แชร์

Kemarahan Sang Iblis

ผู้เขียน: Adilia
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2026-01-11 20:55:39

Matthew mendekap tubuh ramping Alexa, hingga wanita manis itu sulit bergerak. Tangan nakalnya mulai merayap masuk ke dalam T-shirt berwana putih dan mengusap lembut perut datarnya. Alexa segera menahan tangan gagah itu untuk tidak bereaksi kemana-mana. Wajah polosnya mengiba untuk tidak melakukan hal yang lebih jauh.

Matthew tak menanggapi permohonan dari Alexa, tersebut. Dia terus menyusup masuk hingga belahan indah yang selama ini dia jaga, menjadi ladang bebas untuk Sang mafia. Isak tangis terdengar di telinga Matthew, dia menghentikan aksinya dan menatap lekat wajah sembab yang sejak tadi terus menangis.

"Jangan menangis lagi. Aku tidak suka melihat wajah cantikmu berubah bengkak. Aku tidak akan melakukannya karena kamu adalah ratu spesial untukku." ucap Matthew dengan senyum maskulin.

"Istirahatlah, aku akan pergi sebentar. Kalau kamu butuh apapun, panggil saja pelayanan yang ada diluar kamar. Ingat, jangan menangis lagi. Itu bisa melukai hatiku," bisik Matthew yang kemudian mengecup hangat kening Alexa.

Malam yang panjang, kembali menyambut pagi.

Mansion Vascov yang biasanya tenang dan dingin, pagi itu terasa seperti sebuah sangkar emas yang pengap bagi Alexa. Di lehernya, bekas kemerahan yang ditinggalkan Matthew semalam masih terasa berdenyut, seolah menjadi pengingat permanen bahwa ia bukan lagi pemilik atas tubuhnya sendiri. Matthew telah berangkat sejak fajar, katanya ada urusan mendesak di pelabuhan yang melibatkan pengiriman senjata—hal yang membuat Alexa semakin sadar betapa gelapnya dunia pria itu.

​Namun, ketenangan itu hancur saat suara derit ban mobil sport terdengar kasar di halaman depan.

​Sahara turun dari mobil Lamborghini merahnya dengan nafas memburu. Kabar yang ia dengar dari mata-matanya di dalam mansion benar-benar membakar kewarasannya. Matthew membawa pulang seorang gadis. Bukan model internasional, bukan putri bangsawan, melainkan seorang gadis cupu yang dipungut dari pesawat.

​"Minggir! Kalian tidak tahu siapa aku?!" teriak Sahara kepada dua penjaga di depan pintu utama. Karena status ayahnya sebagai mitra bisnis penting Matthew, para penjaga itu ragu untuk bertindak kasar. Sahara memanfaatkan keraguan itu dan menerobos masuk ke dalam.

​Sahara menaiki tangga dengan langkah penuh amarah. Ia menuju kamar utama yang ia tahu adalah tempat terlarang bagi siapapun kecuali Matthew. Begitu pintu terbuka, ia melihat Alexa yang sedang duduk di tepi jendela, mengenakan kemeja putih kebesaran milik Matthew.

​Pemandangan itu membuat darah Sahara mendidih. Kemeja itu ... kemeja yang bahkan tak pernah boleh disentuh Sahara, kini membalut tubuh gadis murahan itu.

​"Jadi, ini jalang kecil yang disembunyikan Matthew?" suara Sahara melengking sinis.

​Alexa tersentak, ia berdiri dengan kikuk, mencari-cari kacamatanya yang kini sudah diganti dengan yang baru oleh anak buah Matthew.

"Siapa ... siapa Anda?"

​"Siapa aku?!" Sahara mendekat dengan cepat. "Aku adalah calon istri Matthew! Dan kau hanyalah sampah yang dia bawa pulang untuk memuaskan nafsunya!"

​Tanpa peringatan, Sahara melayangkan tamparan keras ke pipi Alexa.

PLAK!

Alexa tersungkur ke lantai, sudut bibirnya pecah. Belum sempat ia mencerna rasa sakitnya, Sahara sudah menjambak rambut Alexa, memaksanya untuk mendongak.

​"Lihat wajahmu! Cupu, kacamata tebal, tidak punya selera!" Sahara melihat tanda merah di leher Alexa. Matanya melotot penuh kebencian. "Dia menandaimu? Berani-beraninya dia!"

​Sahara menyeret Alexa ke arah kamar mandi. Kekuatan amarah menjadikannya lebih kuat dari Alexa yang memang tidak memiliki tenaga untuk melawan. Sahara menyalakan kran air dingin di bathtub dan menekan kepala Alexa ke dalamnya.

​"Kau pikir kau bisa mengambilnya dariku?!" Sahara terus menekan kepala Alexa. Alexa meronta, tangannya mencakar-cakar lengan Sahara, mencoba mencari oksigen. "Kau harus tahu tempatmu, Jalang!"

​Sahara mengangkat kepala Alexa yang terengah-engah, lalu membantingnya ke lantai marmer yang keras. Ia mulai menendang perut dan kaki Alexa dengan sepatu hak tingginya yang tajam. Alexa hanya bisa meringkuk, melindungi kepalanya, sambil terisak memanggil nama ibunya.

​"Matthew tidak akan mencintaimu! Dia hanya terobsesi karena kau terlihat mudah dihancurkan!" Sahara meraih vas kecil di atas meja rias dan memecahkannya ke lantai, lalu mengambil satu kepingan tajamnya. "Akan kubuat wajahmu tidak berguna lagi bagi dia."

​Tepat saat Sahara mengarahkan pecahan keramik itu ke pipi Alexa, pintu kamar terbanting terbuka hingga engselnya nyaris lepas.

​"SAHARA!"

​Suara itu bukan lagi suara manusia, melainkan raungan iblis yang keluar dari neraka. Matthew berdiri di sana, matanya merah padam melihat pemandangan di depannya. Pakaiannya sedikit kotor dengan noda darah—entah darah siapa—namun auranya jauh lebih mematikan dari biasanya.

​Matthew melesat. Dalam satu detik, ia sudah mencengkeram pergelangan tangan Sahara dengan sangat kuat hingga terdengar bunyi krek yang mengerikan.

​"AAAKKKHHH!" Sahara menjerit kesakitan, pecahan keramik itu jatuh dari tangannya.

​Matthew tidak berhenti di situ. Ia menjambak rambut Sahara dengan kasar—jauh lebih kasar dari apa yang Sahara lakukan pada Alexa—dan menyeretnya menjauh dari tubuh Alexa yang tergeletak lemah.

​"Kau ... berani ... menyentuhnya?" desis Matthew tepat di depan wajah Sahara. Suaranya rendah, bergetar karena amarah yang nyaris tak terkendali.

​"Matt ... dia hanya jalang ... dia tidak pantas—"

​BUGH!

​Matthew menghempaskan kepala Sahara ke dinding. Tidak sampai pecah, tapi cukup untuk membuat wanita itu setengah pingsan. "Jika kau bukan anak dari mitraku, aku sudah mengirim potongan tubuhmu ke ayahmu dalam kotak kayu malam ini juga."

​Matthew memanggil Marco yang berdiri pucat di pintu.

"Bawa wanita menjijikkan ini keluar. Bilang pada ayahnya, perjanjian bisnis kita batal. Dan jika aku melihat wajahnya lagi dalam radius lima kilometer dari rumah ini, aku akan memastikan dia tidak akan pernah bisa berjalan lagi seumur hidupnya. SERET DIA!"

​Sahara menangis meraung-raung saat Marco menyeretnya keluar bak sampah tak berharga.

​Seketika setelah Sahara menghilang, Matthew berbalik. Wajahnya yang tadi seperti monster berubah drastis menjadi penuh kecemasan. Ia berlutut di samping Alexa, tangannya yang gemetar mencoba menyentuh tubuh gadis itu yang memar-memar.

​"Alexa. .. Sayang, lihat aku," bisik Matthew. Suaranya pecah.

​Alexa memejamkan mata, ia menggigil hebat. "Jangan ... jangan sakiti aku lagi ..."

​Hati Matthew terasa seperti diremas. Ia yang terbiasa membunuh tanpa kedip, kini merasa hancur melihat gadis cupunya terluka. Ia menggendong Alexa dengan sangat hati-hati, seolah-olah Alexa adalah kaca yang bisa hancur kapan saja. Ia membaringkannya di tempat tidur yang bersih.

​"PANGGIL DOKTER SEKARANG! JIKA DALAM LIMA MENIT DIA TIDAK SAMPAI, AKU AKAN MEMBAKAR RUMAH SAKITNYA!" teriak Matthew pada anak buahnya di luar.

​Matthew mengambil handuk hangat, membersihkan darah di sudut bibir Alexa dengan gerakan yang sangat lembut. Ia mencium kening Alexa berkali-kali.

​"Maafkan aku ... Maafkan aku karena meninggalkanmu," gumam Matthew. Obsesinya kini bercampur dengan rasa protektif yang luar biasa.

​Dokter pribadi keluarga Vascov datang dengan napas terengah-engah. Ia segera memeriksa Alexa yang setengah sadar. Matthew berdiri di samping tempat tidur, tidak membiarkan dokter itu menyentuh bagian sensitif Alexa tanpa pengawasannya.

​"Bagaimana kondisinya?" tanya Matthew tajam.

​"Nona Alexa mengalami beberapa memar di perut dan tangan, serta luka robek kecil di bibir. Ada sedikit trauma pada kepalanya akibat benturan, tapi untungnya tidak ada pendarahan internal. Dia perlu istirahat total dan pemulihan mental, Tuan Vascov," lapor dokter itu dengan gugup.

​Matthew menatap Alexa yang kini tertidur karena pengaruh obat penenang. Ia menggenggam tangan kecil Alexa, mengecup jemarinya satu per satu.

​"Kau lihat, Alexa?" bisik Matthew di telinga gadis itu.

"Dunia ini kejam. Hanya aku yang bisa menjagamu. Hanya di pelukanku kau akan aman."

​Obsesi Matthew semakin dalam. Kejadian ini justru memperkuat pemikirannya, Ia tidak akan pernah membiarkan Alexa keluar dari mansion ini lagi. Ia akan membangun tembok yang lebih tinggi, menambah penjaga yang lebih banyak, dan memastikan Alexa benar-benar bergantung sepenuhnya padanya.

​Malam itu, Matthew tidak tidur. Ia duduk di kursi samping tempat tidur, memandangi wajah Alexa dengan tatapan haus. Ia akan membalas setiap tetes air mata Alexa kepada keluarga Sahara dengan cara yang paling menyakitkan.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Gadis Cupu Milik Sang Mafia   Di antara angin dan tawa

    Lima tahun kemudian, suasana di halaman belakang kediaman Vascov tidak lagi menyerupai markas militer yang kaku. Memang, para penjaga masih berdiri di titik-titik strategis, namun kini mereka lebih sering terlihat membantu mengambilkan bola plastik yang terlempar ke semak-semak daripada memegang senjata laras panjang.Alexa duduk di kursi rotan di bawah pohon rindang, menyesap teh melati hangatnya. Wajahnya tampak jauh lebih tenang, gurat kecemasan yang dulu selalu menghiasi matanya kini telah hilang, digantikan oleh binar kebahagiaan yang tulus. Di pangkuannya, sebuah buku sketsa terbuka, namun ia tidak sedang menggambar; matanya sibuk mengawasi pemandangan di depannya."Papa! Jangan lari! Tangkap aku!"Seorang bocah laki-laki berusia empat tahun dengan rambut hitam legam dan mata biru yang persis seperti Matthew, sedang berlari kencang di atas rumput hijau. Di belakangnya, Matthew—pria yang dulunya dianggap sebagai iblis paling kejam di dunia bawah tanah—sedang berlari kecil dengan

  • Gadis Cupu Milik Sang Mafia   pasir putih

    Pesawat jet pribadi itu membelah awan dengan tenang, namun di dalamnya, ketegangan yang berbeda merayapi Matthew. Ia duduk di kursi kulitnya, jemarinya berulang kali mengetuk sandaran tangan. Matanya sesekali melirik ke arah jendela, lalu kembali ke arah Alexa yang sedang asyik membaca majalah perjalanan."Kau terlihat seperti bom waktu yang siap meledak, Matthew," ucap Alexa tanpa mengalihkan pandangan. "Rilekslah. Marco tidak akan mati hanya karena kau meninggalkannya selama beberapa jam.""Ini bukan tentang Marco," gumam Matthew, suaranya rendah. "Ini tentang tidak adanya senjata di jangkauanku dan fakta bahwa aku tidak tahu siapa pilotnya."Alexa meletakkan majalahnya, lalu berpindah duduk ke pangkuan Matthew. Ia memegang wajah pria itu, memaksa mata biru yang gelisah itu menatapnya. "Pilotnya adalah orang pilihanku. Dan senjata? Kau tidak butuh itu di Maladewa. Jika ada yang mencoba melukaimu, mereka harus melewati aku dulu."Matthew terkekeh, tangannya secara refleks melingkari

  • Gadis Cupu Milik Sang Mafia   Sang Ratu

    Aroma lavender dan kayu cendana memenuhi lorong utama.Matthew melangkah menuju ruang tengah dan terpaku. Tirai-tirai berat berwarna beludru merah yang selama ini membuat rumah itu terasa seperti makam kuno, kini telah diganti dengan kain linen tipis berwarna krem yang membiarkan cahaya matahari menari bebas di atas lantai marmer. Vas-vas kristal besar yang biasanya kosong, kini diisi dengan bunga-bunga liar dan lili putih."Marco, apa yang terjadi dengan rumahku? Siapa yang berani mengubah dekorasi tanpa seizinku?" suara Matthew menggelegar, namun tidak ada amarah di sana, hanya kebingungan yang murni.Marco, yang sedang berdiri di dekat tangga, hanya bisa mengedikkan bahu dengan senyum tertahan. "Bukan saya, Tuan. Tapi sepertinya 'otoritas tertinggi' baru saja mengeluarkan perintah pagi ini."Tepat saat itu, Alexa muncul dari arah taman belakang. Ia tidak lagi mengenakan gaun hitam yang kelam. Ia memakai gaun musim panas berwarna kuning pucat yang membuat kulitnya tampak bercahaya.

  • Gadis Cupu Milik Sang Mafia   pagi manis

    Pagi itu, Mansion Vascov tidak dibangunkan oleh suara teriakan atau derap langkah sepatu bot yang terburu-buru. Sinar matahari masuk melalui celah gorden sutra yang sengaja dibiarkan terbuka sedikit, menyinari lantai marmer dengan warna emas yang lembut. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, Alexa terbangun tanpa rasa sesak di dadanya.Ia merasakan berat yang nyaman di pinggangnya. Lengan kokoh Matthew melingkar di sana, posesif bahkan dalam tidurnya. Alexa membalikkan tubuhnya perlahan, mencoba tidak mengusik pria yang akhirnya tampak begitu tenang itu. Wajah Matthew saat tidur kehilangan semua garis keras dan kejamnya; ia terlihat sepuluh tahun lebih muda, seorang pria yang akhirnya menemukan tempat tidurnya setelah peperangan yang panjang.Alexa mengulurkan tangan, jemarinya yang lentik menyisir helai rambut Matthew yang jatuh di dahi. Siapa yang menyangka? pikirnya. Pria ini menculiknya, mengurungnya, dan menghancurkan dunianya, namun di sinilah ia sekarang—memperhat

  • Gadis Cupu Milik Sang Mafia   keheningan

    Malam itu, kebisingan kota Jakarta terasa begitu jauh, teredam oleh dinding-dinding kedap suara di lantai teratas Mansion Vascov. Matthew tidak lagi berada di ruang bawah tanah, tidak juga di ruang rapat yang penuh dengan asap cerutu. Ia berada di kamar utama, berdiri di ambang pintu balkon, menatap punggung Alexa yang sedang menyisir rambutnya di depan cermin besar.Suasana di antara mereka telah berubah. Bukan lagi tentang siapa yang memegang senjata, melainkan tentang keheningan yang menyesakkan—sebuah perang dingin antara dua jiwa yang terlalu hancur untuk saling melepaskan, namun terlalu terluka untuk saling memeluk."Sampai kapan kau akan terus menjaga jarak seperti ini, Alexa?" suara Matthew rendah, hampir pecah.Tangan Alexa yang sedang memegang sisir berhenti sejenak. Ia melihat pantulan Matthew di cermin—pria yang tampak begitu perkasa namun terlihat sangat rapuh di matanya sekarang. "Jarak adalah satu-satunya hal yang membuatku tetap waras, Matthew. Jika aku membiarkanmu te

  • Gadis Cupu Milik Sang Mafia   Tahta diatas luka

    Jakarta menyambut kepulangan sang penguasa dengan hujan badai yang seolah mencuci noda darah dari pegunungan Alpen. Mansion Vascov berdiri tegak, lebih sunyi dan lebih mencekam dari sebelumnya. Namun, ada satu hal yang telah bergeser secara fundamental. Di koridor-koridor yang biasanya didominasi oleh langkah kaki berat para penjaga, kini terasa aura yang berbeda.Alexa tidak lagi kembali sebagai tawanan yang meringkuk. Ia berjalan di samping Matthew melewati aula utama dengan gaun hitam yang menyapu lantai, dagunya terangkat tinggi, dan tatapannya sedingin es yang menyelimuti Zurich. Matthew tidak lagi menyeretnya; ia berjalan setengah langkah di belakangnya, seolah-olah ia adalah pengawal pribadi dari ratu yang baru saja ia jemput dari kematian."Kau terlihat lelah, Alexa. Istirahatlah. Aku harus mengurus sisa-sisa pengkhianat di ruang bawah tanah," ucap Matthew sambil mencoba menyentuh bahu Alexa.Alexa berhenti melangkah, namun ia tidak menoleh. "Jangan sentuh aku, Matthew. Dan ja

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status