ホーム / Mafia / Gadis Bisu Tahanan Mafia / Bab 9. 'Dia datang, memaksaku'

共有

Bab 9. 'Dia datang, memaksaku'

作者: Nn_Effendie
last update 公開日: 2025-12-31 10:51:56

Setelah sarapan selesai, piring-piring kosong dibiarkan begitu saja di atas meja kecil di sudut kamar.

Ema tidak langsung pergi seperti biasanya. Ia berdiri sebentar di ambang pintu, ragu, lalu kembali mendekat. Tatapannya tertuju pada Lintang yang duduk di tepi ranjang, tubuhnya agak membungkuk, pandangan kosong ke arah jendela yang selalu tertutup rapat.

Ema mengerti.

Tanpa perlu kata-kata, ia tahu apa yang telah terjadi malam tadi. Bekas-bekasnya masih terlihat jelas bahkan semakin jelas ,memar merah di lengan, kissmark merah keunguan mengintip di balik leher, wajah yang lebih pucat dari biasanya, dan cara Lintang duduk dengan kaki rapat dan tangan memeluk bantal seolah ingin melindungi diri dari dunia.

Meski begitu, naluri seorang ibu—meskipun ia hanya pelayan—tetap mendorongnya untuk mendengar langsung dari mulut gadis itu. Ema menghela napas pelan, lalu duduk miring di pinggir kasur. Tangannya dengan lembut memijat betis Lintang yang terasa kaku, gerakan itu lebih untuk menenangkan dirinya sendiri daripada Lintang.

Beberapa menit berlalu dalam diam. Ema membuka mulut berkali-kali, tapi kata-kata selalu tersangkut di tenggorokan. Ia takut salah ucap, takut membuat Lintang semakin menutup diri.

Lintang tahu Ema sedang menunggu. Ia bisa merasakan tatapan wanita itu, penuh kekhawatiran yang tak perlu diucapkan. Tapi ia tetap diam, matanya lurus ke depan, pikirannya terjebak pada bayangan malam yang gelap dan menyakitkan itu.

Akhirnya, setelah keheningan yang terasa terlalu lama, Ema berbisik, suaranya hampir hilang, “Nona Lintang… bolehkah Nona ceritakan apa yang terjadi semalam?”

Lintang menoleh perlahan. Matanya menatap Ema—wanita lima puluh lima tahun yang selalu sabar melayaninya, membersihkan kamarnya, yang kadang diam-diam menyisipkan kue kesukaannya di nampan sarapan.

Rasanya berat sekali untuk bicara. Tapi entah kenapa, bibirnya mulai bergerak pelan, membentuk kata tanpa suara, disertai isyarat tangan yang sudah menjadi bahasa mereka berdua sejak beberapa minggu yang lalu.

‘Dia datang, memaksaku’

Ema tak sepenuhnya mahir membaca isyarat, tapi ia sangat pandai membaca bibir. Setiap gerakan mulut Lintang ia amati dengan saksama.

Dan saat maknanya sampai, jantung Ema seperti terhenti sejenak. Ruangan terasa menyempit dalam sekejap membuat napasnya tercekat. Ia membuka lebar mulutnya memaksa udara masuk mengisi paru-parunya.

“Apa… Tuan Eden yang melakukannya?” tanya Ema hati-hati, suaranya bergetar.

Kamar ini memang terlarang bagi hampir semua orang. Hanya tiga kunci yang ada milik Ema untuk membersihkan, milik Eden sebagai tuan rumah, dan milik Rendy untuk memantau keadaan lintang.

Tapi Rendy… tidak mungkin. Pria itu selalu hormat, selalu menjaga jarak.

Tinggal satu kemungkinan.

Lintang tak langsung menjawab. Ia memalingkan wajah, air mata menggenang di sudut mata.

Ema meraih kedua tangan Lintang, menggenggamnya erat tanpa sadar. “Jawab saja, Nona. Percayalah pada saya. Saya akan melindungi Nona semampuku. Saya janji… saya tak akan biarkan Tuan memperlakukan Nona seperti ini lagi.”

“Saya akan membantu agar nona segera pergi dari sini,” ucap Ema meyakinkan, ‘anggaplah sebagai penebusan rasa salahku padamu.’ lanjutnya dalam hati.

Air mata Lintang akhirnya jatuh. Ia mengangguk pelan, singkat, tapi cukup untuk membuat dunia Ema runtuh.

Tubuh Ema menegang. Meski ia sudah menduga sejak pagi, mendengar atau lebih tepatnya, melihat pengakuan itu tetap terasa seperti pukulan keras untuknya.

“Kenapa Tuan melakukan itu, Nona? Apa Nona membuatnya marah?” tanya Ema pelan, hampir tanpa berpikir.

Seketika itu juga Lintang menoleh tajam. Dahinya berkerut dalam, matanya penuh kekecewaan dan kemarahan yang selama ini ia pendam. Pertanyaan itu terasa seperti menyalahkannya—seolah ia yang bersalah, seolah ada alasan yang membenarkan perbuatan keji itu.

Dengan gerakan cepat, Lintang mendorong bahu Ema hingga wanita itu terhuyung mundur. Lalu ia menarik laci nakas dengan kasar, mengambil buku catatan kecil dan pena yang selalu ada di sana.

Tangan Lintang gemetar saat menulis. Setiap goresan pena terasa seperti mencurahkan semua rasa sakit yang tak bisa ia jeritkan.

Ema mendekat lagi, membaca tulisan yang semakin jelas di bawah cahaya lampu meja.

Dia datang. Dia menarikku. Dia memperkosaku. Dia kejam.

Ema menutup mulut dengan tangan, napasnya tersengal.

Lintang melanjutkan menulis, lebih cepat, lebih keras hingga pena hampir merobek kertasnya,

SEHARUSNYA AKU YANG BERTANYA APA SALAHKU SAMPAI DIA MELAKUKAN HAL KEJI ITU PADAKU!!

Tangan Ema bergetar hebat saat ia selesai membaca. Ia menatap Lintang yang kini menunduk, bahunya bergetar menahan isak tanpa suara.

Ema tak tahu harus berkata apa. Ia hanya merangkul Lintang pelan, membiarkan gadis itu menangis dalam pelukannya—tangis bisu yang lebih keras daripada jeritan apa pun.

Ingatannya melayang beberapa Minggu yang lalu…

Saat itu, ia sedang berada di dapur seperti biasa lalu Damar, suaminya tiba-tiba datang tergopoh-gopoh. Raut panik suaminya membuatnya kebingungan namun ia tak ambil pusing.

Ema hanya melihat Damar yang beberapa kali mengambil segelas air lalu meminumnya dalam sekali teguk, kebiasaan saat pria itu panik.

Karena Damar yang tak kunjung bicara Ema akhirnya membuka mulut dengan kesal, “Pak, ada apa? Kenapa panik sekali?”

Saat itu Damar ragu untuk menjawab, namun akhirnya ia pun menceritakan kejadian yang sesungguhnya.

Berawal dari ia melihat Lintang yang memetik mawar, Lintang pengantar makanan bisu, lalu mengijinkannya masuk seorang diri, hingga gadis itu yang tak kunjung keluar setelah beberapa jam berlalu, yang seharusnya hanya lima belas menit paling lama.

Ema menatap Damar tak percaya, semudah itu membiarkan orang lain masuk ke rumah tanpa izin dari pemilik.

Hari itu memang ada pelatihan khusus untuk pengawal dan anak buah Eden sehingga tak membiarkan pelayan berkeliaran, namun tak disangka sang suami membiarkan orang lain masuk ke rumah dengan seenak jidat.

“Aku tahu..aku salah, lalu harus bagaimana ini? entah dimana dia sekarang aku sudah mencarinya kemana-mana namun tak menemukannya.” Damar menarik rambutnya frustasi, sedangkan Ema, yang wanita itu pikirkan adalah takut jika Lintang di tangkap pengawal atau Eden.

Ia sangat mengenal keluarga ini, siapapun yang masuk tanpa ijin akan keluar tanpa nyawa.

“Ya sudah ayo Ibu bantu cari gadis itu.” ajak Ema. Damar mengangguk.

Namun belum sempat mereka bangkit, gedebuk ratusan kaki memenuhi lantai hingga terdengar ke dapur. Langkahnya menggema hingga terasa seperti gempa, teriakan dan bunyi peluru terdengar nyaring di telinga mereka.

Ema dan damar semakin gelisah perasaan campur aduk antara takut, khawatir dan panik.

Lalu tiba-tiba seorang pengawal datang dengan napas memburu, keringat membanjiri tubuh. Sorotnya tajam menusuk Damar yang pucat pasi.

“Tuan Eden memanggilmu”

Tiga kata sederhana, namun mampu membuat Damar membeku saat itu juga. Darah seperti hilang dari tubuh, jantung berdegup kencang penuh takut.

Dengan tubuh lunglai tanpa tulang, Damar pergi meninggalkan Ema yang hanya bisa mendoakan.

Keesokan harinya, Tuan Eden memanggilnya untuk ke ruang bawah tanah. Saat itu ia takut setengah mati karena semalam penuh tak bertemu sang suami, terlebih belum tahu bagaimana kabar selanjutnya.

Dibenaknya saat itu adalah hari terakhir bertemu dengan sang suami, ia menduga Damar mendapatkan hukuman atau bahkan kematian dari Eden.

Dengan hati yang kacau dan air mata yang membasahi wajah, Ema memasuki penjara bawah tanah yang busuk dan pengap, disana ia melihat Eden yang duduk angkuh di bawahnya seorang berambut panjang terkapar lemas, darah membasahi tubuhnya, baju belakangnya robek bekas cambuk.

Matanya mengedar, namun tak mendapati sang suami. Hanya para pengawal, Eden, Rendy dan gadis yang entah masih hidup atau tidak.

Ema tak bisa melihat siapa orang itu, namun suara Eden membuatnya paham dalam satu detik sejak terucap.

“Obati lukanya, jangan biarkan mati.”

Rendy yang saat itu berdiri di samping Eden mendekatinya dan memberikan kotak salep dan obat.

“Bibi Ema, tolong obati gadis itu” ucapnya Dengan lembut saat itu.

Ema mengangguk walaupun masih ragu, langkahnya berat ia seret menuju seseorang yang terlihat berantakan. Saat tanganya membalik tubuh itu, matanya melebar.

Wajah lebam biru, bibir berdarah, kening berdarah, bekas cekikan di leher dan darah yang membasahi tubuh membuat Ema tak tega, namun yang membuat hatinya sakit adalah ciri-ciri yang suaminya sebutkan ada pada gadis itu.

“Siapapun yang berani membawa penyusup ini atau membantunya keluar, nyawa kalian gantinya.”

Ema menunduk berusaha mengabaikan tatapan tajam Eden padanya, kalimat itu bukan ancaman sederhana karena apa yang Eden ucapkan akan menjadi kenyataan.

“Baik Tuan,” ucap para pengawal serempak, namun tidak dengan Ema.

Ema perlahan mengobati luka Lintang dengan tangis tergugu, dari saat itulah ia selalu datang esoknya untuk mengobati Lintang dan Eden memintanya melayani Lintang hingga mereka dekat hingga saat ini.

Ema semakin erat memeluk Lintang, hatinya bertekad kuat untuk membantu gadis itu lepas dari jeratan Eden.

'Bertahanlah Nona, saya janji akan bertanggung jawab atas kesalahan suamiku.'

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Gadis Bisu Tahanan Mafia   Bab 52

    Setelah seharian tak melihat Lintang rasa rindu membuncah di dada Eden. Karena kesibukannya di kantor ia tak bisa menemui wanita itu.Dan sekarang di jam yang masih sangat pagi Eden datang dengan nampan berisi sarapan. Langkahnya yang tegap berbalut jas mahal melekat. Bibirnya lurus tak beriak, namun sorot matanya sedikit hangat.Cklek!Eden membuka pintu, matanya berpendar. Menatap tubuh berbalut selimut putih yang meringkuk. Kemudian meletakkan nampan di atas nakas.Eden duduk di tepi ranjang. Tangannya terulur menyingkap anak rambut yang menutupi wajah Lintang.Merasakan seseorang menyentuhnya. Perlahan mata Lintang terbuka. Netra elang dengan sorot datar menjadi hal pertama yang menyambutnya. Wajah datar tanpa sedikitpun garis kebahagian, namun sayangnya sangat tampan.Lintang menatap Eden dari atas hingga bawah. Pria itu hanya diam menaikan alisnya. Sedikit geli dengan respon wanita itu.Lintang masih belum sadar. Jika pria pria yang di depanya adalah monster yang selalu menyiksa

  • Gadis Bisu Tahanan Mafia   Bab 51. Pil

    Di tempat yang lain,Sepasang suami istri mengintimidasi seorang wanita yang menurut mereka mencurigakan. Berpakaian pelayan dan menunduk hormat . Bahunya sedikit bergetar seperti ketakutan.“Jadi apa jaminan kau setia pada kami?” Pelayan itu menaikan wajahnya. Menatap Julia dan Arthur dengan berani. Kegelisahan dalam hatinya ia buang jauh-jauh.“Saya menggadaikan nyawa saya. Jika saya berkhianat saya rela mati. Asal…” ia menghentikan kalimatnya. Matanya terpejam erat seolah untuk mengatakan kalimat selanjutnya membutuhkan tenaga besar.Arthur dan Julia saling pandang. Kedua alisnya naik, menanti kalimat selanjutnya.“Asal Tuan dan Nyonya memberikan bayaran yang setimpal.” Lanjutnya kemudian.Ia sudah merasa sangat frustasi. Ibunya yang sangat ia cintai terbaring tak sadarkan diri di ranjang rumah sakit. Gagal jantung yang ibunya derita membuatnya dilanda ketakutan. Takut akan kehilangan.Pihak rumah sakit mengatakan harus menjalani transplantasi jantung. Dan semua itu membutuhkan bi

  • Gadis Bisu Tahanan Mafia   Bab 50

    “Nona, atas nama Tuan, saya meminta maaf. Beliau selalu kasar padamu.” Aku hanya diam, menatap hamparan mawar dari balik jendela dengan tatapan kosong. Di tengah ruangan, Rendi sibuk mengganti seprai. Suaranya mengalun pelan, namun entah mengapa, aku menangkap nada kesungguhan yang ganjil di sana. “Tuan memang keras, tapi semua itu ada sebabnya,” lanjutnya lagi. Aku tetap tak bergeming. Namun saat aku menoleh, dia rupanya sudah menatapku lebih dulu. “Tuan tidak menyukai pembangkangan. Kebetulan, Nona selalu melawan dan memancing amarahnya. Itulah yang membuatnya bertindak lebih kasar.” Cih. Aku mendengus sinis. Dia bilang aku yang memancingnya? Bahkan sejak detik pertama aku menginjakkan kaki di neraka ini, pria itu sudah hampir membunuhku dengan siksaannya. Dia binatang. Monster menjijikkan yang bersembunyi di balik setelan mahal. Tatapanku menajam. Selama hampir sebulan ini, Rendi adalah satu-satunya wajah yang rutin kulihat. Dia yang memberiku makan, mengganti seprai, atau

  • Gadis Bisu Tahanan Mafia   Bab 49

    Lintang terbangun dengan rasa frustrasi yang menggantung. Pikirannya hancur berantakan, sama seperti hatinya. Ia memikirkan bagaimana nasib Damar dan Ema, juga kekasih serta sahabatnya, Sasa. Semuanya bercampur menjadi satu, menyesakkan dada."Aw, milikku sakit," rintihnya pelan.Ia bangkit, melangkah menuju kamar mandi yang letaknya sedikit jauh. Kamar Eden selalu gelap, dan Lintang sudah terbiasa dengan kegelapan itu. Dengan langkah tertatih, ia memasuki kamar mandi.Bersandar pada wastafel, Lintang menatap pantulan dirinya di cermin. Kantung mata hitam, rambut berantakan, sudut bibir pecah dan berdarah, serta wajah yang sama sekali tidak memancarkan aura kehidupan. Ia terlihat semakin kurus setiap harinya. Tulang selangkanya menonjol dan garis pipinya semakin tirus.Tangannya menengadah, menyiramkan air dingin ke wajahnya yang kuyu. "Bagaimana bisa semua ini menimpaku?"Tubuhnya luruh, jatuh ke lantai dengan rasa putus a

  • Gadis Bisu Tahanan Mafia   Bab 48.

    Setelah menyiksa Lintang seminggu terakhir, kini Eden kembali menginjakkan kakinya di perusahaan. Namun, baru saja tiba di lobi, pemandangan Julia dan Arthur yang bercumbu panas membuat darahnya mendidih.Langkahnya kian cepat. Begitu sampai di dekat mereka, Eden menarik tangan Arthur dengan kasar lalu melayangkan tonjokan keras ke wajah pria itu.Serangan tiba-tiba itu mengejutkan semua orang. Beberapa karyawan yang sedang melintas langsung menghentikan langkah mereka. Napas Eden memburu, ia menatap bengis Arthur yang terjerembab di lantai. Pria itu menyeka sudut bibirnya yang berdarah, matanya menatap Eden dengan penuh kebencian.Julia yang menyadari perlakuan mengejutkan Eden langsung membantu Arthur berdiri, lalu menatap sang anak dengan tajam."Apa yang kamu lakukan, Eden?!" teriaknya penuh amarah.Suara Julia memancing perhatian. Dalam sekejap, mereka dikelilingi oleh para karyawan yang penasaran."Kau merebut kursi kuasaku, dan sekarang kau mengotori perusahaanku dengan hal men

  • Gadis Bisu Tahanan Mafia   Bab 47. Alex

    Penyiksaan belum usai.Setelah Damar, Lintang diseret menuju tempat di mana Ema berada. Wanita itu terlihat sangat lemah, bahkan sekadar bernapas saja tampak kesulitan.Lintang spontan berlari menghampirinya, namun tarikan kasar dari Eden membuat tubuhnya terhempas dan menubruk tubuh besar pria itu. Tatapan tajam dari Eden seolah memperingatinya, membuat Lintang seketika patuh.Namun pandangannya terus terpaku pada Ema yang terbaring di ranjang seperti pasien rumah sakit. Wanita itu memang mengenakan pakaian pasien, benar-benar seperti orang yang sedang dirawat – tapi yang terjadi di ruangan ini sungguh berbeda dengan rumah sakit yang sebenarnya.Di sisi kanan ranjang, seorang pria memegang pisau yang sangat tajam. Kilauan logamnya menyilaukan mata Lintang. Setelah menatap Eden sebentar, tangannya perlahan bergerak menuju tubuh lemah Ema yang masih memejamkan mata.Ruangan ini lebih tenang dan sunyi ketimbang tempat Damar. Sekecil apapun gerakan terasa begitu nyaring di telinga, seper

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status