로그인"Kalau Kakek sudah punya jawabannya di dalam kepala Kakek sendiri, untuk apa Kakek bertanya padaku?" sahut Melody tenang, suaranya mengalun dingin tanpa bergetar sedikit pun.Pernyataan frontal Melody yang menyiram kobaran api di dada Kakek Whitney. Ruang keluarga yang luas itu seketika dibelit hening mencekam. Gwen menyeringai tipis penuh kemenangan, sementara Arthur mendengkus puas melihat jebakannya berhasil menyudutkan Melody tanpa celah."Melody!" bentak Kakek Whitney seraya berdiri tegak, tongkat kayunya dihantamkan ke lantai hingga menimbulkan dentuman keras yang menggema. "Keluarga Whitney tidak pernah mendidik keturunannya untuk menjadi wanita murahan! Kau membatalkan pertunangan dengan Arthur yang jelas-jelas pilihanmu sendiri dan pria terbaik yang pernah ada, hanya demi menyembunyikan benih dari pria tidak jelas?!"Melody menatap lurus ke arah mata Kakeknya. Tidak ada binar ketakutan, tidak ada lelehan air mata seperti Melody yang dulu selalu mengalah."Pria tidak jelas?" M
"Hamil?! Jangan asal bicara kau, Gwen!" bentak Kakek Whitney dengan suara menggelegar, menghentakkan kedua tangannya ke atas meja mahoni hingga cangkir teh porselen di sisinya berdenting keras.Gwen berpura-pura terkejut, melangkah mundur satu tindak seraya menundukkan kepala penuh keprihatinan palsu. "K-Kakek... Gwen tidak bermaksud asal bicara. Gwen cuma takut... Gwen cuma cemas kalau nama besar keluarga Whitney hancur di mata publik jika kabar ini mencuat keluar lebih dulu."Napas Kakek Whitney memburu kencang. Matanya yang tajam berkilat oleh kombinasi antara amarah, kekecewaan, dan rasa terhina. Bagi pria tua yang memegang teguh kehormatan serta martabat trah Whitney, skandal kehamilan di luar nikah adalah noda paling haram yang tak pernah ia toleransi."Kau bilang dia mual-mual dan tampak pucat pasi saat membatalkan pertunangan itu?" sergah Kakek Whitney, suaranya kini meliuk rendah namun sarat ancaman berbahaya."Benar, Kek. Bahkan Arthur pun melihatnya sendiri," bisik Gwen ser
"Kenapa aku harus menangisi pria seperti dia?" bisik Melody lirih pada keheningan kamarnya, mengusap kasar lelehan air mata di pipinya seraya melempar ponselnya ke sisi tempat tidur. “Dia aja enak-enakan sama cewek lain, kenapa aku harus menderita?” Dada wanita itu bergemuruh hebat, sesak oleh kecemburuan dan amarah yang membakar. Pria yang kemarin malam berakting begitu dingin dan membisu, kini tampil memikat di galeri berita internasional bersama wanita elite pilihan. Di mata publik, Casey adalah penguasa yang melangkah jauh, sementara Melody hanyalah pihak yang terpuruk dalam drama utang dan keterikatan keluarga. Namun, rasa sakit itu tak membunuhnya. Justru menyalakan keberanian nekat yang selama ini terpendam. Jika aset dan sahamnya dikunci rapat oleh Kakek Whitney, Melody masih memiliki satu-satunya harta murni atas namanya sendiri: sebuah penthouse mewah yang tersisa. Tanpa mengulur waktu, Melody menyambar ponselnya kembali, menghubungi agen properti langganannya untuk segera
"Kau lihat itu, Arthur?" bisik Gwen pelan tapi tajam, matanya terus mengikuti gerak-gerik Melody hingga wanita itu hilang di balik pintu restoran.Arthur masih membeku di kursinya, memasang raut wajah gusar yang bercampur dengan rasa gengsi terinjak-injak. Ia meletakkan penanya kasar ke meja. "Wanita itu benar-benar sudah gila. Dia pikir dia siapa berani membatalkan pertunangan ini secara sepihak?"Gwen menggeser duduknya makin merapat ke arah Arthur, menyunggingkan senyum tipis sarat provokasi. "Bukan cuma soal dia berani membatalkan pertunangan, Arthur. Tapi coba kau pikirkan baik-baik... kenapa Melody mendadak berubah seberani itu? Padahal selama ini dia selalu nurut, selalu pasrah mengikuti semua alur dan permainan kita?"Dahi Arthur mengerut dalam. Pertanyaan Gwen seolah menyengat akal sehatnya. Benar juga, Melody yang ia kenal adalah wanita yang rentan dan mudah dikendalikan, apalagi dengan jeratan utang lima belas miliar rupiah serta saham keluarga yang dibekukan Kakek Whitney.
Pagi itu, tampaknya Melody tak bisa berdiam diri. Langkah kakinya bergerak gelisah, melintasi ruang tengah menuju teras belakang, lalu kembali lagi ke sudut meja makan panjang yang masih menyisakan piring sarapannya yang nyaris utuh.Setiap beberapa detik, jemarinya mengusap layar ponsel di genggaman.Layar kaca itu tetap gelap, membisu tanpa notifikasi satu pun dari Casey. Tidak ada pesan masuk, tidak ada panggilan tak terjawab, apalagi suara pria yang biasanya selalu mendominasi harinya.Melody berhenti di dekat meja, menatap kepala pelayan yang baru saja selesai menata cangkir teh. "Apasih mau dia? Udah kaya anak kecil aja, gini? Ngeselin banget deh!" Gerutunya kesal lalu menatap ke arah pelayan."Apakah sudah ada kabar dari Tuan kalian?"Kepala pelayan menunduk sopan dengan raut serba salah. "Belum, Nona." Melody mengembuskan napas pendek seraya meremas ponselnya makin erat. Rasa dada yang bergemuruh membuatnya serba tidak nyaman. Ia mencoba duduk di sofa ruang tengah, namun hany
"Tuan, kopi hitam dan kudapan manis kesukaan Anda," ucap Dominic pelan, memecahkan keheningan pekat di ruang kerja utama seraya meletakkan cangkir beruap dan kotak makanan kecil di sudut meja.Sepeninggal para staf dan pejabat eksekutif yang dipulangkan secara mendadak, lantai puncak CD Tower mendadak berubah menjadi area tak berpenghuni yang sangat hening. Lorong-lorong megah yang tadinya dipenuhi kepanikan dan derap langkah tergesa kini menyisakan kehampaan, meninggalkan Casey seorang diri di dalam ruang kerjanya yang luas. Pria Whitney itu masih berdiri kaku di depan dinding kaca raksasa, memandangi panorama gemerlap malam kota yang kian sunyi.Casey tidak langsung menyentuh kudapan itu. Ia hanya melirik tipis cangkir kopi di mejanya sebelum kembali menatap pantulan bayangannya di kaca."Semua staf di lantai bawah sudah pulang, Tuan," lanjut Dominic menyampaikan laporan dengan nada hati-hati. "Jaxson juga sudah memastikan seluruh revisi laporan dari divisi pabrik dan media diselesa







