LOGINLintang terbangun dengan perasaan yang lebih baik dari sebelumnya. Ceria dan semangat. Namun keceriaan itu lenyap saat ia melihat Eden yang sudah duduk di ujung kasurnya.Bibirnya terbuka lebar, menatap terkejut Eden. Sedangkan orang yang di tatap berpangku tangan menatapnya."apa dia sudah lama di sini?" batin lintang dengan masih terkejut.Eden tersenyum tipis. senyum yang pertama kali terbit setelah berhenti di umurnya sembilan tahun.Melihat Lintang yang terbangun dengan muka bantal dan tampang bodoh membawa kehangatan dalam dirinya."ku kira kau mati." tukas Eden santai. "Kau tak bangun padahal sudah pukul dua belas siang"ia tak menyadari perubahan raut lintang yang tiba-tiba kecut.Lintang yang diejek menatap sengit Eden. “Padahal kau yang mengganggu tidur malamku,” sungutnya tak terima namun Eden tak mendengar itu.Kemudian melirik jendela yang sudah terang benderang. Kemudian tatapannya berpindah pada Eden "kenapa kau kemari?”Eden memperhatikan gerakan bibir Lintang, dalam s
Baru beberapa langkah Eden meninggalkan kamar, ia kembali lagi ke dalam kamar Lintang, membuat wanita yang hampir saja terpejam seketika kembali tegak dudukMatanya menyiratkan kebingungan yang kentara. Tubuhnya waspada dan siaga.Eden berdiri di ambang pintu, menatap Lintang yang linglung. Entah mengapa, melihat wajah polos Lintang membuat Eden bersemangat.ia tidak tahu apa yang terjadi dengannya, namun saat melihat wanita itu ia menyukainya. Namun Eden berusaha mengenyahkan rasa itu dari hatinya. Ia tak akan membiarkan seseorang datang kedalam hidupnya dan mengacaukannya.Kakinya maju satu langkah, namun kemudian ia memutar tubuh dan membanting pintu dengan kuat. Eden meninggalkan Lintang yang menatap kepergiannya dengan kebingungan.Kakinya melangkah panjang menuju kamarnya sendiri.Alis Lintang terangkat dan dahinya berkerut, jari kecilnya menggaruk pipi yang tak gatal.“Ada apa dengan monster itu?” tanyanya pada keheningan ruangan.Ia mengangkat bahu singkat, lalu kembali merin
Eden kembali ke rumah saat malam telah larut.Tumpukan dokumen dan masalah kantor hari ini benar-benar menguras tenaganya. Kepalanya terasa pening, tubuhnya lelah, dan saat ia melangkah masuk, rumah sudah gelap gulita.Eden menaiki tangga menuju kamarnya di lantai tiga. Namun saat melewati lantai dua entah mengapa bayang-bayang Lintang tiba-tiba muncul di benaknya.Gadis itu, apa sudah baik-baik saja telah kejadian malam kemarin?Eden melirik jam di pergelangan tangan. Sudah lewat tengah malam, ia ragu sejenak, tapi entah mengapa seperti ada yang menariknya untuk melihat kondisi wanita itu. Ada rasa khawatir yang berusaha ia tepis membuat langkahnya terhenti di depan pintu yang tertutup rapat.Ada dorongan aneh yang membuatnya mendekat, dengan langkah hati-hati agar tak berbunyi, Eden mengeluarkan kunci dari sakunya dan memasukkan ke lubang kunci.Klik,Pintu terbuka pelan, Eden masuk dan menutupnya kembali tanpa suara.Ruangan remang-remang, hanya diterangi sorot rembulan yang mener
Setelah sarapan selesai, piring-piring kosong dibiarkan begitu saja di atas meja kecil di sudut kamar. Ema tidak langsung pergi seperti biasanya. Ia berdiri sebentar di ambang pintu, ragu, lalu kembali mendekat. Tatapannya tertuju pada Lintang yang duduk di tepi ranjang, tubuhnya agak membungkuk, pandangan kosong ke arah jendela yang selalu tertutup rapat. Ema mengerti. Tanpa perlu kata-kata, ia tahu apa yang telah terjadi malam tadi. Bekas-bekasnya masih terlihat jelas bahkan semakin jelas ,memar merah di lengan, kissmark merah keunguan mengintip di balik leher, wajah yang lebih pucat dari biasanya, dan cara Lintang duduk dengan kaki rapat dan tangan memeluk bantal seolah ingin melindungi diri dari dunia. Meski begitu, naluri seorang ibu—meskipun ia hanya pelayan—tetap mendorongnya untuk mendengar langsung dari mulut gadis itu. Ema menghela napas pelan, lalu duduk miring di pinggir kasur. Tangannya dengan lembut memijat betis Lintang yang terasa kaku, gerakan itu lebih untuk
Waktu sekarang… Seorang pelayan, berjalan tergopoh-gopoh, di tangannya nampan berisi sarapan pagi. Langkahnya bergema di lorong panjang menuju pintu hitam yang tertutup rapat. Hatinya terasa senang ketika ia bisa kembali ke ruangan ini, lebih tepatnya bertemu dengan seseorang di dalamnya. Namanya Ema, Hari ini ia telat beberapa menit karena kondisi dapur yang sibuk, sehingga tugasnya melayani sang nona lebih lambat dari waktu biasanya. Ketika ia masuk ke dalam kamar, Ema disambut dengan kondisi kamar yang berantakan. Lebih tepatnya hanya kasur yang berantakan, sprei terlepas dari kasur dan selimut yang teronggok di depan kamar mandi. Ia menggelengkan kepala, namun senyum tercetak di bibirnya. “Nona Lintang seperti anak kecil saja.” Gumamnya sambil merapikan sprei yang terlepas. Semenjak kejadian dimana ia mengobati Lintang sebulan yang lalu ia merasa begitu senang ketika dekat dengan Lintang, gadis itu seperti mawar cantik dan mempesona. Selama 30 tahun menikah tak dikaru
POV Lintang. Namaku Lintang Sabiru, aku hanyalah seorang gadis bisu dan miskin. Bekerja sebagai pencuci piring di sebuah restoran untuk menyambung hidupku. Setelah kematian ayah 3 tahun yang lalu, aku hanya bisa mengandalkan diri sendiri di usiaku yang masih muda. Sembilan belas tahun. Aku tak mengeluh, karena ayah tak pernah e mengajariku untuk mengeluh, walau dunia selalu jahat padaku, aku akan tetap bersinar seperti yang ayah ucapkan padaku. Hal yang tak pernah aku sangka adalah terkurung dalam rumah mewah yang menyeramkan. Padahal aku datang untuk mengantar pesanan tapi mereka menuduhku penyusup. Malam ini, di ruangan bawah tanah yang busuk dan berbau amis, aku merasa seluruh dunia menindih dadaku. Rantai besi yang mengikat kedua pergelangan ku sudah menggigit kulit hingga berdarah. Setiap kali aku bergerak sedikit saja, logam itu seperti mengingatkanku bahwa aku tak punya kuasa apa-apa di sini. Bahkan untuk lepas pun sulit. Tubuhku... ya Tuhan, aku bahkan tak beran