ログイン"Saya senang tuan tidak lagi kasar pada Nona."
Suara Ema memecah keheningan setibanya mereka di kamar. Tangannya menuntun Lintang untuk duduk dipinggir kasur. "Saya harap untuk kedepannya tuan akan seperti ini terus!" senyum tercetak di bibirnya. Tatapan penuh kelembutan membuat Lintang ikut tersenyum. "Tapi Ibu pelayan, apa menurutmu dia sedang mabuk?" Lintang menuang pertanyaan pada sebuah kertas yang tergeletak di sampingnya. Ema berpikir sejenak sebelum akhirnya menjawab. "Entahlah Nona. Saya juga tidak tahu bagaimana cara tuan berpikir. Kenapa Nona bertanya seperti itu?" Eden nampak tak mabuk sedikitpun, bahkan tak nampak seperti habis minum. "Dia aneh sejak semalam," "Aneh bagaimana?" tanya Ema bingung. "Dia datang kemari, kemudian pergi lagi." Jawaban itu membuat Ema seketika khawatir, tanganya memutar tubuh Lintang memastikan tak ada luka. "Tuan tak menyakitimu kan?" tanyanya penuh khawatir. Lintang menggeleng. "Syukurlah. Nona harus selalu patuh agar tuan tidak lagi kasar dan menyakiti nona. Jujur saya tidak tega." Suara Ema lirih nyaris tak terdengar. Ema mengelus puncak kepala Lintang dengan sayang. Selayaknya seorang ibu yang mencurahkan kasih sayang pada anaknya. Lintang mengangguk, namun ia masih belum puas. “Sampai kapan?” Ema menggeleng. Sampai kapan Lintang harus patuh pada orang yang menyiksa gadis itu? ia tak tahu. Karena Eden bukan pria yang mudah di tebak pola pikirnya. Pria itu bisa melakukan apapun yang bisa mengejutkan siapapun dalam satu detik berucap. Lintang termenung. Gelengan Ema mengartikan ia belum pasti bisa keluar dari penjara ini. Entah kapan pria itu melepaskannya. Lintang hanya mampu bertanya dalam hati. Namun pada akhirnya ia mengutarakannya karena tak sanggup menyimpan seorang diri. Ia butuh jawaban. "Ibu pelayan, kapan monster itu melepaskanku?" Lintang menyodorkan tulisan lagi pada Ema. Ema membacanya. Namun ia tak langsung menjawab. Tangannya lebih sibuk mengepang rambut Lintang daripada memberi jawaban. Ia tak ingin memberikan jawaban yang membuat gadis itu kecewa. Karena sejujurnya Ema pun tak tahu. Sungguh tak tahu. Tanpa ia sadari diamnya cukup lama, dirinya terlalu fokus pada kepangan rambut sedangkan Lintang, gadis itu termenung. "Cantik sekali." puji Ema semangat. Matanya berbinar bangga melihat hasil karyanya. Lintang nampak seperti gadis muda yang masih sekolah. Polos dan murni. "Nona, selama ini nona tidak pernah menceritakan tentang kehidupan nona, teman, kerja, kekasih. Bukankah anda memiliki kekasih?" Senyum terbentuk di bibir Lintang, wajah murungnya berganti binar cerah ia melupakan pertanyaan yang sebelumnya belum di jawab Ema. Dengan semangat Lintang menggerakkan jari-jarinya. Bahasa isyarat. "Aku kerja sebagai pencuci piring di restoran." Lintang bercerita semangat, walau tiap gerak bibirnya tak mengeluarkan suara sedikitpun ia tak pernah bersedih. Walau ia yakin Ema tak terlalu bisa membaca bahasa jarinya namun ia tetap menjadi dirinya sendiri. Ia tetap aktif membentuk kata semudah yang ia bisa agar Ema tak kesulitan. "Lalu aku memiliki sahabat yang sangat cerewet." lanjutnya lagi, bibirnya mengerucut lucu seperti bebek membuat Ema tertawa. "Benarkah? pasti asik sekali memiliki sahabat." Ucap Ema antusias. Lintang mengangguk kuat. "Sangat asik sekali. Tapi dia suka marah, teriak-teriak, ngomel-ngomel dan sering menyalahkanku–” Lintang mencebikkan bibirnya, ”tetapi aku menyayanginya." Lanjutnya lagi. Tanganya memainkan rambut kepangnya yang menjuntai ke depan, sedangkan ingatannya terbang memutar kenangan bersama Sasa. Sahabat sekaligus keluarganya. Hanya Sasa dan keluarganya yang memperlakukan nya seperti manusia biasa, mereka tak pernah menghina dan mencacinya hingga Lintang sangat menyayangi Sasa. Temanya itu juga akan sigap membelanya jika seseorang membulinya. Walau kedekatan mereka baru beberapa tahun terakhir namun Lintang tetap bersyukur. Masih ada orang baik yang menerima dirinya yang cacat. "Lalu kekasih? pasti Nona memiliki kekasih kan," tanya Ema lagi dengan nada menggoda. Matanya tak bisa beralih dari raut binar Lintang yang membuatnya terpikat. Rambut kepang sangat cocok di wajah Lintang membuat gadis itu makin memukau. Bahkan sebagai wanita ia terpikat oleh kecantikan Lintang. Apalagi pria. "Ya aku punya. Dia sangat menyayangiku. Dia baik," Lintang menunduk berusaha menyembunyikan senyum di bibirnya. Ema yang menyadari itu tergelak. Ia juga pernah muda merasakan masa kasmaran, namun melihat Lintang yang malu-malu membuatnya begitu lucu. Ema tak kuasa untuk tak menggodanya."Benarkah? dia sangat menyayangimu? apakah dia juga tampan?" Lintang tak mampu menghentikan bibirnya yang ikut tertawa, pipinya memerah saat mengingat setiap kenangan bersama Rega, kekasihnya. "Dia sangat tampan. Dia selalu membuatku tertawa, dia selalu menjagaku dan mengutamaknku." Lintang menatap jauh kedepan. Helaan nafas berat lolos dari bibirnya. Namun ia tetap mempertahankan senyuman. Rega, Sudah sebulan lebih ia tak bertemu kekasih tercinta. Entah bagaimana keadaan pria itu. Ia sangat merindukannya. Ingin memeluknya. Lintang memutar kepala, menatap dalam Ema. "ibu pelayan, apa aku bisa kembali ke rumahku? berkumpul dengan sahabatku dan kekasihku?" Wajahnya tertekuk sendu raut ceria dan bahagia hilang membuat Ema tak tega. Ema merasakan sesak di dadanya. "Nona sangat ingin pergi dari sini? Apa Nona tidak senang di sini?" tanyanya hati-hati. Lintang mengangguk singkat, tangannya tertaut memainkan baju yang ia kenakan. "Aku ingin kembali ke hidupku sendiri. Bekerja, bersenang-senang bukan di siksa." Memang siapa yang senang di sekap? Tidak hanya di sekap tapi juga di siksa. Fisik dan mentalnya terluka. Siapapun tidak akan ada yang mau berada di posisinya. Bahkan Ema pun menolak jika itu dirinya. Tapi membayangkan Lintang pergi ia harus bagaimana? rasa sayang telah tumbuh di hatinya. Ia terbiasa dengan kehadiran Lintang. Bercanda tawa bersama, bercerita. Ia merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang ibu sejak ada Lintang. Ia senang ketika gadis di depannya memanggilnya ibu walau dengan embel-embel 'pelayan' Kekosongan yang memenuhi hatinya terisi oleh kehadiran Lintang. Akankah ia siap membiarkan gadis itu pergi dari jangkauannya. Namun pada akhirnya logika lebih menang daripada perasaan. "Tentu saja. Nona juga masih tampak muda Nona harus mengejar mimpi." Ujar Ema semangat. Membuat Lintang ikut bersemangat. "Nona umur berapa? "Tanya Ema lagi penasaran, Melihat Lintang masih nampak muda dan polos membuatnya menebak-nebak sendiri. "Sembilan belas tahun bulan depan." "Benarkah? wah masih sangat muda ya." Lintang mengangguk lagi. Ema semakin yakin, "Saya akan bantu. Saya akan bantu Nona keluar dari rumah ini." ucapnya tegas dan mantap. Walau hatinya tak yakin dan tidak siap, ia tak bisa egois. Lintang memiliki kehidupannya sendiri. Dan kehidupannya bukanlah di rumah ini. Gadis itu terlalu muda untuk merasakan sakitnya kekejaman orang kaya. Cukup sudah Lintang menderita dan di siksa, ia tak mau lagi melihat wajah frustasi dan tangis tak kunjung henti. "Benarkah Ibu?" Mata Lintang berbinar cerah menarik sebuah senyuman di bibir Ema. Ada harapan besar tersorot di netra madu Lintang. "Tentu saja." Lintang memeluk erat Ema, jawaban wanita paruh baya ini terasa seperti angin sejuk baginya. Hatinya terasa ringan dan tenang. "Terimakasih Ibu pelayan.”Setelah seharian tak melihat Lintang rasa rindu membuncah di dada Eden. Karena kesibukannya di kantor ia tak bisa menemui wanita itu.Dan sekarang di jam yang masih sangat pagi Eden datang dengan nampan berisi sarapan. Langkahnya yang tegap berbalut jas mahal melekat. Bibirnya lurus tak beriak, namun sorot matanya sedikit hangat.Cklek!Eden membuka pintu, matanya berpendar. Menatap tubuh berbalut selimut putih yang meringkuk. Kemudian meletakkan nampan di atas nakas.Eden duduk di tepi ranjang. Tangannya terulur menyingkap anak rambut yang menutupi wajah Lintang.Merasakan seseorang menyentuhnya. Perlahan mata Lintang terbuka. Netra elang dengan sorot datar menjadi hal pertama yang menyambutnya. Wajah datar tanpa sedikitpun garis kebahagian, namun sayangnya sangat tampan.Lintang menatap Eden dari atas hingga bawah. Pria itu hanya diam menaikan alisnya. Sedikit geli dengan respon wanita itu.Lintang masih belum sadar. Jika pria pria yang di depanya adalah monster yang selalu menyiksa
Di tempat yang lain,Sepasang suami istri mengintimidasi seorang wanita yang menurut mereka mencurigakan. Berpakaian pelayan dan menunduk hormat . Bahunya sedikit bergetar seperti ketakutan.“Jadi apa jaminan kau setia pada kami?” Pelayan itu menaikan wajahnya. Menatap Julia dan Arthur dengan berani. Kegelisahan dalam hatinya ia buang jauh-jauh.“Saya menggadaikan nyawa saya. Jika saya berkhianat saya rela mati. Asal…” ia menghentikan kalimatnya. Matanya terpejam erat seolah untuk mengatakan kalimat selanjutnya membutuhkan tenaga besar.Arthur dan Julia saling pandang. Kedua alisnya naik, menanti kalimat selanjutnya.“Asal Tuan dan Nyonya memberikan bayaran yang setimpal.” Lanjutnya kemudian.Ia sudah merasa sangat frustasi. Ibunya yang sangat ia cintai terbaring tak sadarkan diri di ranjang rumah sakit. Gagal jantung yang ibunya derita membuatnya dilanda ketakutan. Takut akan kehilangan.Pihak rumah sakit mengatakan harus menjalani transplantasi jantung. Dan semua itu membutuhkan bi
“Nona, atas nama Tuan, saya meminta maaf. Beliau selalu kasar padamu.” Aku hanya diam, menatap hamparan mawar dari balik jendela dengan tatapan kosong. Di tengah ruangan, Rendi sibuk mengganti seprai. Suaranya mengalun pelan, namun entah mengapa, aku menangkap nada kesungguhan yang ganjil di sana. “Tuan memang keras, tapi semua itu ada sebabnya,” lanjutnya lagi. Aku tetap tak bergeming. Namun saat aku menoleh, dia rupanya sudah menatapku lebih dulu. “Tuan tidak menyukai pembangkangan. Kebetulan, Nona selalu melawan dan memancing amarahnya. Itulah yang membuatnya bertindak lebih kasar.” Cih. Aku mendengus sinis. Dia bilang aku yang memancingnya? Bahkan sejak detik pertama aku menginjakkan kaki di neraka ini, pria itu sudah hampir membunuhku dengan siksaannya. Dia binatang. Monster menjijikkan yang bersembunyi di balik setelan mahal. Tatapanku menajam. Selama hampir sebulan ini, Rendi adalah satu-satunya wajah yang rutin kulihat. Dia yang memberiku makan, mengganti seprai, atau
Lintang terbangun dengan rasa frustrasi yang menggantung. Pikirannya hancur berantakan, sama seperti hatinya. Ia memikirkan bagaimana nasib Damar dan Ema, juga kekasih serta sahabatnya, Sasa. Semuanya bercampur menjadi satu, menyesakkan dada."Aw, milikku sakit," rintihnya pelan.Ia bangkit, melangkah menuju kamar mandi yang letaknya sedikit jauh. Kamar Eden selalu gelap, dan Lintang sudah terbiasa dengan kegelapan itu. Dengan langkah tertatih, ia memasuki kamar mandi.Bersandar pada wastafel, Lintang menatap pantulan dirinya di cermin. Kantung mata hitam, rambut berantakan, sudut bibir pecah dan berdarah, serta wajah yang sama sekali tidak memancarkan aura kehidupan. Ia terlihat semakin kurus setiap harinya. Tulang selangkanya menonjol dan garis pipinya semakin tirus.Tangannya menengadah, menyiramkan air dingin ke wajahnya yang kuyu. "Bagaimana bisa semua ini menimpaku?"Tubuhnya luruh, jatuh ke lantai dengan rasa putus a
Setelah menyiksa Lintang seminggu terakhir, kini Eden kembali menginjakkan kakinya di perusahaan. Namun, baru saja tiba di lobi, pemandangan Julia dan Arthur yang bercumbu panas membuat darahnya mendidih.Langkahnya kian cepat. Begitu sampai di dekat mereka, Eden menarik tangan Arthur dengan kasar lalu melayangkan tonjokan keras ke wajah pria itu.Serangan tiba-tiba itu mengejutkan semua orang. Beberapa karyawan yang sedang melintas langsung menghentikan langkah mereka. Napas Eden memburu, ia menatap bengis Arthur yang terjerembab di lantai. Pria itu menyeka sudut bibirnya yang berdarah, matanya menatap Eden dengan penuh kebencian.Julia yang menyadari perlakuan mengejutkan Eden langsung membantu Arthur berdiri, lalu menatap sang anak dengan tajam."Apa yang kamu lakukan, Eden?!" teriaknya penuh amarah.Suara Julia memancing perhatian. Dalam sekejap, mereka dikelilingi oleh para karyawan yang penasaran."Kau merebut kursi kuasaku, dan sekarang kau mengotori perusahaanku dengan hal men
Penyiksaan belum usai.Setelah Damar, Lintang diseret menuju tempat di mana Ema berada. Wanita itu terlihat sangat lemah, bahkan sekadar bernapas saja tampak kesulitan.Lintang spontan berlari menghampirinya, namun tarikan kasar dari Eden membuat tubuhnya terhempas dan menubruk tubuh besar pria itu. Tatapan tajam dari Eden seolah memperingatinya, membuat Lintang seketika patuh.Namun pandangannya terus terpaku pada Ema yang terbaring di ranjang seperti pasien rumah sakit. Wanita itu memang mengenakan pakaian pasien, benar-benar seperti orang yang sedang dirawat – tapi yang terjadi di ruangan ini sungguh berbeda dengan rumah sakit yang sebenarnya.Di sisi kanan ranjang, seorang pria memegang pisau yang sangat tajam. Kilauan logamnya menyilaukan mata Lintang. Setelah menatap Eden sebentar, tangannya perlahan bergerak menuju tubuh lemah Ema yang masih memejamkan mata.Ruangan ini lebih tenang dan sunyi ketimbang tempat Damar. Sekecil apapun gerakan terasa begitu nyaring di telinga, seper







