Share

Bab 13. Kepang

Author: Nn_Effendie
last update Last Updated: 2026-01-04 22:17:30

"Saya senang tuan tidak lagi kasar pada Nona."

Suara Ema memecah keheningan setibanya mereka di kamar. Tangannya menuntun Lintang untuk duduk dipinggir kasur.

"Saya harap untuk kedepannya tuan akan seperti ini terus!" senyum tercetak di bibirnya. Tatapan penuh kelembutan membuat Lintang ikut tersenyum.

"Tapi Ibu pelayan, apa menurutmu dia sedang mabuk?"

Lintang menuang pertanyaan pada sebuah kertas yang tergeletak di sampingnya.

Ema berpikir sejenak sebelum akhirnya menjawab.

"Entahlah Nona, saya juga tidak tahu bagaimana cara tuan berpikir. Kenapa Nona bertanya seperti itu?" Eden nampak tak mabuk sedikitpun, bahkan tak nampak seperti habis minum.

"Dia aneh sejak semalam,"

"Aneh bagaimana?" tanya Ema bingung.

"Dia datang kemari, kemudian pergi lagi."

Jawaban itu membuat Ema seketika khawatir, tanganya memutar tubuh lintang memastikan tak ada luka.

"Tuan tak menyakitimu kan?" tanyanya penuh khawatir.

Lintang menggeleng.

"Syukurlah. Nona harus selalu patuh agar tuan tidak lagi kasar
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Gadis Bisu Tahanan Mafia   Bab 18. Ubah Peraturan

    Cahaya matahari menerobos celah gorden yang tersingkap menerpa sepasang pria wanita yang saling berpelukan diatas ranjang.Lintang dan Eden.Lintang lebih dulu bangun saat rasa berat menimpa dadanya membuatnya sedikit kesulitan bernapas. Tanganya meraba benda berat panjang dan otot yang mengelilinginya.Saat lintang menatap ke bawah ia mendapati lengan kekar Eden yang memeluknya erat, tangan pria itu menimpa dadanya yang menjadi penyebab ia kesulitan napas.Lintang memindahkan tangan Eden dengan perlahan takut mengganggu tidur pria itu. Tanpa ia tahu Eden justru semakin erat memeluknya saat merasakan pergerakan wanita itu. Kepalanya ia benamkan diantar ceruk leher menghirup aroma mawar yang menyatu dengan bekas percintaan.Eden menarik bibirnya tersenyum, mengingat kembali betapa panasnya percintaan mereka semalam. Sedangkan lintang, wanita itu memerah wajahnya bukan karena hawa panas melainkan saat hidung Eden yang menyentuh lehernya, membawa gelenyar listrik kedalam tubuhnya.Lintan

  • Gadis Bisu Tahanan Mafia   Bab 17. Bajingan 21++

    Eden menatap dalam wajah Lintang yang panik. Satu tangannya keatas mengelus bibir Lintang yang bergetar. Mata gadis itu bergerak liar. Ketakutan jelas terpancar di wajahnya. "Lintang...Kau tahu kenapa aku tak melepaskanmu?" Elusan tangan Eden semakin turun, melewati leher jenjang Lintang yang putih dan berhenti tepat di gundukan besar yang bergoyang-goyang. Napas Lintang tak beraturan, air mata sudah jatuh membasahi wajahnya. Ia sangat takut Eden kembali menyiksanya seperti beberapa hari yang lalu. "Kau tahu...awalnya aku ingin membunuhmu saja tapi..." Eden meremas lembut dada Lintang membuat mata Lintang spontan melebar. Tubuhnya mendadak kaku. Wajah Eden terkekeh menampilkan seringai puas. "Tubuhmu membuatku tertarik." bisiknya di telinga Lintang. "Bajingan!" Umpat Lintang. Wajah Eden jauh dari kata bersahabat, pria itu terlihat menggertakan giginya. Amarah menyelimutinya saat paham apa yang Lintang katakan. Sekalipun lintang bisu tapi apa yang gadis itu kataka

  • Gadis Bisu Tahanan Mafia   Bab 16. Mabuk

    “Cukup, Tuan. Anda sudah terlalu mabuk!” Rendi berusaha mengingatkan Eden yang tak berhenti meneguk whisky. Sejak masalah di kantor tadi siang selesai Eden langsung menuju klub paling terkenal di pusat kota. Memesan beberapa botol wishky dan alkohol kadar tinggi lainya. Hampir sebulan tak memasuki tempat haram ini, Eden kembali pada kebiasaannya minum alkohol saat frustasi. Rendi sampai hafal karena pola itu selalu terjadi sejak atasannya itu remaja. Dan lagi-lagi ia bertugas untuk menjaga Eden dengan baik. “Tuan. Anda sudah minum terlalu banyak!” Rendi menatap dua botol kosong, satu botol masih dalam genggaman Eden. Hampir tiga botol whisky Eden habiskan dalam waktu tak sampai satu jam. Wajahnya sudah memerah, matanya bergerak liar, namun tak sedikit pun pria itu berhenti. “Tuan…” “Diam.” Eden kembali meneguk cairan coklat itu, membiarkan rasa panas mengalir di tenggorokannya. Matanya terpejam sejenak. Fisik dan pikiran yang kacau membuat rasa panas itu menghilan

  • Gadis Bisu Tahanan Mafia   Bab 15. Julia 21+

    Julia memberontak.Tubuhnya bergerak tak tentu arah."sialan! lepaskan tanganku!""siapa kalian berani memperlakukanku seperti ini, ha?Namun para security yang menyeret Julia sama sekali tidak menjawab.Wajah mereka tetap datar, meski tangan dan wajah mereka penuh cakaran akibat perlawanan Julia.“Maaf, Nyonya. Ini perintah Tuan Eden. Kami tidak bisa membantah.”"Aku istri pemilik perusahaan ini! beraninya kalian menyeretku seperti ini!”Bruuk!"Maaf Nyonya Besar. Kami hanya menjalankan perintah.”Dua satpam itu melempar kasar Julia hingga tubuh wanita itu terhempas di halaman perusahaan.Julia terdiam sesaat, lalu bangkit sambil menunjuk mereka dengan mata menyala."Lihat saja nanti. Aku akan membalas kalian."Julia berbalik dan berjalan cepat menuju sebuah taksi yang sudah terparkir tak jauh dari sana.Entah siapa yang memesannya dia tak peduli.Rasa malu menggerogotinya saat tatapan penuh hinaan dan kata-kata ejekan karyawan Eden. Rasa marah bergelora di dada sampai tak sadar memb

  • Gadis Bisu Tahanan Mafia   Bab 14. Julia

    Disisi lain,Eden memasuki perusahaan dengan rahang mengeras, tangannya terkepal erat seolah siap memukul lawan.Hentakan kakinya menggema bagaikan bom waktu. Setiap karyawan yang melihatnya langsung menepi, tak ada satupun yang berani menegur atau menyapa.Tampang Eden yang biasanya nampak bengis kini lebih pantas di sebut iblis. Wajah datar dan tatapan tajam, lengkap dengan sebuah pistol mengintip di saku kirinya.Seorang resepsionis datang terburu-buru ia membungkuk singkat, walau tubuhnya gemetar penuh takut ia tetap menyambut Eden."Selamat datang Tuan." Eden tak menjawab, langkahnya tetap fokus pada satu tujuan, yaitu Ruangan direktur.Bisik-bisik para karyawan terdengar di telinganya, namun yang lebih penting dari itu adalah segera membereskan kekacauan."Pak Eden sepertinya murka.""Iya ini pasti karena ibunya...""Memang kenapa ibunya?""kau tidak tahu? tadi pagi-pagi sekali nyonya besar Julia datang dan meminta ob untuk merubah ruangan Pak Eden,""Hah? serius?""Iya, mana t

  • Gadis Bisu Tahanan Mafia   Bab 13. Kepang

    "Saya senang tuan tidak lagi kasar pada Nona." Suara Ema memecah keheningan setibanya mereka di kamar. Tangannya menuntun Lintang untuk duduk dipinggir kasur."Saya harap untuk kedepannya tuan akan seperti ini terus!" senyum tercetak di bibirnya. Tatapan penuh kelembutan membuat Lintang ikut tersenyum."Tapi Ibu pelayan, apa menurutmu dia sedang mabuk?" Lintang menuang pertanyaan pada sebuah kertas yang tergeletak di sampingnya.Ema berpikir sejenak sebelum akhirnya menjawab. "Entahlah Nona, saya juga tidak tahu bagaimana cara tuan berpikir. Kenapa Nona bertanya seperti itu?" Eden nampak tak mabuk sedikitpun, bahkan tak nampak seperti habis minum."Dia aneh sejak semalam,""Aneh bagaimana?" tanya Ema bingung."Dia datang kemari, kemudian pergi lagi."Jawaban itu membuat Ema seketika khawatir, tanganya memutar tubuh lintang memastikan tak ada luka."Tuan tak menyakitimu kan?" tanyanya penuh khawatir.Lintang menggeleng."Syukurlah. Nona harus selalu patuh agar tuan tidak lagi kasar

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status