LOGINFarah Anisa dan Kim Hongjoong adalah dua orang yang sulit akur. Sejak masa kuliah selalu ada persaingan, selalu ada kekesalan dan pertengkaran diantara mereka. Pantas saja rekan-rekan lain sudah matang dengan kelakuannya. Suatu hari, majikan mengirimkan memo yang mewajibkan Farah dan Hongjoong mengikuti program liburan perusahaan untuk 'mengembangkan kerja sama'. Namun keduanya langsung protes dan berusaha menghapus nama tersebut dari program tersebut. Sementara itu, Ny. Hongju, ibu Hongjoong telah merencanakan untuk menjodohkan Hongjoong dengan gadis pilihannya. Untuk menghindarinya, Hongjoong pun merencanakan sesuatu dengan melibatkan Farah dalam masalah keluarganya. "Aku tidak ingin menikah lagi, tapi ibuku suka memaksa. Jadi, aku ingin menikah denganmu." - Kim Hong Joong. "Apa?! Kamu gila Tuan Hongjoong!" - Farah Anisa. Ego masing-masing, tak mau mengakui perasaan yang tumbuh di hati. "Ini kontrak, aku tidak peduli kamu mau menerimanya atau tidak. Yang penting akhir pekan ini aku akan mengantarmu ke rumah ibu." - Kim Hong Joong. "Orang ini benar-benar gila. Aku bahkan tidak setuju, dia melemparkan kontrak itu ke wajahku!" -Farah Anisa. Keduanya terus adu mulut, ego masing-masing tak mau mengakui perasaan yang mulai tumbuh. Ketika akad nikah yang pertama hanya sekedar tipuan, akhirnya menjadi lebih dekat. Namun, mereka harus menghadapi perbedaan budaya, adat istiadat, dan agama yang menjadi tantangan. Akankah mereka mampu mengubah kontrak ini menjadi cinta sejati dan mungkin jannah bersama? Ataukah semua ini hanya drama seperti biasanya?
View MoreSeminggu pun berlalu sejak hari pernikahan itu. Hari-hari Farah tetap sama, tiada apa yang berubah dengan rutin hariannya. Tetap jua pergi dan pulang kerja seperti biasa. Hanya status diri aja yang mungkin sudah berubah, namun perkara itu nggak mengganggu apa-apa. Namun kali ini, ada sesuatu yang berbeda. Pandangan mata Hakim yang dulu ia terasa asing, kini selalu mengiringi setiap langkahnya seolah-olah setiap gerak Farah menjadi pusat semestanya. Ternyata sudah lebih dari setahun Hakim memeluk Islam. Diam-diam, ia sering hadir ke masjid di Itaewon, mendalami ilmu agama bersama teman-teman Muslimnya. Tak heran bila ia begitu teguh ingin menjadikan Farah sebagai istri, bukan gadis lain. Hanya segelintir orang yang mengetahui rahasia ini, selain para sahabatnya yang belajar bersama, nyaris tak ada yang tahu siapa Hakim sebenarnya. Selama seminggu mereka berbagi atap, Farah masih merasa canggung. Keluar masuk kamar mandi pun ia sering diliputi
Ketika para tamu undangan perlahan meninggalkan masjid, suasana kembali hening. Barulah Farah dan Hongjoong atau kini dengan nama barunya, Hakim bin Abdullahmeminta izin untuk pulang. Jemaah yang masih tinggal tak henti mengucapkan selamat, doa-doa pun mengiringi langkah pasangan pengantin baru itu. Farah tidak menyangka, ternyata banyak jemaah yang mengenal Hongjoong, menyapanya dengan panggilan Encik Hakim, seolah nama barunya sudah begitu akrab di telinga mereka. Perjalanan pulang terasa dingin dan sunyi. Meski pendingin udara mobil dimatikan, Farah tetap menggigil. Tangan dan kakinya bergetar seolah diselimuti kabut dingin. “Kenapa kamu gemetar begitu, Anisa?” Hakim melirik dari sisi kemudi. Tatapan mata lelaki itu sungguh tajam, seperti mata pemangsa sedang mengancam mangsanya. Tak pernah luput menangkap setiap gerak tubuhnya. “Tidak… tidak apa-apa,” Farah meletakkan tangan di atas lutut, berusaha meredam kegelisahan yang mengalir hingga ke ujung kaki. “Kamu takut saya
“Aku terima nikah Farah Anisa binti Ahmad...”Hanya dengan sekali lafaz ijab kabul, pernikahan Hongjoong dan Farah pun sah berlangsung meskipun dalam bahasa Korea. Kini, keduanya sudah resmi menjadi sepasang suami istri.Entah mengapa, air mata Farah jatuh membasahi pipinya, membuat sedikit luntur rias tipis yang menghias wajahnya. Usai saksi mengangguk tanda mengesahkan akad, lantunan doa mulai bergema, menambah syahdu suasana.Beberapa saat kemudian, Hongjoong bangkit dari kursi, melangkah mendekati Farah untuk menyerahkan mas kawin yang telah ia siapkan khusus untuk gadis itu.“Alhamdulillah, semoga berkekalan hingga ke surga, Hakim,” ucap seorang sahabatnya sambil menyerahkan mahar berbentuk buku kepada Farah.Farah tertegun. Nama itu... Hakim? Ia memandang bergantian pada Hongjoong dan lelaki tersebut. Seketika, puluhan pertanyaan berhamburan di benaknya. Apakah selama ini Hongjoong sudah memeluk Islam tanpa sepengetahuannya? Apakah itu sebabnya ia menolak menikah dengan Eunji ma
Hari libur sudah berakhir. Farah kembali masuk kerja seperti biasa. Meski kepalanya masih penuh dengan kebingungan setelah perbincangan semalam di Itaewon bersama Hongjoong, pekerjaan tetap harus dilanjutkan, karena itulah satu-satunya sumber penghidupan Farah untuk bisa bertahan di negara besar dan maju seperti Korea Selatan. “Berkerut saja wajahmu, kamu baik-baik saja nggak?” Shina menegur ketika langkah Farah semakin mendekati mejanya. “Aku baru ingat, hari ini ada presentasi slide untuk Tuan Chan.” Farah panik, langsung duduk dan menyalakan laptopnya. “Kamu sudah siap dengan presentasi untuk klien kita yang cerewet itu?” Shina ikut merasakan debaran yang sama dengan Farah. Semua pegawai bagian marketing sudah sangat mengenal sifat Tuan Chan. Semuanya harus sempurna, meskipun setiap anggota tim marketing sudah melakukan yang terbaik. Namun, ide siapa pun selalu ditolak, dan akhirnya hanya presentasi milik Farah yang diterima. Tapi setelah diterima pun, tetap saja banyak mas






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews