تسجيل الدخولEden menatap dalam wajah Lintang yang panik. Satu tangannya keatas mengelus bibir Lintang yang bergetar. Mata gadis itu bergerak liar. Ketakutan jelas terpancar di wajahnya. "Lintang...Kau tahu kenapa aku tak melepaskanmu?" Elusan tangan Eden semakin turun, melewati leher jenjang Lintang yang putih dan berhenti tepat di gundukan besar yang bergoyang-goyang. Napas Lintang tak beraturan, air mata sudah jatuh membasahi wajahnya. Ia sangat takut Eden kembali menyiksanya seperti beberapa hari yang lalu. "Kau tahu...awalnya aku ingin membunuhmu saja tapi..." Eden meremas lembut dada Lintang membuat mata Lintang spontan melebar. Tubuhnya mendadak kaku. Wajah Eden terkekeh menampilkan seringai puas. "Tubuhmu membuatku tertarik." bisiknya di telinga Lintang. "Bajingan!" Umpat Lintang. Wajah Eden jauh dari kata bersahabat, pria itu terlihat menggertakan giginya. Amarah menyelimutinya saat paham apa yang Lintang katakan. Sekalipun lintang bisu tapi apa yang gadis itu kataka
“Cukup, Tuan. Anda sudah terlalu mabuk!” Rendi berusaha mengingatkan Eden yang tak berhenti meneguk whisky. Sejak masalah di kantor tadi siang selesai Eden langsung menuju klub paling terkenal di pusat kota. Memesan beberapa botol wishky dan alkohol kadar tinggi lainya. Hampir sebulan tak memasuki tempat haram ini, Eden kembali pada kebiasaannya minum alkohol saat frustasi. Rendi sampai hafal karena pola itu selalu terjadi sejak atasannya itu remaja. Dan lagi-lagi ia bertugas untuk menjaga Eden dengan baik. “Tuan. Anda sudah minum terlalu banyak!” Rendi menatap dua botol kosong, satu botol masih dalam genggaman Eden. Hampir tiga botol whisky Eden habiskan dalam waktu tak sampai satu jam. Wajahnya sudah memerah, matanya bergerak liar, namun tak sedikit pun pria itu berhenti. “Tuan…” “Diam.” Eden kembali meneguk cairan coklat itu, membiarkan rasa panas mengalir di tenggorokannya. Matanya terpejam sejenak. Fisik dan pikiran yang kacau membuat rasa panas itu menghilan
Julia memberontak.Tubuhnya bergerak tak tentu arah."sialan! lepaskan tanganku!""siapa kalian berani memperlakukanku seperti ini, ha?Namun para security yang menyeret Julia sama sekali tidak menjawab.Wajah mereka tetap datar, meski tangan dan wajah mereka penuh cakaran akibat perlawanan Julia.“Maaf, Nyonya. Ini perintah Tuan Eden. Kami tidak bisa membantah.”"Aku istri pemilik perusahaan ini! beraninya kalian menyeretku seperti ini!”Bruuk!"Maaf Nyonya Besar. Kami hanya menjalankan perintah.”Dua satpam itu melempar kasar Julia hingga tubuh wanita itu terhempas di halaman perusahaan.Julia terdiam sesaat, lalu bangkit sambil menunjuk mereka dengan mata menyala."Lihat saja nanti. Aku akan membalas kalian."Julia berbalik dan berjalan cepat menuju sebuah taksi yang sudah terparkir tak jauh dari sana.Entah siapa yang memesannya dia tak peduli.Rasa malu menggerogotinya saat tatapan penuh hinaan dan kata-kata ejekan karyawan Eden. Rasa marah bergelora di dada sampai tak sadar memb
Disisi lain,Eden memasuki perusahaan dengan rahang mengeras, tangannya terkepal erat seolah siap memukul lawan.Hentakan kakinya menggema bagaikan bom waktu. Setiap karyawan yang melihatnya langsung menepi, tak ada satupun yang berani menegur atau menyapa.Tampang Eden yang biasanya nampak bengis kini lebih pantas di sebut iblis. Wajah datar dan tatapan tajam, lengkap dengan sebuah pistol mengintip di saku kirinya.Seorang resepsionis datang terburu-buru ia membungkuk singkat, walau tubuhnya gemetar penuh takut ia tetap menyambut Eden."Selamat datang Tuan." Eden tak menjawab, langkahnya tetap fokus pada satu tujuan, yaitu Ruangan direktur.Bisik-bisik para karyawan terdengar di telinganya, namun yang lebih penting dari itu adalah segera membereskan kekacauan."Pak Eden sepertinya murka.""Iya ini pasti karena ibunya...""Memang kenapa ibunya?""kau tidak tahu? tadi pagi-pagi sekali nyonya besar Julia datang dan meminta ob untuk merubah ruangan Pak Eden,""Hah? serius?""Iya, mana t
"Saya senang tuan tidak lagi kasar pada Nona." Suara Ema memecah keheningan setibanya mereka di kamar. Tangannya menuntun Lintang untuk duduk dipinggir kasur."Saya harap untuk kedepannya tuan akan seperti ini terus!" senyum tercetak di bibirnya. Tatapan penuh kelembutan membuat Lintang ikut tersenyum."Tapi Ibu pelayan, apa menurutmu dia sedang mabuk?" Lintang menuang pertanyaan pada sebuah kertas yang tergeletak di sampingnya.Ema berpikir sejenak sebelum akhirnya menjawab. "Entahlah Nona, saya juga tidak tahu bagaimana cara tuan berpikir. Kenapa Nona bertanya seperti itu?" Eden nampak tak mabuk sedikitpun, bahkan tak nampak seperti habis minum."Dia aneh sejak semalam,""Aneh bagaimana?" tanya Ema bingung."Dia datang kemari, kemudian pergi lagi."Jawaban itu membuat Ema seketika khawatir, tanganya memutar tubuh lintang memastikan tak ada luka."Tuan tak menyakitimu kan?" tanyanya penuh khawatir.Lintang menggeleng."Syukurlah. Nona harus selalu patuh agar tuan tidak lagi kasar
Lintang terbangun dengan perasaan yang lebih baik dari sebelumnya. Ceria dan semangat. Namun keceriaan itu lenyap saat ia melihat Eden yang sudah duduk di ujung kasurnya. Bibirnya terbuka lebar, menatap terkejut Eden. Sedangkan orang yang di tatap berpangku tangan menatapnya. "Apa dia sudah lama di sini?" batin Lintang dengan masih terkejut. Eden tersenyum tipis. Senyum yang pertama kali terbit setelah berhenti di umurnya sembilan tahun. Melihat Lintang yang terbangun dengan muka bantal dan tampang bodoh membawa kehangatan dalam dirinya. "Ku kira kau mati." tukas Eden santai. "Kau tak bangun padahal sudah pukul dua belas siang" ia tak menyadari perubahan raut lintang yang tiba-tiba kecut. Lintang yang diejek menatap sengit Eden. “Padahal kau yang mengganggu tidur malamku,” sungutnya tak terima namun Eden tak mendengar itu. Kemudian melirik jendela yang sudah terang benderang. Lalu tatapannya berpindah pada Eden "kenapa kau kemari?” Eden memperhatikan gerakan bibir L







