MasukEn el quinto año de matrimonio, Julieta Torres se quejaba de que la vitamina C que su esposo le había comprado sabía demasiado amarga. Con el frasco en la mano, fue al hospital. El médico lo revisó y dijo: —Esto no es vitamina C. —¿Perdón, puede repetirlo? —preguntó Julieta. —Lo repita cuantas veces lo repita, es lo mismo —señaló el frasco—. Esto es mifepristona. Si la tomas en exceso no solo causa esterilidad, también daña seriamente el cuerpo. La garganta de Julieta se sintió como si algo la obstruyera, y sus manos, aferraban el frasco con fuerza. —Eso es imposible, este medicamento me lo dio mi esposo. Se llama Bruno Castro, también es médico en este hospital. La mirada del doctor hacia ella se volvió extraña, cargada de un matiz difícil de explicar. Al final, sonrió levemente. —Señorita, mejor vaya a consultar a psiquiatría. Todos aquí conocemos a la esposa del doctor Castro, y hace apenas un par de meses dio a luz a un bebé. No se haga ilusiones, muchacha, no tiene caso.
Lihat lebih banyakWidjaja Group.
Narendra membaca tulisan berwarna keemasan yang menghias bagian depan gedung pencakar langit 77 lantai. Ini bukan pertama kalinya dia mengunjungi gedung yang pernah menjadi gedung tertinggi di negara ini, tetapi baru kali ini dia menyadari kalau aura gedung ini begitu angkuh dan mengintimidasi siapa pun yang melihatnya.
Pelan dia memutar pandangan. Memperhatikan orang yang berlalu lalang di sekitar. Mereka yang menggunakan lanyard dengan logo W dan tulisan Widjaja Group terlihat begitu percaya diri dan penuh kebanggaan. Sementara yang lain menatap gendung ini dengan pandangan iri campur mendamba.
Sebenarnya ini bukan hal yang aneh. Hampir semua penduduk negara ini ingin menjadi bagian dari Widjaja Group. Bayangkan saja, korporasi terbesar di seluruh Asia Tenggara tentu gaji dan fasilitas yang ditawarkan adalah yang terbaik. Bahkan ada anekdot yang mengatakan ID card pegawai Widjaja Group lebih mumpuni dari paspor negara ini.
BYUUUUR!!
Sebuah mobil mewah keluaran terbaru melintas di samping Narendra dan melindas genangan air. Seketika pria itu basah kuyup karena kejadian itu begitu cepat dan dia tidak sempat menghindar. Kemeja putih yang dikenakan berubah warna dengan bercak cokelat di sana-sini.
“Sial,” Narendra berujar kesal sambil berusaha membersihkan sisa air. Matanya tidak lepas memperhatikan mobil mewah keluaran Jerman yang terus melaju memasuki kawasan gedung Widjaja Group tanpa setitik pun perasaan bersalah.
Kalau tidak ingat janji yang dimiliki, ingin rasanya Narendra pulang. Tetapi saat ini dia tidak punya pilihan. Ada hal yang harus diselesaikan. Dia harus menjalankan ini sesuai dengan perjanjian yang sudah disetujuinya.
Tepat ketika kakinya menjejak lobi, seorang petugas keamanan segera mendekati Narendra. Belum sempat petugas berbadan besar itu mengucapkan sepatah kata pun, seorang pria menghampiri sambil tertawa mencemooh.
“Sejak kapan gembel bisa masuk ke gedung ini?” Pertanyaan itu dilontarkan dengan nada merendahkan begitu kental.
Narendra bergeming. Dia berusaha menggali ingatan tentang siapa pria di hadapannya.
“Gue sengaja ngelindas genangan air buat ngusir gembel kayak lo. Nggak pantes di sini,” pria itu masih terus merendahkan sambil memperhatikan penampilan Narendra dari ujung kepala sampai ujung kaki, “Kemeja putih, celana hitam. Pasti nyari kerjaan, ya? Jadi office boy aja lo nggak pantes di sini.”
“Sayaaang, aku kok malah ditinggal, sih?” Seorang wanita dengan gaun selutut berpotongan dada rendah mendekat kemudian memeluk lengan pria di hadapan Narendra.
Ah, putra keluarga Kesemua dan tunangannya, Narendra akhirnya berhasil mengingat siapa mereka.
“Ada gembel ganggu pemandangan,” Ardi Kesuma berujar pongah, “Bikin mata aku gatel lihatnya. Ini harus dilaporin ke Pak Sabda.”
“Pak Sabda siapa?” dengan kenes Sang tunangan bertanya.
“Babe, kok, bisa kamu lupa? Itu CEO Widjaja Entartaiment. Kita nanti meeting sama dia. Aku udah ngasih data dirinya buat kamu hapalin dari bulan lalu. Gimana, sih?!”
“Lupa,” Sang tunangan bergelayut mesra hingga payudaranya menempel ke lengan Ardi seakan lupa kalau mereka ada di tempat umum.
Ardi baru akan mengucapkan sesuatu ketika sudut matanya menangkap sosok seorang pria, Abimana Widjaja. Salah seorang anggota keluarga Widjaja sekaligus tangan kanan Sabda Widjaja. Dengan cepat Ardi mengulaskan senyum ramah kemudian melambaikan tangan, “Pak Abi!”
Abimana yang sedang sibuk dengan ponsel segera mencari sumber suara. Ketika melihat Narendra dan Ardi, dia segera berjalan mendekati mereka, “Udah datang?”
Entah untuk siapa pertanyaan itu diajukan.
“Udah. Terlalu semangat mengingat ini meeting pertama kita dan langsung ketemu sama Pak Sabda,” Ardi sigap menjawab, “Semoga ini bisa jadi awal untuk kerja sama keluarga Widjaja dan Kesuma, ya”
Abimana hanya membalas dengan senyum profesionalnya. Dia sudah terlalu lama berkecimpung di dunia bisnis untuk tahu karakter asli seseorang. Ardi jelas seorang yang fake dan pengejar keuntungan semata.
“Keamanan gedung ini kurang oke, ya,” Sang Tunangan yang sejak tadi diam tiba-tiba menyeletuk.
“Maaf, keamanan bagaimana maksudnya?” Abimana bertanya sopan.
“Ini, Pak Abi,” Ardi menunjuk Narendra kemudian berujar pongah, “Kalau di K-Group pasti udah langsung diusir.”
“Siapa yang Anda maksud dengan gembel?!” Intonasi Abimana sedikit berubah, “Pria ini,” dia menunjuk Narendra yang sejak tadi hanya memperhatikan mereka dalam diamnya.
“Akan segera keluar,” Narendra tersenyum penuh arti, “Memang bukan tempat saya di sini.”
Abimana berdecak kesal, “Akan saya urus, Anda tenang saja,” dia melempar senyum profesional sebelum menarik Narendra menjauh diirini dengan senyum kepuasan Ardi.
“Pintu keluar di sana, Pak Abi,” Narendra berujar tenang sambil membiarkan Abimana menarik lengannya.
“Gue tahu. Gue lebih kenal gedung ini dibanding lo,” Abimana terus menariknya menuju lift khusus yang hanya boleh digunakan oleh petinggi Widjaja Group dan membutuhkan kartu akses khusus agar lift itu berfungsi. Abimana baru melepaskan tarikannya setelah mereka hanya berdua saja di dalam lift, “Sampah banget itu Si Ardi! Dia tahu nggak, sih, lo siapa?”
“Nggak tahu. Kalau tahu nggak mungkin kelakuannya kayak gitu. Dia ngapain? Pakai bawa tunangannya segala. Mau ngemis ke kita?”
“Ngasih proposal film. Tokoh utamanya ya…tunangannya.”
“Basi!” Narendra tertawa kecil, “Jangan bilang lo nyuruh gue datang hari ini buat meeting sama mereka? Gue nggak mau. Gue datang cuma buat ngecek berkala dan tanda tangan berkas aja.”
“Ck! Sampai kapan, sih, lo mau berhenti main-main, Dra?! Lo itu salah satu penerus Widjaja Group! Udah waktunya lo buat tampil. Tunjukin ke dunia lo itu siapa sebenarnya.”
Narendra kembali tertawa. Sejak dia kembali ke negara ini setelah menyelesaikan pendidikannya di London kemudian Boston dan memutuskan untuk mencoba kehidupan orang biasa selama tiga bulan, pertemuannya dengan Abimana selalu berisikan hal yang sama. Sepupu yang hanya lebih tua beberpaa tahun darinya sejak kecil memang sudah menjadi tangan kanannya. Ke mana pun Narendra pergi, Abimana selalu ikut.
Kecuali ketika Narendra dengan gilanya memutuskan untuk menjadi oran biasa selama tiga bulan.
Seorang Abimana tentu tidak bisa lepas dari kemewahan. Begitu juga dengan Narendra. Tetapi kebosanan membuatnya ingin mencoba. Seperti dugannya menjadi orang biasa penuh dengan tantangan….juga berbagai hal baru.
“terserah, deh. Tapi itu si Ardi mau diapain? Nggak habis pikir lo bisa setenang itu,” pintu lift terbuka, “Awas aja kalau lo lepasin.”
“Bikin miskin,” Narendra menjawab santai. Bagi seorang Widjaja, harga diri adalah segalanya, “Kalau perlu sampai seluruh keluarganya.”
“Roger, Bos,” Abimana terlihat bersemangat, “Gue bakal beresin. Lo tinggal nonton aja.”
Narendra hanya tertawa sambil melambai sebelum memasuki ruangan besar dengan dua dindingnya berupa kaca jendela yang menawarkan pemandangan terbaik ibukota, kantor CEO Widjaja Entertaiment yang berada di lantai 70 gedung Widjaja Group.
Sebuah papan nama dari kayu jati dengan kualitas terbaik berdiri penuh keangkuhan di atas meja bertuliskan namanya, Sabda Narendra Widjaja.
Lucía jamás imaginó que Bruno realmente pasaría la noche entera de pie bajo la nieve.A media madrugada la nevada se había intensificado, Lucía miraba una y otra vez por la ventana, y Julieta también echó un vistazo.Al ver aquel rostro familiar asomar entre el ventisquero, con los labios cuarteados por el frío, Bruno aún tuvo fuerzas para esbozar una sonrisa.—Julieta, ¿esto no podría costar vidas? —preguntó Lucía.Julieta, sin inmutarse, se arropó con la manta y cerró los ojos.—No va a pasar nada. Y si pasa, no es asunto nuestro. Duérmete ya.Lucía admiraba la firmeza de Julieta, pero al recordar todo lo que ella había sufrido, corrió las cortinas con fuerza, como descargando su rabia.Mientras tanto, en la nieve, Bruno revivía en su mente una y otra vez los recuerdos del pasado.Habían tenido momentos felices, decoraron una casa juntos, soñaron con el futuro. Pero todo se había venido abajo por culpa de Tania.Solo pensar en ella le encendía el pecho de ira.Con el paso de las hora
Bruno miró hacia donde venía la voz y se quedó boquiabierto de la impresión:—¿Diego? ¿Qué haces aquí?Diego pasó un brazo por encima del hombro de Julieta y, al sentir que ella no se apartaba, la sostuvo con más firmeza.—Soy su prometido, ¿por qué no podría estar aquí?Apenas dijo eso, Bruno sintió como si un rayo lo partiera en dos. Todo a su alrededor se volvió silencio.—¿Prometido? No puede ser... Julieta, ¿cómo puede ser tu prometido?Tenía los ojos enrojecidos y los labios le temblaban.Julieta soltó la mano de Diego y entrelazó sus dedos con los de él, levantándolos frente a Bruno.—¿Por qué no? No estoy casada ni tengo hijos. ¿Tan difícil es aceptar que tenga un prometido?Los labios de Bruno se movían sin emitir sonido. Su mirada estaba llena de incredulidad.Las palabras de Julieta fueron como un cuchillo clavándose en su corazón.—No puede ser —dijo con voz entrecortada—. No lo acepto... Yo te amo. ¡Tienes que ser solo mía!Julieta soltó una risa irónica, ya no tenía inten
Por más que Bruno gritara detrás, el auto no se detuvo ni un segundo, al contrario, aceleró hasta volverse apenas un punto negro en la distancia.Solo cuando la silueta desapareció por completo en el retrovisor, Diego bajó la velocidad.Julieta lo miró de reojo, con sospecha:—¿Y ahora por qué manejas como loco? ¿Se te olvidó que la muerte no corre prisa?Diego no respondió a la ironía. De pronto, lanzó la pregunta:—Si Bruno viniera a buscarte, llorando, arrepentido, rogándote volver... ¿Le dirías que sí?El ceño de Julieta se frunció como si hubiera oído algo repulsivo, pero respondió con seriedad:—No. Ni muerta.Solo de pensar en lo que Bruno le había hecho, un escalofrío le recorría el cuerpo. Todavía se despertaba en medio de la noche, aterrada, deseando de verdad haberse consumido en aquel incendio antes que seguir soportando esas memorias que la laceraban una y otra vez.Diego captó la firmeza en su mirada y, sin querer, se le dibujó una leve sonrisa en los labios.Julieta lo d
Bruno no sabía que, antes de llegar al centro de entrenamiento, ya se había convertido en el tema de conversación de todos.En su mente solo había un pensamiento, que era heredar la voluntad de Julieta, correr cada pista y ganar todos los campeonatos. Así, cuando muriera y pudiera volver a verla, tal vez sentiría un poco menos de culpa.Antes de venir había escuchado que, en los últimos años, había surgido en el extranjero una entrenadora legendaria, cuya alumna había arrasado con todos los campeonatos de las ligas universitarias de élite.Aunque esa entrenadora solo aceptaba mujeres, él igual quiso intentarlo.Apenas entró en la sala de descanso, detuvo a un trabajador:—Disculpe, ¿sabe dónde está la entrenadora del equipo Zero?—¿Hablas de la entrenadora Today? —le señaló un punto no muy lejos—. Hace un rato estaba sentada ahí. Sus corredoras todavía siguen allí, puedes preguntarles.Bruno le agradeció y se dirigió con pasos rápidos hacia Lucía:—Hola, ¿sabes dónde está su entrenador






Bienvenido a Goodnovel mundo de ficción. Si te gusta esta novela, o eres un idealista con la esperanza de explorar un mundo perfecto y convertirte en un autor de novelas originales en online para aumentar los ingresos, puedes unirte a nuestra familia para leer o crear varios tipos de libros, como la novela romántica, la novela épica, la novela de hombres lobo, la novela de fantasía, la novela de historia , etc. Si eres un lector, puedes selecionar las novelas de alta calidad aquí. Si eres un autor, puedes insipirarte para crear obras más brillantes, además, tus obras en nuestra plataforma llamarán más la atención y ganarán más los lectores.
Ulasan-ulasan