LOGINAcha baru saja membuka dan meletakkan makanan kiriman Elvano ketika terdengar suara seseorang menekan PIN apartemen dari luar.Tak lama kemudian, pintu terbuka. Dina dan Celine masuk sambil membawa beberapa kantong makanan.“Eh, kamu habis GoFood, Cha?” tanya Dina begitu melihat makanan di atas meja.Acha menggeleng kecil.“Nggak. Ini dikirimin Elvano,” katanya.Langkah Celine yang hendak meletakkan kantong bawaannya di meja langsung berhenti.“Elvano?” Ia memastikan.“Iya.”Dina yang sudah duduk di dekat Acha sambil mengeluarkan beberapa kotak makanan dari kantong ikut menoleh.“Loh, perhatian sekali dia.”Alih-alih ikut memuji, Celine malah mendengkus. “Halah. Pasti ada maunya itu orang.”Dina mengernyit bingung. “Maksudnya?”“Ya, apalagi?” Celine menghempaskan tubuhnya ke sofa sedikit lebih keras dari seharusnya. “Udah bikin Acha sakit hati, sekarang ngirim makanan. Biar apa? Biar Acha nggak benar-benar ninggalin dia. Toh, dia pasti sudah sadar Acha mulai ngejauh, kan?”“Cel .…”“B
Acha baru saja membuka dan meletakkan makanan kiriman Elvano ketika terdengar suara seseorang menekan PIN apartemen dari luar.Tak lama kemudian, pintu terbuka. Dina dan Celine masuk sambil membawa beberapa kantong makanan.“Eh, kamu habis GoFood, Cha?” tanya Dina begitu melihat makanan di atas meja.Acha menggeleng kecil.“Nggak. Ini dikirimin Elvano,” katanya.Langkah Celine yang hendak meletakkan kantong bawaannya di meja langsung berhenti.“Elvano?” Ia memastikan.“Iya.”Dina yang sudah duduk di dekat Acha sambil mengeluarkan beberapa kotak makanan dari kantong ikut menoleh.“Loh, perhatian sekali dia.”Alih-alih ikut memuji, Celine malah mendengkus. “Halah. Pasti ada maunya itu orang.”Dina mengernyit bingung. “Maksudnya?”“Ya, apalagi?” Celine menghempaskan tubuhnya ke sofa sedikit lebih keras dari seharusnya. “Udah bikin Acha sakit hati, sekarang ngirim makanan. Biar apa? Biar Acha nggak benar-benar ninggalin dia. Toh, dia pasti sudah sadar Acha mulai ngejauh, kan?”“Cel .…”“B
Setelah menerima informasi yang sebenarnya tidak perlu ia ketahui itu, Acha malah jadi kepikiran soal Elvano.Apa yang sebenarnya terjadi pada pria itu?Rasa penasaran tersebut belum juga hilang ketika Acha segera keluar dari kamar. Ia memilih mengalihkan perhatian pada tayangan drama di televisi, berharap pikirannya juga bisa beralih.Sampai beberapa saat kemudian, ponselnya lagi-lagi berbunyi.Tadinya ia refleks melihat notifikasi karena mengira Dina atau Celine yang mengirim pesan untuknya. Ternyata bukan. Dan nama kontak yang terpampang di layar ponselnya membuatnya seketika tertegun.Jarinya sempat menggantung di atas layar sebelum akhirnya membuka pesan dari Elvano tersebut.[Elvano: Acha, bagaimana keadaanmu?]Acha mengerjap pelan.Saat kalimat sederhana itu seolah langsung membuatnya kehilangan kata-kata.Bukankah ia sudah berusaha menjauh dari pria itu? Lantas, kenapa Elvano masih menghubunginya dan menanyakan keadaannya seperti ini?Namun, tanpa sadar ia tetap mengetik bala
Setelah dirawat semalam penuh, Acha akhirnya diperbolehkan pulang dari rumah sakit keesokan harinya. Demamnya memang sudah turun, meski tubuhnya masih terasa lemas. Setidaknya, kondisinya memang sudah jauh lebih baik dari semalam. Dokter juga menyarankan agar ia banyak beristirahat dan tidak terlalu memaksakan diri untuk bekerja beberapa hari ke depan. Dina sebenarnya ingin menemani Acha pulang, tetapi ada pekerjaan yang benar-benar tidak bisa ditinggalkan. Akhirnya, hanya Celine yang menemani Acha di apartemen Dina. “Kamu istirahat aja,” ujar Celine sambil meletakkan tasnya di atas meja begitu mereka tiba. “Jangan banyak gerak dulu.” Acha yang sudah duduk di sofa hanya mengangguk. Pandangannya kemudian beralih kepada Celine. “Cel.” “Hm?” “Makasih, ya.” Celine yang sedang mengambil air minum menoleh. “Buat apa?” “Karena kalian udah nemenin aku dari kemarin. Kamu sampe rela cuti buat nemenin aku.” “Oh?” Celine malah terkekeh kecil. “Santai, kayak sama siapa aja.
Suara roda brankar yang melintas di depan ruang IGD terdengar samar di telinga Acha. Ia hanya berbaring diam di atas ranjang, menatap langit-langit putih dengan pandangan sayu.Tangan kanannya sudah terpasang infus. Tubuhnya masih terasa lemas, sementara kepalanya sedikit pening.Tadi, setelah mengetahui Acha demam, Dina dan Celine langsung memaksanya pergi ke rumah sakit.Acha sempat menolak karena merasa masih sanggup menahan. Namun, kedua sahabatnya itu sama sekali tidak mau mendengarkan. Pada akhirnya, ia hanya bisa pasrah.Kini, Dina dan Celine duduk di kursi samping ranjang sambil sesekali memperhatikan kondisinya.“Kalau capek, istirahat, Cha,” ujar Dina memecah keheningan. “Jangan tunggu drop dulu.”“Gimana mau istirahat? Kerjaannya banyak,” jawab Acha lemah.“Dari kemarin kamu stres, kelelahan, kurang tidur, pasti pola makanmu juga berantakan,” omel Celine. “Kalau cuma kerjaan, nggak biasanya kamu begini. Ini pasti karena kamu terlalu mikirin masalah sama Elvano.”“Nggak ada,
Celine langsung bergeser mendekat. Raut terkejut di wajahnya belum juga hilang.“Kenapa, Cha?” tanyanya. “Nggak mungkin dia ngusir kamu, kan?”Acha masih memandangi langit-langit sambil sesekali mengembuskan napas berat. Beberapa detik kemudian, ia menggeleng pelan.“Aku cuma merasa harus pergi dari sana.”“Ada apa?” Celine semakin bingung. “Bukannya kalian sudah sama-sama ngungkapin perasaan? Harusnya itu arah yang baik untuk hubungan kalian.”Acha terdiam.Seharusnya memang itu arah yang baik. Sayangnya, ia tak seberuntung itu.Ia memperbaiki posisi duduknya, lalu menelan ludah yang terasa berat melewati kerongkongannya. Tangannya meremas ujung bantal yang baru saja diambil dan diletakkan di pangkuannya.Dina dan Celine saling berpandangan. Keduanya kemudian kembali menatap Acha, menunggu penjelasan dari sahabat mereka itu.“Iya,” jawab Acha akhirnya. “Harusnya itu perkembangan.”Ia terdiam sejenak sebelum tersenyum tipis. Namun, senyum itu sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda
Acha dan Elvano sama-sama tersentak saat suara Raka memecah ketegangan di antara mereka. Elvano melangkah mundur dengan perlahan. Wajahnya datar dan tenang, seakan kejadian tadi tidak berarti apa-apa untuknya. Sangat berkebalikan dengan Acha yang jantungnya berdegup kencang dan wajahnya yang tiba-
Cukup lama Acha menatap layar ponselnya setelah membaca email itu. Kalimat yang tertulis di sana terasa tak masuk di akalnya.Ia menjatuhkan tubuh ke sofa, bersandar lemas. Alih-alih bahagia, yang muncul pertama kali justru perasaan aneh. Harga dirinya seperti diinjak-injak saat interview tadi. Nam
Jantungnya berdetak lebih kencang. Pertanyaan itu, benar-benar konyol! Ia menahan rasa kesal yang sudah naik ke ubun-ubun, berusaha tetap tenang di hadapan tatapan dingin Elvano. Sambil menahan napas yang hampir tersengal, Acha menjawab tegas, “Maaf, saya rasa pertanyaan ini tidak relevan dengan p
“Astaga, kenapa macet begini?!” Acha menggerutu sebal saat pengemudi ojeknya menepikan motor. Matanya refleks melirik jam.“Jalan depan ditutup, Mbak,” katanya, “ada truk terguling. Kita harus muter jauh. Kalau nunggu, malah lebih lama.”Acha menegakkan tubuh. Hanya bisa menghela napas panjang, men







