Share

Bab 8. Pingsan

Penulis: Nn_Effendie
last update Tanggal publikasi: 2025-12-30 18:29:48

Waktu sekarang…

Seorang pelayan, berjalan tergopoh-gopoh, di tangannya nampan berisi sarapan pagi. Langkahnya bergema di lorong panjang menuju pintu hitam yang tertutup rapat. Hatinya terasa senang ketika ia bisa kembali ke ruangan ini, lebih tepatnya bertemu dengan seseorang di dalamnya.

Namanya Ema,

Hari ini ia telat beberapa menit karena kondisi dapur yang sibuk, sehingga tugasnya melayani sang nona lebih lambat dari waktu biasanya.

Ketika ia masuk ke dalam kamar, Ema disambut dengan kondisi kamar yang berantakan. Lebih tepatnya hanya kasur yang berantakan, sprei terlepas dari kasur dan selimut yang teronggok di depan kamar mandi.

Ia menggelengkan kepala, namun senyum tercetak di bibirnya.

“Nona Lintang seperti anak kecil saja.” Gumamnya sambil merapikan sprei yang terlepas.

Semenjak kejadian dimana ia mengobati Lintang sebulan yang lalu ia merasa begitu senang ketika dekat dengan Lintang, gadis itu seperti mawar cantik dan mempesona. Selama 30 tahun menikah tak dikaruniai anak kehadiran Lintang mengobati rindu layaknya ibu.

Kebahagiaan Ema lenyap, senyum di bibirnya menghilang. Matanya membelalak lebar saat melihat bercak merah di atas sprei putih di tangan.

“Ya Tuhan….i-inii”

Ema membentangkan sprei itu, mendekatkan pada wajahnya untuk melihat dengan jelas, namun seperti yang ia tebak itu adalah..

“Darah…”

Pikirannya berkelana, bercampur aduk tak karuan.

“Apa nona datang bulan?” Tanyanya pada diri sendiri,

Namun Lintang yang belum lama kemarin datang bulan, tidak mungkin kembali datang bulan sedangkan belum genap dua Minggu.

‘Apa nona datang bulan lagi lebih cepat?’ batinya berusaha berpikir jernih.

‘Atau…ini darah apa?

Ema mengelus bercak itu dengan tangan gemetar, pikirannya tertuju pada satu hal kemungkinan, namun ia menepis pikiran buruk itu.

“Tidak mungkin!...S-siapa yang melakukan ini? Apa tuan?” Dadanya terasa sesak dan panas, lidahnya kelu, lehernya terasa dicekik tangan tak kasat mata.

Air mata jatuh tanpa permisi membasahi pipi, namun ketika teringat Lintang ia baru sadar.

Ema bergegas mendekati pintu kamar mandi, mendekatkan telinganya berusaha mencuri dengar. Namun sia-sia karena tak ada suara apapun dari dalam.

Tok! Tok!

“Nona…anda sedang membersihkan diri?” Teriak Ema sambil mengetuk pintu. “Saya tunggu ya, saya sudah siapkan sarapan anda, lebih cepatlah sedikit nanti sarapannya keburu dingin.” lanjutnya lagi.

Ema berusaha tenang, berusaha berpikir positif.

“Mungkin memang Nona Lintang datang bulan, dulu aku juga pernah seperti itu. Ya…pasti seperti itu.”

Dua menit berlalu, senyap.

Ema tak sabar, ia kembali mengetuk pintu kamar mandi, namun lagi-lagi tak ada suara

Tok!!tok!!

“Nonaa…”

Senyap, ia tak mendengar apapun bahkan gemericik air layaknya orang mandi juga tak terdengar. Suasana sangat hening, hanya terdengar nafasnya yang memburu.

“Nona…” panggilnya lagi, tanganya sibuk mengetuk pintu berulang kali. Namun lagi-lagi Lintang tak kunjung menjawab seperti biasa.

Jika saat Lintang dikamar mandi, gadis itu akan menjatuhkan barang atau sesuatu yang berbunyi untuk membalas teriakan Ema seperti tadi. Namun kali ini senyap tanpa sedikitpun tanda kehidupan.

Ema mulai resah, matanya melirik jam di atas tempat tidur yang terus bergerak, sudah beberapa menit ia berdiri di depan pintu kamar mandi namun Lintang tak kunjung keluar.

Ema berjalan mondar-mandir, khawatir yang tidak-tidak mengingat bercak itu, hatinya berkata Lintang sedang tak baik-baik saja.

Ema menarik nafas panjang, tangannya terulur pada gagang pintu dan menekannya kebawah.

Cklek!

Pintu terbuka,matanya melebar saat melihat lintang yang tenggelam di dalam bathup.

“NONA LINTANG!!!!”

Ema berlari cepat menuju Lintang yang tak sadarkan diri, gadis yang biasanya tersenyum manis kini tergolek tak berdaya di dalam air.

Dengan tangan yang gemetar Ema berusaha menarik tubuh lemas Lintang keluar dari bathup. Hatinya teriris saat bibir merah dan wajah cerah yang biasanya merona kini menghilang tergantikan pucat seperti kapas.

“Nonaa…”

Ema mendekap wajah Lintang dengan tangis tersendat, hatinya sesak saat mendapati bercak merah memenuhi tubuh sang nona.

Dan pikirannya tentang ‘itu’ sungguh terbukti.

“Maaf…maafkan saya, Nona.” Ema mengusap lembut wajah Lintang namun mata itu masih terpejam erat. Hatinya kian berdenyut sakit.

Mendengar isakan seseorang, perlahan Lintang membuka matanya, yang pertama ia lihat adalah Ema yang menangis memeluknya.

Hati Ema lega, saat mata madu yang tadi terpejam kini terbuka.

“Nona…apa yang kamu lakukan itu sangat bahaya!” Teriaknya tanpa sadar, namun air mata jatuh di pipinya. “Jangan lakukan itu lagi…ku mohon…”

Lintang tersenyum, jemarinya yang lemah mengusap air mata pelayan yang selalu merawatnya selama sebulan ini. Wanita itu begitu khawatir padanya saat ini memberikan rasa yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.

“I-bu pe-layan,” Ucapnya terbata, ”di-dingin.”

Ema tak mendengar suara, namun gerakan bibir itu sangat jelas seolah terdengar di telinga. Ia merasa hatinya menghangat namun khawatir dalam satu waktu, Ia merasa sesuatu yang aneh pada tubuh Lintang, hangat tubuh Lintang terasa di lengannya.

Ema menarik satu tangannya, bergantian menempel di kening dan leher Lintang dan benar saja suhu panas gadis itu terasa menyengat di telapak tangan.

“Ya tuhan Nona…tubuh anda panas sekali.” Teriaknya histeris,

Ema mendudukan tubuh Lintang yang lemas, kemudian berlari pergi mengambil selimut yang telah ia lipat.

Sedangkan Lintang, tubuhnya terasa menggigil hawa dingin di tubuhnya terasa semakin menusuk saat air di bathup menenggelamkannya.

“Nona anda bisa bangkit?” Ema datang terburu-buru, membentangkan selimut.

Lintang mengangguk, tubuhnya lemas tak tertahankan, namun ia tak ingin menyusahkan Ema, dengan sekuat tenaga Lintang berusaha berdiri walaupun gemetar, Ema lantas melilit tubuh Lintang dengan selimut itu.

Wanita tua itu memapah Lintang dengan hati-hati menuju tempat tidur yang rapi, saat tiba di samping kasur Lintang mengalihkan muka, netranya menangkap bercak merah semalam.

Hatinya masih terasa sakit mengingat kelakuan Eden yang menyiksanya.

Ema membaringkan Lintang hati-hati seolah sedikit saja salah gerakan akan menyakiti, lantas mengambil sepasang pakaian dan memakaikan pada Lintang.

Setelah lintang memakai pakaian dan memastikan tubuh lintang hangat, Ema menyuapi Lintang sarapan.

Semua tak luput dari netra madu yang bergettar itu, hati Lintang terasa hangat untuk kesekian kalinya wanita tua itu memperlakukannya dengan sangat baik.

“Mungkin seperti ini rasanya perhatian ibu.” Batinnya berkata, matanya tak lepas dari raut panik dan khawatir Ema yang tercetak jelas.

Perlakuan lembut Ema adalah bayangan perhatian seorang ibu yang ia impikan.

“Nona ayo satu suap lagi,..” Lintang membuka mulutnya dan segera menelan suapan dari Ema.

Walaupun mulutnya terasa pahit, tapi tubuhnya butuh tenaga. Ia berusaha menelan semua makanan walaupun terasa seperti batu, mengganjal lehernya.

Di tempat lain…

Eden kembali membaca deretan tulisan yang sudah beberapa kali ia baca. Bahkan setiap katanya ia sampai hafal di luar kepala, namun entah mengapa rasanya sulit untuk diterima.

Satu map penuh berisi data diri dan latar belakang Lintang, namun semua itu tak terdapat seujung kukupun petunjuk mencurigakan, semuanya normal dan lurus-lurus saja.

“Tuan…saya rasa yang Nona Lintang katakan itu hal benar.” Ucap Rendy, tangan kanan sekaligus sahabat Eden.

Pria itu berdiri sopan di samping Eden yang nampak melamun dan tak fokus. Setelah sebulan penuh melihat bagaimana kekehnya Lintang, entah mengapa hatinya berkata gadis itu tak seperti yang mereka tuduhkan.

“Apa kau mendadak bodoh karena gadis bisu itu?”

Pertanyaan sarkas Eden membuat Rendy terkejut, namun itu hal yang biasa baginya.

“Tidak. Hanya saja saya sudah mencari semua informasi hingga terdalam namun semua tak ada yang mencurigakan.” Tukas Rendi tenang, menatap Eden yang tak bereaksi apapun selain mencengkram map yang sudah lecek bagian pinggirnya.

“Dan berdasarkan informasi yang saya dapatkan, gadis itu bisu sejak lahir rasanya tak masuk akal jika ia bersekongkol dengan musuh, Tuan.”

Eden tetap mempertahankan wajahnya yang datar namun tidak dengan pikiran yang berkelana tak tentu arah.

Dari serangkaian dan berbagai penyiksaan gadis itu kekeh untuk tak mengaku seperti yang ia tuduhkan, selain kata ‘aku bukan penyusup', 'aku hanya mengantar makanan' Lintang hanya akan menggelengkan kepala saja.

“Apa mungkin benar? Apa mungkin aku salah tangkap?”

“Lalu jika aku salah tangkap, bagaimana bisa ia masuk kedalam dan siapa yang pesan makanan itu?” Pertanyaan itu terlontar dari mulut Eden tanpa sadar.

Rendy tersentak, ia juga memikirkan hal sama. “Tapi Tuan, bukankah di cctv Pak Damar yang mengijinkan Nona Lintang masuk?”

Mereka sudah melihat dari awal Lintang masuk dan berakhir di sekap, semuanya normal kecuali saat Lintang yang diam-diam membuka pintu hitam itu.

‘Lantas untuk apa Lintang diam-diam membuka pintu itu?’

“Apa mungkin Pak Damar…?”

Eden menatap Rendi, “cari tahu siapa pengkhianat itu.” tatapan Eden semakin tajam, tangannya terkepal kuat “Ingat, bahkan yang buta bisa menjadi musuh, jangan lupa itu.”

Rendi mengangguk, mengingat kejadian setengah tahun yang lalu, dimana seorang pria buta yang berusaha membunuh Eden bisa juga Lintang melakukan hal yang sama.

“Anda benar! Saya akan mencari tahu siapa pengkhianat yang sebenarnya.”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Gadis Bisu Tahanan Mafia   Bab 52

    Setelah seharian tak melihat Lintang rasa rindu membuncah di dada Eden. Karena kesibukannya di kantor ia tak bisa menemui wanita itu.Dan sekarang di jam yang masih sangat pagi Eden datang dengan nampan berisi sarapan. Langkahnya yang tegap berbalut jas mahal melekat. Bibirnya lurus tak beriak, namun sorot matanya sedikit hangat.Cklek!Eden membuka pintu, matanya berpendar. Menatap tubuh berbalut selimut putih yang meringkuk. Kemudian meletakkan nampan di atas nakas.Eden duduk di tepi ranjang. Tangannya terulur menyingkap anak rambut yang menutupi wajah Lintang.Merasakan seseorang menyentuhnya. Perlahan mata Lintang terbuka. Netra elang dengan sorot datar menjadi hal pertama yang menyambutnya. Wajah datar tanpa sedikitpun garis kebahagian, namun sayangnya sangat tampan.Lintang menatap Eden dari atas hingga bawah. Pria itu hanya diam menaikan alisnya. Sedikit geli dengan respon wanita itu.Lintang masih belum sadar. Jika pria pria yang di depanya adalah monster yang selalu menyiksa

  • Gadis Bisu Tahanan Mafia   Bab 51. Pil

    Di tempat yang lain,Sepasang suami istri mengintimidasi seorang wanita yang menurut mereka mencurigakan. Berpakaian pelayan dan menunduk hormat . Bahunya sedikit bergetar seperti ketakutan.“Jadi apa jaminan kau setia pada kami?” Pelayan itu menaikan wajahnya. Menatap Julia dan Arthur dengan berani. Kegelisahan dalam hatinya ia buang jauh-jauh.“Saya menggadaikan nyawa saya. Jika saya berkhianat saya rela mati. Asal…” ia menghentikan kalimatnya. Matanya terpejam erat seolah untuk mengatakan kalimat selanjutnya membutuhkan tenaga besar.Arthur dan Julia saling pandang. Kedua alisnya naik, menanti kalimat selanjutnya.“Asal Tuan dan Nyonya memberikan bayaran yang setimpal.” Lanjutnya kemudian.Ia sudah merasa sangat frustasi. Ibunya yang sangat ia cintai terbaring tak sadarkan diri di ranjang rumah sakit. Gagal jantung yang ibunya derita membuatnya dilanda ketakutan. Takut akan kehilangan.Pihak rumah sakit mengatakan harus menjalani transplantasi jantung. Dan semua itu membutuhkan bi

  • Gadis Bisu Tahanan Mafia   Bab 50

    “Nona, atas nama Tuan, saya meminta maaf. Beliau selalu kasar padamu.” Aku hanya diam, menatap hamparan mawar dari balik jendela dengan tatapan kosong. Di tengah ruangan, Rendi sibuk mengganti seprai. Suaranya mengalun pelan, namun entah mengapa, aku menangkap nada kesungguhan yang ganjil di sana. “Tuan memang keras, tapi semua itu ada sebabnya,” lanjutnya lagi. Aku tetap tak bergeming. Namun saat aku menoleh, dia rupanya sudah menatapku lebih dulu. “Tuan tidak menyukai pembangkangan. Kebetulan, Nona selalu melawan dan memancing amarahnya. Itulah yang membuatnya bertindak lebih kasar.” Cih. Aku mendengus sinis. Dia bilang aku yang memancingnya? Bahkan sejak detik pertama aku menginjakkan kaki di neraka ini, pria itu sudah hampir membunuhku dengan siksaannya. Dia binatang. Monster menjijikkan yang bersembunyi di balik setelan mahal. Tatapanku menajam. Selama hampir sebulan ini, Rendi adalah satu-satunya wajah yang rutin kulihat. Dia yang memberiku makan, mengganti seprai, atau

  • Gadis Bisu Tahanan Mafia   Bab 49

    Lintang terbangun dengan rasa frustrasi yang menggantung. Pikirannya hancur berantakan, sama seperti hatinya. Ia memikirkan bagaimana nasib Damar dan Ema, juga kekasih serta sahabatnya, Sasa. Semuanya bercampur menjadi satu, menyesakkan dada."Aw, milikku sakit," rintihnya pelan.Ia bangkit, melangkah menuju kamar mandi yang letaknya sedikit jauh. Kamar Eden selalu gelap, dan Lintang sudah terbiasa dengan kegelapan itu. Dengan langkah tertatih, ia memasuki kamar mandi.Bersandar pada wastafel, Lintang menatap pantulan dirinya di cermin. Kantung mata hitam, rambut berantakan, sudut bibir pecah dan berdarah, serta wajah yang sama sekali tidak memancarkan aura kehidupan. Ia terlihat semakin kurus setiap harinya. Tulang selangkanya menonjol dan garis pipinya semakin tirus.Tangannya menengadah, menyiramkan air dingin ke wajahnya yang kuyu. "Bagaimana bisa semua ini menimpaku?"Tubuhnya luruh, jatuh ke lantai dengan rasa putus a

  • Gadis Bisu Tahanan Mafia   Bab 48.

    Setelah menyiksa Lintang seminggu terakhir, kini Eden kembali menginjakkan kakinya di perusahaan. Namun, baru saja tiba di lobi, pemandangan Julia dan Arthur yang bercumbu panas membuat darahnya mendidih.Langkahnya kian cepat. Begitu sampai di dekat mereka, Eden menarik tangan Arthur dengan kasar lalu melayangkan tonjokan keras ke wajah pria itu.Serangan tiba-tiba itu mengejutkan semua orang. Beberapa karyawan yang sedang melintas langsung menghentikan langkah mereka. Napas Eden memburu, ia menatap bengis Arthur yang terjerembab di lantai. Pria itu menyeka sudut bibirnya yang berdarah, matanya menatap Eden dengan penuh kebencian.Julia yang menyadari perlakuan mengejutkan Eden langsung membantu Arthur berdiri, lalu menatap sang anak dengan tajam."Apa yang kamu lakukan, Eden?!" teriaknya penuh amarah.Suara Julia memancing perhatian. Dalam sekejap, mereka dikelilingi oleh para karyawan yang penasaran."Kau merebut kursi kuasaku, dan sekarang kau mengotori perusahaanku dengan hal men

  • Gadis Bisu Tahanan Mafia   Bab 47. Alex

    Penyiksaan belum usai.Setelah Damar, Lintang diseret menuju tempat di mana Ema berada. Wanita itu terlihat sangat lemah, bahkan sekadar bernapas saja tampak kesulitan.Lintang spontan berlari menghampirinya, namun tarikan kasar dari Eden membuat tubuhnya terhempas dan menubruk tubuh besar pria itu. Tatapan tajam dari Eden seolah memperingatinya, membuat Lintang seketika patuh.Namun pandangannya terus terpaku pada Ema yang terbaring di ranjang seperti pasien rumah sakit. Wanita itu memang mengenakan pakaian pasien, benar-benar seperti orang yang sedang dirawat – tapi yang terjadi di ruangan ini sungguh berbeda dengan rumah sakit yang sebenarnya.Di sisi kanan ranjang, seorang pria memegang pisau yang sangat tajam. Kilauan logamnya menyilaukan mata Lintang. Setelah menatap Eden sebentar, tangannya perlahan bergerak menuju tubuh lemah Ema yang masih memejamkan mata.Ruangan ini lebih tenang dan sunyi ketimbang tempat Damar. Sekecil apapun gerakan terasa begitu nyaring di telinga, seper

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status