เข้าสู่ระบบPagi itu, di kantor pusat Vascov Group yang menjulang tinggi di pusat Jakarta, terbenteng kaca dan baja yang mencerminkan kekuasaan Matthew. Di lantai paling atas, di balik pintu kayu jati berlapis baja, Matthew sedang menatap layar monitor besar yang menampilkan rekaman CCTV dari sebuah kafe kecil di dekat universitas ternama.
Di layar itu, Alexa terlihat sedang duduk di sudut, berkutat dengan tumpukan buku dan segelas es kopi yang sudah mencair. Matthew mengusap dagunya, matanya terpaku pada gerakan tangan Alexa yang menyelipkan anak rambut ke belakang telinga. "Begitu sederhana, namun begitu sulit dijangkau," gumam Matthew. Ia telah mengirimkan bunga anonim, namun Alexa justru memberikannya pada penjaga gerbang kampus. Ia mengirimkan mobil mewah untuk menjemput, namun Alexa lebih memilih naik angkutan umum yang berdesakan. Ketukan di pintu memecahkan keheningan obsesifnya. "Masuk," suara Matthew berubah dingin dan datar. Pintu terbuka, namun bukan asistennya yang muncul. Harum parfum musk dan amber yang menyengat langsung memenuhi ruangan, menggantikan aroma kopi pahit yang disukai Matthew. Seorang wanita dengan gaun merah ketat yang memeluk lekuk tubuhnya masuk dengan langkah yang dibuat sedemikian rupa agar pinggulnya berayun menggoda. Dia adalah Sahara. Putri tunggal dari salah satu rekan bisnis gelap Matthew di Timur Tengah. "Matthew, Sayang ... kau terlihat sangat sibuk," suara Sahara mendesah manja. Ia berjalan mendekati meja kerja Matthew, mengabaikan tatapan tajam yang bisa membunuh siapa pun itu. Matthew tidak bergeming. Ia bahkan tidak bangkit dari kursinya. "Siapa yang mengizinkanmu masuk, Sahara? Aku sedang tidak ingin menerima tamu, apalagi yang tidak diundang." Sahara tertawa kecil, tawa yang terdengar dipaksakan di telinga Matthew. Ia meletakkan tangan dengan kuku merah panjangnya di atas meja kerja Matthew, perlahan merayap menuju tangan pria itu. "Ayahku bilang kau butuh hiburan setelah perjalanan panjang dari London. Dan aku ... aku sangat merindukanmu." Sahara membungkuk sedikit, sengaja memperlihatkan belahan dadanya yang rendah di depan wajah Matthew. Bagi kebanyakan pria, Sahara adalah definisi dewi seksual. Namun di mata Matthew, wanita di depannya ini tak lebih dari sekadar sampah yang dipoles emas. Ia merasa mual melihat riasan tebal yang menutupi pori-pori wajah Sahara. Pikirannya justru melayang pada wajah polos Alexa yang tanpa riasan, yang kulitnya tampak seputih porselen di bawah sinar matahari pagi. "Singkirkan tanganmu sebelum aku mematahkan jarimu satu per satu," desis Matthew. Suaranya rendah, mengandung ancaman yang nyata. Sahara tersentak, menarik tangannya dengan cepat. Wajahnya memucat, namun ia mencoba mempertahankan harga dirinya. "Kenapa kau begitu kasar, Matt? Kita sudah saling kenal sejak lama. Ayah kita sudah membicarakan tentang ... penyatuan keluarga kita." Matthew berdiri. Postur tubuhnya yang tinggi besar seketika mengintimidasi Sahara hingga wanita itu mundur selangkah. "Penyatuan keluarga?" Matthew tertawa sinis, sebuah suara yang terdengar seperti gesekan logam. "Kau pikir aku akan sudi menyatukan darahku dengan wanita yang sudah tidur dengan setengah dari dewan direksi di Dubai? Jangan membuatku tertawa, Sahara." "Itu fitnah!" teriak Sahara, wajahnya memerah karena malu dan marah. "Aku punya foto, rekaman, dan daftar nama jika kau ingin melihatnya," balas Matthew dingin. Ia berjalan mengitari meja, mendekati Sahara hingga wanita itu terpojok ke dinding. "Kau tahu apa yang aku benci? Sesuatu yang palsu. Bulu mata palsumu, bibir hasil suntikanmu, dan keramahan palsumu itu membuatku jijik." Matthew membayangkan Alexa. Gadis itu bahkan tidak sadar betapa cantiknya dia. Alexa asli, dia nyata, dia adalah kontras total dari dunia penuh kepalsuan yang dihuni Sahara. "Keluar," perintah Matthew singkat. "Matthew, dengarkan aku—" "KELUAR!" gertak Matthew. Suaranya menggelegar di seluruh ruangan, membuat vas bunga di meja bergetar. Sahara, dengan air mata kemarahan yang merusak riasannya, menyambar tas Hermès-nya dan berlari keluar ruangan. Ia tidak pernah dihina seperti ini sebelumnya. Setelah Sahara pergi, Matthew memanggil kepala keamanannya, Marco. "Bersihkan ruangan ini. Aku tidak ingin mencium bau parfum wanita itu sedikit pun," perintah Matthew sambil melonggarkan dasinya. "Baik, Tuan. Lalu, mengenai target kita ... Nona Alexa?" Mendengar nama itu, ketegangan di wajah Matthew sedikit mereda. "Apa dia masih di kafe itu?" "Masih, Tuan. Namun, ada seorang mahasiswa laki-laki yang mencoba mendekatinya dan duduk di mejanya." Rahang Matthew mengeras. Matanya berkilat penuh amarah. "Siapa dia?" "Hanya teman sekelasnya, Tuan. Namanya Rio." Matthew mengambil kunci mobilnya dan jas hitamnya. "Siapkan mobil. Aku sendiri yang akan menjemput gadisku. Dan pastikan mahasiswa bernama Rio itu tidak pernah bisa mendekati Alexa lagi. Patahkan kakinya jika perlu." "Tapi Tuan, ini akan menarik perhatian publik jika Anda turun langsung ke area kampus." Matthew menatap Marco dengan tatapan dingin. "Aku tidak peduli. Jika ada serangga yang mencoba menyentuh milikku, aku akan menginjaknya sampai hancur. Sahara saja sudah cukup merusak hariku, jangan biarkan bocah kampus itu melakukan hal yang sama." Sementara suasana di kampus saat ini, Alexa baru saja keluar dari kafe dengan tas ransel berat di punggungnya. Ia merasa tidak nyaman karena Rio terus-menerus mengikutinya dan mengajaknya makan malam, padahal ia sudah menolak berkali-kali. "Ayo lah, Lex. Sekali saja. Aku baru beli motor baru, aku antar pulang ya?" Rio mencoba menarik lengan sweter Alexa. "Maaf, Rio. Aku harus belajar untuk kuis besok," tolak Alexa halus, matanya mencari-cari angkot di pinggir jalan. Tiba-tiba, suara decitan ban yang keras membuat semua orang di depan kampus menoleh. Sebuah iring-iringan tiga mobil SUV hitam mewah berhenti tepat di depan Alexa. Pintu mobil tengah terbuka, dan seorang pria dengan setelan jas seharga ratusan juta rupiah keluar. "Itu Tuan Matthew." Mahasiswa di sekitar mulai berbisik-bisik. Aura Matthew begitu kuat, begitu gelap, hingga menciptakan radius sunyi di sekelilingnya. Matthew berjalan mantap ke arah Alexa. Ia mengabaikan Rio yang berdiri mematung karena ketakutan melihat sosok pria yang tampak seperti dewa kematian itu. "Aku sudah bilang, kau tidak akan bisa bersembunyi," ucap Matthew pelan saat sampai di depan Alexa. "T-tuan Matthew? Apa yang Anda lakukan di sini?" Alexa mundur selangkah, namun Matthew dengan cepat melingkarkan lengannya di pinggang Alexa, menariknya mendekat. "Menjemput milikku," jawab Matthew tegas. Ia melirik Rio dengan tatapan merendahkan. "Dan kau, bocah. Pergi sebelum aku membuatmu menghilang dari muka bumi ini." Rio lari tanpa menoleh lagi. Alexa hanya bisa terpaku, jantungnya berdegup kencang bukan karena cinta, melainkan karena intensitas pria yang kini memeluknya dengan posesif. "Masuk ke mobil, Alexa. Kita harus bicara tentang aturan baru dalam hidupmu," bisik Matthew di telinga Alexa, sebelum membukakan pintu mobil untuknya. Alexa masih terdiam tanpa kata, ucapan yang barusan dikatakan Matthew, masih belum bisa dicerna. "Alexa ...."Lima tahun kemudian, suasana di halaman belakang kediaman Vascov tidak lagi menyerupai markas militer yang kaku. Memang, para penjaga masih berdiri di titik-titik strategis, namun kini mereka lebih sering terlihat membantu mengambilkan bola plastik yang terlempar ke semak-semak daripada memegang senjata laras panjang.Alexa duduk di kursi rotan di bawah pohon rindang, menyesap teh melati hangatnya. Wajahnya tampak jauh lebih tenang, gurat kecemasan yang dulu selalu menghiasi matanya kini telah hilang, digantikan oleh binar kebahagiaan yang tulus. Di pangkuannya, sebuah buku sketsa terbuka, namun ia tidak sedang menggambar; matanya sibuk mengawasi pemandangan di depannya."Papa! Jangan lari! Tangkap aku!"Seorang bocah laki-laki berusia empat tahun dengan rambut hitam legam dan mata biru yang persis seperti Matthew, sedang berlari kencang di atas rumput hijau. Di belakangnya, Matthew—pria yang dulunya dianggap sebagai iblis paling kejam di dunia bawah tanah—sedang berlari kecil dengan
Pesawat jet pribadi itu membelah awan dengan tenang, namun di dalamnya, ketegangan yang berbeda merayapi Matthew. Ia duduk di kursi kulitnya, jemarinya berulang kali mengetuk sandaran tangan. Matanya sesekali melirik ke arah jendela, lalu kembali ke arah Alexa yang sedang asyik membaca majalah perjalanan."Kau terlihat seperti bom waktu yang siap meledak, Matthew," ucap Alexa tanpa mengalihkan pandangan. "Rilekslah. Marco tidak akan mati hanya karena kau meninggalkannya selama beberapa jam.""Ini bukan tentang Marco," gumam Matthew, suaranya rendah. "Ini tentang tidak adanya senjata di jangkauanku dan fakta bahwa aku tidak tahu siapa pilotnya."Alexa meletakkan majalahnya, lalu berpindah duduk ke pangkuan Matthew. Ia memegang wajah pria itu, memaksa mata biru yang gelisah itu menatapnya. "Pilotnya adalah orang pilihanku. Dan senjata? Kau tidak butuh itu di Maladewa. Jika ada yang mencoba melukaimu, mereka harus melewati aku dulu."Matthew terkekeh, tangannya secara refleks melingkari
Aroma lavender dan kayu cendana memenuhi lorong utama.Matthew melangkah menuju ruang tengah dan terpaku. Tirai-tirai berat berwarna beludru merah yang selama ini membuat rumah itu terasa seperti makam kuno, kini telah diganti dengan kain linen tipis berwarna krem yang membiarkan cahaya matahari menari bebas di atas lantai marmer. Vas-vas kristal besar yang biasanya kosong, kini diisi dengan bunga-bunga liar dan lili putih."Marco, apa yang terjadi dengan rumahku? Siapa yang berani mengubah dekorasi tanpa seizinku?" suara Matthew menggelegar, namun tidak ada amarah di sana, hanya kebingungan yang murni.Marco, yang sedang berdiri di dekat tangga, hanya bisa mengedikkan bahu dengan senyum tertahan. "Bukan saya, Tuan. Tapi sepertinya 'otoritas tertinggi' baru saja mengeluarkan perintah pagi ini."Tepat saat itu, Alexa muncul dari arah taman belakang. Ia tidak lagi mengenakan gaun hitam yang kelam. Ia memakai gaun musim panas berwarna kuning pucat yang membuat kulitnya tampak bercahaya.
Pagi itu, Mansion Vascov tidak dibangunkan oleh suara teriakan atau derap langkah sepatu bot yang terburu-buru. Sinar matahari masuk melalui celah gorden sutra yang sengaja dibiarkan terbuka sedikit, menyinari lantai marmer dengan warna emas yang lembut. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, Alexa terbangun tanpa rasa sesak di dadanya.Ia merasakan berat yang nyaman di pinggangnya. Lengan kokoh Matthew melingkar di sana, posesif bahkan dalam tidurnya. Alexa membalikkan tubuhnya perlahan, mencoba tidak mengusik pria yang akhirnya tampak begitu tenang itu. Wajah Matthew saat tidur kehilangan semua garis keras dan kejamnya; ia terlihat sepuluh tahun lebih muda, seorang pria yang akhirnya menemukan tempat tidurnya setelah peperangan yang panjang.Alexa mengulurkan tangan, jemarinya yang lentik menyisir helai rambut Matthew yang jatuh di dahi. Siapa yang menyangka? pikirnya. Pria ini menculiknya, mengurungnya, dan menghancurkan dunianya, namun di sinilah ia sekarang—memperhat
Malam itu, kebisingan kota Jakarta terasa begitu jauh, teredam oleh dinding-dinding kedap suara di lantai teratas Mansion Vascov. Matthew tidak lagi berada di ruang bawah tanah, tidak juga di ruang rapat yang penuh dengan asap cerutu. Ia berada di kamar utama, berdiri di ambang pintu balkon, menatap punggung Alexa yang sedang menyisir rambutnya di depan cermin besar.Suasana di antara mereka telah berubah. Bukan lagi tentang siapa yang memegang senjata, melainkan tentang keheningan yang menyesakkan—sebuah perang dingin antara dua jiwa yang terlalu hancur untuk saling melepaskan, namun terlalu terluka untuk saling memeluk."Sampai kapan kau akan terus menjaga jarak seperti ini, Alexa?" suara Matthew rendah, hampir pecah.Tangan Alexa yang sedang memegang sisir berhenti sejenak. Ia melihat pantulan Matthew di cermin—pria yang tampak begitu perkasa namun terlihat sangat rapuh di matanya sekarang. "Jarak adalah satu-satunya hal yang membuatku tetap waras, Matthew. Jika aku membiarkanmu te
Jakarta menyambut kepulangan sang penguasa dengan hujan badai yang seolah mencuci noda darah dari pegunungan Alpen. Mansion Vascov berdiri tegak, lebih sunyi dan lebih mencekam dari sebelumnya. Namun, ada satu hal yang telah bergeser secara fundamental. Di koridor-koridor yang biasanya didominasi oleh langkah kaki berat para penjaga, kini terasa aura yang berbeda.Alexa tidak lagi kembali sebagai tawanan yang meringkuk. Ia berjalan di samping Matthew melewati aula utama dengan gaun hitam yang menyapu lantai, dagunya terangkat tinggi, dan tatapannya sedingin es yang menyelimuti Zurich. Matthew tidak lagi menyeretnya; ia berjalan setengah langkah di belakangnya, seolah-olah ia adalah pengawal pribadi dari ratu yang baru saja ia jemput dari kematian."Kau terlihat lelah, Alexa. Istirahatlah. Aku harus mengurus sisa-sisa pengkhianat di ruang bawah tanah," ucap Matthew sambil mencoba menyentuh bahu Alexa.Alexa berhenti melangkah, namun ia tidak menoleh. "Jangan sentuh aku, Matthew. Dan ja







