تسجيل الدخول"Mel, kalau kamu butuh orang buat bawain koper super berat begini tiap hari, kayaknya aku siap pensiun jadi aktor terus mendaftar jadi asisten pribadi kamu deh."Harvey terkekeh pelan seraya menaikkan koper besar milik Melody ke bagasi belakang mobil MPV mewahnya. Kacamata hitamnya sengaja ia turunkan sedikit di pangkal hidung, memperlihatkan binar mata jahil yang berniat mencairkan suasana tegang.Melody, yang berdiri di samping mobil sambil menenteng paper bag serta tas sandangnya, tak tahan untuk tidak tersenyum. Duka dan beban tegang yang menghimpit dadanya sejak pagi seakan sedikit terangkat oleh humor renyah pria di hadapannya ini."Mana sanggup aku bayar gaji bintang papan atas kayak kamu, Vey?" sahut Melody santai. "Bisa-bisa hasil jual penthouse tadi langsung ludes cuma buat bayar gaji kamu sebulan.""Tenang aja kali, khusus buat kamu aku kasih diskon sembilan puluh sembilan sembilan koma sembilan puluh sembilanpersen, Mel. Aku cukup dibayar pakai masakan kamu aja…" balas Har
"Nona Melody, calon pembeli sudah tiba di lobi. Apakah saya bisa mengarahkan Beliau untuk langsung naik ke unit penthouse Anda?"Suara agen properti di seberang telepon memecah keheningan siang yang tegang. Melody, yang sedang berdiri di depan cermin besar seraya merapikan kerah blazer putihnya, menghela napas panjang. Wajahnya masih memancarkan rona pucat akibat rasa mual yang melanda sejak pagi, namun matanya memancarkan keteguhan yang makin tajam."Bawa Beliau naik sekarang, Pak," jawab Melody dingin dan lugas. "Semua dokumen dan kuncinya sudah saya siapkan."Setelah mematikan telepon, Melody melangkah mendekati meja kaca tempat koper besar dan sebuah tas jinjing berisi dokumen penting berada. Penthouse mewah ini satu-satunya aset murni atas namanya sendiri sebentar lagi akan berpindah tangan. Demi melunasi utang lima belas miliar rupiah kepada Casey dan membeli kebebasannya sendiri, Melody rela melepaskan kenangan terakhir yang tersisa. Ia menolak bergantung pada pria mana pun, ap
"Mundur! Siapa pun yang berani mengikutiku satu langkah saja, aku pastikan mata kalian yang akan jadi taruhannya!"Suara tegas Melody menggema dingin di sepanjang koridor kediaman utama Whitney. Dua pengawal bertubuh tegap yang semula berniat membuntutinya dari belakang ruang kerja Kakek langsung menghentikan langkah. Mereka saling pandang dengan raut ragu, terkejut melihat perubahan drastis pada diri Nona Muda yang biasanya lembut, penurut, dan selalu pasrah pada perintah keluarga.Melody menatap kedua pria itu dengan pandangan tajam tanpa kedip. "Kakek menyuruhku pulang untuk bersiap-siap menghadapi ujian besok malam, bukan mengurungku di bawah pengawasan kalian. Laporkan kepada boss kalian begitu. Mengerti?!"Tanpa menunggu jawaban, Melody memutar tubuhnya dengan anggun. Tumit sepatu hak tingginya berdetak nyaring, meninggalkan kediaman megah yang terasa makin memuakkan itu. Tak ada lagi lelehan air mata atau pundak yang terkulai lesu. Keputusannya sudah bulat: ia tidak akan pernah
"Kalau Kakek sudah punya jawabannya di dalam kepala Kakek sendiri, untuk apa Kakek bertanya padaku?" sahut Melody tenang, suaranya mengalun dingin tanpa bergetar sedikit pun.Pernyataan frontal Melody yang menyiram kobaran api di dada Kakek Whitney. Ruang keluarga yang luas itu seketika dibelit hening mencekam. Gwen menyeringai tipis penuh kemenangan, sementara Arthur mendengkus puas melihat jebakannya berhasil menyudutkan Melody tanpa celah."Melody!" bentak Kakek Whitney seraya berdiri tegak, tongkat kayunya dihantamkan ke lantai hingga menimbulkan dentuman keras yang menggema. "Keluarga Whitney tidak pernah mendidik keturunannya untuk menjadi wanita murahan! Kau membatalkan pertunangan dengan Arthur yang jelas-jelas pilihanmu sendiri dan pria terbaik yang pernah ada, hanya demi menyembunyikan benih dari pria tidak jelas?!"Melody menatap lurus ke arah mata Kakeknya. Tidak ada binar ketakutan, tidak ada lelehan air mata seperti Melody yang dulu selalu mengalah."Pria tidak jelas?" M
"Hamil?! Jangan asal bicara kau, Gwen!" bentak Kakek Whitney dengan suara menggelegar, menghentakkan kedua tangannya ke atas meja mahoni hingga cangkir teh porselen di sisinya berdenting keras.Gwen berpura-pura terkejut, melangkah mundur satu tindak seraya menundukkan kepala penuh keprihatinan palsu. "K-Kakek... Gwen tidak bermaksud asal bicara. Gwen cuma takut... Gwen cuma cemas kalau nama besar keluarga Whitney hancur di mata publik jika kabar ini mencuat keluar lebih dulu."Napas Kakek Whitney memburu kencang. Matanya yang tajam berkilat oleh kombinasi antara amarah, kekecewaan, dan rasa terhina. Bagi pria tua yang memegang teguh kehormatan serta martabat trah Whitney, skandal kehamilan di luar nikah adalah noda paling haram yang tak pernah ia toleransi."Kau bilang dia mual-mual dan tampak pucat pasi saat membatalkan pertunangan itu?" sergah Kakek Whitney, suaranya kini meliuk rendah namun sarat ancaman berbahaya."Benar, Kek. Bahkan Arthur pun melihatnya sendiri," bisik Gwen ser
"Kenapa aku harus menangisi pria seperti dia?" bisik Melody lirih pada keheningan kamarnya, mengusap kasar lelehan air mata di pipinya seraya melempar ponselnya ke sisi tempat tidur. “Dia aja enak-enakan sama cewek lain, kenapa aku harus menderita?” Dada wanita itu bergemuruh hebat, sesak oleh kecemburuan dan amarah yang membakar. Pria yang kemarin malam berakting begitu dingin dan membisu, kini tampil memikat di galeri berita internasional bersama wanita elite pilihan. Di mata publik, Casey adalah penguasa yang melangkah jauh, sementara Melody hanyalah pihak yang terpuruk dalam drama utang dan keterikatan keluarga. Namun, rasa sakit itu tak membunuhnya. Justru menyalakan keberanian nekat yang selama ini terpendam. Jika aset dan sahamnya dikunci rapat oleh Kakek Whitney, Melody masih memiliki satu-satunya harta murni atas namanya sendiri: sebuah penthouse mewah yang tersisa. Tanpa mengulur waktu, Melody menyambar ponselnya kembali, menghubungi agen properti langganannya untuk segera







