Share

Bab 15. Julia 21+

Penulis: Nn_Effendie
last update Tanggal publikasi: 2026-01-05 22:23:47

Julia memberontak.

Tubuhnya bergerak tak tentu arah.

"sialan! lepaskan tanganku!"

"siapa kalian berani memperlakukanku seperti ini, ha?

Namun para security yang menyeret Julia sama sekali tidak menjawab.

Wajah mereka tetap datar, meski tangan dan wajah mereka penuh cakaran akibat perlawanan Julia.

“Maaf, Nyonya. Ini perintah Tuan Eden. Kami tidak bisa membantah.”

"Aku istri pemilik perusahaan ini! beraninya kalian menyeretku seperti ini!”

Bruuk!

"Maaf Nyonya Besar. Kami hanya menjalankan perintah.”

Dua satpam itu melempar kasar Julia hingga tubuh wanita itu terhempas di halaman perusahaan.

Julia terdiam sesaat, lalu bangkit sambil menunjuk mereka dengan mata menyala.

"Lihat saja nanti. Aku akan membalas kalian."

Julia berbalik dan berjalan cepat menuju sebuah taksi yang sudah terparkir tak jauh dari sana.

Entah siapa yang memesannya dia tak peduli.

Rasa malu menggerogotinya saat tatapan penuh hinaan dan kata-kata ejekan karyawan Eden. Rasa marah bergelora di dada sampai tak sadar membentak sopir taksi.

“Cepat jalan, sialan!”

Sopir taksi yang tadinya asik main handphone melajukan mobilnya dengan gugup, matanya melirik takut Julia. Namun Julia menyadari itu.

“Apa lihat-lihat?!”

Sopir taksi itu menggeleng ribut, kemudian fokus jalan di depan.

‘Galak banget. Padahal udah tua gak takut darah tinggi apa?’ batinnya ngeri sedap

Beberapa menit kemudian, taxi tiba di sebuah rumah besar. Julia membanting pintu mobil dan berjalan angkuh.

"Ck, mati stroke mampus!" sopir taxi berdecak kesal.

Julia memasuki rumah itu dengan amarah yang masih membakar dada.

Saat ia masuk, disambut seorang pria tergeletak santai di sofa. Bungkus Snack berserakan di lantai. Gelas kopi dan minuman alkohol memenuhi meja.

Julia langsung menghampirinya dan mencium pria itu secara kasar, membuat pria itu terkejut. Namun sesaat kemudian, pria itu membalas ciuman lebih ganas.

Merasakan keanehan pada Julia, ia menarik wajahnya. Menangkup wajah Julia yang merah. Napas wanita itu ngos-ngosan dan matanya berkilat amarah.

"Kenapa sayang? kenapa marah-marah hmm?"

Julia mendengus kasar, " Eden mengusirku! dia mempermalukanku di depan semua orang!"

pria itu berusaha tersenyum, "Jadi maksudmu kamu gagal lagi kali ini?!" Ucapnya tepat sasaran.

Julia mengangguk. "Arthur, sangat susah menggulingkan Eden. Semua orang berpihak padanya!" ucap Julia menggebu. “Aku lelah!”

“Aku tahu kamu lelah sayang." Arthur mengusap pipi Julia, "tapi apa kamu mau melihat Eden hidup enak berlimpahan harta sedangkan kamu kesusahan?”

“Tentu saja nggak mau!” Sambar Julia berteriak.

"Maka dari itu. Apa kamu akan pasrah saja sayang? apa kamu tidak memikirkan masa depan kita?" ujar Arthur penuh kelembutan. Jarinya menyibak helai rambut yang menutupi wajah istrinya.

"Kita bisa cari dukungan."

"Darimana?"

"Kamu lupa? kamu istri pengusaha besar Adam, walaupun pria itu sudah mati, kau berhak mendapatkan warisan darinya. Semua orang pasti akan mengerti."

"Apalagi selama ini kamu tidak pernah muncul di media, semua orang tahu Seorang Julia adalah wanita baik-baik,"

Julia mengigit bibirnya, mengingat kejadian beberapa saat lalu. Ia mendadak ragu.

"Tapi mereka sudah menilai ku jelek, Arthur."

Arthur mencium tangan julia, matanya mengerling nakal, "kita cari cara yang lain. Ingat Julia, ada hak kamu yang seharusnya jatuh padamu. Kamu berkorban begitu besar untuk mereka!"

"Aku nggak mau kamu hidup susah sedangkan anak kamu hidup penuh kekayaan."

Julia terpengaruh, wanita paruh baya itu tersenyum, "tentu sayang..tapi sekarang puaskan aku dulu. Aku akan mengambil apa yang seharusnya milikku!”

Arthur tersenyum puas, “ini baru istriku. Cantik, sexi dan cerdas!” Arthur meniup leher Julia membuat tubuh wanita itu merinding.

“Ahh, Arthur. Aku menginginkanmu!"

Julia meremas kejantanan Arthur yang masih tersimpan di dalam celana, pria itu terkekeh menyambut godaan Julia dengan serius.

“Aku rindu milikmu menghantam milik ku dengan kasar!”

"As you wish, baby."

Arthur meremas kasar payudara Julia, bibirnya mencium kasar bibir merah polesan gincu mahal.

Gairah menggebu dalam dirinya membuatnya seketika membanting tubuh Julia di atas sofa.

Di sofa ruang tamu itu, Arthur menelanjangi Julia, mencium, meremas dan menyiksa penuh kenikmatan.

Wanita paruh baya itu ngos-ngosan nafasnya saling berebut, namun kepuasan tercetak jelas di wajahnya. Napsunya menggebu liar.

"Ahh...Arthur!"

Julia memeluk erat tubuh Arthur saat pinggul pria itu bergerak cepat, menusuk dalam dirinya.

Keringat membanjiri tubuh mereka, tetapi gairah semakin membara.

"Ah Juliaa...milikmu sangat sempit!"

"Lebih cepat Arthur! lebih cepat!"

Arthur tersenyum miring, merasa tertantang, "tentu sayang. Rasakan miliku ini!”

Pinggulnya bergerak cepat menghantam vagina Julia tanpa ampun, rahangnya mengeras saat rasa hangat dan panas meremas kejantananya yang terus bergerak keluar masuk.

"Aahh Arthur! Lagi! Lagi!”

Entah sudah berapa kali mencapai pelepasam, namun bukanya puas tubuh Julia malah terasa semakin panas, miliknya yang basah kuyup terasa semakin gatal.

Julia membalik tubuh, duduk tepat di atas kejantanan Arthur dan menggoyangnya liar.

"Ahh Julia!”

Arthur memegang pinggul Julia, membantu gerakan wanita itu. Matanya tak lepas dari tubuh yang mulai keriput itu bergerak brutal di atas tubuhnya.

“Ahh sayang. Aku ingin keluar!”

Arthur meraup payudara Julia dan meremasnya kemudian menghisapnya kuat, membuat istrinya semakin bergerak liar.

Bunyi kecipak memenuhi ruangan, mereka tak peduli sekalipun kegiatan mereka dilihat maid yang sedang bekerja.

“Shh, juliaa….”

“Aahh yah Arthur, lagi! Lagi!”

Arthur membalik tubuh Julia menjadi membungkuk, kejantanannya masuk dari belakang menghantam vagina yang telah basah. Tangannya menjambak rambut panjang Julia yang tadinya di gelung.

Julia mendongak, tubuhnya terhentak kedepan ke belakang saat gerakan pinggul Arthur semakin cepat. Rasa panas di miliknya tak membuatnya berhenti.

Kebas, nyeri, dan licin namun saat gelombang besar itu datang ia selalu puas dan menginginkan lebih.

“Ahh Julia. Aku ingin keluar!”

Arthur bergerak semakin cepat, rahangnya mengeras kuat saat otot vagina Julia menjepit miliknya hingga sesuatu mendesak keluar menyembur kuat kedalaman rahim Julia.

"Aku keluar!"

“Ak-aku juga ke-luar!” tubuh Julia terhentak-hentak saat gelombang itu datang lagi.

“Aahh…”

Lolongan panjang lolos dari bibir wanita yang tak lagi muda itu, tubuhnya terkapar lemas, semburan panas di rahimnya membuatnya bergetar.

Arthur yang menindih Julia menggulingkan tubuhnya di samping dan memeluk erat wanita itu.

"Sayang! milikmu luar biasa. Selalu membuatku puas."

Arthur berbisik tepat di telinga Julia membuat wanita itu mendesah dan merona wajahnya. Julia menenggelamkan wajahnya di dada Arthur yang terbuka.

Sebagai wanita yang pernah melahirkan dan di umurnya yang kepala lima, tentu pujian itu membuatnya percaya diri dan semakin cinta kada Arthur. Tanpa ia sadari itu hanya trik Arthur untuk membuatnya bertahan di sisi pria itu.

"Kamu juga hebat sayang. Aku juga selalu puas." bisiknya Julia membalas.

Arthur tersenyum bangga, "Tentu saja. Miliku memang ditakdirkan untukmu. Memuaskanmu.”

Arthur mengecup kening Julia, “tapi jangan lupa kita harus segera merebut hak kamu dari mereka!" Tekannya.

Julia mengangguk samar. “Iya.”

Arthur tersenyum penuh arti, 'bodoh!" batinnya.

Lima tahu menjadi selingkuhan, kini ia telah resmi menjadi suami Julia.

Namun hal yang tak ia sangka, Julia tak sekaya yang ia bayangkan.

Kekayaan yang selama ini ia bayangkan nyatanya milik Adam Hadenburgh.

Napas teratur menyentuh dadanya, Arthur menunduk menatap sang istri yang telah terpejam. Wanita itu kelelahan setelah mencapai puncak berkali-kali.

"Dengan cara ini, aku bisa menguasai kekayaan kalian." gumam Arthur jahat.

Ia melepas jijik tubuh Julia yang menempel padanya.

Jika bukan karena terpaksa ia tak akan sudi mendekati wanita tua yang terlelap di dekapan nya

‘Sebentar lagi. Aku harus bertahan. Sebentar lagi kekayaan mereka akan menjadi miliku!”

Arthur bangkit dan meninggalkan Julia seorang diri, membiarkan wanita itu terlelap tanpa sehelai benangpun di tubuhnya.

Ia juga tak peduli jika seorang penjaga melihat istrinya telanjang bulat. Karena dalam pikirannya hanyalah uang dan kekuasaan.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Gadis Bisu Tahanan Mafia   Bab 52

    Setelah seharian tak melihat Lintang rasa rindu membuncah di dada Eden. Karena kesibukannya di kantor ia tak bisa menemui wanita itu.Dan sekarang di jam yang masih sangat pagi Eden datang dengan nampan berisi sarapan. Langkahnya yang tegap berbalut jas mahal melekat. Bibirnya lurus tak beriak, namun sorot matanya sedikit hangat.Cklek!Eden membuka pintu, matanya berpendar. Menatap tubuh berbalut selimut putih yang meringkuk. Kemudian meletakkan nampan di atas nakas.Eden duduk di tepi ranjang. Tangannya terulur menyingkap anak rambut yang menutupi wajah Lintang.Merasakan seseorang menyentuhnya. Perlahan mata Lintang terbuka. Netra elang dengan sorot datar menjadi hal pertama yang menyambutnya. Wajah datar tanpa sedikitpun garis kebahagian, namun sayangnya sangat tampan.Lintang menatap Eden dari atas hingga bawah. Pria itu hanya diam menaikan alisnya. Sedikit geli dengan respon wanita itu.Lintang masih belum sadar. Jika pria pria yang di depanya adalah monster yang selalu menyiksa

  • Gadis Bisu Tahanan Mafia   Bab 51. Pil

    Di tempat yang lain,Sepasang suami istri mengintimidasi seorang wanita yang menurut mereka mencurigakan. Berpakaian pelayan dan menunduk hormat . Bahunya sedikit bergetar seperti ketakutan.“Jadi apa jaminan kau setia pada kami?” Pelayan itu menaikan wajahnya. Menatap Julia dan Arthur dengan berani. Kegelisahan dalam hatinya ia buang jauh-jauh.“Saya menggadaikan nyawa saya. Jika saya berkhianat saya rela mati. Asal…” ia menghentikan kalimatnya. Matanya terpejam erat seolah untuk mengatakan kalimat selanjutnya membutuhkan tenaga besar.Arthur dan Julia saling pandang. Kedua alisnya naik, menanti kalimat selanjutnya.“Asal Tuan dan Nyonya memberikan bayaran yang setimpal.” Lanjutnya kemudian.Ia sudah merasa sangat frustasi. Ibunya yang sangat ia cintai terbaring tak sadarkan diri di ranjang rumah sakit. Gagal jantung yang ibunya derita membuatnya dilanda ketakutan. Takut akan kehilangan.Pihak rumah sakit mengatakan harus menjalani transplantasi jantung. Dan semua itu membutuhkan bi

  • Gadis Bisu Tahanan Mafia   Bab 50

    “Nona, atas nama Tuan, saya meminta maaf. Beliau selalu kasar padamu.” Aku hanya diam, menatap hamparan mawar dari balik jendela dengan tatapan kosong. Di tengah ruangan, Rendi sibuk mengganti seprai. Suaranya mengalun pelan, namun entah mengapa, aku menangkap nada kesungguhan yang ganjil di sana. “Tuan memang keras, tapi semua itu ada sebabnya,” lanjutnya lagi. Aku tetap tak bergeming. Namun saat aku menoleh, dia rupanya sudah menatapku lebih dulu. “Tuan tidak menyukai pembangkangan. Kebetulan, Nona selalu melawan dan memancing amarahnya. Itulah yang membuatnya bertindak lebih kasar.” Cih. Aku mendengus sinis. Dia bilang aku yang memancingnya? Bahkan sejak detik pertama aku menginjakkan kaki di neraka ini, pria itu sudah hampir membunuhku dengan siksaannya. Dia binatang. Monster menjijikkan yang bersembunyi di balik setelan mahal. Tatapanku menajam. Selama hampir sebulan ini, Rendi adalah satu-satunya wajah yang rutin kulihat. Dia yang memberiku makan, mengganti seprai, atau

  • Gadis Bisu Tahanan Mafia   Bab 49

    Lintang terbangun dengan rasa frustrasi yang menggantung. Pikirannya hancur berantakan, sama seperti hatinya. Ia memikirkan bagaimana nasib Damar dan Ema, juga kekasih serta sahabatnya, Sasa. Semuanya bercampur menjadi satu, menyesakkan dada."Aw, milikku sakit," rintihnya pelan.Ia bangkit, melangkah menuju kamar mandi yang letaknya sedikit jauh. Kamar Eden selalu gelap, dan Lintang sudah terbiasa dengan kegelapan itu. Dengan langkah tertatih, ia memasuki kamar mandi.Bersandar pada wastafel, Lintang menatap pantulan dirinya di cermin. Kantung mata hitam, rambut berantakan, sudut bibir pecah dan berdarah, serta wajah yang sama sekali tidak memancarkan aura kehidupan. Ia terlihat semakin kurus setiap harinya. Tulang selangkanya menonjol dan garis pipinya semakin tirus.Tangannya menengadah, menyiramkan air dingin ke wajahnya yang kuyu. "Bagaimana bisa semua ini menimpaku?"Tubuhnya luruh, jatuh ke lantai dengan rasa putus a

  • Gadis Bisu Tahanan Mafia   Bab 48.

    Setelah menyiksa Lintang seminggu terakhir, kini Eden kembali menginjakkan kakinya di perusahaan. Namun, baru saja tiba di lobi, pemandangan Julia dan Arthur yang bercumbu panas membuat darahnya mendidih.Langkahnya kian cepat. Begitu sampai di dekat mereka, Eden menarik tangan Arthur dengan kasar lalu melayangkan tonjokan keras ke wajah pria itu.Serangan tiba-tiba itu mengejutkan semua orang. Beberapa karyawan yang sedang melintas langsung menghentikan langkah mereka. Napas Eden memburu, ia menatap bengis Arthur yang terjerembab di lantai. Pria itu menyeka sudut bibirnya yang berdarah, matanya menatap Eden dengan penuh kebencian.Julia yang menyadari perlakuan mengejutkan Eden langsung membantu Arthur berdiri, lalu menatap sang anak dengan tajam."Apa yang kamu lakukan, Eden?!" teriaknya penuh amarah.Suara Julia memancing perhatian. Dalam sekejap, mereka dikelilingi oleh para karyawan yang penasaran."Kau merebut kursi kuasaku, dan sekarang kau mengotori perusahaanku dengan hal men

  • Gadis Bisu Tahanan Mafia   Bab 47. Alex

    Penyiksaan belum usai.Setelah Damar, Lintang diseret menuju tempat di mana Ema berada. Wanita itu terlihat sangat lemah, bahkan sekadar bernapas saja tampak kesulitan.Lintang spontan berlari menghampirinya, namun tarikan kasar dari Eden membuat tubuhnya terhempas dan menubruk tubuh besar pria itu. Tatapan tajam dari Eden seolah memperingatinya, membuat Lintang seketika patuh.Namun pandangannya terus terpaku pada Ema yang terbaring di ranjang seperti pasien rumah sakit. Wanita itu memang mengenakan pakaian pasien, benar-benar seperti orang yang sedang dirawat – tapi yang terjadi di ruangan ini sungguh berbeda dengan rumah sakit yang sebenarnya.Di sisi kanan ranjang, seorang pria memegang pisau yang sangat tajam. Kilauan logamnya menyilaukan mata Lintang. Setelah menatap Eden sebentar, tangannya perlahan bergerak menuju tubuh lemah Ema yang masih memejamkan mata.Ruangan ini lebih tenang dan sunyi ketimbang tempat Damar. Sekecil apapun gerakan terasa begitu nyaring di telinga, seper

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status