Share

Bab 10

Author: Kharamiza
last update Last Updated: 2026-01-04 23:00:46

Acha menggigit bibirnya, mulutnya kelu, tak tahu harus malu atau kesal. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya, bahkan jemarinya sedikit gemetar saat pura-pura menulis catatan di tablet.

‘Kenapa Pak Elvano bisa nggak ngeh, sih? Jelas-jelas ada bekas lipstikku di sana.’

Elvano meneguk kopi itu hanya sekali, lalu melirik cangkirnya sekilas. Tatapannya yang datar sempat beralih pada Acha sejenak, seolah kepanikan wanita tak ada artinya.

“Kamu meletakkannya terlalu dekat,” katanya pelan, hanya untuk mereka berdua. “Saya kira itu milik saya.”

Acha menghela napas pasrah. Termasuk bukan salahnya, tetapi ia tetap merasa dirinya yang bersalah. Di mata Elvano, mungkin pasal wanita selalu benar tak pernah berlaku.

Acha melirik sekeliling, memastikan tak ada satu pun yang menyadari kejadian barusan. Barulah Acha kembali menunduk, berusaha menenangkan dirinya. Namun, wajahnya tetap memerah.

Rapat h
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 13 - Pesan dari Nomor Tak Dikenal

    Acha sontak menoleh. Mulutnya sedikit terbuka. Ia hampir tak percaya Elvano melontarkan pertanyaan yang arahnya sangat jelas.Padahal, Acha mencari Raka bukan karena ada maksud lain.Lalu, apa motivasinya pertanyaan itu?Acha buru-buru mengalihkan pandangan. Tawanya tiba-tiba meledak, mula-mula pelan, lalu sedikit lebih keras. Bukan karena lucu, melainkan karena ia merasa dihakimi hanya karena mencari seseorang.“Ya, nggak mungkinlah, Pak,” katanya di sela tawa. “Ada-ada saja saya suka Pak Raka.”Elvano tak menanggapi lagi. Ekspresinya tetap datar, bahkan tidak ada reaksi apa pun yang bisa ditafsirkan sebagai percaya atau tidak. Pria itu kembali fokus pada tablet di tangannya, seakan percakapan barusan telah usai.Elvano baru mengangkat pandangan ketika mereka tiba di bandara. Itu pun hanya sebentar. Begitu duduk di pesawat, perhatiannya kembali tertambat pada layar tablet. Sesibuk itu, seolah dunia di sekitarnya tidak ada.Sangat berkebalikan dengan Acha yang duduk di dekatnya. Bahu

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 12 - “Kamu Menyukainya?”

    Acha sedikit terperanjat mendengar perkataan Elvano barusan. Kepalanya yang semula tertunduk, perlahan terangkat. Sejenak, ia hanya menatap Elvano, memastikan pendengarannya tidak salah. ‘Ke luar kota? Dengannya?’ Padahal, Acha sudah bersiap menerima kemarahan. Setidaknya teguran dingin, atau mungkin tatapan kecewa yang akan membuatnya semakin merasa bersalah. Namun, yang keluar dari mulut Elvano justru di luar dugaan. “I-ikut Bapak … ke luar kota?” ulangnya pelan, nadanya sedikit goyah. “Ke Malang,” jawab Elvano singkat. “Saya akan meninjau pembangunan pabrik. Selama di sana, kamu yang pegang jadwal.” Kalimat tegas itu diucapkan tanpa penjelasan tambahan. Acha menelan ludah yang mendadak terasa keras di kerongkongannya. Dadanya penuh sesak oleh sesuatu yang tak bisa ia jelaskan dengan kata-kata. Ia ingin membuka mulut, ingin bertanya sekadar memastikan mengapa

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 11 - Mengambil Hati?

    Setelah beberapa saat tak mendapat jawaban dari Elvano, Acha baru ingat Raka pergi bersamanya. Tangannya langsung beralih menekan kontak Raka di ponsel. Nada sambung terdengar beberapa kali, tetapi hasilnya sama saja.Acha mencoba lagi, tetapi tetap tak ada jawaban. Ponsel itu seperti sengaja menguji kesabarannya. Pada percobaan ketga, Raka akhirnya menjawab panggilannya.“Halo, ada apa, Acha?” suara Raka terdengar dari seberang.Acha hampir mengembuskan napas terlalu keras. “Maaf, Pak Raka … lagi bareng Pak Elvano?”“Iya. Ini, lagi di jalan.”“Pak Raka, tolong banget …,” ucap Acha cepat. “Bilang sama Pak Elvano kalau Pak Burhan ada di kantor.”Tak ada jawaban langsung, Acha menggenggam ponselnya lebih erat hingga jari-jarinya terasa dingin.Lalu, terdengar suara lain dari balik telepon. Datar dan tanpa basa-basi bertanya, “Ada apa?”Napas Acha tersangkut di tenggorokannya sendiri, ia memejam

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 10

    Acha menggigit bibirnya, mulutnya kelu, tak tahu harus malu atau kesal. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya, bahkan jemarinya sedikit gemetar saat pura-pura menulis catatan di tablet. ‘Kenapa Pak Elvano bisa nggak ngeh, sih? Jelas-jelas ada bekas lipstikku di sana.’ Elvano meneguk kopi itu hanya sekali, lalu melirik cangkirnya sekilas. Tatapannya yang datar sempat beralih pada Acha sejenak, seolah kepanikan wanita tak ada artinya. “Kamu meletakkannya terlalu dekat,” katanya pelan, hanya untuk mereka berdua. “Saya kira itu milik saya.” Acha menghela napas pasrah. Termasuk bukan salahnya, tetapi ia tetap merasa dirinya yang bersalah. Di mata Elvano, mungkin pasal wanita selalu benar tak pernah berlaku. Acha melirik sekeliling, memastikan tak ada satu pun yang menyadari kejadian barusan. Barulah Acha kembali menunduk, berusaha menenangkan dirinya. Namun, wajahnya tetap memerah. Rapat h

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 9

    Setelah kepergian Elvano, Acha tetap duduk di lantai kamar hotel beberapa saat, membiarkan dinginnya marmer menyusup ke kulitnya. Napasnya belum sepenuhnya stabil ketika akhirnya ia memaksa diri berdiri. Tas lengan di meja digenggam seadanya saat melangkah gontai keluar kamar hotel, meninggalkan ruangan itu tanpa menoleh lagi. Memasuki lift, Acha sempat melirik ke dinding kaca lift. Bayangan wajahnya tampak pucat, bahkan ia sendiri merasa asing dengan tubuh yang berdiri di sana. Selama perjalanan menuju apartemen, Acha lebih banyak diam, berbicara hanya ketika menyebutkan alamat pada pengemudi taksi. Suasana hatinya terlalu buruk untuk sekadar berbasa-basi. Di tengah kekalutannya, keinginan untuk berhenti bekerja dan menjauh dari Elvano muncul begitu saja. Ia ingin kejadian malam itu tak terus menghantuinya dalam rasa malu dan penyesalan. Acha bersandar sebentar di balik pintu yang tertutup begitu tiba di apartemen. Baru saja ia menghela napas ketika ponselnya berdering, memecah l

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 8

    Saat terbangun di pagi hari, Acha merasakan ada sesuatu yang aneh menekan perutnya. Sebuah lengan melingkar di pinggangnya. Napasnya tertahan, bahkan sebelum membuka mata, ia sudah menyadari ada yang salah. Ia menatap langit-langit kamar, berusaha mencerna semuanya. Pemandangan itu jelas bukan yang biasa ia lihat setiap pagi. Ketika kesadarannya berangsur penuh, tubuhnya sontak tegang. Udara dingin menusuk, menambah cemas di dadanya. Acha sempat ragu sejenak, sebelum akhirnya mengintip ke bawah selimut dengan hati-hati. Ia tersentak. Refleks, ia bangkit dan bergerak menjauh, tetapi karena terlalu panik, keseimbangannya hilang. Kakinya tak berpijak sempurna di lantai, alhasil ia jatuh terperosok. Kepalanya membentur meja kecil di sana. “Aduh!” ringisnya. Bunyi benturannya pelan, tetapi terdengar nyaring di telinganya sendiri. Hening menyergap. Acha berjongkok di lantai, memeluk selimut yang berhasil ia tarik untuk menutupi tubuhnya yang polos. Jika kejadian semalam

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status