Home / Mafia / Gadis Bisu Tahanan Mafia / Bab 1. kehilangan kesucian

Share

Gadis Bisu Tahanan Mafia
Gadis Bisu Tahanan Mafia
Author: Nn_Effendie

Bab 1. kehilangan kesucian

Author: Nn_Effendie
last update Huling Na-update: 2025-12-21 09:51:31

“Bersihkan tubuhnya. Kenakan pakaian ini.”

Eden menyerahkan paperbag coklat pada pelayan tanpa menoleh. Suaranya datar dan tajam.

“T-tapi, Tuan…” pelayan itu menelan ludah. Tangannya gemetar saat menerima kantong itu.

Eden akhirnya menoleh. Menatap tajam wanita yang menunduk di depannya.

“Berapa nyawamu?” tanyanya rendah.

Satu kalimat itu cukup membuat Pelayan itu pucat, lututnya hampir ambruk.

“Ba-baik, Tuan. Akan saya lakukan,” katanya tergesa, lalu pergi secepat mungkin sebelum Eden berubah pikiran dan mengambil nyawanya.

****

Langkah sepatu Eden menggema panjang di lorong sunyi. Setiap derapnya seperti hitungan mundur menuju sesuatu yang tak terelakkan.

Ia berhenti di depan pintu hitam mengkilap.

Brak!

Pintu terbuka dengan kasar.

Cahaya dari lorong membelah kegelapan kamar menjadi garis tipis. Bau dingin dan lembap menyergap inderanya.

Hening.

Eden mengerutkan dahi saat tak ada suara dan pergerakan.

Lalu matanya menyesuaikan. Di sudut ruangan, sesuatu bergerak dengan halus tersorot oleh cahaya rembulan.

Tubuh kecil itu meringkuk, gemetar hebat, seolah mencoba menyatu dengan bayangan. Napasnya tersengal tertahan, tangannya menutup mulut rapat-rapat, takut satu suara saja akan memanggil kematian.

Senyum Eden terangkat perlahan.

Puas.

“Kau takut padaku, Lintang?” suaranya menggema lembut, terlalu lembut untuk disebut aman.

Udara terasa semakin dingin menusuk tulang. Lintang menahan napas, menahan air mata, menahan gerakan tubuhnya agar tak terlihat namun pria itu tetap bisa melihatnya.

“Keluar,” ujar Eden tenang. “Sebelum aku benar-benar membunuhmu.”

Eden menekan setiap katanya dan Lintang tahu kalimat itu bukan kalimat biasa. Itu adalah ancaman, tak ada satupun ancaman Eden yang tak terbukti.

“Ayah…kumohon” suaranya pecah tanpa suara. Bibirnya hanya membentuk kata. “Tolong aku kali ini… aku takut…”

Air mata mengalir deras. Tubuhnya mati rasa, kesemutan menjalar dari ujung kaki hingga ke dada, seolah jiwanya perlahan melepaskan diri.

Eden tetap berdiri di tempatnya.

Tak bergerak. Namun suaranya seperti terompet kematian.

“Satu.”

Detak jantung Lintang menghantam dadanya. Setiap denyut terasa seperti palu. Matanya menatap Eden yang masih terlihat tenang.

“Dua.”

Ia menggigit bibirnya keras-keras. Darah terasa asin di lidahnya. Tangannya mencengkeram lantai dingin.

“Ti—”

Lintang berlari.

Ia tak tahu dari mana tenaganya datang. Ia hanya tahu jika tetap diam, ia akan hancur.

Tubuhnya menghantam dada Eden. Lengan kekar itu langsung melingkar, mencengkram pinggangnya kuat membuat tubuh Lintang seketika menegang.

“Nah…” Eden terkekeh pelan. “Begini seharusnya.”

Tangannya terangkat, membelai dagu Lintang perlahan. Terlalu lembut untuk seseorang yang disebut monster.

Matanya menatap mata madu yang basah oleh air mata. Kilau ketakutan membuatnya bersinar indah dan itu membuat Eden tersenyum lebih lebar.

“Kau gemetar,” bisiknya. “Kau benar-benar takut padaku.”

Lintang tak mampu menoleh. Nafasnya tercekat, dadanya sesak.

“Kau tahu dimana kesalahan mu, Lintang?” suara Eden hampir tak terdengar, namun justru menusuk sangat dalam.

Setiap kata terasa seperti paku di jantungnya.

Lintang kembali berpikir mencari letak kesalahan yang diperbuat, namun semakin ia pikir ia tak menemukan sedikitpun kesalahannya.

Ia hanya datang untuk mengirim makanan namun tiba-tiba dikepung dan di sekap.

“Kau harus dihukum, Lintang,” lanjutnya pelan. “Kau harus membayar apa yang sudah kau lakukan.”

Pelukan itu mengencang. Eden mengangkat tubuh lintang yang seringan kapas kemudian melemparkan ke atas ranjang.

"akh.."

Tubuhnya memantul. Kepalanya tak terbentur apapun, namun dunia tetap berputar liar. Pusing menyerang tiba-tiba, seolah ada tangan tak kasat mata yang memeras otaknya.

Lintang mencengkram sisi kepalanya, nafasnya terputus-putus.

Ctak!

Cahaya putih menusuk langsung ke matanya. Lintang menyipit, air mata menggenang di pelupuk dan ia yakin dalam satu kedip akan jatuh ke pipinya.

Belum sempat ia menyesuaikan diri Eden lebih dulu menyergap.

Kakinya terseret kuat hingga tubuh lintang berada di tepi ranjang. Sprei bergeser kasar, punggungnya terasa dingin.

Lintang berteriak. Namun hanya gerakan bibirnya saja.

Mulutnya terbuka lebar, nafasnya habis dalam isakan bisu. Panik menyergap, lebih menakutkan daripada saat pria itu memaki.

Tubuh Eden membungkuk, bayangannya menelan tubuh kecil gadis di bawahnya, wajahnya kian mendekat. Matanya menatap lapar tubuh seputih susu berbalut dress merah haram.

Lintang berharap dunia menelannya saat itu juga.

"Kau seperti mawar, Lintang.” Ucap Eden pelan, suaranya serak dan berat. “Mekar dan siap untuk dipetik."

Tak membiarkan Lintang mencerna kalimat itu, Eden mencengkram pergelangan tangan lintang, menekannya ke atas ranjang. Tak melukai namun cukup membuat memar.

Lintang meronta. Kakinya menendang, tubuhnya menggeliat, kukunya mencakar lengan Eden tanpa arah. Dadanya naik turun cepat, napasnya kacau.

Dalam sekali sentak Eden menarik paksa lingerie yang tak sepenuhnya menutupi pusat pribadi Lintang. Kain tipis merah itu tak lagi terpasang, rusak.

Kecepatan Eden membuat Lintang tercengang, tangannya berusaha menutupi dada yang terekspos, matanya memerah bukan lagi karena tangis melainkan marah, malu bercampur takut.

Bibirnya bergerak cepat.

"Ku mohon…jangan…." Eden membaca gerak bibir Lintang, namun ia tak peduli.

Tangannya kembali menarik kain terakhir, hingga mempertontonkan tubuh sempurna tanpa cela. Kulit seputih susu, cerah dan segar, Lintang benar-benar definisi mawar yang mekar.

Matanya kian menggelap, saat pergerakan Lintang yang berusaha menutupi namun terlihat seperti tengah menggodanya.

"Kau tahu, hanya ini cara agar kau mau mengeluarkan suara emas mu itu."

Eden membuka paksa kedua kaki Lintang, matanya berkilat penuh cahaya. ludah terasa seperti batu, hingga sulit untuk turun.

Rona merah dengan sentuhan istimewa pusat gairah, membawa rasa panas menyerang tubuhnya. Tiba-tiba ia merasa gerah di bawah dinginnya AC.

Jakunnya naik turun, matanya tak bisa teralih dari inti milik Lintang. Eden mengabaikan tangisan dan rontaan Lintang yang tak seberapa itu.

Hingga dalam satu gerakan cepat, sesuatu yang keras memaksa masuk kedalam tubuh Lintang tanpa bisa dicegah.

Ia berteriak, memukul, menggigit dan mencakar Eden, namun pria itu tak menghentikan aksinya ia semakin memaksa masuk pusaka miliknya, hingga cairan merah mengalir menetes di sprei sutra yang putih.

Eden terkejut, namun kemudian tersenyum puas.

Lintang menangis tergugu, rasa perih, panas dan sakit seolah membelah tubuhnya. Kulitnya meremang sedangkan tubuhnya bergetar tak karuan. Matanya melirik ke bawah sesuatu yang tak kecil tengah mengoyak dirinya, harga dirinya.

Lalu pria di atasnya menggeram layaknya binatang, senyum kepuasan tersungging di bibirnya. Sesekali lidahnya turut bermain menggoda lehernya.

“Sakit…ku mohon lepas…” Lintang berusaha mendorong perut Eden, namun bukanya lepas Eden semakin dalam membenamkan miliknya.

Rasa sakit semakin terasa saat Eden menggerakkan pinggulnya dengan kasar, mengabaikan Lintang yang berontak ingin lepas. Gadis itu menangis, menjerit, terisak dan meracau namun lagi-lagi tak sedikitpun suara keluar dari mulutnya.

"Ah, lintang. kau membuatku hilang akal.”

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Gadis Bisu Tahanan Mafia   Bab 14. Julia

    Disisi lain,Eden memasuki perusahaan dengan rahang mengeras, tangannya terkepal erat seolah siap memukul lawan.Hentakan kakinya menggema bagaikan bom waktu. Setiap karyawan yang melihatnya langsung menepi, tak ada satupun yang berani menegur atau menyapa.Tampang Eden yang biasanya nampak bengis kini lebih pantas di sebut iblis. Wajah datar dan tatapan tajam, lengkap dengan sebuah pistol mengintip di saku kirinya.Seorang resepsionis datang terburu-buru ia membungkuk singkat, walau tubuhnya gemetar penuh takut ia tetap menyambut Eden."Selamat datang Tuan." Eden tak menjawab, langkahnya tetap fokus pada satu tujuan, yaitu Ruangan direktur.Bisik-bisik para karyawan terdengar di telinganya, namun yang lebih penting dari itu adalah segera membereskan kekacauan."Pak Eden sepertinya murka.""Iya ini pasti karena ibunya...""Memang kenapa ibunya?""kau tidak tahu? tadi pagi-pagi sekali nyonya besar Julia datang dan meminta ob untuk merubah ruangan Pak Eden,""Hah? serius?""Iya, mana t

  • Gadis Bisu Tahanan Mafia   Bab 13. Kepang

    "Saya senang tuan tidak lagi kasar pada Nona." Suara Ema memecah keheningan setibanya mereka di kamar. Tangannya menuntun Lintang untuk duduk dipinggir kasur."Saya harap untuk kedepannya tuan akan seperti ini terus!" senyum tercetak di bibirnya. Tatapan penuh kelembutan membuat Lintang ikut tersenyum."Tapi Ibu pelayan, apa menurutmu dia sedang mabuk?" Lintang menuang pertanyaan pada sebuah kertas yang tergeletak di sampingnya.Ema berpikir sejenak sebelum akhirnya menjawab. "Entahlah Nona, saya juga tidak tahu bagaimana cara tuan berpikir. Kenapa Nona bertanya seperti itu?" Eden nampak tak mabuk sedikitpun, bahkan tak nampak seperti habis minum."Dia aneh sejak semalam,""Aneh bagaimana?" tanya Ema bingung."Dia datang kemari, kemudian pergi lagi."Jawaban itu membuat Ema seketika khawatir, tanganya memutar tubuh lintang memastikan tak ada luka."Tuan tak menyakitimu kan?" tanyanya penuh khawatir.Lintang menggeleng."Syukurlah. Nona harus selalu patuh agar tuan tidak lagi kasar

  • Gadis Bisu Tahanan Mafia   Bab 12. Makan Bersama

    Lintang terbangun dengan perasaan yang lebih baik dari sebelumnya. Ceria dan semangat. Namun keceriaan itu lenyap saat ia melihat Eden yang sudah duduk di ujung kasurnya. Bibirnya terbuka lebar, menatap terkejut Eden. Sedangkan orang yang di tatap berpangku tangan menatapnya. "Apa dia sudah lama di sini?" batin Lintang dengan masih terkejut. Eden tersenyum tipis. Senyum yang pertama kali terbit setelah berhenti di umurnya sembilan tahun. Melihat Lintang yang terbangun dengan muka bantal dan tampang bodoh membawa kehangatan dalam dirinya. "Ku kira kau mati." tukas Eden santai. "Kau tak bangun padahal sudah pukul dua belas siang" ia tak menyadari perubahan raut lintang yang tiba-tiba kecut. Lintang yang diejek menatap sengit Eden. “Padahal kau yang mengganggu tidur malamku,” sungutnya tak terima namun Eden tak mendengar itu. Kemudian melirik jendela yang sudah terang benderang. Lalu tatapannya berpindah pada Eden "kenapa kau kemari?” Eden memperhatikan gerakan bibir L

  • Gadis Bisu Tahanan Mafia   Bab 11. Fantasi

    Baru beberapa langkah Eden meninggalkan kamar, ia kembali lagi ke dalam kamar Lintang, membuat wanita yang hampir saja terpejam seketika kembali tegak dudukMatanya menyiratkan kebingungan yang kentara. Tubuhnya waspada dan siaga.Eden berdiri di ambang pintu, menatap Lintang yang linglung. Entah mengapa, melihat wajah polos Lintang membuat Eden bersemangat.ia tidak tahu apa yang terjadi dengannya, namun saat melihat wanita itu ia menyukainya. Namun Eden berusaha mengenyahkan rasa itu dari hatinya. Ia tak akan membiarkan seseorang datang kedalam hidupnya dan mengacaukannya.Kakinya maju satu langkah, namun kemudian ia memutar tubuh dan membanting pintu dengan kuat. Eden meninggalkan Lintang yang menatap kepergiannya dengan kebingungan.Kakinya melangkah panjang menuju kamarnya sendiri.Alis Lintang terangkat dan dahinya berkerut, jari kecilnya menggaruk pipi yang tak gatal.“Ada apa dengan monster itu?” tanyanya pada keheningan ruangan.Ia mengangkat bahu singkat, lalu kembali merin

  • Gadis Bisu Tahanan Mafia   Bab 10. Telepon dari Julia

    Eden kembali ke rumah saat malam telah larut.Tumpukan dokumen dan masalah kantor hari ini benar-benar menguras tenaganya. Kepalanya terasa pening, tubuhnya lelah, dan saat ia melangkah masuk, rumah sudah gelap gulita.Eden menaiki tangga menuju kamarnya di lantai tiga. Namun saat melewati lantai dua entah mengapa bayang-bayang Lintang tiba-tiba muncul di benaknya.Gadis itu, apa sudah baik-baik saja telah kejadian malam kemarin?Eden melirik jam di pergelangan tangan. Sudah lewat tengah malam, ia ragu sejenak, tapi entah mengapa seperti ada yang menariknya untuk melihat kondisi wanita itu. Ada rasa khawatir yang berusaha ia tepis membuat langkahnya terhenti di depan pintu yang tertutup rapat.Ada dorongan aneh yang membuatnya mendekat, dengan langkah hati-hati agar tak berbunyi, Eden mengeluarkan kunci dari sakunya dan memasukkan ke lubang kunci.Klik,Pintu terbuka pelan, Eden masuk dan menutupnya kembali tanpa suara.Ruangan remang-remang, hanya diterangi sorot rembulan yang mener

  • Gadis Bisu Tahanan Mafia   Bab 9. 'Dia datang, memaksaku'

    Setelah sarapan selesai, piring-piring kosong dibiarkan begitu saja di atas meja kecil di sudut kamar. Ema tidak langsung pergi seperti biasanya. Ia berdiri sebentar di ambang pintu, ragu, lalu kembali mendekat. Tatapannya tertuju pada Lintang yang duduk di tepi ranjang, tubuhnya agak membungkuk, pandangan kosong ke arah jendela yang selalu tertutup rapat. Ema mengerti. Tanpa perlu kata-kata, ia tahu apa yang telah terjadi malam tadi. Bekas-bekasnya masih terlihat jelas bahkan semakin jelas ,memar merah di lengan, kissmark merah keunguan mengintip di balik leher, wajah yang lebih pucat dari biasanya, dan cara Lintang duduk dengan kaki rapat dan tangan memeluk bantal seolah ingin melindungi diri dari dunia. Meski begitu, naluri seorang ibu—meskipun ia hanya pelayan—tetap mendorongnya untuk mendengar langsung dari mulut gadis itu. Ema menghela napas pelan, lalu duduk miring di pinggir kasur. Tangannya dengan lembut memijat betis Lintang yang terasa kaku, gerakan itu lebih untuk

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status