เข้าสู่ระบบTubuh Arga yang sejak tadi bersandar malas langsung menegang saat sepasang tangan melingkar manja di lehernya dari belakang.
Aroma parfum wanita yang tajam dan mahal langsung memenuhi indera penciumannya. "Baby…" Suara lembut itu terdengar manja di telinganya. Nathan yang melihat sosok wanita itu langsung mengangkat alis tipis sambil menyeringai kecil. Rosa. Wanita yang kini menjadi tunangan Arga. Rosa tampil mencolok malam itu dengan dress hitam ketat selutut yang membentuk lekuk tubuhnya sempurna. Rambut panjangnya tergerai bergelombang, bibir merahnya tersenyum menggoda saat berjalan memutari sofa lalu duduk tepat di samping Arga. Satu tangannya langsung merangkul lengan pria itu posesif. "Kenapa kamu nggak bilang kalau mau ke sini," rengeknya pelan. Arga hanya melirik sekilas tanpa banyak respons. Namun Rosa tampaknya sudah terbiasa dengan sikap dingin pria itu. Ia justru semakin menempel manja. Nathan diam sambil memperhatikan mereka bergantian. Kalau dipikir-pikir, Rosa memang cantik. Seksi. Elegan. Dan dalam banyak sisi… wanita itu memang mirip Nayla. Setidaknya secara penampilan. Sama-sama memiliki wajah cantik yang lembut. Tubuh ramping. Dan aura tenang yang membuat orang mudah terpikat. Namun entah kenapa… Nathan tetap merasa keduanya sangat berbeda. Nayla memiliki sorot mata hangat yang menenangkan. Sedangkan Rosa… Wanita itu terlalu pandai menyembunyikan sesuatu di balik senyumnya. "Kok malah bengong?" Rosa terkekeh kecil sambil menyentuh dada Arga pelan. "Aku ganggu ya?" "Enggak." Jawaban Arga pendek. Nathan mendecih pelan sambil meneguk minumannya. "Kasian amat tunangan lu dijawab dingin begitu." Rosa tertawa kecil. "Nggak apa-apa. Aku udah hafal sifatnya Arga kok." Wanita itu lalu menoleh pada Nathan. "Kalian ngomongin apa?" Nathan nyaris menjawab spontan. Tentang Nayla. Namun sebelum kata itu keluar, Arga lebih dulu melempar tatapan tajam yang membuat Nathan langsung mengurungkan niatnya. "Kerjaan," jawab Nathan santai. "Hm…" Rosa mengangguk kecil lalu kembali menyandarkan kepalanya di bahu Arga. "Aku kira lagi ngomongin mantan istri." Kalimat itu membuat suasana mendadak berubah tipis. Nathan terdiam. Sedangkan rahang Arga kembali mengeras. Rosa tentu menyadarinya. Dan senyum tipis penuh kemenangan nyaris saja muncul di bibir wanita itu sebelum cepat-cepat ia sembunyikan. "Sayang, ayo kita kebawah. Aku ingin menari." rengeknya manja. "Aku sedang tidak mood, kamu saja dengan Nathan." tolaknya. Rosa langsung mengerucutkan bibirnya kesal mendengar penolakan Arga. “Yah… padahal aku pengen ditemenin,” rengeknya pelan sambil bergerak makin dekat ke sisi pria itu. “Aku lagi nggak mood,” jawab Arga singkat. Nada bicaranya tetap datar. Dingin. Seolah tidak tertarik memperpanjang percakapan. Nathan yang duduk di seberang mereka hanya mendecih geli. “Kasian amat tunangan lu.” Rosa tertawa kecil meski jelas tak menyerah. Wanita itu memang sudah hafal sifat Arga yang dingin dan sulit ditebak. “Ya gimana lagi,” ujarnya santai sambil memainkan ujung rambutnya. “Aku aja tadi nggak sengaja lihat mobil Arga di parkiran. Kirain dia masih di kantor.” Nathan mengangguk kecil sambil menahan senyum tipis. Sementara itu Rosa kembali bergerak mendekat. Jemarinya naik menyentuh lengan Arga pelan lalu menyandarkan kepala di bahu pria itu manja. Namun seketika rahang Arga mengeras tipis. Pria itu jelas tidak suka terlalu ditempeli. Tanpa menoleh, Arga langsung menahan pergelangan tangan Rosa lalu menurunkannya perlahan dari lengannya. Gerakannya tidak kasar. Tapi cukup tegas. “Duduk yang benar,” ucapnya datar. Rosa sempat terdiam sesaat. Namun bukannya marah, wanita itu justru tersenyum kecil sambil menatap wajah dingin Arga lekat-lekat. Karena seaneh apa pun sikap pria itu… Rosa tetap menyukainya. Bahkan mungkin terlalu menyukai Arga sampai rela terus bertahan dengan sikap dingin tersebut. “Oke…kalau kamu gak mau, aku aja yang turun." akhirnya Risa turun dan bergabung bersama teman-temannya. “Oke… kalau kamu nggak mau, aku aja yang turun.” Rosa akhirnya bangkit dari sofa sambil merapikan dress hitam ketatnya. Bibir wanita itu masih tersenyum manis, seolah sama sekali tidak tersinggung oleh penolakan Arga. Padahal jauh di dalam hatinya, Rosa jelas kesal. Namun ia terlalu pintar menyembunyikan emosi. Di depan Arga, wanita itu selalu tampil lembut. Manja. Pengertian. Seakan hanya wanita sederhana yang terlalu mencintai tunangannya. Rosa lalu mencondongkan tubuhnya sedikit ke arah Arga. “Jangan lupa susulin aku ya, Baby.” Arga tidak menjawab. Pria itu hanya meneguk minumannya malas tanpa menoleh sedikit pun. Rosa akhirnya terkekeh kecil lalu berjalan turun menuju area utama club malam. Dan hanya dalam hitungan menit… sikapnya berubah. Nathan yang tanpa sengaja memperhatikan dari atas langsung mengangkat sebelah alisnya tipis. Di bawah sana, Rosa sudah dikerubungi beberapa pria dan wanita yang tampak mengenalnya. Tawanya terdengar lepas. Tangannya berpindah santai dari satu bahu ke bahu lain saat bercanda. Wanita itu bergerak luwes mengikuti dentuman musik keras, menjadi pusat perhatian seperti biasa. Aktif. Pandai bergaul. Dan sangat menikmati sorotan mata orang-orang di sekitarnya. Sangat berbeda dengan sikap lembut dan kalem yang selalu ia tunjukkan di depan Arga. Nathan menyandarkan tubuh sambil terkekeh pelan. “Tunangan lu ternyata sangat pandai bergaul.” Tatapan Arga turun sekilas ke arah Rosa di bawah sana. Namun ekspresinya tetap datar. Seolah tidak tertarik. “Dia memang begitu.” Nathan menoleh. “Lu nggak masalah?” “Harusnya?” Jawaban Arga singkat. Dingin seperti biasa. Nathan diam beberapa saat sebelum akhirnya kembali melihat Rosa yang kini tertawa sambil bermain biliar bersama teman-temannya. Entah kenapa… Semakin lama Nathan merasa wanita itu terlalu pandai memainkan dua sisi dirinya. Di depan Arga, Rosa terlihat seperti wanita manis yang selalu bergantung pada tunangannya. Namun di luar itu… Wanita tersebut justru tampak sangat bebas. Dan manipulatifnya, Rosa tahu persis kapan harus memakai masing-masing topeng itu. *** Keesokan paginya, suasana lobby perusahaan masih ramai oleh para karyawan yang baru datang. Arga baru saja turun dari mobilnya dengan wajah datar khasnya. Jas hitam mahal yang melekat di tubuh tinggi pria itu membuat auranya terlihat semakin dingin dan sulit didekati. Langkah pria itu semula tenang. Namun mendadak terhenti. Tatapannya lurus ke depan. Dan rahangnya langsung mengeras. Di sana… Nayla baru saja turun dari mobil Juno. Wanita itu berdiri sambil merapikan tas kerjanya, sementara Juno mengatakan sesuatu yang membuat Nayla tersenyum kecil. Senyum hangat yang dulu sangat sering Arga lihat. Senyum yang sekarang justru terasa mengganggu di matanya. Entah kenapa dada Arga langsung terasa panas. Apalagi saat matanya menangkap penampilan Nayla pagi itu. Wanita tersebut memakai blouse krem lengan panjang yang dipadukan rok span hitam selutut. Tidak terbuka. Bahkan tergolong rapi untuk ukuran pakaian kantor. Namun justru itu masalahnya. Blouse yang membungkus tubuh Nayla jatuh pas mengikuti lekuk tubuhnya. Pinggang ramping. Tubuh mungil. Dan bagian dada wanita itu terlihat begitu menonjol di mata Arga. Membuat pria itu tanpa sadar mengalihkan pandangan sesaat sebelum kembali menatap tajam. Sialnya… Justru karena Nayla tidak berpakaian berlebihan, wanita itu terlihat jauh lebih menarik. Dan Arga membencinya. Sangat membencinya. Karena kenyataan bahwa dirinya masih memperhatikan Nayla sedetail itu membuat emosinya sendiri kacau. Sementara itu, Nayla yang sama sekali tidak menyadari keberadaan Arga tampak berbicara santai dengan Juno. "Ara tadi nggak rewel lagi kan?" tanya Juno sambil tersenyum kecil. Nayla terkekeh pelan. "Nggak. Tadi cuma sempet nyariin kamu pas bangun." "Siap-siap saja kamu bakal kehilangan perhatiannya, Nay." candanya. Nayla hanya tersenyum lembut saat mendengar ucapan lelaki itu. Dan lagi-lagi… Arga melihat semuanya. Melihat bagaimana wanita itu bisa terlihat begitu hangat di depan pria lain. Padahal dulu… Tatapan selembut itu hanya untuk dirinya. Rahang Arga kembali mengeras. Tangannya mengepal pelan di sisi tubuh. Saat itulah tiba-tiba ada yang menyentuh pundaknya dari belakangnya. next..Arga menatap beberapa lembar tisu yang masih terulur di tangan Nayla. Tatapannya turun sesaat, lalu kembali naik menatap wajah wanita itu. Sorot matanya mendadak berubah dingin. "Apa kamu ingin menggoda saya dengan memberikan perhatian seperti ini?" tanyanya datar. Nayla tercengang. "Hah? Anda salah paham. tisu ini saya berikan karena Kamu basah kuyup." ralatnya. Arga tertawa pendek. Namun tidak ada sedikit pun nada geli di sana. "Haruskah saya ter
Arga masih menatap Nayla yang berdiri mematung. Tatapannya tajam, seolah berusaha membaca apa yang sedang dipikirkan wanita itu. "Ada apa? Apa yang kamu lihat?" Nayla tersentak. Refleks, kakinya melangkah mundur saat menyadari Arga kini sudah berdiri tepat di hadapannya. Namun gerakannya terlalu cepat. Tumit sepatunya sedikit tergelincir hingga tubuhnya kehilangan keseimbangan. "Hah—" Sebelum benar-benar jatuh, sebuah tangan kuat melingkar di pinggangnya. Arga menahannya. Tubuh Nayla membeku ketika merasakan telapak tangan lelaki itu menahan pinggangnya dengan mantap. Jarak mereka mendadak begitu dekat hingga ia bisa mencium aroma parfum yang sangat dikenalnya. Arga menatap wajah Nayla beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya. "Kamu masih sama," gumamnya pelan. Nayla segera menegakkan tubuh dan berusaha melepaskan diri dari sentuhan itu. Jantungnya berdetak tidak nyaman. "Aku bisa berdiri sendiri." Arga mengangkat sebelah alis, namun perlahan melepaskan p
Rosa mendengus pelan melihat senyum miring Nayla. "Aku tanya baik-baik. Jangan pura-pura tidak mengerti." Nayla menatap langit mendung sesaat sebelum kembali mengalihkan pandangan pada wanita di depannya. "Aku mengerti pertanyaanmu." "Kalau begitu jawab." Rosa melangkah mendekat. "Apa tujuanmu kembali? Setelah dua tahun menghilang, sekarang tiba-tiba muncul lagi tepat di hadapan Arga." Nada suaranya semakin tajam. "Jangan bilang ini kebetulan." Nayla terdiam beberapa detik. Dulu... Mungkin ia akan memilih diam.
Masih di ruangan Arga. Rosa tersenyum tipis setelah mendengar jawaban Arga. Meski hatinya masih dipenuhi rasa tidak nyaman, wanita itu tetap berusaha terlihat manis. Tatapannya kembali mengarah pada Nayla yang sedang membuka laptop di meja sekretaris. Lalu perlahan Rosa melangkah mendekat. "Hei kamu…" Nayla mengangkat wajah. Rosa tersenyum tipis, namun bukan senyum bersahabat. "Bisa tolong bikinin aku teh hangat?" Hening sejenak. Nayla menatap Rosa beberapa detik sebelum akhirnya menjawab dengan sopan. "Maaf, Mbak. Saya sekretaris direktur, bukan office girl." Nada bicaranya tenang. Tidak terdengar kasar. Namun kalimat itu tetap membuat suasana sekitar berubah canggung. Beberapa karyawan yang kebetulan lewat langsung melirik pelan ke arah mereka. Rosa terlihat sedikit terdiam. Ekspresi di wajahnya langsung berubah. Namun sebelum wanita itu sempat bicara— "Lakukan saja." Suara dingin Arga langsung terdengar. Nayla perlahan menoleh. Pria itu b
"Pagi, Sayang." Suara lembut membuat Arga langsung mengenali siapa pemiliknya bahkan tanpa perlu menoleh. Rosa. Wanita itu berdiri di sampingnya dengan senyum manis sempurna di bibir merahnya. Dress putih selutut yang dipakainya pagi itu membuat penampilannya terlihat anggun dan feminin. Rosa lalu melingkarkan satu tangannya pelan di lengan Arga manja. "Kenapa berhenti di sini?" Namun kalimatnya terpotong saat matanya mengikuti arah tatapan Arga. Dan untuk sesaat… Ekspresi Rosa berubah tipis. Terkejut. Karena di sana, Nayla baru saja berdiri di samping Juno sambil tersenyum kecil. Rosa jelas tidak menyangka akan melihat wanita itu di perusahaan Arga. Tatapan matanya sempat mengamati Nayla beberapa detik. Blouse krem sederhana. Rok span hitam. Penampilan yang rapi dan elegan. Sangat berbeda dari bayangan Rosa tentang mantan istri Arga. Namun sedetik kemudian, Rosa kembali memasang senyum manisnya seperti biasa. Meski di dalam hati wanita itu mulai
Tubuh Arga yang sejak tadi bersandar malas langsung menegang saat sepasang tangan melingkar manja di lehernya dari belakang. Aroma parfum wanita yang tajam dan mahal langsung memenuhi indera penciumannya. "Baby…" Suara lembut itu terdengar manja di telinganya. Nathan yang melihat sosok wanita itu langsung mengangkat alis tipis sambil menyeringai kecil. Rosa. Wanita yang kini menjadi tunangan Arga. Rosa tampil mencolok malam itu dengan dress hitam ketat selutut yang membentuk lekuk tubuhnya sempurna. Rambut panjangnya tergerai bergelombang, bibir merahnya tersenyum menggoda saat berjalan memutari sofa lalu duduk tepat di samping Arga. Satu tangannya langsung merangkul lengan pria itu posesif. "Kenapa kamu nggak bilang kalau mau ke sini," rengeknya pelan. Arga hanya melirik sekilas tanpa banyak respons. Namun Rosa tampaknya sudah terbiasa dengan sikap dingin pria itu. Ia justru semakin menempel manja. Nathan diam sambil memperhatikan mereka bergantian. Kalau







