LOGINMalam di mansion Vascov terasa lebih panjang dari ribuan malam yang pernah Alexa lalui. Kamar megah yang seharusnya menjadi dambaan setiap wanita itu kini terasa seperti sel isolasi yang menyesakkan. Alexa meringkuk di sudut tempat tidur, memeluk lututnya erat, alih-alih merasa aman dengan kemewahan, ia justru merasa kecil dan hancur.
Pintu kamar terbuka pelan tanpa suara ketukan. Matthew masuk dengan kemeja hitam yang kancing atasnya terbuka, memperlihatkan aura dominasi yang tak terbantahkan. Ia membawa sebuah nampan berisi makanan mewah, namun matanya hanya tertuju pada satu objek, Alexa yang gemetar tanpa kacamata. "Makanlah. Aku tidak suka milikku terlihat kurus dan pucat," suara Matthew memecah kesunyian. Alexa tidak bergeming. "Aku bukan milikmu. Berapa kali harus kukatakan? Aku punya harga diri yang tidak bisa kau beli dengan emasmu." Matthew meletakkan nampan itu di meja nakas, lalu berjalan mendekat. Gerakannya tenang namun pasti, seperti predator yang tahu mangsanya sudah terpojok. Ia duduk di tepi tempat tidur, membuat kasur itu amblas karena berat badannya. "Harga diri?" Matthew terkekeh rendah. "Harga diri adalah barang mewah yang hanya dimiliki orang-orang yang tidak punya beban. Apakah harga dirimu bisa membayar biaya cuci darah ibumu di rumah sakit?" Alexa tersentak. Kepalanya terangkat dengan cepat, matanya yang sembab menatap Matthew dengan penuh kilat amarah sekaligus keterkejutan. "Bagaimana ... bagaimana kau tahu tentang ibuku?" "Aku Matthew Vascov, Alexa. Tidak ada rahasia yang bisa kau sembunyikan dariku. Aku tahu ibumu sakit gagal ginjal kronis, aku tahu kau bekerja di tiga tempat berbeda di London hanya untuk mengirim uang obat, dan aku tahu tabunganmu sekarang ... hampir nol." Alexa terdiam dan kembali menunduk. Hatinya bergemuruh penuh kelelahan. Matthew mengulurkan tangan, jemarinya yang dingin menyentuh dagu Alexa dan memaksanya untuk menatap langsung ke dalam mata birunya yang kelam. Alexa mencoba memalingkan wajah, namun cengkeraman Matthew menguat. "Lepaskan aku, Tuan Matthew ... kumohon," rintih Alexa. "Aku akan melepaskanmu jika kau berhenti bersikap keras kepala," bisik Matthew. Ia mendekatkan wajahnya ke ceruk leher Alexa. Aroma maskulin yang tajam membuat pertahanan Alexa goyah. Sebelum Alexa sempat meronta lagi, ia merasakan sentuhan hangat bibir Matthew di kulit lehernya yang sensitif. Alexa memejamkan mata, tangannya terkepal kuat hingga kuku-kukunya melukai telapak tangannya sendiri. Namun, Matthew tidak berhenti. Ia memberikan isapan kuat dan gigitan kecil di sana, meninggalkan bekas kemerahan yang mencolok—sebuah tanda kepemilikan yang akan terlihat oleh siapa pun. "Ah! Sakit!" Alexa mendesis, tubuhnya tiba-tiba terasa lemas. Sentuhan Matthew yang ahli mulai membangkitkan sensasi asing yang membuatnya tak berdaya. Ia benci betapa tubuhnya mengkhianati logikanya sendiri. "Sekarang semua orang akan tahu kau milik siapa," ujar Matthew dengan suara serak setelah menjauhkan wajahnya. Ia mengusap tanda merah di leher Alexa dengan ibu jarinya. "Itu tandaku. Jangan pernah mencoba menutupinya." "Aku akan memberikanmu pilihan," imbuh Matthew. Matthew bangkit dan berjalan menuju jendela besar yang menghadap ke taman labirin di bawah sana. "Aku akan memberikan penawaran. Aku akan memindahkan ibumu ke rumah sakit terbaik di Singapura. Aku akan menanggung seluruh biaya operasinya, perawatan pasca-operasi, hingga dia benar-benar sembuh. Sebagai gantinya ... kau hanya perlu tinggal di sini. Menjadi wanitaku." Alexa tertawa sumbang di tengah isak tangisnya. "Menjadi wanitaku? Maksudmu menjadi pemuas nafsumu? Menjadi bonekamu?" "Menjadi ratuku, Alexa. Tapi jika kau lebih suka menyebutnya boneka, itu pilihanmu." Alexa berdiri, kakinya masih sedikit gemetar. "Tidak. Aku lebih baik bekerja seumur hidup, menjadi pelayan, atau apa pun, asalkan bukan darimu. Aku tidak mau menjual jiwaku pada seorang pembunuh." Matthew berbalik, matanya berkilat dingin. "Pikirkan baik-baik. Waktu ibumu tidak banyak." "Keluar! Keluar dari sini!" teriak Alexa sambil melempar bantal ke arah Matthew. Matthew hanya menatapnya dengan pandangan merendahkan yang dingin sebelum akhirnya melangkah keluar dan mengunci pintu dari luar. Alexa jatuh terduduk di lantai, menangis sejadi-jadinya. Ia merasa kotor karena tanda di lehernya, dan ia merasa gagal karena tidak bisa menyelamatkan ibunya dengan tangannya sendiri. "Kenapa aku harus dititik terendah ini!!" teriakannya hingga terdengar dari luar kamar. Dua jam kemudian, ponsel Alexa yang diletakkan Matthew di atas meja tiba-tiba bergetar hebat. Nama 'Rumah Sakit' tertera di layar. Dengan tangan gemetar, Alexa mengangkatnya. "Halo? Nona Alexa? Ini dari bagian ICU. Kondisi Ibu Lastri menurun drastis. Beliau mengalami gagal napas dan harus segera menjalani operasi darurat malam ini juga karena ada komplikasi. Namun, biaya deposit harus segera dilunasi sebelum tindakan dilakukan ..." Dunia Alexa seolah runtuh. Suara perawat itu terdengar seperti lonceng kematian. "B-berapa biayanya?" "Satu miliar rupiah untuk tahap awal, Nona. Karena peralatan yang digunakan sangat khusus." Alexa mematikan telepon. Ia memegang kepalanya yang terasa ingin pecah. Satu miliar? Bahkan jika ia menjual seluruh organ tubuhnya pun, uang itu tidak akan terkumpul malam ini. Di tengah keputusasaannya, wajah Matthew terbayang di benaknya. Inikah yang pria itu inginkan? Melihatnya merangkak memohon? Alexa berlari ke arah pintu dan menggedornya dengan keras. "Tuan Matthew! Matthew, buka pintunya! Aku setuju! Aku akan melakukan apa pun! Tolong selamatkan ibuku!" Pintu terbuka seketika, seolah Matthew memang sudah menunggu di balik sana. Pria itu berdiri dengan ekspresi datar, seolah sudah memprediksi kemenangan ini. "Ulangi lagi," ucap Matthew dingin. Alexa jatuh berlutut di depan kaki Matthew, air matanya membasahi sepatu kulit mahal pria itu. "Tolong ... selamatkan ibuku. Aku akan menjadi milikmu. Lakukan apa pun padaku, jadikan aku bonekamu, hancurkan aku sesukamu, tapi tolong ... biarkan ibuku hidup." Perjanjian Blberdarah itupun akhirnya terjadi. Matthew berjongkok, mengangkat wajah Alexa dengan kasar. Ia menatap mata hazel yang kini benar-benar telah kehilangan sinarnya. "Ingat kata-katamu ini, Alexa. Mulai malam ini, kau tidak punya hak atas dirimu sendiri. Napasmu, tubuhmu, bahkan pikiranmu ... adalah properti milik Matthew Vascov." Matthew mengeluarkan ponselnya dan melakukan satu panggilan singkat. "Lakukan operasinya sekarang. Kirim tim terbaik ke rumah sakit itu. Bayar semua biayanya tanpa sisa." Setelah menutup telepon, Matthew kembali menatap Alexa. Ia menggendong gadis itu masuk kembali ke dalam kamar dan membaringkannya di tempat tidur dengan kelembutan yang mengerikan—seperti seorang kolektor yang baru saja mendapatkan barang antik yang sangat rapuh namun berharga. "Jangan menangis," bisik Matthew sambil menghapus air mata di pipi Alexa dengan lidahnya, sebuah tindakan yang membuat Alexa bergidik ngeri. "Mulai besok, dunia akan mengenalmu sebagai calon istriku. Dan Sahara ... atau siapa pun yang mencoba menyentuhmu, akan berakhir di dasar laut." Alexa hanya bisa memejamkan mata. Ia telah menyelamatkan nyawa ibunya, namun ia tahu, ia baru saja menyerahkan dirinya pada iblis yang paling nyata. Di lehernya, tanda merah dari Matthew terasa panas, seolah membakar sisa-sisa harga diri yang pernah ia banggakan. "Jangan lakukan lebih jauh lagi, Tuan. Aku belum siap."Malam semakin larut di Mansion Vascov. Jam dinding besar di aula utama berdenting dua belas kali, namun suasana di dalam bangunan megah itu jauh dari kata tenang. Ketegangan menggantung di udara seperti kabut tebal yang siap meledak menjadi badai. Matthew Vascov baru saja melangkah masuk melalui pintu utama dengan jas hitam yang disampirkan di bahunya. Garis wajahnya tampak keras, matanya merah karena kurang tidur dan amarah yang belum tuntas setelah insiden Daffa tadi malam. Setiap langkah sepatunya yang menghantam lantai marmer terdengar seperti lonceng kematian yang bergaung di seluruh ruangan. "Di mana dia?" suara Matthew berat dan rendah, menghentikan langkah dua penjaga yang berjaga di depan koridor kamar khusus Alexa. "Nona Alexa ada di dalam, Tuan," jawab salah satu penjaga dengan suara bergetar. "Apa dia sudah makan?" Kedua penjaga itu saling pandang, keraguan terpancar jelas dari wajah mereka. "Anu... Tuan... pelayan sudah membawakan makan malam, bahkan camilan sej
Keheningan di mansion Vascov terasa semakin mencekam setelah kunjungan Daffa. Bagi Alexa, pertemuan dengan masa lalunya itu bukan sekadar reuni, melainkan sebuah pengingat akan kehidupan normal yang pernah ia miliki—kehidupan di mana ia bisa tersenyum tanpa rasa takut dan bernapas tanpa diawasi sepasang mata biru yang obsesif.Alexa duduk termenung di tepi jendela yang terkunci rapat. Pikirannya kalut. Di satu sisi, ada rasa syukur karena ibunya sedang dalam penanganan medis terbaik berkat uang Matthew. Disisi lain, ia merasa seperti barang rampasan yang tidak memiliki hak atas tubuh dan jiwanya sendiri. Kebenciannya pada Matthew bukannya memudar, justru semakin mengakar setiap kali ia melihat tanda merah di lehernya—tanda yang dipaksakan pria itu sebagai simbol kepemilikan.Matthew menjadi semakin tidak terkendali. Ia memerintahkan penambahan kamera CCTV di setiap sudut kamar, kecuali kamar mandi. Bahkan, ia meminta pelayan untuk mencicipi setiap makanan yang akan dimakan Alexa, se
Cahaya matahari pagi menyelinap masuk melalui celah gorden sutra yang mahal, menerangi debu-debu yang menari di udara kamar utama mansion Vascov. Alexa mengerjapkan matanya yang terasa berat. Hal pertama yang ia rasakan adalah denyut nyeri di perut dan rasa kaku di sekujur tubuhnya. Namun, ada sesuatu yang hangat mendekap jemarinya. Ia menoleh pelan dan mendapati Matthew duduk di kursi tepat di samping tempat tidurnya. Pria itu masih mengenakan kemeja hitam yang sama dengan semalam, tampak kusut dan tidak rapi—pemandangan yang sangat langka bagi seorang Matthew Vascov yang perfeksionis. Mata biru safirnya yang biasanya dingin kini terlihat kuyu, menunjukkan bahwa ia tidak tidur barang semenit pun. "Kau sudah bangun?" suara Matthew serak, namun penuh dengan kelembutan yang membuat bulu kuduk Alexa meremang. Alexa mencoba menarik tangannya, namun Matthew justru mempererat genggamannya. "Jangan. Biarkan seperti ini sebentar saja, Alexa." "Tuan, saya ... saya ingin duduk," bisik A
Matthew mendekap tubuh ramping Alexa, hingga wanita manis itu sulit bergerak. Tangan nakalnya mulai merayap masuk ke dalam T-shirt berwana putih dan mengusap lembut perut datarnya. Alexa segera menahan tangan gagah itu untuk tidak bereaksi kemana-mana. Wajah polosnya mengiba untuk tidak melakukan hal yang lebih jauh. Matthew tak menanggapi permohonan dari Alexa, tersebut. Dia terus menyusup masuk hingga belahan indah yang selama ini dia jaga, menjadi ladang bebas untuk Sang mafia. Isak tangis terdengar di telinga Matthew, dia menghentikan aksinya dan menatap lekat wajah sembab yang sejak tadi terus menangis. "Jangan menangis lagi. Aku tidak suka melihat wajah cantikmu berubah bengkak. Aku tidak akan melakukannya karena kamu adalah ratu spesial untukku." ucap Matthew dengan senyum maskulin. "Istirahatlah, aku akan pergi sebentar. Kalau kamu butuh apapun, panggil saja pelayanan yang ada diluar kamar. Ingat, jangan menangis lagi. Itu bisa melukai hatiku," bisik Matthew yang kemudia
Malam di mansion Vascov terasa lebih panjang dari ribuan malam yang pernah Alexa lalui. Kamar megah yang seharusnya menjadi dambaan setiap wanita itu kini terasa seperti sel isolasi yang menyesakkan. Alexa meringkuk di sudut tempat tidur, memeluk lututnya erat, alih-alih merasa aman dengan kemewahan, ia justru merasa kecil dan hancur.Pintu kamar terbuka pelan tanpa suara ketukan. Matthew masuk dengan kemeja hitam yang kancing atasnya terbuka, memperlihatkan aura dominasi yang tak terbantahkan. Ia membawa sebuah nampan berisi makanan mewah, namun matanya hanya tertuju pada satu objek, Alexa yang gemetar tanpa kacamata."Makanlah. Aku tidak suka milikku terlihat kurus dan pucat," suara Matthew memecah kesunyian.Alexa tidak bergeming. "Aku bukan milikmu. Berapa kali harus kukatakan? Aku punya harga diri yang tidak bisa kau beli dengan emasmu."Matthew meletakkan nampan itu di meja nakas, lalu berjalan mendekat. Gerakannya tenang namun pasti, seperti predator yang tahu mangsanya sud
Alexa yang masih kebingungan, segera di gendong paksa dan dimasukkan ke dalam mobil oleh sang mafia. Wanita polos dan manis itu pun sontak kebingungan. Mesin mobil SUV hitam masih menderu halus, namun suasana di dalam kabin terasa mencekam. Alexa berusaha keras menarik gagang pintu, tetapi sistem pengunci otomatis telah mematikan seluruh akses keluar. Di sampingnya, Matthew duduk dengan tenang, menyilangkan kaki panjangnya sambil menyesap aroma cerutu yang belum dinyalakan."Buka pintunya, Tuan Matthew! Ini penculikan!" suara Alexa gemetar, air mata mulai menggenang di balik kacamata tebalnya.Matthew menoleh perlahan. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang dingin. "Penculikan adalah istilah yang kasar, Sayang. Aku lebih suka menyebutnya sebagai ... penjemputan paksa untuk keamananmu." Wajah Matthew semakin mendekat, membuat Alexa mengkerut takut. Bulu kuduknya merinding, serasa nyawanya akan tercabut saat ini juga. "Keamananku? Anda adalah satu-satunya ancaman di s







