Share

Bab 4

Author: LibraRahutia
last update publish date: 2026-05-19 00:38:45

Sementara itu, dari dalam rumah, ada seseorang yang sejak tadi memperhatikan interaksi mereka dalam diam.

Tatapan itu tertuju pada Arabella yang tadi sempat tertawa riang di gendongan Juno.

Wajahnya perlahan melunak.

Hangat.

Pemandangan itu selalu membuat hatinya tenang.

Dan orang itu adalah Bu Ratih, ibunda Nayla.

Wanita itu berdiri di balik gorden ruang tengah yang sedikit terbuka sambil memperhatikan putri dan cucunya dari kejauhan.

Sudah tiga tahun berlalu sejak rumah tangga Nayla dan Arga hancur.

Namun sampai hari ini, rasa sakit melihat putrinya terluka masih terasa jelas di hati Bu Ratih.

Ia masih ingat bagaimana hancurnya Nayla dulu setelah perceraian itu terjadi.

Menangis diam-diam hampir setiap malam.

Tubuhnya semakin kurus.

Dan senyum putrinya perlahan menghilang.

Yang paling membuat hati Bu Ratih sakit.

Semua itu terjadi saat Nayla sedang mengandung Arabella.

Namun Arga sama sekali tidak mengetahuinya.

Karena pria itu memilih menceraikan Nayla sebelum sempat mendengar penjelasan apa pun.

Padahal dulu, Bu Ratih tahu betul sebesar apa cinta Arga pada putrinya.

Arga sangat mencintai Nayla.

Terlalu mencintainya bahkan.

Namun justru karena itu, Arga juga menjadi seseorang yang sangat membenci pengkhianatan.

Dan ketika kesalahpahaman itu terjadi…

Saat Arga melihat Nayla bersama Juno…

Saat fitnah perselingkuhan itu sampai ke telinganya…

Arga langsung berubah dingin dan penuh amarah.

Ia tidak memberi Nayla kesempatan menjelaskan apa pun.

Tidak mau mendengar.

Dan memilih mengakhiri semuanya begitu saja.

Sejak saat itu, Bu Ratih tidak pernah benar-benar bisa memaafkan Arga.

Karena menurutnya, sebesar apa pun cinta seorang laki-laki, seharusnya pria itu tetap mempercayai istrinya.

"Neneeek!"

Suara Arabella membuyarkan lamunannya.

"Ara main dulu dikamar ya, nenek mau ngobrol sama mama,"

Arabella mengangguk, lalu berlari menuju kamarnya.

Bu Ratih tersenyum kecil melihat cucunya berlari dengan langkah pendek khas anak seusianya. Gelengan pelan keluar dari bibir wanita paruh baya itu sebelum akhirnya ia melangkah keluar menuju teras.

Nayla yang sejak tadi berdiri di dekat pagar langsung menoleh.

"Mama," lirihnya pelan.

Bu Ratih menghampiri putrinya lalu berdiri di samping Nayla. Tatapannya sempat mengikuti mobil Juno yang perlahan menghilang dari ujung jalan.

"Juno itu laki-laki baik," ucap Bu Ratih pelan.

Nayla tersenyum tipis, namun tidak menjawab.

Ia tahu ibunya sudah beberapa kali mengatakan hal yang sama.

Selama hampir tiga tahun terakhir, Juno memang selalu ada membantu mereka.

Bukan hanya untuk Arabella.

Tapi juga untuk dirinya dan Bu Ratih.

Pria itu tidak pernah memaksa, tidak pernah menuntut balasan, bahkan tetap bertahan meski Nayla berkali-kali menjaga jarak.

"Dia sayang sama Arabella," lanjut Bu Ratih lagi.

Kali ini Nayla menghela napas kecil.

"Juno cuma kasihan sama Ara, Ma."

"Kalau cuma kasihan, dia nggak mungkin bertahan selama ini."

Nayla terdiam.

Angin sore berembus pelan, membuat beberapa helai rambutnya bergerak lembut.

Bu Ratih menatap putrinya lama.

"Mama cuma nggak mau kamu terus hidup sendiri sambil nyimpen luka yang sama, Nay."

Kalimat itu membuat senyum tipis di wajah Nayla perlahan memudar.

Tangannya tanpa sadar saling menggenggam.

"Aku udah biasa sendiri, Ma."

"Itu bukan biasa," sahut Bu Ratih lembut. "Kamu cuma memaksa diri kamu kuat"

Hening sesaat.

Tatapan Nayla turun menatap lantai teras.

Dan seperti biasa…

Saat pembicaraan mulai menyentuh soal masa lalunya, dada wanita itu kembali terasa sesak.

Bayangan Arga muncul lagi tanpa diminta.

Tatapan dingin pria itu saat menjatuhkan surat cerai di hadapannya.

Nada suaranya yang penuh kekecewaan.

Tatapan muak yang sampai hari ini masih membekas di hati Nayla.

"Aku cuma nggak mau jatuh sakit untuk kedua kali, Ma," bisiknya lirih.

Bu Ratih menoleh pelan.

Sorot matanya langsung melembut melihat mata putrinya mulai memerah.

"Nayla…"

"Aku pernah terlalu percaya sama seseorang sampai akhirnya aku dihancurin sendiri sama orang itu."

Suara Nayla terdengar bergetar.

"Aku pernah nunggu dia percaya sama aku… walaupun cuma sedikit." Ia tersenyum pahit. "Tapi dia bahkan nggak kasih aku kesempatan buat jelasin apa pun."

Bu Ratih langsung menggenggam tangan putrinya erat.

Hatinya kembali nyeri mengingat masa-masa itu.

Masa ketika Nayla pulang ke rumah mereka dalam keadaan hancur sambil membawa kandungan yang bahkan tidak diketahui mantan suaminya sendiri.

"Mama tahu," ucap Bu Ratih pelan. "Dan Mama nggak akan pernah lupa gimana kamu bertahan dulu."

Air mata Nayla akhirnya jatuh.

Cepat-cepat ia mengusapnya sambil tertawa kecil menertawakan dirinya sendiri.

"Padahal semuanya udah lewat tiga tahun…"

"Luka nggak punya hitungan waktu, Nak."

Nayla menunduk diam.

Sementara Bu Ratih menatap putrinya penuh rasa iba.

Dalam hati kecilnya, wanita itu masih menyimpan kecewa besar pada Arga.

Karena sampai hari ini…

Pria itu bahkan tidak tahu kalau ia memiliki seorang putri kecil bernama Arabella.

***

Arga mengendarai mobilnya menuju sebuah club malam, lampu-lampu kota mulai menyala ketika mobil hitam milik Arga melaju membelah jalanan malam yang basah oleh sisa hujan sore tadi.

Rahangnya tampak mengeras.

Satu tangannya menggenggam setir erat, sementara pikirannya sejak tadi kacau tak beraturan.

Bayangan Nayla terus muncul tanpa diminta.

Wajah wanita itu tadi siang.

Sorot matanya yang dingin.

Dan Juno…

Pria yang dulu pernah ia anggap saudara sendiri.

Brak.

Arga memukul pelan setir mobilnya frustrasi.

Ia muak.

Muak karena setelah tiga tahun berlalu, Nayla masih bisa mengusik pikirannya semudah itu.

Padahal wanita itu sudah menghancurkan semua kepercayaannya dulu.

Mobil itu akhirnya berhenti tepat di depan sebuah club malam.

Lampu neon berwarna-warni menyala terang menghiasi bangunan mewah itu, sementara dentuman musik terdengar samar bahkan dari luar.

Arga turun dari mobil dengan wajah datar lalu berjalan masuk tanpa ekspresi.

Di salah satu sudut VIP room, seorang pria tampak duduk santai sambil memainkan gelas whiskey di tangannya.

Nathan.

Sahabat lamanya.

Atau lebih tepatnya…

Satu-satunya sahabat yang masih tersisa.

Karena dulu, mereka bertiga selalu bersama.

Arga.

Nathan.

Dan Juno.

Namun semuanya berubah sejak perceraian Arga dan Nayla terjadi.

Hubungannya dengan Juno hancur begitu saja.

Bahkan sampai sekarang, Arga masih tidak bisa melupakan kenyataan bahwa pria itu pernah berada di sisi Nayla saat rumah tangganya runtuh.

"Tumben telat," ucap Nathan begitu Arga duduk di depannya.

Arga langsung menuang whiskey ke gelasnya sendiri lalu meneguk sekali tanpa bicara.

Nathan mengamati sahabatnya beberapa detik sebelum terkekeh pelan.

"Muka lu serem banget. Meeting gagal?"

"Enggak."

"Berarti ada masalah lain."

Arga diam.

Nathan mengangkat alis.

"Jangan bilang…" pria itu menyeringai tipis. "Lu ketemu Nayla?" tebak Nathan asal.

Gerakan tangan Arga terhenti sepersekian detik.

Dan Nathan langsung tahu dirinya benar.

"Damn," gumamnya pelan sambil bersandar. "Semesta emang suka bercanda."

Arga menatap tajam gelas whiskey di tangannya.

"Nggak ada yang lucu."

Nathan menghela napas kecil.

Tentu saja tidak lucu.

Karena Nathan adalah salah satu orang yang tahu persis bagaimana hancurnya hubungan Arga dan Nayla dulu.

Ia tahu sebesar apa kemarahan Arga setelah mendengar tuduhan perselingkuhan itu.

Dan sampai hari ini, luka itu rupanya masih belum benar-benar hilang.

"Masih benci sama dia?" tanya Nathan pelan.

Rahang Arga mengeras.

"Gue nggak akan lupa apa yang dia lakuin."

Jawaban itu terdengar dingin.

Tegas.

Seolah tidak menyisakan ruang sedikit pun untuk perasaan lain.

Namun Nathan hanya diam sambil memperhatikan sahabatnya.

Karena kalau memang hanya benci…

Seharusnya Arga tidak akan terusik seperti ini hanya karena bertemu Nayla.

Arga kembali meneguk minumannya.

Namun tiba-tiba ada seseorang yang memeluknya dari belakang.

bersambung..

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • GAIRAH MANTAN SUAMIKU YANG NAKAL   Bab 26.

    Di sebuah toko kue yang cukup terkenal, suasana tampak ramai oleh para pengunjung yang datang silih berganti. Aroma roti yang baru matang dan kue-kue manis memenuhi ruangan, berpadu dengan suara pelayan yang sibuk melayani pelanggan. Di depan etalase kaca yang dipenuhi aneka kue cantik, Bu Ajeng berdiri dengan anggun. Tatapannya menyusuri satu per satu pilihan yang tersusun rapi, mulai dari cake ulang tahun, pastry, hingga berbagai dessert dengan hiasan yang menggugah selera. Sesekali ia menunjuk beberapa kue sambil bertanya kepada pramuniaga mengenai rasa dan bahan yang digunakan. Wajahnya terlihat serius memilih, seolah ingin memastikan hanya kue terbaik yang akan ia bawa pulang. Sebelum sempat menentukan pilihannya, seseorang tiba-tiba menabraknya dari arah samping. Bruk! Seorang anak perempuan kecil terjatuh hingga terduduk di lantai. Dengan wajah meringis, ia mengangkat tangan mungilnya untuk mengusap kening yang terasa nyeri akibat benturan itu. "Au..." lirihnya pe

  • GAIRAH MANTAN SUAMIKU YANG NAKAL   Bab 25

    Sinar matahari senja mulai meredup ketika Nayla akhirnya menutup panggilan dengan pihak maskapai. Setelah beberapa kali berbicara dengan petugas, ia mengembuskan napas pelan. Penerbangan hari itu sudah tidak memungkinkan lagi. Tiket mereka telah hangus, dan jadwal paling cepat untuk kembali ke Jakarta adalah esok pagi. Nayla memejamkan mata sesaat, lalu membalikkan badan. "Pak Arga," panggilnya pelan. Arga yang masih duduk di tepi ranjang mengangkat pandangan. "Saya sudah menghubungi maskapai. Penerbangan berikutnya baru besok pagi." Arga mengangguk singkat. "Kalau begitu, kita pulang besok." "Iya, Pak. Untuk malam ini hotelnya harus diperpanjang dulu." "Ya sudah." Nayla meraih tasnya. "Saya ke resepsionis sebentar." Baru saja ia hendak melangkah, suara Arga kembali menghentikannya. "Nayla." Langkah wanita itu langsung terhenti. Ia menoleh. "Iya, Pak?" Arga menghela napas pelan. Wajahnya tetap datar, tetapi nada suaranya terdengar sedikit lebih rendah

  • GAIRAH MANTAN SUAMIKU YANG NAKAL   24

    Tubuh Arga terasa begitu panas. Napasnya memburu, sementara keningnya dipenuhi butiran keringat. Nayla buru-buru mengambil handuk kecil di kamar mandi, membasahinya dengan air dingin, lalu mengompres dahi pria itu. "Pak Arga... bangun. Bapak demam tinggi," ucapnya cemas. Arga hanya mengerang pelan. Kelopak matanya tetap terpejam. Sesaat kemudian, bibir pria itu bergerak lirih. "...Jangan pergi..." Nayla menghentikan gerakannya. Tangannya yang sedang mengusap dahi Arga seketika membeku. Arga kembali bergumam, suaranya lemah dan nyaris tak terdengar. "...Nayla..." Jantung Nayla berdegup semakin cepat. Sudah tiga tahun berlalu sejak terakhir kali ia mendengar Arga menyebut namanya dengan nada selembut itu. Matanya mulai berkaca-kaca. "Pak Arga..." Namun Arga belum benar-benar sadar. Ia masih terjebak dalam demamnya. "Maaf..." Satu kata itu membuat dada Nayla terasa sesak. Selama ini, Arga selalu bersikap dingin, penuh kebencian, bahkan tak pernah mau mende

  • GAIRAH MANTAN SUAMIKU YANG NAKAL   Bab 23

    Saat ini, di kediaman keluarga Wijaya, Bu Ajeng dan Rosa tengah duduk di ruang tamu. Sudah tiga hari berlalu sejak Arga berangkat ke luar kota untuk urusan pekerjaan. Hari ini, Arga dijadwalkan kembali. Rosa tampak gelisah. Jemarinya terus memainkan cangkir teh yang sudah mulai dingin. "Tante, apa Mas Arga sudah memberikan kabar?" Bu Ajeng menggeleng pelan. "Belum. Tante juga masih menunggu kabarnya." Rosa mengembuskan napas panjang. "Kalau saja dari awal aku tahu Nayla yang ikut mendampingi Mas Arga ke luar kota, aku pasti sudah mencegahnya." Bu Ajeng menoleh ke arahnya. "Kamu memang baru tahu setelah Arga berangkat?" Rosa mengangguk kesal. "Iya, Tante. Biasanya yang mendampingi Mas Arga saat perjalanan dinas itu asistennya. Aku sama sekali tidak menyangka kali ini Nayla yang ikut. Aku baru tahu setelah salah satu karyawan perusahaan membicarakannya." Wajah Bu Ajeng langsung mengeras. "Itu juga yang membuat Tante kesal. Arga seharusnya memilih orang lain, bu

  • GAIRAH MANTAN SUAMIKU YANG NAKAL   Bab 22

    Nayla menoleh. Seketika napasnya tertahan saat melihat sosok yang berdiri beberapa langkah di depannya. Seorang pria dengan kemeja yang kusut berjalan sempoyongan ke arahnya. Wajahnya merah padam, rambutnya berantakan, sementara aroma alkohol yang menyengat langsung menyeruak begitu ia mendekat. Matanya menyapu tubuh Nayla tanpa rasa sungkan, membuat bulu kuduk wanita itu meremang. Pria itu menyeringai. "Wah... cantik sekali," gumamnya dengan lidah yang terdengar pelo. "Sendirian, ya?" Nayla refleks mundur selangkah. "Maaf, Pak. Permisi." Ia berusaha melewati pria itu untuk kembali ke lorong hotel. Namun pria tersebut justru bergeser, menutup jalan keluar sambil terkekeh pelan. "Jangan buru-buru." Senyumnya semakin lebar. "Temenin saya sebentar. Bosan nih." Jantung Nayla mulai berdegup semakin cepat. Lorong menuju balkon itu begitu sepi. Hanya terdengar desiran angin malam yang menerpa dedaunan dan suara musik pesta yang samar dari dalam ballroom. "Maaf, sa

  • GAIRAH MANTAN SUAMIKU YANG NAKAL   Bab 21

    Arga dan Nayla sama-sama membeku. Tak ada satu pun dari mereka yang bergerak. Hanya suara napas yang saling bersahutan di tengah kamar yang sunyi. Tatapan Arga turun perlahan ke wajah Nayla. Wanita itu tampak gugup. Pipi yang semula pucat kini memerah, sementara bulu matanya bergetar pelan karena gugup. Sudah bertahun-tahun Arga berusaha meyakinkan dirinya bahwa semua perasaan itu telah berakhir. Bahwa Nayla kini hanyalah bawahannya, sekaligus seseorang yang pernah mengisi hidupnya. Namun malam itu... Jarak yang begitu dekat membuat seluruh benteng pertahanannya runtuh sedikit demi sedikit. "Nayla..." gumamnya lirih. Nayla menelan ludah. "I-iya..." Suara itu terdengar begitu pelan hingga hampir tak terdengar. Arga mengangkat sebelah tangannya perlahan. Jemarinya bergerak hati-hati, menyingkirkan beberapa helai rambut Nayla yang jatuh menutupi wajah wanita itu. Sentuhan itu membuat Nayla membeku. Sudah lama sekali ia tidak merasakan kelembutan yang begitu dikena

  • GAIRAH MANTAN SUAMIKU YANG NAKAL   Bab 7

    Masih di ruangan Arga. Rosa tersenyum tipis setelah mendengar jawaban Arga. Meski hatinya masih dipenuhi rasa tidak nyaman, wanita itu tetap berusaha terlihat manis. Tatapannya kembali mengarah pada Nayla yang sedang membuka laptop di meja sekretaris. Lalu perlahan Rosa melangkah mendekat.

  • GAIRAH MANTAN SUAMIKU YANG NAKAL   Bab 6

    "Pagi, Sayang." Suara lembut membuat Arga langsung mengenali siapa pemiliknya bahkan tanpa perlu menoleh. Rosa. Wanita itu berdiri di sampingnya dengan senyum manis sempurna di bibir merahnya. Dress putih selutut yang dipakainya pagi itu membuat penampilannya terlihat anggun dan feminin.

  • GAIRAH MANTAN SUAMIKU YANG NAKAL   Bab 5

    Tubuh Arga yang sejak tadi bersandar malas langsung menegang saat sepasang tangan melingkar manja di lehernya dari belakang. Aroma parfum wanita yang tajam dan mahal langsung memenuhi indera penciumannya. "Baby…" Suara lembut itu terdengar manja di telinganya. Nathan yang melihat sosok wani

  • GAIRAH MANTAN SUAMIKU YANG NAKAL   Bab 3

    Langit sore mulai berubah jingga ketika Nayla akhirnya keluar dari gedung perusahaan dengan langkah pelan. Bahunya terasa pegal setelah seharian mencoba menata pikirannya yang terus kacau sejak bertemu Arga lagi. Ia menggenggam tasnya erat sambil menuruni anak tangga lobby utama. Namun langkah

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status