Partager

Bab 5

Auteur: LibraRahutia
last update Date de publication: 2026-05-19 08:48:55

Tubuh Arga yang sejak tadi bersandar malas langsung menegang saat sepasang tangan melingkar manja di lehernya dari belakang.

Aroma parfum wanita yang tajam dan mahal langsung memenuhi indera penciumannya.

"Baby…"

Suara lembut itu terdengar manja di telinganya.

Nathan yang melihat sosok wanita itu langsung mengangkat alis tipis sambil menyeringai kecil.

Rosa.

Wanita yang kini menjadi tunangan Arga.

Rosa tampil mencolok malam itu dengan dress hitam ketat selutut yang membentuk lekuk tubuhnya sempurna. Rambut panjangnya tergerai bergelombang, bibir merahnya tersenyum menggoda saat berjalan memutari sofa lalu duduk tepat di samping Arga.

Satu tangannya langsung merangkul lengan pria itu posesif.

"Kenapa kamu nggak bilang kalau mau ke sini," rengeknya pelan.

Arga hanya melirik sekilas tanpa banyak respons.

Namun Rosa tampaknya sudah terbiasa dengan sikap dingin pria itu.

Ia justru semakin menempel manja.

Nathan diam sambil memperhatikan mereka bergantian.

Kalau dipikir-pikir, Rosa memang cantik.

Seksi.

Elegan.

Dan dalam banyak sisi… wanita itu memang mirip Nayla.

Setidaknya secara penampilan.

Sama-sama memiliki wajah cantik yang lembut.

Tubuh ramping.

Dan aura tenang yang membuat orang mudah terpikat.

Namun entah kenapa…

Nathan tetap merasa keduanya sangat berbeda.

Nayla memiliki sorot mata hangat yang menenangkan.

Sedangkan Rosa…

Wanita itu terlalu pandai menyembunyikan sesuatu di balik senyumnya.

"Kok malah bengong?" Rosa terkekeh kecil sambil menyentuh dada Arga pelan. "Aku ganggu ya?"

"Enggak."

Jawaban Arga pendek.

Nathan mendecih pelan sambil meneguk minumannya.

"Kasian amat tunangan lu dijawab dingin begitu."

Rosa tertawa kecil.

"Nggak apa-apa. Aku udah hafal sifatnya Arga kok."

Wanita itu lalu menoleh pada Nathan.

"Kalian ngomongin apa?"

Nathan nyaris menjawab spontan.

Tentang Nayla.

Namun sebelum kata itu keluar, Arga lebih dulu melempar tatapan tajam yang membuat Nathan langsung mengurungkan niatnya.

"Kerjaan," jawab Nathan santai.

"Hm…" Rosa mengangguk kecil lalu kembali menyandarkan kepalanya di bahu Arga. "Aku kira lagi ngomongin mantan istri."

Kalimat itu membuat suasana mendadak berubah tipis.

Nathan terdiam.

Sedangkan rahang Arga kembali mengeras.

Rosa tentu menyadarinya.

Dan senyum tipis penuh kemenangan nyaris saja muncul di bibir wanita itu sebelum cepat-cepat ia sembunyikan.

"Sayang, ayo kita kebawah. Aku ingin menari." rengeknya manja.

"Aku sedang tidak mood, kamu saja dengan Nathan." tolaknya.

Rosa langsung mengerucutkan bibirnya kesal mendengar penolakan Arga.

“Yah… padahal aku pengen ditemenin,” rengeknya pelan sambil bergerak makin dekat ke sisi pria itu.

“Aku lagi nggak mood,” jawab Arga singkat.

Nada bicaranya tetap datar.

Dingin.

Seolah tidak tertarik memperpanjang percakapan.

Nathan yang duduk di seberang mereka hanya mendecih geli.

“Kasian amat tunangan lu.”

Rosa tertawa kecil meski jelas tak menyerah. Wanita itu memang sudah hafal sifat Arga yang dingin dan sulit ditebak.

“Ya gimana lagi,” ujarnya santai sambil memainkan ujung rambutnya. “Aku aja tadi nggak sengaja lihat mobil Arga di parkiran. Kirain dia masih di kantor.”

Nathan mengangguk kecil sambil menahan senyum tipis.

Sementara itu Rosa kembali bergerak mendekat. Jemarinya naik menyentuh lengan Arga pelan lalu menyandarkan kepala di bahu pria itu manja.

Namun seketika rahang Arga mengeras tipis.

Pria itu jelas tidak suka terlalu ditempeli.

Tanpa menoleh, Arga langsung menahan pergelangan tangan Rosa lalu menurunkannya perlahan dari lengannya.

Gerakannya tidak kasar.

Tapi cukup tegas.

“Duduk yang benar,” ucapnya datar.

Rosa sempat terdiam sesaat.

Namun bukannya marah, wanita itu justru tersenyum kecil sambil menatap wajah dingin Arga lekat-lekat.

Karena seaneh apa pun sikap pria itu…

Rosa tetap menyukainya.

Bahkan mungkin terlalu menyukai Arga sampai rela terus bertahan dengan sikap dingin tersebut.

“Oke…kalau kamu gak mau, aku aja yang turun." akhirnya Risa turun dan bergabung bersama teman-temannya.

“Oke… kalau kamu nggak mau, aku aja yang turun.”

Rosa akhirnya bangkit dari sofa sambil merapikan dress hitam ketatnya. Bibir wanita itu masih tersenyum manis, seolah sama sekali tidak tersinggung oleh penolakan Arga.

Padahal jauh di dalam hatinya, Rosa jelas kesal.

Namun ia terlalu pintar menyembunyikan emosi.

Di depan Arga, wanita itu selalu tampil lembut.

Manja.

Pengertian.

Seakan hanya wanita sederhana yang terlalu mencintai tunangannya.

Rosa lalu mencondongkan tubuhnya sedikit ke arah Arga.

“Jangan lupa susulin aku ya, Baby.”

Arga tidak menjawab.

Pria itu hanya meneguk minumannya malas tanpa menoleh sedikit pun.

Rosa akhirnya terkekeh kecil lalu berjalan turun menuju area utama club malam.

Dan hanya dalam hitungan menit… sikapnya berubah.

Nathan yang tanpa sengaja memperhatikan dari atas langsung mengangkat sebelah alisnya tipis.

Di bawah sana, Rosa sudah dikerubungi beberapa pria dan wanita yang tampak mengenalnya.

Tawanya terdengar lepas.

Tangannya berpindah santai dari satu bahu ke bahu lain saat bercanda.

Wanita itu bergerak luwes mengikuti dentuman musik keras, menjadi pusat perhatian seperti biasa.

Aktif.

Pandai bergaul.

Dan sangat menikmati sorotan mata orang-orang di sekitarnya.

Sangat berbeda dengan sikap lembut dan kalem yang selalu ia tunjukkan di depan Arga.

Nathan menyandarkan tubuh sambil terkekeh pelan.

“Tunangan lu ternyata sangat pandai bergaul.”

Tatapan Arga turun sekilas ke arah Rosa di bawah sana.

Namun ekspresinya tetap datar.

Seolah tidak tertarik.

“Dia memang begitu.”

Nathan menoleh.

“Lu nggak masalah?”

“Harusnya?”

Jawaban Arga singkat.

Dingin seperti biasa.

Nathan diam beberapa saat sebelum akhirnya kembali melihat Rosa yang kini tertawa sambil bermain biliar bersama teman-temannya.

Entah kenapa…

Semakin lama Nathan merasa wanita itu terlalu pandai memainkan dua sisi dirinya.

Di depan Arga, Rosa terlihat seperti wanita manis yang selalu bergantung pada tunangannya.

Namun di luar itu…

Wanita tersebut justru tampak sangat bebas.

Dan manipulatifnya, Rosa tahu persis kapan harus memakai masing-masing topeng itu.

***

Keesokan paginya, suasana lobby perusahaan masih ramai oleh para karyawan yang baru datang.

Arga baru saja turun dari mobilnya dengan wajah datar khasnya. Jas hitam mahal yang melekat di tubuh tinggi pria itu membuat auranya terlihat semakin dingin dan sulit didekati.

Langkah pria itu semula tenang.

Namun mendadak terhenti.

Tatapannya lurus ke depan.

Dan rahangnya langsung mengeras.

Di sana…

Nayla baru saja turun dari mobil Juno.

Wanita itu berdiri sambil merapikan tas kerjanya, sementara Juno mengatakan sesuatu yang membuat Nayla tersenyum kecil.

Senyum hangat yang dulu sangat sering Arga lihat.

Senyum yang sekarang justru terasa mengganggu di matanya.

Entah kenapa dada Arga langsung terasa panas.

Apalagi saat matanya menangkap penampilan Nayla pagi itu.

Wanita tersebut memakai blouse krem lengan panjang yang dipadukan rok span hitam selutut.

Tidak terbuka.

Bahkan tergolong rapi untuk ukuran pakaian kantor.

Namun justru itu masalahnya.

Blouse yang membungkus tubuh Nayla jatuh pas mengikuti lekuk tubuhnya.

Pinggang ramping.

Tubuh mungil.

Dan bagian dada wanita itu terlihat begitu menonjol di mata Arga.

Membuat pria itu tanpa sadar mengalihkan pandangan sesaat sebelum kembali menatap tajam.

Sialnya…

Justru karena Nayla tidak berpakaian berlebihan, wanita itu terlihat jauh lebih menarik.

Dan Arga membencinya.

Sangat membencinya.

Karena kenyataan bahwa dirinya masih memperhatikan Nayla sedetail itu membuat emosinya sendiri kacau.

Sementara itu, Nayla yang sama sekali tidak menyadari keberadaan Arga tampak berbicara santai dengan Juno.

"Ara tadi nggak rewel lagi kan?" tanya Juno sambil tersenyum kecil.

Nayla terkekeh pelan.

"Nggak. Tadi cuma sempet nyariin kamu pas bangun."

"Siap-siap saja kamu bakal kehilangan perhatiannya, Nay." candanya.

Nayla hanya tersenyum lembut saat mendengar ucapan lelaki itu.

Dan lagi-lagi…

Arga melihat semuanya.

Melihat bagaimana wanita itu bisa terlihat begitu hangat di depan pria lain.

Padahal dulu…

Tatapan selembut itu hanya untuk dirinya.

Rahang Arga kembali mengeras.

Tangannya mengepal pelan di sisi tubuh.

Saat itulah tiba-tiba ada yang menyentuh pundaknya dari belakangnya.

next..

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • GAIRAH MANTAN SUAMIKU YANG NAKAL   Bab 26.

    Di sebuah toko kue yang cukup terkenal, suasana tampak ramai oleh para pengunjung yang datang silih berganti. Aroma roti yang baru matang dan kue-kue manis memenuhi ruangan, berpadu dengan suara pelayan yang sibuk melayani pelanggan. Di depan etalase kaca yang dipenuhi aneka kue cantik, Bu Ajeng berdiri dengan anggun. Tatapannya menyusuri satu per satu pilihan yang tersusun rapi, mulai dari cake ulang tahun, pastry, hingga berbagai dessert dengan hiasan yang menggugah selera. Sesekali ia menunjuk beberapa kue sambil bertanya kepada pramuniaga mengenai rasa dan bahan yang digunakan. Wajahnya terlihat serius memilih, seolah ingin memastikan hanya kue terbaik yang akan ia bawa pulang. Sebelum sempat menentukan pilihannya, seseorang tiba-tiba menabraknya dari arah samping. Bruk! Seorang anak perempuan kecil terjatuh hingga terduduk di lantai. Dengan wajah meringis, ia mengangkat tangan mungilnya untuk mengusap kening yang terasa nyeri akibat benturan itu. "Au..." lirihnya pe

  • GAIRAH MANTAN SUAMIKU YANG NAKAL   Bab 25

    Sinar matahari senja mulai meredup ketika Nayla akhirnya menutup panggilan dengan pihak maskapai. Setelah beberapa kali berbicara dengan petugas, ia mengembuskan napas pelan. Penerbangan hari itu sudah tidak memungkinkan lagi. Tiket mereka telah hangus, dan jadwal paling cepat untuk kembali ke Jakarta adalah esok pagi. Nayla memejamkan mata sesaat, lalu membalikkan badan. "Pak Arga," panggilnya pelan. Arga yang masih duduk di tepi ranjang mengangkat pandangan. "Saya sudah menghubungi maskapai. Penerbangan berikutnya baru besok pagi." Arga mengangguk singkat. "Kalau begitu, kita pulang besok." "Iya, Pak. Untuk malam ini hotelnya harus diperpanjang dulu." "Ya sudah." Nayla meraih tasnya. "Saya ke resepsionis sebentar." Baru saja ia hendak melangkah, suara Arga kembali menghentikannya. "Nayla." Langkah wanita itu langsung terhenti. Ia menoleh. "Iya, Pak?" Arga menghela napas pelan. Wajahnya tetap datar, tetapi nada suaranya terdengar sedikit lebih rendah

  • GAIRAH MANTAN SUAMIKU YANG NAKAL   24

    Tubuh Arga terasa begitu panas. Napasnya memburu, sementara keningnya dipenuhi butiran keringat. Nayla buru-buru mengambil handuk kecil di kamar mandi, membasahinya dengan air dingin, lalu mengompres dahi pria itu. "Pak Arga... bangun. Bapak demam tinggi," ucapnya cemas. Arga hanya mengerang pelan. Kelopak matanya tetap terpejam. Sesaat kemudian, bibir pria itu bergerak lirih. "...Jangan pergi..." Nayla menghentikan gerakannya. Tangannya yang sedang mengusap dahi Arga seketika membeku. Arga kembali bergumam, suaranya lemah dan nyaris tak terdengar. "...Nayla..." Jantung Nayla berdegup semakin cepat. Sudah tiga tahun berlalu sejak terakhir kali ia mendengar Arga menyebut namanya dengan nada selembut itu. Matanya mulai berkaca-kaca. "Pak Arga..." Namun Arga belum benar-benar sadar. Ia masih terjebak dalam demamnya. "Maaf..." Satu kata itu membuat dada Nayla terasa sesak. Selama ini, Arga selalu bersikap dingin, penuh kebencian, bahkan tak pernah mau mende

  • GAIRAH MANTAN SUAMIKU YANG NAKAL   Bab 23

    Saat ini, di kediaman keluarga Wijaya, Bu Ajeng dan Rosa tengah duduk di ruang tamu. Sudah tiga hari berlalu sejak Arga berangkat ke luar kota untuk urusan pekerjaan. Hari ini, Arga dijadwalkan kembali. Rosa tampak gelisah. Jemarinya terus memainkan cangkir teh yang sudah mulai dingin. "Tante, apa Mas Arga sudah memberikan kabar?" Bu Ajeng menggeleng pelan. "Belum. Tante juga masih menunggu kabarnya." Rosa mengembuskan napas panjang. "Kalau saja dari awal aku tahu Nayla yang ikut mendampingi Mas Arga ke luar kota, aku pasti sudah mencegahnya." Bu Ajeng menoleh ke arahnya. "Kamu memang baru tahu setelah Arga berangkat?" Rosa mengangguk kesal. "Iya, Tante. Biasanya yang mendampingi Mas Arga saat perjalanan dinas itu asistennya. Aku sama sekali tidak menyangka kali ini Nayla yang ikut. Aku baru tahu setelah salah satu karyawan perusahaan membicarakannya." Wajah Bu Ajeng langsung mengeras. "Itu juga yang membuat Tante kesal. Arga seharusnya memilih orang lain, bu

  • GAIRAH MANTAN SUAMIKU YANG NAKAL   Bab 22

    Nayla menoleh. Seketika napasnya tertahan saat melihat sosok yang berdiri beberapa langkah di depannya. Seorang pria dengan kemeja yang kusut berjalan sempoyongan ke arahnya. Wajahnya merah padam, rambutnya berantakan, sementara aroma alkohol yang menyengat langsung menyeruak begitu ia mendekat. Matanya menyapu tubuh Nayla tanpa rasa sungkan, membuat bulu kuduk wanita itu meremang. Pria itu menyeringai. "Wah... cantik sekali," gumamnya dengan lidah yang terdengar pelo. "Sendirian, ya?" Nayla refleks mundur selangkah. "Maaf, Pak. Permisi." Ia berusaha melewati pria itu untuk kembali ke lorong hotel. Namun pria tersebut justru bergeser, menutup jalan keluar sambil terkekeh pelan. "Jangan buru-buru." Senyumnya semakin lebar. "Temenin saya sebentar. Bosan nih." Jantung Nayla mulai berdegup semakin cepat. Lorong menuju balkon itu begitu sepi. Hanya terdengar desiran angin malam yang menerpa dedaunan dan suara musik pesta yang samar dari dalam ballroom. "Maaf, sa

  • GAIRAH MANTAN SUAMIKU YANG NAKAL   Bab 21

    Arga dan Nayla sama-sama membeku. Tak ada satu pun dari mereka yang bergerak. Hanya suara napas yang saling bersahutan di tengah kamar yang sunyi. Tatapan Arga turun perlahan ke wajah Nayla. Wanita itu tampak gugup. Pipi yang semula pucat kini memerah, sementara bulu matanya bergetar pelan karena gugup. Sudah bertahun-tahun Arga berusaha meyakinkan dirinya bahwa semua perasaan itu telah berakhir. Bahwa Nayla kini hanyalah bawahannya, sekaligus seseorang yang pernah mengisi hidupnya. Namun malam itu... Jarak yang begitu dekat membuat seluruh benteng pertahanannya runtuh sedikit demi sedikit. "Nayla..." gumamnya lirih. Nayla menelan ludah. "I-iya..." Suara itu terdengar begitu pelan hingga hampir tak terdengar. Arga mengangkat sebelah tangannya perlahan. Jemarinya bergerak hati-hati, menyingkirkan beberapa helai rambut Nayla yang jatuh menutupi wajah wanita itu. Sentuhan itu membuat Nayla membeku. Sudah lama sekali ia tidak merasakan kelembutan yang begitu dikena

  • GAIRAH MANTAN SUAMIKU YANG NAKAL   Bab 7

    Masih di ruangan Arga. Rosa tersenyum tipis setelah mendengar jawaban Arga. Meski hatinya masih dipenuhi rasa tidak nyaman, wanita itu tetap berusaha terlihat manis. Tatapannya kembali mengarah pada Nayla yang sedang membuka laptop di meja sekretaris. Lalu perlahan Rosa melangkah mendekat.

  • GAIRAH MANTAN SUAMIKU YANG NAKAL   Bab 6

    "Pagi, Sayang." Suara lembut membuat Arga langsung mengenali siapa pemiliknya bahkan tanpa perlu menoleh. Rosa. Wanita itu berdiri di sampingnya dengan senyum manis sempurna di bibir merahnya. Dress putih selutut yang dipakainya pagi itu membuat penampilannya terlihat anggun dan feminin.

  • GAIRAH MANTAN SUAMIKU YANG NAKAL   Bab 4

    Sementara itu, dari dalam rumah, ada seseorang yang sejak tadi memperhatikan interaksi mereka dalam diam. Tatapan itu tertuju pada Arabella yang tadi sempat tertawa riang di gendongan Juno. Wajahnya perlahan melunak. Hangat. Pemandangan itu selalu membuat hatinya tenang. Dan orang itu ada

  • GAIRAH MANTAN SUAMIKU YANG NAKAL   Bab 3

    Langit sore mulai berubah jingga ketika Nayla akhirnya keluar dari gedung perusahaan dengan langkah pelan. Bahunya terasa pegal setelah seharian mencoba menata pikirannya yang terus kacau sejak bertemu Arga lagi. Ia menggenggam tasnya erat sambil menuruni anak tangga lobby utama. Namun langkah

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status