis itu merasa ada yang aneh. Pandangannya agak lama, lalu Javendra cepat mengalihkan mata. Sasa menelan ludah. Apa aku salah kostum? Batinnya. Rok hitam dan kemeja putihnya sudah paling rapi yang dia punya. "Perkenalkan diri kalian," kata Javendra dengan suara rendah. Kandidat pertama dan kedua bicara duluan. Mereka punya pengalaman bertahun-tahun dan banyak sertifikat. Sasa merasa semakin gugup. Mereka jauh lebih berpengalaman. Kenapa aku nekat datang ke sini? Batin Sasa lagi. Gilirannya tiba. Sasa berdiri, tangannya saling meremas di depan perut. "Nama saya Sasmaya Larasati, Tuan. Biasa dipanggil Sasa. Umur 21 tahun. Lulus SMA. Saya nggak kuliah karena biaya nggak memungkinkan. Tapi saya rajin, teliti, dan mau belajar apa saja yang diperlukan. Saya sangat butuh pekerjaan ini." Suara Sasa pelan tapi ia berusaha supaya jelas. Setelah selesai, ia duduk kembali sambil menahan napas. Tolong terima aku. Tolong. Sasa terus memohon dalam hati. Javendra diam sebentar. Lalu ia berkata, "Kalian berdua boleh pulang. Terima kasih." Dua kandidat lain keluar dengan wajah kecewa. Sekarang hanya Sasa yang tersisa di ruangan bersama Javendra. Jantung Sasa berdegup semakin keras. Ia menunduk, tak berani menatap langsung. "Kamu diterima," kata Javendra datar. "Saya diterima, Tuan?" Sasa seolah tidak percaya. Tapi dia luar biasa bersyukur atas hal itu. "Ya, tapi ada syaratnya." "Syarat apa, Tuan? Saya akan lakukan segalanya demi pekerjaaan ini, Tuan." "Benarkah?" Sasa mengangguk cepat. Sasa mengangkat wajahnya lagi, pelan. Javendra menatapnya lurus. "Panggil saya Tuan Javen. Kamu hanya melayani saya. Jangan pernah berbohong dan jangan coba mendekat lebih dari batas. Mengerti?" "Ya, Tuan Javen. Saya mengerti," jawab Sasa cepat. Suaranya hampir hilang di tenggorokan. "Apa ada syarat lain, Tuan?" Javen menatap Sasa sekilas lalu mengalihkan pandangan. "Nanti aku pikirkan, saat ini cukup. Kamu boleh pulang." Sasa mengangguk. "Terima kasih, Tuan, saya akan bekerja sebaik mungkin untuk keluarga ini." "Apa?" Javen menatap Sasa tajam. Sasa meneguk ludah, apa dia salah bicara, batinnya. "Kamu tidak bekerja untuk keluarga ini. Kamu bekerja untuk aku. Hanya aku, Javendra." Sasa mengangguk paham. "Baik, maafkan saya Tuan Javen." "Mulai besok pagi kamu sudah tinggal di sini." "Baik, Tuan." ** Sasa keluar dari rumah itu dengan kaki yang terasa ringan sekaligus berat. Senang karena akhirnya diterima, tapi ada rasa was-was yang tidak bisa dijelaskan. Tuan Javen terasa berbeda dari yang dibayangkannya. Dingin, tapi tatapannya tadi, entah kenapa membuatnya gelisah. Malam itu, Sasa packing barang sedikitnya sambil berpikir. "Ini cuma pekerjaan. Aku harus profesional. Jaga jarak, kerja keras, dan semuanya akan baik-baik saja. Sasa kamu nggak boleh bikin masalah." ** Keesokan paginya, Sasa sudah berdiri di kamar pelayan pribadi yang disiapkan untuknya. Seragam hitam-putih yang diberikan kepala pelayan terasa kaku dan terlalu ketat di bagian dada. Ia menarik-narik sedikit kain di depan bajunya, tapi tetap saja tidak nyaman. "Kenapa sih baju apa pun selalu begini?" batinnya kesal. Ukuran dadanya memang selalu jadi masalah. Baju longgar jadi kelihatan konyol, baju pas malah seperti ini. Ia menghela napas panjang sambil mencoba berdiri lebih tegak. Baru saja ia merapikan rambutnya yang diikat rapi, pintu ruangan terbuka. Javendra masuk dengan langkah biasa. Sasa langsung membungkuk hormat. "Selamat pagi, Tuan Javen," sapanya sopan, suara masih agak gugup. Javendra berhenti di depannya. Matanya menelusuri Sasa dari bawah ke atas. Saat pandangannya sampai di dada Sasa yang tertutup seragam ketat itu, pria itu tersentak kecil. Wajahnya tetap datar, tapi Sasa sempat melihat perubahan di matanya. Sasa merasa panas di wajah. Ia langsung menunduk dan menarik seragamnya lagi dengan tangan kanan. "Maafkan saya, Tuan Javen. Bajunya agak sempit," katanya pelan, malu sekali. Javendra tidak langsung jawab. Ia meneguk ludah, lalu berdeham pelan sebelum bicara. "Kenapa tidak bilang dari awal?" suaranya rendah. Sasa menggigit bibir bawah. "Saya baru pakai tadi pagi, Tuan. Takut merepotkan. Nanti saya minta ganti yang lebih pas saja." Javendra diam sebentar. Tatapannya masih belum lepas sepenuhnya dari tubuh Sasa. "Tidak perlu. Biar nanti saya yang suruh kepala pelayan mengganti ukurannya." "Terima kasih, Tuan," jawab Sasa cepat, masih menunduk. Udara di ruangan terasa berat. Sasa merasa jantungnya kembali berdegup tidak karuan. Ia berusaha mengingatkan diri sendiri. Tapi saat ia melirik sekilas ke atas, Javendra masih berdiri di sana, menatapnya dengan cara yang membuat Sasa ingin mundur selangkah. "Untuk hari ini, ikut saya. Saya akan tunjukkan apa saja yang harus kamu kerjakan," kata Javendra akhirnya, suaranya kembali datar seperti biasa. "Baik, Tuan Javen." Sasa mengikuti langkah pria itu keluar dari ruangan, tapi di dalam hatinya sudah mulai muncul pertanyaan yang tak berhenti. Sasa mengikuti Javendra menyusuri koridor rumah yang luas. Pria itu menjelaskan tugasnya dengan suara datar sambil berjalan di depan. "Pagi hari kamu siapkan kopi hitam tanpa gula di meja kerja saya. Setelah itu bersihkan kamar saya, tapi jangan sentuh meja tulis. Siang kamu ikut saya ke mana pun kalau saya butuh. Malam—" Tiba-tiba langkah Sasa tersandung ujung karpet yang sedikit terlipat. Tubuhnya oleng ke depan. Ia panik dan mencoba menyeimbangkan diri, tapi malah terdorong ke arah Javendra yang baru saja berhenti dan membalikkan badan. "Aduh!" Bruk. Sasa jatuh tepat ke pangkuan Javendra yang sedang duduk di kursi panjang ruang kerja. Bokongnya mendarat persis di atas pangkal paha pria itu. Ia bisa merasakan sesuatu yang keras dan hangat tepat di bawahnya. "Maaf, Tuan! Saya—" kata Sasa panik sambil berusaha bangun. Tapi saat itu tangan Javendra otomatis terulur untuk menahan tubuhnya agar tidak jatuh ke lantai. Telapak tangan kanannya mendarat tepat di dada Sasa yang kencang karena seragam ketat. Jari-jarinya tanpa sengaja meremas pelan di sana, merasakan kelembutan dan bobot yang penuh. Waktu seolah berhenti sebentar. Sasa membeku. Rasa panas langsung naik ke wajah dan telinganya. Ia bisa merasakan dada Javendra naik-turun cepat di belakang punggungnya, napas pria itu menyapu lehernya. Tangan Javendra masih di sana. Tidak langsung dilepaskan. Sasa gemetar. "Tuan Javen ... maafkan saya..." Suara Sasa hampir hilang. Ia berusaha bangkit, tapi gerakannya malah membuat bokongnya bergeser pelan di atas milik Javendra yang semakin keras. Javendra menegang. Napasnya terdengar berat di telinga Sasa. Dia tidak langsung melepaskan tangannya.Luego, vuelo al extranjero.Y después… él vino a buscarme.Me reí suave.—Iván, estás aquí porque ella no regresa, ¿cierto?—Claro que no —negó Iván de inmediato—. Es porque me gustas.—Me gustas y por eso le dije lo que le dije; no quiero seguir haciéndote daño…—Mari… me gustas… te amo…Las palabras de amor siempre suenan bonito.Si esto hubiera sido no hace mucho, incluso en la noventa y nueve, quizá lo habría perdonado.Pero llegamos a la cien.Ya no hay más turnos.Y aunque lo que dice fuera verdad, ¿de qué sirve?Le di cien oportunidades.—Yo no necesito tu amor, Iván.—¿Porque tú crees que me amas, tengo que corresponderte?A Iván se le escurrieron las lágrimas.Hoy coleccioné varios “primeras veces” de este hombre:la primera vez despeinado, la primera vez llorando.Y, aun así, todo me dejó indiferente.—Si ya no me amas —balbuceó—, ¿por qué te quedaste con mis regalos?Tardé un segundo en entender.—¿Las propiedades?—¿Y todavía te da la cara para mencionarlas?Solté una risa
—Pero pensé… que si él montó todo eso fue porque sabe que te gusta. Así que igual te traje —soltó Azul en una sola bocanada.Sabía que era por mí.Tal vez fue amor a primera vista; tal vez esa charla mínima de la primera noche le despertó curiosidad.Al final, con los ojos bajos, sin atreverse a mirarme fijo, se encogió.“No hay nada que reprocharle”, pensé.No hizo nada malo.Solo… tuvo celos.Después de mucho pelear consigo mismo, levantó la cabeza. Los ojos le brillaban de humedad. En ese rostro suave, hasta las lágrimas parecían ternura.—La botarga de conejo era él. Si vas ahora a buscarlo, todavía alcanzas.Lo miré fijo hasta hacerlo temblar.Me dijo —con heroísmo prestado— que me fuera.Pero por dentro no quería que me fuera.Le conté pedazos de lo mío con Iván Yunes. Sabe que soy una mujer divorciada que busca aire.Aun así, temía que me quedara una hebra del pasado.Di un paso atrás.Azul se sostuvo como perrito herido, aguantándose las ganas de lanzarse a suplicarme.Entonces
El barman se encogió de hombros, retiró aquella “Vida” y me cambió el vaso por un agua de tamarindo.La cantante terminó “Me voy” y enlazó una balada en inglés que no conocía.Tenía una voz suave. Me quedé ahí, oyéndola largo rato.Yo miraba a la cantante; el barman —cuando yo no lo veía— me miraba a mí.A la mañana siguiente, el barman llegó puntual a la puerta de mi posada.—¿Cómo supiste dónde me hospedaba?—Los que vienen por acá solo escogen esta casa —respondió, como si fuera obvio.El coche no era rentado: era suyo.Le pagué una buena tarifa de guía. Quería pasarla en grande.Hizo una mueca.—¿Y podrías dejar de decirme “barman”? Me llamo Azul Suárez.—Suena a nombre de chica —solté, y me arrepentí al instante.Lo miré bien: cejas finas, facciones limpias, un aire de estudiante de novela.Azul se rió.—Bien visto. Me criaron como niña. Hasta antes de primaria usé vestidos.Me picó la curiosidad. Hice un gesto teatral con el celular.—¿Si te pago, me enseñas fotos?Alzó las cejas
Cuando por fin pasé el lector y crucé el filtro, me alcanzó la voz detrás de mí:—Mari.—¿De verdad… ya no hay ninguna posibilidad?No me detuve.Para él, ese silencio tenía que ser la respuesta más clara.El vuelo de Bruma a Santa Nieves fue corto: tres horas.Nunca había venido. Hacía más frío de lo que imaginé; aún era agosto, pero la ciudad, por su altura, guardaba un fresco amable.Me instalé en una casa de huéspedes que reservé desde temprano.No quise hotel de lujo; buscaba calor de gente.La dueña no me falló:—Llegaste mucho después de lo acordado, ¿pasó algo?—Todo se arregló —le sonreí.—Así me gusta. Cualquier cosa, me avisas. Una muchacha sola, y más de noche, no se me queda sin ayuda.Me recomendó un par de fondas cercanas.Yo había venido a empezar mi vida nueva, pero al principio turistear también cuenta.“Cinco años siendo prudente por la imagen de Iván.”“Cinco años sin soltarme.”“Ahora, por fin, soy libre.”Seguí la recomendación de la dueña y caí a un barcito tranq
A Iván se le endureció la cara un segundo.—Ya la he acompañado bastante. También te toca a ti.Apenas lo dijo, pareció oír lo absurdo que sonaba y bajó la mirada, culpable.Yo no rompí su mentira, sino que me limité a seguirle el juego.Justo ese día caía en nuestra fecha de divorcio.«También
Esa «tía» a la que llevo cinco años llamándole así fue, desde el principio, el mejor pretexto.El show debía continuar y, para entonces, ya nadie se acordaba de mí.El cielo se vino abajo de golpe, y comenzó a llover a cántaros.—Viviana está delicada, no puede mojarse. Con permiso, abran paso —o
Cuenta regresiva: veinticinco díasEn los últimos cinco días, sus redes —siempre pulcras, siempre «curadas»—no pararon.De día le daban de comer a las palomas en la plaza; de noche miraban el desfile de carros alegóricos desde el mirador del hotel del parque de diversiones.No me perdí un solo pa
¿Hasta dónde puede llegar alguien con dinero?Mi esposo tenía tanto que, en Bruma, le decían Medio Bruma, ya que casi la mitad de la ciudad es suya.Llevábamos cinco años casados; y, cada vez que se iba a acompañar a su amor de toda la vida, me traspasaba una casa.Cuando a mi nombre ya había nov






Bienvenido a Goodnovel mundo de ficción. Si te gusta esta novela, o eres un idealista con la esperanza de explorar un mundo perfecto y convertirte en un autor de novelas originales en online para aumentar los ingresos, puedes unirte a nuestra familia para leer o crear varios tipos de libros, como la novela romántica, la novela épica, la novela de hombres lobo, la novela de fantasía, la novela de historia , etc. Si eres un lector, puedes selecionar las novelas de alta calidad aquí. Si eres un autor, puedes insipirarte para crear obras más brillantes, además, tus obras en nuestra plataforma llamarán más la atención y ganarán más los lectores.
reviews