Mag-log in“Mas Herman?” Aku mengernyitkan dahi.
“Yups,” jawabnya. Aku belum pernah melihat perempuan ini meski sudah bekerja selama satu minggu. Apa dia pacarnya Mas Herman? Ah, ngapain juga aku pusing mikirin dia. Bukan urusanku juga mau pacarnya, selingkuhan, istri atau apa pun itu. “Mas Herman kuliah, Mbak. Bimbingan skripsi katanya.” Sebelum pergi, Mas Herman berpesan kalau dia sedang bimbingan skripsi jika ada yang mencarinya. Dia sudah sampai bab tiga dan akan segera selesai secepatnya. “Mau ambil fotokopi, Mbak?” Wanita itu menggeleng kemudian sibuk dengan ponselnya. Beberapa pelanggan sudah tak terhitung datang dan pergi dari toko ini, tetapi dia sabar menunggu meskipun Mas Herman tak kunjung pulang. “Dek, aku balik dulu, deh. Mas Herman kelamaan. Nanti bilangin suruh telepon aku, ya! Ponselnya tidak aktif.” Wanita itu akhirnya menyerah juga. Dia mengambil tasnya kemudian pergi tanpa menyebutkan nama. Hari ini toko ramai sekali. Aku bahkan tidak sempat memegang ponsel. Apalagi menonton film. Mungkin lain kali saja jika situasi dan kondisi mendukung. Azan zuhur sudah berkumandang, tetapi Mas Herman belum juga pulang. Nomornya tidak bisa dihubungi pula. Padahal aku sudah lapar dan ingin meminum es. Kuraba mesin fotokopi di depanku yang sedang bekerja menggandakan tulisan ini, terasa panas dan mungkin sudah mulai lelah sepertiku. “Masih lama, Mbak?” tanya salah seorang pelanggan. “Dua puluh lembar lagi.” “Aku tinggal aja, ya, Mbak!” Seorang laki-lali memakai seragam putih-abu menulis sebuah catatan kemudian menempelkannya di atas buku. “Mau diambil kapan, Mas?” “Nanti sore habis ekskul,” jawabnya. Aku mengelap keringat di kening, rasanya siang ini semakin panas. Fotokopi selesai dan perutku mulai meronta-ronta, sudah kelaparan. Aku heran kenapa Mas Herman tidak pulang-pulang. Di toko ini kami mendapat jatah makan sekali, yaitu makan siang. Pagi dan sore bisa makan di rumah. Waktu istirahat, aku harus bergantian dengan Mas Herman. Aku akan makan jika dia sudah selesai salat dan siap menempatkan diri di toko. Pak Bos bisa marah jika kami makan bareng. Apalagi di saat jam istirahat seperti ini. Banyak pelanggan yang datang memfotokopi di jam makan siang. Mereka biasanya akan mengambil keesokan harinya saat berangkat ke kampus atau sekolah. “Ros! Tolong pindahin motor itu. Aku nggak bisa lewat.” Mas Herman baru pulang dari kampus, tetapi terhalang oleh motor seseorang. Motornya tidak bisa lewat dan menghadangi jalan. Bagaimana ini? Ada beberapa pelanggan yang mengantre untuk fotokopi. Tak kuhiraukan dia yang masih berteriak di depan toko. Kalau orang pintar, seharusnya dia turun dan memindahkan motor itu sendiri. “Aku nggak bisa, Mas.” Aku melanjutkan fotokopi karena sudah banyak yang menunggu. Setelah beberapa menit akhirnya selesai juga dan Mas Herman bisa masuk setelah pelanggan berkurang. Dia langsung duduk di depan komputer dan main game. Kebiasaan yang sangat kubenci darinya adalah main game sampai lupa waktu. Di saat sepi, dia lebih sering main game dan menyuruhku melayani pelanggan. Mungkin karena aku anak baru, dia memanfaatkan kepolosanku. Dia hanya belum tahu saja siapa diriku sebenarnya. “Aku makan dulu, ya, Mas,” ucapku seraya pergi meninggalkannya. Dia tidak mengatakan iya atau pun mengangguk. Bodoamat! Aku sudah sampai di belakang, tapi teringat jika ada wanita yang mencari Mas Herman. Aku kembali ke toko untuk menyampaikan pesan wanita tersebut. “Mas, tadi ada cewek yang nyari kamu. Cek ponsel, ya! Tadi dia sudah hubungi kamu katanya.” “Siapa?” “Enggak tahu, aku baru lihat dia hari ini.” “Ada tahi lalat di pipi kirinya?” Aku menggeleng. “Adanya tahi cicak di dinding.” Dengan kesal Mas Herman mengambil pulpen dan dilempar ke arahku, tetapi aku menghindar. Kami bergantian istirahat kemudian kembali bekerja. Di belakang ruko ini ada sebuah ruangan yang sama besarnya dengan toko. Ada dapur kecil, kamar mandi dan sebuah tempat salat. Kami tidak perlu repot-repot keluar ke masjid untuk melaksanakan salat. Hari berjalan begitu cepat, tanpa terasa matahari sudah berada di barat. Kami membersihkan toko sebelum pulang. “Aku balik dulu, Ros! Takut pacarku marah,” ucapnya kemudian buru-buru keluar toko. Mas Herman pulang lebih dulu karena tergesa-gesa untuk menemui kekasihnya. Dia memintaku menjaga jarak ketika pacarnya datang karena wanita itu terlalu posesif katanya. Aku jadi ada ide untuk membuat wanita itu cemburu. “Ini kuncinya bawa kamu saja! Besok aku datang terlambat,” ucapnya sambil melempar kunci toko kepadaku. “Datang terlambat? Mau ke mana?” tanyaku penasaran. Akhir-akhir ini Mas Herman datang terlambat. Kata Pak Bos jangan pernah ngiri sama Mas Herman, lebih baik nganan aja. “Dia memang begitu jika ada karyawan baru. Hal itulah yang membuat karyawan sering gonta-ganti,” kata Pak Bos waktu aku mengantarkan kunci toko ke rumahnya dua hari yang lalu. Sekarang aku paham mengapa tadi pagi ada mahasiswa yang mendoakanku semoga betah kerja di sini. “Biasa malam Jum’at, anak kecil nggak bakal paham.” Mas Herman pergi meninggalkanku sendiri tanpa membantu menutup toko. Menyebalkan sekali. “Heleh, paling mau nyekar di kuburan.” “Enak saja! Ibuk lagi ada acara di rumah. Aku harus pulang bantu-bantu di rumah.” Dia menghidupkan motornya kemudian pergi secepat kilat. Di daerah sini, ketika malam Jum’at biasanya ada acara yasinan atau membaca surah Al Barzanji di musala atau masjid. Jika yang dia maksud adalah kegiatan itu, dia patut diacungi jempol. Zaman sekarang jarang sekali ada lelaki seperti itu. Usai mengepel lantai, aku segera menutup gorden dan mengunci rooling door. Namun, tiba-tiba seorang laki-laki menabrakku hingga terjatuh. Ketas putih yang dia pegang jatuh berserakan. Tulisan hitam di atasnya memudar karena lantainya masih basah. “Astaghfirullah, maafkan saya, Mbak!” lelaki itu membantuku berdiri.“Hoam!” Aku menguap berkali-kali semenjak duduk di depan computer.Rasanya aku sangat mengantuk. Semalam tidurku tak nyenyak gara-gara misteri ketukan pintu depan. Bapak dan Ibu bahkan tidak mendengarnya. Apakah ada makhluk tak kasat mata yang menggangguku? Dih! Serem!Pagi ini langit mendung. Matahari masih enggan muncul, menyisakan udara dingin yang menyusup melalui celah pintu toko. Aku sudah datang lebih awal seperti biasa, tapi Mas Herman belum terlihat batang hidungnya.Aku menyiapkan sumpah serapah untuknya. Mentang-mentang aku anak baru, dia seenaknya mempermainkan waktu. Pukul sembilan lewat, barulah dia muncul. Dengan gaya sok asik, dia membawa sebuah bingkisan di tangannya. Mau nyogok aku, pasti. Tapi aku tidak mudah dibodohi.“Pagi, Ros! Tumben sepi.” Dia masuk ke toko kemudian melepas jaketnya. “Ini ada oleh-oleh buat kamu dari Ibuk.”Jumat adalah hari pendek, sebentar lagi dia pergi jumatan. Enak sekali dia menjadi seorang laki-laki. Datang terlambat dan pulang lebih awa
Lelaki yang menabrakku memungut beberapa kertas yang jatuh tadi. Wajahnya tampak panik, terlihat jelas keringat bercucuran di pelipisnya. “Duh, malah luntur tulisannya. Bisa minta tolong diprint dan difotokopi, Mbak? Saya buru-buru ini. Sudah ditunggu sama dosen. Saya bisa mengulang tahun depan jika tidak segera membawanya ke kampus,” katanya panik.Aku melirik jam dinding. Menyebalkan sekali bukan? Lantai yang sudah kubersihkan jadi kotor lagi.“Maaf, Mas. Toko udah tutup.” Aku mencoba menjelaskan, berharap dia paham. Bagaimanapun, aku juga punya kehidupan di luar toko dan sekarang sudah waktunya pulang. “Please, Mbak. Rumah saya jauh. Dosennya juga hanya seminggu sekali ke kampus. Saya tidak bisa menunggu selama itu.”Aku mulai merasa kasihan melihatnya memohon. Sepertinya dia tidak membawa kendaraan dan berjalan dari kampus hanya demi fotokopi revisi skripsi dari dosen, tetapi aku bisa pulang terlambat jika menolongnya. “Mbak, jangan kelamaan mikir, dong! Tolong bantuin saya.”
“Mas Herman?” Aku mengernyitkan dahi. “Yups,” jawabnya. Aku belum pernah melihat perempuan ini meski sudah bekerja selama satu minggu. Apa dia pacarnya Mas Herman? Ah, ngapain juga aku pusing mikirin dia. Bukan urusanku juga mau pacarnya, selingkuhan, istri atau apa pun itu. “Mas Herman kuliah, Mbak. Bimbingan skripsi katanya.”Sebelum pergi, Mas Herman berpesan kalau dia sedang bimbingan skripsi jika ada yang mencarinya. Dia sudah sampai bab tiga dan akan segera selesai secepatnya. “Mau ambil fotokopi, Mbak?” Wanita itu menggeleng kemudian sibuk dengan ponselnya. Beberapa pelanggan sudah tak terhitung datang dan pergi dari toko ini, tetapi dia sabar menunggu meskipun Mas Herman tak kunjung pulang.“Dek, aku balik dulu, deh. Mas Herman kelamaan. Nanti bilangin suruh telepon aku, ya! Ponselnya tidak aktif.” Wanita itu akhirnya menyerah juga. Dia mengambil tasnya kemudian pergi tanpa menyebutkan nama.Hari ini toko ramai sekali. Aku bahkan tidak sempat memegang ponsel. Apalagi meno
“Kamu siapa?” tanya lelaki itu sambal mengacungkan jari telunjuknya ke arahku.Pria itu berjalan mendekat, menatap sekeliling toko sebelum mengarahkan pandangannya kembali padaku. Ia mengeluarkan sebuah map berwarna biru dari tas punggungnya, lalu meletakkannya di atas meja.“Mas Herman mana?” tanyanya pelan, tapi nadanya terdengar agak mendesak.“Mas Herman belum pulang. Tapi, kalau Mas mau menitipkan sesuatu, nanti saya sampaikan.”Pria itu tampak berpikir sejenak, lalu membuka map biru yang sepertinya berisi skripsi. Kertas-kertas di dalamnya penuh coretan tinta merah.“Saya baru saja selesai sidang, Mbak. Skripsi ini harus segera direvisi dan diprint ulang. Tapi, saya nggak punya waktu banyak. Saya benar-benar butuh bantuan Mas Herman,” ucapnya, suaranya terdengar frustasi.Aku mengangguk meski sebenarnya tidak begitu paham. Tapi aku sedikit tahu bagaimana susahnya revisi skripsi bagi mahasiswa yang baru selesai sidang. Bukan hal aneh kalau mereka panik dan ingin semuanya cepat se
“Mbak, fotokopi jadi 25 lembar. Diperkecil, perpanjang, bolak-balik, dan pakai kertas buram.” Seorang lelaki muda memakai jas almamater warna hijau memberikan sebuah makalah kepadaku. Pagi ini terasa panas meskipun aku sudah menghidupkan kipas angin. Mungkin mesin fotokopi ini grogi didampingi dan disentuh oleh gadis manis sepertiku. “Maaf, Mas. Kalau bolak-balik nggak bisa pakai kertas buram. Bisanya pakai kertas putih.” Aku menolak dengan halus. Kata Mas Herman aku harus bersikap santun terhadap pelanggan karena mereka adalah raja. Lagian zaman sekarang mana ada fotokopi pakai kertas buram? Bahannya sangat tipis dan sering membuat mesin reject. Aku tidak bisa mengoperasikannya jika mesin rusak. Apalagi aku baru belajar satu minggu di sini, masih sangat kaku dan belum mahir. “Biasanya sama Mas Herman bisa, Mbak,” ujar lelaki itu.Aku menggaruk kepala yang berbalut jilbab segi empat ini. Lelaki di hadapanku ini sepertinya sangat perhitungan. Padahal biasanya laki-laki itu tidak pe
“Duduk!” perintah lelaki di hadapanku ini. Dia adalah pemilik restoran tempatku bekerja, Pak Arkan.Aku langsung duduk tanpa berani menatap wajahnya. Kulihat tadi saat masuk mukanya sudah merah padam. Kali ini kesalahanku masih sama seperti sebelumnya. Kupikir dia sudah hafal dan bisa memakluminya lagi, tetapi ternyata semua di luar dugaanku. Pak Arkan marah besar.“Ini yang terakhir, Rosi!” Pak Arkan menggebrak meja di depanku, wajahnya merah padam.Panci gosong itu tergeletak di antara kami, seperti benda mati yang bersaksi atas semua kesalahanku. Aku menahan napas, tenggorokanku tercekat. Semua kata tertahan di bibirku. Aku tahu, kali ini tidak ada ruang untuk alasan. Namun, tanpa pekerjaan ini, apa yang akan terjadi padaku?Brak! Pak Arkan sekali lagi menggebrak meja di depanku hingga membuatku terperanjat. Kupegang dadaku yang mulai berdebar-debar.“Astaga, Rosi! Ini adalah kelima kalinya kamu menggosongkan panci saya. Gajimu satu bulan nggak akan bisa menggantikannya. Mulai s







