Share

Obsesi

Author: Adilia
last update Last Updated: 2026-01-11 19:44:45

Pagi itu, di kantor pusat Vascov Group yang menjulang tinggi di pusat Jakarta, terbenteng kaca dan baja yang mencerminkan kekuasaan Matthew. Di lantai paling atas, di balik pintu kayu jati berlapis baja, Matthew sedang menatap layar monitor besar yang menampilkan rekaman CCTV dari sebuah kafe kecil di dekat universitas ternama.

​Di layar itu, Alexa terlihat sedang duduk di sudut, berkutat dengan tumpukan buku dan segelas es kopi yang sudah mencair. Matthew mengusap dagunya, matanya terpaku pada gerakan tangan Alexa yang menyelipkan anak rambut ke belakang telinga.

​"Begitu sederhana, namun begitu sulit dijangkau," gumam Matthew.

Ia telah mengirimkan bunga anonim, namun Alexa justru memberikannya pada penjaga gerbang kampus. Ia mengirimkan mobil mewah untuk menjemput, namun Alexa lebih memilih naik angkutan umum yang berdesakan.

​Ketukan di pintu memecahkan keheningan obsesifnya.

​"Masuk," suara Matthew berubah dingin dan datar.

​Pintu terbuka, namun bukan asistennya yang muncul. Harum parfum musk dan amber yang menyengat langsung memenuhi ruangan, menggantikan aroma kopi pahit yang disukai Matthew. Seorang wanita dengan gaun merah ketat yang memeluk lekuk tubuhnya masuk dengan langkah yang dibuat sedemikian rupa agar pinggulnya berayun menggoda.

​Dia adalah Sahara. Putri tunggal dari salah satu rekan bisnis gelap Matthew di Timur Tengah.

​"Matthew, Sayang ... kau terlihat sangat sibuk," suara Sahara mendesah manja. Ia berjalan mendekati meja kerja Matthew, mengabaikan tatapan tajam yang bisa membunuh siapa pun itu.

​Matthew tidak bergeming. Ia bahkan tidak bangkit dari kursinya. "Siapa yang mengizinkanmu masuk, Sahara? Aku sedang tidak ingin menerima tamu, apalagi yang tidak diundang."

​Sahara tertawa kecil, tawa yang terdengar dipaksakan di telinga Matthew. Ia meletakkan tangan dengan kuku merah panjangnya di atas meja kerja Matthew, perlahan merayap menuju tangan pria itu.

​"Ayahku bilang kau butuh hiburan setelah perjalanan panjang dari London. Dan aku ... aku sangat merindukanmu." Sahara membungkuk sedikit, sengaja memperlihatkan belahan dadanya yang rendah di depan wajah Matthew.

​Bagi kebanyakan pria, Sahara adalah definisi dewi seksual. Namun di mata Matthew, wanita di depannya ini tak lebih dari sekadar sampah yang dipoles emas. Ia merasa mual melihat riasan tebal yang menutupi pori-pori wajah Sahara. Pikirannya justru melayang pada wajah polos Alexa yang tanpa riasan, yang kulitnya tampak seputih porselen di bawah sinar matahari pagi.

​"Singkirkan tanganmu sebelum aku mematahkan jarimu satu per satu," desis Matthew. Suaranya rendah, mengandung ancaman yang nyata.

​Sahara tersentak, menarik tangannya dengan cepat. Wajahnya memucat, namun ia mencoba mempertahankan harga dirinya. "Kenapa kau begitu kasar, Matt? Kita sudah saling kenal sejak lama. Ayah kita sudah membicarakan tentang ... penyatuan keluarga kita."

​Matthew berdiri. Postur tubuhnya yang tinggi besar seketika mengintimidasi Sahara hingga wanita itu mundur selangkah.

​"Penyatuan keluarga?" Matthew tertawa sinis, sebuah suara yang terdengar seperti gesekan logam. "Kau pikir aku akan sudi menyatukan darahku dengan wanita yang sudah tidur dengan setengah dari dewan direksi di Dubai? Jangan membuatku tertawa, Sahara."

​"Itu fitnah!" teriak Sahara, wajahnya memerah karena malu dan marah.

​"Aku punya foto, rekaman, dan daftar nama jika kau ingin melihatnya," balas Matthew dingin. Ia berjalan mengitari meja, mendekati Sahara hingga wanita itu terpojok ke dinding. "Kau tahu apa yang aku benci? Sesuatu yang palsu. Bulu mata palsumu, bibir hasil suntikanmu, dan keramahan palsumu itu membuatku jijik."

​Matthew membayangkan Alexa. Gadis itu bahkan tidak sadar betapa cantiknya dia. Alexa asli, dia nyata, dia adalah kontras total dari dunia penuh kepalsuan yang dihuni Sahara.

​"Keluar," perintah Matthew singkat.

​"Matthew, dengarkan aku—"

​"KELUAR!" gertak Matthew. Suaranya menggelegar di seluruh ruangan, membuat vas bunga di meja bergetar.

​Sahara, dengan air mata kemarahan yang merusak riasannya, menyambar tas Hermès-nya dan berlari keluar ruangan. Ia tidak pernah dihina seperti ini sebelumnya.

​Setelah Sahara pergi, Matthew memanggil kepala keamanannya, Marco.

​"Bersihkan ruangan ini. Aku tidak ingin mencium bau parfum wanita itu sedikit pun," perintah Matthew sambil melonggarkan dasinya.

​"Baik, Tuan. Lalu, mengenai target kita ... Nona Alexa?"

​Mendengar nama itu, ketegangan di wajah Matthew sedikit mereda.

"Apa dia masih di kafe itu?"

​"Masih, Tuan. Namun, ada seorang mahasiswa laki-laki yang mencoba mendekatinya dan duduk di mejanya."

​Rahang Matthew mengeras. Matanya berkilat penuh amarah. "Siapa dia?"

​"Hanya teman sekelasnya, Tuan. Namanya Rio."

​Matthew mengambil kunci mobilnya dan jas hitamnya. "Siapkan mobil. Aku sendiri yang akan menjemput gadisku. Dan pastikan mahasiswa bernama Rio itu tidak pernah bisa mendekati Alexa lagi. Patahkan kakinya jika perlu."

​"Tapi Tuan, ini akan menarik perhatian publik jika Anda turun langsung ke area kampus."

​Matthew menatap Marco dengan tatapan dingin. "Aku tidak peduli. Jika ada serangga yang mencoba menyentuh milikku, aku akan menginjaknya sampai hancur. Sahara saja sudah cukup merusak hariku, jangan biarkan bocah kampus itu melakukan hal yang sama."

Sementara suasana di kampus saat ini, ​Alexa baru saja keluar dari kafe dengan tas ransel berat di punggungnya. Ia merasa tidak nyaman karena Rio terus-menerus mengikutinya dan mengajaknya makan malam, padahal ia sudah menolak berkali-kali.

​"Ayo lah, Lex. Sekali saja. Aku baru beli motor baru, aku antar pulang ya?" Rio mencoba menarik lengan sweter Alexa.

​"Maaf, Rio. Aku harus belajar untuk kuis besok," tolak Alexa halus, matanya mencari-cari angkot di pinggir jalan.

​Tiba-tiba, suara decitan ban yang keras membuat semua orang di depan kampus menoleh. Sebuah iring-iringan tiga mobil SUV hitam mewah berhenti tepat di depan Alexa. Pintu mobil tengah terbuka, dan seorang pria dengan setelan jas seharga ratusan juta rupiah keluar.

"​Itu Tuan Matthew."

​Mahasiswa di sekitar mulai berbisik-bisik. Aura Matthew begitu kuat, begitu gelap, hingga menciptakan radius sunyi di sekelilingnya.

​Matthew berjalan mantap ke arah Alexa. Ia mengabaikan Rio yang berdiri mematung karena ketakutan melihat sosok pria yang tampak seperti dewa kematian itu.

​"Aku sudah bilang, kau tidak akan bisa bersembunyi," ucap Matthew pelan saat sampai di depan Alexa.

​"T-tuan Matthew? Apa yang Anda lakukan di sini?" Alexa mundur selangkah, namun Matthew dengan cepat melingkarkan lengannya di pinggang Alexa, menariknya mendekat.

​"Menjemput milikku," jawab Matthew tegas. Ia melirik Rio dengan tatapan merendahkan. "Dan kau, bocah. Pergi sebelum aku membuatmu menghilang dari muka bumi ini."

​Rio lari tanpa menoleh lagi. Alexa hanya bisa terpaku, jantungnya berdegup kencang bukan karena cinta, melainkan karena intensitas pria yang kini memeluknya dengan posesif.

​"Masuk ke mobil, Alexa. Kita harus bicara tentang aturan baru dalam hidupmu," bisik Matthew di telinga Alexa, sebelum membukakan pintu mobil untuknya.

Alexa masih terdiam tanpa kata, ucapan yang barusan dikatakan Matthew, masih belum bisa dicerna.

"Alexa ...."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Gadis Cupu Milik Sang Mafia   Paksaan

    Malam semakin larut di Mansion Vascov. Jam dinding besar di aula utama berdenting dua belas kali, namun suasana di dalam bangunan megah itu jauh dari kata tenang. Ketegangan menggantung di udara seperti kabut tebal yang siap meledak menjadi badai. ​Matthew Vascov baru saja melangkah masuk melalui pintu utama dengan jas hitam yang disampirkan di bahunya. Garis wajahnya tampak keras, matanya merah karena kurang tidur dan amarah yang belum tuntas setelah insiden Daffa tadi malam. Setiap langkah sepatunya yang menghantam lantai marmer terdengar seperti lonceng kematian yang bergaung di seluruh ruangan. ​"Di mana dia?" suara Matthew berat dan rendah, menghentikan langkah dua penjaga yang berjaga di depan koridor kamar khusus Alexa. ​"Nona Alexa ada di dalam, Tuan," jawab salah satu penjaga dengan suara bergetar. ​"Apa dia sudah makan?" ​Kedua penjaga itu saling pandang, keraguan terpancar jelas dari wajah mereka. "Anu... Tuan... pelayan sudah membawakan makan malam, bahkan camilan sej

  • Gadis Cupu Milik Sang Mafia   Kabur

    Keheningan di mansion Vascov terasa semakin mencekam setelah kunjungan Daffa. Bagi Alexa, pertemuan dengan masa lalunya itu bukan sekadar reuni, melainkan sebuah pengingat akan kehidupan normal yang pernah ia miliki—kehidupan di mana ia bisa tersenyum tanpa rasa takut dan bernapas tanpa diawasi sepasang mata biru yang obsesif.​Alexa duduk termenung di tepi jendela yang terkunci rapat. Pikirannya kalut. Di satu sisi, ada rasa syukur karena ibunya sedang dalam penanganan medis terbaik berkat uang Matthew. Disisi lain, ia merasa seperti barang rampasan yang tidak memiliki hak atas tubuh dan jiwanya sendiri. Kebenciannya pada Matthew bukannya memudar, justru semakin mengakar setiap kali ia melihat tanda merah di lehernya—tanda yang dipaksakan pria itu sebagai simbol kepemilikan.​Matthew menjadi semakin tidak terkendali. Ia memerintahkan penambahan kamera CCTV di setiap sudut kamar, kecuali kamar mandi. Bahkan, ia meminta pelayan untuk mencicipi setiap makanan yang akan dimakan Alexa, se

  • Gadis Cupu Milik Sang Mafia   Teman Lama

    Cahaya matahari pagi menyelinap masuk melalui celah gorden sutra yang mahal, menerangi debu-debu yang menari di udara kamar utama mansion Vascov. Alexa mengerjapkan matanya yang terasa berat. Hal pertama yang ia rasakan adalah denyut nyeri di perut dan rasa kaku di sekujur tubuhnya. Namun, ada sesuatu yang hangat mendekap jemarinya. ​Ia menoleh pelan dan mendapati Matthew duduk di kursi tepat di samping tempat tidurnya. Pria itu masih mengenakan kemeja hitam yang sama dengan semalam, tampak kusut dan tidak rapi—pemandangan yang sangat langka bagi seorang Matthew Vascov yang perfeksionis. Mata biru safirnya yang biasanya dingin kini terlihat kuyu, menunjukkan bahwa ia tidak tidur barang semenit pun. ​"Kau sudah bangun?" suara Matthew serak, namun penuh dengan kelembutan yang membuat bulu kuduk Alexa meremang. ​Alexa mencoba menarik tangannya, namun Matthew justru mempererat genggamannya. "Jangan. Biarkan seperti ini sebentar saja, Alexa." ​"Tuan, saya ... saya ingin duduk," bisik A

  • Gadis Cupu Milik Sang Mafia   Kemarahan Sang Iblis

    Matthew mendekap tubuh ramping Alexa, hingga wanita manis itu sulit bergerak. Tangan nakalnya mulai merayap masuk ke dalam T-shirt berwana putih dan mengusap lembut perut datarnya. Alexa segera menahan tangan gagah itu untuk tidak bereaksi kemana-mana. Wajah polosnya mengiba untuk tidak melakukan hal yang lebih jauh. Matthew tak menanggapi permohonan dari Alexa, tersebut. Dia terus menyusup masuk hingga belahan indah yang selama ini dia jaga, menjadi ladang bebas untuk Sang mafia. Isak tangis terdengar di telinga Matthew, dia menghentikan aksinya dan menatap lekat wajah sembab yang sejak tadi terus menangis. "Jangan menangis lagi. Aku tidak suka melihat wajah cantikmu berubah bengkak. Aku tidak akan melakukannya karena kamu adalah ratu spesial untukku." ucap Matthew dengan senyum maskulin. "Istirahatlah, aku akan pergi sebentar. Kalau kamu butuh apapun, panggil saja pelayanan yang ada diluar kamar. Ingat, jangan menangis lagi. Itu bisa melukai hatiku," bisik Matthew yang kemudia

  • Gadis Cupu Milik Sang Mafia   Pilihan berat

    Malam di mansion Vascov terasa lebih panjang dari ribuan malam yang pernah Alexa lalui. Kamar megah yang seharusnya menjadi dambaan setiap wanita itu kini terasa seperti sel isolasi yang menyesakkan. Alexa meringkuk di sudut tempat tidur, memeluk lututnya erat, alih-alih merasa aman dengan kemewahan, ia justru merasa kecil dan hancur.​Pintu kamar terbuka pelan tanpa suara ketukan. Matthew masuk dengan kemeja hitam yang kancing atasnya terbuka, memperlihatkan aura dominasi yang tak terbantahkan. Ia membawa sebuah nampan berisi makanan mewah, namun matanya hanya tertuju pada satu objek, Alexa yang gemetar tanpa kacamata.​"Makanlah. Aku tidak suka milikku terlihat kurus dan pucat," suara Matthew memecah kesunyian.​Alexa tidak bergeming. "Aku bukan milikmu. Berapa kali harus kukatakan? Aku punya harga diri yang tidak bisa kau beli dengan emasmu."​Matthew meletakkan nampan itu di meja nakas, lalu berjalan mendekat. Gerakannya tenang namun pasti, seperti predator yang tahu mangsanya sud

  • Gadis Cupu Milik Sang Mafia   Digendong paksa

    Alexa yang masih kebingungan, segera di gendong paksa dan dimasukkan ke dalam mobil oleh sang mafia. Wanita polos dan manis itu pun sontak kebingungan. Mesin mobil SUV hitam masih menderu halus, namun suasana di dalam kabin terasa mencekam. Alexa berusaha keras menarik gagang pintu, tetapi sistem pengunci otomatis telah mematikan seluruh akses keluar. Di sampingnya, Matthew duduk dengan tenang, menyilangkan kaki panjangnya sambil menyesap aroma cerutu yang belum dinyalakan.​"Buka pintunya, Tuan Matthew! Ini penculikan!" suara Alexa gemetar, air mata mulai menggenang di balik kacamata tebalnya.​Matthew menoleh perlahan. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang dingin. "Penculikan adalah istilah yang kasar, Sayang. Aku lebih suka menyebutnya sebagai ... penjemputan paksa untuk keamananmu." Wajah Matthew semakin mendekat, membuat Alexa mengkerut takut. Bulu kuduknya merinding, serasa nyawanya akan tercabut saat ini juga. ​"Keamananku? Anda adalah satu-satunya ancaman di s

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status