Share

Bab 11. Tantangan

Author: SILAN
last update Petsa ng paglalathala: 2026-05-18 14:51:41

Kalimat-kalimat Daniel masih bergema di benak Megan, terlalu dalam, terlalu personal, seolah pria itu berbicara tentang masa lalu yang bahkan Megan sendiri tak ingat pernah memilikinya.

Ia masih terdiam dalam pusaran pikirannya ketika, Klik.

Pintu terbuka.

Megan tersentak, tubuhnya refleks menegang. Daniel masuk dengan langkah tenang, membawa sebuah paper bag di tangannya. Tanpa banyak bicara, pria itu meletakkannya di atas meja, lalu menatap Megan dengan sorot mata yang sulit diartikan.

“Kau t
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Falling for the Mafia’s Embrace   Bab 94. Tamat

    Malam turun perlahan di atas Venesia seperti tirai beludru biru yang ditaburi berlian. Lampu-lampu kuno mulai menyala satu per satu di sepanjang kanal, memantulkan cahaya keemasan di permukaan air yang beriak pelan. Kota yang ramai di siang hari kini berubah menjadi dunia yang sunyi dan misterius, seolah-olah Venesia menarik napas panjang dan berbisik pada mereka yang masih terjaga.Daniel dan Megan berjalan bergandengan tangan menyusuri Calle Larga, sebuah jalan sempit yang hanya cukup untuk dua orang berjalan berdampingan. Dinding-dinding bata tua yang lembap memancarkan aroma khas air laut dan tanah basah. Lampu jalan berbentuk lentera kuno menggantung di setiap sudut, menerangi jalan berbatu yang berkilauan karena embun malam. Di atas mereka, jemuran pakaian menjuntai dari jendela-jendela apartemen yang masih menyala, dan dari balik gorden tipis, mereka dapat mendengar suara tawa dan percakapan keluarga Italia yang sedang menikmati makan malam."Ini sangat berbeda dari siang hari,"

  • Falling for the Mafia’s Embrace   Bab 93. Kehidupan baru

    Seminggu telah berlalu sejak pagi yang penuh tawa di ruang tamu itu. Kini, matahari kembali terbit dengan cahaya keemasan yang menyapu jalanan beraspal menuju kampus. Adrian melangkah keluar dari rumah dengan langkah ringan, tas selempang menyilang di dada, dan senyum yang tidak bisa ia sembunyikan sejak ia bangun tidur. Udara pagi terasa segar, dan burung-burung berkicau seolah ikut merayakan hari pertamanya.Hari ini adalah titik balik. Setelah bertahun-tahun terhambat oleh berbagai masalah, setelah kekacauan keluarga yang hampir menghancurkan segalanya, Adrian akhirnya memutuskan untuk kembali ke bangku kuliah. Tidak ada alasan lagi untuk menunda. Usianya masih sembilan belas, waktunya masih panjang, dan ia tidak ingin membiarkan masa lalu merampok masa depannya.Meskipun keputusan ini berarti ia akan jarang bertemu Megan. Daniel telah merencanakan misi liburan keliling dunia bersama Megan, sebuah perjalanan yang sudah lama mereka nantikan sebagai bulan madu. Adrian sama sekali tid

  • Falling for the Mafia’s Embrace   Bab 92. Kehangatan keluarga

    Pagi itu, sinar matahari menyusup melalui celah gorden putih di ruang tamu rumah besar yang baru. Megan berdiri di hadapan Adrian dengan tangan bersilang di dada, menatap adiknya dengan sorot mata setengah waspada. Sejak pernikahannya dengan Daniel, Megan tidak pernah benar-benar tega meninggalkan Adrian sendirian. Bukan karena ia tidak percaya, tapi karena kebiasaan merawat adiknya selama bertahun-tahun telah menjadi bagian dari dirinya."Adrian, mulai hari ini kau jaga rumah. Pastikan kau tidak berbuat nakal yang membuat rumah ini hancur," ucap Megan dengan nada yang berusaha tegas, meskipun di sudut matanya ada senyum yang tidak bisa ia sembunyikan sepenuhnya.Adrian menghela napas panjang, lalu menjawab dengan nada malas yang khas. "Lagipula untuk apa aku menghancurkan rumah ini? Rumah ini tidak punya utang padaku.""Aku hanya memperingatimu. Kau itu terkadang tidak tahu aturan kalau aku tidak ada," gerutu Megan, jari telunjuknya teracung seperti biasa. "Ingat waktu kau hampir mem

  • Falling for the Mafia’s Embrace   Bab 91. Pernikahan

    Beberapa bulan kemudian, langit membentang sempurna tanpa secercah awan. Matahari pagi menyinari halaman terbuka yang dipenuhi ratusan tangkai bunga segar. Mawar merah, lily putih, dan anggrek ungu tersusun dalam vas-vas kaca yang berkilauan, seolah ikut merayakan hari yang telah lama dinantikan. Rumput hijau terhampar lembut di bawah kaki para tamu, dan angin sepoi-sepoi membawa aroma manis dari kelopak bunga yang baru mekar.Hari itu adalah puncak dari segala penantian Daniel. Bukan sekadar pesta, bukan sekadar seremoni. Itu adalah momen di mana semua rasa yang ia pendam selama belasan tahun akhirnya menemukan pelabuhannya. Di altar sederhana yang dihiasi anyaman dedaunan, Daniel berdiri dengan tuksedo hitam yang pas di tubuhnya. Ia telah menunggu hari ini lebih lama dari yang ia kira sanggup ia lalui.Ia mengingat kembali masa-masa kelam tiga tahun pertama setelah Megan menghilang dari kehidupannya. Dulu, ia nyaris menyerah. Setiap hari ia mencari, bertanya, menelusuri jalan-jalan

  • Falling for the Mafia’s Embrace   Bab 90. Sidang dan Hadiah

    Beberapa hari berlalu hingga akhirnya sidang digelar setelah seluruh bukti berhasil dikumpulkan. Bukti-bukti tersebut cukup kuat untuk memastikan keterlibatan Andrew dan Sierra dalam berbagai tindakan kriminal, mulai dari suap, kecelakaan yang disengaja, hingga upaya mengambil alih aset yang bukan menjadi hak mereka. Namun, ternyata masalah mereka jauh lebih besar dari yang Megan bayangkan.Sidang berlangsung tegang. Sierra berkali-kali berusaha membela dirinya dan mencari celah agar hukuman yang dijatuhkan kepadanya bisa diringankan. Ia menyangkal beberapa tuduhan, memberikan berbagai alasan, bahkan berusaha meyakinkan hakim bahwa dirinya tidak sepenuhnya terlibat dalam semua kejahatan tersebut. Namun, semakin banyak bukti yang ditunjukkan, semakin sulit baginya untuk menghindar.Pada akhirnya, semua usahanya sia-sia.Sierra dijatuhi hukuman penjara selama lima tahun tujuh bulan, sementara Andrew menerima hukuman delapan tahun. Hukuman Andrew lebih berat karena selain terlibat dalam

  • Falling for the Mafia’s Embrace   Bab 89. Balas Budi

    Dulu, selain membantu Megan melewati masa-masa sulit, Diana juga rela meluangkan waktunya untuk keluar-masuk rumah sakit demi menjaga Adrian. Saat itu keadaan Diana sendiri sebenarnya tidak jauh lebih baik. Ia bahkan kekurangan uang untuk memenuhi kebutuhannya sendiri, tetapi tetap memilih membantu tanpa pernah mengeluh ataupun meminta imbalan apa pun. Karena itulah, ketika kini Megan memiliki cukup banyak uang, orang pertama yang terlintas dalam pikirannya adalah Diana. Ia ingin memberikan sesuatu yang dapat mengubah kehidupan sahabatnya itu menjadi lebih baik.Megan menyerahkan sebuah kunci akses kepada Diana sambil tersenyum. “Sekarang, kau tidak perlu lagi membagi barang-barangmu dengan tempat tidur hanya untuk bisa beristirahat. Tempat ini cukup luas untuk menjadi tempat tinggal barumu,” ucap Megan.Tatapannya kemudian menyapu apartemen mewah yang baru saja ia belikan. Ia tidak membutuhkan tempat sebanyak ini untuk dirinya sendiri, sedangkan Diana selama ini justru hidup dalam ru

  • Falling for the Mafia’s Embrace   Bab 7. Daniel menjebaknya?

    Semalaman, Megan tidak benar-benar tidur. Ia hanya memejamkan mata… tanpa pernah benar-benar beristirahat.Langit di luar jendela perlahan berubah dari hitam pekat, menjadi abu-abu muram, lalu disusupi cahaya pagi yang dingin. Namun di dalam kepalanya… semuanya tetap gelap.Daniel.Nama itu berputa

  • Falling for the Mafia’s Embrace   Bab 3. Kilau yang Mengundang Bahaya

    Tiga hari kemudian.Cahaya keemasan membanjiri aula megah tempat pesta ulang tahun Pangeran Andrew digelar. Kristal berkilau dari langit-langit tinggi, musik klasik mengalun lembut, dan tawa para tamu elit berpadu dengan denting gelas anggur.Di balik kemewahan itu, Megan berdiri di antara para pel

  • Falling for the Mafia’s Embrace   Bab 2. Uang, Dosa, dan Keputusasaan

    Sepanjang hari, jantung Megan tak pernah tenang. Setiap langkah di belakangnya terasa seperti ancaman. Ia yakin sekali saja tertangkap, semuanya berakhir.Namun malam datang… dan tak ada yang mencarinya.Di ruangan sempit, uang berhamburan di atas meja. Trix dan Byne tertawa ringan.“Banyak hari in

  • Falling for the Mafia’s Embrace   Bab 1. Saat Pilihan Tidak Lagi Ada

    “Aku tidak punya uang.”Kalimat itu meluncur lirih dari bibir Megan, nyaris tak terdengar.“Tapi adikmu butuh penanganan khusus, Megan,” kata Diana cemas, berusaha tetap terdengar tegar. “Kita tidak bisa menunda lagi. Kalau terlambat… kau bisa kehilangan Adrian.”Megan terdiam. Tangannya mengepal e

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status