LOGINMatthew mendekap tubuh ramping Alexa, hingga wanita manis itu sulit bergerak. Tangan nakalnya mulai merayap masuk ke dalam T-shirt berwana putih dan mengusap lembut perut datarnya. Alexa segera menahan tangan gagah itu untuk tidak bereaksi kemana-mana. Wajah polosnya mengiba untuk tidak melakukan hal yang lebih jauh.
Matthew tak menanggapi permohonan dari Alexa, tersebut. Dia terus menyusup masuk hingga belahan indah yang selama ini dia jaga, menjadi ladang bebas untuk Sang mafia. Isak tangis terdengar di telinga Matthew, dia menghentikan aksinya dan menatap lekat wajah sembab yang sejak tadi terus menangis. "Jangan menangis lagi. Aku tidak suka melihat wajah cantikmu berubah bengkak. Aku tidak akan melakukannya karena kamu adalah ratu spesial untukku." ucap Matthew dengan senyum maskulin. "Istirahatlah, aku akan pergi sebentar. Kalau kamu butuh apapun, panggil saja pelayanan yang ada diluar kamar. Ingat, jangan menangis lagi. Itu bisa melukai hatiku," bisik Matthew yang kemudian mengecup hangat kening Alexa. Malam yang panjang, kembali menyambut pagi. Mansion Vascov yang biasanya tenang dan dingin, pagi itu terasa seperti sebuah sangkar emas yang pengap bagi Alexa. Di lehernya, bekas kemerahan yang ditinggalkan Matthew semalam masih terasa berdenyut, seolah menjadi pengingat permanen bahwa ia bukan lagi pemilik atas tubuhnya sendiri. Matthew telah berangkat sejak fajar, katanya ada urusan mendesak di pelabuhan yang melibatkan pengiriman senjata—hal yang membuat Alexa semakin sadar betapa gelapnya dunia pria itu. Namun, ketenangan itu hancur saat suara derit ban mobil sport terdengar kasar di halaman depan. Sahara turun dari mobil Lamborghini merahnya dengan nafas memburu. Kabar yang ia dengar dari mata-matanya di dalam mansion benar-benar membakar kewarasannya. Matthew membawa pulang seorang gadis. Bukan model internasional, bukan putri bangsawan, melainkan seorang gadis cupu yang dipungut dari pesawat. "Minggir! Kalian tidak tahu siapa aku?!" teriak Sahara kepada dua penjaga di depan pintu utama. Karena status ayahnya sebagai mitra bisnis penting Matthew, para penjaga itu ragu untuk bertindak kasar. Sahara memanfaatkan keraguan itu dan menerobos masuk ke dalam. Sahara menaiki tangga dengan langkah penuh amarah. Ia menuju kamar utama yang ia tahu adalah tempat terlarang bagi siapapun kecuali Matthew. Begitu pintu terbuka, ia melihat Alexa yang sedang duduk di tepi jendela, mengenakan kemeja putih kebesaran milik Matthew. Pemandangan itu membuat darah Sahara mendidih. Kemeja itu ... kemeja yang bahkan tak pernah boleh disentuh Sahara, kini membalut tubuh gadis murahan itu. "Jadi, ini jalang kecil yang disembunyikan Matthew?" suara Sahara melengking sinis. Alexa tersentak, ia berdiri dengan kikuk, mencari-cari kacamatanya yang kini sudah diganti dengan yang baru oleh anak buah Matthew. "Siapa ... siapa Anda?" "Siapa aku?!" Sahara mendekat dengan cepat. "Aku adalah calon istri Matthew! Dan kau hanyalah sampah yang dia bawa pulang untuk memuaskan nafsunya!" Tanpa peringatan, Sahara melayangkan tamparan keras ke pipi Alexa. PLAK! Alexa tersungkur ke lantai, sudut bibirnya pecah. Belum sempat ia mencerna rasa sakitnya, Sahara sudah menjambak rambut Alexa, memaksanya untuk mendongak. "Lihat wajahmu! Cupu, kacamata tebal, tidak punya selera!" Sahara melihat tanda merah di leher Alexa. Matanya melotot penuh kebencian. "Dia menandaimu? Berani-beraninya dia!" Sahara menyeret Alexa ke arah kamar mandi. Kekuatan amarah menjadikannya lebih kuat dari Alexa yang memang tidak memiliki tenaga untuk melawan. Sahara menyalakan kran air dingin di bathtub dan menekan kepala Alexa ke dalamnya. "Kau pikir kau bisa mengambilnya dariku?!" Sahara terus menekan kepala Alexa. Alexa meronta, tangannya mencakar-cakar lengan Sahara, mencoba mencari oksigen. "Kau harus tahu tempatmu, Jalang!" Sahara mengangkat kepala Alexa yang terengah-engah, lalu membantingnya ke lantai marmer yang keras. Ia mulai menendang perut dan kaki Alexa dengan sepatu hak tingginya yang tajam. Alexa hanya bisa meringkuk, melindungi kepalanya, sambil terisak memanggil nama ibunya. "Matthew tidak akan mencintaimu! Dia hanya terobsesi karena kau terlihat mudah dihancurkan!" Sahara meraih vas kecil di atas meja rias dan memecahkannya ke lantai, lalu mengambil satu kepingan tajamnya. "Akan kubuat wajahmu tidak berguna lagi bagi dia." Tepat saat Sahara mengarahkan pecahan keramik itu ke pipi Alexa, pintu kamar terbanting terbuka hingga engselnya nyaris lepas. "SAHARA!" Suara itu bukan lagi suara manusia, melainkan raungan iblis yang keluar dari neraka. Matthew berdiri di sana, matanya merah padam melihat pemandangan di depannya. Pakaiannya sedikit kotor dengan noda darah—entah darah siapa—namun auranya jauh lebih mematikan dari biasanya. Matthew melesat. Dalam satu detik, ia sudah mencengkeram pergelangan tangan Sahara dengan sangat kuat hingga terdengar bunyi krek yang mengerikan. "AAAKKKHHH!" Sahara menjerit kesakitan, pecahan keramik itu jatuh dari tangannya. Matthew tidak berhenti di situ. Ia menjambak rambut Sahara dengan kasar—jauh lebih kasar dari apa yang Sahara lakukan pada Alexa—dan menyeretnya menjauh dari tubuh Alexa yang tergeletak lemah. "Kau ... berani ... menyentuhnya?" desis Matthew tepat di depan wajah Sahara. Suaranya rendah, bergetar karena amarah yang nyaris tak terkendali. "Matt ... dia hanya jalang ... dia tidak pantas—" BUGH! Matthew menghempaskan kepala Sahara ke dinding. Tidak sampai pecah, tapi cukup untuk membuat wanita itu setengah pingsan. "Jika kau bukan anak dari mitraku, aku sudah mengirim potongan tubuhmu ke ayahmu dalam kotak kayu malam ini juga." Matthew memanggil Marco yang berdiri pucat di pintu. "Bawa wanita menjijikkan ini keluar. Bilang pada ayahnya, perjanjian bisnis kita batal. Dan jika aku melihat wajahnya lagi dalam radius lima kilometer dari rumah ini, aku akan memastikan dia tidak akan pernah bisa berjalan lagi seumur hidupnya. SERET DIA!" Sahara menangis meraung-raung saat Marco menyeretnya keluar bak sampah tak berharga. Seketika setelah Sahara menghilang, Matthew berbalik. Wajahnya yang tadi seperti monster berubah drastis menjadi penuh kecemasan. Ia berlutut di samping Alexa, tangannya yang gemetar mencoba menyentuh tubuh gadis itu yang memar-memar. "Alexa. .. Sayang, lihat aku," bisik Matthew. Suaranya pecah. Alexa memejamkan mata, ia menggigil hebat. "Jangan ... jangan sakiti aku lagi ..." Hati Matthew terasa seperti diremas. Ia yang terbiasa membunuh tanpa kedip, kini merasa hancur melihat gadis cupunya terluka. Ia menggendong Alexa dengan sangat hati-hati, seolah-olah Alexa adalah kaca yang bisa hancur kapan saja. Ia membaringkannya di tempat tidur yang bersih. "PANGGIL DOKTER SEKARANG! JIKA DALAM LIMA MENIT DIA TIDAK SAMPAI, AKU AKAN MEMBAKAR RUMAH SAKITNYA!" teriak Matthew pada anak buahnya di luar. Matthew mengambil handuk hangat, membersihkan darah di sudut bibir Alexa dengan gerakan yang sangat lembut. Ia mencium kening Alexa berkali-kali. "Maafkan aku ... Maafkan aku karena meninggalkanmu," gumam Matthew. Obsesinya kini bercampur dengan rasa protektif yang luar biasa. Dokter pribadi keluarga Vascov datang dengan napas terengah-engah. Ia segera memeriksa Alexa yang setengah sadar. Matthew berdiri di samping tempat tidur, tidak membiarkan dokter itu menyentuh bagian sensitif Alexa tanpa pengawasannya. "Bagaimana kondisinya?" tanya Matthew tajam. "Nona Alexa mengalami beberapa memar di perut dan tangan, serta luka robek kecil di bibir. Ada sedikit trauma pada kepalanya akibat benturan, tapi untungnya tidak ada pendarahan internal. Dia perlu istirahat total dan pemulihan mental, Tuan Vascov," lapor dokter itu dengan gugup. Matthew menatap Alexa yang kini tertidur karena pengaruh obat penenang. Ia menggenggam tangan kecil Alexa, mengecup jemarinya satu per satu. "Kau lihat, Alexa?" bisik Matthew di telinga gadis itu. "Dunia ini kejam. Hanya aku yang bisa menjagamu. Hanya di pelukanku kau akan aman." Obsesi Matthew semakin dalam. Kejadian ini justru memperkuat pemikirannya, Ia tidak akan pernah membiarkan Alexa keluar dari mansion ini lagi. Ia akan membangun tembok yang lebih tinggi, menambah penjaga yang lebih banyak, dan memastikan Alexa benar-benar bergantung sepenuhnya padanya. Malam itu, Matthew tidak tidur. Ia duduk di kursi samping tempat tidur, memandangi wajah Alexa dengan tatapan haus. Ia akan membalas setiap tetes air mata Alexa kepada keluarga Sahara dengan cara yang paling menyakitkan.Malam semakin larut di Mansion Vascov. Jam dinding besar di aula utama berdenting dua belas kali, namun suasana di dalam bangunan megah itu jauh dari kata tenang. Ketegangan menggantung di udara seperti kabut tebal yang siap meledak menjadi badai. Matthew Vascov baru saja melangkah masuk melalui pintu utama dengan jas hitam yang disampirkan di bahunya. Garis wajahnya tampak keras, matanya merah karena kurang tidur dan amarah yang belum tuntas setelah insiden Daffa tadi malam. Setiap langkah sepatunya yang menghantam lantai marmer terdengar seperti lonceng kematian yang bergaung di seluruh ruangan. "Di mana dia?" suara Matthew berat dan rendah, menghentikan langkah dua penjaga yang berjaga di depan koridor kamar khusus Alexa. "Nona Alexa ada di dalam, Tuan," jawab salah satu penjaga dengan suara bergetar. "Apa dia sudah makan?" Kedua penjaga itu saling pandang, keraguan terpancar jelas dari wajah mereka. "Anu... Tuan... pelayan sudah membawakan makan malam, bahkan camilan sej
Keheningan di mansion Vascov terasa semakin mencekam setelah kunjungan Daffa. Bagi Alexa, pertemuan dengan masa lalunya itu bukan sekadar reuni, melainkan sebuah pengingat akan kehidupan normal yang pernah ia miliki—kehidupan di mana ia bisa tersenyum tanpa rasa takut dan bernapas tanpa diawasi sepasang mata biru yang obsesif.Alexa duduk termenung di tepi jendela yang terkunci rapat. Pikirannya kalut. Di satu sisi, ada rasa syukur karena ibunya sedang dalam penanganan medis terbaik berkat uang Matthew. Disisi lain, ia merasa seperti barang rampasan yang tidak memiliki hak atas tubuh dan jiwanya sendiri. Kebenciannya pada Matthew bukannya memudar, justru semakin mengakar setiap kali ia melihat tanda merah di lehernya—tanda yang dipaksakan pria itu sebagai simbol kepemilikan.Matthew menjadi semakin tidak terkendali. Ia memerintahkan penambahan kamera CCTV di setiap sudut kamar, kecuali kamar mandi. Bahkan, ia meminta pelayan untuk mencicipi setiap makanan yang akan dimakan Alexa, se
Cahaya matahari pagi menyelinap masuk melalui celah gorden sutra yang mahal, menerangi debu-debu yang menari di udara kamar utama mansion Vascov. Alexa mengerjapkan matanya yang terasa berat. Hal pertama yang ia rasakan adalah denyut nyeri di perut dan rasa kaku di sekujur tubuhnya. Namun, ada sesuatu yang hangat mendekap jemarinya. Ia menoleh pelan dan mendapati Matthew duduk di kursi tepat di samping tempat tidurnya. Pria itu masih mengenakan kemeja hitam yang sama dengan semalam, tampak kusut dan tidak rapi—pemandangan yang sangat langka bagi seorang Matthew Vascov yang perfeksionis. Mata biru safirnya yang biasanya dingin kini terlihat kuyu, menunjukkan bahwa ia tidak tidur barang semenit pun. "Kau sudah bangun?" suara Matthew serak, namun penuh dengan kelembutan yang membuat bulu kuduk Alexa meremang. Alexa mencoba menarik tangannya, namun Matthew justru mempererat genggamannya. "Jangan. Biarkan seperti ini sebentar saja, Alexa." "Tuan, saya ... saya ingin duduk," bisik A
Matthew mendekap tubuh ramping Alexa, hingga wanita manis itu sulit bergerak. Tangan nakalnya mulai merayap masuk ke dalam T-shirt berwana putih dan mengusap lembut perut datarnya. Alexa segera menahan tangan gagah itu untuk tidak bereaksi kemana-mana. Wajah polosnya mengiba untuk tidak melakukan hal yang lebih jauh. Matthew tak menanggapi permohonan dari Alexa, tersebut. Dia terus menyusup masuk hingga belahan indah yang selama ini dia jaga, menjadi ladang bebas untuk Sang mafia. Isak tangis terdengar di telinga Matthew, dia menghentikan aksinya dan menatap lekat wajah sembab yang sejak tadi terus menangis. "Jangan menangis lagi. Aku tidak suka melihat wajah cantikmu berubah bengkak. Aku tidak akan melakukannya karena kamu adalah ratu spesial untukku." ucap Matthew dengan senyum maskulin. "Istirahatlah, aku akan pergi sebentar. Kalau kamu butuh apapun, panggil saja pelayanan yang ada diluar kamar. Ingat, jangan menangis lagi. Itu bisa melukai hatiku," bisik Matthew yang kemudia
Malam di mansion Vascov terasa lebih panjang dari ribuan malam yang pernah Alexa lalui. Kamar megah yang seharusnya menjadi dambaan setiap wanita itu kini terasa seperti sel isolasi yang menyesakkan. Alexa meringkuk di sudut tempat tidur, memeluk lututnya erat, alih-alih merasa aman dengan kemewahan, ia justru merasa kecil dan hancur.Pintu kamar terbuka pelan tanpa suara ketukan. Matthew masuk dengan kemeja hitam yang kancing atasnya terbuka, memperlihatkan aura dominasi yang tak terbantahkan. Ia membawa sebuah nampan berisi makanan mewah, namun matanya hanya tertuju pada satu objek, Alexa yang gemetar tanpa kacamata."Makanlah. Aku tidak suka milikku terlihat kurus dan pucat," suara Matthew memecah kesunyian.Alexa tidak bergeming. "Aku bukan milikmu. Berapa kali harus kukatakan? Aku punya harga diri yang tidak bisa kau beli dengan emasmu."Matthew meletakkan nampan itu di meja nakas, lalu berjalan mendekat. Gerakannya tenang namun pasti, seperti predator yang tahu mangsanya sud
Alexa yang masih kebingungan, segera di gendong paksa dan dimasukkan ke dalam mobil oleh sang mafia. Wanita polos dan manis itu pun sontak kebingungan. Mesin mobil SUV hitam masih menderu halus, namun suasana di dalam kabin terasa mencekam. Alexa berusaha keras menarik gagang pintu, tetapi sistem pengunci otomatis telah mematikan seluruh akses keluar. Di sampingnya, Matthew duduk dengan tenang, menyilangkan kaki panjangnya sambil menyesap aroma cerutu yang belum dinyalakan."Buka pintunya, Tuan Matthew! Ini penculikan!" suara Alexa gemetar, air mata mulai menggenang di balik kacamata tebalnya.Matthew menoleh perlahan. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang dingin. "Penculikan adalah istilah yang kasar, Sayang. Aku lebih suka menyebutnya sebagai ... penjemputan paksa untuk keamananmu." Wajah Matthew semakin mendekat, membuat Alexa mengkerut takut. Bulu kuduknya merinding, serasa nyawanya akan tercabut saat ini juga. "Keamananku? Anda adalah satu-satunya ancaman di s







