MasukMecca akan dinikahkan oleh seorang rentenir karena perjanjian hutang yang dilakukan oleh ibu dan ayah sambungnya. Kerja kerasnya untuk menghidupi keluarganya sama sekali tidak dihargai. Ditambah lagi, ia harus menelan pil pahit bahwa dirinya selama ini hanya dijadikan bahan taruhan oleh sang kekasih yang hanya menginginkan tubuhnya. Tak ingin dijadikan tumbal hutang, Mecca nekat mencari pekerjaan tambahan di sebuah club malam. Ia lebih baik melakukan hal 'kotor' demi uang daripada demi cinta bersama kekasihnya. Namun, rencananya digagalkan oleh Gyan, teman kerjanya. Gyan berjanji akan membayar berapapun tarif yang akan Mecca berikan asalkan ia mau bekerja untuknya. Lalu, pekerjaan apa yang akan berikan kepada Mecca? Akankah Mecca mampu membayar hutang-hutang keluarganya tersebut?
Lihat lebih banyak" Get out of here!" Owen is pushing Leon out from the bathroom early in the morning.
He was taking a bath when Leon suddenly open the door. Wearing only one piece of cloth and bubbles all over his body, he managed to react immediately before Leon successfully entered.
"What's so wrong of taking a bath together? We're both guys and we were doing it ever since!" Leon starts stuttering.
"Even so!" Owen answered without blinking his eyes. "I almost finished bathing so wait outside this door, got it?!" He even knocked the door two times before entering again and continue bathing.
"I'm gonna be late if we don't take a bath together now!" Leon shouted but with control.
Owen didn't listen. It's still 6:30 in the morning and there's only 20 minutes walking distance to reach their school. So, they won't be late. And besides, the reason he can't take a bath with Leon today is because of his dream last night.
"Shut up! I'm almost done!"
He and Leon grew up together. Their families are friends and also business partners. But last night, he dreamed about him kissing Leon and doing something that his mind almost explode when he remembered it when he wakes up.
"You're so weird today, dude." Leon said.
He doesn't care if he acts so weird today as long as Leon won't notice his burning face. Because everytime he makes eye contact with Leon, that dream keep popping up in his mind and replays it like a movie that cause him to blush non stop.
"Think whatever you want to think." He answered. "I'm done!" He continued.
He stepped out of the shower room and walk passed Leon wearing his bath robe.
"Don't forget to return my pen that you borrowed last night. I still have to write down all the school activities plans for upcoming school festival." He heard Leon saying it while entering the shower room. Leon is the president of students council.
"Got it!" He said.
While putting on his school uniforms, he look for that pen and place it inside Leon's bag.
"Hey! Owen! I forgot to bring my towel! Can you hand it to me?" He heard Leon shouting again. So he sighs..
Leon is actually a cold and quiet type of guy in their school. But with him, especially when they are at home, that's the attitude he really has. Maybe because they're both comfortable with each other.
But Owen has a secret. And he is scared that Leon might know it.
"Here..." He hang the towel on the door knob.
"Thanks! "
Owen is actually gay.
And Leon hates gay.
"Are you going to participate in School basketball League again?" He asked.
Leon is not just handsome and tall. He is also the top student in school, and a basketball player too. Last year, they won the basketball against other school because of him. And because of that, Leon started receiving some love letters from his admirers even from other school.
"Why are you asking me? Don't you want me to play?" Leon already stepped out from shower room and now is walking towards him. He avoided his gaze immediately.
"I was just asking." He casually answered.
Leon is actually 19 years old, one year older than Owen but, Leon forced his parents to allow him to study with Owen when they were kids, that's why they are classmates now.
"En. Then yes." Leon said.
He stepped a little to the left side allowing Leon to get his school uniforms. By then, he smells his own shower gel.
"Why did you use my shower gel again?"
"I like the scents." Leon shrug while saying it.
"But it's mine. You have yours." Feeling annoyed, he grabbed the towel on Leon's shoulder.
"Then, use mine too!" Leon grabbed the towel too.
"I don't like yours!" He annoyingly answered.
"What do you like then?" Leon asked.
"You!" He answered out of his mind.
They both stunned for a second..
"What?" Leon asked him with serious look on his face.
"I-I mean.. I like you as my older brother.. Is something wrong about it?"
Leon tilted his head while looking at him so he avoided his gaze.
"You knew I hate gays right?" Leon's voice is cold as ice. And those words from his mouth secretly hurt Owen's heart.
"I already know it, don't need to repeat it." He said while turning his back at him. "Get dress, we're gonna be late." He continued.
"What time is it now?"
"7:15."
Owen get his bag and put on his shoes. And stepped out of the house.
"Hey! Wait for me!" Leon called him but he doesn't listen. He just continue walking.
"I said, wait for me!" Leon repeated while catching up.
"Walk faster, stop shouting!" He stopped and shouted back to Leon.
"Tsk! If you didn't walk first I will not have to shout.!
Owen squint annoyingly at him and continue walking again. Leaving Leon behind.
He is angry, not because Leon hates gay, but because of what it means to him.
And scared at the same time.. What if Leon found out his secret? What's gonna happen?
" Leon.... " he called his name with a low voice.
"What now?" Leon is now walking shoulder to shoulder with him.
"I'm planning to move out." He said..
"Mecca!" pekik Gyan. Melihat temannya tergeletak di lantai ia tak tinggal diam. Dengan sigap ia menggendongnya menuju ruang kesehatan yang letaknya satu lantai diatas ruangan kerja mereka. "Bertahan, ya. Aku tahu kamu kuat," ujar Gyan saat berada di dalam lift. Setibanya di ruang kesehatan, Gyan tak bisa menutupi kepanikannya saat dua orang tenaga medis memeriksa kondisi Mecca. Dalam hati, ia ingin sekali mengambil alih semua rasa sakit yang ada pada temannya itu. Ia tak rela wanita dengan semangat yang tinggi itu tiba-tiba menjadi lemah. Setelah memastikan keadaan Mecca, salah satu tenaga medis memberitahu kepada Gyan bahwa tak terjadi sesuatu yang serius pada teman wanitanya. "Hanya perlu memperhatikan pola makan, pola tidur dan jangan terlalu stres." ujarnya pada Gyan. Gyan duduk di bangku kecil yang ada di samping ranjang sembari menatap lekat ke arah wanita cantik yang masih belum membuka matanya itu. Ingin sekali ia mengusap kepala atau bahkan menggenggam tanganny
“Sayang, aku sudah lama menunggu. Ayo, cepat pulang,” suara berat itu berhasil membuat Bastian melepaskan tangan Mecca dari genggamannya. Mantan kekasih Mecca itu pun mendekati pria dengan setelan formal lengkap itu. “Sayang? Kau bayar berapa wanita jal*ang itu, bisa-bisanya dia takluk padamu?” Tak mendapat jawaban, justru bogeman mentah yang ia dapatkan hingga cairan kental berwarna merah keluar dari hidungnya. “Berani kau, ya?” Bastian melangkah mendekat, tapi dihadang oleh sang mantan. “Silahkan hina aku semaumu, aku tidak akan peduli. Tapi, jangan sampai tangan kotormu itu menyentuh Gyan!” bentaknya.Bastian tersenyum smirk, ia sadar bahwa ia tak akan menang jika adu fisik dengan Gyan dalam posisi mabuk. Pria itu pun memilih untuk menyerah dan pergi meninggalkan mantan bersama kekasih barunya. Mecca mengajak Gyan untuk kembali ke mobil. Lalu, ia sibuk memeriksa tangan dari temannya itu, memastikan apakah ada yang luka atau tidak. Beruntung kejadian tadi tidak menarik perhatian b
“Semudah itu kamu dapat penggantiku?” Suara tersebut berhasil membuat Mecca menghentikan langkahnya. Ia berbalik dan tersenyum smirk melihat sang mantan kekasih bersandar di sebuah pilar dengan tangan bersedekap. “Untuk apa kau kemari?” tanya Mecca yang menyimpan sedikit ketakutan. Ia takut jika Bastian melakukan hal nekat.Bastian tertawa melihat kecemasan di wajah Mecca. Ia berjalan mendekat dan meraih tangan lembut Mecca. Namun, gadis itu berhasil melepaskannya. “Aku bisa membantumu membayar hutang, asalkan….”“Tidak! Apapun yang terjadi aku tidak akan menerima bantuan darimu!” sanggah Mecca sebelum Bastian menyelesaikan kalimatnya. Mulut manis Bastian terus saja mengoceh, mengutarakan tawaran menarik agar Mecca mau kembali ke dalam pelukannya. Akan tetapi, Mecca bukanlah gadis bodoh yang bisa dengan mudah terjerumus dalam lubang yang sama untuk kedua kalinya.Mecca tak menanggapi dan masuk ke apartemen. Beruntung, untuk masuk ke area apartemen tersebut harus menggunakan kartu ak
“Bayar sekarang juga, atau….”“Atau apa? Katakan berapa hutangnya biar aku yang bayar.” Seorang pria dengan kacamata hitam muncul entah darimana. Bukannya senang, si kembar justru melempar tatapan sinis ke arah pria itu.“Bayar sekarang 150 juta.” Salah satu pria gagah itu menengadahkan tangannya. Si kembar sontak maju dan menyingkirkan sang ibu. Mereka tak mau orang lain ikut campur dalam masalah keluarganya. “Beri waktu kami satu minggu. Kami akan bayar hutang itu sendiri, tanpa bantuan siapapun,” ujar Matteo dengan sedikit penekanan pada kalimat terakhirnya.“Bastian, aku mohon padamu tinggalkan keluarga kami,” ujar Matthew dengan lembut. Namun, pria itu hanya tersenyum smirk sambil melepas kacamata hitamnya.Mariam bingung, ia tak bisa menentukan pilihan antara harus menuruti si kembar atau menerima bantuan dari Bastian. Jika ia menolak bantuan dari Bastian, akankah Mecca mampu memberikan uang kepadanya tepat waktu?“Saya mohon beri waktu satu minggu lagi. Saya janji akan membayar






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan