Share

Digendong paksa

Author: Adilia
last update Last Updated: 2026-01-11 20:11:04

Alexa yang masih kebingungan, segera di gendong paksa dan dimasukkan ke dalam mobil oleh sang mafia. Wanita polos dan manis itu pun sontak kebingungan. Mesin mobil SUV hitam masih menderu halus, namun suasana di dalam kabin terasa mencekam. Alexa berusaha keras menarik gagang pintu, tetapi sistem pengunci otomatis telah mematikan seluruh akses keluar.

Di sampingnya, Matthew duduk dengan tenang, menyilangkan kaki panjangnya sambil menyesap aroma cerutu yang belum dinyalakan.

​"Buka pintunya, Tuan Matthew! Ini penculikan!" suara Alexa gemetar, air mata mulai menggenang di balik kacamata tebalnya.

​Matthew menoleh perlahan. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang dingin. "Penculikan adalah istilah yang kasar, Sayang. Aku lebih suka menyebutnya sebagai ... penjemputan paksa untuk keamananmu." Wajah Matthew semakin mendekat, membuat Alexa mengkerut takut. Bulu kuduknya merinding, serasa nyawanya akan tercabut saat ini juga.

​"Keamananku? Anda adalah satu-satunya ancaman di sini!" teriak Alexa, keberaniannya muncul dari rasa takut yang memuncak.

​Mobil berhenti di depan sebuah gerbang besi raksasa yang dijaga ketat oleh pria-pria bersenjata. Di baliknya, berdiri sebuah mansion megah bergaya gotik modern yang tampak angker namun indah. Begitu mobil berhenti sempurna, Matthew turun dan memutari mobil. Sebelum Alexa sempat berpikir untuk lari, pintu di sisinya terbuka lebar.

​"Turunlah secara baik-baik, atau aku yang akan menurunkanmu," perintah Matthew.

​"Tidak mau! Pulangkan aku!" Alexa mencengkeram jok kulit mobil dengan erat.

​Tanpa peringatan, Matthew merangsek masuk ke dalam mobil. Dengan satu gerakan kuat yang tak terbantahkan, ia menyambar pinggang Alexa dan menyampirkan gadis itu di bahu kokohnya seperti karung beras.

​"Lepaskan! Turunkan aku, bajingan!" Alexa histeris. Ia memukul-mukul punggung keras Matthew dengan tinju kecilnya. Kakinya menendang udara, mencoba mengenai apa saja.

​Matthew sama sekali tidak terganggu. Ia justru menepuk bokong Alexa dengan santai sambil terus melangkah masuk ke dalam rumah. "Teruslah memukul, Alexa. Itu hanya akan membuatku semakin bersemangat untuk menunjukkan siapa pemilikmu sekarang."

​Para pelayan dan anak buah Matthew yang berbaris di aula utama menunduk dalam-dalam. Mereka belum pernah melihat bos-nya itu membawa seorang wanita dengan cara sebrutal—sekaligus seposesif—ini. Biasanya, wanita yang datang ke sini akan merangkak memohon perhatian Matthew, namun gadis ini justru mencoba mencakar leher sang mafia.

​Langkah kaki Matthew berbelok masuk ke dalam Kamar Utama

​BRAK!

​Matthew menendang pintu kamar utamanya dan melempar Alexa ke atas tempat tidur berukuran king size yang empuk. Alexa segera bangkit dan mencoba berlari ke arah pintu, namun Matthew lebih cepat. Ia mengunci pintu dan memasukkan kuncinya ke dalam saku celana.

​"Kau gila! Kau sakit jiwa!" teriak Alexa. Ia meraih sebuah vas bunga kristal dari meja nakas dan mengarahkannya pada Matthew. "Jangan mendekat! Aku bersumpah akan melempar ini!"

​Matthew justru melepas jas hitamnya, menyisakan kemeja putih yang lengannya ia gulung hingga memperlihatkan otot lengan yang dipenuhi tato hitam. Ia melangkah maju dengan tenang, seolah vas bunga itu hanyalah mainan plastik.

​"Lempar saja, Alexa. Pecahan kristalnya mungkin akan melukaiku, tapi itu tidak akan menghentikanku untuk mencicipi bibirmu malam ini," ucap Matthew dengan suara rendah yang serak dan penuh gairah.

​PRANG!

​Alexa benar-benar melempar vas itu. Vas bunga melesat dan pecah di dinding tepat di sebelah kepala Matthew. Serpihannya sedikit menggores pipi pria itu, hingga setetes darah segar mengalir turun.

​Matthew berhenti. Ia menyentuh luka di pipinya dengan ujung jari, menatap darah itu, lalu menjilatnya sendiri. Tatapan matanya berubah menjadi gelap—gelap yang penuh dengan nafsu dan kepemilikan.

​"Kau kasar sekali, Gadis Kecil," desis Matthew. Dalam sekejap, ia sudah berada di depan Alexa, mencengkeram kedua pergelangan tangan gadis itu dan menekannya ke atas tempat tidur.

​"Lepas! Sakit!" Alexa meronta, wajahnya memerah karena amarah dan tangis.

​"Aku bisa memberikanmu dunia, Alexa. Aku bisa membakar kampusmu jika kau mau. Tapi yang aku inginkan hanyalah kau yang tunduk di bawahku," Matthew mendekatkan wajahnya, menghirup aroma vanila dari leher Alexa yang membuat saraf-sarafnya menegang.

"Kacamata ini menggangguku."

​Dengan satu tangan, Matthew merenggut kacamata Alexa dan membuangnya ke sembarang arah. Kini, ia bisa melihat dengan jelas mata hazel yang indah itu—mata yang penuh dengan kebencian, namun juga pancaran kejujuran yang sangat ia dambakan.

​"Kau cantik saat marah. Dan kau akan terlihat jauh lebih cantik saat memohon dan memanggil namaku di bawah tubuhku," bisik Matthew mesum, bibirnya hampir menyentuh telinga Alexa.

​"Aku membencimu! Sampai mati aku tidak akan pernah sudi menyentuh pria menjijikkan sepertimu!" Alexa meludahi wajah Matthew.

​Suasana seketika membeku. Matthew terdiam, napasnya memburu. Perlahan, ia mengusap wajahnya yang terkena ludah Alexa. Bukannya marah besar, ia justru terkekeh—sebuah tawa yang membuat bulu kuduk Alexa merinding.

​"Benci dan cinta itu bedanya tipis, Alexa. Aku punya sepanjang sisa hidupku untuk mengubah rasa bencimu menjadi desahan nikmat. Kau milikku. Kau adalah Gadis Cupu milik Matthew Vascov, dan tak ada satu pun orang di dunia ini yang bisa menyelamatkanmu dariku."

​Matthew melepaskan cengkeramannya, bangkit berdiri, namun matanya tetap mengunci sosok Alexa yang meringkuk ketakutan di tengah tempat tidur.

​"Malam ini kau tidurlah. Besok pagi, semua barang-barangmu sudah akan ada di sini. Jangan mencoba lari, atau aku akan memastikan orang-orang yang kau kenal menanggung akibatnya."

"Jangan sakiti ibuku! Dia hanya seorang janda yang sudah sakit-sakitan. Beliau menaruh harapan besar padaku. Jadi aku mohon padamu, Tuan Matthew. Lepaskan aku." rengek Alexa memohon agar mafia penuh tatto itu tidak menyakiti ibunya.

Selama ini, Alexa tinggal hanya dengan ibunya yang sudah sering keluar masuk rumah sakit. Ayahnya meninggal dunia saat usianya masih enam tahun. Dengan beasiswa yang dia dapat, Alexa berharap bisa menggapai cita-citanya dan mengangkat kehidupannya bersama Sang ibu. Tapi siang ini takdir berkata lain, hidupnya terpenjara oleh seorang mafia yang mungkin akan menggagalkan semua harapan ibunya.

"Aku ingin pulang! Aku tidak mau berlama-lama di sini!" bentak Alexa lagi disisa keberaniannya.

"Jangan, Tuan!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Gadis Cupu Milik Sang Mafia   Di antara angin dan tawa

    Lima tahun kemudian, suasana di halaman belakang kediaman Vascov tidak lagi menyerupai markas militer yang kaku. Memang, para penjaga masih berdiri di titik-titik strategis, namun kini mereka lebih sering terlihat membantu mengambilkan bola plastik yang terlempar ke semak-semak daripada memegang senjata laras panjang.Alexa duduk di kursi rotan di bawah pohon rindang, menyesap teh melati hangatnya. Wajahnya tampak jauh lebih tenang, gurat kecemasan yang dulu selalu menghiasi matanya kini telah hilang, digantikan oleh binar kebahagiaan yang tulus. Di pangkuannya, sebuah buku sketsa terbuka, namun ia tidak sedang menggambar; matanya sibuk mengawasi pemandangan di depannya."Papa! Jangan lari! Tangkap aku!"Seorang bocah laki-laki berusia empat tahun dengan rambut hitam legam dan mata biru yang persis seperti Matthew, sedang berlari kencang di atas rumput hijau. Di belakangnya, Matthew—pria yang dulunya dianggap sebagai iblis paling kejam di dunia bawah tanah—sedang berlari kecil dengan

  • Gadis Cupu Milik Sang Mafia   pasir putih

    Pesawat jet pribadi itu membelah awan dengan tenang, namun di dalamnya, ketegangan yang berbeda merayapi Matthew. Ia duduk di kursi kulitnya, jemarinya berulang kali mengetuk sandaran tangan. Matanya sesekali melirik ke arah jendela, lalu kembali ke arah Alexa yang sedang asyik membaca majalah perjalanan."Kau terlihat seperti bom waktu yang siap meledak, Matthew," ucap Alexa tanpa mengalihkan pandangan. "Rilekslah. Marco tidak akan mati hanya karena kau meninggalkannya selama beberapa jam.""Ini bukan tentang Marco," gumam Matthew, suaranya rendah. "Ini tentang tidak adanya senjata di jangkauanku dan fakta bahwa aku tidak tahu siapa pilotnya."Alexa meletakkan majalahnya, lalu berpindah duduk ke pangkuan Matthew. Ia memegang wajah pria itu, memaksa mata biru yang gelisah itu menatapnya. "Pilotnya adalah orang pilihanku. Dan senjata? Kau tidak butuh itu di Maladewa. Jika ada yang mencoba melukaimu, mereka harus melewati aku dulu."Matthew terkekeh, tangannya secara refleks melingkari

  • Gadis Cupu Milik Sang Mafia   Sang Ratu

    Aroma lavender dan kayu cendana memenuhi lorong utama.Matthew melangkah menuju ruang tengah dan terpaku. Tirai-tirai berat berwarna beludru merah yang selama ini membuat rumah itu terasa seperti makam kuno, kini telah diganti dengan kain linen tipis berwarna krem yang membiarkan cahaya matahari menari bebas di atas lantai marmer. Vas-vas kristal besar yang biasanya kosong, kini diisi dengan bunga-bunga liar dan lili putih."Marco, apa yang terjadi dengan rumahku? Siapa yang berani mengubah dekorasi tanpa seizinku?" suara Matthew menggelegar, namun tidak ada amarah di sana, hanya kebingungan yang murni.Marco, yang sedang berdiri di dekat tangga, hanya bisa mengedikkan bahu dengan senyum tertahan. "Bukan saya, Tuan. Tapi sepertinya 'otoritas tertinggi' baru saja mengeluarkan perintah pagi ini."Tepat saat itu, Alexa muncul dari arah taman belakang. Ia tidak lagi mengenakan gaun hitam yang kelam. Ia memakai gaun musim panas berwarna kuning pucat yang membuat kulitnya tampak bercahaya.

  • Gadis Cupu Milik Sang Mafia   pagi manis

    Pagi itu, Mansion Vascov tidak dibangunkan oleh suara teriakan atau derap langkah sepatu bot yang terburu-buru. Sinar matahari masuk melalui celah gorden sutra yang sengaja dibiarkan terbuka sedikit, menyinari lantai marmer dengan warna emas yang lembut. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, Alexa terbangun tanpa rasa sesak di dadanya.Ia merasakan berat yang nyaman di pinggangnya. Lengan kokoh Matthew melingkar di sana, posesif bahkan dalam tidurnya. Alexa membalikkan tubuhnya perlahan, mencoba tidak mengusik pria yang akhirnya tampak begitu tenang itu. Wajah Matthew saat tidur kehilangan semua garis keras dan kejamnya; ia terlihat sepuluh tahun lebih muda, seorang pria yang akhirnya menemukan tempat tidurnya setelah peperangan yang panjang.Alexa mengulurkan tangan, jemarinya yang lentik menyisir helai rambut Matthew yang jatuh di dahi. Siapa yang menyangka? pikirnya. Pria ini menculiknya, mengurungnya, dan menghancurkan dunianya, namun di sinilah ia sekarang—memperhat

  • Gadis Cupu Milik Sang Mafia   keheningan

    Malam itu, kebisingan kota Jakarta terasa begitu jauh, teredam oleh dinding-dinding kedap suara di lantai teratas Mansion Vascov. Matthew tidak lagi berada di ruang bawah tanah, tidak juga di ruang rapat yang penuh dengan asap cerutu. Ia berada di kamar utama, berdiri di ambang pintu balkon, menatap punggung Alexa yang sedang menyisir rambutnya di depan cermin besar.Suasana di antara mereka telah berubah. Bukan lagi tentang siapa yang memegang senjata, melainkan tentang keheningan yang menyesakkan—sebuah perang dingin antara dua jiwa yang terlalu hancur untuk saling melepaskan, namun terlalu terluka untuk saling memeluk."Sampai kapan kau akan terus menjaga jarak seperti ini, Alexa?" suara Matthew rendah, hampir pecah.Tangan Alexa yang sedang memegang sisir berhenti sejenak. Ia melihat pantulan Matthew di cermin—pria yang tampak begitu perkasa namun terlihat sangat rapuh di matanya sekarang. "Jarak adalah satu-satunya hal yang membuatku tetap waras, Matthew. Jika aku membiarkanmu te

  • Gadis Cupu Milik Sang Mafia   Tahta diatas luka

    Jakarta menyambut kepulangan sang penguasa dengan hujan badai yang seolah mencuci noda darah dari pegunungan Alpen. Mansion Vascov berdiri tegak, lebih sunyi dan lebih mencekam dari sebelumnya. Namun, ada satu hal yang telah bergeser secara fundamental. Di koridor-koridor yang biasanya didominasi oleh langkah kaki berat para penjaga, kini terasa aura yang berbeda.Alexa tidak lagi kembali sebagai tawanan yang meringkuk. Ia berjalan di samping Matthew melewati aula utama dengan gaun hitam yang menyapu lantai, dagunya terangkat tinggi, dan tatapannya sedingin es yang menyelimuti Zurich. Matthew tidak lagi menyeretnya; ia berjalan setengah langkah di belakangnya, seolah-olah ia adalah pengawal pribadi dari ratu yang baru saja ia jemput dari kematian."Kau terlihat lelah, Alexa. Istirahatlah. Aku harus mengurus sisa-sisa pengkhianat di ruang bawah tanah," ucap Matthew sambil mencoba menyentuh bahu Alexa.Alexa berhenti melangkah, namun ia tidak menoleh. "Jangan sentuh aku, Matthew. Dan ja

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status