แชร์

6. Kenapa harus aku?

ผู้เขียน: Kristiana0909
last update วันที่เผยแพร่: 2026-03-11 10:44:59

Gavriel tak menyangka jika Gadis sudah resign dari kantor selama enam bulan lamanya. Selama itu pula pekerjaannya semakin banyak. Kini tak ada lagi yang membuatnya bersemangat untuk mencapai target. Mungkin karena ia tidak memiliki saingan baru yang kompetitif seperti Gadis. Rata-rata rekan kerjanya hanya kerja secukupnya saja. Ini membuat jiwa figter-nya tidak berkobar seperti dulu.

Seperti saat acara gethering tahun ini yang diselenggarakan di Anyer, entah kenapa Gavriel sedikit tidak bersemangat untuk mengikuti perlombaannya. Acara pemberian pengharagaan karyawan terbaik saja terasa hambar baginya. Sesuai prediksi banyak orang, tahun ini dirinya yang menyabet gelar karyawan terbaik.

"Sedih amat lo, Gav. Enggak dapat jatah dari Ayang?" Tanya Ragil kepada Gavriel kala mereka duduk di pinggiran kolam renang malam ini.

"Ayang... Ayang, gue kagak sempat beredar, lo tanya tentang Ayang lagi. Mana mungkin gue punya?"

"Elo makin lama makin ganteng. Side hustle lo juga sudah kelihatan hasilnya. Umur sudah 31 tahun. Sudah saatnya cari istri dan berkembang biak."

"Kalo bisa friend with benefits, kenapa juga mesti married?"

Ragil yang mendengar jawaban Gavriel langsung menggelengkan kepalanya.

"Wong edan kowe, Gav. Ngeri tahu kalo sampai lo kena penyakit menular seksual karena ganti-ganti pasangan?"

Gavriel tersenyum kecil karena nyatanya sejak Gadis tidak lagi bekerja di perusahaan ini, client Gadis dialihkan menjadi client-nya yang secara otomatis menambah beban pekerjaannya. Jangankan untuk hura-hura seperti dulu di club malam, sekedar untuk live langsung di akun toko onlinenya saja Gavriel tidak sempat. Toko onlinenya kini dipegang oleh dua orang karyawannya dibagian packing dan satu orang dibagian host.

"Gimana mau menikmati hidup kalo dari jam enam pagi gue sudah berangkat ke kantor. Sampai di kantor jam delapan langsung kerja. Keluar dari kantor jam tujuh malam paling cepat. Sampai rumah paling cepat jam sembilan malam. Itu juga enggak langsung bisa istirahat. Gue cek penjualan, stock barang, order dan masih cek administrasi. Capek benar gue jadi manusia. Andai bisa, gue mau jadi burung walet aja."

"Burung walet?" Desis Ragil pelan yang langsung mendapatkan anggukan kepala dari Gavriel.

"Yup, gue mau jadi burung walet yang rebahan sama ileran aja bisa jadi cuan."

"Halah, lo kerja sampai kaya begini, gue yakin saldo rakening posisinya aman 'kan?"

Gavriel menganggukkan kepalanya. Siapa sangka jika side hustle yang ia jalani telah membuahkan hasil sebuah tanah yang baru saja ia beli di daerah Sleman. Meskipun tidak terlalu luas, namun setidaknya kelak jika ada rezeki lagi, ia bisa menbangunnya tanpa harus mengambil kredit karyawan di bank tempatnya bekerja. Sengaja ia memisahkan penghasilannya dari kantor dan usaha yang ia jalani agar ia bisa melihat hasilnya.

Kini Gavriel dan Ragil menoleh ke arah sisi barat kolam renang kala mendengar suara perempuan sedang mengomel. Saat melihat jika itu adalah Alena, Gavriel dan Ragil saling bertatapan. Seakan mereka paham jika kini mereka harus mempertajam pendengarannya untuk mendengar apa yang sedang Alena bicarakan di telepon.

"What? Dipta minta lo buat merawat emaknya yang sakit?"

"..."

"Okay, gue paham karena lo menantu perempuan mereka satu-satunya. Tapi yang gue enggak terima nih, alasan kedua yang bilang lo enggak punya tanggungan kerjaan dan anak, jadi lo yang diutus untuk merawat emaknya Dipta yang sakit. Mereka kira jagain orang sakit di rumah sakit itu kerjaan enak dan mudah? Terus mereka yang statusnya anak kandung pada ngapain aja? Kerja? Jagain anak yang masih kecil di rumah? Basi!"

Gavriel dan Ragil saling bertatapan sekilas. Beberapa saat kemudian mereka menganggukkan kepalanya. Seakan mereka paham siapa yang sedang menguji kesabaran Alena. Perempuan yang terkenal memiliki kesabaran setipis tisu dibagi dua.

"..."

"Kalo gue jadi lo, gue langsung lari sejauh-jauhnya."

"..."

"Ya udah kalo lo yakin mau terima semua ini. Berarti lo harus siap LDR-an sama suami lo."

Setelah mengatakan itu, Alena menutup sambungan teleponnya dan ia kembali menuju ke arah kamarnya berada. Malam ini sepertinya dirinya membutuhkan alkohol untuk meredakan amarahnya kepada Gadis yang telah menjadi perempuan paling pasrah dan tidak memiliki pilihan lain selain menuruti keinginan suaminya. Seakan Gadis menjadi sosok yang berbeda dengan dirinya yang dulu sebelum menikah.

Selepas Alena tak terlihat lagi, Gavriel memilih untuk segera mengajak Ragil menuju ke kamar mereka. Mereka harus segera beristirahat karena besok pagi masih ada acara outing.

Di waktu yang sama dan tempat yang berbeda, Gadis masih menatap layar smartphonenya. Rasanya ia seperti tentara yang sudah kalah berperang. Sejak menikah dengan Pradipta enam bulan lalu, secara otomatis Gadis mengikuti suaminya untuk tinggal di Bontang, Kalimantan Timur. Dengan ikhlas Gadis mengikuti suaminya yang bekerja di salah satu perusahaan besar disana. Posisi Pradipta yang lumayan memiliki posisi di perusahaan itu membuatnya sering keluar kota bahkan keluar pulau dan luar negri. Terkadang hal ini yang membuat Gadis was-was terutama jika Pradipta pergi ke Jakarta tanpa mengajaknya.

Sejak mendengar pembicaraan Pradipta dan Rachel, ia mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya tanpa bertanya kepada suaminya. Tentu saja semua itu juga bisa berjalan dengan baik karena bantuan Alena yang rela menjadi informan baginya.

"Aku harus ke Jakarta besok, Dis."

"Sudah aku siapkan koper kamu, Mas."

"Makasih, ya?" Kata Pradipta sambil mengusap punggung istrinya naik turun. Gadis yang mendapatkan perlakuan seperti itu dari suaminya hanya bisa tersenyum.

Hubungan rumahtangga yang ia jalani bersama Pradipta bisa dibilang baik-baik saja. Hubungan badan mereka berlangsung dua hingga tiga kali seminggu, namun tetap saja ia belum hamil sampai sekarang. Sering kali ia meminta kepada Pradipta untuk berkonsultasi ke dokter kandungan bersama, sayangnya sampai saat ini suaminya selalu menolak dengan alasan pernikahan mereka masih hitungan bulan.

"Berapa lama, Mas kamu di Jakarta?"

"Seminggu, Dis. Habis itu aku nyusul kamu ke Surabaya buat tengok Mama."

"Beneran ya, Mas. Awas aja kalo kamu bohong."

Atas pembicaraan mereka itu, Gadis percaya jika Pradipta akan datang ke Surabaya untuk menyusulnya. Sayangnya sudah seminggu berlalu dan suaminya belum juga menginjakkan kakinya di kota ini. Gadis sudah mencoba menghubungi dua nomer telepon Pradipta yang semuanya tidak aktif. Ada perasaan takut yang menyelimuti hati Gadis. Ia takut terjadi hal buruk kepada suaminya. Ingin rasanya ia bercerita, sayangnya ia tidak mau menambah beban pikiran Mama mertuanya yang terkena stroke setelah jatuh di kamar mandi.

Selama seminggu ia di rumah sakit kedua kakak iparnya bahkan tidak ada yang meluangkan waktunya untuk datang ke sini. Padahal mereka hanya tinggal di Bandung dan Bali. Dua kota yang sebenarnya tidak terlalu jauh dari Surabaya. Alasan kakak pertama Pradipta yang bernama Susan karena ia masih memiliki bayi berusia tiga bulan dan anak pertamanya yang masih bersekolah tidak bisa ditinggal, sedangkan kakak kedua Pradipta yang bernama Lisa tidak bisa datang menjenguk Mamanya karena ia tidak bisa mengambil cuti tahunannya sudah habis.

Sumpah....

Gadis ingin meledak saat ini namun ia harus meredam emosi dan rasa gemas yang ia rasakan. Andai kata suaminya tidak bisa datang pun ia akan mengerti asalkan Pradipta tidak hilang tanpa kabar seperti ini.

Andai ini juga bukan akhir bulan, maka ia akan dengan senang hati curhat kepada Alena, tapi Gadis tahu bagaimana pekerjaan kantornya dulu setiap menjelang akhir bulan. Kehidupannya setelah menikah hanya fokus mengurus rumahtangga dan suami. Ternyata kini timbul sedikit rasa penyesalan di dalam diri Gadis karena rasa sepi, jenuh dan seperti perempuan tidak berguna muncul di dalam dirinya. Andai saja ia bekerja, mungkin ia tidak akan menjadi seperti ini. Ia masih bisa tertawa bersama teman-temannya dan masih bisa menunjukkan kemampuan dirinya.

Deringan di handphone miliknya membuat Gadis kembali menapaki realitas. Ia menghela napas kala melihat nama suaminya muncul di layar handphone miliknya. Cepat-cepat ia berdiri dari kursi yang ia duduki dan berjalan keluar dari kamar perawatan ibu mertuanya. Saat berada di luar kamar, Gadis baru mengangkat telepon dari Pradipta.

"Hallo, Mas?"

"Hallo, Dis..."

Tanpa bisa menunggu Pradipta selesai berbicara, Gadis sudah menanyakan posisi suaminya kini berada.

"Sekarang kamu ada di mana, Mas?"

"Aku masih di Jakarta, Dis."

Kedua mata Gadis langsung membelalak lebar mendengar semua ini.

"Kok bisa?"

"Enggak dapat tiket pesawat ke Surabaya."

"Ya 'kan kamu bisa naik kereta. Kalo pun kereta juga penuh, bisa kamu naik bus, Mas."

"Maaf, Dis. Handphone aku juga lowbatt dan baru sadar ini setelah bangun tidur. Habis ini aku cari tiket kereta buat nyusul kamu."

"Ya sudah, Mas. Kamu ke sini sekarang!"

"Iya, Dis iya. By the way gimana keadaan Mama?"

Kala Pradipta menanyakan keadaan sang Mama, maka Gadis segera memberitahukan keadaan sang Mama mertua yang kemungkinan besar setelah pulang dari rumah sakit sudah tidak bisa berjalan seperti sedia kala.

"Papa enggak temani kamu di rumah sakit?"

"Mas, jagain Mama aja aku sudah capek, kalo Papa di sini, aku harus jaga dua orang. Kenapa sih enggak pakai perawat lansia aja?"

"Aku maunya gitu, tapi Mbak Susan dan Mbak Lisa enggak setuju."

"Mereka kemarin enggak setuju karena Mama masih sehat dan bisa jaga Papa yang sudah sepuh sendirian. Kalo sekarang Mama juga sakit, terus siapa yang harus jaga? Jangan bilang aku lagi ya, Mas?!"

Pradipta diam, tak ada sepatah katapun yang keluar dari bibirnya. Karena sejak kemarin, kakak tertuanya sudah mengatakan jika Gadis yang harus merawat kedua orangtuanya mengingat Pradipta adalah anak laki-laki yang akan menerima bagian warisan paling banyak daripada kedua kakaknya, salah satunya adalah rumah yang kedua orangtua mereka tempati di daerah Darmo.

"Nanti kita bicarakan ini setelah aku sampai di Surabaya."

"Okay, Mas."

Karena masih gemas dengan kelakuan keluarga suaminya ini, Gadis langsung menutup sambungan teleponnya dengan Pradipta tanpa menberikan salam perpisahan seperti biasanya.

***

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • From Bully to Love Me   175. Bersyukur dan Ikhlas

    Sebulan sejak acara pernikahannya dengan Gadis, akhirnya Gavriel bisa merasakan berumah tangga seutuhnya karena Gadis sudah mengikuti dirinya untuk pindah ke Jakarta. Meksipun rumahnya tak sebesar rumah keluarganya, namun Gavriel bersyukur karena Gadis sama sekali tidak pernah protes atas semua keadaan ini. Ia masih tetap bekerja di bank seperti biasanya, Gadis pun juga masih bekerja di perusahaan keluarganya yang sejak seminggu ini sudah membuka kantor cabang baru di Jakarta. Semua ini dilakukan bukan hanya karena Gadis tinggal mengikuti dirinya namun lebih daripada itu karena memang sudah cukup banyak kerjasama yang dilakukan dengan rekan bisnis yang bertempat tinggal di Jakarta. Untuk lebih menghemat biaya perjalanan dinas serta waktu, maka dengan membuka kantor cabang di kota ini segera dilakukan sebagai solusinya. Sejak menikah pun Gavriel dan Gadis sepakat untuk tidak mengg

  • From Bully to Love Me   174. Kejutan dari penghuni lapak dosa

    Untuk pertama kali di hidup Gavriel ia merasa gugup, cemas, was-was bercampur sedikit tegang. Keringat dingin sudah membasahi telapak tangannya. Di hadapannya sudah duduk seorang penghulu dan Sudibyo Bimantara. Rasanya cukup sekali ia berada di situasi ini. Kehadiran Gadis yang duduk di sampingnya nyatanya tak efektif membuatnya merasa tenang sama sekali. Meskipun sudah menghafalkan semuanya sejak semalam dan ada catatan di atas mejanya agar ia tidak salah saat mengucapkan ijab qobul namun tetap saja tidak membuatnya merasa lebih tenang. "Bisa kita mulai sekarang?" tanya penghulu itu dengan pelan namun Gavriel hanya menjawabnya dengan menganggukkan kepalanya. Setelah itu tidak lama setelahnya Gavriel menjabat tangan Sudibyo. Ternyata bukan hanya dirinya yang sedikit tegang dan takut menghadapi situasi ini. Sudibyo bahkan ju

  • From Bully to Love Me   173. Makan Malam Bersama

    Satu Tahun Kemudian...Setelah pengajuan cuti nikah ditambah dengan cuti tahunan diambil, maka praktis Gavriel memiliki jatah seminggu untuk libur kali ini. Tentu saja mau tidak mau acara pernikahannya dengan Gadis harus dilakukan di Solo. Jatah 30 undangan yang tahun lalu ia minta pada akhirnya tetap saja kurang karena para tetangganya yang pernah bertemu dengan keluarga Gadis (salah satunya ibu RT) meminta untuk hadir dalam acara pernikahannya. Meskipun ingin menolak namun Gavriel tak kuasa yang akhirnya membuatnya menyewa sebuah bus pariwisata berkapasitas 60 orang. Untung saja keluarga Gadis tidak mempermasalahkan jika para tetangga dan beberapa rekan kerjanya datang menggunakan bus saat acara. Niat hati ingin berhemat pun tak bisa dilakukan karena pada akhirnya ia harus memesan sebuah hotel sebanyak 20 kamar untuk para tamu yang datang menggunakan bus.

  • From Bully to Love Me   172. Mencoba Bicara Pada Orangtua

    Gavriel menatap sekeliling ballroom hotel bintang lima di Jogja ini yang kini sudah disulap seperti berada di negri dongeng. Seketika Gavriel sadar jika pernikahan Joe dan Angi ini kemungkinan besar menghabiskan biaya yang tidak sedikit jumlahnya. Dirinya yang kini tengah duduk di samping Gadis dan menikmati jalannya acara ini semakin takjub karena doorprize yang diberikan untuk para tamu undangan benar-benar membuat kedua matanya membelalak. Di mulai dari sekedar smart tv, logam mulia, paket liburan ke Bali selama tiga hari dua malam hingga motor 155 cc.Wow, demi apapun juga jika melihat hadiah yang seperti ini, Gavriel berharap ia akan menerima salah satunya. Toh, lumayan juga balik modal isi amplop sumbangan. Sayangnya ia harus gigit jari karena tidak satupun dari salah satu nomer tamu undangan yang beruntung itu adalah nomernya. Kala sal

  • From Bully to Love Me   171. Enggak mau acara ribet

    Gavriel menatap jam tangannya yang menunjukkan pukul 21:30 WIB dan ia sudah sampai di stasiun Tugu Yogyakarta bersama Gadis yang duduk di sampingnya. Sebenarnya Gavriel masih ingin menghabiskan waktu lebih lama lagi berdua bersama Gadis di kamar hotelnya namun Gadis yang sudah bermain dua ronde bersamanya sepertinya tidak akan memaafkannya jika ia sampai ketinggalan kereta malam ini. "Gav, kamu masuk ke peron dulu. Tinggal lima belas menit lagi keretanya sampai.""Nanti aja kalo kurang lima menit. Masih mau temani kamu duduk di sini.""Kita ini masih bakalan ketemu lima hari lagi di nikahan Angi.""Aku belum cari tiket, Dis. Kayanya aku naik pesawat aja turun Solo.""Turun Jogja. Aku sama keluarga aku sudah di Jogja sejak hari Rabu. Nanti aku carikan tiket buat kamu, buat masalah tempat tinggal nanti kamu tidur di kostan Mas Banyu. Masi

  • From Bully to Love Me   170. Kita Bikin Panas Malam ini

    "Apanya yang mau di-packing ini, Gav? barang-barang kamu sudah di dalam koper semua tinggal diangkut aja," ucap Gadis saat sudah selesai mengelilingi isi kamar hotel ini. Sudah Gadis tidak ada barang pribadi Gavriel yang tertinggal di sini. Bukannya menjawab perkataan Gadis, Gavriel langsung memeluk pacarnya itu dari arah belakang. Mendapatkan perlakuan seperti ini secara dadakan, Gadis cukup terkejut hingga ia menegang di tempatnya berdiri saat ini. Baru juga Gadis akan memprotes perilaku Gavriel kepadanya ini, namun bisikan kata-kata rindu yang dipadukan dengan kecupan-kecupan kecil di sekitar leher hingga tengkuknya membuat Gadis melupakan semuanya. Yang terjadi pada dirinya saat ini adalah ia yang sudah mulai lupa dengan akal sehatnya dan terbawa suasana. Kelakuan Gavriel berhasil membuat Gadis merinding. Apala

  • From Bully to Love Me   7. Jangan ikut campur

    Gavriel duduk di teras belakang rumahnya sambil memikirkan apa yang ia lihat semalam di rumah Rachel. Sosok Pradipta ada di sana tanpa adanya Gadis yang menemaninya. Mengingat dirinya bukan orang yang senang mengurusi kehidupan orang lain, Gavriel memilih diam dan seakan-akan tidak tahu menahu urus

  • From Bully to Love Me   5. Aku mau hakku, Mas!

    "Mas, kamu enggak mau temani aku buka kado nikahan kita?" Tanya Gadis ketika Pradipta baru saja ke luar dari kamar mandi."Enggak deh, kamu aja. Aku capek, Dis."Meskipun sedikit kecewa dengan jawaban sang suami, Gadis mencoba menutupinya dengan senyuman. Kini ia mulai membuka kado demi kado yang d

  • From Bully to Love Me   4. Sah!

    Sejak kejadian setengah jam yang lalu, entah kenapa Gadis menjadi segalau ini. Apakah keputusannya untuk menikah dengan Pradipta adalah hal yang benar dan pantas untuk ia jalani? Namun jika ia mundur, maka dirinya telah membuat malu keluarga. Terlebih Papanya memiliki sakit jantung. Di dalam tubuhn

  • From Bully to Love Me   3. Tamu tak diundang

    "Si Gadis kebangetan parah. Bisa-bisanya kita satu kantor diundang semua kecuali Gavriel," Keluh Ragil pelan di samping Alena.Sengaja Ragil melakukan itu agar teman dekat Gadis di kantor ini menyampaikan hal ini kepada Gadis."Gue enggak bisa komentar apa-apa. Ini semua diluar wewenang gue.""Mini

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status