Share

Bab 16. Mabuk

Author: Nn_Effendie
last update publish date: 2026-01-06 22:19:22

“Cukup, Tuan. Anda sudah terlalu mabuk!”

Rendi berusaha mengingatkan Eden yang tak berhenti meneguk whisky. Sejak masalah di kantor tadi siang selesai Eden langsung menuju klub paling terkenal di pusat kota.

Memesan beberapa botol wishky dan alkohol kadar tinggi lainya.

Hampir sebulan tak memasuki tempat haram ini, Eden kembali pada kebiasaannya minum alkohol saat frustasi.

Rendi sampai hafal karena pola itu selalu terjadi sejak atasannya itu remaja. Dan lagi-lagi ia bertugas untuk menjaga Eden dengan baik.

“Tuan. Anda sudah minum terlalu banyak!” Rendi menatap dua botol kosong, satu botol masih dalam genggaman Eden.

Hampir tiga botol whisky Eden habiskan dalam waktu tak sampai satu jam. Wajahnya sudah memerah, matanya bergerak liar, namun tak sedikit pun pria itu berhenti.

“Tuan…”

“Diam.”

Eden kembali meneguk cairan coklat itu, membiarkan rasa panas mengalir di tenggorokannya.

Matanya terpejam sejenak.

Fisik dan pikiran yang kacau membuat rasa panas itu menghilangkan bebannya. Tubuhnya terasa ringan tak memiliki beban.

“Sialan... wanita itu sampai kapan akan terus berbuat ulah!” Eden mengumpat kasar, membuat Rendi yang di sampingnya terlonjak.

Asistennya itu sigap mengulurkan tangan saat merasakan tubuh bosnya sedikit terhuyung.

“Tuan, Anda tidak apa-apa?”

“Ck, pergi. Aku tidak mabuk!”

Rendi sangat mengerti kegelisahan Eden karena seorang wanita yang seharusnya menjadi rumah, menjadi pusat dunianya. Namun justru kehadiran wanita itu adalah luka bagi Eden.

“Julia sialan, jika berani mengacaukan lagi aku tak segan-segan membunuhnya!”

Rendi bergidik ngeri.

Eden masih sadar seratus persen.

Tiga botol whisky itu tak akan mampu membuatnya kehilangan kesadaran. Hingga umpatan itu murni kekesalan yang telah lama terpendam.

“Tuan, seb—”

Belum selesai ucapan Rendi, Eden bangkit dan meninggalkan asistennya itu tanpa bicara.

Melihat kepergian Eden, Rendi berteriak, “Tuan. Tunggu!”

Rendi mengejar Eden. Bosnya itu nampak terhuyung walau tak sampai jatuh. Rendi mengikuti dari belakang hingga mereka tiba di parkiran.

Eden langsung memasuki mobilnya yang terparkir di tempat khusus. Rendi segera menyusul, memasuki kursi kemudi kemudian melajukan kendaraan itu.

Eden hanya diam, membiarkan Rendi yang menyetir. Keduanya hening tanpa satu patah pun terucap.

Beberapa saat kemudian, mereka tiba di rumah.

Lintang sedang termenung di dekat jendela yang selalu tertutup rapat saat melihat Rendi memapah Eden.

Alis Lintang berkerut bingung saat melihat Eden yang nampak berantakan. Jas yang biasanya terpasang rapi kini terlepas dari tubuhnya, lengan kemeja terlipat ke siku, rambut acak-acakan, dan jalannya sedikit terhuyung.

“Apa pria itu mabuk?” gumam Lintang bertanya-tanya dalam hati.

Wajahnya semakin mendekat ke kaca jendela untuk melihat lebih jelas sampai pria itu menghilang di balik pintu. Ia kemudian melanjutkan aktivitasnya untuk melamun.

“Pergi!”

Eden melepaskan diri dari Rendi. Ia berusaha berdiri walau tubuhnya terasa sedikit lemas. Kepalanya terasa sedikit berputar.

“Tapi, Tuan…”

Rendi ragu, namun kegigihan Eden membuatnya melepas tubuh bosnya. Ia membiarkan Eden menaiki tangga dengan langkah yang sesekali oleng.

Helaan napas panjang lolos dari bibirnya. Setelah Eden tak terlihat lagi, ia pun berbalik dan pergi. Sedangkan Eden melanjutkan langkahnya menuju kamarnya.

Aroma mawar melintas di hidung Eden. Ia menghentikan langkah. Wajahnya menoleh ke arah lorong menuju sebuah kamar yang berada di ujung.

Satu-satunya ruangan yang berada di lantai dua.

Kakinya tanpa sadar melangkah, menuju pintu yang sejak tadi menarik perhatiannya. Tatapannya tak lepas dari daun pintu, seolah bisa menembus isi di dalamnya.

Setibanya di depan kamar Lintang, tanpa basa-basi Eden langsung membukanya.

Lintang yang asyik menikmati cahaya rembulan seketika menoleh. Matanya membulat saat pria yang baru saja ia lihat di halaman kini sudah berada di ruangan yang sama dengannya.

“Lintang…” panggil Eden.

Suaranya lirih, namun terasa begitu keras di heningnya kamar.

Walaupun tanpa penerangan cahaya, ia masih bisa melihat siluet Lintang yang berada di dekat jendela. Karena tak bisa melihat dengan jelas wajah Lintang ia pun mendekati saklar.

Ctek!

Eden menyalakan lampu, membuatnya spontan menutup mata sejenak karena silau.

Begitu pun Lintang tangannya menutupi wajah saat cahaya putih menerobos masuk ke dalam retina.

“Lintang…” panggil Eden lagi.

Matanya tak lepas dari wanita yang kini duduk tegak. Wajah gadis itu tegang dan kaku.

Eden semakin mendekat hingga menyisakan jarak beberapa inci. Ia bisa mencium aroma mawar yang menenangkan dari tubuh lintang.

Kakinya terus mendekat, membuat Lintang reflek berdiri.

“Kau mau apa?” tanya Lintang.

Eden menatap wajah Lintang, turun ke bibir, memperhatikan gerak bicara gadis itu.

Tanpa menjawab, Eden semakin mendekat—semakin dekat hingga keduanya menempel. Ia bisa merasakan deru napas Lintang yang memburu menerpa dadanya yang sedikit terbuka.

Tangan Eden terangkat, mengelus pipi Lintang. Matanya tak berkedip menatap wajah cantik yang polos itu.

Walaupun tanpa sentuhan make-up, Eden kagum karena Lintang sangat cantik.

Lintang bingung dengan tingkah Eden. Ia berusaha menghindar, namun tubuhnya terjepit antara Eden dan dinding di belakangnya. Tangan pria itu menyentuh pipi dan perlahan turun mengelus bibirnya.

Napasnya tercekat. Matanya menatap mata elang abu-abu yang meredup. Biasanya ia akan melihat tatapan tajam dan datar, namun kini entah mengapa seperti ada magnet yang menariknya untuk menatap netra elang itu.

“Lintang!”

Bruk!

Eden jatuh ke dalam pelukan Lintang. Wanita itu terkejut, reflek memeluk Eden yang tiba-tiba ambruk ke depan. Tubuh pria itu terasa lemas dan berat menimpa tubuhnya.

“Ya Tuhan… dia ini manusia atau gajah?” batin Lintang sambil menjaga keseimbangan.

Ia ragu sejenak sebelum akhirnya memberanikan diri menepuk punggung Eden. Namun tak ada reaksi hingga Lintang menebak Eden pingsan.

Eden yang masih menjaga sisa kesadarannya berusaha bangkit, namun tubuhnya terasa seperti dilem sehingga sulit lepas dari Lintang.

Tangannya kemudian melingkar di perut Lintang, membuat tubuh wanita itu seketika kaku.

“Ya Tuhan… apa yang dilakukan pria ini?” batin Lintang menjerit.

Rasa takut kembali datang, namun sebisa mungkin ia mengabaikannya. Perlahan Lintang mengangkat kakinya, bergerak menuju ranjang walau kesusahan.

Sampai hampir setengah jam, akhirnya ia bisa menjatuhkan Eden ke atas kasur. Tubuhnya bersimbah keringat. Lintang merasa seperti baru berlari lima kilometer.

“Dia sungguh berat! Seperti gajah!”

Lintang berkacak pinggang. Tubuhnya berbalik hendak pergi, namun tiba-tiba Eden menariknya kuat.

Tubuhnya jatuh telak di atas tubuh Eden. Lintang panik. Ia berusaha bangun dari jatuhnya, namun lengan Eden memeluknya erat.

Eden menarik napas panjang, menghirup aroma mawar yang membuatnya tenang. Efek alkohol perlahan menghilang walau tak langsung hilang semua.

“Aku suka. Aku suka wangi kamu, Lintang!” ucap Eden dengan mata terpejam. Nada bicaranya lirih, namun terasa hangat di telinga Lintang.

“Menenangkan sekaligus membuatku bergairah.”

Lintang berusaha mengelak, namun lagi-lagi ia kesusahan.

Merasakan Lintang yang terus melawan, Eden membalik tubuh mereka hingga Lintang berada di bawah.

Lintang semakin panik. Ketakutan menguasai dirinya hingga tubuhnya bergetar tanpa sadar.

Lintang berusaha mendorong tubuh Eden, namun pria itu justru menarik kedua tangannya ke atas kepala. Wajah pria itu mendekat. Lintang bisa merasakan deru napas pria itu menyentuh lehernya.

“Shh… Lintang!”

Eden menggeram. Rasa panas tiba-tiba meningkat. Tubuhnya terasa seperti terbakar dan membutuhkan air penenang.

Tubuh lintang bergerak tak beraturan berusaha melepaskan diri, namun tak ia tahu lututnya menyenggol sesuatu yang keramat membuat Eden mengerang pelan.

Rahang Eden mengeras kuat, matanya terpejam erat saat lutut wanita itu menyentuh kejantanannya yang berdiri.

“Diam, Lintang! Kau membuatnya bangun!” bisik Eden lirih. Namun justru membuat Lintang merinding.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Gadis Bisu Tahanan Mafia   Bab 52

    Setelah seharian tak melihat Lintang rasa rindu membuncah di dada Eden. Karena kesibukannya di kantor ia tak bisa menemui wanita itu.Dan sekarang di jam yang masih sangat pagi Eden datang dengan nampan berisi sarapan. Langkahnya yang tegap berbalut jas mahal melekat. Bibirnya lurus tak beriak, namun sorot matanya sedikit hangat.Cklek!Eden membuka pintu, matanya berpendar. Menatap tubuh berbalut selimut putih yang meringkuk. Kemudian meletakkan nampan di atas nakas.Eden duduk di tepi ranjang. Tangannya terulur menyingkap anak rambut yang menutupi wajah Lintang.Merasakan seseorang menyentuhnya. Perlahan mata Lintang terbuka. Netra elang dengan sorot datar menjadi hal pertama yang menyambutnya. Wajah datar tanpa sedikitpun garis kebahagian, namun sayangnya sangat tampan.Lintang menatap Eden dari atas hingga bawah. Pria itu hanya diam menaikan alisnya. Sedikit geli dengan respon wanita itu.Lintang masih belum sadar. Jika pria pria yang di depanya adalah monster yang selalu menyiksa

  • Gadis Bisu Tahanan Mafia   Bab 51. Pil

    Di tempat yang lain,Sepasang suami istri mengintimidasi seorang wanita yang menurut mereka mencurigakan. Berpakaian pelayan dan menunduk hormat . Bahunya sedikit bergetar seperti ketakutan.“Jadi apa jaminan kau setia pada kami?” Pelayan itu menaikan wajahnya. Menatap Julia dan Arthur dengan berani. Kegelisahan dalam hatinya ia buang jauh-jauh.“Saya menggadaikan nyawa saya. Jika saya berkhianat saya rela mati. Asal…” ia menghentikan kalimatnya. Matanya terpejam erat seolah untuk mengatakan kalimat selanjutnya membutuhkan tenaga besar.Arthur dan Julia saling pandang. Kedua alisnya naik, menanti kalimat selanjutnya.“Asal Tuan dan Nyonya memberikan bayaran yang setimpal.” Lanjutnya kemudian.Ia sudah merasa sangat frustasi. Ibunya yang sangat ia cintai terbaring tak sadarkan diri di ranjang rumah sakit. Gagal jantung yang ibunya derita membuatnya dilanda ketakutan. Takut akan kehilangan.Pihak rumah sakit mengatakan harus menjalani transplantasi jantung. Dan semua itu membutuhkan bi

  • Gadis Bisu Tahanan Mafia   Bab 50

    “Nona, atas nama Tuan, saya meminta maaf. Beliau selalu kasar padamu.” Aku hanya diam, menatap hamparan mawar dari balik jendela dengan tatapan kosong. Di tengah ruangan, Rendi sibuk mengganti seprai. Suaranya mengalun pelan, namun entah mengapa, aku menangkap nada kesungguhan yang ganjil di sana. “Tuan memang keras, tapi semua itu ada sebabnya,” lanjutnya lagi. Aku tetap tak bergeming. Namun saat aku menoleh, dia rupanya sudah menatapku lebih dulu. “Tuan tidak menyukai pembangkangan. Kebetulan, Nona selalu melawan dan memancing amarahnya. Itulah yang membuatnya bertindak lebih kasar.” Cih. Aku mendengus sinis. Dia bilang aku yang memancingnya? Bahkan sejak detik pertama aku menginjakkan kaki di neraka ini, pria itu sudah hampir membunuhku dengan siksaannya. Dia binatang. Monster menjijikkan yang bersembunyi di balik setelan mahal. Tatapanku menajam. Selama hampir sebulan ini, Rendi adalah satu-satunya wajah yang rutin kulihat. Dia yang memberiku makan, mengganti seprai, atau

  • Gadis Bisu Tahanan Mafia   Bab 49

    Lintang terbangun dengan rasa frustrasi yang menggantung. Pikirannya hancur berantakan, sama seperti hatinya. Ia memikirkan bagaimana nasib Damar dan Ema, juga kekasih serta sahabatnya, Sasa. Semuanya bercampur menjadi satu, menyesakkan dada."Aw, milikku sakit," rintihnya pelan.Ia bangkit, melangkah menuju kamar mandi yang letaknya sedikit jauh. Kamar Eden selalu gelap, dan Lintang sudah terbiasa dengan kegelapan itu. Dengan langkah tertatih, ia memasuki kamar mandi.Bersandar pada wastafel, Lintang menatap pantulan dirinya di cermin. Kantung mata hitam, rambut berantakan, sudut bibir pecah dan berdarah, serta wajah yang sama sekali tidak memancarkan aura kehidupan. Ia terlihat semakin kurus setiap harinya. Tulang selangkanya menonjol dan garis pipinya semakin tirus.Tangannya menengadah, menyiramkan air dingin ke wajahnya yang kuyu. "Bagaimana bisa semua ini menimpaku?"Tubuhnya luruh, jatuh ke lantai dengan rasa putus a

  • Gadis Bisu Tahanan Mafia   Bab 48.

    Setelah menyiksa Lintang seminggu terakhir, kini Eden kembali menginjakkan kakinya di perusahaan. Namun, baru saja tiba di lobi, pemandangan Julia dan Arthur yang bercumbu panas membuat darahnya mendidih.Langkahnya kian cepat. Begitu sampai di dekat mereka, Eden menarik tangan Arthur dengan kasar lalu melayangkan tonjokan keras ke wajah pria itu.Serangan tiba-tiba itu mengejutkan semua orang. Beberapa karyawan yang sedang melintas langsung menghentikan langkah mereka. Napas Eden memburu, ia menatap bengis Arthur yang terjerembab di lantai. Pria itu menyeka sudut bibirnya yang berdarah, matanya menatap Eden dengan penuh kebencian.Julia yang menyadari perlakuan mengejutkan Eden langsung membantu Arthur berdiri, lalu menatap sang anak dengan tajam."Apa yang kamu lakukan, Eden?!" teriaknya penuh amarah.Suara Julia memancing perhatian. Dalam sekejap, mereka dikelilingi oleh para karyawan yang penasaran."Kau merebut kursi kuasaku, dan sekarang kau mengotori perusahaanku dengan hal men

  • Gadis Bisu Tahanan Mafia   Bab 47. Alex

    Penyiksaan belum usai.Setelah Damar, Lintang diseret menuju tempat di mana Ema berada. Wanita itu terlihat sangat lemah, bahkan sekadar bernapas saja tampak kesulitan.Lintang spontan berlari menghampirinya, namun tarikan kasar dari Eden membuat tubuhnya terhempas dan menubruk tubuh besar pria itu. Tatapan tajam dari Eden seolah memperingatinya, membuat Lintang seketika patuh.Namun pandangannya terus terpaku pada Ema yang terbaring di ranjang seperti pasien rumah sakit. Wanita itu memang mengenakan pakaian pasien, benar-benar seperti orang yang sedang dirawat – tapi yang terjadi di ruangan ini sungguh berbeda dengan rumah sakit yang sebenarnya.Di sisi kanan ranjang, seorang pria memegang pisau yang sangat tajam. Kilauan logamnya menyilaukan mata Lintang. Setelah menatap Eden sebentar, tangannya perlahan bergerak menuju tubuh lemah Ema yang masih memejamkan mata.Ruangan ini lebih tenang dan sunyi ketimbang tempat Damar. Sekecil apapun gerakan terasa begitu nyaring di telinga, seper

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status