Masuk“Bercandamu nggak lucu, Evander!” seru Elvano, nada suaranya terdengar sinis.“Kalau begitu, Mbak Acha saja yang menilai.” Evander kembali menoleh kepada Acha dengan santai. “Atau Mas takut kalah saing, ya?”Elvano langsung melirik tajam.Sementara itu, Evander malah tertawa kecil, seolah tatapan kakaknya itu justru semakin menghiburnya.Acha menghela napas pelan melihat dua kakak beradik itu, tanpa tahu harus berbuat apa menanggapinya.“Ah, sudah-sudah.” Jonathan akhirnya menengahi. “Kalian ini kalau ketemu pasti bertengkar terus.”“Bukan saya yang mulai, Pi,” sahut Evander cepat.“Mulut kamu itu, lho,” balas Elvano.Evander mengangkat kedua tangan. “Saya akan diam.”“Bagus.”“Tapi Mbak Acha belum jawab.”“Evander!”Tawa Evelyn langsung pecah. Widya ikut tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepala.Acha hanya bisa tersenyum. Namun, ketika tanpa sengaja melirik Elvano, pria itu masih menatap Evander dengan wajah yang jelas-jelas tidak senang.Ia pun buru-buru menundukkan wajah. Entah k
Mobil Elvano akhirnya berhenti di depan rumah orang tuanya.Acha yang sejak tadi memandangi jalan dari balik kaca jendela perlahan mengangkat kepala. Rumah itu masih sama seperti terakhir kali ia datang. Halamannya, teras yang cukup luas, bahkan pot-pot tanaman di dekat pintu masuk pun masih berada di tempat yang sama.Elvano mematikan mesin, lalu turun lebih dulu. Beberapa detik kemudian, pintu mobil di sisi Acha terbuka.“Silakan.”Acha menatap tangan Elvano yang masih memegang gagang pintu, lalu mengangkat wajah kepadanya.Ah, pria itu masih saja perhatian kepadanya.Seharusnya jangan begini terus, karena hal-hal kecil seperti itu justru membuat Acha semakin sulit menempatkan dirinya sendiri. Apalagi setelah pertanyaan yang ia ajukan di mobil tadi bahkan belum mendapatkan jawabannya.“Terima kasih.”Acha turun tanpa banyak bicara lagi.Mereka baru berjalan beberapa langkah menuju teras ketika pintu rumah sudah lebih dulu terbuka dari dalam, seperti orang di dalam sudah mengetahui k
Tak ada jawaban dari Elvano. Hanya suara mesin mobil yang terus bekerja, diselingi bunyi kendaraan lain yang sesekali melintas dari luar.Meski pria itu masih diam, Acha tetap menunggu. Beberapa detik berlalu, tetapi tidak ada satu pun kata yang keluar dari mulut Elvano.Jemarinya yang sejak tadi mencengkeram ujung tas perlahan mengendur. Ia bahkan sempat menahan napas, seolah satu kalimat dari pria di sebelahnya bisa membuat sesak di dadanya sedikit berkurang.Padahal, ia tidak meminta penjelasan panjang. Ia juga tidak sedang menuntut Elvano memilih dirinya.Acha hanya ingin tahu, sebenarnya apa arti dirinya selama ini bagi pria itu.Ia menelan ludah pelan. Rasa perih yang sejak tadi mengendap di dada seakan naik perlahan hingga ke tenggorokan.Anehnya, diam Elvano justru terasa lebih menyakitkan daripada jawaban apa pun yang mungkin tidak ingin didengarnya.Mungkin pria itu memang tidak tahu harus menjawab apa. Atau ba
“Aku pulang, ya, Din,” ujar Acha sambil memeluk Dina.Mereka kini berdiri di depan pintu apartemen. Di tangan Dina masih ada segelas kopi yang tadi sempat dibuatnya.“Hm. Semoga masalahnya cepat selesai, ya,” ujar Dina lirih. Hanya mereka yang bisa mendengarnya.Acha mengangguk kecil. “Ya.”Tatapannya sempat beralih ke Elvano yang berdiri beberapa langkah di belakangnya. Pria itu terlihat baru saja memasukkan ponsel ke saku jaket.Acha tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia langsung melangkah pergi, meski suara Elvano di belakangnya masih sempat didengarnya.“Terima kasih, Dina,” ujar pria itu, “karena sudah menjaga Acha semalam.”“Santai aja, Pak El. Acha sahabat saya.”Acha tetap tidak menoleh. Langkahnya malah semakin cepat sampai akhirnya ia berdiri di depan lift. Jemarinya menekan tombol turun, kemudian matanya terpaku pada angka di atas pintu yang perlahan berubah.Tak lama kemudian, Elvano sudah berdiri di sampingnya.Biasanya, berada sedekat ini dengan pria itu membuat Acha selalu
Entah apa masalah pria itu sampai hampir dua jam setelah waktu yang seharusnya mereka gunakan untuk makan malam bersama, baru dia datang ke kantor untuk menjemputnya.Tatapan Acha masih tertahan pada pesan pertama sebelum perlahan turun ke pesan berikutnya.[Elvano: Kamu sudah pulang, ya?]Acha masih diam.Barangkali setelah datang ke kantor dan tidak menemukan dirinya di sana, Elvano mulai mencarinya.Matanya kembali menyapu pesan Elvano yang lain.[Elvano: Saya minta maaf, Acha.][Elvano: Tolong kabari saya kalau sudah membaca pesan saya.]Acha menggigit bibir bawahnya.Entah kenapa, membaca pesan-pesan itu membuat dadanya sedikit lebih lega. Setidaknya, Elvano mencarinya.Itu saja sudah cukup, kan?Berarti pria itu masih merasa bersalah setelah membuatnya menunggu selama itu.Namun, rasa lega tersebut hanya bertahan beberapa detik sebelum kembali ditekan Acha. Bagaimanapun juga, ia tidak bisa mengabaikan satu fakta yang sejak semalam terus berputar di kepalanya.Elvano tidak datang
Esther juga terlihat tak kalah terkejut dengan keberadaan Acha. Namun, keterkejutan itu hanya berlangsung sesaat sebelum ekspresinya kembali normal.Ia segera menghampiri Acha sambil tersenyum.“Kak Acha lembur, ya? Baru pulang jam segini?” tanyanya sopan.Acha mengangguk kikuk. “Iya.”Tidak mungkin juga ia mengatakan kalau sebenarnya ia sedang menunggu Elvano menjemputnya.Apalagi setelah pria itu tidak muncul dan ponselnya bahkan tidak aktif.Mengingatnya saja membuat Acha merasa malu sendiri, seperti hanya dirinya yang terlalu berharap di sini.“Oh.” Esther mengangguk kecil.Beberapa detik berlalu. Acha hanya meliriknya. Ada sesuatu dari wajah Esther yang membuatnya sedikit penasaran.“Kamu sendiri bukannya sudah pulang dari tadi?” tanyanya dengan kening mengerut tipis. “Kenapa masih di sini?”Esther sempat terdiam. Matanya bergerak cepat ke arah gedung, seolah mencari sesuatu, sebelum kembali menatap Acha.“Oh, itu ... ada barang yang ketinggalan, Kak,” katanya sambil menunjuk ke
Jantungnya berdetak lebih kencang. Pertanyaan itu, benar-benar konyol! Ia menahan rasa kesal yang sudah naik ke ubun-ubun, berusaha tetap tenang di hadapan tatapan dingin Elvano. Sambil menahan napas yang hampir tersengal, Acha menjawab tegas, “Maaf, saya rasa pertanyaan ini tidak relevan dengan p
“Astaga, kenapa macet begini?!” Acha menggerutu sebal saat pengemudi ojeknya menepikan motor. Matanya refleks melirik jam.“Jalan depan ditutup, Mbak,” katanya, “ada truk terguling. Kita harus muter jauh. Kalau nunggu, malah lebih lama.”Acha menegakkan tubuh. Hanya bisa menghela napas panjang, men
Acha dan Elvano sama-sama tersentak saat suara Raka memecah ketegangan di antara mereka. Elvano melangkah mundur dengan perlahan. Wajahnya datar dan tenang, seakan kejadian tadi tidak berarti apa-apa untuknya. Sangat berkebalikan dengan Acha yang jantungnya berdegup kencang dan wajahnya yang tiba-
Hari itu, untungnya berakhir tanpa banyak drama. Namun, rasa lelah tetap mengendap di dada Acha, seperti beban yang tiada habisnya. Sejak tiba di kantor pukul 07.30 pagi hingga pulang menjelang 17.30, ia nyaris tak benar-benar berhenti bergerak. Selain jeda makan siang yang singkat, waktunya habi







