MasukAsap rokok membumbung tipis di udara pagi yang dingin, meliuk-liuk seperti pikiran Eden yang tak kunjung tenang. Pemiliknya memejamkan mata lelah, sandaran punggungnya menyandar malas di jendela kamar yang berembun. Nafasnya panjang, berat, seolah membawa beban yang tak terucap.
Setelah penyiksaan tadi malam, Eden terbangun saat fajar telah menyingsing lembut di balik tirai tebal. Rasa kantuk yang sudah lama tak singgah kini datang kembali, membawa nyenyak yang anehnya terasa... menenangkan. Tapi ketenangan itu palsu. Pikirannya terus tertuju pada satu nama—satu wajah. Lintang. Gadis—tidak, lebih tepatnya wanita—yang membuat hatinya gonjang-ganjing. Di zaman di mana kegadisan begitu mudah dilepaskan, Lintang masih menjaganya rapat-rapat. Sampai ia merebutnya dengan paksa. Rasa bersalah itu menyelinap pelan, bercampur dengan hasrat yang tak pernah padam. Apakah Lintang benar-benar bukan penyusup? Keraguan itu menggerogoti dadanya seperti api kecil yang tak mau mati. Kalau benar penyusup, kenapa dia tak pernah mencoba kabur? Tak pernah mencari bantuan, seperti yang dilakukan penyusup lain? Lintang hanya pasrah, dikurung di ruangan gelap ini, menerima segala yang Eden lakukan padanya. Dan kalau bukan penyusup lantas, siapa dia sebenarnya? Korban salah tangkap? Pikiran itu membuat Eden semakin gelisah, seperti duri yang tertusuk dalam. Gadis itu sempat memberontak tapi hanya sekedar berusaha menghindar dari penyiksaan, bukan berusaha mencari bantuan atau seseorang yang telah mengirimnya kemari. “Oh shit, kepalaku rasanya mau meledak.” Eden menghembuskan napas kasar, jarinya memijat kening yang berdenyut-denyut sakit. Ia tak bisa mengalihkan pandangan dari ranjang lebih pastinya dari tubuh yang masih terlelap di sana. Lintang. Entah berapa jam ia menggempurnya malam tadi. Eden berhenti hanya saat Lintang tak lagi bereaksi, tubuhnya lemas seperti boneka rusak. Kini, melihatnya seperti ini, hati Eden terasa perih. Aneh. Ia melangkah mendekat, menatap wajah sembab yang masih tertidur. Tapi kecantikan Lintang tak pudar sedikit pun justru malah semakin memikat. Bercak merah kissmark menghiasi kulitnya yang dulu putih bersih, seperti lukisan abstrak yang mahal di kanvas hidup. Seksi. Terlalu seksi hingga membuat darah Eden mendidih lagi. “Fuck... bagaimana bisa aku ereksi lagi hanya karena menatap wajahnya?” gumam Eden pelan, suaranya parau. Tangannya gemetar saat menyibak rambut yang menutupi wajah Lintang. Sentuhan itu lembut, tak seperti malam tadi yang kasar. Lintang bergeser sedikit, seolah tak nyaman. Eden langsung menarik tangan, matanya ganti melirik ke bawah miliknya sudah keras lagi, tegak menantang menuntut pelepasan. Ia berdecak kesal, rasa frustrasi bercampur malu. Sebelum hasrat itu semakin membara lagi, ia memilih pergi. Pintu ditutup pelan, tapi hatinya tetap tertinggal di sana. Di luar, Rendi sudah menunggu, berdiri siap siaga dengan wajah datar. Namun matanya fokus pada leher Eden seperti bekas cakaran, dahinya berkerut sejenak namun ia memilih abai. “Tuan, hari ini ada pertemuan dengan para dewan direksi,” kata Rendi sambil membungkuk sopan, membiarkan Eden berjalan duluan. Eden mengangguk kaku, pikirannya masih kacau. Rendi melirik sekilas ke pintu kamar Lintang, ragu kenapa bosnya keluar dari sana sepagi ini namun melihat tanda itu, ia yakin ada sesuatu yang besar terjadi malam tadi. Penyiksaan. Ia sangat mengenal Eden, pria itu bisa menjadikan wanita samsak jika tak sesuai apa yang ia harapkan. Dan Rendi menebak Eden telah menghukum lintang dengan cara yang berbeda. “Apa wanita itu datang?” Rendi mengangguk. “Ya, Tuan. Nyonya besar Julia akan hadir di pertemuan nanti.” ** “Ughh... pria sialan itu menyiksa tubuhku lagi.” Lintang menggeliat pelan di ranjang, rasa sakit menusuk di seluruh tubuhnya yang remuk redam. Setiap gerak terasa seperti api membakar, tapi ia sudah terbiasa atau lebih tepatnya pura-pura biasa. Memang siapa yang betah di siksa setiap hari, bahkan orang gila pun akan menolak itu. “Kenapa mereka suka sekali menyiksa orang lain? Apa mereka punya kelainan?” gumam Lintang. Sebenarnya, ia bangun lebih dulu dari Eden. Tapi Lintang memilih berpura-pura tidur, matanya terpejam rapat. Lebih baik begini daripada harus menghadapi penyiksaan lagi. Tubuhnya sudah terlalu lelah untuk melawan. Kini, ia sendirian, Lintang terduduk perlahan. Ia menatap tubuhnya sendiri penuh bercak merah kissmark, seperti polkadot mengerikan yang tak bisa dihapus. Bibirnya berdecak kesal, air mata hampir jatuh tapi ia tahan. Ia tarik selimut menutupi tubuh, lalu bangkit dengan langkah tertatih. Tujuannya satu membersihkan diri dari segala bekas monster itu. Dan benar saja tadi Eden sempat menyentuhnya sejenak walau tak melewati batas, Lintang tetap merasa takut jika kejadian semalam kembali terulang lagi. Ia merasa jijik saat teringat pria itu memaksanya menerima benih pria itu. Langkahnya terseok masuk ke kamar mandi, kakinya gemetar dan sakit bukan kepalang membawa ke bathtub yang sudah terisi air. Dahinya berkerut bingung. “Kenapa ada airnya?” Airnya masih hangat, wangi aroma terapi yang menenangkan. Bersih, tak berbusa, seolah sengaja disiapkan baru-baru ini. Lintang berlutut, menyentuh permukaan air dengan jari gemetar. “Apa... monster itu yang mengisinya? Apa karena menyiksaku semalam kemudian dia kasihan?” Pikiran itu membuat hatinya campur aduk marah, tapi ada sedikit kehangatan yang tak ia mengerti. Kenapa dia repot-repot? Setelah menyiksanya semalaman? Tanpa pikir panjang, Lintang merendam diri. Air hangat meresap ke kulit, meringankan pegal dan sakit yang menusuk. Tubuhnya terasa ringan seketika, fresh seperti baru lahir. Tapi hati, hatinya tetap berat. “Sebenarnya, siapa monster itu? Apa tujuannya mengurungku selama ini?” Lintang mendongak ke langit-langit kamar mandi, tatapannya kosong, penuh tanya yang tak terjawab. Lintang mengangkat tangannya, memar di pergelangan. Bercak merah dimana-mana membuatnya mual. Lintang menggosok kasar tubuhnya. Berharap jejak menjijikan itu hilang saat itu juga namun semua usahanya sia-sia. “Aku menjijikan, aku kotor!” Setetes air mata jatuh ke pipinya. Ia usap kasar, tapi yang lain mengikuti membuat dadanya terasa sesak. Selama satu bulan ini, ia disiksa, diancam, dipaksa mengakui kesalahan yang bahkan ia tak tahu apa. “Aku hanya mengerjakan tugasku... tapi mereka menindasku,” batinnya terluka. Air mata semakin deras, isakan keluar tanpa suara hanya getar bahu yang menunjukan bahwa ia sungguh menangis. Ingatan pahit datang lagi para pria memukul, menendang, mencaci. Dan Eden... monster itu menghancurkan harga dirinya, merebut yang paling berharga dengan kasar. Hatinya berdenyut sakit, lelah yang tak terucap. Kenyataan kini tak lagi suci membuatnya frustasi, apa yang akan ia katakan pada Rega jika mereka menikah nanti. Kini ia tak lagi memiliki harta yang akan ia berikan kepada suaminya kelak. Apa Rega akan menerimanya yang tak lagi suci? Kegelapan menyambutnya, tubuhnya lemas terendam air. “Aku membenci kalian!”Baru beberapa langkah Eden meninggalkan kamar, ia kembali lagi ke dalam kamar Lintang, membuat wanita yang hampir saja terpejam seketika kembali tegak dudukMatanya menyiratkan kebingungan yang kentara. Tubuhnya waspada dan siaga.Eden berdiri di ambang pintu, menatap Lintang yang linglung. Entah mengapa, melihat wajah polos Lintang membuat Eden bersemangat.ia tidak tahu apa yang terjadi dengannya, namun saat melihat wanita itu ia menyukainya. Namun Eden berusaha mengenyahkan rasa itu dari hatinya. Ia tak akan membiarkan seseorang datang kedalam hidupnya dan mengacaukannya.Kakinya maju satu langkah, namun kemudian ia memutar tubuh dan membanting pintu dengan kuat. Eden meninggalkan Lintang yang menatap kepergiannya dengan kebingungan.Kakinya melangkah panjang menuju kamarnya sendiri.Alis Lintang terangkat dan dahinya berkerut, jari kecilnya menggaruk pipi yang tak gatal.“Ada apa dengan monster itu?” tanyanya pada keheningan ruangan.Ia mengangkat bahu singkat, lalu kembali merin
Eden kembali ke rumah saat malam telah larut.Tumpukan dokumen dan masalah kantor hari ini benar-benar menguras tenaganya. Kepalanya terasa pening, tubuhnya lelah, dan saat ia melangkah masuk, rumah sudah gelap gulita.Eden menaiki tangga menuju kamarnya di lantai tiga. Namun saat melewati lantai dua entah mengapa bayang-bayang Lintang tiba-tiba muncul di benaknya.Gadis itu, apa sudah baik-baik saja telah kejadian malam kemarin?Eden melirik jam di pergelangan tangan. Sudah lewat tengah malam, ia ragu sejenak, tapi entah mengapa seperti ada yang menariknya untuk melihat kondisi wanita itu. Ada rasa khawatir yang berusaha ia tepis membuat langkahnya terhenti di depan pintu yang tertutup rapat.Ada dorongan aneh yang membuatnya mendekat, dengan langkah hati-hati agar tak berbunyi, Eden mengeluarkan kunci dari sakunya dan memasukkan ke lubang kunci.Klik,Pintu terbuka pelan, Eden masuk dan menutupnya kembali tanpa suara.Ruangan remang-remang, hanya diterangi sorot rembulan yang mener
Setelah sarapan selesai, piring-piring kosong dibiarkan begitu saja di atas meja kecil di sudut kamar. Ema tidak langsung pergi seperti biasanya. Ia berdiri sebentar di ambang pintu, ragu, lalu kembali mendekat. Tatapannya tertuju pada Lintang yang duduk di tepi ranjang, tubuhnya agak membungkuk, pandangan kosong ke arah jendela yang selalu tertutup rapat. Ema mengerti. Tanpa perlu kata-kata, ia tahu apa yang telah terjadi malam tadi. Bekas-bekasnya masih terlihat jelas bahkan semakin jelas ,memar merah di lengan, kissmark merah keunguan mengintip di balik leher, wajah yang lebih pucat dari biasanya, dan cara Lintang duduk dengan kaki rapat dan tangan memeluk bantal seolah ingin melindungi diri dari dunia. Meski begitu, naluri seorang ibu—meskipun ia hanya pelayan—tetap mendorongnya untuk mendengar langsung dari mulut gadis itu. Ema menghela napas pelan, lalu duduk miring di pinggir kasur. Tangannya dengan lembut memijat betis Lintang yang terasa kaku, gerakan itu lebih untuk
Waktu sekarang… Seorang pelayan, berjalan tergopoh-gopoh, di tangannya nampan berisi sarapan pagi. Langkahnya bergema di lorong panjang menuju pintu hitam yang tertutup rapat. Hatinya terasa senang ketika ia bisa kembali ke ruangan ini, lebih tepatnya bertemu dengan seseorang di dalamnya. Namanya Ema, Hari ini ia telat beberapa menit karena kondisi dapur yang sibuk, sehingga tugasnya melayani sang nona lebih lambat dari waktu biasanya. Ketika ia masuk ke dalam kamar, Ema disambut dengan kondisi kamar yang berantakan. Lebih tepatnya hanya kasur yang berantakan, sprei terlepas dari kasur dan selimut yang teronggok di depan kamar mandi. Ia menggelengkan kepala, namun senyum tercetak di bibirnya. “Nona Lintang seperti anak kecil saja.” Gumamnya sambil merapikan sprei yang terlepas. Semenjak kejadian dimana ia mengobati Lintang sebulan yang lalu ia merasa begitu senang ketika dekat dengan Lintang, gadis itu seperti mawar cantik dan mempesona. Selama 30 tahun menikah tak dikaru
POV Lintang. Namaku Lintang Sabiru, aku hanyalah seorang gadis bisu dan miskin. Bekerja sebagai pencuci piring di sebuah restoran untuk menyambung hidupku. Setelah kematian ayah 3 tahun yang lalu, aku hanya bisa mengandalkan diri sendiri di usiaku yang masih muda. Sembilan belas tahun. Aku tak mengeluh, karena ayah tak pernah e mengajariku untuk mengeluh, walau dunia selalu jahat padaku, aku akan tetap bersinar seperti yang ayah ucapkan padaku. Hal yang tak pernah aku sangka adalah terkurung dalam rumah mewah yang menyeramkan. Padahal aku datang untuk mengantar pesanan tapi mereka menuduhku penyusup. Malam ini, di ruangan bawah tanah yang busuk dan berbau amis, aku merasa seluruh dunia menindih dadaku. Rantai besi yang mengikat kedua pergelangan ku sudah menggigit kulit hingga berdarah. Setiap kali aku bergerak sedikit saja, logam itu seperti mengingatkanku bahwa aku tak punya kuasa apa-apa di sini. Bahkan untuk lepas pun sulit. Tubuhku... ya Tuhan, aku bahkan tak beran
Pintu yang Lintang dorong perlahan terbuka lebar dengan keras, seolah ada tangan tak kasat mata yang menyentaknya dari dalam. Angin yang dingin malam menyergap masuk, membawa serta aroma logam dan keringat yang menyengat. Malam, Lintang baru menyadari waktu telah berganti, siang yang cerah tadi telah menghilang tergantikan gelapnya malam. Lintang membeku di ambang pintu. Tubuhnya seperti disiram air es, bukan hanya karena malam yang membuatnya terkejut melainkan sesuatu yang tak ia duga. Di halaman yang sangat luas, di atas rerumputan hijau ratusan pria berseragam hitam berdiri berbaris sempurna, tak bergerak, tak bersuara. Hanya sorot mata tajam tak berekspresi bagaikan raja hutan yang kejam, pistol-pistol di tangan mereka berkilau dingin seolah siap memuntahkan peluru ke setiap kepala yang bersalah. Pemandangan itu seperti di film-film yang pernah lintang lihat namun tak ia sangka ia akan melihatnya secara langsung. Napas Lintang tersengal. Tenggorokannya mendadak kering