Share

GRACIAGAVINO
GRACIAGAVINO
Penulis: Popi

Bab 1

****

"Cia" pangil seseorang dari tadi namun gadis yang dipanggil itupun tidak kunjung bangun dari tidurnya.

"Cia kamu mau saya lapor orang tua kamu" ucap seseorang itu lagi dengan nada yang lebih tinggi. Ia adalah guru yang mengajar dikelas Cia.

"Ada apa buk?" Cia menguap sambil mengucek mata nya.

"Kamu ini udah kelas tiga engak juga berubah-ubah kelakuan nya, ngak abis pikir saya sama kamu," ucap Ibuk itu memarahi Cia.

"Saya kelas dua belas buk bukan kelas tiga" jawab Cia meralat kata guru nya sehingga menimbulkan gelak tawa.

"Kalian diam! Kamu menjawab aja bisanya," kata Ibuk itu.

"Buk Retno Wulandari yang terhormat. kata orang tua saya kalau ada orang berbicara kepada

kita harus dijawab kalo gak di jawab namanya gak sopan!" balas Cia lantang.

"Terserah kamu, sebagai hukuman kamu jawab soal yang didepan" putus buk Retno.

"Halah cuma itu doang kenapa gak dari tadi buk" cetus Cia lalu menuju kedepan untuk menjawab soal yang diberikan buk Retno.

Sekitar satu menit Cia sudah selesai "udah buk" ucap Cia memberikan spidol ke buk Retno.

"Jawabannya benar" ucap buk Retno setelah memeriksa jawaban Cia.

"Sekarang saya boleh duduk lagi buk" tanya Cia.

"Boleh asalkan jangan tidur lagi," balas buk Retno.

"Tergantung buk" jawab Cia berlalu ke mejanya.

Buk Retno hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah muridnya yang satu itu.

***

"Cia pulang" teriaknya memasuki rumah.

"Masih jam sebelas kenapa Lo udah pulang" kata Gladien kembaran Cia.

Gladien Ramatha kembaran Cia yang berbanding terbalik sifatnya dengan Cia. Gladien siswa teladan di sekolahnya sedangkan Cia siswi terbandel di sekolahnya, memang mereka sekolah di tempat yang berbeda sesuai dengan keinginan masing-masing.

"Lo kenapa udah pulang juga" tanya Cia menantang.

"Sekolah gue ngadain rapat guru semuanya dibolehin pulang, kalo Lo kenapa udah pulang? Pasti cabut kan?" Tebak Gladien yang sudah hafal dengan kelakuan saudara kembarnya itu.

"Berisik Lo gue mau tidur, bye" Cia meningalkan Gladien lalu menuju kamarnya yang pasti untuk melanjutkan tidur yang tertunda akibat buk Retno.

Sekitar pukul tiga sore Cia terbangun dari tidur nya lalu menuju kamar mandi untuk melakukan ritual mandi.

Sekitar beberapa menit Cia keluar lengkap dengan pakaian santai dan menginjak kan kakinya keluar dari kamar menuju ruang tamu.

Cia mendudukkan tubuhnya di atas sofa lalu merebut cemilan yang ada ditangan Gladien yang sedang asik dengan ponselnya.

"Cemilan gue"Gladien merebut kembali cemilannya dari tangan Cia.

"Pelit"ketus Cia.

"Bodo, mama tadi nyari Lo mampus nanti diomelin gara-gara cabut" cibir Gladien.

"Anying! beneran? itu guru kenapa main ngadu-ngadu aja sih Cemen banget langsung aja bilang sama gue kenapa harus sama mama kan jadinya ribet" gerutu Cia.

"Itumah derita Lo makanya sekolah yang bener, masa iya cewek bandel haduhh, cowok mana yang mau coba" Gladien mengatai Cia.

"Dari pada Lo kutu buku idih ga tipe gue banget" cibir Cia pergi dari sana menemui mama nya yang mungkin sedang di dapur.

"Mama mau aku bantuin gak?" basa-basi Cia melihat mama nya yang sedang mengiris bawang.

"Mama bakalan tetap ngomelin kamu" Dita sudah mengerti dengan anak nya itu yang selalu cari kesempatan agar tidak diomelin.

"Loh diomelin kenapa ma emang anak mama yang paling cantik ini bikin ulah gitu" ucap Cia manja sambil mengalihkan pembicaraan.

"Cantik dari mana?"cibir dita.

"Kan bener Cia anak mama yang paling cantik emang mama punya anak perempuan satu lagi?" tanya Cia menampilkan ekspresi wajah semanis mungkin.

"Haduh kamu ini udah sana gangguin Mama lagi masak aja" kata Dita yang sudah mengerti dengan anaknya yang tidak akan pernah mengalah.

"Yes" Cia berkata tanpa mengeluarkan suara lalu buru-buru pergi dari sana takut mamanya nanti inget lagi.

"Kok muka lo seneng gitu gak jadi di marahin mama" tanya Glad melihat Cia yang kembali duduk di sebelah nya.

"Engak dong kan gue anak kesayangan mama mana mungkin mama tega marahin gue" alibi Cia.

"Heleh gak percaya gue pasti Lo akal-akalin mama kan, udah lah gue tau isi pikiran Lo"kata Glad menebak.

Cia tersenyum miring "nanti kalo udah niat mau nakal belajar dulu teori nya sama gue biar dirumah gak dimarahin" kata Cia bangga.

"Nakal aja bangga gak malu sama abang nya" kata Glad yang lebih tua tiga menit dari Cia.

"Loh emang Lo Abang gue, sejak kapan gue punya Abang kayak Lo coba,"

"Seharusnya Lo bersyukur punya Abang kayak gue sudah ganteng pinter siswa teladan di sekolah populer lagi nikmat Tuhan mana lagi yang kau dusta kan sist punya Abang seperti saya" kata Glad dengan bangganya.

"Ganteng lumayan pintar lumayan juga tapi sayang pakboy" cibir Cia mencemooh Glad.

"Enak aja gue gak pernah tuh pacaran gimana mau jadi pakboy"bantah Glad tak terima.

"Yakin? Terus kenapa itu cewek-cewek di SMA gue pada nanyain Lo ke gue kalo bukan pakboy namanya," sebenarnya sekolah Cia dan Glad bertetanggaan makanya mereka tau Glad.

"Ya mau gimana pesona gue aja yang bikin orang pada jatuh hati" balas Glad.

"Serah Lo deh" Cia meninggalkan Gladien dan pergi kekamar.

****

TBC.

Komen (1)
goodnovel comment avatar
alyaaa___
bagus kak, semangat
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status