MasukMi esposo y yo éramos las dos almas que más se aborrecían en este mundo. Él me detestaba por haberlo arrebatado del lado de la mujer que amaba; y yo le guardaba rencor, pues su corazón permanecía cautivo de otra dama. Durante ocho años de matrimonio, las palabras que con mayor frecuencia cruzamos no fueron de afecto ni de deber, sino amargas maldiciones. No obstante, el día en que la ciudad sucumbió, todo cambió. Las banderas enemigas ya se divisaban más allá de la puerta interior. Él fue al frente y tomó el camino, interponiendo su cuerpo entre el acero enemigo y mi huida. —Vive —pronunció quedamente. Acto seguido, alzó su espada y no volvió la vista atrás. Las flechas cayeron cual lluvia inclemente. Mientras lo atacaban, volvió la cabeza una vez, solo una vez. Tras aquello, su cuerpo custodió el camino, y nada ni nadie logró cruzarla. —Si existe otra vida… ruego a su Alteza que me conceda la misericordia de pertenecerle a ella. Aquella noche, con la ciudad reducida a cenizas y el pueblo yacente o en fuga, subí a la torre más alta del palacio. Y salté al vacío. Cuando mis ojos volvieron a abrirse, me presenté ante el Rey. —Los reinos del norte requieren una desposada real —dije—. Yo iré. En esta vida, seré yo quien cruce la frontera. En mi vida anterior, él halló la muerte creyendo que le había fallado a ella. Esta vez, no permitiré que tal lamento exista. Tomaré el matrimonio destinado a ella. Portaré la corona labrada para su exilio. Caminaré hacia un destino que ella nunca debería padecer. Que ella siga aquí. Que él la proteja. Que él viva su vida creyendo que, finalmente, ha cumplido su promesa.
Lihat lebih banyak"Cepat, Istriku, kapal sudah hendak berlayar!" seru seorang lelaki berparas tampan berusia sekitar dua puluh tujuh tahun. Di pundaknya tergantung sebilah pedang dan di tangannya sebuah kotak kayu berukuran sedang dibawanya sambil berlari.
Di sampingnya, sesosok wanita cantik berambut panjang sepunggung dan kurang lebih baru berusia dua puluh tiga tahun, tampak berlari ketakutan sambil menggendong seorang bayi mungil yang baru beberapa bulan terlahir ke dunia.
Keduanya tampak panik dan berekspresi sama seperti penumpang lain yang berlarian ketika kapal hendak berlayar. Sesekali si suami menoleh ke belakang ketakutan. Tidak ada satupun yang peduli dengan kepanikan keduanya, sebab kepanikan seperti itu adalah sesuatu yang biasa terlihat.
Dalam jarak cukup jauh di belakang, puluhan prajurit bergerak memasuki wilayah pelabuhan yang hari itu cukup ramai. Sorot mata mereka semua tertuju tajam kepada seluruh orang yang ada di pelabuhan.
"Itu mereka berdua! Cepat kejar dan tangkap atau kalian yang akan mendapat hukuman jika gagal!" teriak seorang prajurit kepala yang terlihat berat menggerakkan badannya untuk berlari.
Geladak kayu yang digunakan untuk naik ke badan kapal sudah mulai diangkat pekerja pelabuhan. Melihat itu sang suami pun berteriak sekeras mungkin agar para pekerja itu menunggu mereka berdua naik terlebih dahulu, Tunggu, kami ikut!"
"Cepat, Kisanak, Nisanak, kapal sudah harus berangkat!" seru pekerja yang melihat sepasang suami istri tersebut.
"Nilam, ayo cepat naiklah ke atas!" kata lelaki berwajah tampan itu kepada Istrinya.
Tanpa berpikir panjang wanita berwajah cantik jelita itu meniti geladak diikuti si suami dari belakang. Setelah mereka berdua sudah berada di atas kapal, si suami meletakkan peti yang dibawanya. Dilihatnya prajurit sudah berjarak kurang dari seratus meter.
Pekerja pelabuhan langsung menarik geladak ke atas kapal dan perlahan kapal pun mulai bergerak.
"Berhenti!" teriak para prajurit yang melihat kapal tersebut mulai meninggalkan pelabuhan. Kepanikan turut melanda pikiran mereka yang jika gagal menangkap sepasang suami istri tersebut bakal mendapat hukuman.
"Sialan, jaraknya terlalu dekat!" keluh lelaki tampan itu dalam hati. Lirikan matanya tertuju kepada Istrinya yang duduk bersandar dengan mata terpejam menahan lelah.
"Duh, Gusti Maha Agung, berilah keselamatan kepada kami berdua dari kejaran para prajurit itu." Wanita cantik yang matanya terpejam itu tak berhenti untuk terus berdoa di dalam hati
Sekitar tiga puluh meter kapal meninggalkan pelabuhan, puluhan prajurit tersebut baru tiba di pinggir pantai.
"Sial, kita gagal lagi menangkap mereka berdua! Kalian memang tidak bisa diandalkan!" teriak keras prajurit kepala penuh emosi kepada bawahannya.
"Kita kejar saja mereka, Tuan!" Seorang prajurit memberi usulan.
Mendengar usulan tersebut, Prajurit kepala mendekati prajurit yang baru saja berbicara, tanpa banyak kata prajurit tersebut langsung dipegangnya dan dilemparkan ke laut. "Cepat kejar mereka dengan berenang!"
Para prajurit hanya bisa mengulum senyum geli melihat temannya diceburkan ke laut. Sementara belasan prajurit lainnya bahkan sampai mengeluarkan suara tawa.
"Apa yang kalian tertawakan? Sudah gagal melaksanakan tugas masih saja kalian bisa tertawa!" bentak prajurit kepala penuh emosi. Pandangannya tajam mengintimidasi puluhan bawahannya
Seketika puluhan prajurit itu menutup mulutnya rapat-rapat, mereka tak berani sedikitpun bersuara dan hanya bisa menunduk ketakutan.
Prajurit kepala itu membalikkan badannya dan menatap kapal yang perlahan menjauh mengarungi lautan. Setelah itu dia berjalan mendekati pekerja pelabuhan yang sedang menggulung tali tambang seukuran lengan terbuat dari serat pohon Sisal.
"Kisanak, kemana kapal itu akan berlayar?"
Pekerja pelabuhan itu menghentikan kegiatannya menggulung tali tambang. "Menurut jadwal kapal ini akan menuju daratan Jawadwipa, Tuan Prajurit."
Prajurit kepala itu hanya bisa mengangguk kecil seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Selama empat puluh tahun hidup di dunia, tidak sekalipun dia meninggalkan Daratan Swarnadwipa. Kalaupun dia tahu, itu hanya sebatas mendengar saja.
"Terima kasih atas informasinya, Kisanak."
"Sama-sama, Tuan Prajurit," jawab pekerja pelabuhan sebelum melanjutkan aktifitasnya menggulung tali tambang yang biasa digunakan untuk mengikat kapal ketika sedang bersandar.
Prajurit kepala itu bergegas kembali kepada anak buahnya yang masih tetap di posisinya semula.
"Kapal itu menuju Daratan Swarnadwipa. Nanti aku akan meminta ijin kepada paduka raja untuk mengejar mereka. Panji harus ditangkap untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya!"
Puluhan prajurit itu hanya bisa diam tanpa berkata apa-apa. Terbersit di dalam benak mereka tentang kisah cinta sepasang suami istri yang saat ini sedang dalam pengejaran itu sungguh berliku.
Sementara itu di atas kapal yang sudah menjauh ratusan meter dari pelabuhan, Panji_ suami Nilam_ mendapatkan informasi dari kru kapal bahwa perjalanan melalui laut dari daratan Swarnadwipa menuju Jawadwipa diperkirakan kurang lebih tujuh hari lamanya, itupun jika tidak ada kendala di tengah perjalanan seperti badai yang sering terjadi di musim penghujan. Untuk itu Panji memutuskan menyewa kamar yang disediakan karena tidak mungkin istri dan anaknya tidur di luar selama perjalanan.
Memasuki hari ke empat perjalanan, nahkoda yang sedang mengendalikan laju kapal agar tetap berada pada rutenya menuju daratan Swarnadwipa, dikejutkan dengan laporan dari pekerja yang mengatakan jika melihat dua buah kapal lain yang berada di belakang.
"Kau pegang kemudianya. Tetap arahkan lurus ke depan!" perintah Nahkoda sebelum berjalan cepat menuju bagian belakang kapal.
Sepasang mata juru mudi berusia empat puluh tahunan itu menyipit ketika memastikan bahwa laporan anak buahnya tadi benar adanya. Namun yang membuatnya terguncang dan panik, dia bisa memastikan jika dua kapal yang ukurannya lebih kecil dari kapalnya itu adalah para perompak Hantu Laut yang biasanya melakukan perampokan di tengah laut.
Lebih sialnya lagi, perompak yang sedang mengejar kapalnya saat ini terkenal kejam dan tak segan menghabisi para korbannya.
"Turunkan layar!" teriaknya kepada pekerja yang berada tidak jauh darinya.
Seketika nahkoda itu berlari ke depan dan mengambil alih kemudi. "Cepat beritahu para penumpang jika saat ini kita dalam bahaya! Bilang juga kepada pekerja lainnya untuk mendayung lebih cepat."
Terlihat jelas kepanikan dirasakannya. Keringat dingin mulai membasahi dahinya. Perasaannya sudah tidak setenang seperti sebelumnya.
Sementara itu di dalam kamar, Panji dan Nilam tampak berbicara sambil duduk di bibir ranjang. Sesekali mata keduanya tertuju kepada putra mereka yang tidur lelap.
"Perjuangan kita sudah sejauh ini, Nilam. Kalaupun kita harus terpisah, aku harap hanya maut yang akan memisahkan kita," ujar Panji lirih sebelum memeluk istrinya dengan erat.
"Aku juga begitu, Kakang. Kita besarkan Jalu di daratan jawadwipa saja. Tidak perlu kita kita ke tempat asal kita. Aku sudah mengubur semua masa laluku dan ingin membuka lembaran baru di tanah yang baru," balas Nilam seraya menitikkan air mata.
Tiba-tiba suara pintu yang diketuk dari luar mengagetkan keduanya. Panji melepaskan pelukannya dan berjalan menuju pintu lalu membukanya. Seorang laki-laki pekerja kapal tampak berdiri di depan pintu kamar dengan raut wajah tegang.
"Ada apa, Kang?" tanya Panji penasaran setelah melihat raut wajah pekerja kapal yang menunjukkan kekuatiran teramat sangat.
Se movió antes de que yo terminara de exhalar. Hubo un instante de distancia entre nosotros, la costumbre, las fronteras, el destino... y al siguiente, su mano se cerró en torno a mi muñeca con una fuerza que nos sobresaltó a ambos.—Nos vamos —sentenció Adrian.No era un ruego. No era un plan. Era una orden ladrada por instinto, aguda e irreflexiva, tal como se dictan los mandos en el campo de batalla cuando la vacilación significa la muerte. Tropecé medio paso hacia él. Los guardias se agitaron; la espada susurró al salir de las vainas. Le miré, atónita, no por el dolor en mi muñeca, sino por la furia desnuda en sus ojos. Se había desvanecido la moderación, la disciplina que siempre le había definido. Este no era un general sopesando consecuencias. Era un hombre que había alcanzado su propio límite.—Ahora —dijo de nuevo, esta vez con voz más baja—. Antes de que este lugar te arrebate algo más.Por un instante, anhelé partir. Dios me perdone, quise volver mi montura ha
Punto de vista de EliseHabía dejado de esperar el rescate. Aquello, tal vez, era lo más peligroso de todo. El norte dictaba sus lecciones con presteza: el silencio era más seguro que la protesta; la quietud atraía menos atención que el miedo. Al tercer día, una de las mujeres asignadas a mi servicio tiró con demasiada brusquedad de mi manga mientras me vestía para la corte, y no logré apartarme a tiempo. La tela se desgarró. La cuchilla que siguió fue rápida y negligente, destinada a recordarme cuál era mi lugar.La sangre se secó, tornándose oscura contra la lana pálida. Nadie pidió disculpas. Yo no las reclamé.Para la cuarta noche, comprendí lo que Elara debió enfrentar en otra vida: el constante escrutinio, la crueldad silenciosa disfrazada de costumbre, la espera para ver cuándo la esposa del sur finalmente se quebraría. Yo no lo haría. Si este era el precio de la paz, lo pagaría de pie.Fue por ello que, cuando los guardias anunciaron una audiencia, inesperada, f
Punto de vista de AdrianEl camino hacia el norte se desenrollaba bajo los cascos de mi montura; kilómetro tras kilómetro de suelo helado que desgarraba la última ilusión de que aún disponía de tiempo.Yo ya había presenciado este final. En su vida anterior, fue Elara quien partió hacia el norte: temblorosa, llorando, aferrándose a cada adiós como si fuera un hilo de vida. Escribió una vez, y luego nunca más. Un invierno después, la noticia llegó a la capital: la consorte del norte se había quitado la vida. La corte guardó luto brevemente. Me dije a mí mismo que era inevitable. Me dije que había cumplido con lo que el deber exigía.Me había equivocado.Esta vez, era ella. La mujer que cabalgó en soledad más allá de las puertas sin lágrimas, sin reproches, sin siquiera volver la vista hacia la ciudad que la había sacrificado. Y eso era lo que más me aterraba.Para la tercera noche, comencé a escucharlo en todas partes: la verdad que había sepultado bajo la disciplina y el h
El rostro familiar bajo el velo le asestó un golpe certero.—¡Elara!Ella se precipitó en sus brazos, aferrándose a su pecho como si el suelo mismo se hubiera desvanecido bajo sus pies.—¿Cómo... cómo es que eres tú? —preguntó él con voz ronca.En el instante en que las palabras abandonaron sus labios, un pensamiento frío cobró forma. La mirada de Elara se desvió. Su voz se suavizó, teñida de inquietud y algo cuidadosamente oculto.—Yo... no lo sé —dijo ella—. Ayer el decreto real fue alterado. Dijeron... que Elise fue enviada al norte en mi lugar.Sus aposentos parecieron inclinarse.—¿Qué has dicho?Adrian la agarró por los hombros; sus dedos se hundieron con tal fuerza que habrían de dejar marcas.—Si ella partió al norte... entonces la mujer que cabalgó en soledad más allá de las puertas...—¡Elara! —alguien llamó con urgencia desde el exterior—. General, ¿a dónde vas?Adrian la soltó como si se hubiera quemado. No ofreció respuesta. Todavía vestido de rojo ceremonia






Bienvenido a Goodnovel mundo de ficción. Si te gusta esta novela, o eres un idealista con la esperanza de explorar un mundo perfecto y convertirte en un autor de novelas originales en online para aumentar los ingresos, puedes unirte a nuestra familia para leer o crear varios tipos de libros, como la novela romántica, la novela épica, la novela de hombres lobo, la novela de fantasía, la novela de historia , etc. Si eres un lector, puedes selecionar las novelas de alta calidad aquí. Si eres un autor, puedes insipirarte para crear obras más brillantes, además, tus obras en nuestra plataforma llamarán más la atención y ganarán más los lectores.