Share

BAB 2 SISA-SISA HARAPAN

Penulis: Square Pena
last update Tanggal publikasi: 2026-01-25 03:40:46

Bau apek dinding beton dan aroma pemutih lantai yang menyengat menyambut Elang di ruang kunjungan Rutan. Ini adalah tempat transit sementara sebelum dia dipindahkan ke Lapas dengan keamanan maksimum untuk para pembunuh kelas kakap.

Di balik kaca pembatas yang tebal, dua wajah familiar menatapnya dengan mata merah bengkak. Tio dan Bude Ratih, pengurus panti asuhan tempat Elang dibesarkan.

Tio, teman seperjuangannya sejak kecil, menempelkan gagang telepon ke telinga dengan tangan gemetar.

"Lang?" panggil Tio putus asa. "Kami sedang mengumpulkan uang. Anak-anak panti rela tidak jajan, Bude Ratih mau menggadaikan sertifikat tanah panti. Kita akan ajukan banding. Pengacara publik itu tak bisa dipercaya, kita akan cari yang bayar, Lang! Kau tidak boleh menyerah!"

Di seberang kaca, Elang hanya diam. Wajahnya yang lebam tampak kontras dengan seragam oranye yang kini melekat di tubuhnya.

Dia melihat Bude Ratih yang sudah tua, wanita yang sudah ia anggap ibu sendiri, menangis sambil memegang tasbih. Elang tahu betul kondisi keuangan panti. Uang yang mereka kumpulkan tidak akan cukup untuk membayar biaya parkir pengacara kondang, apalagi melawan tim hukum Keluarga Dirgantara.

"Jangan!" kata Elang mantap.

Tio terbelalak. "Apa maksudmu 'jangan'? Kamu tidak membunuh wanita itu! Kita semua tahu kamu dijebak, Lang!"

"Pulanglah, Tio! Bawa Bude pulang!" potong Elang, matanya menatap lurus, tanpa emosi. "Kalian melawan tembok baja dengan telur busuk. Orang ini bisa meratakan panti asuhan kita hanya dengan satu jentikan jari kalau dia tahu kalian membela 'pembunuh' ini."

"Tapi Lang—"

"Aku lelah," dusta Elang. Padahal hatinya hancur melihat air mata mereka. Dia melakukan ini untuk melindungi mereka. "Mungkin memang takdirku membusuk di sini. Jangan buang uang kalian untuk sampah sepertiku. Lupakan aku! Anggap saja Elang sudah mati!"

Tanpa menunggu balasan, Elang meletakkan gagang telepon. Dia berbalik, memanggil sipir untuk membawanya kembali ke sel, mengabaikan Tio yang menggedor-gedor kaca sambil berteriak memanggil namanya.

Satu-satunya tujuan hidup Elang—melindungi keluarga panti—kini berarti dia harus memutus hubungan dengan mereka selamanya.

***

Satu jam kemudian, Elang duduk meringkuk di sudut sel isolasi yang gelap. Pikirannya kosong. Dia tidak lagi memikirkan masa depan. Baginya, waktu telah berhenti.

Pintu sel besi berbunyi nyaring. Seorang sipir bertubuh tambun muncul.

"Napi 9821. Ada kunjungan lagi!"

Elang tidak bergerak. "Aku tidak minta dijenguk. Suruh dia pergi!"

Elang dipaksa berdiri dan digiring ke ruang interogasi kecil, bukan ruang kunjungan umum.

Di sana, duduk seorang pria berusia awal tiga puluhan. Penampilannya rapi tapi tidak mencolok. Kemejanya agak kusut di bagian lengan, dasinya sedikit miring, dan ada lingkaran hitam di bawah matanya. Dia tidak terlihat seperti pengacara korporat yang licin, lebih mirip serigala jalanan yang kelaparan.

Pria itu menatap Elang tajam saat Elang duduk. Dia tidak membuka berkas apa pun.

"Aku nonton sidangmu dari bangku belakang," ucap pria itu tanpa basa-basi. Suaranya baritone dan tenang. "Namaku Adrian. Aku bukan pengacara hebat, lisensiku bahkan baru dikembalikan bulan lalu setelah dibekukan."

Elang menatapnya datar. "Kalau mau cari sensasi, cari kasus lain saja!"

Adrian terkekeh pelan, lalu menyalakan rokok dan menyodorkannya pada Elang. Elang mengabaikannya.

"Yang menarik bagiku bukan pembunuhan itu, Elang," lanjut Adrian, asap rokok mengepul dari mulutnya. "Tapi caramu menjawab pertanyaan Jaksa. Kamu tidak pernah sekalipun mengakui bahwa kamu membunuhnya. Tapi kamu juga tidak menyangkal ketika Jaksa memutarbalikkan fakta alibimu."

Adrian mencondongkan tubuhnya ke depan, matanya menelisik jiwa Elang.

Rahang Elang mengeras. Tangannya terkepal di bawah meja. Pengacara ini terlalu tajam.

"Keluarga Barata sudah membeli hakim, jaksa, dan polisinya," Adrian melanjutkan, nada suaranya berubah serius. "Mengajukan banding secara normal adalah bunuh diri. Kamu akan kalah dan vonisnya mungkin diperberat menjadi hukuman mati!"

"Lalu untuk apa kamu di sini?" desis Elang akhirnya membuka suara. "Mau menertawakanku?"

Adrian menggeleng. Dia mengeluarkan sebuah kartu nama yang tampak sederhana, hanya ada nama dan nomor telepon, tanpa logo firma hukum.

"Aku di sini karena aku benci melihat orang kaya bermain Tuhan. Aku tahu kau tidak punya uang. Aku juga tidak butuh uangmu. Aku butuh kemarahanmu."

Adrian meletakkan kartu nama itu di meja besi, tepat di depan borgol Elang.

"Ada celah hukum yang sangat kecil. Celah yang berbahaya. Bukan banding biasa. Kita bisa mengajukan Peninjauan Kembali (PK) dengan bukti baru, tapi itu butuh waktu. Selama waktu itu, kamu harus bertahan hidup di penjara. Kamu harus menjadi 'hantu'. Jika kamu setuju aku jadi kuasamu, aku tidak menjanjikan kau bebas besok. Tapi aku berjanji, satu hari nanti, kita akan menyeret bajingan yang menjebakmu itu bertukar tempat denganmu di sel ini."

Adrian berdiri, merapikan jasnya.

"Aku hanya butuh tanda tanganmu di surat kuasa ini. Jika kau tanda tangan, kau menyatakan perang terbuka dengan Keluarga Dirgantara. Jika tidak, silakan nikmati sisa hidupmu membusuk di sini sebagai pecundang yang pasrah."

Adrian menyodorkan pulpen dan secarik kertas lusuh.

Jantung Elang berpacu. Logikanya berkata ini gila. Melawan Barata lagi berarti membahayakan semua orang. Tapi di dalam dadanya, api dendam yang tadinya hampir padam, kini memercik kembali karena ucapan orang asing ini.

Elang menatap pulpen itu. Menatap kartu nama itu. Lalu menatap mata Adrian yang menantang.

Tangan Elang perlahan terulur, gemetar namun pasti, menuju pulpen di atas meja.

***

Apakah Elang akan mengambil risiko itu dan menandatangani surat kuasa dari pengacara misterius ini, atau dia akan membiarkan Adrian pergi demi melindungi orang-orang yang dicintainya?

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Elang (Pembalasan Sang Putra Terbuang)   BAB 89 PEMAKAMAN TANPA NISAN -TAMAT-

    Pemakaman Rahasia, Pinggiran Jakarta - (Keesokan Harinya).Hujan gerimis belum juga berhenti, seolah langit Jakarta ikut menangisi kepergian sang hantu penuntut keadilan.Suara cangkul yang menghantam tanah basah terdengar berirama. Dimas dan dua mantan napi dari Blok Hitam sedang menutup lubang lahat itu dengan tanah merah. Otot lengan mereka tegang, tapi tidak ada yang mengeluh. Di mata mereka, pria di dalam peti kayu itu bukan sekadar bos, melainkan dewa penyelamat.Di pinggir liang lahat, Larasati berlutut di atas lumpur. Gaun hitamnya kotor. Dia tidak memedulikannya. Air mata terus mengalir di pipinya yang pucat, tangannya gemetar mengusap gundukan tanah yang baru saja selesai dipadatkan."Maafkan Ibu, Nak..." isak Larasati, suaranya nyaris habis. "Ibu baru memelukmu sebentar... kenapa kau buru-buru pergi..."Tidak ada batu nisan berukir nama di sana. Hanya ada sebuah patok kayu polos.Secara hukum, Elang Dirgantara sudah ma

  • Elang (Pembalasan Sang Putra Terbuang)   BAB 88 KEADILAN YANG DIBAYAR DARAH

    Helipad Gedung Mahkamah Agung - Pukul 08.15 WIB.DOR!Suara letusan pistol kaliber 9mm itu membelah deru angin dari baling-baling helikopter.Bagi Elang, waktu seolah berjalan dalam gerak lambat. Di tengah sisa tenaganya yang sudah habis dan otot jantung yang mulai robek karena efek obat, insting jalanan Napi 9821 mengambil alih untuk terakhir kalinya.Dia tidak memikirkan dirinya sendiri. Dia melihat arah laras pistol Sanjaya yang terkunci lurus ke dahi Larasati.Dengan sisa tenaga paling dasar yang dia miliki, Elang memutar tubuhnya yang kaku. Dia menarik bahu Larasati, membanting wanita itu ke aspal, dan menjadikan punggung serta dadanya sebagai tameng hidup.JLEB!Peluru itu tidak mengenai Larasati.Peluru panas itu menembus punggung kiri jas hitam Elang, merobek tulang rusuk rapuh Elister, dan bersarang tepat di bilik jantung aslinya—jantung yang memompakan kehidupan kedua baginya."Ugh!"Tubuh

  • Elang (Pembalasan Sang Putra Terbuang)   BAB 87 WAJAH ASLI SANG HANTU

    Helipad Gedung Mahkamah Agung - Pukul 08.10 WIB.Cahaya putih dari lampu sorot helikopter polisi membutakan pandangan. Angin puting beliung dari baling-baling menerbangkan debu, pecahan kaca, dan rintik hujan ke udara.Di angkasa, bukan hanya helikopter polisi yang mengitari atap gedung itu. Tiga buah drone kamera beresolusi tinggi milik stasiun TV berita nasional melayang dekat, menyorotkan lensa mereka dengan lampu merah yang berkedip tanda siaran langsung.Seluruh Indonesia sedang menahan napas menonton adegan ini.Sanjaya tertawa serak, meski lehernya menempel pada bilah pisau berdarah milik Elang."Kau tamat, Elang," bisik Sanjaya di sela deru angin. "Jutaan orang sedang menontonmu sekarang. Kalau kau menggorok leherku, kau akan dicatat sejarah sebagai teroris gila yang membunuh Ketua Mahkamah Agung. Turunkan pisaumu. Hukum manusia akan melindungiku!"Dari pengeras suara helikopter polisi, suara Toba kembali menggema keras.

  • Elang (Pembalasan Sang Putra Terbuang)   BAB 86 KONFRONTASI DI ATAP

    Helipad Gedung Mahkamah Agung - Pukul 08.05 WIB.Angin puting beliung buatan dari baling-baling helikopter AgustaWestland menyapu atap beton itu. Suara mesin jetnya memekakkan telinga, menenggelamkan raungan sirine polisi jauh di jalanan bawah sana.Sanjaya—sang Ketua Mahkamah Agung yang kini menjadi buronan—mendorong kursi roda Barata dengan kasar menuju pintu helikopter yang terbuka. Dua pengawal elitnya menyeret Larasati yang meronta-ronta dan menangis."Cepat! Masukkan mereka!" teriak Sanjaya pada pilot.Tapi langkah mereka terhenti.Di ambang pintu akses tangga, Elang berdiri. Kemeja hitamnya basah oleh keringat dan darah. Dua pistol Glock di tangannya memuntahkan peluru.DOR! DOR!Dua pengawal yang menyeret Larasati ambruk dengan lubang di kepala mereka. Larasati jatuh berlutut di aspal helipad, menutupi telinganya.Sanjaya memucat. Dia bersembunyi di balik kursi roda Barata, menjadikan pria tua yang sakit

  • Elang (Pembalasan Sang Putra Terbuang)   BAB 85 MENYERBU ISTANA HUKUM

    Jalan Medan Merdeka Utara - Pukul 07.55 WIB.Truk logistik seberat 12 ton itu melolong buas. Pedal gas diinjak rata dengan lantai kabin. Jarum speedometer bergetar di angka 100 km/jam.Di kursi kemudi, Elang menatap lurus ke depan. Kaca depan truk yang sudah dilapisi baja anti-peluru mulai berderak saat rentetan tembakan dari penembak jitu di atap Gedung Mahkamah Agung menghujaninya.Peluru-peluru itu hanya meninggalkan bekas putih di kaca. Elang tidak berkedip. Jantungnya berdetak secepat mesin diesel di bawah kakinya. Obat bius militer dari Kara bekerja sempurna. Dia tidak merasakan takut, tidak merasakan sakit. Dia merasa seperti dewa perang.Di depan sana, barikade beton dan puluhan penjaga bersenjata laras panjang memblokir gerbang utama istana hukum tersebut."Truk itu tidak mau berhenti! Tembak bannya! Tembak!" teriak komandan jaga dengan panik.Terlambat.BRAAAAKKK!!!Bumper perusak truk itu menghantam b

  • Elang (Pembalasan Sang Putra Terbuang)   BAB 84 HARI PENGHAKIMAN

    Safe House Phoenix - Pukul 05.30 WIB. Jarum suntik berbahan baja itu menembus kulit dada Elang, tepat di atas tulang rusuknya. Tangan Dokter Kara bergetar hebat saat menekan pendorong suntikan itu. Cairan kental berwarna kuning keemasan—koktail painkiller dosis militer kelas berat yang dicampur dengan stimulan jantung ilegal—mengalir masuk ke aliran darah Elang. Elang memejamkan mata. Rahangnya mengeras hingga ototnya menonjol. Sensasi awalnya adalah rasa panas yang membakar pembuluh darah, seperti disiram cairan timah. Namun, beberapa detik kemudian, rasa sakit yang menyiksa organ dalamnya selama berbulan-bulan ini lenyap seketika. Dada yang tadinya sesak kini terasa lapang. Otot-otot Elister yang rapuh tiba-tiba dipenuhi tenaga yang meledak-ledak. Tubuhnya tidak lagi merasakan lelah, takut, atau nyeri. Saraf rasa sakitnya telah dimatikan total. "Selesai," bisik Kara, menarik jarumnya dan memb

  • Elang (Pembalasan Sang Putra Terbuang)   BAB 43 PENGKHIANATAN TERSELUBUNG

    Ruang Tunggu VIP "The Tower" - Pukul 10.00 WIB.Jarum suntik itu ditarik dari leher Elang. Sensasi dingin serum imunosupresan langsung menyebar, meredakan api yang membakar dadanya. Napas Elang kembali teratur. Jantungnya berdetak sinkron dengan tubuh Elister."Kau gila menerima

  • Elang (Pembalasan Sang Putra Terbuang)   BAB 8 LOLOS

    Lima Tahun Kemudian. Waktu di penjara tidak berjalan seperti waktu di luar. Di sini, waktu diukur dengan tetesan air keran yang bocor, bekas luka yang bertambah di tubuh, dan lapisan kalus yang menebal di hati. Elang bukan lagi pemuda kurus yang menangis di ruang sidang. Di usia 28 tahun, dia tel

  • Elang (Pembalasan Sang Putra Terbuang)   BAB 7 KOPI SIANIDA

    Ruang kerja Kepala Keamanan Lapas (KPLP) malam itu terasa seperti oven, meski AC menyala penuh. Komandan Rusdi mondar-mandir dengan keringat dingin membasahi seragamnya. Telepon di mejanya baru saja ditutup, tapi suara ancaman dari ujung sana masih terngiang jelas."Kami membayar Bapak bukan untuk

  • Elang (Pembalasan Sang Putra Terbuang)   BAB 6: MATA DI BALIK LANTAI SUCI

    Tiga bulan berlalu di Blok F.Bagi sipir dan napi lain, Elang hanyalah sukarelawan Gereja. Pemuda kurus yang rajin mengepel lantai kapel dari ujung ke ujung, menunduk hormat saat berpapasan dengan orang lain, dan menghabiskan waktunya membaca Alkitab tua di sudut ruangan.Mereka salah besar.Elang

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status