Mag-log inLelaki yang menabrakku memungut beberapa kertas yang jatuh tadi. Wajahnya tampak panik, terlihat jelas keringat bercucuran di pelipisnya.
“Duh, malah luntur tulisannya. Bisa minta tolong diprint dan difotokopi, Mbak? Saya buru-buru ini. Sudah ditunggu sama dosen. Saya bisa mengulang tahun depan jika tidak segera membawanya ke kampus,” katanya panik. Aku melirik jam dinding. Menyebalkan sekali bukan? Lantai yang sudah kubersihkan jadi kotor lagi. “Maaf, Mas. Toko udah tutup.” Aku mencoba menjelaskan, berharap dia paham. Bagaimanapun, aku juga punya kehidupan di luar toko dan sekarang sudah waktunya pulang. “Please, Mbak. Rumah saya jauh. Dosennya juga hanya seminggu sekali ke kampus. Saya tidak bisa menunggu selama itu.” Aku mulai merasa kasihan melihatnya memohon. Sepertinya dia tidak membawa kendaraan dan berjalan dari kampus hanya demi fotokopi revisi skripsi dari dosen, tetapi aku bisa pulang terlambat jika menolongnya. “Mbak, jangan kelamaan mikir, dong! Tolong bantuin saya.” Sebenarnya aku buru-buru karena sudah sore. Aku ingin menolak, tetapi sungkan, kasihan juga lelaki ini. Menghidupkan mesin fotokopi yang sudah mati juga membutuhkan waktu yang lumayan lama. “Besok aja gimana, Mas? Saya sudah mematikan mesin fotokopinya, manasinnya cukup lama soalnya.” “Please, Mbak! Tolong saya,” ucapnya memohon. Tiba-tiba, dia memegang tanganku hingga membuatku terkejut. “Lepas, Mas! Jangan pegang-pegang!” Aku menepis tangannya dengan cepat, mataku membulat kaget. Gila juga nih orang, main pegang-pegang aja. “Sorry, sorry!” Lelaki itu langsung menarik tangannya dengan cepat, wajahnya memerah, tapi dia masih tak menyerah. "Please, Mbak! Toko sebelah sudah tutup." Aku menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri. Toko sebelah memang sudah tutup sejak tadi siang karena penjaga tokonya masuk kuliah. Aku menatapnya sejenak, mempertimbangkan. Di satu sisi aku sudah kelelahan, tapi melihat kesungguhan lelaki ini, aku tidak tega jika tidak membantunya. “Baiklah, tunggu sebentar!” Akhirnya aku mengalah. Kulihat jam di ponsel sudah pukul empat lebih lima belas menit. Akan menunggu sedikit lama karena perlu memanaskan mesin. Aku kembali masuk ke dalam toko, sambil menahan diri untuk tidak menggerutu. Lantai baru saja ku-pel dan masih basah, tapi sudahlah, aku tidak tega membiarkan orang ini gagal karena alasan yang sepele. Aku menghidupkan komputer lebih dulu, lalu menyalakan mesin fotokopi yang sudah dingin. Menunggu mesin ini siap seperti menunggu air mendidih. Lama! Lelaki itu berdiri tak sabar di pintu, melirik ke arah mesin yang baru saja menyala. “Makasih bantuannya, Mbak. Besok saya traktir!” katanya penuh semangat. Aku hanya mengangguk kecil tanpa menanggapi. Traktir? Besok pasti sudah lupa. Lagipula, traktir bakso atau kopi tidak cukup membayar waktu berhargaku yang hilang sore ini. Tapi, setidaknya aku sudah membantu. Itu lebih penting. Setelah selesai, dia membayar dan mengambil kertas fotokopian lalu berlari menuju kampus. Aku menghela napas panjang, akhirnya selesai juga. Mesinnya langsung kumatikan kembali dan aku segera menutup toko. Jam sudah menunjukkan setengah lima lewat. Orang tuaku pasti akan khawatir jika aku pulang terlambat lagi. Aku melajukan motor dengan kecepatan sedang karena jalanan ramai. Saat sampai di taman kota, tiba-tiba aku melihat pemandangan yang membuat senyumku merekah lebar. Mas Herman sedang duduk di bangku taman, menikmati bakso dengan pacarnya. Tanpa sadar aku terkikik geli. Awas aja besok, aku bakal meledeknya habis-habisan! Jadi ini rahasianya kenapa setiap Kamis sore dia cepat menghilang. Ternyata bukan pengajian, tapi pacaran! Malam Jumat pun jadi! Sesampainya di rumah, aku segera mandi untuk menghilangkan lelah setelah seharian bekerja. Bapak dan Ibu sudah bersiap-siap pergi ke musala untuk salat maghrib. Ibu memandangku sekilas sambil mengikat kerudungnya. “Rosi, nanti pintunya ditutup kalau kamu mandi,” ucap Ibu dengan suara lembut, seperti biasa. “Iya, Bu.” Aku mengangguk sambil menyiapkan handuk. Orang tuaku pergi ke musala meninggalkanku sendirian di rumah. Sebelum mandi, aku memastikan pintu depan terkunci dan motor sudah masuk ke dalam. Semua sudah aman. Suara tenggeret dari arah sawah semakin keras saat senja mulai turun. Aku beranjak ke kamar mandi, membiarkan air dingin mengalir di tubuhku. Rasa capek perlahan hilang, tapi entah kenapa aku terus teringat pada lelaki di toko tadi. Gara-gara dia aku terlambat pulang. Namun, lamunan itu terhenti ketika tiba-tiba aku mendengar suara ketukan pelan di pintu depan. Aku terdiam, mencoba memastikan apa yang kudengar benar. Setelah beberapa saat, tidak ada suara lagi. Aku melanjutkan aktifitasku lagi, tapi suara ketukan itu terdengar lagi, kali ini lebih keras. Aku menahan napas. Tidak ada siapa-siapa di rumah selain aku. Siapa yang mengetuk pintu di malam begini?“Hoam!” Aku menguap berkali-kali semenjak duduk di depan computer.Rasanya aku sangat mengantuk. Semalam tidurku tak nyenyak gara-gara misteri ketukan pintu depan. Bapak dan Ibu bahkan tidak mendengarnya. Apakah ada makhluk tak kasat mata yang menggangguku? Dih! Serem!Pagi ini langit mendung. Matahari masih enggan muncul, menyisakan udara dingin yang menyusup melalui celah pintu toko. Aku sudah datang lebih awal seperti biasa, tapi Mas Herman belum terlihat batang hidungnya.Aku menyiapkan sumpah serapah untuknya. Mentang-mentang aku anak baru, dia seenaknya mempermainkan waktu. Pukul sembilan lewat, barulah dia muncul. Dengan gaya sok asik, dia membawa sebuah bingkisan di tangannya. Mau nyogok aku, pasti. Tapi aku tidak mudah dibodohi.“Pagi, Ros! Tumben sepi.” Dia masuk ke toko kemudian melepas jaketnya. “Ini ada oleh-oleh buat kamu dari Ibuk.”Jumat adalah hari pendek, sebentar lagi dia pergi jumatan. Enak sekali dia menjadi seorang laki-laki. Datang terlambat dan pulang lebih awa
Lelaki yang menabrakku memungut beberapa kertas yang jatuh tadi. Wajahnya tampak panik, terlihat jelas keringat bercucuran di pelipisnya. “Duh, malah luntur tulisannya. Bisa minta tolong diprint dan difotokopi, Mbak? Saya buru-buru ini. Sudah ditunggu sama dosen. Saya bisa mengulang tahun depan jika tidak segera membawanya ke kampus,” katanya panik.Aku melirik jam dinding. Menyebalkan sekali bukan? Lantai yang sudah kubersihkan jadi kotor lagi.“Maaf, Mas. Toko udah tutup.” Aku mencoba menjelaskan, berharap dia paham. Bagaimanapun, aku juga punya kehidupan di luar toko dan sekarang sudah waktunya pulang. “Please, Mbak. Rumah saya jauh. Dosennya juga hanya seminggu sekali ke kampus. Saya tidak bisa menunggu selama itu.”Aku mulai merasa kasihan melihatnya memohon. Sepertinya dia tidak membawa kendaraan dan berjalan dari kampus hanya demi fotokopi revisi skripsi dari dosen, tetapi aku bisa pulang terlambat jika menolongnya. “Mbak, jangan kelamaan mikir, dong! Tolong bantuin saya.”
“Mas Herman?” Aku mengernyitkan dahi. “Yups,” jawabnya. Aku belum pernah melihat perempuan ini meski sudah bekerja selama satu minggu. Apa dia pacarnya Mas Herman? Ah, ngapain juga aku pusing mikirin dia. Bukan urusanku juga mau pacarnya, selingkuhan, istri atau apa pun itu. “Mas Herman kuliah, Mbak. Bimbingan skripsi katanya.”Sebelum pergi, Mas Herman berpesan kalau dia sedang bimbingan skripsi jika ada yang mencarinya. Dia sudah sampai bab tiga dan akan segera selesai secepatnya. “Mau ambil fotokopi, Mbak?” Wanita itu menggeleng kemudian sibuk dengan ponselnya. Beberapa pelanggan sudah tak terhitung datang dan pergi dari toko ini, tetapi dia sabar menunggu meskipun Mas Herman tak kunjung pulang.“Dek, aku balik dulu, deh. Mas Herman kelamaan. Nanti bilangin suruh telepon aku, ya! Ponselnya tidak aktif.” Wanita itu akhirnya menyerah juga. Dia mengambil tasnya kemudian pergi tanpa menyebutkan nama.Hari ini toko ramai sekali. Aku bahkan tidak sempat memegang ponsel. Apalagi meno
“Kamu siapa?” tanya lelaki itu sambal mengacungkan jari telunjuknya ke arahku.Pria itu berjalan mendekat, menatap sekeliling toko sebelum mengarahkan pandangannya kembali padaku. Ia mengeluarkan sebuah map berwarna biru dari tas punggungnya, lalu meletakkannya di atas meja.“Mas Herman mana?” tanyanya pelan, tapi nadanya terdengar agak mendesak.“Mas Herman belum pulang. Tapi, kalau Mas mau menitipkan sesuatu, nanti saya sampaikan.”Pria itu tampak berpikir sejenak, lalu membuka map biru yang sepertinya berisi skripsi. Kertas-kertas di dalamnya penuh coretan tinta merah.“Saya baru saja selesai sidang, Mbak. Skripsi ini harus segera direvisi dan diprint ulang. Tapi, saya nggak punya waktu banyak. Saya benar-benar butuh bantuan Mas Herman,” ucapnya, suaranya terdengar frustasi.Aku mengangguk meski sebenarnya tidak begitu paham. Tapi aku sedikit tahu bagaimana susahnya revisi skripsi bagi mahasiswa yang baru selesai sidang. Bukan hal aneh kalau mereka panik dan ingin semuanya cepat se
“Mbak, fotokopi jadi 25 lembar. Diperkecil, perpanjang, bolak-balik, dan pakai kertas buram.” Seorang lelaki muda memakai jas almamater warna hijau memberikan sebuah makalah kepadaku. Pagi ini terasa panas meskipun aku sudah menghidupkan kipas angin. Mungkin mesin fotokopi ini grogi didampingi dan disentuh oleh gadis manis sepertiku. “Maaf, Mas. Kalau bolak-balik nggak bisa pakai kertas buram. Bisanya pakai kertas putih.” Aku menolak dengan halus. Kata Mas Herman aku harus bersikap santun terhadap pelanggan karena mereka adalah raja. Lagian zaman sekarang mana ada fotokopi pakai kertas buram? Bahannya sangat tipis dan sering membuat mesin reject. Aku tidak bisa mengoperasikannya jika mesin rusak. Apalagi aku baru belajar satu minggu di sini, masih sangat kaku dan belum mahir. “Biasanya sama Mas Herman bisa, Mbak,” ujar lelaki itu.Aku menggaruk kepala yang berbalut jilbab segi empat ini. Lelaki di hadapanku ini sepertinya sangat perhitungan. Padahal biasanya laki-laki itu tidak pe
“Duduk!” perintah lelaki di hadapanku ini. Dia adalah pemilik restoran tempatku bekerja, Pak Arkan.Aku langsung duduk tanpa berani menatap wajahnya. Kulihat tadi saat masuk mukanya sudah merah padam. Kali ini kesalahanku masih sama seperti sebelumnya. Kupikir dia sudah hafal dan bisa memakluminya lagi, tetapi ternyata semua di luar dugaanku. Pak Arkan marah besar.“Ini yang terakhir, Rosi!” Pak Arkan menggebrak meja di depanku, wajahnya merah padam.Panci gosong itu tergeletak di antara kami, seperti benda mati yang bersaksi atas semua kesalahanku. Aku menahan napas, tenggorokanku tercekat. Semua kata tertahan di bibirku. Aku tahu, kali ini tidak ada ruang untuk alasan. Namun, tanpa pekerjaan ini, apa yang akan terjadi padaku?Brak! Pak Arkan sekali lagi menggebrak meja di depanku hingga membuatku terperanjat. Kupegang dadaku yang mulai berdebar-debar.“Astaga, Rosi! Ini adalah kelima kalinya kamu menggosongkan panci saya. Gajimu satu bulan nggak akan bisa menggantikannya. Mulai s







