ホーム / Mafia / Gadis Bisu Tahanan Mafia / Bab 3. kekacauan kasir

共有

Bab 3. kekacauan kasir

作者: Nn_Effendie
last update 最終更新日: 2025-12-21 11:19:43

Satu bulan sebelumnya…..

Seorang pria berjalan terburu-buru, langkahnya yang lebar sesekali melompat agar cepat sampai tujuan. Yaitu dapur.

Napasnya ngos-ngosan tapi lebih penting dari itu adalah pesanan makanan yang harus segera diantarkan.

“LINTANG….” Teriaknya kencang.

Setibanya di dapur ia menarik napas panjang, mengatur udara yang berebut mengisi paru-paru “Bisa kamu antarkan pesanan ini?” ucapnya tergesa.

Lintang yang merasa namanya dipanggil, tersentak saat sebuah suara muncul tak jauh darinya. Lintang menoleh, menatap bingung atasannya. Jose.

Ia kemudian berdiri, menghampiri Jose yang masih berlutut. Jari-jari lintang bergerak cepat membentuk tiap kata, matanya menatap khawatir Jose.

“Pak, ada apa? Kenapa anda datang kemari?”

“Pesanan ini sudah ditunggu pemiliknya, sedangkan saat ini belum ada yang antar.” Jose menjeda kalimatnya, “Bisakah kamu mengantar pesanan ini?” lanjutnya penuh harap.

Dahi lintang berkerut, itu bukan jobdesknya. “Maaf Pak, tapi itu bukan tugas saya.” Tugasnya hanya mencuci piring dan peralatan yang kotor.

Jose menghembuskan napas kasar, kemudian ia menarik satu kursi dan mendudukinya. Matanya menatap fokus kantong di tangan sedangkan pikirannya berkelana.

“Memangnya kenapa Pak?” Jose menatap lintang dalam, kemudian ia menjawab. “Saya tidak tahu harus minta tolong pada siapa lagi. Anak-anak semua repot, restoran padat pengunjung.”

Tatapan Jose berpindah pada restoran yang semakin ramai pengunjung, Lintang mengikuti arah tatapan bosnya. Paham akan kegelisahan Jose, lintang bertanya. “Memangnya Resti kemana Pak? Kan biasanya dia yang mengantar?”

Jose membaca tiap kata dari gerakan tangan lintang, ia kembali menghembuskan napas kasar. Tanganya ikut memijat kening yang tiba-tiba berdenyut. “Entah kemana gadis itu pergi, yang jelas hari ini Resti tak masuk.”

Resti adalah karyawan khusus pengantar makanan, gadis tomboy yang biasanya tidur di samping kasir itu hari ini tak terlihat batang hidungnya. Entah kemana bahkan izin pun tidak, sehingga membuat yang lain kelimpungan.

Jose pun tak tahu, karena gadis itu memang tak izin sebelumnya atau sekedar memberitahu dimana ia berada saat ini.

“Cuma kamu harapan saya saat ini. Kalau saya bisa, saya akan mengantar sendiri tapi saya tidak bisa meninggalkan restoran.” Jose meletakan kantong di tanganya ke atas meja tak jauh darinya. Tatapannya beralih pada lintang yang diam saja.

“Tadinya saya mau minta tolong kamu, tapi kalau kamu nggak mau ya sudah saya juga tidak maksa.” Tukas Jose akhirnya. Ia sudah memutuskan untuk meng-cancel saja.

Lintang merasa tak enak, bisa ia lihat raut sendu Jose. Sudah menjadi rahasia umum persaingan bisnis sesama restoran tentu satu komplain dari pelanggan bisa jadi juri entah itu menjadi semakin berjaya atau tersingkirkan.

Dan Jose adalah manajer yang baik mengijinkannya bekerja walau tahu ia memiliki keterbatasan. Ia tak mau menyulitkan pria itu, karena jika nanti restoran mendapat komplain maka jabatan Jose akan terancam. Lintang tak mau hal itu terjadi.

Lintang menepuk pundak Jose ia tersenyum lebar membuat pria itu menatap bingung. “Ada apa?” Tanya jose.

Lintang menggeleng, jari-jarinya kembali cepat membentuk tiap kata “saya tidak pernah mengantar makanan sebelumnya. Lalu bagaimana caranya saya bisa mengantar?” dahi Jose berkerut. Membaca tiap kata yang gadis itu coba katakan.

“Bukannya tadi kamu menolak?”

Lintang menggeleng. “Setelah saya pikir, tidak apa-apa saya membantu kali ini.” ucapnya dengan tanpa suara, senyum tersungging di bibirnya.

Jose merasa mendapat angin segar, ia bangkit menarik kedua tangan Lintang.” Kamu yakin Lintang?” Serunya tak kalah semangat. Lintang mengangguk kuat sebagai jawaban.

Jose tak bisa untuk tak tersenyum, ia segera merogoh kantong kemudian memberikan secarik kertas pada Lintang. Gadis itu mengerutkan dahi bingung, namun kemudian membukanya.

Jln Angkasa Timur, Pagar Hitam Besar.

Lintang membaca tulisan itu kemudian menatap Jose, seolah mengerti kebingungan Lintang, Jose menjawab. “Alamat pemilik pesanan ini.”

Lintang mengangguk paham kemudian memasukan kertas tersebut ke dalam saku miliknya. Lintang menatap Jose sejenak. “Kalau begitu saya antar pesanan ini dulu ya Pak.” Lintang mengambil alih kantong pesanan, kemudian meninggalkan Jose yang masih menatapnya.

Hampir mencapai pintu, Jose berteriak memanggil Lintang. “LINTANG… SETELAH NANTI KAMU KEMBALI SAYA AKAN MEMBERIKAN BONUS 200 RIBU UNTUKMU.”

Lintang yang mendengar itu tersenyum lebar, kepalanya mengangguk kuat kemudian mengacungkan jempol pada Jose sebagai jawaban.

**

Di meja kasir,

Adu mulut terjadi antara seorang karyawan kasir dan seorang customer melalui telepon.

Masalahnya satu, dimana pesanan yang sudah di buat dan di kirim di batalkan seenaknya, membuat gadis yang selalu mengenakan kacamata itu mengamuk tak terima.

“Baiklah…baiklah.” Sasa meletakan gagang telepon dengan kasar. Matanya berkilat kesal sedangkan mulutnya menyumpah serapah. Beberapa karyawan lain yang melihat hanya menggelengkan kepala.

“Dasar customer sialan. Mereka pikir membuat pesanan tidak membutuhkan waktu kah?” Sasa menatap gagang telepon sinis, membayangkan jika gagang telepon itu customer.

“Sudahlah Sa, mau bagaimana pun pembeli adalah raja.” Ucap karyawan lain.

Hal itu memancing kekesalan Sasa “ Ya gak bisa gitu dong, mau raja juga kalau gak ada pelayan mati dia kelaparan.” Ujar Sasa sewot. Hal itu memancing tawa yang lainya.

Di sisi lain, Jose yang baru tiba di kasir mengerutkan kening saat melihat karyawannya terbahak sedangkan si kasir Sasa menggerutu kesal.

Ia mendekat duduk di salah satu kursi. “Ada apa ini rame-rame? Kayaknya seru sekali bahas apa sih?”

Para karyawan semakin tertawa, sedangkan Sasa yang melihat atasannya datang segera mendatangi pria itu, tangannya terulur. “Pak, mana pesanan yang tadi? Sayang kalau dibuang mending di makan aja bareng-bareng.”

Perkataan Sasa membuat Jose bingung. “Maksud kamu apa Sa? tentu saja di antar ke pemiliknya.” Jose tertawa pelan.

Beberapa karyawan yang mendengar saling pandang, mereka melirik Sasa yang sudah memerah wajahnya. Mereka yakin akan ada teriakan kencang membahana.

“KOK DIKIRIM SIH PAK!?....” Jose menutup telinganya rapat, ia meringis menatap Sasa yang berkacak pinggang, napas gadis itu naik turun sedangkan wajahnya sudah seperti tomat.

Jose kemudian menatap karyawan lain yang tiba-tiba pergi satu per satu. “Saya gak ikut campur ya Pak,” ucap salah satu karyawan disertai tawa.

Jose semakin bingung, kemudian menatap kembali Sasa. “Memangnya kenapa Sasa? Kan itu pesanan ya harus diantar ke pemiliknya lah kan katamu tadi harus segera diantar.” Jose merasa aneh dengan Sasa.

“Masalahnya baru aja customer telpon katanya di batalkan aja.” Pundak Sasa luruh, kepalanya terbaring diatas meja kasir sedangkan bibirnya mencebik kesal.

Jose mematung, tubuhnya mendadak kaku seolah darah tak lagi mengalir. Jarinya bergerak kaku mengorek telinga, berharap salah dengar.

“Mak-maksud kamu apa sa?” Tanya Jose terbata.

“Dibatalkan lagi.” Ucap Sasa lirih.

Tubuh Jose menegang, kepalanya mendadak terasa berat, telinganya berdengung hebat. Ia menatap Sasa yang lemas dan murung.

“Ya Tuhan…”

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Gadis Bisu Tahanan Mafia   Bab 18. Ubah Peraturan

    Cahaya matahari menerobos celah gorden yang tersingkap menerpa sepasang pria wanita yang saling berpelukan diatas ranjang.Lintang dan Eden.Lintang lebih dulu bangun saat rasa berat menimpa dadanya membuatnya sedikit kesulitan bernapas. Tanganya meraba benda berat panjang dan otot yang mengelilinginya.Saat lintang menatap ke bawah ia mendapati lengan kekar Eden yang memeluknya erat, tangan pria itu menimpa dadanya yang menjadi penyebab ia kesulitan napas.Lintang memindahkan tangan Eden dengan perlahan takut mengganggu tidur pria itu. Tanpa ia tahu Eden justru semakin erat memeluknya saat merasakan pergerakan wanita itu. Kepalanya ia benamkan diantar ceruk leher menghirup aroma mawar yang menyatu dengan bekas percintaan.Eden menarik bibirnya tersenyum, mengingat kembali betapa panasnya percintaan mereka semalam. Sedangkan lintang, wanita itu memerah wajahnya bukan karena hawa panas melainkan saat hidung Eden yang menyentuh lehernya, membawa gelenyar listrik kedalam tubuhnya.Lintan

  • Gadis Bisu Tahanan Mafia   Bab 17. Bajingan 21++

    Eden menatap dalam wajah Lintang yang panik. Satu tangannya keatas mengelus bibir Lintang yang bergetar. Mata gadis itu bergerak liar. Ketakutan jelas terpancar di wajahnya. "Lintang...Kau tahu kenapa aku tak melepaskanmu?" Elusan tangan Eden semakin turun, melewati leher jenjang Lintang yang putih dan berhenti tepat di gundukan besar yang bergoyang-goyang. Napas Lintang tak beraturan, air mata sudah jatuh membasahi wajahnya. Ia sangat takut Eden kembali menyiksanya seperti beberapa hari yang lalu. "Kau tahu...awalnya aku ingin membunuhmu saja tapi..." Eden meremas lembut dada Lintang membuat mata Lintang spontan melebar. Tubuhnya mendadak kaku. Wajah Eden terkekeh menampilkan seringai puas. "Tubuhmu membuatku tertarik." bisiknya di telinga Lintang. "Bajingan!" Umpat Lintang. Wajah Eden jauh dari kata bersahabat, pria itu terlihat menggertakan giginya. Amarah menyelimutinya saat paham apa yang Lintang katakan. Sekalipun lintang bisu tapi apa yang gadis itu kataka

  • Gadis Bisu Tahanan Mafia   Bab 16. Mabuk

    “Cukup, Tuan. Anda sudah terlalu mabuk!” Rendi berusaha mengingatkan Eden yang tak berhenti meneguk whisky. Sejak masalah di kantor tadi siang selesai Eden langsung menuju klub paling terkenal di pusat kota. Memesan beberapa botol wishky dan alkohol kadar tinggi lainya. Hampir sebulan tak memasuki tempat haram ini, Eden kembali pada kebiasaannya minum alkohol saat frustasi. Rendi sampai hafal karena pola itu selalu terjadi sejak atasannya itu remaja. Dan lagi-lagi ia bertugas untuk menjaga Eden dengan baik. “Tuan. Anda sudah minum terlalu banyak!” Rendi menatap dua botol kosong, satu botol masih dalam genggaman Eden. Hampir tiga botol whisky Eden habiskan dalam waktu tak sampai satu jam. Wajahnya sudah memerah, matanya bergerak liar, namun tak sedikit pun pria itu berhenti. “Tuan…” “Diam.” Eden kembali meneguk cairan coklat itu, membiarkan rasa panas mengalir di tenggorokannya. Matanya terpejam sejenak. Fisik dan pikiran yang kacau membuat rasa panas itu menghilan

  • Gadis Bisu Tahanan Mafia   Bab 15. Julia 21+

    Julia memberontak.Tubuhnya bergerak tak tentu arah."sialan! lepaskan tanganku!""siapa kalian berani memperlakukanku seperti ini, ha?Namun para security yang menyeret Julia sama sekali tidak menjawab.Wajah mereka tetap datar, meski tangan dan wajah mereka penuh cakaran akibat perlawanan Julia.“Maaf, Nyonya. Ini perintah Tuan Eden. Kami tidak bisa membantah.”"Aku istri pemilik perusahaan ini! beraninya kalian menyeretku seperti ini!”Bruuk!"Maaf Nyonya Besar. Kami hanya menjalankan perintah.”Dua satpam itu melempar kasar Julia hingga tubuh wanita itu terhempas di halaman perusahaan.Julia terdiam sesaat, lalu bangkit sambil menunjuk mereka dengan mata menyala."Lihat saja nanti. Aku akan membalas kalian."Julia berbalik dan berjalan cepat menuju sebuah taksi yang sudah terparkir tak jauh dari sana.Entah siapa yang memesannya dia tak peduli.Rasa malu menggerogotinya saat tatapan penuh hinaan dan kata-kata ejekan karyawan Eden. Rasa marah bergelora di dada sampai tak sadar memb

  • Gadis Bisu Tahanan Mafia   Bab 14. Julia

    Disisi lain,Eden memasuki perusahaan dengan rahang mengeras, tangannya terkepal erat seolah siap memukul lawan.Hentakan kakinya menggema bagaikan bom waktu. Setiap karyawan yang melihatnya langsung menepi, tak ada satupun yang berani menegur atau menyapa.Tampang Eden yang biasanya nampak bengis kini lebih pantas di sebut iblis. Wajah datar dan tatapan tajam, lengkap dengan sebuah pistol mengintip di saku kirinya.Seorang resepsionis datang terburu-buru ia membungkuk singkat, walau tubuhnya gemetar penuh takut ia tetap menyambut Eden."Selamat datang Tuan." Eden tak menjawab, langkahnya tetap fokus pada satu tujuan, yaitu Ruangan direktur.Bisik-bisik para karyawan terdengar di telinganya, namun yang lebih penting dari itu adalah segera membereskan kekacauan."Pak Eden sepertinya murka.""Iya ini pasti karena ibunya...""Memang kenapa ibunya?""kau tidak tahu? tadi pagi-pagi sekali nyonya besar Julia datang dan meminta ob untuk merubah ruangan Pak Eden,""Hah? serius?""Iya, mana t

  • Gadis Bisu Tahanan Mafia   Bab 13. Kepang

    "Saya senang tuan tidak lagi kasar pada Nona." Suara Ema memecah keheningan setibanya mereka di kamar. Tangannya menuntun Lintang untuk duduk dipinggir kasur."Saya harap untuk kedepannya tuan akan seperti ini terus!" senyum tercetak di bibirnya. Tatapan penuh kelembutan membuat Lintang ikut tersenyum."Tapi Ibu pelayan, apa menurutmu dia sedang mabuk?" Lintang menuang pertanyaan pada sebuah kertas yang tergeletak di sampingnya.Ema berpikir sejenak sebelum akhirnya menjawab. "Entahlah Nona, saya juga tidak tahu bagaimana cara tuan berpikir. Kenapa Nona bertanya seperti itu?" Eden nampak tak mabuk sedikitpun, bahkan tak nampak seperti habis minum."Dia aneh sejak semalam,""Aneh bagaimana?" tanya Ema bingung."Dia datang kemari, kemudian pergi lagi."Jawaban itu membuat Ema seketika khawatir, tanganya memutar tubuh lintang memastikan tak ada luka."Tuan tak menyakitimu kan?" tanyanya penuh khawatir.Lintang menggeleng."Syukurlah. Nona harus selalu patuh agar tuan tidak lagi kasar

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status