LOGINTetap semangat komen Akan ada Razia komen terbaik dan unik lucu Nantikan info nya Oh, ya, selamat untuk GA tercepat. Silahkan klaim hadiah sertakan lampiran syarat.
Malam semakin larut, menyelimuti kediaman utama Whitney dalam kesunyian yang pekat. Di atas tempat tidur yang hangat, Melody dan Casey terlelap dalam tidur pulas setelah melalui hari yang melelahkan. Namun, ketenangan itu seketika terusik ketika jarum jam menunjukkan pukul dua belas malam lewat.Sebuah suara dering ponsel yang bernada nyaring mendadak memecah sunyi kamar utama.Melody menggeliat tidak nyaman dalam tidurnya. Dahi wanita itu berkerut dalam, matanya masih terpejam erat sementara tangannya meraba-raba nakas di samping tempat tidur untuk mencari benda berisik tersebut. Dering itu terus-menerus berulang tanpa henti, menciptakan gelombang iritasi yang langsung mendesak kepala Melody."Siapa sih itu, berisik banget?" gerutu Melody setengah sadar dengan suara serak khas bangun tidur, matanya terbuka malas-malas.Ia meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja, lalu melirik layar yang berpendar terang. Nama Dominic tertera di sana. Dengan perasaan dongkol karena tidurnya diga
Tiga hari berlalu dengan ketegangan yang ditekan serapat mungkin di balik tembok kokoh kediaman utama Whitney. Casey dan Melody menghabiskan waktu dengan saling mempererat ikatan mereka, seolah bersiap menghadapi badai besar yang dijadwalkan tiba pada akhir pekan nanti. Namun, ketenangan itu mendadak diuji pada suatu siang menjelang sore. Suara derum mobil mewah yang berhenti tepat di depan teras utama memecah keheningan rumah. Mbok Salmah yang sedang membereskan meja makan tampak tergesa-gesa melapor kepada Melody yang sedang duduk santai menikmati teh hangat bersama suaminya di ruang keluarga. "Nyonya... ada tamu penting di depan. Nona Catherine dari Kanada," lapor Mbok Salmah dengan nada cemas. Casey langsung menegakkan duduknya. Wajah pria itu mengeras dalam sekejap, rahangnya terkatup rapat, dan sorot matanya memancarkan kemarahan dingin. Tanpa menunggu aba-aba, Casey hendak bangkit untuk menemui dan mengusir wanita itu pergi. Namun, sebuah tangan lembut menahan lengannya
Ancaman itu menggantung di udara, menciptakan jarak di antara mereka berdua. Melody berdiri dengan napas memburu, air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya tumpah begitu saja membasahi pipinya. Rasa cemburu, kecewa, dan lelah bercampur aduk menjadi satu, menghantam pertahanan mentalnya yang sedang sensitif karena kehamilannya.Casey terpejam sejenak, mengepalkan kedua tangannya erat-erat. Dilema besar menghimpit dadanya. Di satu sisi, ia tidak sanggup melihat air mata sang istri atau membayangkan rumah tangga yang baru saja mereka bangun harus retak karena bayang-bayang masa lalu. Namun di sisi lain, mengabaikan Catherine secara total detik ini bisa memicu kecurigaan keluarga Sinclair dan bisa memecahkan konsentrasi dalam pengungkapan kasus sabotase kecelakaan kedua orang tuanya. Jika hubungan itu mendadak runtuh, seluruh bukti kejahatan Paman Richard yang sudah dikumpulkannya selama bertahun-tahun terancam menguap begitu saja."Sayang..." panggil Casey lirih, suaranya terdengar se
Pagi itu di kediaman yang ditinggali Casey dan Melody tampak suasana semakin hangat dengan interaksi sepasang suami-istri yang telah saling menerima itu."Jangan bergerak, atau aku akan menciummu sampai kehabisan napas..." bisik Casey serak, tepat di lekuk leher istrinya.Suara berat itu terdengar begitu dekat dan penuh gairah, membuat pertahanan Melody langsung runtuh seketika pagi itu. Berdiri di area minibar dapur rumah mereka, tubuh Melody sepenuhnya terperangkap dalam pelukan posesif suaminya. Casey mengurungnya dengan kedua tangan kokoh yang menumpu di meja, sementara napas hangat pria itu menggelitik kulit lehernya.Melody mendengus kecil, meski debaran jantungnya berkhianat memukul cepat di dalam dada. Ia mencoba mendorong pelan dada bidang suaminya yang memakai kemeja putih dengan kancing atas terbuka. "Casey, ini masih pagi... Kalau pelayan rumah lewat gimana?" protesnya setengah hati, sementara pipinya sudah merah padam menahan malu dan gejolak rasa yang dipicu sentuhan
“Mulai sekarang, ceritakan semuanya padaku. Kita hadapi sama-sama," ucap Melody tulus, matanya menatap lurus ke dalam manik mata suaminya. "Kau juga tahu bukan keluarga besar Whitney tidak benar-benar menerimaku dengan baik. Apalagi ibu Gwen sudah menghasut sedemikian rupa. Bahkan papaku sekalipun seperti sosok yang berbeda untukku. Jadi, ayolah. Berhenti menanggung semuanya sendiri, Casey..."Melody menyelesaikan kalimatnya sambil membelai wajah Casey dengan hangat, mengusap sisa ketegangan di rahang kokoh pria itu.Sentuhan lembut itu bekerja bagai penawar racun bagi jiwa Casey yang bertahun-tahun membeku. Perlahan, napas pria itu mulai teratur. Casey menegakkan tubuhnya, menatap wajah istrinya yang basah oleh air mata dengan perasaan campur aduk, antara rasa bersalah, takjub, dan cinta yang begitu besar."Baiklah," bisik Casey akhirnya, menyerah pada ketulusan yang ditawarkan oleh wanita di hadapannya. "Aku akan menceritakan semuanya. Tapi tidak di sini, dan tidak sekarang. Tubuhm
Tatapan tajam Casey menembus pertahanan Melody, seolah pria itu ingin melihat seberapa jauh informasi gelap yang telah meresap ke dalam benak istrinya. Tidak ada sisa kehangatan dari candaan mereka sebelumnya yang tersisa di udara hanyalah ketegangan mencekam yang siap meledak kapan saja.Dominic yang berdiri tepat di belakang sang tuan besar menunduk dalam-dalam, gestur tubuhnya menyiratkan rasa bersalah yang teramat besar karena telah membiarkan rahasia inti perusahaan dan keluarga bocor ke telinga yang salah."Keluar, Dominic," perintah Casey datar tanpa mengalihkan pandangannya sedetik pun dari wajah sang istri."Baik, Tuan," sahut Dominic cepat sebelum melangkah pergi dengan tergesa-gesa, meninggalkan pintu perpustakaan tertutup rapat kembali demi privasi nyaman di antara pasangan suami istri itu.Begitu deru langkah Dominic memudar, keheningan di dalam perpustakaan terasa semakin menyesakkan. Melody meremas ujung gaunnya erat-erat, jemarinya dingin dan gemetar. Ia membuka bibir







