LOGINBau apek dinding beton dan aroma pemutih lantai yang menyengat menyambut Elang di ruang kunjungan Rutan. Ini adalah tempat transit sementara sebelum dia dipindahkan ke Lapas dengan keamanan maksimum untuk para pembunuh kelas kakap.
Di balik kaca pembatas yang tebal, dua wajah familiar menatapnya dengan mata merah bengkak. Tio dan Bude Ratih, pengurus panti asuhan tempat Elang dibesarkan. Tio, teman seperjuangannya sejak kecil, menempelkan gagang telepon ke telinga dengan tangan gemetar. "Lang?" panggil Tio putus asa. "Kami sedang mengumpulkan uang. Anak-anak panti rela tidak jajan, Bude Ratih mau menggadaikan sertifikat tanah panti. Kita akan ajukan banding. Pengacara publik itu tak bisa dipercaya, kita akan cari yang bayar, Lang! Kau tidak boleh menyerah!" Di seberang kaca, Elang hanya diam. Wajahnya yang lebam tampak kontras dengan seragam oranye yang kini melekat di tubuhnya. Dia melihat Bude Ratih yang sudah tua, wanita yang sudah ia anggap ibu sendiri, menangis sambil memegang tasbih. Elang tahu betul kondisi keuangan panti. Uang yang mereka kumpulkan tidak akan cukup untuk membayar biaya parkir pengacara kondang, apalagi melawan tim hukum Keluarga Dirgantara. "Jangan!" kata Elang mantap. Tio terbelalak. "Apa maksudmu 'jangan'? Kamu tidak membunuh wanita itu! Kita semua tahu kamu dijebak, Lang!" "Pulanglah, Tio! Bawa Bude pulang!" potong Elang, matanya menatap lurus, tanpa emosi. "Kalian melawan tembok baja dengan telur busuk. Orang ini bisa meratakan panti asuhan kita hanya dengan satu jentikan jari kalau dia tahu kalian membela 'pembunuh' ini." "Tapi Lang—" "Aku lelah," dusta Elang. Padahal hatinya hancur melihat air mata mereka. Dia melakukan ini untuk melindungi mereka. "Mungkin memang takdirku membusuk di sini. Jangan buang uang kalian untuk sampah sepertiku. Lupakan aku! Anggap saja Elang sudah mati!" Tanpa menunggu balasan, Elang meletakkan gagang telepon. Dia berbalik, memanggil sipir untuk membawanya kembali ke sel, mengabaikan Tio yang menggedor-gedor kaca sambil berteriak memanggil namanya. Satu-satunya tujuan hidup Elang—melindungi keluarga panti—kini berarti dia harus memutus hubungan dengan mereka selamanya. *** Satu jam kemudian, Elang duduk meringkuk di sudut sel isolasi yang gelap. Pikirannya kosong. Dia tidak lagi memikirkan masa depan. Baginya, waktu telah berhenti. Pintu sel besi berbunyi nyaring. Seorang sipir bertubuh tambun muncul. "Napi 9821. Ada kunjungan lagi!" Elang tidak bergerak. "Aku tidak minta dijenguk. Suruh dia pergi!" Elang dipaksa berdiri dan digiring ke ruang interogasi kecil, bukan ruang kunjungan umum. Di sana, duduk seorang pria berusia awal tiga puluhan. Penampilannya rapi tapi tidak mencolok. Kemejanya agak kusut di bagian lengan, dasinya sedikit miring, dan ada lingkaran hitam di bawah matanya. Dia tidak terlihat seperti pengacara korporat yang licin, lebih mirip serigala jalanan yang kelaparan. Pria itu menatap Elang tajam saat Elang duduk. Dia tidak membuka berkas apa pun. "Aku nonton sidangmu dari bangku belakang," ucap pria itu tanpa basa-basi. Suaranya baritone dan tenang. "Namaku Adrian. Aku bukan pengacara hebat, lisensiku bahkan baru dikembalikan bulan lalu setelah dibekukan." Elang menatapnya datar. "Kalau mau cari sensasi, cari kasus lain saja!" Adrian terkekeh pelan, lalu menyalakan rokok dan menyodorkannya pada Elang. Elang mengabaikannya. "Yang menarik bagiku bukan pembunuhan itu, Elang," lanjut Adrian, asap rokok mengepul dari mulutnya. "Tapi caramu menjawab pertanyaan Jaksa. Kamu tidak pernah sekalipun mengakui bahwa kamu membunuhnya. Tapi kamu juga tidak menyangkal ketika Jaksa memutarbalikkan fakta alibimu." Adrian mencondongkan tubuhnya ke depan, matanya menelisik jiwa Elang. Rahang Elang mengeras. Tangannya terkepal di bawah meja. Pengacara ini terlalu tajam. "Keluarga Barata sudah membeli hakim, jaksa, dan polisinya," Adrian melanjutkan, nada suaranya berubah serius. "Mengajukan banding secara normal adalah bunuh diri. Kamu akan kalah dan vonisnya mungkin diperberat menjadi hukuman mati!" "Lalu untuk apa kamu di sini?" desis Elang akhirnya membuka suara. "Mau menertawakanku?" Adrian menggeleng. Dia mengeluarkan sebuah kartu nama yang tampak sederhana, hanya ada nama dan nomor telepon, tanpa logo firma hukum. "Aku di sini karena aku benci melihat orang kaya bermain Tuhan. Aku tahu kau tidak punya uang. Aku juga tidak butuh uangmu. Aku butuh kemarahanmu." Adrian meletakkan kartu nama itu di meja besi, tepat di depan borgol Elang. "Ada celah hukum yang sangat kecil. Celah yang berbahaya. Bukan banding biasa. Kita bisa mengajukan Peninjauan Kembali (PK) dengan bukti baru, tapi itu butuh waktu. Selama waktu itu, kamu harus bertahan hidup di penjara. Kamu harus menjadi 'hantu'. Jika kamu setuju aku jadi kuasamu, aku tidak menjanjikan kau bebas besok. Tapi aku berjanji, satu hari nanti, kita akan menyeret bajingan yang menjebakmu itu bertukar tempat denganmu di sel ini." Adrian berdiri, merapikan jasnya. "Aku hanya butuh tanda tanganmu di surat kuasa ini. Jika kau tanda tangan, kau menyatakan perang terbuka dengan Keluarga Dirgantara. Jika tidak, silakan nikmati sisa hidupmu membusuk di sini sebagai pecundang yang pasrah." Adrian menyodorkan pulpen dan secarik kertas lusuh. Jantung Elang berpacu. Logikanya berkata ini gila. Melawan Barata lagi berarti membahayakan semua orang. Tapi di dalam dadanya, api dendam yang tadinya hampir padam, kini memercik kembali karena ucapan orang asing ini. Elang menatap pulpen itu. Menatap kartu nama itu. Lalu menatap mata Adrian yang menantang. Tangan Elang perlahan terulur, gemetar namun pasti, menuju pulpen di atas meja. *** Apakah Elang akan mengambil risiko itu dan menandatangani surat kuasa dari pengacara misterius ini, atau dia akan membiarkan Adrian pergi demi melindungi orang-orang yang dicintainya?Lima Tahun Kemudian.Waktu di penjara tidak berjalan seperti waktu di luar. Di sini, waktu diukur dengan tetesan air keran yang bocor, bekas luka yang bertambah di tubuh, dan lapisan kalus yang menebal di hati.Elang bukan lagi pemuda kurus yang menangis di ruang sidang.Di usia 28 tahun, dia telah berubah menjadi sesuatu yang sama sekali berbeda. Tubuhnya padat, setiap inci ototnya dipahat oleh ribuan push-up dan latihan beban tubuh ekstrem di gudang kapel. Wajahnya keras, rahangnya tegas, dan matanya sedingin es kutub.Selama lima tahun, di bawah bimbingan Hendra, Elang telah menyerap segalanya.Dia belajar anatomi tubuh manusia—bukan untuk menyembuhkan, tapi untuk menghancurkan.Dia belajar bahasa sandi dunia bawah tanah.Dia belajar strategi bisnis kotor dari cerita masa lalu Hendra.Dan malam ini, adalah malam kelulusannya.***Jam 02:00 dini hari. Hujan badai mengguyur atap seng penjara, menciptakan keributan alami yang sempurna untuk menyamarkan suara langkah kaki.Di gudang ka
Ruang kerja Kepala Keamanan Lapas (KPLP) malam itu terasa seperti oven, meski AC menyala penuh. Komandan Rusdi mondar-mandir dengan keringat dingin membasahi seragamnya. Telepon di mejanya baru saja ditutup, tapi suara ancaman dari ujung sana masih terngiang jelas."Kami membayar Bapak bukan untuk memelihara hewan peliharaan. Kami dengar dia masih hidup, bahkan masuk blok gereja? Bapak mau bermain-main dengan Keluarga Dirgantara?"Rusdi gemetar. Dia tahu siapa yang menelepon."Malam ini. Harus selesai malam ini! Buat seolah dia depresi dan gantung diri. Jangan ada bekas kekerasan. Atau... Bapak yang akan kami gantung!"Rusdi membanting gagang telepon. Dia tidak punya pilihan. Baron gagal. Kekerasan fisik terlalu berisiko meninggalkan jejak visum jika keluarga panti asuhan itu nekat menuntut. Dia butuh cara yang bersih."Toba!" teriak Rusdi.Sipir dengan tubuh jangkung itu masuk dengan wajah lelah. "Siap, Ndan!"Rusdi membuka laci mejanya, mengeluarkan sebuah botol kecil tak berlabel b
Tiga bulan berlalu di Blok F.Bagi sipir dan napi lain, Elang hanyalah sukarelawan Gereja. Pemuda kurus yang rajin mengepel lantai kapel dari ujung ke ujung, menunduk hormat saat berpapasan dengan orang lain, dan menghabiskan waktunya membaca Alkitab tua di sudut ruangan.Mereka salah besar.Elang tidak menunduk karena takut. Dia menunduk untuk menyembunyikan matanya yang terus merekam. Kapel itu posisinya strategis, berhadapan langsung dengan lapangan utama tempat para napi berjemur dan—seringkali—berkelahi.Di balik kaca jendela kapel yang berdebu, Elang bukan sedang berdoa. Dia sedang belajar. Dia sedang membedah anatomi kekerasan.Siang itu, keributan pecah lagi di lapangan. Baron dan komplotannya sedang "memberi pelajaran" pada seorang napi kasus narkoba yang telat membayar uang perlindungan.Elang berhenti mengepel. Dia berdiri diam di balik tirai, matanya menyipit fokus."Baron selalu memulai dengan tangan kanan," batin Elang, menganalisis. "Pukulan lebar. Kuat, tapi lambat. Sa
Darah menetes dari telapak tangan Elang yang sobek karena menahan sikat gigi tajam itu. Rasa perihnya luar biasa, tapi anehnya, rasa sakit itu justru menjernihkan pikirannya yang selama ini keruh.Di detik-detik antara hidup dan mati itu, waktu seolah melambat. Hening.Suara bising sorakan para napi menghilang, digantikan oleh sebuah suara lembut dari masa lalu yang menyeruak masuk ke kepalanya. Suara Bude Ratih, ibu asuhnya di panti, saat Elang kecil menangis karena dipukuli anak jalanan."Kenapa Tuhan jahat, Bu? Kenapa Elang selalu kalah?"Bude Ratih mengusap kepala Elang yang benjol, tersenyum teduh di bawah lampu panti yang remang."Gusti Allah tidak jahat, Ngger (Nak). Dia hanya sedang menempa besinya biar jadi pedang tajam. Ingat, Nak... Tujuan kita hidup di dunia ini bukan untuk menang di mata manusia, tapi mengumpulkan bekal untuk pulang.""Pulang ke mana?""Ke hadapan-Nya. Di sana, kebenaran tidak bisa dibeli dengan uang. Kalau kamu mati sekarang dalam keadaan menyerah dan pu
Blok C.Di Lapas ini dikenal sebagai "Kandang Hyena". Tempat di mana narapidana kelas kakap, pembunuh, pemerkosa, dan bandar narkoba dicampur menjadi satu adonan kekerasan yang membusuk.Baru lima menit Elang melangkah masuk ke sel barunya yang berukuran 4x6 meter dan dihuni dua puluh orang, upacara penyambutan itu langsung dimulai.Tanpa basa-basi, seorang napi bertubuh gempal dengan tato naga melilit di leher, Baron, menendang dada Elang hingga terpental menabrak jeruji besi.Bugh!Napas Elang tercekat. Tapi anehnya, dia tidak mengangkat tangan untuk menangkis. Dia membiarkan tubuhnya merosot ke lantai dingin yang lengket."Heh, anak baru! Kau pikir ini hotel?" Baron mencengkeram kerah baju Elang, mengangkatnya seperti boneka kain. "Kudengar kau pembunuh wanita? Cuih! Banci!"Plak!Tamparan keras mendarat di pipi Elang. Sudut bibirnya pecah. Darah segar mengalir.Para napi lain bersorak, menanti perlawanan. Tapi Elang hanya diam. Matanya kosong, menatap nanar ke arah ember wc di poj
Pagi itu, selasar Rutan terasa lebih dingin dari biasanya. Ketika sipir memanggil nomornya untuk kunjungannya dalam dua hari ini, jantung Elang berdegup kencang. Bukan siapa-siapa lagi yang dia harapkan, melainkan satu wajah yang menghantui tidurnya semalam.Dan doanya terkabul.Di balik kaca pembatas, duduk seorang gadis dengan gaun terusan berwarna krem. Rambutnya digerai indah, wajahnya dipoles make-up tipis.Melihatnya, dada Elang sesak oleh campuran rasa rindu dan sakit. Gadis ini yang kemarin bersaksi memberatkannya. Tapi, hati kecil Elang yang bodoh masih mencari pembenaran.pElang duduk, mengangkat gagang telepon dengan tangan gemetar."Siska?" bisik Elang. Suaranya penuh harap. "Aku tahu kamu akan datang. Katakan padaku kau baik-baik saja, kan?"Namun, tidak ada air mata di mata Siska. Hanya ada tatapan dingin yang asing. Tatapan menghakimi."Aku datang bukan untuk basa-basi, El," suara Siska terdengar datar dari seberang telepon. Dia tidak menyapa balik. "Aku butuh kejelasan







