Mag-log in“Kamu siapa?” tanya lelaki itu sambal mengacungkan jari telunjuknya ke arahku.
Pria itu berjalan mendekat, menatap sekeliling toko sebelum mengarahkan pandangannya kembali padaku. Ia mengeluarkan sebuah map berwarna biru dari tas punggungnya, lalu meletakkannya di atas meja. “Mas Herman mana?” tanyanya pelan, tapi nadanya terdengar agak mendesak. “Mas Herman belum pulang. Tapi, kalau Mas mau menitipkan sesuatu, nanti saya sampaikan.” Pria itu tampak berpikir sejenak, lalu membuka map biru yang sepertinya berisi skripsi. Kertas-kertas di dalamnya penuh coretan tinta merah. “Saya baru saja selesai sidang, Mbak. Skripsi ini harus segera direvisi dan diprint ulang. Tapi, saya nggak punya waktu banyak. Saya benar-benar butuh bantuan Mas Herman,” ucapnya, suaranya terdengar frustasi. Aku mengangguk meski sebenarnya tidak begitu paham. Tapi aku sedikit tahu bagaimana susahnya revisi skripsi bagi mahasiswa yang baru selesai sidang. Bukan hal aneh kalau mereka panik dan ingin semuanya cepat selesai. Beberapa kali aku menemukan pelanggan yang seperti itu. “Kalau cuma ngeprint, bisa saya bantu, Mas. Tapi kalau soal revisi, mungkin Mas Herman lebih paham.” Wajahnya berubah lega mendengar tawaranku. “Beneran bisa bantu ngeprint, Mbak? Makasih, ya. Ini revisinya nggak terlalu banyak, cuma beberapa halaman yang butuh diprint ulang,” katanya cepat sambil menyerahkan beberapa lembar yang sudah ia rapikan. “Bisa saya tungguin di sini?” Aku tersenyum dan mengangguk, lalu mulai mempersiapkan file skripsinya di komputer. Dalam hati, aku merasa kagum dengan semangat mahasiswa ini, tapi di sisi lain, aku juga merasa sedikit was-was. Apalagi dia berani masuk ke toko. Biasanya pelanggan hanya menunggu di depan meja kasir. Dia Saat aku mulai mengoperasikan komputer untuk mencetak revisi skripsinya, lelaki itu mendekat memperkenalkan dirinya. “Nama saya Bagas, Mbak. Makasih banget, ya, sudah mau bantu. Ini benar-benar urgen buat saya,” katanya. “Sama-sama, Mas,” jawabku sambil tersenyum tipis, fokus mataku tetap pada layar komputer. Sesekali dia menunjukkan halaman yang perlu direvisi. Memang tidak banyak yang perlu revisi, hanya kesalahan typo saja. Seiring waktu berjalan, suasana di toko makin sepi. Hanya terdengar suara printer yang bekerja dan detak jam dinding yang terasa lebih lambat dari biasanya. Lelaki itu pergi setelah aku menyelesaikan mencetak revisi skripsinya. “Aku bayarnya nanti sama Mas Herman, ya!” Ternyata dia ngutang. Aku harus mengingat namanya supaya tidak kecolongan. Bisa dipecat aku kalau ketahuan sama Bos. Susah payah aku mendapatkan pekerjaan ini supaya bisa kuliah part time. Jarang sekali bukan, seorang bos memperbolehkan karyawannya kuliah? Hidup di desa itu keras, Bestie. Tidak sekolah dianggap bodoh dan tidak berpendidikan. Kuliah dianggap hanya untuk menunjang gaya hidup, menghabiskan harta orang tua saja. Lulus S1 dan nganggur? Dijamin dighibahin orang satu RT. Sudah lama aku tidak makan bangku sekolah. Namun, keinginan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi masih menjadi impianku. Meski sebenarnya tidak memiliki kepercayaan diri, aku akan mewujudkan semua mimpi dengan berbagai cara. Dengan kuliah, aku bisa mengangkat derajat orang tua dan mengubah hidupku. Kedua kakak perempuanku dinikahkan paksa karena sudah menginjak usia dua puluh tahun. Mereka dianggap menjadi beban keluarga. Bapak sengaja menikahkan mereka supaya mengurangi jatah membeli beras. Sekarang tinggal aku satu-satunya anak yang tinggal dengan kedua orang tuaku. Sebentar lagi usiaku dua puluh tahun. Aku sengaja mencari pekerjaan dan berniat kuliah supaya tidak diminta segera menikah. Apalagi beberapa kali kulihat Bapak sering menghubungi seseorang lewat telepon. Aku mulai mengendus bau yang tidak sedap. Kupandangi beberapa mahasiswa yang berlalu-lalang di depan toko. Mereka terlihat sempurna sebagai mahasiswa. Aku merasa malu dan tidak percaya diri. Sudah satu tahun aku tidak sekolah. Aku sudah lupa bagaimana cara belajar, sudah tidak ingat pelajaran sekolah sama sekali. Apalagi teman-temanku nanti usianya lebih muda dariku. Mereka masih encer otaknya karena baru lulus. Sedangkan aku? Ah! Mereka yang bisa kuliah pasti anak-anak orang kaya, lalu aku? Gadis yang berjuang ke sana- ke mari demi mendapatkan uang untuk biaya kuliah. Aku sudah mulai menabung untuk biaya kuliah semenjak lulus sekolah. Pertama aku bekerja menjadi tukang sapu di rumah Pak Kades. Lumayan gajinya bisa untuk jajan. Namun, aku tetap menyisihkannya untuk tabungan kuliah. Aku menarik napas dalam-dalam. Hidupku terlalu berat jika kuceritakan semua. Kuambil kertas putih yang sudah tertumpuk rapi di atas mesin. Fotokopi makalah sudah selesai. Tidak lupa kutuliskan nota supaya jika lelaki itu datang, dia tinggal membayar. Di toko ini ada dua mesin fotokopi. Satu model lama dan yang satu keluaran terbaru. Di saat sepi seperti ini, aku suka mengantuk. Aku menghidupkan radio supaya tidak merasa sendiri. Namun, rasa kantukku bukannya hilang malah semakin menjadi. Apalagi lagu yang diputar adalah campur sari, semakin membuatku menguap. Sesekali aku menyanyi mengikuti lagu yang diputar, tetapi rasa kantukku sudah tidak bisa kutahan. “Mbak! Bisa ngeprint?” tanya seorang wanita berjilbab berseragam putih abu-abu. “Bisa, Dek.” Aku gelagapan karena sempat tertidur sebentar. Di belakang ruko ini ada sebuah SMA Negeri. Anak-anak sering memfotokopi tugas atau pun yang lainnya. Selain fotokopi, toko ini juga menyediakan jasa printing karena letaknya sangat strategis. Selain dekat dengan kampus, juga dekat dengan sekolah. Di ujung jalan ada kantor Jasa Raharja dan Pengadilan Negeri. Di sini juga menyediakan berbagai ATK, jilbab, aksesoris, dan berbagai macam perlengkapan sekolah. “Boleh masuk, Mbak? Mau lihat jilbab.” “Boleh, tapi nanti dirapikan lagi, ya!” Sebenarnya aku adalah orang yang introvert. Tadinya kupikir pekerjaan ini sangat tidak cocok untukku. Namun, seiring berjalannya waktu, aku mulai belajar percaya diri. Pengalaman bisa merubah kepribadian seseorang. Lama-lama aku terbiasa melayani pelanggan setiap hari dengan senyum ramah. Berbanding terbalik dengan sifatku yang pendiam. Dari sinilah aku mulai melatih kesabaran. Jika hanya anak SMA dan anak kuliah, fotokopinya itu-itu saja. Berbeda dengan mereka yang dari jasa raharja. Terkadang minta fotokopi diperkecil, jejer, bolak-balik dan digunting. Istilah jawanya ‘njlimet’ atau rumit. “Filenya namanya apa, Dek?” tanyaku ketika tiga anak SMA tersebut sudah masuk. Salah satu dari mereka berdiri di belakangku dan yang lainnya masih sibuk melihat aksesoris dan jilbab. “Aku yang ini, Mbak.” Salah satu dari mereka menunjukkan file yang tertera di layar komputer. Satu persatu file mereka sudah tercetak kemudian tinggal menjilidnya. Ini adalah pekerjaan yang sangat mendebarkan bagiku. Apalagi kalau diawasi seperti ini, membuatku grogi dan gemetar. Baru satu minggu aku belajar ddi toko, belum mahir. ‘Fokus, Ros! Tidak ada Mas Herman. Kamu pasti bisa!’ Aku selalu menyemangati diri sendiri. Siapa lagi kalau bukan diri ini? Aku mengucapkan basmalah kemudian mengerjakannya dengan tenang. Kurapikan artikel dan covernya lalu menyetaplesnya. Bagian memberikan lakban ini yang sulit. Mas Herman mengajarkanku menggunakan penggaris supaya bisa rapi dan lurus. Alhamdulillah semuanya selesai meski belum bisa begitu rapi. Mereka kembali setelah membayarnya. Aku kembali duduk di depan komputer. Tanpa sengaja aku melihat folder bertuliskan film. Aku jadi penasaran film apa yang ada di komputer ini? Bolehkan aku menontonnya? Namun, aku juga takut jika ada blue film. Takut ketagihan maksudnya. Aku hendak membukanya, tetapi kuurungkan karena ada pelanggan yang datang. Sayang sekali, padahal mumpung sepi, tidak ada Mas Herman. “Mas Herman ada, Mbak?” Seorang perempuan cantik memakai jilbab pasmina mencari keberadaan Mas Herman.“Hoam!” Aku menguap berkali-kali semenjak duduk di depan computer.Rasanya aku sangat mengantuk. Semalam tidurku tak nyenyak gara-gara misteri ketukan pintu depan. Bapak dan Ibu bahkan tidak mendengarnya. Apakah ada makhluk tak kasat mata yang menggangguku? Dih! Serem!Pagi ini langit mendung. Matahari masih enggan muncul, menyisakan udara dingin yang menyusup melalui celah pintu toko. Aku sudah datang lebih awal seperti biasa, tapi Mas Herman belum terlihat batang hidungnya.Aku menyiapkan sumpah serapah untuknya. Mentang-mentang aku anak baru, dia seenaknya mempermainkan waktu. Pukul sembilan lewat, barulah dia muncul. Dengan gaya sok asik, dia membawa sebuah bingkisan di tangannya. Mau nyogok aku, pasti. Tapi aku tidak mudah dibodohi.“Pagi, Ros! Tumben sepi.” Dia masuk ke toko kemudian melepas jaketnya. “Ini ada oleh-oleh buat kamu dari Ibuk.”Jumat adalah hari pendek, sebentar lagi dia pergi jumatan. Enak sekali dia menjadi seorang laki-laki. Datang terlambat dan pulang lebih awa
Lelaki yang menabrakku memungut beberapa kertas yang jatuh tadi. Wajahnya tampak panik, terlihat jelas keringat bercucuran di pelipisnya. “Duh, malah luntur tulisannya. Bisa minta tolong diprint dan difotokopi, Mbak? Saya buru-buru ini. Sudah ditunggu sama dosen. Saya bisa mengulang tahun depan jika tidak segera membawanya ke kampus,” katanya panik.Aku melirik jam dinding. Menyebalkan sekali bukan? Lantai yang sudah kubersihkan jadi kotor lagi.“Maaf, Mas. Toko udah tutup.” Aku mencoba menjelaskan, berharap dia paham. Bagaimanapun, aku juga punya kehidupan di luar toko dan sekarang sudah waktunya pulang. “Please, Mbak. Rumah saya jauh. Dosennya juga hanya seminggu sekali ke kampus. Saya tidak bisa menunggu selama itu.”Aku mulai merasa kasihan melihatnya memohon. Sepertinya dia tidak membawa kendaraan dan berjalan dari kampus hanya demi fotokopi revisi skripsi dari dosen, tetapi aku bisa pulang terlambat jika menolongnya. “Mbak, jangan kelamaan mikir, dong! Tolong bantuin saya.”
“Mas Herman?” Aku mengernyitkan dahi. “Yups,” jawabnya. Aku belum pernah melihat perempuan ini meski sudah bekerja selama satu minggu. Apa dia pacarnya Mas Herman? Ah, ngapain juga aku pusing mikirin dia. Bukan urusanku juga mau pacarnya, selingkuhan, istri atau apa pun itu. “Mas Herman kuliah, Mbak. Bimbingan skripsi katanya.”Sebelum pergi, Mas Herman berpesan kalau dia sedang bimbingan skripsi jika ada yang mencarinya. Dia sudah sampai bab tiga dan akan segera selesai secepatnya. “Mau ambil fotokopi, Mbak?” Wanita itu menggeleng kemudian sibuk dengan ponselnya. Beberapa pelanggan sudah tak terhitung datang dan pergi dari toko ini, tetapi dia sabar menunggu meskipun Mas Herman tak kunjung pulang.“Dek, aku balik dulu, deh. Mas Herman kelamaan. Nanti bilangin suruh telepon aku, ya! Ponselnya tidak aktif.” Wanita itu akhirnya menyerah juga. Dia mengambil tasnya kemudian pergi tanpa menyebutkan nama.Hari ini toko ramai sekali. Aku bahkan tidak sempat memegang ponsel. Apalagi meno
“Kamu siapa?” tanya lelaki itu sambal mengacungkan jari telunjuknya ke arahku.Pria itu berjalan mendekat, menatap sekeliling toko sebelum mengarahkan pandangannya kembali padaku. Ia mengeluarkan sebuah map berwarna biru dari tas punggungnya, lalu meletakkannya di atas meja.“Mas Herman mana?” tanyanya pelan, tapi nadanya terdengar agak mendesak.“Mas Herman belum pulang. Tapi, kalau Mas mau menitipkan sesuatu, nanti saya sampaikan.”Pria itu tampak berpikir sejenak, lalu membuka map biru yang sepertinya berisi skripsi. Kertas-kertas di dalamnya penuh coretan tinta merah.“Saya baru saja selesai sidang, Mbak. Skripsi ini harus segera direvisi dan diprint ulang. Tapi, saya nggak punya waktu banyak. Saya benar-benar butuh bantuan Mas Herman,” ucapnya, suaranya terdengar frustasi.Aku mengangguk meski sebenarnya tidak begitu paham. Tapi aku sedikit tahu bagaimana susahnya revisi skripsi bagi mahasiswa yang baru selesai sidang. Bukan hal aneh kalau mereka panik dan ingin semuanya cepat se
“Mbak, fotokopi jadi 25 lembar. Diperkecil, perpanjang, bolak-balik, dan pakai kertas buram.” Seorang lelaki muda memakai jas almamater warna hijau memberikan sebuah makalah kepadaku. Pagi ini terasa panas meskipun aku sudah menghidupkan kipas angin. Mungkin mesin fotokopi ini grogi didampingi dan disentuh oleh gadis manis sepertiku. “Maaf, Mas. Kalau bolak-balik nggak bisa pakai kertas buram. Bisanya pakai kertas putih.” Aku menolak dengan halus. Kata Mas Herman aku harus bersikap santun terhadap pelanggan karena mereka adalah raja. Lagian zaman sekarang mana ada fotokopi pakai kertas buram? Bahannya sangat tipis dan sering membuat mesin reject. Aku tidak bisa mengoperasikannya jika mesin rusak. Apalagi aku baru belajar satu minggu di sini, masih sangat kaku dan belum mahir. “Biasanya sama Mas Herman bisa, Mbak,” ujar lelaki itu.Aku menggaruk kepala yang berbalut jilbab segi empat ini. Lelaki di hadapanku ini sepertinya sangat perhitungan. Padahal biasanya laki-laki itu tidak pe
“Duduk!” perintah lelaki di hadapanku ini. Dia adalah pemilik restoran tempatku bekerja, Pak Arkan.Aku langsung duduk tanpa berani menatap wajahnya. Kulihat tadi saat masuk mukanya sudah merah padam. Kali ini kesalahanku masih sama seperti sebelumnya. Kupikir dia sudah hafal dan bisa memakluminya lagi, tetapi ternyata semua di luar dugaanku. Pak Arkan marah besar.“Ini yang terakhir, Rosi!” Pak Arkan menggebrak meja di depanku, wajahnya merah padam.Panci gosong itu tergeletak di antara kami, seperti benda mati yang bersaksi atas semua kesalahanku. Aku menahan napas, tenggorokanku tercekat. Semua kata tertahan di bibirku. Aku tahu, kali ini tidak ada ruang untuk alasan. Namun, tanpa pekerjaan ini, apa yang akan terjadi padaku?Brak! Pak Arkan sekali lagi menggebrak meja di depanku hingga membuatku terperanjat. Kupegang dadaku yang mulai berdebar-debar.“Astaga, Rosi! Ini adalah kelima kalinya kamu menggosongkan panci saya. Gajimu satu bulan nggak akan bisa menggantikannya. Mulai s







