Home / Mafia / Gadis Bisu Tahanan Mafia / Bab 7. Aku bukan penyusup

Share

Bab 7. Aku bukan penyusup

Author: Nn_Effendie
last update Huling Na-update: 2025-12-30 15:14:13

POV Lintang.

Namaku Lintang Sabiru, aku hanyalah seorang gadis bisu dan miskin. Bekerja sebagai pencuci piring di sebuah restoran untuk menyambung hidupku.

Setelah kematian ayah 3 tahun yang lalu, aku hanya bisa mengandalkan diri sendiri di usiaku yang masih muda.

Sembilan belas tahun.

Aku tak mengeluh, karena ayah tak pernah e mengajariku untuk mengeluh, walau dunia selalu jahat padaku, aku akan tetap bersinar seperti yang ayah ucapkan padaku.

Hal yang tak pernah aku sangka adalah terkurung dalam rumah mewah yang menyeramkan. Padahal aku datang untuk mengantar pesanan tapi mereka menuduhku penyusup. Malam ini, di ruangan bawah tanah yang busuk dan berbau amis, aku merasa seluruh dunia menindih dadaku.

Rantai besi yang mengikat kedua pergelangan ku sudah menggigit kulit hingga berdarah. Setiap kali aku bergerak sedikit saja, logam itu seperti mengingatkanku bahwa aku tak punya kuasa apa-apa di sini.

Bahkan untuk lepas pun sulit.

Tubuhku... ya Tuhan, aku bahkan tak berani membayangkan bagaimana wajahku sekarang. Bibir pecah, pipi bengkak, rambut kusut menempel di darah kering. Bau busuk dari luka-luka yang tak diobati bercampur dengan bau keringat dan ketakutan yang tak pernah kering dari tubuhku.

Tapi mereka? Sedikitpun tak iba padaku. Mereka selalu berteriak kalau ‘aku penyusup’.

“Aku bukan penyusup!” bantahku saat itu, tapi aku ingat kalau aku bisu, dan ya, mereka tak mendengar apa yang aku katakan, justru mereka menertawakan ku.

Dan pria angkuh dan kejam itu terus meminta anak buahnya untuk menyiksaku.

Aku di ikat rantai,sedangkan dia enak-enakan duduk angkuh bersilang kaki, di tanganya sebatang rokok dan gelas berkaki. Aku tidak tahu siapa pria itu, bahkan hingga saat ini.

Tapi yang ku dengar dari mereka selalu menyebutnya ‘Tuan Eden’

“Tuan kami sudah melakukan perintah anda, tapi wanita ini tetap bungkam!” ucap salah satu anak buah Eden.

Darah segar mengalir dari bibirku, mataku menatap lurus, tajam ingin mengoyak Eden yang duduk angkuh dengan segelas cairan merah entah apa itu.

Tubuhku terasa kebas dan perih, setiap kali bodyguard datang memukul, menginjak, dan menendangku mereka meninggalkan bekas luka yang menganga. Lalu besoknya seorang pelayan datang mengobatiku,

Ketika luka itu sembuh, Eden akan kembali meminta bodyguard dan anak buahnya menyiksaku lagi. Seperti itu terus.

Tubuhku jauh lebih buruk, semakin kering dan kurus, kusam tak terawat dan sekarang bau busuk bercampur aduk.

Entah berapa lama aku tak mandi, tapi biarlah. Aku tak peduli.

“Kenapa kau melihatku seperti itu Lintang? Apa kau sudah mau berbicara?” Eden menyesap cairan merah itu penuh kepuasan, tatapannya sangat meremehkan ku.

“AKU BUKAN PENYUSUP!”

Aku kembali menggerakkan bibir merangkai kata, sejelas mungkin. Sangat jelas hingga perubahan wajah Eden ku yakin ia paham maksudku.

“Cih, bukan penyusup? Lantas sebutan apa yang pantas untuk seseorang sepertimu datang diam-diam ke wilayahku?” Aku memalingkan wajah kesal, rasanya ingin sekali mencakar wajah datar yang sayangnya tampan itu.

“Tikus?”

Mulutku terkatup rapat, gigiku terdengar bergesekan, namun tawa Eden seolah menginjak harga diriku.

“Kau tahu Lintang, siapapun yang masuk ke wilayahku dia tak akan kembali dengan selamat.” Eden menjeda kalimatnya, sedangkan aku menunggu kelanjutan. “Kalau tidak mati ya mungkin musnah,” lanjutnya dengan tawa mengejek.

Mataku melebar seketika, bingung bercampur kaget mati dan musnah apa bedanya?”

Eden bangkit lantas berjongkok di depanku, jari-jarinya mencengkram daguku begitu kuat hingga aku yakin tulang rahangku hampir retak. Mata elang yang dingin itu menatap lurus ke dalam jiwaku, seolah ingin merobek semua rahasia yang bahkan aku sendiri tak punya.

“Siapa yang menyuruhmu, Lintang?”

Aku tak menjawab.

Aku hanya menatapnya balik. Tak ada suara yang bisa keluar dari tenggorokanku, tapi aku tahu bibirku bergerak pelan, membentuk kata-kata yang sama seperti sebelumnya.

‘Tidak ada, Aku hanya mengantar pesanan.’

Aku tahu dia membacanya. Aku tahu dia mengerti. Tapi dia memilih untuk tak percaya.

Eden mengeraskan rahangnya, aku yakin pria itu pasti marah lagi padaku.

“Sekali lagi aku tanya dengan baik…,”Eden bangkit , namun matanya masih menatap tajam diriku, seolah ingin membunuhku. “Siapa yang menyuruhmu Lintang?”

Aku enggan menjawab pertanyaan serupa yang entah berapa kali aku dengar selama seminggu ini.

Seminggu, Cih.

Aku menghitung waktu demi waktu, dan selama itu mereka masih mengurung dan menyiksa ku memaksaku menjawab pertanyaan tak masuk akal mereka.

Siapa yang menyuruhmu masuk wilayahku?”

“Apa tujuanmu datang ke wilayahku?”

“Apa kau tahu resiko apa yang kau dapat dari ini?”

Pertanyaan itu terus saja dilontarkan membuatku muak.

“Jawab sialan!” Eden menggeram, kakinya menyentak tubuhku hingga terbentur lantai, tangannya meraih rambutku dan menjambaknya kuat.

Setelah penyiksaan yang menyakitkan aku lalui, entah sejak kapan tubuhku mulai terbiasa dengan rasa sakit ini.

“Sudah ku bilang aku hanya mengantar pesanan.”

Napas Eden naik turun, mata elang itu menatapku penuh amarah. Lagi, lagi seperti itu dan aku siap, tubuhku siap karena kemarahan Eden pasti akan ada hukuman yang lebih berat.

Dan benar saja,

“CAMBUK DIA DUA RATUS KALI!”

Kata-kata itu jatuh seperti palu godam di kepalaku. Dadaku sesak seketika. Dua ratus kali? Tubuhku yang sudah remuk ini... apakah masih bisa bertahan?

Rasa takut menyergapku seperti gelombang dingin yang menyapu seluruh tulang. Aku membayangkan cambuk itu mengoyak kulit punggungku yang sudah penuh luka lama.

Aku membayangkan darah segar mengalir lagi, tubuhku ambruk, dan mungkin... mungkin kali ini aku tak akan bangun lagi.

Rega.

Nama itu muncul begitu saja di pikiranku. Kekasihku yang sangat menyayangiku setelah ayah, dia pasti sedang mencariku seperti orang gila. Yang pasti tak tidur, yang pasti menangis di sudut kamar kontrakannya sambil memeluk jaketku yang lama. Yang pasti bertanya pada setiap orang yang ia temui, “Kalian lihat Lintang? Gadis kecil yang tak bisa bicara itu?”

Air mata hampir jatuh. Hampir.

Tapi aku menahannya. Aku gigit bibirku dalam-dalam hingga terasa asin darah lagi.

Aku tak boleh menangis di depan Eden. Aku tak boleh memberinya kepuasan itu.

Ayah pernah bilang, “Lintang, walau orang jahat padamu, kau harus tetap baik. Namun jangan biarkan mereka menginjakmu. Balas dan jangan menyerah”

Aku tak boleh menyerah.

Meski tubuhku gemetar hebat di dalam, meski jantungku berdegup seperti ingin melarikan diri dari dada, aku angkat dagu sedikit lebih tinggi. Aku tatap Eden lurus—bukan dengan kebencian, tapi dengan sesuatu yang lebih dalam ‘keengganan untuk menyerah’.

Aku kesal. Sangat kesal. Pada Eden yang semena-mena ini. Pada nasib yang membawaku ke sini hanya karena satu pesanan. Pada tubuhku sendiri yang terlalu lemah untuk melawan. Pada suaraku yang tak pernah ada sejak lahir.

Tapi di balik semua kemarahan itu, ada ketakutan yang menggerogoti perlahan. Ketakutan bahwa mungkin... mungkin kali ini aku benar-benar tak akan pulang. Bahwa Rega akan menunggu selamanya.

Bahwa nama Lintang Sabiru akan lenyap begitu saja seperti debu.

Tapi aku tetap menatapnya. Tanpa kedip. Tanpa air mata.

Aku tak akan memberinya kepuasan melihatku runtuh.

Biarkan cambuk itu datang. Biarkan darah mengalir lagi. Aku akan tetap di sini, bertahan, dengan segala yang tersisa dari diriku.

“AKU AKAN MEMBALASMU EDEN.”

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Gadis Bisu Tahanan Mafia   Bab 14. Julia

    Disisi lain,Eden memasuki perusahaan dengan rahang mengeras, tangannya terkepal erat seolah siap memukul lawan.Hentakan kakinya menggema bagaikan bom waktu. Setiap karyawan yang melihatnya langsung menepi, tak ada satupun yang berani menegur atau menyapa.Tampang Eden yang biasanya nampak bengis kini lebih pantas di sebut iblis. Wajah datar dan tatapan tajam, lengkap dengan sebuah pistol mengintip di saku kirinya.Seorang resepsionis datang terburu-buru ia membungkuk singkat, walau tubuhnya gemetar penuh takut ia tetap menyambut Eden."Selamat datang Tuan." Eden tak menjawab, langkahnya tetap fokus pada satu tujuan, yaitu Ruangan direktur.Bisik-bisik para karyawan terdengar di telinganya, namun yang lebih penting dari itu adalah segera membereskan kekacauan."Pak Eden sepertinya murka.""Iya ini pasti karena ibunya...""Memang kenapa ibunya?""kau tidak tahu? tadi pagi-pagi sekali nyonya besar Julia datang dan meminta ob untuk merubah ruangan Pak Eden,""Hah? serius?""Iya, mana t

  • Gadis Bisu Tahanan Mafia   Bab 13. Kepang

    "Saya senang tuan tidak lagi kasar pada Nona." Suara Ema memecah keheningan setibanya mereka di kamar. Tangannya menuntun Lintang untuk duduk dipinggir kasur."Saya harap untuk kedepannya tuan akan seperti ini terus!" senyum tercetak di bibirnya. Tatapan penuh kelembutan membuat Lintang ikut tersenyum."Tapi Ibu pelayan, apa menurutmu dia sedang mabuk?" Lintang menuang pertanyaan pada sebuah kertas yang tergeletak di sampingnya.Ema berpikir sejenak sebelum akhirnya menjawab. "Entahlah Nona, saya juga tidak tahu bagaimana cara tuan berpikir. Kenapa Nona bertanya seperti itu?" Eden nampak tak mabuk sedikitpun, bahkan tak nampak seperti habis minum."Dia aneh sejak semalam,""Aneh bagaimana?" tanya Ema bingung."Dia datang kemari, kemudian pergi lagi."Jawaban itu membuat Ema seketika khawatir, tanganya memutar tubuh lintang memastikan tak ada luka."Tuan tak menyakitimu kan?" tanyanya penuh khawatir.Lintang menggeleng."Syukurlah. Nona harus selalu patuh agar tuan tidak lagi kasar

  • Gadis Bisu Tahanan Mafia   Bab 12. Makan Bersama

    Lintang terbangun dengan perasaan yang lebih baik dari sebelumnya. Ceria dan semangat. Namun keceriaan itu lenyap saat ia melihat Eden yang sudah duduk di ujung kasurnya. Bibirnya terbuka lebar, menatap terkejut Eden. Sedangkan orang yang di tatap berpangku tangan menatapnya. "Apa dia sudah lama di sini?" batin Lintang dengan masih terkejut. Eden tersenyum tipis. Senyum yang pertama kali terbit setelah berhenti di umurnya sembilan tahun. Melihat Lintang yang terbangun dengan muka bantal dan tampang bodoh membawa kehangatan dalam dirinya. "Ku kira kau mati." tukas Eden santai. "Kau tak bangun padahal sudah pukul dua belas siang" ia tak menyadari perubahan raut lintang yang tiba-tiba kecut. Lintang yang diejek menatap sengit Eden. “Padahal kau yang mengganggu tidur malamku,” sungutnya tak terima namun Eden tak mendengar itu. Kemudian melirik jendela yang sudah terang benderang. Lalu tatapannya berpindah pada Eden "kenapa kau kemari?” Eden memperhatikan gerakan bibir L

  • Gadis Bisu Tahanan Mafia   Bab 11. Fantasi

    Baru beberapa langkah Eden meninggalkan kamar, ia kembali lagi ke dalam kamar Lintang, membuat wanita yang hampir saja terpejam seketika kembali tegak dudukMatanya menyiratkan kebingungan yang kentara. Tubuhnya waspada dan siaga.Eden berdiri di ambang pintu, menatap Lintang yang linglung. Entah mengapa, melihat wajah polos Lintang membuat Eden bersemangat.ia tidak tahu apa yang terjadi dengannya, namun saat melihat wanita itu ia menyukainya. Namun Eden berusaha mengenyahkan rasa itu dari hatinya. Ia tak akan membiarkan seseorang datang kedalam hidupnya dan mengacaukannya.Kakinya maju satu langkah, namun kemudian ia memutar tubuh dan membanting pintu dengan kuat. Eden meninggalkan Lintang yang menatap kepergiannya dengan kebingungan.Kakinya melangkah panjang menuju kamarnya sendiri.Alis Lintang terangkat dan dahinya berkerut, jari kecilnya menggaruk pipi yang tak gatal.“Ada apa dengan monster itu?” tanyanya pada keheningan ruangan.Ia mengangkat bahu singkat, lalu kembali merin

  • Gadis Bisu Tahanan Mafia   Bab 10. Telepon dari Julia

    Eden kembali ke rumah saat malam telah larut.Tumpukan dokumen dan masalah kantor hari ini benar-benar menguras tenaganya. Kepalanya terasa pening, tubuhnya lelah, dan saat ia melangkah masuk, rumah sudah gelap gulita.Eden menaiki tangga menuju kamarnya di lantai tiga. Namun saat melewati lantai dua entah mengapa bayang-bayang Lintang tiba-tiba muncul di benaknya.Gadis itu, apa sudah baik-baik saja telah kejadian malam kemarin?Eden melirik jam di pergelangan tangan. Sudah lewat tengah malam, ia ragu sejenak, tapi entah mengapa seperti ada yang menariknya untuk melihat kondisi wanita itu. Ada rasa khawatir yang berusaha ia tepis membuat langkahnya terhenti di depan pintu yang tertutup rapat.Ada dorongan aneh yang membuatnya mendekat, dengan langkah hati-hati agar tak berbunyi, Eden mengeluarkan kunci dari sakunya dan memasukkan ke lubang kunci.Klik,Pintu terbuka pelan, Eden masuk dan menutupnya kembali tanpa suara.Ruangan remang-remang, hanya diterangi sorot rembulan yang mener

  • Gadis Bisu Tahanan Mafia   Bab 9. 'Dia datang, memaksaku'

    Setelah sarapan selesai, piring-piring kosong dibiarkan begitu saja di atas meja kecil di sudut kamar. Ema tidak langsung pergi seperti biasanya. Ia berdiri sebentar di ambang pintu, ragu, lalu kembali mendekat. Tatapannya tertuju pada Lintang yang duduk di tepi ranjang, tubuhnya agak membungkuk, pandangan kosong ke arah jendela yang selalu tertutup rapat. Ema mengerti. Tanpa perlu kata-kata, ia tahu apa yang telah terjadi malam tadi. Bekas-bekasnya masih terlihat jelas bahkan semakin jelas ,memar merah di lengan, kissmark merah keunguan mengintip di balik leher, wajah yang lebih pucat dari biasanya, dan cara Lintang duduk dengan kaki rapat dan tangan memeluk bantal seolah ingin melindungi diri dari dunia. Meski begitu, naluri seorang ibu—meskipun ia hanya pelayan—tetap mendorongnya untuk mendengar langsung dari mulut gadis itu. Ema menghela napas pelan, lalu duduk miring di pinggir kasur. Tangannya dengan lembut memijat betis Lintang yang terasa kaku, gerakan itu lebih untuk

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status