LOGINAlexa yang masih kebingungan, segera di gendong paksa dan dimasukkan ke dalam mobil oleh sang mafia. Wanita polos dan manis itu pun sontak kebingungan. Mesin mobil SUV hitam masih menderu halus, namun suasana di dalam kabin terasa mencekam. Alexa berusaha keras menarik gagang pintu, tetapi sistem pengunci otomatis telah mematikan seluruh akses keluar.
Di sampingnya, Matthew duduk dengan tenang, menyilangkan kaki panjangnya sambil menyesap aroma cerutu yang belum dinyalakan. "Buka pintunya, Tuan Matthew! Ini penculikan!" suara Alexa gemetar, air mata mulai menggenang di balik kacamata tebalnya. Matthew menoleh perlahan. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang dingin. "Penculikan adalah istilah yang kasar, Sayang. Aku lebih suka menyebutnya sebagai ... penjemputan paksa untuk keamananmu." Wajah Matthew semakin mendekat, membuat Alexa mengkerut takut. Bulu kuduknya merinding, serasa nyawanya akan tercabut saat ini juga. "Keamananku? Anda adalah satu-satunya ancaman di sini!" teriak Alexa, keberaniannya muncul dari rasa takut yang memuncak. Mobil berhenti di depan sebuah gerbang besi raksasa yang dijaga ketat oleh pria-pria bersenjata. Di baliknya, berdiri sebuah mansion megah bergaya gotik modern yang tampak angker namun indah. Begitu mobil berhenti sempurna, Matthew turun dan memutari mobil. Sebelum Alexa sempat berpikir untuk lari, pintu di sisinya terbuka lebar. "Turunlah secara baik-baik, atau aku yang akan menurunkanmu," perintah Matthew. "Tidak mau! Pulangkan aku!" Alexa mencengkeram jok kulit mobil dengan erat. Tanpa peringatan, Matthew merangsek masuk ke dalam mobil. Dengan satu gerakan kuat yang tak terbantahkan, ia menyambar pinggang Alexa dan menyampirkan gadis itu di bahu kokohnya seperti karung beras. "Lepaskan! Turunkan aku, bajingan!" Alexa histeris. Ia memukul-mukul punggung keras Matthew dengan tinju kecilnya. Kakinya menendang udara, mencoba mengenai apa saja. Matthew sama sekali tidak terganggu. Ia justru menepuk bokong Alexa dengan santai sambil terus melangkah masuk ke dalam rumah. "Teruslah memukul, Alexa. Itu hanya akan membuatku semakin bersemangat untuk menunjukkan siapa pemilikmu sekarang." Para pelayan dan anak buah Matthew yang berbaris di aula utama menunduk dalam-dalam. Mereka belum pernah melihat bos-nya itu membawa seorang wanita dengan cara sebrutal—sekaligus seposesif—ini. Biasanya, wanita yang datang ke sini akan merangkak memohon perhatian Matthew, namun gadis ini justru mencoba mencakar leher sang mafia. Langkah kaki Matthew berbelok masuk ke dalam Kamar Utama BRAK! Matthew menendang pintu kamar utamanya dan melempar Alexa ke atas tempat tidur berukuran king size yang empuk. Alexa segera bangkit dan mencoba berlari ke arah pintu, namun Matthew lebih cepat. Ia mengunci pintu dan memasukkan kuncinya ke dalam saku celana. "Kau gila! Kau sakit jiwa!" teriak Alexa. Ia meraih sebuah vas bunga kristal dari meja nakas dan mengarahkannya pada Matthew. "Jangan mendekat! Aku bersumpah akan melempar ini!" Matthew justru melepas jas hitamnya, menyisakan kemeja putih yang lengannya ia gulung hingga memperlihatkan otot lengan yang dipenuhi tato hitam. Ia melangkah maju dengan tenang, seolah vas bunga itu hanyalah mainan plastik. "Lempar saja, Alexa. Pecahan kristalnya mungkin akan melukaiku, tapi itu tidak akan menghentikanku untuk mencicipi bibirmu malam ini," ucap Matthew dengan suara rendah yang serak dan penuh gairah. PRANG! Alexa benar-benar melempar vas itu. Vas bunga melesat dan pecah di dinding tepat di sebelah kepala Matthew. Serpihannya sedikit menggores pipi pria itu, hingga setetes darah segar mengalir turun. Matthew berhenti. Ia menyentuh luka di pipinya dengan ujung jari, menatap darah itu, lalu menjilatnya sendiri. Tatapan matanya berubah menjadi gelap—gelap yang penuh dengan nafsu dan kepemilikan. "Kau kasar sekali, Gadis Kecil," desis Matthew. Dalam sekejap, ia sudah berada di depan Alexa, mencengkeram kedua pergelangan tangan gadis itu dan menekannya ke atas tempat tidur. "Lepas! Sakit!" Alexa meronta, wajahnya memerah karena amarah dan tangis. "Aku bisa memberikanmu dunia, Alexa. Aku bisa membakar kampusmu jika kau mau. Tapi yang aku inginkan hanyalah kau yang tunduk di bawahku," Matthew mendekatkan wajahnya, menghirup aroma vanila dari leher Alexa yang membuat saraf-sarafnya menegang. "Kacamata ini menggangguku." Dengan satu tangan, Matthew merenggut kacamata Alexa dan membuangnya ke sembarang arah. Kini, ia bisa melihat dengan jelas mata hazel yang indah itu—mata yang penuh dengan kebencian, namun juga pancaran kejujuran yang sangat ia dambakan. "Kau cantik saat marah. Dan kau akan terlihat jauh lebih cantik saat memohon dan memanggil namaku di bawah tubuhku," bisik Matthew mesum, bibirnya hampir menyentuh telinga Alexa. "Aku membencimu! Sampai mati aku tidak akan pernah sudi menyentuh pria menjijikkan sepertimu!" Alexa meludahi wajah Matthew. Suasana seketika membeku. Matthew terdiam, napasnya memburu. Perlahan, ia mengusap wajahnya yang terkena ludah Alexa. Bukannya marah besar, ia justru terkekeh—sebuah tawa yang membuat bulu kuduk Alexa merinding. "Benci dan cinta itu bedanya tipis, Alexa. Aku punya sepanjang sisa hidupku untuk mengubah rasa bencimu menjadi desahan nikmat. Kau milikku. Kau adalah Gadis Cupu milik Matthew Vascov, dan tak ada satu pun orang di dunia ini yang bisa menyelamatkanmu dariku." Matthew melepaskan cengkeramannya, bangkit berdiri, namun matanya tetap mengunci sosok Alexa yang meringkuk ketakutan di tengah tempat tidur. "Malam ini kau tidurlah. Besok pagi, semua barang-barangmu sudah akan ada di sini. Jangan mencoba lari, atau aku akan memastikan orang-orang yang kau kenal menanggung akibatnya." "Jangan sakiti ibuku! Dia hanya seorang janda yang sudah sakit-sakitan. Beliau menaruh harapan besar padaku. Jadi aku mohon padamu, Tuan Matthew. Lepaskan aku." rengek Alexa memohon agar mafia penuh tatto itu tidak menyakiti ibunya. Selama ini, Alexa tinggal hanya dengan ibunya yang sudah sering keluar masuk rumah sakit. Ayahnya meninggal dunia saat usianya masih enam tahun. Dengan beasiswa yang dia dapat, Alexa berharap bisa menggapai cita-citanya dan mengangkat kehidupannya bersama Sang ibu. Tapi siang ini takdir berkata lain, hidupnya terpenjara oleh seorang mafia yang mungkin akan menggagalkan semua harapan ibunya. "Aku ingin pulang! Aku tidak mau berlama-lama di sini!" bentak Alexa lagi disisa keberaniannya. "Jangan, Tuan!"Malam semakin larut di Mansion Vascov. Jam dinding besar di aula utama berdenting dua belas kali, namun suasana di dalam bangunan megah itu jauh dari kata tenang. Ketegangan menggantung di udara seperti kabut tebal yang siap meledak menjadi badai. Matthew Vascov baru saja melangkah masuk melalui pintu utama dengan jas hitam yang disampirkan di bahunya. Garis wajahnya tampak keras, matanya merah karena kurang tidur dan amarah yang belum tuntas setelah insiden Daffa tadi malam. Setiap langkah sepatunya yang menghantam lantai marmer terdengar seperti lonceng kematian yang bergaung di seluruh ruangan. "Di mana dia?" suara Matthew berat dan rendah, menghentikan langkah dua penjaga yang berjaga di depan koridor kamar khusus Alexa. "Nona Alexa ada di dalam, Tuan," jawab salah satu penjaga dengan suara bergetar. "Apa dia sudah makan?" Kedua penjaga itu saling pandang, keraguan terpancar jelas dari wajah mereka. "Anu... Tuan... pelayan sudah membawakan makan malam, bahkan camilan sej
Keheningan di mansion Vascov terasa semakin mencekam setelah kunjungan Daffa. Bagi Alexa, pertemuan dengan masa lalunya itu bukan sekadar reuni, melainkan sebuah pengingat akan kehidupan normal yang pernah ia miliki—kehidupan di mana ia bisa tersenyum tanpa rasa takut dan bernapas tanpa diawasi sepasang mata biru yang obsesif.Alexa duduk termenung di tepi jendela yang terkunci rapat. Pikirannya kalut. Di satu sisi, ada rasa syukur karena ibunya sedang dalam penanganan medis terbaik berkat uang Matthew. Disisi lain, ia merasa seperti barang rampasan yang tidak memiliki hak atas tubuh dan jiwanya sendiri. Kebenciannya pada Matthew bukannya memudar, justru semakin mengakar setiap kali ia melihat tanda merah di lehernya—tanda yang dipaksakan pria itu sebagai simbol kepemilikan.Matthew menjadi semakin tidak terkendali. Ia memerintahkan penambahan kamera CCTV di setiap sudut kamar, kecuali kamar mandi. Bahkan, ia meminta pelayan untuk mencicipi setiap makanan yang akan dimakan Alexa, se
Cahaya matahari pagi menyelinap masuk melalui celah gorden sutra yang mahal, menerangi debu-debu yang menari di udara kamar utama mansion Vascov. Alexa mengerjapkan matanya yang terasa berat. Hal pertama yang ia rasakan adalah denyut nyeri di perut dan rasa kaku di sekujur tubuhnya. Namun, ada sesuatu yang hangat mendekap jemarinya. Ia menoleh pelan dan mendapati Matthew duduk di kursi tepat di samping tempat tidurnya. Pria itu masih mengenakan kemeja hitam yang sama dengan semalam, tampak kusut dan tidak rapi—pemandangan yang sangat langka bagi seorang Matthew Vascov yang perfeksionis. Mata biru safirnya yang biasanya dingin kini terlihat kuyu, menunjukkan bahwa ia tidak tidur barang semenit pun. "Kau sudah bangun?" suara Matthew serak, namun penuh dengan kelembutan yang membuat bulu kuduk Alexa meremang. Alexa mencoba menarik tangannya, namun Matthew justru mempererat genggamannya. "Jangan. Biarkan seperti ini sebentar saja, Alexa." "Tuan, saya ... saya ingin duduk," bisik A
Matthew mendekap tubuh ramping Alexa, hingga wanita manis itu sulit bergerak. Tangan nakalnya mulai merayap masuk ke dalam T-shirt berwana putih dan mengusap lembut perut datarnya. Alexa segera menahan tangan gagah itu untuk tidak bereaksi kemana-mana. Wajah polosnya mengiba untuk tidak melakukan hal yang lebih jauh. Matthew tak menanggapi permohonan dari Alexa, tersebut. Dia terus menyusup masuk hingga belahan indah yang selama ini dia jaga, menjadi ladang bebas untuk Sang mafia. Isak tangis terdengar di telinga Matthew, dia menghentikan aksinya dan menatap lekat wajah sembab yang sejak tadi terus menangis. "Jangan menangis lagi. Aku tidak suka melihat wajah cantikmu berubah bengkak. Aku tidak akan melakukannya karena kamu adalah ratu spesial untukku." ucap Matthew dengan senyum maskulin. "Istirahatlah, aku akan pergi sebentar. Kalau kamu butuh apapun, panggil saja pelayanan yang ada diluar kamar. Ingat, jangan menangis lagi. Itu bisa melukai hatiku," bisik Matthew yang kemudia
Malam di mansion Vascov terasa lebih panjang dari ribuan malam yang pernah Alexa lalui. Kamar megah yang seharusnya menjadi dambaan setiap wanita itu kini terasa seperti sel isolasi yang menyesakkan. Alexa meringkuk di sudut tempat tidur, memeluk lututnya erat, alih-alih merasa aman dengan kemewahan, ia justru merasa kecil dan hancur.Pintu kamar terbuka pelan tanpa suara ketukan. Matthew masuk dengan kemeja hitam yang kancing atasnya terbuka, memperlihatkan aura dominasi yang tak terbantahkan. Ia membawa sebuah nampan berisi makanan mewah, namun matanya hanya tertuju pada satu objek, Alexa yang gemetar tanpa kacamata."Makanlah. Aku tidak suka milikku terlihat kurus dan pucat," suara Matthew memecah kesunyian.Alexa tidak bergeming. "Aku bukan milikmu. Berapa kali harus kukatakan? Aku punya harga diri yang tidak bisa kau beli dengan emasmu."Matthew meletakkan nampan itu di meja nakas, lalu berjalan mendekat. Gerakannya tenang namun pasti, seperti predator yang tahu mangsanya sud
Alexa yang masih kebingungan, segera di gendong paksa dan dimasukkan ke dalam mobil oleh sang mafia. Wanita polos dan manis itu pun sontak kebingungan. Mesin mobil SUV hitam masih menderu halus, namun suasana di dalam kabin terasa mencekam. Alexa berusaha keras menarik gagang pintu, tetapi sistem pengunci otomatis telah mematikan seluruh akses keluar. Di sampingnya, Matthew duduk dengan tenang, menyilangkan kaki panjangnya sambil menyesap aroma cerutu yang belum dinyalakan."Buka pintunya, Tuan Matthew! Ini penculikan!" suara Alexa gemetar, air mata mulai menggenang di balik kacamata tebalnya.Matthew menoleh perlahan. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang dingin. "Penculikan adalah istilah yang kasar, Sayang. Aku lebih suka menyebutnya sebagai ... penjemputan paksa untuk keamananmu." Wajah Matthew semakin mendekat, membuat Alexa mengkerut takut. Bulu kuduknya merinding, serasa nyawanya akan tercabut saat ini juga. "Keamananku? Anda adalah satu-satunya ancaman di s







