Share

Bab 14. Julia

Author: Nn_Effendie
last update publish date: 2026-01-04 23:25:52

Disisi lain,

Eden memasuki perusahaan dengan rahang mengeras, tangannya terkepal erat seolah siap memukul lawan.

Hentakan kakinya menggema bagaikan bom waktu. Setiap karyawan yang melihatnya langsung menepi, tak ada satupun yang berani menegur atau menyapa.

Tampang Eden yang biasanya nampak bengis kini lebih pantas di sebut iblis. Wajah datar dan tatapan tajam, lengkap dengan sebuah pistol mengintip di saku kirinya.

Seorang resepsionis datang terburu-buru ia membungkuk singkat, walau tubuhnya gemetar penuh takut ia tetap menyambut Eden.

"Selamat datang Tuan."

Eden tak menjawab, langkahnya tetap fokus pada satu tujuan, yaitu Ruangan direktur.

Bisik-bisik para karyawan terdengar di telinganya, namun yang lebih penting dari itu adalah segera membereskan kekacauan.

"Pak Eden sepertinya murka."

"Iya ini pasti karena ibunya..."

"Memang kenapa ibunya?"

"kau tidak tahu? tadi pagi-pagi sekali nyonya besar Julia datang dan meminta ob untuk merubah ruangan Pak Eden,"

"Hah? serius?"

"Iya, mana teriak-teriak. Suaranya sampai terdengar di lantai bawah."

“Apa jangan-jangan nyonya besar Julia yang akan memimpin perusahaan?”

"Sudah-sudah. Sana balik kerja jangan gosip terus." Rendi yang baru saja tiba menarik napas panjang lelah. Kepalanya berdenyut di sambut gosip tak mengenakan.

"Dasar Pak Rendi gak asik.” umpat salah satu karyawan dengan tatapan sinisnya. Rekanya mengangguk setuju, lantas satu persatu bubar dan kembali ke tempat mereka.

"tau tuh huuuu." Rendi hanya mampu menghela napas pasrah di soraki para karyawati.

‘Ck dasar wanita sukanya menggosip saja,” batinya, kemudian menyusul Eden yang sudah menghilang di telan lift.

"Cepat pindahkan ini."

"Ini buang! jangan biarkan di sini!"

"Hei manusia rendahan, apa ini? sudah kubilang letakan di sini!"

Rahang Eden semakin mengeras mendengar suara familiar dibalik pintu yang setengah terbuka. Kakinya mendorong kasar pintu itu hingga terbuka lebar. Suara gebrakannya menghentikan aktifitas di dalam.

Semua orang menoleh tak terkecuali seorang wanita paruh baya dengan penampilan elegan dan barang branded melekat di tubuhnya.

Beberapa ob yang nampak kelelahan dan banjir keringat menoleh bersamaan. Wajah lega tercetak jelas saat melihat kedatangan Eden.

“Tu—”

"Apa yang kau lakukan Julia." Eden menggeram marah, menatap ruangan ayahnya berantakan dan kacau.

Ob yang hendak berbicara seketika kicep. Mereka yang tadinya mengangkat dan memindahkan barang langsung melepas barang dari tanganya. Perlahan mereka sedikit mundur.

Mata elang Eden memindai ruangan kerjanya selama beberapa bulan ini.

Meja berpindah tempat, rak buku dan jejeran dokumen menghilang tergantikan deretan tas mewah dan mahal. Vas mahal dengan harga ratusan juta tergantikan jejeran parfum mahal.

Sebuah tv dan treadmill terpasang di sudut lain.

Namun yang membuatnya semakin emosi adalah mendapati pigura bertengger indah di atas meja, sepasang wanita dan pria yang bercium mesra seolah menunjukan dunia mereka adalah pasangan serasi dan bahagia.

Eden melangkah maju kemudian membanting figura itu.

“AKHH..APA YANG KAU LAKUKAN SIALAN?”umpat julia.

Ia segera berlutut memungut pecahan kaca yang berhamburan. Kertasnya lepas dari bingkai dan Saat mengambil gambar miliknya, pecahan kaca itu menggores kertas bergambarnya.

Wajahnya semakin memerah, jarinya menunjuk Eden dengan gemetar.

“Eden…”desisnya tajam.

Para OB yang melihat pertengkaran ibu dan anak itu memilih mundur. Aura ketegangan di ruangan itu membuat mereka tak nyaman dan sesak. Saat mereka akan pergi teriakan Julia menghentikan langkah mereka.

"Siapa yang mengizinkan kalian pergi hah?. Cepat pindahkan ini!"

Julia menunjuk vas hitam besar Dengan bunga mawar segar di dalamnya tatapannya menatap benci bunga mawar itu.

Para OB saling pandang, ragu untuk mendekat. Mereka saling dorong satu sama lain.

Hingga akhirnya salah satu dari mereka memberanikan diri maju.

"Maaf Nyonya, tapi saya tidak berani memindah vas ini."

"Heh, siapa kamu berani membantah perintahku hah?"

"Ta-tapi nyonya ini vas kesayangan Tuan Adam, tidak ada yang boleh memindahnya."

"Saya tidak peduli. Cepat pindah vas itu!"

“Ta-tapi”

Ob itu melirik Eden, namun yang didapat justru tatapan tajam membuatnya bergetar di tempat.

"Pergi!" Sentak Eden.

Ob itu mengangguk, kemudian ia menarik rekanya untuk pergi meninggalkan ruangan.

Julia yang melihat ob pergi ia semakin murka, suara teriaknya terdengar kencang membuat ruangan terasa bergetar.

"HEI APA YANG KALIAN LAKUKAN! CEPAT KEMBALI DAN PINDHA BARANG INI!!”

Namun para ob itu tak kembali, mereka lebih memilih kembali turun ke lantai satu.

“Ya tuhan, nyawaku rasanya mau hilang saja” bisik salah satu ob dari balik pintu,

“Benar, tubuhku juga lelah sejak pagi mengangkat barang-barang berat itu,” jawab rekanya sambil memijat leher.

Mereka masih mendengar jelas teriakan Julia namun lebih memilih patuh pada ucapan Eden karena pria itu lah yang menggaji.

"Aku istri pemilik perusahaan ini siapa kalian berani membantah hah?!"

Julia melempar kasar hiasan kristal di sampingnya. Tatapanya melayang tajam pada Eden.

"Apa yang kau lakukan Eden! cepat panggil mereka kembali."

"Tidak. Seharusnya aku yang tanya. apa yang kau lakukan disini!"

Julia memalingkan muka. kakinya melangkah menuju kursi putar dan mendudukinya kasar. Napasnya memburu tak beraturan.

"Memangnya kenapa? aku juga punya hak untuk datang kemari. Ini perusahaan suamiku " ucapnya sinis. tangannya terkepal kuat.

Eden terkekeh membuat Julia menatapnya semakin tajam, namun Eden sedikitpun tak takut.

"Kenapa kau tertawa?"

“Tidak ada. Kurasa kau lupa”

“Cih, kau yang lupa. Aku ibumu istri ayahmu! Aku berhak mengatur perusahaan ini aku bebas melakukan apapun di sini!”

“Ibu? hahaha. Apa kau pantas dipanggil Ibu" Eden terbahak, merasa lucu dengan kalimat Julia.

"Ibu, apa ibu lupa ingatan? surat wasiat itu menjelaskan dengan detail bahwa akulah pewaris. dan kau—"

“Kau bukan siapa-siapa”

Eden semakin mendekat tatapanya semakin tajam ruangan terasa semakin sesak membuat Julia mundur tanpa sadar. Ia menekan setiap katanya.

"Kau sudah mendapat villa di daerah utara, rumah dan mobil mewah lalu apa lagi?"

Julia tersenyum, bukan senyum tulus melainkan senyum akan kehuasan. Haus kekayaan Adam yang bahkan tak habis hingga tujuh turunan.

"Semua itu tak sebanding dengan pengorbananku Eden! Aku menginginkan perusahaan ini!!"

"Pengorbanan apa? pengorbanan membunuh ayahku?"

Julia terkejut, matanya membola besar. Namun cepat-cepat merubah wajahnya kembali seperti semula.

"Apa maksudmu Eden!" Tanyanya pura-pura tak tahu.

Eden menyeringai "aku tidak bodoh Ibu. Kematian ayah kaulah penyebabnya."

julai mengalihkan wajahnya gugup tak menyangka Eden mengetahui rahasia yang ia tutup susah payah.

“Apa maksudmu Eden aku tak paham!”

“Oh benarkah kau tak paham? Tak paham atau menolak ingat?” Cecar Eden lagi, “kau membunuh ayahku dengan pria menjijikan itu.”

"Cih,kematian lebih pantas untuknya " ucapnya sedikit gugup.

Tanpa ia sadari kalimat itu memancing amarah dalam diri Eden,

Eden mendekat cepat tangannya mencekik leher Julia membuat wanita paruh baya itu tak terkejut.

"Itu berarti kematian juga pantas untukmu heh?" tukasnya Eden dingin. matanya menyorot tajam

Julia berusaha melepas cengkraman tangan Eden, ia tak bisa bernapas normal wajahnya memerah.

"Aku tidak akan membiarkan siapapun mengambil peninggalan ayah sekecil apapun itu, bahkan itu kamu istrinya. lagi pula— "

Napas Julia semakin berat, dadanya terasa panas, matanya berair, tangannya memukul tangan Eden.

Melihat sang ibu yang diambang kematian Eden melepas cekikannya.

Wanita itu jatuh ke lantai, tangannya mengelus\ leher yang sakit. Napas berebut mengisi paru-parunya. matanya berair, menatap penuh benci Eden.

"Kau bisa minta pada suami barumu. Karena disini kau tidak di terima " Eden tersenyum mengejek, "Tidak akan pernah!" Finalnya.

"Seret keluar dan jangan biarkan masuk!" dua security menerobos masuk, mengangguk patuh kemudian menarik tubuh Julia yang masih belum sepenuhnya membaik.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Gadis Bisu Tahanan Mafia   Bab 52

    Setelah seharian tak melihat Lintang rasa rindu membuncah di dada Eden. Karena kesibukannya di kantor ia tak bisa menemui wanita itu.Dan sekarang di jam yang masih sangat pagi Eden datang dengan nampan berisi sarapan. Langkahnya yang tegap berbalut jas mahal melekat. Bibirnya lurus tak beriak, namun sorot matanya sedikit hangat.Cklek!Eden membuka pintu, matanya berpendar. Menatap tubuh berbalut selimut putih yang meringkuk. Kemudian meletakkan nampan di atas nakas.Eden duduk di tepi ranjang. Tangannya terulur menyingkap anak rambut yang menutupi wajah Lintang.Merasakan seseorang menyentuhnya. Perlahan mata Lintang terbuka. Netra elang dengan sorot datar menjadi hal pertama yang menyambutnya. Wajah datar tanpa sedikitpun garis kebahagian, namun sayangnya sangat tampan.Lintang menatap Eden dari atas hingga bawah. Pria itu hanya diam menaikan alisnya. Sedikit geli dengan respon wanita itu.Lintang masih belum sadar. Jika pria pria yang di depanya adalah monster yang selalu menyiksa

  • Gadis Bisu Tahanan Mafia   Bab 51. Pil

    Di tempat yang lain,Sepasang suami istri mengintimidasi seorang wanita yang menurut mereka mencurigakan. Berpakaian pelayan dan menunduk hormat . Bahunya sedikit bergetar seperti ketakutan.“Jadi apa jaminan kau setia pada kami?” Pelayan itu menaikan wajahnya. Menatap Julia dan Arthur dengan berani. Kegelisahan dalam hatinya ia buang jauh-jauh.“Saya menggadaikan nyawa saya. Jika saya berkhianat saya rela mati. Asal…” ia menghentikan kalimatnya. Matanya terpejam erat seolah untuk mengatakan kalimat selanjutnya membutuhkan tenaga besar.Arthur dan Julia saling pandang. Kedua alisnya naik, menanti kalimat selanjutnya.“Asal Tuan dan Nyonya memberikan bayaran yang setimpal.” Lanjutnya kemudian.Ia sudah merasa sangat frustasi. Ibunya yang sangat ia cintai terbaring tak sadarkan diri di ranjang rumah sakit. Gagal jantung yang ibunya derita membuatnya dilanda ketakutan. Takut akan kehilangan.Pihak rumah sakit mengatakan harus menjalani transplantasi jantung. Dan semua itu membutuhkan bi

  • Gadis Bisu Tahanan Mafia   Bab 50

    “Nona, atas nama Tuan, saya meminta maaf. Beliau selalu kasar padamu.” Aku hanya diam, menatap hamparan mawar dari balik jendela dengan tatapan kosong. Di tengah ruangan, Rendi sibuk mengganti seprai. Suaranya mengalun pelan, namun entah mengapa, aku menangkap nada kesungguhan yang ganjil di sana. “Tuan memang keras, tapi semua itu ada sebabnya,” lanjutnya lagi. Aku tetap tak bergeming. Namun saat aku menoleh, dia rupanya sudah menatapku lebih dulu. “Tuan tidak menyukai pembangkangan. Kebetulan, Nona selalu melawan dan memancing amarahnya. Itulah yang membuatnya bertindak lebih kasar.” Cih. Aku mendengus sinis. Dia bilang aku yang memancingnya? Bahkan sejak detik pertama aku menginjakkan kaki di neraka ini, pria itu sudah hampir membunuhku dengan siksaannya. Dia binatang. Monster menjijikkan yang bersembunyi di balik setelan mahal. Tatapanku menajam. Selama hampir sebulan ini, Rendi adalah satu-satunya wajah yang rutin kulihat. Dia yang memberiku makan, mengganti seprai, atau

  • Gadis Bisu Tahanan Mafia   Bab 49

    Lintang terbangun dengan rasa frustrasi yang menggantung. Pikirannya hancur berantakan, sama seperti hatinya. Ia memikirkan bagaimana nasib Damar dan Ema, juga kekasih serta sahabatnya, Sasa. Semuanya bercampur menjadi satu, menyesakkan dada."Aw, milikku sakit," rintihnya pelan.Ia bangkit, melangkah menuju kamar mandi yang letaknya sedikit jauh. Kamar Eden selalu gelap, dan Lintang sudah terbiasa dengan kegelapan itu. Dengan langkah tertatih, ia memasuki kamar mandi.Bersandar pada wastafel, Lintang menatap pantulan dirinya di cermin. Kantung mata hitam, rambut berantakan, sudut bibir pecah dan berdarah, serta wajah yang sama sekali tidak memancarkan aura kehidupan. Ia terlihat semakin kurus setiap harinya. Tulang selangkanya menonjol dan garis pipinya semakin tirus.Tangannya menengadah, menyiramkan air dingin ke wajahnya yang kuyu. "Bagaimana bisa semua ini menimpaku?"Tubuhnya luruh, jatuh ke lantai dengan rasa putus a

  • Gadis Bisu Tahanan Mafia   Bab 48.

    Setelah menyiksa Lintang seminggu terakhir, kini Eden kembali menginjakkan kakinya di perusahaan. Namun, baru saja tiba di lobi, pemandangan Julia dan Arthur yang bercumbu panas membuat darahnya mendidih.Langkahnya kian cepat. Begitu sampai di dekat mereka, Eden menarik tangan Arthur dengan kasar lalu melayangkan tonjokan keras ke wajah pria itu.Serangan tiba-tiba itu mengejutkan semua orang. Beberapa karyawan yang sedang melintas langsung menghentikan langkah mereka. Napas Eden memburu, ia menatap bengis Arthur yang terjerembab di lantai. Pria itu menyeka sudut bibirnya yang berdarah, matanya menatap Eden dengan penuh kebencian.Julia yang menyadari perlakuan mengejutkan Eden langsung membantu Arthur berdiri, lalu menatap sang anak dengan tajam."Apa yang kamu lakukan, Eden?!" teriaknya penuh amarah.Suara Julia memancing perhatian. Dalam sekejap, mereka dikelilingi oleh para karyawan yang penasaran."Kau merebut kursi kuasaku, dan sekarang kau mengotori perusahaanku dengan hal men

  • Gadis Bisu Tahanan Mafia   Bab 47. Alex

    Penyiksaan belum usai.Setelah Damar, Lintang diseret menuju tempat di mana Ema berada. Wanita itu terlihat sangat lemah, bahkan sekadar bernapas saja tampak kesulitan.Lintang spontan berlari menghampirinya, namun tarikan kasar dari Eden membuat tubuhnya terhempas dan menubruk tubuh besar pria itu. Tatapan tajam dari Eden seolah memperingatinya, membuat Lintang seketika patuh.Namun pandangannya terus terpaku pada Ema yang terbaring di ranjang seperti pasien rumah sakit. Wanita itu memang mengenakan pakaian pasien, benar-benar seperti orang yang sedang dirawat – tapi yang terjadi di ruangan ini sungguh berbeda dengan rumah sakit yang sebenarnya.Di sisi kanan ranjang, seorang pria memegang pisau yang sangat tajam. Kilauan logamnya menyilaukan mata Lintang. Setelah menatap Eden sebentar, tangannya perlahan bergerak menuju tubuh lemah Ema yang masih memejamkan mata.Ruangan ini lebih tenang dan sunyi ketimbang tempat Damar. Sekecil apapun gerakan terasa begitu nyaring di telinga, seper

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status