Share

Pilihan berat

Author: Adilia
last update Last Updated: 2026-01-11 20:33:00

Malam di mansion Vascov terasa lebih panjang dari ribuan malam yang pernah Alexa lalui. Kamar megah yang seharusnya menjadi dambaan setiap wanita itu kini terasa seperti sel isolasi yang menyesakkan. Alexa meringkuk di sudut tempat tidur, memeluk lututnya erat, alih-alih merasa aman dengan kemewahan, ia justru merasa kecil dan hancur.

​Pintu kamar terbuka pelan tanpa suara ketukan. Matthew masuk dengan kemeja hitam yang kancing atasnya terbuka, memperlihatkan aura dominasi yang tak terbantahkan. Ia membawa sebuah nampan berisi makanan mewah, namun matanya hanya tertuju pada satu objek, Alexa yang gemetar tanpa kacamata.

​"Makanlah. Aku tidak suka milikku terlihat kurus dan pucat," suara Matthew memecah kesunyian.

​Alexa tidak bergeming. "Aku bukan milikmu. Berapa kali harus kukatakan? Aku punya harga diri yang tidak bisa kau beli dengan emasmu."

​Matthew meletakkan nampan itu di meja nakas, lalu berjalan mendekat. Gerakannya tenang namun pasti, seperti predator yang tahu mangsanya sudah terpojok. Ia duduk di tepi tempat tidur, membuat kasur itu amblas karena berat badannya.

​"Harga diri?" Matthew terkekeh rendah. "Harga diri adalah barang mewah yang hanya dimiliki orang-orang yang tidak punya beban. Apakah harga dirimu bisa membayar biaya cuci darah ibumu di rumah sakit?"

​Alexa tersentak. Kepalanya terangkat dengan cepat, matanya yang sembab menatap Matthew dengan penuh kilat amarah sekaligus keterkejutan.

"Bagaimana ... bagaimana kau tahu tentang ibuku?"

​"Aku Matthew Vascov, Alexa. Tidak ada rahasia yang bisa kau sembunyikan dariku. Aku tahu ibumu sakit gagal ginjal kronis, aku tahu kau bekerja di tiga tempat berbeda di London hanya untuk mengirim uang obat, dan aku tahu tabunganmu sekarang ... hampir nol."

Alexa terdiam dan kembali menunduk. Hatinya bergemuruh penuh kelelahan. ​Matthew mengulurkan tangan, jemarinya yang dingin menyentuh dagu Alexa dan memaksanya untuk menatap langsung ke dalam mata birunya yang kelam. Alexa mencoba memalingkan wajah, namun cengkeraman Matthew menguat.

​"Lepaskan aku, Tuan Matthew ... kumohon," rintih Alexa.

​"Aku akan melepaskanmu jika kau berhenti bersikap keras kepala," bisik Matthew. Ia mendekatkan wajahnya ke ceruk leher Alexa. Aroma maskulin yang tajam membuat pertahanan Alexa goyah.

​Sebelum Alexa sempat meronta lagi, ia merasakan sentuhan hangat bibir Matthew di kulit lehernya yang sensitif. Alexa memejamkan mata, tangannya terkepal kuat hingga kuku-kukunya melukai telapak tangannya sendiri. Namun, Matthew tidak berhenti. Ia memberikan isapan kuat dan gigitan kecil di sana, meninggalkan bekas kemerahan yang mencolok—sebuah tanda kepemilikan yang akan terlihat oleh siapa pun.

​"Ah! Sakit!" Alexa mendesis, tubuhnya tiba-tiba terasa lemas. Sentuhan Matthew yang ahli mulai membangkitkan sensasi asing yang membuatnya tak berdaya. Ia benci betapa tubuhnya mengkhianati logikanya sendiri.

​"Sekarang semua orang akan tahu kau milik siapa," ujar Matthew dengan suara serak setelah menjauhkan wajahnya. Ia mengusap tanda merah di leher Alexa dengan ibu jarinya. "Itu tandaku. Jangan pernah mencoba menutupinya."

"Aku akan memberikanmu pilihan," imbuh Matthew.

​Matthew bangkit dan berjalan menuju jendela besar yang menghadap ke taman labirin di bawah sana. "Aku akan memberikan penawaran. Aku akan memindahkan ibumu ke rumah sakit terbaik di Singapura. Aku akan menanggung seluruh biaya operasinya, perawatan pasca-operasi, hingga dia benar-benar sembuh. Sebagai gantinya ... kau hanya perlu tinggal di sini. Menjadi wanitaku."

​Alexa tertawa sumbang di tengah isak tangisnya. "Menjadi wanitaku? Maksudmu menjadi pemuas nafsumu? Menjadi bonekamu?"

​"Menjadi ratuku, Alexa. Tapi jika kau lebih suka menyebutnya boneka, itu pilihanmu."

​Alexa berdiri, kakinya masih sedikit gemetar. "Tidak. Aku lebih baik bekerja seumur hidup, menjadi pelayan, atau apa pun, asalkan bukan darimu. Aku tidak mau menjual jiwaku pada seorang pembunuh."

​Matthew berbalik, matanya berkilat dingin. "Pikirkan baik-baik. Waktu ibumu tidak banyak."

​"Keluar! Keluar dari sini!" teriak Alexa sambil melempar bantal ke arah Matthew.

​Matthew hanya menatapnya dengan pandangan merendahkan yang dingin sebelum akhirnya melangkah keluar dan mengunci pintu dari luar. Alexa jatuh terduduk di lantai, menangis sejadi-jadinya. Ia merasa kotor karena tanda di lehernya, dan ia merasa gagal karena tidak bisa menyelamatkan ibunya dengan tangannya sendiri.

"Kenapa aku harus di​titik terendah ini!!" teriakannya hingga terdengar dari luar kamar.

​Dua jam kemudian, ponsel Alexa yang diletakkan Matthew di atas meja tiba-tiba bergetar hebat. Nama 'Rumah Sakit' tertera di layar. Dengan tangan gemetar, Alexa mengangkatnya.

​"Halo? Nona Alexa? Ini dari bagian ICU. Kondisi Ibu Lastri menurun drastis. Beliau mengalami gagal napas dan harus segera menjalani operasi darurat malam ini juga karena ada komplikasi. Namun, biaya deposit harus segera dilunasi sebelum tindakan dilakukan ..."

​Dunia Alexa seolah runtuh. Suara perawat itu terdengar seperti lonceng kematian.

"B-berapa biayanya?"

​"Satu miliar rupiah untuk tahap awal, Nona. Karena peralatan yang digunakan sangat khusus."

​Alexa mematikan telepon. Ia memegang kepalanya yang terasa ingin pecah. Satu miliar? Bahkan jika ia menjual seluruh organ tubuhnya pun, uang itu tidak akan terkumpul malam ini. Di tengah keputusasaannya, wajah Matthew terbayang di benaknya.

​Inikah yang pria itu inginkan? Melihatnya merangkak memohon?

​Alexa berlari ke arah pintu dan menggedornya dengan keras. "Tuan Matthew! Matthew, buka pintunya! Aku setuju! Aku akan melakukan apa pun! Tolong selamatkan ibuku!"

​Pintu terbuka seketika, seolah Matthew memang sudah menunggu di balik sana. Pria itu berdiri dengan ekspresi datar, seolah sudah memprediksi kemenangan ini.

​"Ulangi lagi," ucap Matthew dingin.

​Alexa jatuh berlutut di depan kaki Matthew, air matanya membasahi sepatu kulit mahal pria itu.

"Tolong ... selamatkan ibuku. Aku akan menjadi milikmu. Lakukan apa pun padaku, jadikan aku bonekamu, hancurkan aku sesukamu, tapi tolong ... biarkan ibuku hidup."

Perjanjian Blberdarah itupun akhirnya terjadi. ​Matthew berjongkok, mengangkat wajah Alexa dengan kasar. Ia menatap mata hazel yang kini benar-benar telah kehilangan sinarnya. "Ingat kata-katamu ini, Alexa. Mulai malam ini, kau tidak punya hak atas dirimu sendiri. Napasmu, tubuhmu, bahkan pikiranmu ... adalah properti milik Matthew Vascov."

​Matthew mengeluarkan ponselnya dan melakukan satu panggilan singkat. "Lakukan operasinya sekarang. Kirim tim terbaik ke rumah sakit itu. Bayar semua biayanya tanpa sisa."

​Setelah menutup telepon, Matthew kembali menatap Alexa. Ia menggendong gadis itu masuk kembali ke dalam kamar dan membaringkannya di tempat tidur dengan kelembutan yang mengerikan—seperti seorang kolektor yang baru saja mendapatkan barang antik yang sangat rapuh namun berharga.

​"Jangan menangis," bisik Matthew sambil menghapus air mata di pipi Alexa dengan lidahnya, sebuah tindakan yang membuat Alexa bergidik ngeri. "Mulai besok, dunia akan mengenalmu sebagai calon istriku. Dan Sahara ... atau siapa pun yang mencoba menyentuhmu, akan berakhir di dasar laut."

​Alexa hanya bisa memejamkan mata. Ia telah menyelamatkan nyawa ibunya, namun ia tahu, ia baru saja menyerahkan dirinya pada iblis yang paling nyata. Di lehernya, tanda merah dari Matthew terasa panas, seolah membakar sisa-sisa harga diri yang pernah ia banggakan.

"Jangan lakukan lebih jauh lagi, Tuan. Aku belum siap."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Gadis Cupu Milik Sang Mafia   Di antara angin dan tawa

    Lima tahun kemudian, suasana di halaman belakang kediaman Vascov tidak lagi menyerupai markas militer yang kaku. Memang, para penjaga masih berdiri di titik-titik strategis, namun kini mereka lebih sering terlihat membantu mengambilkan bola plastik yang terlempar ke semak-semak daripada memegang senjata laras panjang.Alexa duduk di kursi rotan di bawah pohon rindang, menyesap teh melati hangatnya. Wajahnya tampak jauh lebih tenang, gurat kecemasan yang dulu selalu menghiasi matanya kini telah hilang, digantikan oleh binar kebahagiaan yang tulus. Di pangkuannya, sebuah buku sketsa terbuka, namun ia tidak sedang menggambar; matanya sibuk mengawasi pemandangan di depannya."Papa! Jangan lari! Tangkap aku!"Seorang bocah laki-laki berusia empat tahun dengan rambut hitam legam dan mata biru yang persis seperti Matthew, sedang berlari kencang di atas rumput hijau. Di belakangnya, Matthew—pria yang dulunya dianggap sebagai iblis paling kejam di dunia bawah tanah—sedang berlari kecil dengan

  • Gadis Cupu Milik Sang Mafia   pasir putih

    Pesawat jet pribadi itu membelah awan dengan tenang, namun di dalamnya, ketegangan yang berbeda merayapi Matthew. Ia duduk di kursi kulitnya, jemarinya berulang kali mengetuk sandaran tangan. Matanya sesekali melirik ke arah jendela, lalu kembali ke arah Alexa yang sedang asyik membaca majalah perjalanan."Kau terlihat seperti bom waktu yang siap meledak, Matthew," ucap Alexa tanpa mengalihkan pandangan. "Rilekslah. Marco tidak akan mati hanya karena kau meninggalkannya selama beberapa jam.""Ini bukan tentang Marco," gumam Matthew, suaranya rendah. "Ini tentang tidak adanya senjata di jangkauanku dan fakta bahwa aku tidak tahu siapa pilotnya."Alexa meletakkan majalahnya, lalu berpindah duduk ke pangkuan Matthew. Ia memegang wajah pria itu, memaksa mata biru yang gelisah itu menatapnya. "Pilotnya adalah orang pilihanku. Dan senjata? Kau tidak butuh itu di Maladewa. Jika ada yang mencoba melukaimu, mereka harus melewati aku dulu."Matthew terkekeh, tangannya secara refleks melingkari

  • Gadis Cupu Milik Sang Mafia   Sang Ratu

    Aroma lavender dan kayu cendana memenuhi lorong utama.Matthew melangkah menuju ruang tengah dan terpaku. Tirai-tirai berat berwarna beludru merah yang selama ini membuat rumah itu terasa seperti makam kuno, kini telah diganti dengan kain linen tipis berwarna krem yang membiarkan cahaya matahari menari bebas di atas lantai marmer. Vas-vas kristal besar yang biasanya kosong, kini diisi dengan bunga-bunga liar dan lili putih."Marco, apa yang terjadi dengan rumahku? Siapa yang berani mengubah dekorasi tanpa seizinku?" suara Matthew menggelegar, namun tidak ada amarah di sana, hanya kebingungan yang murni.Marco, yang sedang berdiri di dekat tangga, hanya bisa mengedikkan bahu dengan senyum tertahan. "Bukan saya, Tuan. Tapi sepertinya 'otoritas tertinggi' baru saja mengeluarkan perintah pagi ini."Tepat saat itu, Alexa muncul dari arah taman belakang. Ia tidak lagi mengenakan gaun hitam yang kelam. Ia memakai gaun musim panas berwarna kuning pucat yang membuat kulitnya tampak bercahaya.

  • Gadis Cupu Milik Sang Mafia   pagi manis

    Pagi itu, Mansion Vascov tidak dibangunkan oleh suara teriakan atau derap langkah sepatu bot yang terburu-buru. Sinar matahari masuk melalui celah gorden sutra yang sengaja dibiarkan terbuka sedikit, menyinari lantai marmer dengan warna emas yang lembut. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, Alexa terbangun tanpa rasa sesak di dadanya.Ia merasakan berat yang nyaman di pinggangnya. Lengan kokoh Matthew melingkar di sana, posesif bahkan dalam tidurnya. Alexa membalikkan tubuhnya perlahan, mencoba tidak mengusik pria yang akhirnya tampak begitu tenang itu. Wajah Matthew saat tidur kehilangan semua garis keras dan kejamnya; ia terlihat sepuluh tahun lebih muda, seorang pria yang akhirnya menemukan tempat tidurnya setelah peperangan yang panjang.Alexa mengulurkan tangan, jemarinya yang lentik menyisir helai rambut Matthew yang jatuh di dahi. Siapa yang menyangka? pikirnya. Pria ini menculiknya, mengurungnya, dan menghancurkan dunianya, namun di sinilah ia sekarang—memperhat

  • Gadis Cupu Milik Sang Mafia   keheningan

    Malam itu, kebisingan kota Jakarta terasa begitu jauh, teredam oleh dinding-dinding kedap suara di lantai teratas Mansion Vascov. Matthew tidak lagi berada di ruang bawah tanah, tidak juga di ruang rapat yang penuh dengan asap cerutu. Ia berada di kamar utama, berdiri di ambang pintu balkon, menatap punggung Alexa yang sedang menyisir rambutnya di depan cermin besar.Suasana di antara mereka telah berubah. Bukan lagi tentang siapa yang memegang senjata, melainkan tentang keheningan yang menyesakkan—sebuah perang dingin antara dua jiwa yang terlalu hancur untuk saling melepaskan, namun terlalu terluka untuk saling memeluk."Sampai kapan kau akan terus menjaga jarak seperti ini, Alexa?" suara Matthew rendah, hampir pecah.Tangan Alexa yang sedang memegang sisir berhenti sejenak. Ia melihat pantulan Matthew di cermin—pria yang tampak begitu perkasa namun terlihat sangat rapuh di matanya sekarang. "Jarak adalah satu-satunya hal yang membuatku tetap waras, Matthew. Jika aku membiarkanmu te

  • Gadis Cupu Milik Sang Mafia   Tahta diatas luka

    Jakarta menyambut kepulangan sang penguasa dengan hujan badai yang seolah mencuci noda darah dari pegunungan Alpen. Mansion Vascov berdiri tegak, lebih sunyi dan lebih mencekam dari sebelumnya. Namun, ada satu hal yang telah bergeser secara fundamental. Di koridor-koridor yang biasanya didominasi oleh langkah kaki berat para penjaga, kini terasa aura yang berbeda.Alexa tidak lagi kembali sebagai tawanan yang meringkuk. Ia berjalan di samping Matthew melewati aula utama dengan gaun hitam yang menyapu lantai, dagunya terangkat tinggi, dan tatapannya sedingin es yang menyelimuti Zurich. Matthew tidak lagi menyeretnya; ia berjalan setengah langkah di belakangnya, seolah-olah ia adalah pengawal pribadi dari ratu yang baru saja ia jemput dari kematian."Kau terlihat lelah, Alexa. Istirahatlah. Aku harus mengurus sisa-sisa pengkhianat di ruang bawah tanah," ucap Matthew sambil mencoba menyentuh bahu Alexa.Alexa berhenti melangkah, namun ia tidak menoleh. "Jangan sentuh aku, Matthew. Dan ja

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status