Share

Bab. 6 Penyusup

Author: Nn_Effendie
last update Last Updated: 2025-12-29 16:38:12

Pintu yang Lintang dorong perlahan terbuka lebar dengan keras, seolah ada tangan tak kasat mata yang menyentaknya dari dalam. Angin yang dingin malam menyergap masuk, membawa serta aroma logam dan keringat yang menyengat.

Malam, Lintang baru menyadari waktu telah berganti, siang yang cerah tadi telah menghilang tergantikan gelapnya malam.

Lintang membeku di ambang pintu. Tubuhnya seperti disiram air es, bukan hanya karena malam yang membuatnya terkejut melainkan sesuatu yang tak ia duga.

Di halaman yang sangat luas, di atas rerumputan hijau ratusan pria berseragam hitam berdiri berbaris sempurna, tak bergerak, tak bersuara. Hanya sorot mata tajam tak berekspresi bagaikan raja hutan yang kejam, pistol-pistol di tangan mereka berkilau dingin seolah siap memuntahkan peluru ke setiap kepala yang bersalah.

Pemandangan itu seperti di film-film yang pernah lintang lihat namun tak ia sangka ia akan melihatnya secara langsung.

Napas Lintang tersengal. Tenggorokannya mendadak kering, tubuhnya bergetar tak terkendali. Ia mencoba mundur selangkah, tapi kakinya seperti terpaku di lantai.

Lintang baru menyadari satu hal..... ini bukan rumah biasa.

“Ya Tuhan….siapa mereka ke-kenapa me—?” batinnya berteriak.

Mereka berbadan tinggi dan kekar, keringat bercucuran membasahi kaos hingga menempel di tubuh, spot lampu dari atas membentuk bayangan seperti kumpulan monster, walau Lintang akui wajah mereka sangat tampan namun tampang mereka membuat Lintang bergidik.

Sibuk dengan pikirannya tiba-tiba satu kepala menoleh. Lalu yang lain mengikuti, semua arah mata tertuju pada satu objek, seorang wanita yang terpaku melotot menatap mereka. Yaitu Lintang.

Seorang pria yang berada di barisan depan, rambut panjang setengkuk, bekas luka menganga memanjang dari alis hingga pipi kanan, ia membuka mulutnya lebar-lebar merespon lebih dulu kehadiran Lintang.

“PENYUSUP!!!”

Teriakannya menggema, memecah keheningan malam seperti petir.

Dalam sekejap, barisan itu bergerak satu kaki, dua kaki hingga ratusan kaki itu berlari mengejar Lintang.

Derap sepatu bot mereka menghentak tanah secara serentak, seperti mesin perang yang baru saja dihidupkan. Pistol-pistol diangkat, laras mengarah ke arah Lintang.

“WOE….SIAPA KAMU?!!”

Jantung Lintang nyaris meledak. Ia berbalik, berlari masuk ke dalam rumah, kakinya menendang-nendang pintu di belakangnya agar tertutup tapi gerakannya kalah cepat.

Suara langkah mereka sudah terdengar bagaikan perlombaaan ribuan kuda, derapnya membuat jantung serasa ingin lepas dari raga. Langkahnya semakin dekat, semakin cepat. Menggeruduknya bagaikan mangsa.

Lintang berlari membabi buta menyusuri lorong gelap yang belum pernah ia lihat sebelumnya.

“Ini…ini bukan jalanku tadi.” Batinnya mulai panik, matanya melihat sekeliling yang serupa dengan jalannya, namun ia yakin ini lorong yang beda saat melihat patung dewa di tembok yang tak ia lihat sebelumnya.

Napasnya memburu, dada sesak, tapi ia tak berani berhenti. Di belakangnya, suara teriakan dan langkah kaki bergema seperti banjir yang mengejar.

Lintang terus berlari sesekali menoleh kebelakang untuk memastikan.

Saat melihat lorong yang bercabang, Ia membelok ke kiri, lalu kanan, lorong semakin sempit, udara semakin pengap. Akhirnya, di ujung terowongan gelap itu, ia melihat sebuah pintu berwarna coklat.

Lintang tersenyum lebar menatap pintu itu penuh harapan. Kakinya berlari semakin cepat, tangannya terulur ke depan berharap bisa segera meraih gagang pintu lebih dulu.

Sisa satu langkah lagi, hatinya berteriak menyemangati.

Jantung terus berdetak seirama jarum jam, hingga akhirnya Lintang meraih gagang pintu dan bersiap menariknya…tapi sebuah tangan besar, kuat, dan dingin mencengkram pergelangan tangannya dari belakang menariknya begitu kasar hingga tubuhnya terseret mundur lalu terjatuh keras ke lantai.

Bruk!

Punggungnya membentur lantai yang dingin. Sebelum ia sempat berteriak, puluhan lampu senter menyala menyilaukan dari segala arah. Lingkaran pria berseragam hitam itu sudah mengelilinginya rapat, lengkap dengan pistol mengarah tepat ke kepala dan dadanya.

Tatapan puas terpancar dari mata mereka,

“SIAPA KAMU?” ucap salah satu dari mereka.

Lintang gugup bingung harus menjawab apa, nafasnya terengah-engah, ia mencoba mengabaikan rasa sakit di punggung dan kepalanya dengan merangkak mundur, tapi tangan yang mencengkeram pergelangannya tak melepas. Malah menariknya lebih dekat.

Dengan susah payah, Lintang mendongak bertemu pandang Mata tajam seperti elang menatapnya dari balik rambut hitam legam yang jatuh sedikit acak-acakan. Hidung mancung, rahang tegas, dan bibir yang terkatup rapat tanpa sedikit pun senyum.

Pria itu berdiri angkuh, bayangannya menutupi cahaya sehingga membentuk siluet tubuh yang besar dan tinggi. Lebih tinggi dari kumpulan pria-pria tadi.

Pria itu tak berkata apa-apa. Hanya menatapnya dalam-dalam, dingin, seolah sedang menilai apakah nyawa Lintang masih layak dipertahankan atau tidak.

Di belakangnya, salah satu pria bersuara pelan, tapi cukup untuk membuat bulu kuduk Lintang berdiri.

“Tuan….ijinkan saya membunuh penyusup ini,”

Mata lintang melebar, satu tangannya terangkat, bergerak ke kanan dan kekiri seolah berkata ‘aku bukan penyusup ‘

Namun semua itu tak berarti apa-apa bagi mereka.

Pria di atas Lintang tak menjawab segera perkataan anak buahnya. Ia hanya sedikit memiringkan kepala, matanya tak lepas dari Lintang yang seperti melihat kucing yang baru saja maling ikan.

Lintang yang melihat itu semakin panik, ia mencoba berbicara walau tak keluar suara. "SAYA BU-KAN PE-NYU-SUP"

Lalu, suara rendah pria itu akhirnya terdengar—dingin, dalam, dan penuh ancaman.

“Belum saatnya. Bawa dia ke penjara bawah tanah!.”

Kalimat itu membuat darah Lintang seketika membeku, menggigil tak berdaya. Namun alarm dirinya berkata ia dalam bahaya.

Lintang meronta, berusaha lepas dari cengkeraman pria yang di panggil ‘Tuan’ itu namun kedatangan dua pria lain maju memegang kedua tangannya membuatnya tak bisa kabur, mereka menyeret tubuh lintang kasar.

Lintang tak mau kalah, ia terus meronta sesekali menendang tak tentu arah, gerakannya kasar membabi buta membuat salah satu pria yang memegangnya kesal, ia kemudian memukul tengkuk lintang, hingga Lintang tak sadarkan diri.

Namun sebelum kegelapan menelannya, yang terakhir ia rasakan adalah tatapan pria itu yang tak pernah lepas darinya—seperti predator yang baru saja menemukan mangsa yang tak akan pernah bisa lari lagi.

Setelah kepergian Lintang, seseorang datang dengan nafas ngos-ngosan. Pistol di tanganya basah oleh keringat ketika mendapatkan kabar penyusup datang ke rumah ini.

“Tuan Eden, katannya ad–ada penyusup?” Suaranya putus-putus matanya menyiratkan rasa ingin tahu dan waspada namun bukanya jawaban yang ia dapat justru tatapan tajam serta kepergian pria yang ia panggil ‘Tuan Eden’ itu

“Loh..loh Tuan?!”

Ia menghela napas pasrah, lantas mengikuti arah perginya sang tuan.

Sedangkan lintang,

Gadis itu dilempar ke dalam jeruji besi yang gelap.

**

Eden Hadenburgh

Mafia kelas kakap yang identitasnya tak ada yang mengetahui, orang hanya tahu ia adalah putra tunggal Adam Hadenburgh sang pebisnis terkenal yang telah meninggal enam bulan lalu.

Statusnya yang menjadi pewaris utama, membuatnya selalu hidup di bayang-bayang kematian. Tak sekali dua kali musuh dari saingan bisnis berusaha menyingkirkannya, dan yang lebih parah dari sekian banyaknya musuh, sang ibu jugalah musuh terbesar dalam hidupnya.

Eden menatap tajam seseorang yang berada di balik besi panjang, matanya tak lepas dari tubuh yang terbaring meringkuk di atas ubin dingin tanpa penerangan cahaya.

Lintang!

Gadis itu berada di dalam penjara yang pengap, bau busuk dan amis menusuk hidung namun gadis itu hanya mampu menutup hidung dengan tangan, sesekali terbatuk dan muntah saat aroma itu menerobos masuk ke dalam indra penciumannya.

Lintang masih tak menyadari Eden, gelapnya ruang bawah tanah itu membuatnya tak bisa melihat dengan jelas, jauh berbeda dengan Eden yang sudah terbiasa.

Eden menginjak putung rokok tatapannya melirik seorang pria yang baru saja datang. Bodyguard. “Tuan…saya siap menerima perintah,” ucap pria itu dengan tatapan tertuju pada Lintang.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Gadis Bisu Tahanan Mafia   Bab 12. Makan Bersama

    Lintang terbangun dengan perasaan yang lebih baik dari sebelumnya. Ceria dan semangat. Namun keceriaan itu lenyap saat ia melihat Eden yang sudah duduk di ujung kasurnya.Bibirnya terbuka lebar, menatap terkejut Eden. Sedangkan orang yang di tatap berpangku tangan menatapnya."apa dia sudah lama di sini?" batin lintang dengan masih terkejut.Eden tersenyum tipis. senyum yang pertama kali terbit setelah berhenti di umurnya sembilan tahun.Melihat Lintang yang terbangun dengan muka bantal dan tampang bodoh membawa kehangatan dalam dirinya."ku kira kau mati." tukas Eden santai. "Kau tak bangun padahal sudah pukul dua belas siang"ia tak menyadari perubahan raut lintang yang tiba-tiba kecut.Lintang yang diejek menatap sengit Eden. “Padahal kau yang mengganggu tidur malamku,” sungutnya tak terima namun Eden tak mendengar itu.Kemudian melirik jendela yang sudah terang benderang. Kemudian tatapannya berpindah pada Eden "kenapa kau kemari?”Eden memperhatikan gerakan bibir Lintang, dalam s

  • Gadis Bisu Tahanan Mafia   Bab 11. Fantasi

    Baru beberapa langkah Eden meninggalkan kamar, ia kembali lagi ke dalam kamar Lintang, membuat wanita yang hampir saja terpejam seketika kembali tegak dudukMatanya menyiratkan kebingungan yang kentara. Tubuhnya waspada dan siaga.Eden berdiri di ambang pintu, menatap Lintang yang linglung. Entah mengapa, melihat wajah polos Lintang membuat Eden bersemangat.ia tidak tahu apa yang terjadi dengannya, namun saat melihat wanita itu ia menyukainya. Namun Eden berusaha mengenyahkan rasa itu dari hatinya. Ia tak akan membiarkan seseorang datang kedalam hidupnya dan mengacaukannya.Kakinya maju satu langkah, namun kemudian ia memutar tubuh dan membanting pintu dengan kuat. Eden meninggalkan Lintang yang menatap kepergiannya dengan kebingungan.Kakinya melangkah panjang menuju kamarnya sendiri.Alis Lintang terangkat dan dahinya berkerut, jari kecilnya menggaruk pipi yang tak gatal.“Ada apa dengan monster itu?” tanyanya pada keheningan ruangan.Ia mengangkat bahu singkat, lalu kembali merin

  • Gadis Bisu Tahanan Mafia   Bab 10. Telepon dari Julia

    Eden kembali ke rumah saat malam telah larut.Tumpukan dokumen dan masalah kantor hari ini benar-benar menguras tenaganya. Kepalanya terasa pening, tubuhnya lelah, dan saat ia melangkah masuk, rumah sudah gelap gulita.Eden menaiki tangga menuju kamarnya di lantai tiga. Namun saat melewati lantai dua entah mengapa bayang-bayang Lintang tiba-tiba muncul di benaknya.Gadis itu, apa sudah baik-baik saja telah kejadian malam kemarin?Eden melirik jam di pergelangan tangan. Sudah lewat tengah malam, ia ragu sejenak, tapi entah mengapa seperti ada yang menariknya untuk melihat kondisi wanita itu. Ada rasa khawatir yang berusaha ia tepis membuat langkahnya terhenti di depan pintu yang tertutup rapat.Ada dorongan aneh yang membuatnya mendekat, dengan langkah hati-hati agar tak berbunyi, Eden mengeluarkan kunci dari sakunya dan memasukkan ke lubang kunci.Klik,Pintu terbuka pelan, Eden masuk dan menutupnya kembali tanpa suara.Ruangan remang-remang, hanya diterangi sorot rembulan yang mener

  • Gadis Bisu Tahanan Mafia   Bab 9. 'Dia datang, memaksaku'

    Setelah sarapan selesai, piring-piring kosong dibiarkan begitu saja di atas meja kecil di sudut kamar. Ema tidak langsung pergi seperti biasanya. Ia berdiri sebentar di ambang pintu, ragu, lalu kembali mendekat. Tatapannya tertuju pada Lintang yang duduk di tepi ranjang, tubuhnya agak membungkuk, pandangan kosong ke arah jendela yang selalu tertutup rapat. Ema mengerti. Tanpa perlu kata-kata, ia tahu apa yang telah terjadi malam tadi. Bekas-bekasnya masih terlihat jelas bahkan semakin jelas ,memar merah di lengan, kissmark merah keunguan mengintip di balik leher, wajah yang lebih pucat dari biasanya, dan cara Lintang duduk dengan kaki rapat dan tangan memeluk bantal seolah ingin melindungi diri dari dunia. Meski begitu, naluri seorang ibu—meskipun ia hanya pelayan—tetap mendorongnya untuk mendengar langsung dari mulut gadis itu. Ema menghela napas pelan, lalu duduk miring di pinggir kasur. Tangannya dengan lembut memijat betis Lintang yang terasa kaku, gerakan itu lebih untuk

  • Gadis Bisu Tahanan Mafia   Bab 8. Pingsan

    Waktu sekarang… Seorang pelayan, berjalan tergopoh-gopoh, di tangannya nampan berisi sarapan pagi. Langkahnya bergema di lorong panjang menuju pintu hitam yang tertutup rapat. Hatinya terasa senang ketika ia bisa kembali ke ruangan ini, lebih tepatnya bertemu dengan seseorang di dalamnya. Namanya Ema, Hari ini ia telat beberapa menit karena kondisi dapur yang sibuk, sehingga tugasnya melayani sang nona lebih lambat dari waktu biasanya. Ketika ia masuk ke dalam kamar, Ema disambut dengan kondisi kamar yang berantakan. Lebih tepatnya hanya kasur yang berantakan, sprei terlepas dari kasur dan selimut yang teronggok di depan kamar mandi. Ia menggelengkan kepala, namun senyum tercetak di bibirnya. “Nona Lintang seperti anak kecil saja.” Gumamnya sambil merapikan sprei yang terlepas. Semenjak kejadian dimana ia mengobati Lintang sebulan yang lalu ia merasa begitu senang ketika dekat dengan Lintang, gadis itu seperti mawar cantik dan mempesona. Selama 30 tahun menikah tak dikaru

  • Gadis Bisu Tahanan Mafia   Bab 7. Aku bukan penyusup

    POV Lintang. Namaku Lintang Sabiru, aku hanyalah seorang gadis bisu dan miskin. Bekerja sebagai pencuci piring di sebuah restoran untuk menyambung hidupku. Setelah kematian ayah 3 tahun yang lalu, aku hanya bisa mengandalkan diri sendiri di usiaku yang masih muda. Sembilan belas tahun. Aku tak mengeluh, karena ayah tak pernah e mengajariku untuk mengeluh, walau dunia selalu jahat padaku, aku akan tetap bersinar seperti yang ayah ucapkan padaku. Hal yang tak pernah aku sangka adalah terkurung dalam rumah mewah yang menyeramkan. Padahal aku datang untuk mengantar pesanan tapi mereka menuduhku penyusup. Malam ini, di ruangan bawah tanah yang busuk dan berbau amis, aku merasa seluruh dunia menindih dadaku. Rantai besi yang mengikat kedua pergelangan ku sudah menggigit kulit hingga berdarah. Setiap kali aku bergerak sedikit saja, logam itu seperti mengingatkanku bahwa aku tak punya kuasa apa-apa di sini. Bahkan untuk lepas pun sulit. Tubuhku... ya Tuhan, aku bahkan tak beran

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status