Share

Elang (Pembalasan Sang Putra Terbuang)
Elang (Pembalasan Sang Putra Terbuang)
Author: Square Pena

Bab 1 Kambing Hitam

Author: Square Pena
last update Last Updated: 2026-01-25 03:29:53

"Terdakwa Elang, atas tuduhan pembunuhan berencana terhadap korban Vania Angel, Majelis Hakim memutuskan..."

Suara Hakim Ketua yang serak membelah keheningan ruang sidang yang pengap. Di kursi pesakitan, seorang pemuda berusia dua puluh tiga tahun duduk dengan punggung tegak, meski kedua tangannya terbelenggu borgol besi yang dingin. Wajahnya lebam, sisa "interogasi" paksa di tahanan kepolisian, namun matanya tidak menunjukkan rasa takut. Hanya kebingungan yang menggerogoti logikanya.

Elang tahu, apa pun yang diucapkan hakim hari ini bukanlah keadilan. Itu adalah naskah drama yang sudah disusun oleh orang berkuasa di luar sana. Entah apa yang membuatnya harus dijadikan kambing hitam?

Tiga bulan lalu, hidup Elang hanyalah garis lurus yang membosankan namun damai. Dia adalah yatim piatu yang bekerja keras. Siang menjadi kuli angkut di pasar, malam menjadi bartender di Club VVIP paling mewah demi membelikan susu dan buku untuk adik-adiknya di Panti Asuhan Kasih Bunda.

Malam jahanam itu masih berputar jelas di kepalanya seperti kaset rusak.

3 Bulan Lalu

Musik EDM menghentak dinding Club VVIP, menulikan telinga. Elang sedang mengelap gelas di bar ketika manajer klub memanggilnya dengan panik.

"Elang! Antar minuman ini ke Ruang VIP 1. Cepat! Jangan buat Tuan Muda Julian menunggu!"

Elang mengangguk patuh. Dia membawa nampan berisi botol champagne seharga motor sport itu menuju lorong VIP yang remang-remang. Dia tahu siapa Julian Dirgantara—putra mahkota Grup Dirgantara, pewaris tunggal kekayaan yang tak habis tujuh turunan. Sosok yang hidup di langit, sementara Elang hanyalah cacing tanah.

Saat Elang hendak mengetuk pintu VIP 1, pintu itu terbuka lebih dulu.

Seorang pria muda dengan kemeja sutra berantakan keluar dengan napas memburu. Itu Julian. Wajahnya pucat, ada bercak merah gelap di manset kemeja putihnya.

"Tuan Muda?" sapa Elang sopan, sedikit bingung.

Julian tersentak kaget. Matanya membelalak menatap Elang seolah melihat hantu. Namun sedetik kemudian, ekspresi panik itu berubah menjadi senyum miring yang mengerikan. Dia menepuk bahu Elang pelan.

"Masuklah! Ada... tip besar untukmu di dalam!" Julian pergi begitu saja, setengah berlari.

Elang, dengan kenaifan orang kecil yang butuh uang, masuk ke dalam ruangan. "Permisi, pesanan Anda--"

Kata-katanya terhenti di tenggorokan. Nampan di tangannya jatuh, pecah berantakan.

Di atas sofa kulit hitam, seorang wanita muda tergeletak dengan posisi tidak wajar. Matanya melotot kosong menatap langit-langit, dan sebilah pisau buah menancap tepat di dadanya. Darah segar menggenangi karpet mahal di bawahnya.

Itu Vania Angel. Model terkenal yang sering terlihat bersama Julian beberapa waktu lalu saat naik bersama.

Elang membeku. Insting pertamanya adalah lari, tapi hati nuraninya berteriak untuk memeriksa denyut nadi. Dia berlutut, tangannya gemetar hebat saat menyentuh leher wanita itu.

Dingin. Tidak ada denyut.

"JANGAN BERGERAK! POLISI!"

Pintu didobrak kasar. Belum sempat Elang menarik tangannya, serbuan lampu senter menyilaukan matanya. Lima orang polisi berseragam lengkap menyerbu masuk seolah mereka sudah menunggu di depan pintu sejak tadi.

"Tangkap dia! Pembunuh tertangkap basah!" teriak kepala polisi itu.

"Bukan! Aku baru masuk! Aku hanya--" Elang mencoba membela diri.

Sebuah popor senapan menghantam tengkuknya. Dunia Elang gelap seketika.

Malam itu, Elang tidak tahu bahwa dia bukan ditangkap karena nasib sial. Dia telah dipilih. Dipilih untuk menjadi tumbal bagi dosa seorang pangeran pemegang kekuasaan hukum negeri ini.

"Penjara seumur hidup!"

Palu hakim diketuk tiga kali.

Suara itu meruntuhkan sisa harapan Elang. Dia menarik napas panjang, paru-parunya terasa terbakar. Seumur hidup. Artinya dia akan membusuk di dalam sel beton sampai menjadi mayat, tanpa pernah melihat matahari bebas lagi.

Riuh rendah tepuk tangan terdengar dari bangku pengunjung. Bukan tepuk tangan meriah, tapi gumaman puas dari para elit yang hadir.

Elang menoleh perlahan ke barisan depan. Di sana, duduk pria yang menjadi arsitek kehancurannya hari ini. Barata Dirgantara, sosok seorang ayah yang terlihat berwibawa dan gigih memperjuangkan kebebasan putranya.

Pria paruh baya itu mengenakan setelan jas hitam yang harganya mungkin bisa memberi makan satu panti asuhan selama setahun. Wajahnya keras, berwibawa, namun di matanya terpancar kepuasan yang dingin. Barata menatap Elang bukan sebagai manusia, melainkan sebagai hama yang baru saja dia basmi demi melindungi nama baik keluarganya.

Barata tidak tahu. Dia tidak tahu bahwa dia baru saja mengirim darah dagingnya sendiri ke neraka demi menyelamatkan anak orang lain.

Di samping Barata, Larasati—istri sang konglomerat—menutupi mulutnya dengan sapu tangan sutra, menatap Elang dengan jijik yang tak ditutup-tutupi.

"Dasar monster!" gumam Larasati cukup keras hingga terdengar oleh Elang. "Untung polisi cepat menangkapnya sebelum dia melukai orang lain."

Hati Elang serasa ditusuk ribuan jarum. Dia tidak tahu kenapa ucapan wanita itu terasa lebih menyakitkan daripada vonis hakim. Ada rasa sesak yang asing di dadanya saat melihat tatapan benci wanita itu.

Dan di sana, di sudut ruangan, berdiri Julian. Pria yang seharusnya duduk di kursi pesakitan ini. Julian tersenyum, sambil merangkul pinggang seorang gadis.

Gadis itu menunduk, menghindari tatapan Elang.

Wanita yang Elang cintai. Wanita yang dia lindungi mati-matian. Wanita yang kemarin bersaksi di mimbar: "Ya, Elang memang sering emosi dan terobsesi pada uang. Dia pernah bilang ingin merampok orang kaya."

Kesaksian itu adalah paku terakhir di peti mati Elang. Siska menjual kejujurannya demi tas bermerek dan janji dinikahi oleh Julian.

Dua petugas pengadilan bertubuh kekar menarik lengan Elang kasar, memaksanya berdiri.

"Jalan!" bentak salah satu petugas.

Elang tidak melawan. Dia berdiri, menegakkan kepalanya untuk terakhir kali. Dia tidak menangis. Air matanya sudah kering disiksa di ruang interogasi. Dia menatap lurus ke arah orang-orang yang ada di hidupnya selama ini.

Tatapannya begitu tajam, begitu gelap, hingga senyum di wajah orang yang melihatnya luntur seketika. Itu bukan tatapan orang kalah. Itu tatapan seekor serigala yang sedang mengingat wajah pemburunya sebelum masuk ke dalam gua.

"Nikmatilah kemenangan kalian hari ini!" bisik Elang serak di tengah keriuhan, namun getarannya membuat orang di sekitarnya mengernyitkan dahi.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Elang (Pembalasan Sang Putra Terbuang)   BAB 8 LOLOS

    Lima Tahun Kemudian.Waktu di penjara tidak berjalan seperti waktu di luar. Di sini, waktu diukur dengan tetesan air keran yang bocor, bekas luka yang bertambah di tubuh, dan lapisan kalus yang menebal di hati.Elang bukan lagi pemuda kurus yang menangis di ruang sidang.Di usia 28 tahun, dia telah berubah menjadi sesuatu yang sama sekali berbeda. Tubuhnya padat, setiap inci ototnya dipahat oleh ribuan push-up dan latihan beban tubuh ekstrem di gudang kapel. Wajahnya keras, rahangnya tegas, dan matanya sedingin es kutub.Selama lima tahun, di bawah bimbingan Hendra, Elang telah menyerap segalanya.Dia belajar anatomi tubuh manusia—bukan untuk menyembuhkan, tapi untuk menghancurkan.Dia belajar bahasa sandi dunia bawah tanah.Dia belajar strategi bisnis kotor dari cerita masa lalu Hendra.Dan malam ini, adalah malam kelulusannya.***Jam 02:00 dini hari. Hujan badai mengguyur atap seng penjara, menciptakan keributan alami yang sempurna untuk menyamarkan suara langkah kaki.Di gudang ka

  • Elang (Pembalasan Sang Putra Terbuang)   BAB 7 KOPI SIANIDA

    Ruang kerja Kepala Keamanan Lapas (KPLP) malam itu terasa seperti oven, meski AC menyala penuh. Komandan Rusdi mondar-mandir dengan keringat dingin membasahi seragamnya. Telepon di mejanya baru saja ditutup, tapi suara ancaman dari ujung sana masih terngiang jelas."Kami membayar Bapak bukan untuk memelihara hewan peliharaan. Kami dengar dia masih hidup, bahkan masuk blok gereja? Bapak mau bermain-main dengan Keluarga Dirgantara?"Rusdi gemetar. Dia tahu siapa yang menelepon."Malam ini. Harus selesai malam ini! Buat seolah dia depresi dan gantung diri. Jangan ada bekas kekerasan. Atau... Bapak yang akan kami gantung!"Rusdi membanting gagang telepon. Dia tidak punya pilihan. Baron gagal. Kekerasan fisik terlalu berisiko meninggalkan jejak visum jika keluarga panti asuhan itu nekat menuntut. Dia butuh cara yang bersih."Toba!" teriak Rusdi.Sipir dengan tubuh jangkung itu masuk dengan wajah lelah. "Siap, Ndan!"Rusdi membuka laci mejanya, mengeluarkan sebuah botol kecil tak berlabel b

  • Elang (Pembalasan Sang Putra Terbuang)   BAB 6: MATA DI BALIK LANTAI SUCI

    Tiga bulan berlalu di Blok F.Bagi sipir dan napi lain, Elang hanyalah sukarelawan Gereja. Pemuda kurus yang rajin mengepel lantai kapel dari ujung ke ujung, menunduk hormat saat berpapasan dengan orang lain, dan menghabiskan waktunya membaca Alkitab tua di sudut ruangan.Mereka salah besar.Elang tidak menunduk karena takut. Dia menunduk untuk menyembunyikan matanya yang terus merekam. Kapel itu posisinya strategis, berhadapan langsung dengan lapangan utama tempat para napi berjemur dan—seringkali—berkelahi.Di balik kaca jendela kapel yang berdebu, Elang bukan sedang berdoa. Dia sedang belajar. Dia sedang membedah anatomi kekerasan.Siang itu, keributan pecah lagi di lapangan. Baron dan komplotannya sedang "memberi pelajaran" pada seorang napi kasus narkoba yang telat membayar uang perlindungan.Elang berhenti mengepel. Dia berdiri diam di balik tirai, matanya menyipit fokus."Baron selalu memulai dengan tangan kanan," batin Elang, menganalisis. "Pukulan lebar. Kuat, tapi lambat. Sa

  • Elang (Pembalasan Sang Putra Terbuang)   BAB 5: PERLAWANAN DI BALIK JERUJI

    Darah menetes dari telapak tangan Elang yang sobek karena menahan sikat gigi tajam itu. Rasa perihnya luar biasa, tapi anehnya, rasa sakit itu justru menjernihkan pikirannya yang selama ini keruh.Di detik-detik antara hidup dan mati itu, waktu seolah melambat. Hening.Suara bising sorakan para napi menghilang, digantikan oleh sebuah suara lembut dari masa lalu yang menyeruak masuk ke kepalanya. Suara Bude Ratih, ibu asuhnya di panti, saat Elang kecil menangis karena dipukuli anak jalanan."Kenapa Tuhan jahat, Bu? Kenapa Elang selalu kalah?"Bude Ratih mengusap kepala Elang yang benjol, tersenyum teduh di bawah lampu panti yang remang."Gusti Allah tidak jahat, Ngger (Nak). Dia hanya sedang menempa besinya biar jadi pedang tajam. Ingat, Nak... Tujuan kita hidup di dunia ini bukan untuk menang di mata manusia, tapi mengumpulkan bekal untuk pulang.""Pulang ke mana?""Ke hadapan-Nya. Di sana, kebenaran tidak bisa dibeli dengan uang. Kalau kamu mati sekarang dalam keadaan menyerah dan pu

  • Elang (Pembalasan Sang Putra Terbuang)   BAB 4: SKENARIO KEMATIAN

    Blok C.Di Lapas ini dikenal sebagai "Kandang Hyena". Tempat di mana narapidana kelas kakap, pembunuh, pemerkosa, dan bandar narkoba dicampur menjadi satu adonan kekerasan yang membusuk.Baru lima menit Elang melangkah masuk ke sel barunya yang berukuran 4x6 meter dan dihuni dua puluh orang, upacara penyambutan itu langsung dimulai.Tanpa basa-basi, seorang napi bertubuh gempal dengan tato naga melilit di leher, Baron, menendang dada Elang hingga terpental menabrak jeruji besi.Bugh!Napas Elang tercekat. Tapi anehnya, dia tidak mengangkat tangan untuk menangkis. Dia membiarkan tubuhnya merosot ke lantai dingin yang lengket."Heh, anak baru! Kau pikir ini hotel?" Baron mencengkeram kerah baju Elang, mengangkatnya seperti boneka kain. "Kudengar kau pembunuh wanita? Cuih! Banci!"Plak!Tamparan keras mendarat di pipi Elang. Sudut bibirnya pecah. Darah segar mengalir.Para napi lain bersorak, menanti perlawanan. Tapi Elang hanya diam. Matanya kosong, menatap nanar ke arah ember wc di poj

  • Elang (Pembalasan Sang Putra Terbuang)   BAB 3: PENGKHIANATAN TERAKHIR

    Pagi itu, selasar Rutan terasa lebih dingin dari biasanya. Ketika sipir memanggil nomornya untuk kunjungannya dalam dua hari ini, jantung Elang berdegup kencang. Bukan siapa-siapa lagi yang dia harapkan, melainkan satu wajah yang menghantui tidurnya semalam.Dan doanya terkabul.Di balik kaca pembatas, duduk seorang gadis dengan gaun terusan berwarna krem. Rambutnya digerai indah, wajahnya dipoles make-up tipis.Melihatnya, dada Elang sesak oleh campuran rasa rindu dan sakit. Gadis ini yang kemarin bersaksi memberatkannya. Tapi, hati kecil Elang yang bodoh masih mencari pembenaran.pElang duduk, mengangkat gagang telepon dengan tangan gemetar."Siska?" bisik Elang. Suaranya penuh harap. "Aku tahu kamu akan datang. Katakan padaku kau baik-baik saja, kan?"Namun, tidak ada air mata di mata Siska. Hanya ada tatapan dingin yang asing. Tatapan menghakimi."Aku datang bukan untuk basa-basi, El," suara Siska terdengar datar dari seberang telepon. Dia tidak menyapa balik. "Aku butuh kejelasan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status